KID 2 : TENTANG SEORANG GADIS KECIL

Ini adalah tulisan ke tiga dari rangkaian tulisan tentang Kelas Inspirasi Depok 2.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.  Saya mengajar selama satu hari di SDN Depok 5.  Pada tulisan pertama, saya bercerita mengenai seluk beluk kondisi fisik SDN Depok 5.  Lalu di tulisan kedua saya bercerita mengenai upacara hari Senin yang diadakan di Sekolah.  Dan kini, di tulisan ketiga ini saya akan bercerita mengenai seorang gadis kecil yang saya temui di SDN Depok 5 tersebut.

.

20 Oktober 2014.
Saya berangkat dari rumah saya di Tangerang Selatan, pagi sekali.  Sehabis subuh saya langsung meluncur, supaya tidak terlambat sampai di tujuan.  Ini hari Senin.  Ini hari pelantikan Presiden yang baru.  Dan hari ini akan ada pesta rakyat di jalan protokol Jakarta.  Saya tidak mau ambil resiko, takut kena macet.  Lebih baik saya datang lebih awal daripada terlambat sampai sekolah.

Alhamdulillah.  Langkah kanan.  Jalanan lancar jaya, saya sampai sekolah sekitar jam 05.45 pagi.  Terlalu pagi.  Masih sepi.  Hanya ada seorang bapak tua penjaga sekolah yang menyiram tanaman pagi itu.  Saya pun melihat-lihat, berjalan-jalan di seputaran sekolah.  Sambil sesekali memfoto jika ada obyek yang menarik.  Tak lama kemudian satu dua tiga orang mulai datang.  Mereka adalah para pedagang makanan di kantin.  Anak-anak pun mulai ramai berdatangan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya di kantin belakang sekolah.  Ada sebuah keluarga kecil.  Bapak-ibu dan dua orang anaknya.  Mereka masih kecil-kecil, perempuan semua.  Bapak dan ibu tersebut sibuk mempersiapkan makanan untuk dijajakan di lapak mereka pagi itu.  Kantin sekolah memang terdiri dari beberapa lapak penjual makanan aneka rupa.  Mulai dari snack sampai roti.  Mulai dari nasi goreng sampai cimol.

Upacara8

Saya perhatikan anaknya yang besar mengenakan seragam putih-putih.  Dia sedang sibuk mempersiapkan diri.  Memakai kaos kaki dan mengenakan sepatu.  Sesekali bermain dengan adiknya, di sisi lapak.

Anaknya sekolah disini Pak ? saya bertanya kepada bapak penjaga kantin tersebut.
“Iya pak sekolah disini. Baru kelas satu” bapak itu menjawab, sambil tersenyum.
Saya pun menyalami anak perempuannya itu, dan anak itu pun balas menyalami saya tanpa malu-malu.

(Dalam hati saya berkata … aaahhh dia akan jadi salah satu murid pertama yang saya ajar hari ini) (Menurut jadwal yang telah diatur, saya dan seorang rekan relawan, Vini Tangkuman, akan masuk di Kelas 1 pada jam pelajaran pertama dan kedua).

Untuk selanjutnya, mari kita sebut saja nama gadis kecil itu “Putri”.

Ketika pelajaran dimulai, saya pun bertemu kembali dengan “Putri” di kelas.  Saya perhatikan “Putri” tidak minder bergaul dengan teman-temannya.  Meskipun dia hanya anak seorang pedagang makanan yang jualan di kantin sekolah.  Anaknya memang tidak banyak tingkah.  Tenang di kelas.  Duduknya di belakang. 

putri3
sebut saja namanya “Putri” (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sekali dua, dia mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari kami.  Saat menyanyi, dia ikut menyanyi dengan riang.  Saat bermain, dia juga mengikuti permainan dengan semangat.  Saat penjelasan dan demo pekerjaan Ibu Vini pun, “Putri” berusaha mengikuti dengan seksama.

