MOKAL

(Sudah hampir dua minggu tidak menulis. Kagok juga rasanya)

Hari ini saya ingin menulis tentang “mokal”. Apa itu mokal ? Generasi delapan puluhan pasti mengira ini bahasa prokem-preman yang artinya “malu”. Bukan, ini bukan mokal bahasa preman. Ini mokal singkatan. Singkatan karangan ngawur saya saja. Bisa-bisanya saya saja.

Selama ini orang hanya mengenal “Monas”, yaitu singkatan dari “Monumen Nasional”.  Saya perkenalkan satu singkatan lagi, yaitu “mokal”.  Mokal adalah kependekan dari “monumen lokal”. Hehehe.

Di rumah, saya punya dua obyek mokal, monumen-monumen lokal yang sangat bersejarah.

Kenapa kok disebut lokal, ya sebab obyek monumen ini hanya berlaku di dalam lingkungan rumah saya saja. Bukan lingkup RT, RW, kelurahan, kecamatan, propinsi apalagi nasional.

Seperti hal nya monumen pada umumnya. Monumen ini sifatnya hanya untuk kenang-kenangan saja. Untuk dilihat-lihat. Untuk dipajang. Pasif.  Kadang berdebu, berkarat dan sedikit kusam.  Teronggok diam merana.

Ini penampakannya …

Mokal – 1 :

kuda

“Kuda-kudaan”

 

Mokal – 2 :

jalan

“jalan di tempat”

.

Ya … sesungguhnya ini adalah alat untuk latihan olah raga yang berguna bagi kesehatan. Namun pada perkembangannya, mereka berdua telah beralih fungsi sebagai “monumen”. Benda yang hanya untuk dikenang.  Tidak pernah disentuh … apalagi dipergunakan. Persis seperti monumen.

Usia produktif benda-benda ini, seingat saya hanya tiga bulan saja. Tiga bulan pertama itu, woww jangan ditanya,  pagi dan malam saya rutin latihan selama 30 menit.  Lima belas menit jungkat-jungkit di kuda-kudaan … lalu lima belas menit berikutnya jalan cepat di trek stasioner itu.  Alat-alat tersebut lumayan canggih.  Sudah dilengkapi dengan panel elektronik.  Panel yang menunjukkan sudah berapa kali jungkat jungkit, berapa kilo kita berjalan, berapa kalori yang sudah terbakar dan sebagainya.  Keren kan ?  Atlit sejatilah pokoke … !!!

Namun itu hanya bertahan 3 bulan, setelah itu mangkrak. Alat mulai nganggur.  Saya mulai banyak alasan. Yang sibuklah … lelah lah … nggak punya waktu lah. Adaaaa aja alesannya.  Akhirnya alat-alat olah raga tersebut praktis hanya berfungsi sebagai hiasan rumah saja. Monumen lokal.  Sekalian untuk pamer pada para tamu, bahwa tuan rumahnya ini seolah-olah sangat konsern dengan kesehatan.  Pencitraan.  Prett !!!

Namun demikian … sekalipun sekarang telah menjadi mokal alias monumen lokal, kami tidak merubah fungsi dari alat-alat tersebut.  Nasib alat olah raga kami masih lebih baik dari alat serupa yang dipunyai oleh salah seorang teman blogger saya. Saya pernah baca, di salah satu postingan blog teman saya tersebut … alat-alat seperti ini telah berubah fungsi menjadi … Jemuran Handuk … sodara-sodara.  Huahahaha … Ada yang tau siapa blogger yang saya maksud ???

(Orang yang saya maksud pasti sekarang sedang nendang-nendang kulkas pake kaos kaki Min Ho)
(lalu termangu dibalik gorden)

.

BTW …

Anda punya monumen lokal seperti ini di rumah ?
Apakah sudah berubah fungsi menjadi gantungan handuk atau keset seperti temen saya itu ?

 

Salam asya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

 

(pasti ada yang mau komen … “Jual aja Om … !!!”)
(Ya kan ?)

.

.

KANSUP

Kansup adalah singkatan dari kantin supir.  Kantin, tempat makan untuk para supir.  Jika mengacu kepada bahasa Indonesia yang baku, seharusnya nama yang benar adalah kansop, kantin sopir.

