KID 2 : KELOMPOK 12 DAN SDN DEPOK 5

(Judul lengkapnya adalah Kelas Inspirasi Depok 2 : Kelompok 12 dan SDN Depok 5)

Untuk yang kedua kalinya saya memberanikan diri mendaftar kembali, menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar, program “Kelas Inspirasi”.  Benar yang orang bilang, program Kelas Inspirasi ini seperti “candu”.   Jika sudah merasakan sekali.  Pasti ingin berbuat lagi dan lagi …  Mengulang lagi … dan lagi …  :)

Mungkin ada yang belum mengerti mengenai program Kelas Inspirasi ini ?

Program Kelas Inspirasi pada hakikatnya adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat umum, para profesional untuk turun langsung mengajar ke sekolah dasar (SD) selama satu hari.  Berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga memberi motivasi para murid SD.  Harapannya adalah agar anak-anak SD tersebut dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para inspirator.  Sehingga mereka dapat bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka.

Kali ini lokasi mengajar yang saya pilih adalah sekolah dasar di wilayah Depok dan sekitarnya.  FYI : Depok juga sudah dua kali mengadakan kegiatan Kelas Inspirasi.  Maka untuk selanjutnya kita sebut saja program ini : Kelas Inspirasi Depok 2. (disingkat KID 2).

.

Tentang : KELOMPOK 12

Seperti biasa, rangkaian program ini dimulai dengan briefing para relawan.  Briefing mengambil tempat di aula sebuah bank daerah.  Di dalam briefing tersebut kami diberikan training pembekalan bagaimana sebaiknya mengajar anak-anak SD dan juga kiat-kiat untuk mengelola kelas dengan baik.  Kami dibagi menjadi beberapa kelompok.  Saya tergabung dalam kelompok 12.  Kelompok 12 ini terdiri dari 10 orang inspirator, 2 orang fotografer dan 1 orang fasilitator.

KID12
(sebagian anggota kel. 12)(photo by @nh18)

Kami semua mempunyai latar belakang profesi yang berbeda-beda.  Ada pelaut, teknisi alat berat, analis dari perusahaan penyedia layanan telekomunikasi, teknisi peneliti lingkungan dari sebuah PLTU, karyawati kementrian luar negeri, perawat, praktisi komunikasi pemasaran dan dua orang analis ekonomi.  Alhamdulillah kami semua bisa datang menghadiri briefing tersebut. 

Sebuah awal yang baik.

KID12a
my first welfie cuy … (halah) (photo by Feby, Kel. 12 KID2)

Sekarang mari kita lihat kondisi sekolah tempat kami akan mengajar nanti.

.

Tentang : SDN DEPOK 5

KID1
(photo by @nh18)

Kelompok kami mendapat tugas untuk mengajar selama satu hari di SD Negeri Depok 5.  SD ini terletak di Jalan Pemuda, Depok. Relatif masih di pusat kota.  Di sepanjang Jalan Pemuda ini banyak berdiri kantor-kantor pemerintah, masjid, gereja, sekolah-sekolah swasta (baik Islam maupun Kristen), sekolah-sekolah negeri, mulai tingkat SD – SMA.  Terdapat pula real estate dan toko swalayan mini.  Singkat kata jalan ini walaupun tidak lebar namun relatif akan selalu ramai dan padat lalu lalang kendaraan.  Artinya kami harus pintar-pintar mengatur waktu agar tidak terlambat sampai ke sekolah ini.

SD ini lokasinya tidak tepat berada di pinggir jalan.  Kita harus masuk beberapa puluh meter dulu ke dalam untuk mencapai sekolah ini.   Terdapat jalan masuk yang cukup lebar dan representatif.  Ini tentu lebih aman dan nyaman bagi anak-anak.  Tidak bising dan tidak terganggu lalu lintas.

KID2
jalan masuk (photo by @nh18)
KID3
pintu gerbang sekolah (photo by nh18)

Sekolah ini dilengkapi halaman untuk upacara dan kegiatan olah raga.  Mempunyai lokal kelas yang komplit pula.  Ada tujuh rombongan belajar, dan semua menempati kelas sendiri-sendiri.  Sehingga tidak ada yang masuk siang hari.  Bangunan sekolah ini ada dua tingkat.  Tingkat bawah untuk kelas kecil (1-2-3 dan 4a).  Tingkat atas untuk kelas besar (4b, 5 dan 6).

