A SELF REFLECTION : LOMBA TENGOK-TENGOK BLOG SENDIRI BERHADIAH

logo1

Ini sudah hampir akhir tahun.  Saatnya kita untuk menengok ke belakang sejenak.  Apa saja yang sudah kita tulis di tahun 2014 ini.  Tapi kalo menengok saja, rasanya kok kurang asik ya.  Mesti ditambahkan … “tengok-tengok berhadiah” …

So …Here it is !!!

Teman-teman perkenankan saya mengadakan lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah.  Sebuah perhelatan “Gift Away” persembahan dari blog The Ordinary Trainer.

Nama GA nya adalah : A SELF REFLECTION (lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah)

Berikut penjelasannya … mohon disimak perlahan.

Tugas : (tengok-tengok)

  1. Teman-teman sekalian mohon melihat kembali tulisan-tulisan di blog masing-masing, yang telah anda buat di tahun 2014 ini.  Yang diposting mulai tanggal 1 Januari 2014 sampai sekarang.
  2. Kemudian pilih SATU TULISAN saja.  Yang paling berkesan
  3. Definisi berkesan saya serahkan sepenuhnya pada teman-teman sekalian.  Bisa tulisan yang anda anggap paling bagus, paling indah, paling menyentuh, paling inspiratif, paling lucu dan sebagainya.  Atau bahkan mungkin, tulisan yang proses menulisnya membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan energi yang luar biasa, atau tulisan yang ada latar belakang khususnya, ada cerita indah di baliknya … tulisan yang perlu diperbaiki … tulisan yang perlu dirapikan … dan sebagainya …. pendek kata … apa saja kriterianya ? … itu terserah anda.

.

Lalu : (tulis)

  1. Buat POSTINGAN BARU di blog anda yang antara lain menceritakan :
    • Apa judul postingan 2014 yang paling berkesan di blog anda tersebut ?
    • Alasan mengapa anda memilih tulisan tersebut sebagai tulisan berkesan.
    • Adakah latar belakang khusus mengapa waktu itu anda menulis postingan tersebut ?
    • Berapa lama anda membuatnya ? Dimana ?
    • Apa kelemahan dari tulisan tersebut ?
    • Perbaikan apa yang diperlukan ?
    • dsb dsb dsb
    • (Silahkan dibuat se-kreatif mungkin. Ini hanya trigger, sebagai contoh saja)

.

Syarat Tulisan :

  1. Pada bagian awal tulisan : Sematkan LOGO GA ini :
    logo1
  2. Semua tulisan harus ORISINIL karya sendiri, bukan copy paste dari sumber lain.
  3. Menggunakan bahasa INDONESIA yang dimengerti.
  4. Panjang tulisan mohon dibatasi maksimal hanya 500 KATA saja.
  5. Tidak boleh menyinggung SARA dan bertentangan dengan sistim nilai yang berlaku
  6. Pada bagian akhir ditulis kalimat yang mempunyai LINK hidup ke artikel ini :
    .
    “Postingan ini diikut sertakan dalam lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”
    .
  7. DAFTAR postingan anda pada kolom komentar di artikel ini. Dengan contoh sbb :

.

Syarat Kepesertaan :

  1. Lomba ini terbuka bagi seluruh blogger Warga Negara Indonesia yang memiliki blog aktif ber-platform apapun.
  2. Memiliki alamat di Indonesia. (untuk pengiriman hadiah, jika nanti menang)
  3. Jika seorang nara blog mempunyai lebih dari satu blog, maka dia boleh mengikuti kepesertaan sebanyak blog yang dipunyainya.

.

