CITIZEN JURNALISM

.

Mudah-mudahan ejaannya betul ya …

Ini mengenai “jurnalisme warga”. 
Pengertian saya … ini adalah suatu aktifitas pelaporan suatu kejadian atau berita atau pesan atau opini yang dilakukan oleh warga masyarakat biasa.  Bukan oleh wartawan, reporter dan yang sejenisnya.  Berita berformat audio atau audio visual tersebut biasanya dikirimkan ke stasiun televisi atau diunggah ke jaringan yu cup.

Sependek pengetahuan saya … fenomena jurnalisme warga ini mulai marak ketika terjadi musibah tsunami di Aceh beberapa tahun yang lalu.  Rintisan bentuk jurnalisme warga yang sederhana juga sering kita dengar lewat radio … dalam bentuk laporan situasi lalu lintas terkini dari berbagai tempat … yang disampaikan oleh pemakai jalan awam biasa.    (Coba anda dengar deh … terlihat sekali ada nada-nada bangga para “reporter amatir dadakan” itu.  Para pendengar awam yang melakukan reportase : “Arah dari Radio Dalam ke Pondok Indah tersendat.  Sementara Arah sebaliknya lancar”).  (gayanya sudah seperti reporter beneran) (beuh bangga bener pasti tuh … suaranya didengar oleh rakyat seantero Jakarta …)(hahaha)

.

Keberadaan ponsel cerdas yang berkamera, turut menambah kondusifnya perkembangan Jurnalisme Warga ini.  Semakin marak.  Setiap orang bisa dengan mudah membuat video untuk merekam peristiwa yang terjadi disekitarnya.

.

Namun demikian …

Saya pernah membaca/melihat di salah satu media.  Ada seseorang (kalau tidak salah dia berprofesi sebagai wartawan suatu media massa) yang berpendapat bahwa, mereka yang mengirimkan berita dan video amatir ke media massa ini tidak bisa otomatis dikatakan sebagai “jurnalis”.   Ilmu Jurnalisme itu bukan sekedar mengirim video, diberi kata-kata sedikit … jadilah berita reportase.  Tidak semudah itu kawan.  Orang tersebut juga berargumen bahwa… untuk mempelajari ilmu jurnalisme itu tidak mudah.  Diperlukan sekolah yang tidak sebentar.  Jadi mana bisa orang awam ngaku-ngaku wartawan/reporter.  (Masuk akal juga pendapat orang ini)

.

Terlepas dari itu semua …

Saya juga kadang-kadang berfikir.  Ada rasa yang “agak ngganjel” di hati saya,  ketika memperhatikan beberapa hasil jurnalisme warga yang sempat saya lihat.

Ambil contoh situasinya adalah … Ada kejadian Banjir Bandang di suatu daerah … alih-alih menolong mereka yang menjadi korban … alih-alih menyelamatkan diri sendiri agar tak diterjang banjir bandang … saya melihat ada sementara orang yang sibuk mengabadikan situasi ini dengan HP berkameranya.  Mungkin dia akan mengirimkannya ke stasiun TV … dan dalam hati dia akan menepuk dadanya “… ini nih reportase gua … Hot Press … AktualEksklusip … “ dan yang sejenisnya.  Sementara tetangga dan juga warga yang lain …  yang jadi obyek syutingnya … menderita karena hartanya ludes.  Hanyut diterjang banjur bandang.  Dia cuma petantang petenteng … sorot sana – sorot sini dengan kamera HP nya.