Kansup dibangun karena ada suatu kebutuhan.  Biasanya para sopir yang mengantar majikannya belanja ke mall, akan menunggu lama di mobil.  Ketika menunggu lama tersebut tentu saja perut mereka akan kelaparan minta diisi.  Para sopir pasti akan mencari tempat makan.  Supaya si sopir tidak lari kemana-mana, maka pengelola mall menyediakan tempat makan khusus untuk para sopir ini, di belakang mallnya.  Semua menikmati manfaat.  Pengelola mall dapat membina hubungan baik dengan masyarakat sekitar, pengusaha warung makan.  Warung punya tempat strategis untuk berjualan.  Sopir dapat makan dengan tenang.  Mereka tidak perlu jalan jauh dan takut tidak mendengar jika namanya dipanggil announcer.  Pengunjung mall pun akan nyaman berbelanja karena sopirnya tidak akan kelaparan.

Kansup biasanya berbentuk los atau hall.  Semacam pujasera, pusat jajan serba ada.  Ada banyak kios-kios.  Tempat makannya berada di tengah-tengah, berbentuk bangku dan meja yang panjang.  Para supir bisa memilih makanan sesuai seleranya.  Ada makanan standart warteg, ada masakan Padang, mie baso, mie ayam, gado-gado, aneka soto, sate, ikan bakar dan beberapa jenis makanan lainnya.  Mau sekedar ngopi, ngeteh atau membeli minuman berenergipun monggo silahkan.  Ada semua.

Sekalipun nama populernya kansup, kantin supir, namun seiring dengan berjalannya waktu, kini yang makan di sana bukan hanya mereka yang berprofesi sebagai sopir saja.  Pada perkembangannya ternyata kansup juga dinikmati oleh beberapa pihak yang lain.  Jika kansup ini berada di belakang kawasan perbelanjaan atau mall, maka yang makan di sana biasanya adalah para SPG, pramuniaga dan penjaga-penjaga toko yang ada di mall tersebut.  Jika kansup ini berada di lingkungan hotel, maka yang makan disana selain sopir kendaraan pribadi dan sopir taksi adalah juga para karyawan hotel.

Kansup memang solusi makan yang terbaik.  Tempatnya strategis. Harga murah. Porsinya banyak.

Bisa dibayangkan kalau tidak ada kansup, maka para sopir, karyawati, pramuniaga, SPG, atau karyawan hotel tersebut pasti akan menjerit.  Mau makan di restoran di dalam Mall atau Hotel ? setiap hari ? bisa jebol dompet.  Harga makanan di hotel atau di mall pasti mahal.  Mau membawa dari rumah ? belum tentu mereka sempat memasak.  Sekali lagi … kansup adalah dewa penolong mereka.

Jujur … saya pribadi juga suka makan di kansup.  Walaupun saya bukan sopir, pramuniaga atau karyawan hotel.  Saya makan di kansup terutama jika saya sedang travelling ke luar kota.  Saya biasanya akan makan di kansup yang terletak di belakang atau di sekitar hotel tempat saya menginap.  Ya, anggap saja saya sedang melakukan wisata kuliner.

Di dalam kota pun demikian,  saya juga sering makan di kansup di beberapa pusat pertokoan di selatan Jakarta.  Murah, meriah dan porsinya banyak.

Waahhh hebat ya … si Om orangnya sederhana dan merakyat … ! Hmmm  yaaa begitu deehhh …

Ehhh … sssttt … sebetulnya … ada satu lagi sih alasannya … (I tell you a secret ya …)

Jika anda beruntung, anda berpeluang besar untuk mendapatkan pemandangan yang amat menyejukkan.  Yaitu rombongan para pramuniaga dan SPG yang sedang bersantap.  Dan sumpah … mereka itu tidak kalah bening dan wanginya dengan para pengunjung mall … !  (hahaha)

Menambah selera makan anda bukan ?

(ihik)(noleh celingukan ke kiri dan ke kanan …)
(jangan bilang sapa-sapa yaaa …)

.

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

DIBATALKAN

.
Kamis, 13 Maret 2014
Bunda pulang larut malam.  Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, karena besok dia akan izin cuti.  Malam itu Bunda pulang dengan wajah yang galau.  Saya tau persis ini bukan wajah lelah karena lembur bekerja. Saya hafal sekali, wajah keruh Bunda ini pasti bukan karena lelah.