Periode Lomba :

  1. Kontes dimulai saat artikel ini ditayangkan, dan akan ditutup pada tanggal 20 Desember 2014 (jam 23.59)
  2. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 29 Desember 2014

 

Penilaian – Juri :

  1. Yang akan dinilai adalah tulisan baru berupa evaluasi yang anda buat.  (Bukan postingan lama yang anda bahas)
  2. Kriteria penilaian (a.l) : Honesty, Clarity, Sincerity dan Creativity
  3. Akan dilakukan sendiri oleh nh18
  4. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

 

Hadiah :

  • TIGA tulisan Unggulan PERTAMA. Masing-masing akan mendapatkan paket hadiah barang seharga +/- @ Rp. 100.000
  • TIGA tulisan Unggulan KEDUA. Masing-masing akan mendapatkan paket hadiah barang seharga +/- @ Rp. 75.000
  • TIGA tulisan Unggulan KETIGA. Masing-masing akan mendapatkan paket hadiah barang seharga +/- @ Rp. 50.000

(Note : Hadiah akan berubah jika ada yang berkenan untuk menjadi sponsor tambahan)  :)

Alhamdulillah kami mendapat tambahan hadiah-hadiah :

1. Dari Pak De Abdul Cholik berupa 3 buah buku “Blog Mini Penghasilan Maksimal”

hadiah Pak De

2. Dari Mak Winda Krisnadefa berupa 3 buah notes hand made.  Notes tersebut dibuat untuk kegiatan Crafting For Charity. (ini salah satu contohnya)

winda6

3.  Dari Aunty Mechta Deera berupa 2 buah buku “Janji Pagi”

janjipagi

4. Dari Mas Eru Vierda, berupa kerudung plus gamis

Eru

5. Dari Hani S, berupa sehelai gaun cantik dari butik onlinenya

gaun

6. Dari Mak Isti’adzah Rohyati, berupa satu buah buku berjudul “Finding Islam”

10816075_10205118968148893_1312859014_n

7. Dari mbak Tri Wahyuni Zuhri berupa tiga buah buku karangannya yang berjudul : “Kanker Bukan Akhir Dunia”.  Ini tulisan pengalaman pribadi mbak Tri sebagai survivor kanker.  Buku ini pasti bisa memberikan edukasi bagi yang membutuhkannya.

tri

Jadi demikianlah teman-teman …

Ayo kita lihat kembali tulisan-tulisan kita di tahun 2014 ini.
Ada baiknya kita melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita tuliskan di blog masing-masing.
Adalah kewajiban kita bersama untuk selalu belajar terus menerus memperbaiki tulisan kita.

Semoga teman-teman berkenan untuk mengikuti lomba ini.
Kami menunggu karya tulisan orisinal anda … !

Mari kita tengok-tengok blog sendiri ! (… yang kali ini berhadiah !)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

PIALA BERGILIR

Piala
(bukan piala bergilir sebenarnya) (ini untuk ilustrasi saja)

Ini cerita tentang “piala bergilir”.

Saya tidak tau apakah hal ini masih ada di zaman sekarang atau tidak.  Namun dulu ketika saya masih kuliah, teman-teman saya terutama yang wanita satu persatu mulai disunting oleh calon suaminya.  Menikah, memasuki jenjang selanjutnya dalam siklus kehidupan mereka.  Ini terjadi ketika kami sudah menginjak semester-semester akhir perkuliahan.  Melihat hal tersebut akhirnya kami sekelas mempunyai ide untuk membuat semacam piala bergilir.   Sebut saja piala bergilir pernikahan.

Piala bergilir tersebut diserahkan kepada teman kami yang sedang melangsungkan acara pernikahan. Kami akan beramai-ramai datang ke pesta – walimahan pernikahannya lalu secara resmi piala tersebut diserah-terimakan kepada mempelai disaksikan oleh para hadirin. Ramai. Meriah. Membahagiakan.  Silaturahmi yang hangat.

Sebelum diserahkan, di badan piala tersebut akan digrafir nama teman yang menikah.  Contoh :

  1. Aan Suana
  2. Bebi Bala-bala

Jadi ritualnya adalah kami semua akan berkumpul di panggung. Lalu Aan sebagai pemegang piala bergilir sebelumnya akan menyerahkannya kepada Bebi, sang pengantin baru.  Nanti jika ada undangan pernikahan teman kami yang lain lagi, misalkan namanya Caca, maka Bebilah yang bertanggung jawab untuk meng-grafir nama Caca dan menyerahkannya kepada mempelai, di acara penikahan Caca. Demikian seterusnya.