KID4
gedung sekolah dua tingkat (photo by @nh18)

Satu hal perlu saya catat di sini adalah di beberapa tempat banyak ditemukan kotak sampah beserta komposternya.  Komposter adalah alat untuk membuat kompos, berupa sebuah drum berikut alat pemutar untuk mencampur sampah organik.  Di setiap sudut sekolah, peserta didik juga berusaha untuk menanam tanaman-tanaman hias sederhana.  Rupanya sekolah ini ingin mewujudkan kinerja sebagai sekolah yang peduli pada lingkungan,  yang senantiasa menjaga keasrian dan kebersihan sekitarnya.

KID5
komposter (alat pembuat pupuk kompos)(photo by @nh18)

Banyak tanaman di setiap sudut …

KID8
lingkungan sekolah (photo by @nh18)
KID6
koridor samping ada tanaman dindingnya (photo by @nh18)
KID7
zoom in tanaman (photo by @nh18)

Dan ini adalah kantinnya … terletak di bagian belakang …

KID10
kantin belakang (photo by @nh18)

Tanpa bermaksud untuk membanding-bandingkan atau apa  …
Jika sekilas kita melihat foto-foto di atas … maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara fisik, bangunan di SDN Depok 5 ini kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat saya mengajar di Kelas Inspirasi di SDN Situ Gede 1, Bogor, awal September lalu.

Nah … lalu … ?

Bagaimanakah situasi Hari Inspirasi … Senin, 20 Oktober 2014 … ?
Bagaimana aktifitas anak-anak SDN Depok 5 saat itu … ?

Tunggu tulisan berikutnya yaaa …

Tulisan tersebut akan kita mulai dari … Koridor bersejarah ini … (eng ing eng …) (halah)

KID9
koridor sekolah (photo by @nh18)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

“DISKO” DI MASJID

Jika tidak ada jadwal mengajar, maka saya selalu berusaha untuk sholat wajib berjamaah di masjid kompleks perumahan saya.  Saya sangat beruntung menempati rumah yang jaraknya sangat dekat dengan masjid.  Hanya sekitar lima puluh meter saja.  Sepelemparan batu.

masjid
masjid kompleks perumahan saya

Jamaah akan bertambah banyak ketika memasuki waktu maghrib dan isya.  Penduduk perkampungan di sekitar perumahan kami, banyak yang memanfaatkan masjid ini untuk beribadah.  Termasuk anak-anaknya juga.  Saya perkirakan ada sekitar 20 an anak-anak yang rutin datang, baik laki-laki maupun perempuan.  Anak seumuran SD sampai SMP ada semua.

Ini membuat masjid kami menjadi ramai.  Namanya juga anak-anak … adaaaa saja tingkahnya.  Kadang menjengkelkan … tetapi lebih sering menggelikan.  Lucu.  Polos.  Khas anak-anak (singkong).

Saya perhatikan paling tidak ada TIGA tingkah mereka yang sanggup membuat saya senantiasa tersenyum.  :)
(dan kadang cemberut juga)(kalo lagi PMS …)  :(

Dan inilah tingkah mereka ….

  1. Amin
    Saya rasa ini tipikal terjadi di masjid manapun juga.  Anak-anak itu kalau mengucapkan “amin” selalu dengan suara yang keras dan panjang.  Bahkan imam belum selesai melafazkan suku kata pada ayat terakhir Al Fatihah … anak-anak itu telah berseru, menyambar dengan lantangnya … “Aaaaaaaammmiiiiinnnn …!!!” (keras sangat). (cempreng pula).  Belum lagi dengan lagu yang di”model-modelin” … “diliuk-liukkan” … “dipanjang-panjangkan” sedemikian rupa khas anak-anak(singkong).