putri7
Ibu Vini dan “Putri” yang nyempil (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sampai suatu saat Vini Tangkuman, rekan saya itu bertanya kepada anak-anak mengenai pekerjaannya ? (BTW : Vini adalah seorang teknisi peneliti lingkungan di sebuah PLTU).  “Putri” mengangkat tangan bersemangat, maju ke depan dan berhasil menjawab pertanyaan Vini dengan baik.  Sebagai rewardnya, Vini menyematkan sebuah bintang berwarna pink di dada kanan “Putri”.  Terlihat bangga sekali dia.

putri1
bintang pink di dada kanan (photo by @nh18)

Bintang itu terus tersemat di dadanya, di sepanjang pelajaran hari itu.  Jika terkelupas sedikit saja maka dia akan segera merapikan dan menempelkannya kembali di dada kanannya baik-baik.  Khidmad sekali.  Dia memperlakukan bintang dari kertas tersebut sebagaimana layaknya harta yang tidak ternilai.

Frick-51
bintang tetap tersemat di dada (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Saya bersyukur, Ibu Vini menunjuk “Putri” untuk maju ke depan.  Karena dengan demikian diharapkan hal ini dapat menumbuhkan semangat “Putri” untuk terus maju di masa yang akan datang.

Bukan itu saja, …
Ketika sesi foto berlangsung pun, “Putri” dengan riang dan bangganya mengenakan helm proyek (safety helmet) milik Ibu Vini.  Sekali lagi saya bersyukur Vini membawa topi ini, dan berbaik hati meminjamkannya untuk “Putri”.

Frick-269fff
Senyum dengan helm proyek dan bintang kebanggaan (photo by Frick, Kel 12. KID2)

Bentuknya memang hanya helm proyek sederhana. Hanya kertas tempelan berbentuk bintang berwarna pink murah meriah.  Namun saya percaya hal-hal kecil ini akan terus diingat oleh “Putri”.  Akan menjadi inspirasi bagi “Putri” untuk meraih cita-citanya di masa yang akan datang, dengan berbekal kerja keras, jujur, mandiri dan pantang menyerah.

Pada hakikatnya inilah esensi dari program Kelas Inspirasi.  Memberikan pengalaman kecil yang bisa menjadi inspirasi anak-anak, untuk tetap berlari mengejari impiannya.

Mudah-mudahan “Putri” dan juga teman-temannya yang lainnya di SD Negeri Depok 5 bisa meraih apa yang dicita-citakannya … Amiiinnn …

putri5
Ibu Vini, Saya dan anak-anak kelas 1 SDN Depok 5 (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

(“Putri” berjongkok, di dekat murid yang berjilbab merah)
(Dan lihatlah … saat foto bersama pun bintang pink masih tersemat di dada kanannya)

.

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Pelajarannya adalah … jangan pernah menganggap remeh hal-hal kecil.
Karena bisa jadi … justru hal-hal kecil itulah yang akan menjadi inspirasi anak-anak di kemudian hari.

.

.

.

KID 2 : TENTANG UPACARA

(Judul lengkapnya adalah Kelas Inspirasi Depok 2 : Tentang Upacara hari Senin)

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, beberapa waktu yang lalu saya mendaftar kembali menjadi relawan pengajar di program Kelas Inspirasi.  Kali ini saya mengajar di SDN Depok 5.  Kondisi SDN Depok 5 bisa anda lihat di postingan ini.

Kini saatnya saya bercerita mengenai Hari Inspirasi.  The D Day.

20 Oktober 2014
Hari ini, hari Senin.  Sekaligus bertepatan dengan hari pelantikan Presiden Republik Indonesia dan dilanjutkan dengan perayaan syukuran Pesta Rakyat di sepanjang jalan protokol Jakarta.  Kami menyambut Presiden baru tersebut dengan cara kami sendiri, yaitu menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 ini.  :)

Agenda pertama hari ini adalah … mengikuti apel upacara hari Senin.