Tujuan upaya ini tak lain dan tidak bukan adalah untuk tetap menyambung tali silaturahmi pertemanan dan kekeluargaan diantara kita para alumni satu angkatan perkuliahan.

Namun demikian … ternyata prosesnya tidak se”mulus” yang kita duga.

Kami satu angkatan itu jumlahnya ada 150-an lebih mahasiswa-mahasiswi.  Pernikahan teman kami yang pertama, kedua, ketiga sampai ke lima, ke enam ritual ini relatif lancar jaya.  Karena kebetulan sebagian besar dari kami masih menyelesaikan studi di Bogor.  Masih relatif berkumpul di satu kota.  Jadi masih mudah menkoordinasikannya.  Namun ketika kami lulus, tentu saja kami mencari nafkah sendiri-sendiri.  Ada yang bekerja di dekat-dekat Jabodetabekasergon sini saja.  Namun banyak juga yang kembali ke kampung halamannya masing-masing.  Nun jauh di ujung Nusantara sana.  Dari propinsi Nangroe Aceh Darusalam sampai Papua.  Ini masalah tersendiri sodara-sodara.  Ya komunikasinya … ya logistiknya.

Yang pegang piala bergilir sekarang misalnya Foni tinggalnya di Ambon.  Lalu yang menikah berikutnya adalah Gamal, tinggalnya di Lhokseumawe.  Naaahhh ini … tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi Foni untuk membawa piala bergilir tersebut khusus dari Ambon terbang ke Lhokseumawe. Akhirnya kami ambil jalan tengah, Foni tidak perlu datang ke Lhokseumawe.  Dia cukup mengirimkan piala tersebut lewat paket saja (tentu setelah terlebih dahulu di grafir nama Gamal di piala tersebut)

Masalah pertama, mengenai lokasi geografis teratasi.  Namun ada masalah yang lain lagi.  Ada satu dua kejadian dimana teman kami menikah tetapi karena kesulitan informasi, lost contact, data tidak up date atau sulit berhubungan jadi terlewat begitu saja.  (Ingat jaman dulu internet belum ngetop seperti sekarang, belum ada HP apalagi social media FB, WA dsb).  Contohnya ketika teman kami Harun, lalu Ina, lalu disusul Joko menikah kami semua tidak tau.   Gamal sebagai pemegang piala bergilir yang terakhir pun tidak tau. Akhirnya nama Harun, Ina, dan Joko terlewat tidak tergrafir.  Baru kemudian ketika teman kami yang lain, Koni menikah, piala tersebut baru diserahkan Gamal langsung kepada Koni.  Kebetulan rumah Gamal di Bogor dan rumah Koni di Jakarta.  Dekat.  Mudah komunikasinya.  Mudah logistiknya.

Ada juga peristiwa lucu, dimana piala bergilir itu hanya berumur beberapa jam saja di satu tangan.  Hari ini diserah terimakan dari Koni ke Leli.  Besok Leli harus sudah menyerahkannya kepada Momon. Karena tanggal pernikahan Leli dan Momon cuma berbeda satu hari.  Nasib si Leli, piala belum terpajang di rumah, sudah harus terbang lagi.

Jadi demikianlah … cerita tentang piala bergilir pernikahan.

Memang tidak mudah menjaga silaturahmi, hubungan pertemanan diantara 150 orang teman satu angkatan.  Sebab kita semua sudah tersebar kemana-mana.  Bahkan banyak yang belajar ke luar negeri juga waktu itu …

Sekarang bagaimana nasib Piala Bergilir itu ? Apa masih ada ? atau jangan-jangan sudah berkarat ?