 

  1. Lambat
    Tepatnya dilambat-lambatkan.  Tingkah ini yang kadang membuat saya jengkel.  Ketika azan berkumandang, ada sementara dari mereka yang tetap asyik bermain sesamanya.  Bahkan ketika Iqomat dikumandangkan, mereka masiiiih saja tetap bermain.  Baru setelah imam membaca Al Fatihah, dilanjut dengan surat pendek, mereka baru beramai-ramai mengambil air wudlu. Plus lengkap dengan acara main ciprat-cipratan air diantara mereka.  Jika kebetulan saya datang terlambat ke masjid, saya pasti menegur mereka.  Saya akan meminta dan mengajak mereka untuk segera masuk ke masjid dan mengikuti sholat berjamaah dengan tertib.

 

  1. Disko
    Nah kalau fenomena yang ini baru saja saya temukan senja tadi.  Selepas sholat maghrib.  Saat kami akan ke luar masjid.  Langit-langit di bagian teras masjid kami, agak rendah.  Kebetulan tadi salah dua lampu ada yang “sekarat”.  Mau mati.  Sorot sinarnya berkedip-kedip macam lampu blitz disko.  Dan mau tau apa yang dilakukan oleh anak-anak itu ?  Mereka jogedan tepat di bawah sorot lampu yang sekarat itu … yang berkedap-kedip itu.  Sambil matanya merem melek menikmati taburan lampu.  Ditambah lagi suasana di luar masjid gelap pula.  Hah … macam dugem di disko saja layaknya.  Saya pun bertanya  … “Heh lagi pada ngapain kalian ?”  Dan mereka menjawab “Pura-puranya lagi disko om … hahaha”.  Saya pun tersenyum.  Namanya juga anak-anak (singkong).
    (namun dalam hati saya berkata … “Om pengen ikutan juga dwooonngg …”)(hahaha apa kata dunia … ada om-om ikut jogedan)
masjid2
tiang di teras masjid

 

Saya yakin poin nomer satu tentang amin yang keras, serta poin nomer dua tentang terlambat sholat banyak ditemui teman-teman di masjid masing-masing. Tetapi kalau yang poin nomer 3, mungkin agak jarang ya … ?

Bagaimana tingkah anak-anak di masjid dekat tempat anda tinggal ?

Boleh sharing ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

TOUR GUIDE

umroh(200)
(sekedar ilustrasi : sebuah daerah wisata)

.

Ini tulisan tentang pemandu perjalanan wisata.  Bagi mereka yang pernah mengikuti paket tour perjalanan wisata, tentu sudah tidak asing dengan yang namanya tour guide.  Mereka sangat berjasa dalam memberikan penjelasan mengenai tempat-tempat wisata yang kita kunjungi.  Sehingga kunjungan kita menjadi lebih berarti, ada pengetahuan dan pengalaman baru yang kita dapat.

Alhamdulillah, saya beberapa kali pernah mengikuti tour wisata baik itu di dalam negeri maupun di manca negara.  Tentu saja beberapa kali kami dipandu oleh para tour guide.  Seorang tour guide yang baik, dituntut untuk mempunyai pengetahuan mengenai obyek wisata yang bersangkutan, plus harus hafal sejarah.  Mereka pun diharapkan mempunyai kemampuan public speaking dan ketrampilan story telling yang luwes.  Penguasaan bahasa setempat dan bahasa asal negara para tamu juga merupakan kriteria tour guide yang banyak dicari oleh para pengguna jasa wisata.  Jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, tentu peserta tour akan kecewa.  (Kalau di luar negeri biasanya penyelenggara perjalanan menggunakan jasa warga negara setempat yang pernah tinggal di Indonesia / mahasiswa Indonesia / penduduk keturunan Indonesia yang bisa berbahasa Indonesia).

Nah yang menarik dan ingin saya soroti disini adalah : saya perhatikan ada beberapa kesamaan yang selalu saya temui berkaitan dengan penggunaan tour guide ini … dan entah mengapa … hal ini kok selalu saja terjadi di setiap tour yang saya ikuti …

Paling tidak ada TIGA kesamaan yang selalu saya temui …

  1. Tip :
    Walaupun di dalam paket wisata yang kita bayar biasanya tertulis, biaya sudah termasuk penginapan, tiket masuk tempat wisata, makan dan juga fasilitas tour guide.  Namun kenyataannya, pada umumnya ketika sudah di lapangan kita akan dikoordinir oleh pemimpin perjalanan untuk urunan, menyisihkan sedikit uang untuk iuran sukarela.  Iuran tersebut untuk tip tour guide dan juga tip driver bus/van yang kita tumpangi.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Saya pribadi tidak keberatan akan hal ini.  Apalagi jika mendapatkan tour guide yang sangat menguasai medan dan juga pintar bercerita yang diselingi dengan humor-humor segar.  Satu dua dari mereka ada pula yang bersuara emas, mampu menghibur tamu dengan menyanyi karaoke di bis.  Membuat perjalanan kita menjadi selalu menarik dan tidak membosankan.