Kisahnya kita mulai dari koridor ini.  Koridor tempat kami berdiri mengikuti upacara !  :)

KID9
koridor itu … (photo by @nh18)

Bagi mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri atau guru SD pasti upacara hari Senin adalah merupakan hal yang (sangat) biasa. Namun tidak bagi saya pribadi.  Hal ini adalah hal yang luar biasa.  Sebuah nostalgia yang manis.  Ada suatu masa dimana setiap hari Senin saya selalu menjadi petugas upacara di sekolah.  Sejak kelas 5 SD saya sudah menjadi petugas upacara.  Terus berlanjut sampai saya kelas 3 SMA.  Jabatan saya berganti-ganti.  Kadang sebagai komandan regu, komandan upacara, kadang pengerek bendera, pembaca Pancasila, pembaca Pembukaan UUD 45 sampai menjadi dirigen memimpin lagu Indonesia Raya.

Mengikuti upacara kemarin, bagaikan membuka kembali lembaran album kenangan ketika saya sekolah dulu.  Kami para relawan berdiri di depan, berjajar bersama para guru.  (Ya … di koridor itu tadi … )

Upacara6
para guru (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara4
Para Guru dan Relawan KI (photo by Frick, Kel 12 KID2)

Menurut pendapat saya, anak-anak SDN Depok 5 ini relatif tinggi disiplinnya. Ketika barisan disiapkan, satu dua kali para guru ada yang memberikan pengarahan kepada anak didiknya untuk menjaga ketertiban dan agar selalu khidmad mengikuti upacara. Dan anak-anak patuh (atau takut mungkin)  :)

Ini foto persiapan mengikuti upacara

Upacara1
persiapan upacara (photo by @nh18)

Dan ini kurang lebih situasi ketika upacara …

Upacara2
berbaris rapi, yang terlambat menunggu di luar gerbang (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara3
pengibaran bendera (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara7
petugas pembaca pembukaan UUD 45 (photo by @nh18)

Sempat terjadi insiden. Ketika upacara tengah berlangsung. Komandan upacara, seorang siswi, tiba-tiba saja limbung.  Hal ini segera diketahui oleh salah seorang pemimpin kelas yang tepat berdiri di belakangnya.  Siswi tersebut pingsan hampir terjatuh, untung saja salah satu guru ada yang sigap, berlari, menangkap dan memapahnya ke ruang UKS.  Dan hebatnya, salah satu dari siswa petugas upacara ada yang segera bergegas menggantikan kedudukan siswi tersebut sebagai komandan upacara.  Upacara tetap diteruskan.  Dan dia memimpin upacara tersebut sampai selesai.  Saya salut.  Ternyata anak-anak memang sudah disiapkan untuk menghadapi segala sesuatu hal yang mungkin saja terjadi.  Mereka siaga dengan petugas pengganti.

Khusus pada upacara kali ini ada agenda tambahan, yaitu sambutan dari perwakilan relawan pengajar Kelas Inspirasi yang bertugas di SDN Depok 5 … (ihik … uhuk … )(nasib menjadi yang paling tua ya gini ini … )(hahaha)

Upacara5
(photo by Frick, Kel 12, KID 2)

Assalamu’alaikum warochmatullahi wabarokatuh …
Selamat pagi anak-anaaaakkkkk … !!!
Sudah sarapan semuaaaaaaa … ???

(and the fun time begin … !!!)

.

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

.

.

Cerita masih akan terus berlanjut …
Postingan yang akan datang … kisahnya akan saya mulai dari gambar yang satu ini …
Perhatikan gadis kecil berbaju putih-putih …

Upacara8

.

eng ing eng … (halah)

.

.

KID 2 : KELOMPOK 12 DAN SDN DEPOK 5

(Judul lengkapnya adalah Kelas Inspirasi Depok 2 : Kelompok 12 dan SDN Depok 5)

Untuk yang kedua kalinya saya memberanikan diri mendaftar kembali, menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar, program “Kelas Inspirasi”.  Benar yang orang bilang, program Kelas Inspirasi ini seperti “candu”.   Jika sudah merasakan sekali.  Pasti ingin berbuat lagi dan lagi …  Mengulang lagi … dan lagi …  :)

Mungkin ada yang belum mengerti mengenai program Kelas Inspirasi ini ?