Saya tidak tau. Piala Bergilir itu kini berada dimana.   Siapa yang pegang piala tersebut terakhir pun juga saya tidak tau.  Sudah lama sekali.  Hampir semua dari kami satu angkatan, sudah menikah.  Usia perkawinan kami pun hampir sebagian besar sudah diatas 20 tahun …

Dan ironisnya adalah …
Saya sama sekali TIDAK sempat merasakan memegang Piala Bergilir tersebut.  Karena ketika saya dan bundanya anak-anak menikah, tidak ada teman kuliah saya yang datang.  Kami menikah di sebuah kota kecil di perbatasan Jambi dan Sumatera barat.  Di kaki Gunung Kerinci.  Saya pun tidak tau saat itu piala bergilir siapa yang pegang.  Hahaha … jadi kelewatan deh saya … nasiiibbb … nasiiibb …

Nah sekarang saya ingin bertanya …
Adakah tradisi seperti ini tempat anda ? di teman seangkatan anda ? teman satu gank ?
Bentuknya apa ? apakah piala ? atau prasasti ? atau piring perak ? atau apa ?

Boleh sharing yaaa … !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

DIAN SASTRO MAIN FILM (LAGI)

Bukan.  Ini bukan tentang heboh iklan sosial media “lini” yang sepuluh menit itu.  Ini tulisan tentang sebuah film layar lebar yang baru saja saya tonton.  Sebuah film yang dibintangi oleh Dian Sastro.  Masih dengan kecantikan yang sama.  Masih dengan akting yang prima.

.

Minggu, 30 November 2014

Saya dan the three boys nonton film di Pondok Indah Mall.  Kami berempat saja.  Bunda kebetulan sedang ada acara dengan teman-temannya di Bandung.  Anak-anak saya sudah punya pilihan film masing-masing.  Si Sulung dan Tengah nonton “Mockingjay” sementara si Bungsu nonton “Big Hero 6”.  Saya ? Saya belum punya pilihan mau nonton film apa.  Celingukan.

Tiba-tiba mata saya tertegun pada sebuah poster film yang ada gambar Dian Sastro nya.  Ahaaaa nonton film ini aja aah … Dian Sastro jeh …  Dian Sastroooo … !!!

Film tersebut berjudul “7/24”. (7 hari, 24 jam).  Ini film bergenre komedi romantis.

Lawan main Dian Sastro siapa ? Lukman Sardi ! (hah betapa beruntungnya orang ini)

Lukman dan Dian berperan sebagai suami istri yang hampir lima tahun menikah.  Lukman adalah seorang sutradara film yang sibuk, sementara Dian adalah seorang karyawati berkarir cemerlang di sebuah perusahaan, yang juga sibuk.  Mereka sudah punya seorang putri.

Diceritakan dalam film tersebut Lukman tiba-tiba saja pingsan di lokasi syuting. Ternyata dia menderita hepatitis A, harus istirahat full di rumah sakit.  Sebagai istri yang baik Dian pun pontang-panting, mondar mandir mengurus suami, merawat anak dan juga mengerjakan pekerjaannya. Akibatnya apa ? Dian pun jatuh sakit pula.  Gejala typhus dan harus diopname di rumah sakit yang sama.  Harus istirahat total juga.  Karena tim dokter tau bahwa mereka adalah suami istri, maka tim dokter menempatkan mereka di dalam satu kamar VIP yang sama.  Tim dokter diperankan dengan baik (dan kocak) oleh duet bapak dan anak, Hengki Solaiman dan Verdi Solaiman.

Kisah pun bergulir dari bilik VIP rumah sakit tempat mereka di rawat tersebut.  Mereka dirawat selama 7 hari.  Itu artinya 7 kali 24 jam mereka selalu bersama-sama.  Selalu berdekatan secara fisik.  Meskipun dirawat di satu kamar, tim dokter sudah mewanti-wanti mereka untuk tetap harus beristirahat.  Harus “tertib”, sebab penyakit hepatitis A bisa menular melalui liur.  Sehingga ranjangnya pun ada dua. Mereka tidurnya dipisah (hehehe)

Anda bisa bayangkan, mereka yang dalam kondisi normal sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.  Saling berjauhan.  Jarang bisa bertemu langsung.  Hanya bisa berkomunikasi lewat telefon.  Kini berhadapan langsung selama 24 jam. Selama 7 hari.