 

  1. Dagangan :
    Ada lagi hal yang similar.  Biasanya tour guide di tengah perjalanan atau ketika perjalanan sudah akan berakhir, mulai mengeluarkan jurus jualan barang-barang dagangan tertentu.  Gantungan kunci, souvenir, CD sejarah, kain khas, kaos dan sebagainya.  Dan entah mengapa alasan yang selalu mereka gunakan adalah “Ini untuk sekedar membantu menambah pendapat uang saku driver yang telah membantu kita.  Saya hanya membantu menjualkan saja untuk bapak – ibu sekalian”.  Dan sekali lagi, ini selalu terjadi di setiap saya mengikuti tour baik di dalam maupun luar negeri.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Untuk yang ini … saya tidak terburu-buru membeli.  Biasanya saya selalu membandingkan harga yang ditawarkan oleh mereka dengan harga di toko cindera mata.  Jika harga mereka lebih murah … maka saya akan beli dari mereka.  Namun jika sebaliknya … No thank you.

 

  1. Rekanan :
    Biasanya para perusahaan penyelenggara tour atau tour guide itu sudah menjalin kerja sama tertentu dengan beberapa rumah makan, atau tempat wisata kuliner atau toko cendera mata tertentu. Di dalam penjelasannya ketika di bis, para tour guide akan menceritakan keunggulan-keunggulan tempat wisata kuliner yang akan mereka tuju. Dan ketika sampai di suatu pusat penjualan cendera mata, biasanya mereka akan memarkir bis di dekat toko cendera mata tertentu, atau mengarahkan para tamu untuk berbelanja di gerai-gerai tertentu. Tentu saja mereka hanya bisa merekomendasikan saja, sebab keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing peserta tour.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Untuk kuliner ? saya sama sekali tidak terpengaruh.  Untuk urusan yang satu ini saya sangat konservatif.  Bukan tipe orang yang suka heboh memanjakan lidah.  (apa lagi foto-foto makanan).  Saya akan mencari makanan yang sudah saya kenal saja.  (Om-om nggak asik !)
    Untuk cendera mata ? ini juga tidak begitu terpengaruh.  Saya pasti membandingkan harga toko yang satu dengan toko yang lain.  (Tekniknya adalah … saya biasanya mengintili teman rombongan yang emak-emak atau ibu-ibu, biasanya mereka jago nawar (baca : gigih dan tega).  Saya biarkan ibu-ibu itu berdarah-darah nawar.  Nanti kalo harga mereka sudah deal … dapet murah … baru saya ikutan beli … hahaha … smart bukan ?)

 

Jadi demikianlah … beberapa fenomena yang kerap saya temui berkaitan dengan penggunaan tour guide atau pemandu dalam perjalanan wisata.

Apakah teman-teman pernah punya pengalaman menggunakan tour guide ?
Apakah mengalami hal serupa ?
Atau ada kisah yang lain ?
Sharing ya … !

gaes
“Para Turis” : diperagakan oleh model

.

Salam saya,

.71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

.

(ihik … cara narcis yang eiylekhan … pake muter-muter cerita tour guide segala)

 

 

KIB 2 : BALON DAN POHON IMPIAN

Tulisan ini masih bercerita tentang kegiatan Kelas Inspirasi Bogor 2.  Seperti yang telah saya tuliskan di postingan-postingan sebelumnya, saya berkesempatan untuk ikut berpartisipasi sebagai relawan inspirator, yang bertugas mengajar di SD Negeri Situ Gede 1, Kecamatan Bogor Barat.

Pada postingan pertama, saya menceritakan mengenai kondisi fisik SD Negeri Situ Gede 1.  Sekolah dasar ini hanya mempunyai tiga lokal kelas dan berada di tengah pemukiman yang relatif padat.  Sementara pada tulisan kedua saya bercerita tentang persiapan dan kegiatan yang kami lakukan pada saat hari inspirasi 9 September 2014.