Program Kelas Inspirasi pada hakikatnya adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat umum, para profesional untuk turun langsung mengajar ke sekolah dasar (SD) selama satu hari.  Berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga memberi motivasi para murid SD.  Harapannya adalah agar anak-anak SD tersebut dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para inspirator.  Sehingga mereka dapat bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka.

Kali ini lokasi mengajar yang saya pilih adalah sekolah dasar di wilayah Depok dan sekitarnya.  FYI : Depok juga sudah dua kali mengadakan kegiatan Kelas Inspirasi.  Maka untuk selanjutnya kita sebut saja program ini : Kelas Inspirasi Depok 2. (disingkat KID 2).

.

Tentang : KELOMPOK 12

Seperti biasa, rangkaian program ini dimulai dengan briefing para relawan.  Briefing mengambil tempat di aula sebuah bank daerah.  Di dalam briefing tersebut kami diberikan training pembekalan bagaimana sebaiknya mengajar anak-anak SD dan juga kiat-kiat untuk mengelola kelas dengan baik.  Kami dibagi menjadi beberapa kelompok.  Saya tergabung dalam kelompok 12.  Kelompok 12 ini terdiri dari 10 orang inspirator, 2 orang fotografer dan 1 orang fasilitator.

KID12
(sebagian anggota kel. 12)(photo by @nh18)

Kami semua mempunyai latar belakang profesi yang berbeda-beda.  Ada pelaut, teknisi alat berat, analis dari perusahaan penyedia layanan telekomunikasi, teknisi peneliti lingkungan dari sebuah PLTU, karyawati kementrian luar negeri, perawat, praktisi komunikasi pemasaran dan dua orang analis ekonomi.  Alhamdulillah kami semua bisa datang menghadiri briefing tersebut. 

Sebuah awal yang baik.

KID12a
my first welfie cuy … (halah) (photo by Feby, Kel. 12 KID2)

Sekarang mari kita lihat kondisi sekolah tempat kami akan mengajar nanti.

.

Tentang : SDN DEPOK 5

KID1
(photo by @nh18)

Kelompok kami mendapat tugas untuk mengajar selama satu hari di SD Negeri Depok 5.  SD ini terletak di Jalan Pemuda, Depok. Relatif masih di pusat kota.  Di sepanjang Jalan Pemuda ini banyak berdiri kantor-kantor pemerintah, masjid, gereja, sekolah-sekolah swasta (baik Islam maupun Kristen), sekolah-sekolah negeri, mulai tingkat SD – SMA.  Terdapat pula real estate dan toko swalayan mini.  Singkat kata jalan ini walaupun tidak lebar namun relatif akan selalu ramai dan padat lalu lalang kendaraan.  Artinya kami harus pintar-pintar mengatur waktu agar tidak terlambat sampai ke sekolah ini.

SD ini lokasinya tidak tepat berada di pinggir jalan.  Kita harus masuk beberapa puluh meter dulu ke dalam untuk mencapai sekolah ini.   Terdapat jalan masuk yang cukup lebar dan representatif.  Ini tentu lebih aman dan nyaman bagi anak-anak.  Tidak bising dan tidak terganggu lalu lintas.

KID2
jalan masuk (photo by @nh18)
KID3
pintu gerbang sekolah (photo by nh18)

Sekolah ini dilengkapi halaman untuk upacara dan kegiatan olah raga.  Mempunyai lokal kelas yang komplit pula.  Ada tujuh rombongan belajar, dan semua menempati kelas sendiri-sendiri.  Sehingga tidak ada yang masuk siang hari.  Bangunan sekolah ini ada dua tingkat.  Tingkat bawah untuk kelas kecil (1-2-3 dan 4a).  Tingkat atas untuk kelas besar (4b, 5 dan 6).