Disinilah cerita dimainkan. Ada banyak adegan romantis sekaligus kocak berawal disini.  Di ramu dengan bumbu-bumbu konflik, rasa marah, juga cemburu.  Lukman cemburu pada bossnya Dian (yang diperankan oleh Ari Wibowo) yang disebutnya “pengharum ruangan” karena selalu beraroma wangi.  Sementara Dian cemburu pada artis film yang di sutradarai oleh Lukman.  Lukman dipanggil papi dengan manjanya oleh artis sexy pendatang baru tersebut.

Setingan adegan sebagian besar hanya mengambil lokasi di bilik VIP rumah sakit.  Sementara sebagian kecil lainnya berlokasi di rumah mereka, di lokasi syuting film yang disutradarai Lukman dan di kantor tempat Dian bekerja.  Fajar Nugros sebagai sutradara film “7/24” ini dan juga penata kameranya  berhasil memanfaatkan sudut-sudut pengambilan gambar set lokasi yang minimalis tersebut, sehingga gambar yang dihasilkan tidak membosankan, walaupun lokasinya hanya yang itu-itu saja.  Beauty Shot dari langit-langit kamarnya keren.

Ini film yang menarik.  Konfiknya nyata.  Dialognya efektif.  Kata-katanya bernas.  Humornya eiylekhan.

Kalau akting ? saya rasa sudah tidak diragukan lagi.  Ada Dian, ada Lukman, dan ada Hengky Solaeman. Mereka merupakan aktor dan aktris kawakan.

So …

Dian Sastro … welcome back beib … !

(sumprit ngiri berat sama Lukman Sardi !)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

TABEL KONVERSI

Ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional dulu, saya sering ditugaskan oleh manajemen untuk melakukan perjalanan dinas.  Baik perjalanan dinas dalam negeri maupun ke luar negeri.  Dan ketika diinstruksikan seperti itu, sebagai karyawan yang bertanggung jawab saya pun selalu melakukan persiapan sebaik-baiknya agar perjalanan saya bisa nyaman, dan urusan pekerjaanpun bisa lancar adanya.

Khusus ketika melakukan perjalanan dinas keluar negeri, persiapan yang harus saya lakukan relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan perjalanan dinas di dalam negeri.  Salah satu persiapan tambahan yang lumayan ribet selain pengurusan dokumen keimigrasian adalah urusan penukaran mata uang.

Saya tau betul kelemahan saya.  Kelemahan saya adalah … saya (amat) lambat kalau disuruh berhitung.  Apalagi berhitung nilai mata uang.  Mengkonversi nilai mata uang, dari mata uang kita ke mata uang negara tertentu, demikian pula sebaliknya dari mata uang negara tertentu ke rupiah.  Mencongak pula.  Pening lah awak.

Oleh sebab itu, supaya saya tidak salah hitung dan “kebablasan” dalam membelanjakan uang di negeri orang, maka saya perlu berhati-hati.  Jika ingin membeli sesuatu, saya selalu awali dengan mengkonversi nilai mata uang negara yang bersangkutan ke dalam mata uang rupiah terlebih dahulu.  Misalnya saja di Hong Kong. Mata uang yang berlaku disana adalah Dollar Hong Kong.  Anggap saja kursnya 1 $ HK = Rp. 1.570.  Jika harga paket makan siang di kedai cepat saji itu 19 $HK, maka harga itu setara dengan sekitar Rp. 30.000 .  Bila masih saya anggap wajar, maka saya pun lantas membelinya.  Demikian seterusnya.  Saya selalu membandingkan dengan harga barang sejenis yang ada di Indonesia.

Melihat kelemahan saya dalam berhitung, ditambah lagi saya paling tidak telaten untuk pencat-pencet gadget yang ada software aplikasi konversi mata uangnya.  Dan saya juga agak kerepotan jika mesti pencat-pencet kalkulator dulu (dasar om-om manja dan pemalas). Maka saya berinisiatif untuk membuat semacam “kertas contekan” yang berisi tabel konversi. Terbuat dari kertas A 4.  Isinya adalah contekan konversi mata uang.  Di ketik rapi.  