Nah kali ini saya akan khusus menyoroti mengenai dua hal yang saya pikir merupakan “the moment of truth” dari kegiatan ini, yaitu balon dan pohon impian.  Kegiatan ini sekaligus sebagai kegiatan penutup dari seluruh rangkaian Kelas Inspirasi hari itu.

Balon dan pohon impian pada hakikatnya adalah sebuah aktifitas dimana para siswa menuliskan cita-citanya.   Cita-cita tersebut ditulis pada secarik kertas.  Berwarna warni.   Dan kemudian ditempelkan pada pohon impian atau balon impian itu.

Sebetulnya kami bisa memilih salah satu saja. Entah itu Balon atau Pohon Impian. Tidak perlu keduanya.  Namun karena kami mengajar di dua rombongan, yaitu rombongan kelas yang masuk pagi dan rombongan kelas yang masuk siang,  maka ritual penutupan kami adakan dua kali.  Untuk alasan kepraktisan dan waktu.  Jadi anak-anak kelas pagi menuliskan cita-citanya di pohon impian. Sementara anak-anak rombongan siang menuliskan cita-citanya di balon impian.  Lalu balon tersebut di lepas ke udara … Ahhh menyenangkan sekali … Anda harus lihat bagaimana berbinarnya mata anak-anak tersebut ketika menempelkan cita-citanya di pohon impian.  Dan juga menerbangkan balon impiannya.

Ini adalah beberapa foto kegiatan para siswa menempel kertas warna warni yang bertuliskan cita-citanya, ke pohon impian

pohon impian1
(photo by Fanny, KIB 2)
pohon impian3
(photo by Fanny, KIB 2)

Dan ini adalah beberapa foto ketika kita menerbangkan Balon impian, yang ditempeli kertas cita-cita ke udara …

KI31
(photo by Fotografer Kel 19 KIB 2)

 

KI33
(photo by Ersie, KIB 2)

Sempat saya membaca di secarik kertas berwarna hijau muda, tulisan seorang siswa yang kurang lebih berbunyi :

Nama : Elis
Kelas : 4
Cita-cita : Dokter Anak
Ya Alloh kabulkanlah doa Elis. Elis pengen jadi dokter anak.

(Sebetulnya kalimat terakhir ini bukan instruksi dari pengajar, kalimat tersebut ditulisnya secara spontan oleh siswa)

Saya terharu membacanya …

Kejarlah cita-citamu.  Dan selalu ingat : Jujur, Kerja keras, Mandiri dan Pantang menyerah anak-anak !!!

Semoga cita-citamu tercapai ya Nak … !

Salam Inspirasi

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Ada sebuah pemandangan menarik.
Ketika seluruh kegiatan sudah selesai, dan kami ngobrol berbincang-bincang santai dengan para guru.  Sambil beristirahat dan menikmati jajanan tradisional (ubi rebus, pisang rebus, kacang dan sebagainya) yang disediakan oleh kepala sekolah.  Kami melihat ada sekelompok gadis-gadis kecil.  Murid-murid SDN Situ Gede yang tadi barusan kami ajar.  Mereka telah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian bebas.

Saya bertanya kepada mereka “Sudah pada pulang ? Kok balik ke sekolah lagi ? Mau main di sekolah ya ?”
Dan mereka pun menjawab : “Mau memberesin kelas kita Pak”
Saya pun bertanya kembali : “Lho memangnya ada apa ?”
Salah satu dari mereka bilang : “Besok sekolah kita mau dibongkar, jadi kita ngungsi sementara Pak.  Kita mau mindahin barang-barang, buku-buku, prakarya kita ke tempat yang baru”.  (Aaahhh … kasihan sekali anak-anak ini).

Setelah saya cari info lebih lanjut dari para guru, ternyata memang sekolah mereka ini besok mulai tanggal 10 September 2014 akan dibongkar.  Akan dibangun bangunan dua tingkat, agar lokal kelas mereka mencukupi dan memadai untuk rombongan belajar yang ada.  Selama pembangunan tersebut, mereka akan menumpang belajar di sekolah tetangga … SD Negeri Situ gede 2.  Masuk siang dan sore hari.  Semoga hal ini tidak mengganggu proses belajar mengajar mereka …
Dan semoga lokal sekolah mereka cepat selesai, agar mereka dapat segera menempati kelas yang baru yang lebih layak, dan memadai !