KID4
gedung sekolah dua tingkat (photo by @nh18)

Satu hal perlu saya catat di sini adalah di beberapa tempat banyak ditemukan kotak sampah beserta komposternya.  Komposter adalah alat untuk membuat kompos, berupa sebuah drum berikut alat pemutar untuk mencampur sampah organik.  Di setiap sudut sekolah, peserta didik juga berusaha untuk menanam tanaman-tanaman hias sederhana.  Rupanya sekolah ini ingin mewujudkan kinerja sebagai sekolah yang peduli pada lingkungan,  yang senantiasa menjaga keasrian dan kebersihan sekitarnya.

KID5
komposter (alat pembuat pupuk kompos)(photo by @nh18)

Banyak tanaman di setiap sudut …

KID8
lingkungan sekolah (photo by @nh18)
KID6
koridor samping ada tanaman dindingnya (photo by @nh18)
KID7
zoom in tanaman (photo by @nh18)

Dan ini adalah kantinnya … terletak di bagian belakang …

KID10
kantin belakang (photo by @nh18)

Tanpa bermaksud untuk membanding-bandingkan atau apa  …
Jika sekilas kita melihat foto-foto di atas … maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara fisik, bangunan di SDN Depok 5 ini kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan tempat saya mengajar di Kelas Inspirasi di SDN Situ Gede 1, Bogor, awal September lalu.

Nah … lalu … ?

Bagaimanakah situasi Hari Inspirasi … Senin, 20 Oktober 2014 … ?
Bagaimana aktifitas anak-anak SDN Depok 5 saat itu … ?

Tunggu tulisan berikutnya yaaa …

Tulisan tersebut akan kita mulai dari … Koridor bersejarah ini … (eng ing eng …) (halah)

KID9
koridor sekolah (photo by @nh18)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

“DISKO” DI MASJID

Jika tidak ada jadwal mengajar, maka saya selalu berusaha untuk sholat wajib berjamaah di masjid kompleks perumahan saya.  Saya sangat beruntung menempati rumah yang jaraknya sangat dekat dengan masjid.  Hanya sekitar lima puluh meter saja.  Sepelemparan batu.

masjid
masjid kompleks perumahan saya

Jamaah akan bertambah banyak ketika memasuki waktu maghrib dan isya.  Penduduk perkampungan di sekitar perumahan kami, banyak yang memanfaatkan masjid ini untuk beribadah.  Termasuk anak-anaknya juga.  Saya perkirakan ada sekitar 20 an anak-anak yang rutin datang, baik laki-laki maupun perempuan.  Anak seumuran SD sampai SMP ada semua.

Ini membuat masjid kami menjadi ramai.  Namanya juga anak-anak … adaaaa saja tingkahnya.  Kadang menjengkelkan … tetapi lebih sering menggelikan.  Lucu.  Polos.  Khas anak-anak (singkong).

Saya perhatikan paling tidak ada TIGA tingkah mereka yang sanggup membuat saya senantiasa tersenyum.  :)
(dan kadang cemberut juga)(kalo lagi PMS …)  :(

Dan inilah tingkah mereka ….

  1. Amin
    Saya rasa ini tipikal terjadi di masjid manapun juga.  Anak-anak itu kalau mengucapkan “amin” selalu dengan suara yang keras dan panjang.  Bahkan imam belum selesai melafazkan suku kata pada ayat terakhir Al Fatihah … anak-anak itu telah berseru, menyambar dengan lantangnya … “Aaaaaaaammmiiiiinnnn …!!!” (keras sangat). (cempreng pula).  Belum lagi dengan lagu yang di”model-modelin” … “diliuk-liukkan” … “dipanjang-panjangkan” sedemikian rupa khas anak-anak(singkong).