Setelah Bunda minum seteguk dua air dingin, saya pun bertanya perlahan : “Ada apa Bun ? Ada masalah ya di kantor ?”

Lalu Bunda pun lantas curhat : “Barusan Bunda dapat SMS.  Jadwal penerbangan kami besok dibatalkan.  Sebel … dibatalin kok mendadak banget sih.  Kita kan jadi bingung, untuk mencari alternatif penggantinya … dst dst dst … … ”  (intinya Bunda ngomel-ngomel)

Ya … Bunda galau.  Bingung.  Kecewa.  Seribu satu perasaan menjadi satu.

Jadi ceritanya esok hari, Jumat 14 Maret 2014,  Bunda seharusnya akan terbang ke Padang.  Menggunakan pesawat jam 7 pagi.  Dari Padang dia masih akan meneruskan perjalanan darat, dengan menggunakan travel menuju ke kota Sungai Penuh, di Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi.  Perjalanan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari.

.

Memang ada acara apa sih Om ?
Bunda mau reuni bersama teman-teman sekolahnya.  Reuni tersebut diadakan di kampung halamannya di Sungai Penuh.  Sebuah reuni besar.   Saya perhatikan sudah dua tiga minggu terakhir ini Bunda sangat bersemangat menyambut acara tersebut.  Mulai dari memesan tiket pesawat, dan juga saling berkoordinasi dengan teman-temannya sesama alumni sekolah yang kebetulan bertempat tinggal di Jabodetabek.  Mereka akan berangkat bersama-sama.  Pulang basamo.  Anda tentu bisa membayangkan, betapa senangnya bernostalgia bersama kawan-kawan masa kecil bukan ?  Mereka juga heboh mempersiapkan acara menyanyi untuk ditampilkan di panggung hiburan nanti.  Membuat seragam biar kompak dan sebagainya.  Pendek kata … persiapan sudah matang benar …

Namun … tak dinyana … tak di duga, justru di hari H nya penerbangan dibatalkan.  Kesal dan nelangsa sudah pasti.  Alasannya apa kok dibatalkan ? Apalagi kalau bukan karena … ASAP pembakaran hutan.  Sumatera Barat ternyata tak luput dari serangan kabut asap yang sangat mengganggu pemandangan dan kesehatan.

.

Jum’at 14 Maret 2014
Akhirnya pagi-pagi hari, tanggal 14 Maret 2014 … Bunda dan 3 orang teman-temannya sepakat untuk tetap berangkat ke bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan janjian ketemuan disana.  Mereka ceritanya mau “Go Show”.  Untung-untungan.  Mencari tiket lain untuk hari itu.  Jam berapa saja.  Maskapai penerbangan apa saja.  (plus tentunya … harga berapa saja).  Pokoknya bisa berangkat hari itu.  Sudah kepalang basah.  Bayang-bayang reuni sudah di pelupuk mata.

Namun apa daya … seluruh penerbangan ke Padang sudah penuh hari itu.  (Maskapai-maskapai penerbangan lain tetap melayani penerbangan ke Padang, hanya maskapai yang dipakai Bunda-lah yang membatalkan penerbangan).

Karena ke Padang penuh semua.  Maka alternatif kedua adalah mencari penerbangan ke kota Jambi.  Dari Jambi nanti mereka akan meneruskan perjalanan darat ke Sungai Penuh.  Mekipun waktunya menjadi lebih lama dan sarana jalannya yang kurang begitu baik.  Tidak sebagus jalan Padang – Sungai Penuh.  Mau tidak mau mereka harus mengambil langkah alternatif kedua ini.

Note :
Jarak Jambi – Sungai Penuh itu sekitar 400 km.
Sementara dari Padang – Sungai Penuh itu hanya sekitar 230 km

.

Alhamdulillah mereka mendapatkan tiket ke Jambi untuk pagi itu.  (ya tentu dengan harga yang lebih tinggi).  Bunda dan teman-temannya bisa sedikit bernafas lega.  Tadi siang, Bunda mengabari saya bahwa mereka sudah mendarat di Jambi.  Dan saat tulisan ini dibuat, sepertinya Bunda dkk masih dalam perjalanan dari Jambi ke Sungai Penuh.  Perjalanan dari Jambi ke Sungai Penuh itu bisa ditempuh rata-rata sekitar 8 – 9 jam.