Contoh situasi kedua … Ini baru saja saya lihat.  Sepertinya ini bukan terjadi di Indonesia.  Dari kata-kata yang terlontar disana … sepertinya ini dari negeri tetangga.  Dalam video yang cukup panjang yang diunggah di yu cup tersebut… terlihat sorang Ibu muda yang dengan “kejam” memukuli anaknya sedemikian rupa.  Bertubi-tubi.  Anaknya sampai menjerit-jerit memilukan.  Sepertinya Ibu Muda ini stress … dan dia menumpahkan kekesalannya dengan memukuli anak balitanya.  Sementara ada seseorang lain (sepetinya kerabat si Ibu Muda) yang dengan sadar mengabadikan keseluruhan adegan penyiksaan tersebut.  Sambil sekali-sekali berkata “Sudahlah … sudahlah … “ dan seterusnya.  Dan anehnya …  dia teruuuusss saja men-shoot.  Tak ada upaya sedikit pun untuk … misalnya berhenti ngeshoot … lalu memisahkan ibu dan anak itu … Atau mungkin memeluk si anak dan menyelamatkannya jauh-jauh.  Atau as simple as memegangi tangan si Ibu agar tidak memukuli anaknya lagi …

Tidak … semua itu tidak dilakukan … atas nama Citizen Jurnalism video terus dioperasikan … tanpa ada sedikitpun upaya untuk mencegahnya …

-

Contoh yang pertama … sibuk “ngeshoot” tapi tidak membantu tetangganya yang terkena musibah.
Contoh yang kedua … sibuk “ngeshoot” tapi tidak ada uoaya untuk menyetop agar peristiwa tersebut tidak terjadi.

Dan sungguh ini membuat saya geleng-geleng kepala …

.

Sekali lagi … gara-gara Citizen Jurnalism … hanya karena kepingin dikatakan “cool” bisa mendapatkan berita “Hot Press” … untuk dikirim ke stasiun TV terkenal atau diunggah di yucup …  kita jadi kehilangan sisi kemanusiaan kita

Mudah-mudahan ini hanya pikiran jelek saya saja yang berlebihan …

What Do You Think ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Usulan saya mungkin adalah …
Bagaimana kalau Stasiun TV atau Stasiun Radio … menyelenggarakan kursus mengenai bagaimana membuat reportase yang baik dan bertanggung jawab … !!!

A good and propper “Citizen Jurnalism”.

.

HANDUK (KERAMAT)

.

Seperti yang pernah saya ceritakan di WET HANDS,  Dulu waktu saya kecil, kemana-mana selalu dibekali sapu tangan oleh Ibu.  Ini gara-gara tangan saya yang selalu basah.  Karena tangan yang sering basah oleh keringat itu … maka buku-buku saya banyak yang lecek tak keruan.   Saputangan adalah solusi yang diberikan oleh Ibu waktu itu.

Alhamdulillah … sekarang tangan saya sudah tidak (sering) basah lagi.

.

Namun demikian …

Setelah saya dewasa, basahnya justru pindah.  Sudah bukan di tangan lagi, tapi di sekujur tubuh.  Saya mempunyai kecenderungan untuk berkeringat banyak di daerah dahi, wajah, leher, punggung dan sebagainya.  Jika sumuk sedikit … maka kontan keringatpun keluar segede-gede biji jagung … cukup mengganggu sodara-sodara.  Saputangan sudah tak cukup lagi menampung cucuran keringat saya.  Maka … Handuklah solusinya.

Saya selalu membawa handuk kemana-mana. Ke kantor, traveling ke luar kota, ke luar negeri, ke mall, ke keunian, bahkan ke “kondangan” sekalipun.  Di mobilpun saya selalu siap sedia satu atau dua lembah handuk cadangan.

Tentu ukuran handuknya bukan ukuran handuk mandi (apalagi handuk pantai).  Ukurannya kegedeaan kalo handuk mandi/handuk pantai.  Saya selalu membawa yang “sport towel” ukurannya kira-kira 30 x 80 cm.  Sebetulnya ada ukuran yang lebih kecil dari itu yaitu “face towel” (30 x 30 cm).  Tapi entah mengapa saya masih lebih suka yang “Sport Towel”.  Lebih pas buat saya.

Kalau anda susah membayangkan seperti apa itu Sport Towel … bayangkan saja … Handuk Tukang Becak !!! (puaasss ??!!!)