 

  1. Lambat
    Tepatnya dilambat-lambatkan.  Tingkah ini yang kadang membuat saya jengkel.  Ketika azan berkumandang, ada sementara dari mereka yang tetap asyik bermain sesamanya.  Bahkan ketika Iqomat dikumandangkan, mereka masiiiih saja tetap bermain.  Baru setelah imam membaca Al Fatihah, dilanjut dengan surat pendek, mereka baru beramai-ramai mengambil air wudlu. Plus lengkap dengan acara main ciprat-cipratan air diantara mereka.  Jika kebetulan saya datang terlambat ke masjid, saya pasti menegur mereka.  Saya akan meminta dan mengajak mereka untuk segera masuk ke masjid dan mengikuti sholat berjamaah dengan tertib.

 

  1. Disko
    Nah kalau fenomena yang ini baru saja saya temukan senja tadi.  Selepas sholat maghrib.  Saat kami akan ke luar masjid.  Langit-langit di bagian teras masjid kami, agak rendah.  Kebetulan tadi salah dua lampu ada yang “sekarat”.  Mau mati.  Sorot sinarnya berkedip-kedip macam lampu blitz disko.  Dan mau tau apa yang dilakukan oleh anak-anak itu ?  Mereka jogedan tepat di bawah sorot lampu yang sekarat itu … yang berkedap-kedip itu.  Sambil matanya merem melek menikmati taburan lampu.  Ditambah lagi suasana di luar masjid gelap pula.  Hah … macam dugem di disko saja layaknya.  Saya pun bertanya  … “Heh lagi pada ngapain kalian ?”  Dan mereka menjawab “Pura-puranya lagi disko om … hahaha”.  Saya pun tersenyum.  Namanya juga anak-anak (singkong).
    (namun dalam hati saya berkata … “Om pengen ikutan juga dwooonngg …”)(hahaha apa kata dunia … ada om-om ikut jogedan)
masjid2
tiang di teras masjid

 

Saya yakin poin nomer satu tentang amin yang keras, serta poin nomer dua tentang terlambat sholat banyak ditemui teman-teman di masjid masing-masing. Tetapi kalau yang poin nomer 3, mungkin agak jarang ya … ?

Bagaimana tingkah anak-anak di masjid dekat tempat anda tinggal ?

Boleh sharing ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

TOUR GUIDE

umroh(200)
(sekedar ilustrasi : sebuah daerah wisata)

.

Ini tulisan tentang pemandu perjalanan wisata.  Bagi mereka yang pernah mengikuti paket tour perjalanan wisata, tentu sudah tidak asing dengan yang namanya tour guide.  Mereka sangat berjasa dalam memberikan penjelasan mengenai tempat-tempat wisata yang kita kunjungi.  Sehingga kunjungan kita menjadi lebih berarti, ada pengetahuan dan pengalaman baru yang kita dapat.

Alhamdulillah, saya beberapa kali pernah mengikuti tour wisata baik itu di dalam negeri maupun di manca negara.  Tentu saja beberapa kali kami dipandu oleh para tour guide.  Seorang tour guide yang baik, dituntut untuk mempunyai pengetahuan mengenai obyek wisata yang bersangkutan, plus harus hafal sejarah.  Mereka pun diharapkan mempunyai kemampuan public speaking dan ketrampilan story telling yang luwes.  Penguasaan bahasa setempat dan bahasa asal negara para tamu juga merupakan kriteria tour guide yang banyak dicari oleh para pengguna jasa wisata.  Jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, tentu peserta tour akan kecewa.  (Kalau di luar negeri biasanya penyelenggara perjalanan menggunakan jasa warga negara setempat yang pernah tinggal di Indonesia / mahasiswa Indonesia / penduduk keturunan Indonesia yang bisa berbahasa Indonesia).