So …

Take Care ya Bun …
Have Fun with your old friends …

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

(om nh jomblo dua hari nih …)
(godain kita dwonngg)
(qiqiqi)

.

.

.

MANGGA

.
Di depan rumah saya ada sebatang pohon mangga.

Mangga tersebut ditanam oleh bunda beberapa tahun yang lalu.  Bunda membeli bibit cangkokannya, ketika tinggi pohon mangga tersebut masih sekitar setengah meter saja.

Saya lupa-lupa ingat tahun berapa pohon mangga tersebut ditanam.  Kalau tidak salah sekitar tahun 2005 atau 2006.  Setahun, dua tahun, tiga tahun … pohon mangga tersebut tumbuh semakin besar dan tinggi.  Kami senang sekali karena halaman rumah kami yang tidak seberapa luas itu menjadi lebih teduh karenanya.

Namun demikian, kami sedikit kecewa karena pohon mangga ini tidak pernah berbuah. Kami menunggu-nunggu, kapan pohon ini akan berbuah.  Kami sudah tidak sabar, ingin segera mencicipi seperti apa rasanya buah mangga hasil kebun sendiri.  Ya … kebun yang hanya berisi satu-satunya pohon.  Pohon mangga (yang celakanya berulah … tidak mau berbuah itu)

Sampai akhir tahun 2013 kemarin pohon ini tidak pernah berbuah.

Karena pohon semakin besar.  Cabang-cabang semakin berkembang, dedaunan semakin rimbun.  Kami merasa pertumbuhan pohon ini sudah mulai mengganggu sekitarnya.  Sudah mulai tidak rapi.  Cabangnya satu dua ada yang sudah menyundul dinding depan rumah kami.  Daun yang gugur juga dirasakan sudah semakin banyak.  Mungkin si mbak capek membersihkannya.  Akhirnya kami memutuskan untuk memangkas sebagian pohon tersebut, agar lebih rapi.  (Kami yakin si mbak pun akan tersenyum senang.  Pekerjaannya akan menjadi sedikit lebih ringan).

Akhirnya kami memanggil Ali.  Ali adalah seorang tenaga lepas yang kami percayakan untuk merapikan pohon tersebut.  Batang pohon kami itu mempunyai dua cabang utama yang besar.  Salah satu cabang utama itu ditebas tanpa ampun oleh Ali.  Halaman rumah kami menjadi agak terang.

mangga14

cabang sebelah kiri adalah cabang yang dibabat oleh Ali

.

Dan … tak disangka tak dinyana beberapa hari setelah cabangnya ditebang, pohon mangga itu mulai berbunga.  Aaahhhaaaa dan ya beberapa hari berikutnya bunga tersebut berubah menjadi butiran-butiran mangga pencit.  Kecil-kecil.  Kami senang sekali.  Pohon mangga kami ternyata tidak mandul.  Lama kelamaan buah mangga pencit itu mulai membesar dan membesar.

Hasil penantian beberapa tahun … terkabul kini … Pohon mangga kami akhirnya berbuah

Inilah penampakannya sekarang …

mangga11

(lihat yang bergelantungan di sebelah kanan)

Kalau kurang jelas … mari kita zoom in melihat seperti apa mangganya …

mangga12

mangga13

Untuk diketahui, ketika saya hitung buah mangga yang bergelantungan di pohon ternyata jumlahnya tidak kurang dari 23 (dua puluh tiga) buah sodara-sodara … assiiikkk …

Pengawasan perlu kami perketat.  Kewaspadaan perlu ditingkatkan.  Takutnya ada tangan-tangan jail yang iseng melempari mangga kami.  Kalau perlu kami pasang CCTV nih. (om-om kikir …)

Saya tak sabar ingin segera memanen mangga.  Mangga hasil kebun sendiri.  Kebun yang hanya beranggotakan satu batang pohon mangga.  Yang alhamdulillah kini berbuah … sebanyak dua puluh tiga …

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

So pelajarannya adalah …
Jika anda punya pohon buah-buahan yang tidak pernah / sulit berbuah.  Coba pangkas beberapa dahan yang tidak perlu.  Semoga dengan demikian, “energi” yang tadinya dihabiskan tanaman untuk menumbuhkan dahan dan daun di cabang yang tidak perlu.  Bisa dialokasikan untuk menumbuhkan bunga, bakal buah, buah dan seterusnya.  (selain pemberian pupuk yang cocok tentu saja)

.

