1 MEI

30 04 2008

 

Tadi malam Anak Bungsuku (8 thn) bertanya …

“Tgl 1 Mei nanti … Ayah – Bunda libur nggak ??”

“Ya pasti libur lah … emang kenapa …??” aku berkata ringan.

“Asik-asik … asik-asik …” Anak ku itu langsung jejingkrakan menari-nari kegirangan.

 

Apa pasal ???

Besok 1 Mei sekolah anak-anakku justu TIDAK libur.  Mereka bertiga, semuanya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.  Sekolah itu ternyata men”switch” libur Kamis 1 Mei itu ke hari Jum’atnya 2 Mei.  Jadi sekolah bisa libur lebih panjang.  (Jum’at-Sabtu-Minggu)

 

Lho kenapa anak bungsuku itu sedemikian gembira, kan besok tetap masuk Sekolah …???

Dia menjawab …

“Soalnya Yoga besok bisa dijemput … sama Ayah Bunda pake mobil deh …”

 

Ahhh … rupanya dia selama ini iri melihat teman-temannya yang selalu dijemput oleh Ibunya atau supirnya setiap hari.  Sementara dia sendiri pulang naik Angkot atau Ojek bersama Mbaknya … (bahkan kadang jalan kaki berpanas-panasan jika angkot dan ojek penuh …). (Kami berdua bekerja, dan tidak punya sopir … sehingga tidak bisa menjemput anak-anak sepulang sekolah …)

 

Dia sangat gembira sekali mendengar janji kami bahwa besok Ayah dan Bundanya sendiri lah yang akan mengantar dan menjemput dia disekolah … Ada sejuta binar-binar bahagia di matanya …

 

Hmmm alam fikiran anak kecil selalu sederhana, polos dan jujur … !!!

Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya …

Dijemput Ayah Bundanya … naik mobil.  Seperti teman-teman sekelasnya selama ini…

 

Hanya tindakan kecil saja … sudah bisa membuat si Bungsu Bahagia tak terkira  

 

Sesederhana itu …

 

(Seketika perasaan bersalah menghantui si Trainer …) (Ah ….)





BREAKFAST

30 04 2008

(Sarapan Pagi)

 

Kejadian ini terjadi di Surabaya, beberapa tahun yang lalu.  Ketika itu aku sedang ada urusan pekerjaan di kantor Surabaya.  Aku menginap di salah satu Hotel ternama di kota itu.  Hotel tersebut lumayan penuh.  Ternyata ada salah satu Instansi Plat Merah yang sedang mengadakan seminar di Hotel tersebut.  Semacam Seminar Nasional gitu deh.  Sebagian besar bapak-ibu peserta seminar yang dari daerah menginap disana.

 

Rencananya pagi ini Aku akan berkunjung ke kantor area Surabaya.  Aku dijanjikan akan dijemput oleh driver jam 7.30 nanti.   Pagi hari … jam 6.30 aku menuju Restoran Hotel tempat sarapan.  Sudah lumayan ramai disana. Sebagian besar Bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam instansi plat merah yang mau seminar nasional itu.  Mulanya sih aku ndak begitu ambil posing.  Namun entah kenapa Naluri “Meticulously Observant” ku muncul seketika.  Sebab ada beberapa kejadian “janggal” yang terjadi disana.

 

Aku lihat ada sekelompok ibu-ibu yang membawa plastik putih bertuliskan “For Sanitary Napkin”.  Untuk apa ??? … untuk membungkus Cookies/Roti/Pastry/Danish Bakery/Croisant dsb.  Hah … mungkin ini untuk camilan di seminar nanti.  Tapi tempatnya itu lho, kok ya ngambil plastik yang itu sih bu … ??? (apa ibu tidak tau artinya ???).