Kira-kira bentuk dokumen awalnya seperti ini …

konfersiKertas tersebut akan saya lipat-lipat menjadi kecil.  Sehingga Pas di kantong, pas di genggaman.  Mirip contekan sudah lah … Hahaha …

Di dalam komputer saya sudah tersedia templatenya, yang saya buat dengan memakai program excel sederhana.  Tinggal memasukkan mata uang negara yang akan kita tuju dan nilai konversinya.  Sret, dalam hitungan tak sampai se detik tabel konversi sudah jadi.   Siap diprint.  Siap digunakan.  Cerdas bukan ?

Sampai sekarang kalau bepergian keluar negeri saya selalu menggunakan tabel konversi manual ini. Mau beli apa-apa saya selalu ngelirik ganteng ke kertas contekan keramat ini …  

Ini terlihat lebih eiylekhan, dari pada musti pencat-pencet kalkulator.  Gaya mesti nomor satu dwoonngg.  Luar negeri jeh.

Kere tapi nggak mau kelihatan miskinnya (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

.

.

KID 2 : TENTANG SEORANG GADIS KECIL

Ini adalah tulisan ke tiga dari rangkaian tulisan tentang Kelas Inspirasi Depok 2.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.  Saya mengajar selama satu hari di SDN Depok 5.  Pada tulisan pertama, saya bercerita mengenai seluk beluk kondisi fisik SDN Depok 5.  Lalu di tulisan kedua saya bercerita mengenai upacara hari Senin yang diadakan di Sekolah.  Dan kini, di tulisan ketiga ini saya akan bercerita mengenai seorang gadis kecil yang saya temui di SDN Depok 5 tersebut.

.

20 Oktober 2014.
Saya berangkat dari rumah saya di Tangerang Selatan, pagi sekali.  Sehabis subuh saya langsung meluncur, supaya tidak terlambat sampai di tujuan.  Ini hari Senin.  Ini hari pelantikan Presiden yang baru.  Dan hari ini akan ada pesta rakyat di jalan protokol Jakarta.  Saya tidak mau ambil resiko, takut kena macet.  Lebih baik saya datang lebih awal daripada terlambat sampai sekolah.

Alhamdulillah.  Langkah kanan.  Jalanan lancar jaya, saya sampai sekolah sekitar jam 05.45 pagi.  Terlalu pagi.  Masih sepi.  Hanya ada seorang bapak tua penjaga sekolah yang menyiram tanaman pagi itu.  Saya pun melihat-lihat, berjalan-jalan di seputaran sekolah.  Sambil sesekali memfoto jika ada obyek yang menarik.  Tak lama kemudian satu dua tiga orang mulai datang.  Mereka adalah para pedagang makanan di kantin.  Anak-anak pun mulai ramai berdatangan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya di kantin belakang sekolah.  Ada sebuah keluarga kecil.  Bapak-ibu dan dua orang anaknya.  Mereka masih kecil-kecil, perempuan semua.  Bapak dan ibu tersebut sibuk mempersiapkan makanan untuk dijajakan di lapak mereka pagi itu.  Kantin sekolah memang terdiri dari beberapa lapak penjual makanan aneka rupa.  Mulai dari snack sampai roti.  Mulai dari nasi goreng sampai cimol.

Upacara8

Saya perhatikan anaknya yang besar mengenakan seragam putih-putih.  Dia sedang sibuk mempersiapkan diri.  Memakai kaos kaki dan mengenakan sepatu.  Sesekali bermain dengan adiknya, di sisi lapak.

Anaknya sekolah disini Pak ? saya bertanya kepada bapak penjaga kantin tersebut.
“Iya pak sekolah disini. Baru kelas satu” bapak itu menjawab, sambil tersenyum.
Saya pun menyalami anak perempuannya itu, dan anak itu pun balas menyalami saya tanpa malu-malu.