Saking hobbynya membawa handuk … saya sengaja mengkoleksi Sport Towel (I mean “Handuk Tukang Becak”) … dengan berbagai macam warna.  Ini kurang lebih koleksi handuk saya …

handuk

handuk keramat warna warni milik nh18

.

Yang nampak memang cuma delapan lembar …

But for your kind understanding … Masih ada enam helai lagi yang tidak tampak di foto ini.  Dua helai sedang dicuci … Dua helai ada di mobil … Dua helai dipinjem anak-anak saya … belum dibalikin … (hahaha).

Sengaja saya beli yang berwarna warni … karena ini tentu disesuaikan dengan busana yang akan saya kenakan … biar mecing gituh cyin (halah-halah-halah om..om …)

So demikian lah … Inilah cerita mengenai Handuk (Keramat) yang selalu saya bawa kemana-mana itu.
Jika tak ada dia … bagaimana jadinya penampilan ekeh … pasti kebes njedindil chuy …

.

Dan kalau anda bertanya lebih lanjut …

Kok semua polos Om ? … Nggak ada yang motip bunga-bunga Oomm ?

.

“Iiihhh sembarangan … ya enggak ada lah … Emangnya ekeh cowok apaaannn”
(agak bindeng … ngondek melambai …)

iiyyuuukkk …

hahahaha …

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

BTW
Temen-temen suka bawa handuk nggak sih ? Sepertinya enggak ya ???

.

FOR EVI : PUPU

.

Bu Evi Indrawanto mengadakan perhelatan acara “give away” yang pertamanya.  Acara tersebut mempunyai tenggat waktu sampai dengan tanggal 8 Mei 2013 … hah … itu berarti besok nih … :)

Segera saya menyelam ke Blognya Bu Evi.  Saya menemukan banyak postingan menarik.  Tentang marketing, tentang budaya, human interest dan sebagainya.   Namun akhirnya Saya menemukan satu artikel yang cukup menarik disana.  Artikel tersebut berjudul … “ANAK LELAKI DAN BANTAL BULUKNYA”

.

Mengapa artikel tersebut saya sebut menarik ?
Karena cerita ini sering sekali kita temui di keluarga-keluarga Indonesia lainnya.  Saya kurang tau di Luar Negeri.  Namun yang jelas … di Indonesia ada banyak sekali keluarga yang mempunyai pengalaman serupa.  Ada banyak kenalan dan handai taulan saya yang mempunyai pengalaman yang kurang lebih sama dengan Bu Evi dan anak lelakinya ini.  (saya rasa ini anak bungsunya)  (betul kan bu Evi ?)

Postingan tersebut bercerita mengenai “Bantal Keramat” bernama “Pupu”

Tentu para pembaca sudah bisa menebak arah tulisan bu Evi itu.  Ya … bantal tersebut adalah bantal kesayangan Putra bu Evi.

Bu Evi menulis :

Anak lelaki ini sudah berteman bantal buluk sejak bayi. Dalam suka dan duka. Saat sehat maupun sakit.

Kalimat Bu Evi tersebut memang sepintas terkesan berlebihan … namun demikian … saya rasa para pembaca setuju dengan saya bahwa … memang seringkali begitulah adanya.  Memang begitulah kejadiannya.  Anak-anak … belum bisa tidur kalau belum ditemani bantal keramat masing-masing.

Ritualnyapun macam-macam.  Ada yang jadi alas kepala sebagaimana mestinya.   Ada yang cuma dipeluk.  Ada yang dicium-cium dulu.  Ada juga yang memilin-milin khusyu ujung kainnya.  Menghisap ujung bantalnya … mencari-cari biji kapuk dan mengarahkannya ke salah satu sudut sarung bantalnya … dan sebagainya.