Nah yang menarik dan ingin saya soroti disini adalah : saya perhatikan ada beberapa kesamaan yang selalu saya temui berkaitan dengan penggunaan tour guide ini … dan entah mengapa … hal ini kok selalu saja terjadi di setiap tour yang saya ikuti …

Paling tidak ada TIGA kesamaan yang selalu saya temui …

  1. Tip :
    Walaupun di dalam paket wisata yang kita bayar biasanya tertulis, biaya sudah termasuk penginapan, tiket masuk tempat wisata, makan dan juga fasilitas tour guide.  Namun kenyataannya, pada umumnya ketika sudah di lapangan kita akan dikoordinir oleh pemimpin perjalanan untuk urunan, menyisihkan sedikit uang untuk iuran sukarela.  Iuran tersebut untuk tip tour guide dan juga tip driver bus/van yang kita tumpangi.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Saya pribadi tidak keberatan akan hal ini.  Apalagi jika mendapatkan tour guide yang sangat menguasai medan dan juga pintar bercerita yang diselingi dengan humor-humor segar.  Satu dua dari mereka ada pula yang bersuara emas, mampu menghibur tamu dengan menyanyi karaoke di bis.  Membuat perjalanan kita menjadi selalu menarik dan tidak membosankan.

 

  1. Dagangan :
    Ada lagi hal yang similar.  Biasanya tour guide di tengah perjalanan atau ketika perjalanan sudah akan berakhir, mulai mengeluarkan jurus jualan barang-barang dagangan tertentu.  Gantungan kunci, souvenir, CD sejarah, kain khas, kaos dan sebagainya.  Dan entah mengapa alasan yang selalu mereka gunakan adalah “Ini untuk sekedar membantu menambah pendapat uang saku driver yang telah membantu kita.  Saya hanya membantu menjualkan saja untuk bapak – ibu sekalian”.  Dan sekali lagi, ini selalu terjadi di setiap saya mengikuti tour baik di dalam maupun luar negeri.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Untuk yang ini … saya tidak terburu-buru membeli.  Biasanya saya selalu membandingkan harga yang ditawarkan oleh mereka dengan harga di toko cindera mata.  Jika harga mereka lebih murah … maka saya akan beli dari mereka.  Namun jika sebaliknya … No thank you.

 

  1. Rekanan :
    Biasanya para perusahaan penyelenggara tour atau tour guide itu sudah menjalin kerja sama tertentu dengan beberapa rumah makan, atau tempat wisata kuliner atau toko cendera mata tertentu. Di dalam penjelasannya ketika di bis, para tour guide akan menceritakan keunggulan-keunggulan tempat wisata kuliner yang akan mereka tuju. Dan ketika sampai di suatu pusat penjualan cendera mata, biasanya mereka akan memarkir bis di dekat toko cendera mata tertentu, atau mengarahkan para tamu untuk berbelanja di gerai-gerai tertentu. Tentu saja mereka hanya bisa merekomendasikan saja, sebab keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing peserta tour.
    Bagaimana saya menyikapinya ?
    Untuk kuliner ? saya sama sekali tidak terpengaruh.  Untuk urusan yang satu ini saya sangat konservatif.  Bukan tipe orang yang suka heboh memanjakan lidah.  (apa lagi foto-foto makanan).  Saya akan mencari makanan yang sudah saya kenal saja.  (Om-om nggak asik !)
    Untuk cendera mata ? ini juga tidak begitu terpengaruh.  Saya pasti membandingkan harga toko yang satu dengan toko yang lain.  (Tekniknya adalah … saya biasanya mengintili teman rombongan yang emak-emak atau ibu-ibu, biasanya mereka jago nawar (baca : gigih dan tega).  Saya biarkan ibu-ibu itu berdarah-darah nawar.  Nanti kalo harga mereka sudah deal … dapet murah … baru saya ikutan beli … hahaha … smart bukan ?)

 

Jadi demikianlah … beberapa fenomena yang kerap saya temui berkaitan dengan penggunaan tour guide atau pemandu dalam perjalanan wisata.

Apakah teman-teman pernah punya pengalaman menggunakan tour guide ?
Apakah mengalami hal serupa ?
Atau ada kisah yang lain ?
Sharing ya … !

gaes
“Para Turis” : diperagakan oleh model

.

Salam saya,

.71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

.

(ihik … cara narcis yang eiylekhan … pake muter-muter cerita tour guide segala)