(Dalam hati saya berkata … aaahhh dia akan jadi salah satu murid pertama yang saya ajar hari ini) (Menurut jadwal yang telah diatur, saya dan seorang rekan relawan, Vini Tangkuman, akan masuk di Kelas 1 pada jam pelajaran pertama dan kedua).

Untuk selanjutnya, mari kita sebut saja nama gadis kecil itu “Putri”.

Ketika pelajaran dimulai, saya pun bertemu kembali dengan “Putri” di kelas.  Saya perhatikan “Putri” tidak minder bergaul dengan teman-temannya.  Meskipun dia hanya anak seorang pedagang makanan yang jualan di kantin sekolah.  Anaknya memang tidak banyak tingkah.  Tenang di kelas.  Duduknya di belakang. 

putri3
sebut saja namanya “Putri” (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sekali dua, dia mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari kami.  Saat menyanyi, dia ikut menyanyi dengan riang.  Saat bermain, dia juga mengikuti permainan dengan semangat.  Saat penjelasan dan demo pekerjaan Ibu Vini pun, “Putri” berusaha mengikuti dengan seksama.

putri7
Ibu Vini dan “Putri” yang nyempil (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sampai suatu saat Vini Tangkuman, rekan saya itu bertanya kepada anak-anak mengenai pekerjaannya ? (BTW : Vini adalah seorang teknisi peneliti lingkungan di sebuah PLTU).  “Putri” mengangkat tangan bersemangat, maju ke depan dan berhasil menjawab pertanyaan Vini dengan baik.  Sebagai rewardnya, Vini menyematkan sebuah bintang berwarna pink di dada kanan “Putri”.  Terlihat bangga sekali dia.

putri1
bintang pink di dada kanan (photo by @nh18)

Bintang itu terus tersemat di dadanya, di sepanjang pelajaran hari itu.  Jika terkelupas sedikit saja maka dia akan segera merapikan dan menempelkannya kembali di dada kanannya baik-baik.  Khidmad sekali.  Dia memperlakukan bintang dari kertas tersebut sebagaimana layaknya harta yang tidak ternilai.

Frick-51
bintang tetap tersemat di dada (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Saya bersyukur, Ibu Vini menunjuk “Putri” untuk maju ke depan.  Karena dengan demikian diharapkan hal ini dapat menumbuhkan semangat “Putri” untuk terus maju di masa yang akan datang.

Bukan itu saja, …
Ketika sesi foto berlangsung pun, “Putri” dengan riang dan bangganya mengenakan helm proyek (safety helmet) milik Ibu Vini.  Sekali lagi saya bersyukur Vini membawa topi ini, dan berbaik hati meminjamkannya untuk “Putri”.

Frick-269fff
Senyum dengan helm proyek dan bintang kebanggaan (photo by Frick, Kel 12. KID2)

Bentuknya memang hanya helm proyek sederhana. Hanya kertas tempelan berbentuk bintang berwarna pink murah meriah.  Namun saya percaya hal-hal kecil ini akan terus diingat oleh “Putri”.  Akan menjadi inspirasi bagi “Putri” untuk meraih cita-citanya di masa yang akan datang, dengan berbekal kerja keras, jujur, mandiri dan pantang menyerah.

Pada hakikatnya inilah esensi dari program Kelas Inspirasi.  Memberikan pengalaman kecil yang bisa menjadi inspirasi anak-anak, untuk tetap berlari mengejari impiannya.

Mudah-mudahan “Putri” dan juga teman-temannya yang lainnya di SD Negeri Depok 5 bisa meraih apa yang dicita-citakannya … Amiiinnn …

putri5
Ibu Vini, Saya dan anak-anak kelas 1 SDN Depok 5 (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

(“Putri” berjongkok, di dekat murid yang berjilbab merah)
(Dan lihatlah … saat foto bersama pun bintang pink masih tersemat di dada kanannya)

.

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Pelajarannya adalah … jangan pernah menganggap remeh hal-hal kecil.
Karena bisa jadi … justru hal-hal kecil itulah yang akan menjadi inspirasi anak-anak di kemudian hari.

.

.

.