Tetap semangat dan bergembira ya anak-anak !!!

KI18
(Photo by Fotografer Kel 19-20 KIB 2)

KIB 2 : PERSIAPAN DAN HARI INSPIRASI

Seperti yang telah saya tuliskan di postingan sebelumnya, saya memberanikan diri mendaftar untuk menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar melalui program khusus yang bertajuk “Kelas Inspirasi Bogor 2” (KIB 2).  Kami mendapat tugas untuk mengajar satu hari di sebuah sekolah dasar, yaitu SDN Situ Gede 1.  Gambaran situasi lokasi SDN Situ Gede 1 pun telah saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Segera setelah briefing umum KIB 2, kelompok kami berdiskusi merencanakan apa saja yang akan kami lakukan, bagaimana jadwalnya, bagaimana mekanismenya, run down acaranya, alat apa yang kami butuhkan dan sebagainya.  Tantangan menjadi sedikit rumit karena kami masing-masing mempunyai kesibukan sendiri-sendiri.  Seluruh komunikasi hanya kami lakukan melalui Whatsapp.

.

9 September 2014 : Hari Inspirasi

Sebetulnya kelompok kami itu terdiri dari delapan orang, namun pada saat hari H ada dua orang yang tidak bisa mengikutinya.  Satu sakit dan satu lagi ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. 

tim20
kelompok 20, KIB 2 (photo by Fanny KIB 2)

Kami berasal dari profesi yang berbeda-beda.  Ada perawat, auditor, desainer grafis, ground engineer pesawat terbang, dan trainer.  Satu orang bertindak sebagai fotografer.  Kami berusaha mengatur jadwal sehingga kita semua bisa memasuki seluruh kelas tanpa kecuali.  Dari kelas satu … sampai dengan kelas enam.

Mengajar secara tandem berpasangan adalah cara yang kami tempuh.  Dengan cara tersebut kami bisa saling mendukung satu sama lain.  Jika yang satu sedang menerangkan maka yang lain bisa ikut menjaga ketertiban kelas. 

.

KI12
with my tandem Didik Subroto (photo by Fanny, KIB 2)

Bilamana perlu, kita pun bisa menjadi bagian dari presentasi pasangan kita.  Kebetulan pasangan saya adalah seorang perawat.  Pada saat dia menerangkan profesinya, saya berpura-pura menjadi pasien yang dirawatnya.

-

Siswa SD pada umumnya berada pada rentang usia 6-12 tahun.  Anak-anak pada usia tersebut berada pada tahap perkembangan kognitif yang disebut Concrete Operational (sumber : Modul Pelaksanaan Pengajaran, KIB 2, 2014).

Saya tidak mempunyai background pengetahuan ilmu “paedagogy” yang memadai.  Sehingga saya mencoba menginterpretasikan sendiri arti kata-kata “Concrete Operational”.  “Concrete Operational” saya terjemahkan secara bebas menjadi : apapun yang kita sampaikan haruslah nyata.  Kongkrit.  Berwujud.   Saya berfikir bahwa kata-kata akan menjadi prioritas nomer yang ke sekian.   Letak kunci keberhasilan penyampaian justru ada pada …

  • Apa yang saya peragakan ...
  • Apa yang saya lakukan …
  • Apa yang saya perlihatkan …
  • Apa yang saya kenakan …
  • Dan baru setelah itu … apa yang saya katakan !

(mohon dikoreksi, jika pengertian saya salah)

Sehingga dalam mempersiapkan struktur pengajaran / lesson plan saya harus sangat memperhatikan apa yang akan saya peragakan, lakukan, perlihatkan, kenakan dan (akhirnya) apa yang saya katakan … !!!  Sebab itulah yang akan diserap oleh anak-anak.  Saya harus berperilaku tertentu.  Saya harus membawa sesuatu.  Saya harus mengenakan sesuatu.  Saya harus berakting.  Saya harus melakukan sesuatu.