Dan yang lebih “idih” lagi … ada juga yang menggunakan plastik lain (kali ini yang ada bunga-bunga dan garis-garisnya ) bertuliskan “Shower Cap”.  Huahaha yang ini agak besar, ada karet elastisnya lagi … .. bisa muat banyak.  Mereka mengambil potongan semangka, jeruk dan buah-buahan.  Ini juga mungkin untuk sangu camilan seminar nanti. )(aduh…)

 

Kelakuan bapak-bapaknya tak kalah ajaib.  Ada beberapa orang yang dengan “kalap” nya mengambil sebanyak-banyaknya makanan yang disediakan.  Mungkin takut “gak komanan”, takut kehabisan. Atau mungkin sudah Naluri Plat Merah ? (Sikat Semua, Aji Mumpung … ).

Bubur ayam, Omellete, Nasi Goreng, Salad, Kacang Ijo, Pastry, Toast, Jus Jeruk, Susu, Air Putih, dan juga Dim Sum … di embat semua … yang akhirnya tersisa buanyak sekali karena tidak termakan.  (Ah mubazir Bapak …!!!)(mbok ya jangan serakah gitu toh …).

 

Cepat aku selesaikan sarapan pagi ku.  Sebagian dari Bapak-bapak itupun sepertinya sudah selesai makan.  Leyeh-leyeh kekenyangan.  Belum kerja sudah leyeh-leyeh.  Aku dengar di sebelahku ada suara sendawa … glege-en keras dan marem sekali … sambil mengelus perut buncit dan mengepulkan asap rokoknya … (hhmm … kekenyangan ya pak ???)

 

Ada juga yang baca koran sambil ngemut tusuk gigi (macam sopir angkot).  Dan asiknya lagi, sisa makanan hasil dongkrakan tusuk gigi itu … “dilepehkan” dengan demonstratifnya … pluff … tuff … tuff kelantai tentunya … (macam di warteg saja…).  Eh iya Baca korannya sambil memakai kacamata hitam lho … ah pol tenan wis …  Pongah sekali … (dan aku berani bertaruh … bahwa di kantung belakang celana seragamnya pasti ada … SISIR …)

 

Aaahhh … plis deh Bapak … Pis Deh Ibu … ??? Tolong … Tolong Behave …

 

Yang jelas suasana makan pagi ku hari itu ribut dan sumpek sekali.  Sungguh tak nyaman.  Suara cekakakan dan cekikian, obrolan keras, dengan logat daerah masing-masing mewarnai suasana resto yang tidak terlalu besar itu …

Cepat-cepat aku keluar … aku takut jika lebih lama lagi aku disana,  bisa-bisa aku nekat akan menegur mereka …  (dan ini adalah sebuah tindakan yang konyol dan sia-sia)

 

Aahh … Trainer tak habis fikir … !!!

(yang jelas sejak saat itu … aku minta sekretarisku kalo mau booking hotel untukku di kota mana pun … tanyakan dulu apakah ada instansi Plat Merah yang lagi meeting ato seminar nggak, .. pada tanggal-tanggal tsb.) (Jika ada …mending cari hotel yang lain … dari pada darah mendidih …).





BAJAJ

29 04 2008

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan atau melecehkan jenis moda transportasi roda tiga ini.

 

 

 

Aku selalu mengatakan kepada trainee-trainee karyawan baru di Perusahaanku agar JANGAN menjadi seperti BAJAJ

 

Ya … Jadi karyawan jangan seperti BAJAJ !!!

 

Bajaj itu asapnya banyak, suaranya berisik, getarannya kuat, nggak tau aturan tapi jalannya lambat … dan nggak kuat nanjak …

 

Sebuah pengibaratan yang aku gunakan untuk tipe karyawan yang paling di benci oleh sebuah Perusahaan …

 

Asapnya banyak … Perusahaan tidak menyukai karyawan yang menyebarkan polusi yang tidak menyehatkan iklim kerja perusahaan.  Intrik, Gosip, dan fitnah yang menyesatkan dan menyesakkan … kasak-kusuk adu domba dan yang sejenisnya yang membuat suasana kerja jadi sumpek dan tidak sehat.