Kelihatannya aneh.  Namun … sekali lagi … hal ini sering kali kita temui …

Anak-anak baru akan tenang tidurnya … jika sudah ditemani (dan bermain dengan) bantal keramatnya.  Di beberapa situasi … saya juga menemukan ada yang meng”keramat”kan Guling juga.  (hehehe)

Bantal – Guling keramat ini biasanya akan dibawa serta,  jika si Anak diajak orang tuanya bepergian.  Hal ini dimaksudkan agar si Anak tenang tidurnya.  Maklum di tempat baru biasanya susah tidurkan ?  Suasana berbeda.   Sang Bantal – Guling keramat ini juga baru akan sangat terasa kegunaannya .., jika si Anak sakit … rewel dan yang sejenisnya.  Dia perlu “sesuatu” untuk membuatnya “tenang” dan “nyaman”.  Bantal dan Guling keramatlah solusinya.  

Tidak cerdas mungkin ? … Tapi ini selalu ampuh dan manjur !!!

Di dalam postingan tersebut … bu Evi juga cerita bahwa bantal tersebut memang sudah “berganti badan” dan sarungnya pun dicuci secara berkala.  Sarungnya selalu diambil dari sarung yang lama, yang bahan seratnya sudah lembut.   Ini agak berbeda dengan yang saya temui.  Yang sering kali saya temui adalah … Bantal-Guling keramat itu memang justru betul-betul keramat dalam artian yang sesungguhnya.  Buluk … dekil … tidak pernah dicuci … tidak pernah diganti sarungnya dan tidak pernah diganti pula body kapuk/busanya.  Dan kalau orang tua berinisiatif melakukan upaya-upaya pembersihan tersebut,  si anak justru malah akan ngamuk sejadi-jadinya.  Aroma sudah berganti … sudah tidak “orisinil” lagi (walaupun lebih wangi) … sudah nggak “nikmat” lagi …  maka rasa “aman’ dan “nyaman” pun tercerabut sudah … runyam urusan.  Anak ngambek … mati gaya …  tak bisa tidur !!!

Sekali lagi … kelihatannya memang berlebihan … tapi ini kejadian nyata.   Bantal-guling yang meskipun rupanya sudah entah seperti apa … buluk … bau … tepos … tetap menjadi andalan.  Andalan untuk membuat anak nyaman ketika tidur … (bahkan ketika dalam perjalanan … dan dalam keadaan sakit).

Ajaib memang !

.

Pertanyaan selanjutnya ?
Apakah anak-anak saya punya Bantal seperti Pupu ?
Mmmm … tidak … si Sulung … si Tengah dan si Bungsu tidak punya “Pupu”.  Mereka relatif bisa tidur di bantal seperti apapun … dengan sarung seperti apapun … dimana pun … pada kondisi apapun.   Asal capek … ngantuk … sudah jamnya tidur … mereka pasti mudah tidur …
(tak peduli apapun yang terjadi … )

.

Contohnya yang satu ini … (hehehe).
Ini difoto di suatu Cafe … acara ulang tahun teman Bunda … suasana ruangan hingar bingar … musik membahana …
Tapi … hawong namanya sudah ngantuk … ya Tidur saja …(ndak ada urusan !)

tak-tahan-335x500

.

Nurun sapa ni Om ???
Ya nurun saya lah … siapa lagiiii ???

ngantuk chuy

Tak peduli apapun situasinya …

Kalo ngantuk … Ya Tiduuuuurrrr !!!

(lengkap dengan Handuk Keramatnya …. )
(hahahahaha)

———————

Postingan (narcis tapi memalukan) ini diikut sertakan dalam ….

BANNER

First Give Away : Jurnal Evi Indrawanto

.

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

EMPAT BELAS DALAM EMPAT

.

Empat belas kata dalam empat detik … !
Tiga puluh tiga suku kata dalam empat detik … !

.

Bisakah anda melontarkan Empat belas kata dalam empat detik … ?
Itu artinya anda harus bicara dengan kecepatan kira-kira 3 – 4 kata per detik.
Atau delapan suku kata per detik !!!