KI11
membuat nama (photo by Fanny, KIB 2)

Masalahnya profesi yang akan saya terangkan adalah profesi “Trainer”. Sebuah profesi yang notabene belum dikenal oleh anak-anak. Mereka jarang (bahkan mungkin tidak pernah) berinteraksi dengan trainer. Lain halnya dengan dokter, polisi, artis atau tentara yang mungkin sehari-hari mereka bisa melihatnya di layar televisi atau bahkan berinteraksi secara langsung.

Akhirnya saya melakukan pendekatan melalui media boneka tangan.

KI17
bersama kak Indra (photo by Fanny, KIB 2)

Cerita sebuah keluarga, dengan dua orang anak.  Laki-laki dan perempuan.  Sebut saja nama-namanya Cha-cha dan Kak Indra.  Orang tuanya bernama Bu Entin dan Pak Jaja.  Cha-cha siswa Sekolah Dasar (kelasnya tergantung di kelas mana saya mengajar. Kalau mengajar di kelas tiga maka saya sebut Cha-cha kelas tiga SD).  Indra kakak Cha-cha sudah kuliah.  Bu Entin ibu rumah tangga yang buka usaha warung di depan rumah.  Dan Pak Jaja bekerja di sebuah pabrik. (saya sesuaikan tokoh-tokohnya dengan kurang lebih latar belakang keluarga sebagian besar anak-anak SDN Situ Gede 1)

Supaya cerita tidak membosankan, sekali-sekala kami menyisipkan nyanyian dan yel-yel  …

.

KI13
horee !!! duaarr … (photo by Fanny, KIB 2)

Untuk mengenalkan profesi Trainer, ceritanya sederhana saja. Intinya adalah Cha-cha diajari di sekolah oleh bapak dan ibu guru. Kak Indra di kampus diajari oleh dosen.  Kak Indra latihan sepak bola di lapangan bola di kecamatan, yang mengajari adalah pelatih.  Sementara itu Bu Entin setiap hari Jum’at menutup warungnya dan dia pergi ke acara pengajian di masjid dekat rumah. Yang mengajari Bu Entin mengaji adalah uztad – uztadzah.  Sementara itu Pak Jaja sehari-harinya bekerja di pabrik. Pertanyaannya adalah : Siapakah yang mengajari Pak Jaja untuk melakukan pekerjaannya di Pabrik ? Supaya pekerjaannya bisa bagus dan lancar ? … Naaahh yang mengajari pak Jaja inilah yang disebut TRAINER.

Trainer bertugas untuk mengajari dan melatih karyawan, pekerja, bapak-bapak, om-om, ibu-ibu, tante-tante, kakak-kakak yang sudah dewasa, baik itu yang bekerja di pabrik maupun yang bekerja di kantor.

Tentu saja ketika menerangkan itu semua, saya mengkombinasinya dengan pergantian suara, (saya terinspirasi dari Kak Adin sang pendongeng yang sangat piawai berganti-ganti suara dan membuat sound effect dengan mulutnya).  Saya juga mengajukan pertanyaan interaktif kepada anak-anak.  Agar lebih menarik … saya berganti-ganti asesori yang saya kenakan.  Sesuai dengan profesi yang sedang saya jelaskan.  Kalau sedang bicara mengenai uztad maka saya akan memakai songkok dan sorban.

KI16
“Uztad” with Bu Entin … (photo by Fanny, KIB 2)

(lho kok malah jadi kayak kakek-kakek ya ?)

Ketika bicara mengenai guru saya mengenakan kopiah. Menerangkan profesi pelatih saya pakai topi dan sempritan dan seterusnya. Sekali lagi yang akan mereka serap adalah peragaan, kelakuan saya, apa yang saya perlihatkan dan apa yang saya kenakan … (baru setelah itu apa yang saya katakan)

Alhamdulillah … (kelihatannya) … anak-anak mengerti.  Terbukti ketika wrap up, saat kesimpulan, ketika mengulang kembali pelajaran hari ini.  Apa nama profesi saya ? apa tugas saya ? … mereka dapat menyebutkan kembali dengan lancar …

KI14
Sayaaaa … (photo by Fanny, KIB 2)

Aaahhh senangnya …  Alhamdulillah …

(masih bersambung)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9. . . ..

.

.

.

.Tulisan selanjutnya : KIB 2 : Balon dan Pohon Impian

.

.

.