.

.

AMPLOP PERNIKAHAN

amplop

(bikin sendiri pake power point)

Zaman sekarang, jika kita diundang untuk datang ke suatu pesta perkawinan, maka yang biasanya kita persiapkan adalah sejumlah uang sebagai “tanda cinta”.  Uang tersebut kita masukkan ke dalam amplop.  Amplop tersebut akan kita berikan kepada mempelai dan/atau keluarganya.

Ternyata setelah saya perhatikan, untuk urusan “amplop-mengamplopi” ini, lokasi “penyemplungannya” ada beberapa macam.  Paling tidak ada TIGA tipe lokasi “penyemplungan” yang berbeda-beda.

-

Lokasi  1 : di meja penerima tamu
Ini adalah lokasi penyemplungan amplop yang paling sering saya temui.  Tamu datang, lalu menulis namanya di buku tamu (semacam buku absen gitu).  Kemudian amplop tersebut kita “cemplungkan” ke dalam tempat yang disediakan.  Bentuknya seperti kotak biasa.  Ada pula yang bentuknya seperti bis surat.  Kadang ada pula yang dihias cantik, senada dengan nuansa warna thema dekorasi pernikahan.

Yang agak unik adalah saya pernah menemukan kotak amplop yang berpasangan.  Berjejer dua sekaligus. Kotak pertama ada tulisan berbunyi : “Untuk Orang Tua mempelai”.  Kotak ke dua bertuliskan : “Untuk mempelai”.  Tamu dipersilahkan untuk memasukkan amplop ke salah satu dari kedua kotak tersebut, sesuai niatnya mau memberikan kepada siapa.  (mau “ngamplopin” dua-duanya juga tidak dilarang … hehehe)

-

Lokasi 2 : di sebelah pelaminan
Lokasi lainnya adalah kotak amplop di tempatkan di sebelah pelaminan.  Bisa juga disebar beberapa tempat yang strategis di seputar ruangan.  (tentu saja lokasi ini diawasi betul oleh keluarga).  Sengaja di meja penerima tamu depan, tidak disediakan kotak amplop.  Para tamu dipersilahkan untuk memasukkan amplop langsung di sebelah pelaminan.  Atau di tempat yang telah ditentukan di dalam.  (Saya tidak tau alasannya, mengapa kok mesti diletakkan di dekat pelaminan.  Mungkin salah satunya, untuk alasan keamanan)

-

Mekanisme 3 : direct contact
Maksudnya adalah amplop diserahkan langsung.  “Salam tempel”.  Bisa diserahkan langsung ke mempelai.  Ada juga yang diserahkan langsung kepada orang tua mempelai.  Terutama orang tua mempelai perempuan.  Istilahnya orang tua yang punya “gawe”.  Di beberapa adat perkawinan, memang pihak perempuanlah yang bertindak sebagai tuan rumah dari perhelatan perkawinan tersebut.

-

Menarik untuk dicermati, bahwa ternyata urusan amplop mengamplopi ini targetnya bisa ada dua macam sasaran.  Sasaran pertama “untuk mempelai”, sasaran kedua adalah “untuk orang tua mempelai” (wanita).  Saya berasumsi bahwa di beberapa tempat, adalah hal yang lumrah jika pihak orang tua juga mengharapkan bantuan dari para tamu yang datang untuk meringankan beban biaya pernikahan ini.  Yang memberikan amplop ke pihak orang tua biasanya adalah keluarga dekat, teman-teman atau tetangga kiri kanan ayah – ibu mempelai.   Sementara kolega, teman kerja, teman sekolah, kenalan kedua mempelai biasanya memberikan langsung kepada mempelai.

Jadi demikianlah …
Ternyata untuk urusan amplop mengamplopi ini, lokasi “penyemplungannya” ada tiga macam.  Yaitu di meja penerima tamu, di sebelah pelaminan atau di “salam tempel” kan langsung.

Dan dari segi sasarannya, sasaran pengamplopan itu ada dua jenis … yaitu untuk “orang tua mempelai (wanita)” dan untuk “mempelai” itu sendiri.

-

Bagaimana menurut pengalaman pembaca ?
Baik pengalaman sebagai penyelenggara ? mempelai ? …
Atau pengalaman sebagai tamu yang diundang ?
Cerita ya  …

 Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.