How good is your “Mrepetability” ... kemampuan untuk “mrepet” ??
(mrepet adalah … ngomel-ngomel dengan suara yang cepat !!!)

.

Iseng bener sih OM ?

No … ini bukan iseng … ini beneran

.

1 – 2 Mei 2013
Saya mengikuti suatu pelatihan yang dipandu oleh seorang Andrias Harefa.  Andrias Harefa adalah seorang STW.  Speaker – Trainer dan Writer terkenal yang saya segani.  Beliau sudah menulis sekitar 35 lebih buku best seller.  Seorang pembicara yang bagus.  Saya beruntung bisa mengikuti pelatihan yang beliau pimpin sendiri.

.

Hubungannya dengan empat belas dalam empat apa Om ?

Begini …

Salah satu pokok bahasan yang saya anggap penting adalah : mengenai bagaimana mengemas cara bicara kita … agar dapat lebih efektif – menarik dan dapat diterima dengan baik oleh audience.  Bagaimana kita mengelola “Elements of Personal Communication” !

Elemen tersebut terdiri dari pilihan kata-kata yang kita ucapkan, tone suara kita, dinamika, intonasi, kecepatan bicara, ekspresi wajah, body language dan sebagainya.

Untuk menyampaikan pesan secara efektif …  kita diminta untuk bicara tidak monoton … kadang lambat … kadang harus bicara cepat …  … kadang bersuara lembut dan kadang keras … agar audience tak bosan.  Bicara yang berdinamika.

Sebagai salah satu latihan untuk bisa sekali sekala berbicara cepat … kita, para peserta pelatihan … masing-masing diminta untuk “marah-marah” … lengkap dengan ekspresi wajah yang gusar … dan harus bisa “mrepet” melontarkan kalimat … berisi empat belas kata dalam waktu empat detik saja … !!!

Kelihatanya sederhana …

Tapi ini ternyata sulit sekali dilakukan … !!! (at least for me)

Saya perlu berkali – kali mencoba … agar bisa bicara keras … marah … dan melontarkan kata-kata dengan kecepatan sekitar 3-4 kata perdetik … atau delapan suku kata per detik … !

Ini susah sodara-sodara … I tell you !!!
Setelah mencoba berkali-kali … (lebih dari tujuh kali saya rasa) … akhirnya saya bisa juga melakukannya … (ah lega)

Bicara … marah-marah … dengan suara keras …
melontarkan empat belas kata dalam empat detik …
mengucapkan tiga puluh tiga suku kata dalam empat detik

What an achievement ! … pencapaian yang luar biasa bukan ???
(Hahaha … ah lebay lu Om …)

.

Dan asal tau saja sodara-sodara …
Peserta pelatihan yang Wanita … sebagian besar berhasil melakukan exercise ini … hanya dengan satu atau dua kali coba saja …
Sementara yang Lelaki … sebagian besar … harus mengulang berkali – kali … 6 – 7 – 8 kali … bahkan lebih … sampai berhasil … !!!

.

So … Kesimpulannya ???
I leave it to you … !!!

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

NOTE :

Judul awalnya sebetulnya adalah … “MREPET-ABILITY”
How good is your “Mrepet-ability” ?

(huahahahaha)

RAMAI

.

Minggu, 28 April 2013
Hari minggu … hari keluarga …
Hari ini, kembali saya mengajak ke tiga lelaki jagoan saya nonton.  Kami hanya berempat saja, Bunda sedang ada keperluan ke Pekanbaru.

Sampai Pondok Indah Mall … saya terkejut … antriannya mengular … puanjang byanget …  Padahal hari masih pagi.  Pertunjukan pertamapun belum dimulai.

Saya lihat jadwal tayang film di studio yang ada.  Total ada 6 studio.  Satu studio memutar filem “9 summers  – 10 autumns”.  Satu studio memutar “Java Heat” … dan Empat Studio lainnya … memutar “Iron Man 3″.

Kami berniat untuk nonton “9 Summer – 10 autumns”.  Dalam hati kecil saya … saya pesimis bisa mendapatkan tiket pada jam pertunjukan pertama.  Melihat jumlah antrian yang begitu membludak … Ya sudahlah nekat saja.  Untung-untungan.

Antrian bergerak perlahan … sampai akhirnya tibalah giliran kami di depan loket.   Jam sudah menunjukkan 12.10.  Pertunjukan pertama film “9 Summers – 10 autumns”  adalah pukul 12.15.   Aaahhh pasti kehabisan nih … kalaupun dapet pasti dapet di barisan depan dekat layar nih … begitu pikir saya.

“Mbak … kita mau nonton “9 summers – 1o autumns” mbak … Masih ada tiketnya nggak untuk jam 12.15 ?”

WAAAHHH MASIH BANYAK PAK … silahkan dipilih tempatnya mau dimana ?”

“Hah ? kok bisa ?”

Hahahaha … ternyataaaa … saya hitung di denah kursi pada layar monitor mbak penjaga loket … ternyata baru 6 kursi yang berwarna merah.  Artinya baru terjual 6 tiket … sisanya masih kosong melompong … kami kalau mau main bola pun bisa disana.  Siang itu … yang nonton film nasional “9 summers – 10 autumns” peminatnya sedikit sekali.  Bisa dihitung dengan jari-jari tangan.

.

Lho kata om tadi antriannya panjang … ? Mengular ???
Iiiiyyyaaaaa … hampir semua pengantri bukan ingin menonton “9 summers – 10 autumns”.  Mereka lebih memilih menonton film doktorandus “Iron Man 3″ ituuuhhh.  Saya geleng-geleng kepala.  Begitu fenomenalnya filem ini.  Pantas saja pengelola bioskop ini menyediakan empat layar paralel sekaligus siang itu,  Saya lihat penonton masih mengular di belakang kami … Yakin … kalo ngeliat tampang-tampangnya sih … mereka akan pasti nonton “Iron Man 3″ juga …   Entah dapet pertunjukan yang jam berapa mereka ?  Jangan-jangan dapet pertunjukan yang sore atau malam hari nanti … hehehehe …

.

Mungkin sebagian pembaca akan berkata dalam hati …

“Waaahhh salut sama si Om Trainer nih … lebih memilih film Nasional dibanding film import !!!”
(jempol like this virtual pun disematkan secara sporadis !!!).

But wait …
Nanti dulu sodara-sodara … jangan berbaik sangka dulu … jangan terkagum-kagum dulu …
Om Trainer tak se “suci” itu … hahaha

.

Mengapa kami tidak ikut-ikutan nonton “Iron Man 3″ siang itu ???

.

.

.

Sebab kami SUDAH NONTON filmnya beberapa hari yang lalu   … !!!

.

hahahaha

Salam Saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

MENENGOK BAYI

.
Kamis, 25 April 2013

Satu dua hari yang lalu saya sempat membaca sebuah postingan di Blognya Bunda Yati ... Disana beliau bercerita bahwa Bunda Yati baru saja menjenguk bayi Maira.  Maira adalah Anak ke lima Ibu Sary Melati.  Admin Mak eRTenya kumpulan emak-emak blogger.

Ternyata Ibu Sary melahirkan di Rumah sakit yang sangat dekat dengan rumah saya.  Sekitar 10 menit berkendara.  Rumah Sakit dan Poliklinik tersebut juga merupakan klinik kami sekeluarga.  Boleh dikata jika ada salah satu anggota keluarga saya yang sakit, kami selalu ke Klinik ini.  So tempat ini sangat familier sekali.  Petugas, Satpam, Suster banyak yang saya kenal.  (BTW.  Jagal Gigi saya juga ada disini …)(hahaha)

Pagi ini Saya berniat untuk menjenguk Ibu Sary.   Terus terang saya belum pernah menjenguk pasien di Rumah Sakit ini.  Saya kesini biasanya justru jadi pasien … bukan jadi penjenguk :)

Setelah bertanya-tanya dan minta izin pada satpam dan suster setempat … saya diperkenankan untuk menengok Ibu Sary.  (Mungkin karena muka saya sudah familier disana … jadi saya boleh masuk).  Sengaja saya menunggu sebentar … dan meminta suster untuk memberi tahu terlebih dahulu, ke Ibu Sary bahwa saya datang.  Takutnya kalau saya ujuk-ujuk nongol, tiba-tiba masuk … nanti takut mengganggu istirahat pasien.  Belum lagi kalau pas jadwal menyusui dan sebagainya.  Jadi sengaja saya tidak masuk dulu.  Menunggu lampu hijau tanda “aman” dari Suster jaga.

Akhirnya saya bertemu juga dengan Bu Sary dan bayinya yang lucu.  Menjenguk sekalian Kopdar pertama saya dengan Ibu Sary.

Jika anda melihat Ibu Sary … saya yakin se yakin-yakinnya … Anda pasti tidak akan menyangka bahwa bu Sary ini sudah mepunyai putra putri Lima Orang.  Jika anda bertemu dengan Bu Sary … anda pasti akan menyangka … Dia adalah ibu muda yang baru pertama kali melahirkan … hehehe …

Seperti yang pernah saya tuliskan di kolom komentar blog Bu Sary … “Waktu Indonesia Bagian Ibu Sary ini seolah berjalan amat sangat lambat  sekali … “  Tak ada beda antara wajahnya ketika SMP dibanding wajahnya sekarang … hahaha

So … Semoga lekas pulih …
Semoga Sehat dan Berbahagia selalu untuk Maira juga untuk Bu Sary dan keluarga

.

Ini laporan pandangan lensanya …

besuk

kunjungan dari wakil penghuni panti werda unit cireundeu
(hahaha)

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

ODS

.
(kali ini anda harus melafalkannya : Ouw Di Es … sebab ini singkatan dalam bahasa Inggris)

ODS adalah abreviasi dari One Day Service.  Pelayanan satu hari.

Mungkin pembaca sudah memperhatikan di postingan-postingan saya terakhir, baik di lapak yang ini maupun di toko sebelah.   Saya lagi hot-hotnya bercerita mengenai aktifitas saya beberapa hari yang lalu.  Saya mengurus beberapa dokumen di kantor Badan Pertanahan Nasional, Kabupaten Tangerang di kawasan TigaraksaODS atau One Day Service ini adalah salah satu layanan yang diberikan oleh Kantor BPN Kabupaten Tangerang ini.  Pagi masukkan berkas permohonan, … sorenya dokumen sudah jadi.

.

16 April 2013
Saya mengurus “Roya”.  Istilah “Roya” ini terus terang saya tidak tau know-how dan ina-inunya.  Namun pada hakikatnya adalah … bahwa setelah kita dinyatakan lunas membayar angsuran suatu rumah.  Maka kita perlu melakukan aktifitas “Roya” ini.  Aktifitas untuk menbatalkan atau mencabut Hak Tanggungan Rumah kita yang dijaminkan ke Bank.  Singkatnya … kita meminta pengesahan BPN bahwa tanah dan rumah kita itu, sudah tidak dijaminkan lagi di Bank. 

(Untuk Teman-teman pembaca yang lebih mengerti, mungkin bisa bantu untuk memperjelas pengertian saya nih …)

Saya datang ke BPN jam 10.00 pagi.  Sudah terlalu siang sebetulnya.  Saya mempersiapkan map berwarna biru yang khusus diperuntukkan untuk mengurus proses “Roya” ini.  Saya mendapatkan map dan formulir tersebut di koperasi BPN.  Saya lengkapi semua persyaratannya.  Memfotocopy dokumen dan mengisi formulir yang disediakan.   Lalu saya menunggu nomer saya dipanggil.

Saya lihat di sekeliling saya.  Hmmm … kantor ini ramai sekali.  Namun walaupun ramai, suasana tetap nyaman, karena AC nya lumayan dingin.  Gedungnya pun relatif bersih.  Saya perhatikan sebagian besar pengunjung adalah karyawan/kurir/messenger dari Kantor Notaris atau Kantor PPAT.  Mereka sudah sangat biasa ke kantor ini.  Karena memang itu pekerjaan mereka sehari-hari.  Para karyawan BPN, satpam, petugas loket dan sebagainya … terlihat sangat akrab dengan mereka.  Mereka saling bercanda satu sama lain.  Untuk sekedar menghilangkan kejenuhan selama menunggu.

Ketika nomer antrian kita dipanggil, berkas akan diperiksa oleh petugas loket.  Jika lengkap maka kita akan menerima surat bukti tanda terima dokumen pengurusan dan juga bon biaya pengurusan, untuk kita bayarkan di kasir.  Setelah kita membayar di kasir.  Kita akan menunggu lagi, sampai nama atau nomer kita dipanggil kembali untuk menerima dokumen yang telah selesai dan jadi pada hari itu. Layanan Satu Hari.

Saya mengikuti proses tersebut dengan seksama.  Akhirnya dokumen saya selesai juga.  Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00.

Biayanya berapa OM ??? … Lima Puluh Ribu Rupiah saja … !!!

.

17 April 2013

Saya datang ke BPN lagi.  Kali ini untuk urusan yang lain lagi.  Setelah kemarin mengurus Roya.  Sekarang, tahap selanjutnya adalah perubahan hak.  Kami ingin merubah hak dari Hak Guna Bangunan ke Hak Milik.

Saya datang lebih pagi daripada kemarin.  Jam 9 saya sudah antri nomer.  Warna Map yang digunakan pun berbeda.  Untuk perubahan hak kita memakai map yang berwarna Putih.  Prosesnya sama persis seperti kemarin.  Beli map di Koperasi.  Lengkapi dokumen, isi formulir, fotocopy.  Masukkan berkas, bayar di kasir … dan tunggu dokumen selesai.  Biayanya pun sama dengan yang kemarin.  Untuk perubahan hak, dikenakan biaya Lima Puluh Ribu Rupiah saja …

Hari ini … Alhamdulillah … pada jam 14.30 saya sudah melenggang keluar dari Kantor BPN ini dengan membawa Surat Sertifikat Hak Milik di tangan saya …

Aaaahhhh lega bener …

(So kunci mengurus dokumen di BPN adalah … lengkapi surat-surat anda … ikuti prosedur yang ada … sabar menanti … satu hari dokumen anda insyaALLAH kelar !!!)(Biayanya pun murah)

(Itu sebabnya … saya happy-happy saja ketika kemarin, sepulang dari BPN mengalami peristiwa tidak mengenakkan di GTO Tangerang ituh …)
(Mood lagi bagus sih … so buat apa marah-marah … )(hahaha)
(Terus bersenandung !!!)

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Di kantor BPN ini … ada satu hal yang unik (menurut saya).
Ketika jam menunjukkan tepat pukul 12.00 siang … lampu di loket pelayanan dan di ruang tunggu dimatikan … ini saatnya ISTIRAHAT … !!! So apapun yang terjadi … semua orang meninggalkan aktifitasnya.  Untuk istirahat … sholat …  makan siang dan sebagainya … (Termasuk belanja Batu Akik juga sepertinya … hahahaha)

Dan tepat jam 13.00 … lampu pun sontak menyala … para petugas pun siap melayani kita kembali …  Announcer elektronik pun mulai bersahutan memanggil nomer antrian … “Nomer antrian A 098 mohon menuju ke loket sembilan … “

(saya tersenyum … dan berkata dalam hati … “hhmmm boleh … boleh … boleh … “)

.

.