 

Suaranya berisik … Banyak cakap, sesumbar kesana kemari, arogan, show off, bikin ribut, komentar bacot sana sini, ngobrol sana-sini, “ember bocor” dan integritasnya diragukan …

 

Getarannya kuat … Perusahaan juga tidak mengharapkan karyawan yang senantiasa berulah, meributkan hal-hal remeh, berisik.  Tidak konsisten dan tidak stabil.  Tidak tenang, tidak konsentrasi … Bergetar kesana kemari tak tau juntrungan.  Petakilan usreg … gak keruan …

 

Tidak tau aturan … jelas perusahaan manapun tidak menyukai karyawan yang tidak tau aturan, tidak displin dan selalu berbuat semaunya sendiri … (motong jalur, ngelawan arah dsb you name it … )

 

Dan yang terakhir … Jalannya lambat … ini adalah klimaks dari segalanya … tidak produktif, tidak memberikan value added, lamban, tidak dinamis dan selalu tertinggal.  Tidak responsif dan malas.  Yang tentu saja akan menjadi … tidak akan kuat nanjak … karirnya.  (apa lagi kalo sesukanya menetapkan ongkos tarif …)

 

So … jangan jadi BAJAJ … !!! (Karyawan yang … suka menyebar intrik, banyak omong, suka berulah, tidak disiplin … dan tidak produktif …)

 

(sekali lagi Maaf bagi sopir Bajaj maupun juragan Bajaj … memang tidak semua Bajaj seperti itu … banyak juga Bajaj-bajaj lain yang ….agak tidak seperti itu ) J

 

Judulnya … Si Trainer … Bajaj phobia … !!!





METICULOUSLY OBSERVANT

28 04 2008

(Hat Trick nih … sehari Tiga Postingan …!!!)

Memperhatikan situasi sekeliling … dengan detil dan teliti … !!!

Ini syarat utama seorang Marketer.  Seorang Marketer sejati akan sangat memperhatikan lingkungan sekitarnya.  Mereka harus terbiasa mengamati perubahan perilaku, kebutuhan dan juga keinginan konsumen target marketnya dengan sangat mendetail.  Ini perlu untuk merencanakan upaya Komunikasi Marketing yang akan dia lakukan untuk merek-merek diperusahaannya.  Belum lagi mengamati kegiatan dan pergerakan kompetitor ????.  Perlu detil juga kan ???

 

Aku masuk pertama kali di Perusahaanku ini thn 1990 sebagai Management Trainee di Divisi Marketing.  Aku sangat terkesan dengan salah satu training yang diberikan pada masa-masa awal aku direkrut itu.  Didalam training tersebut dibahas pentingnya membiasakan diri berperilaku “Meticulously Observant” bagi seorang Marketer.

 

Salah satu Latihan yang membekas adalah ketika kami diminta untuk membaca selembar koran yang banyak berita kriminalnya, yang di jembreng didinding selama 30 detik saja…

Waktu itu kami hanya terpaku pada satu berita headline saja dan melakukan quick reading di satu berita tsb sampai abis … (kami berharap akan ada pertanyaan mengenai isi berita kriminal yang kami baca dst).  Namun ternyata Perintahnya adalah … “Tolong tuliskan semua judul berita yang ada dihalaman Koran tersebut …” … Hah … (kami semua kompak menjawab cuma tau satu judul saja … yaitu judul headline yang paling besar).

 

Latihan yang lain adalah … kami dibawa ke lobby reception kantor kami … disana hanya diberi waktu 3 menit mengamati sekeliling lalu masuk lagi ke ruang training … dan diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan.  Pertanyaannya diantaranya …

Ada berapa pot tanaman disana ? berapa pot yang berwarna hitam ?

Berapa jumlah tamu yang ada di kursi tunggu ? Apa warna baju mereka ? Berapa laki-laki .. berapa perempuan ?? yang umur 50 an ada berapa ?

Berapa jumlah lukisan yang ada disana ?  Gambarnya apa saja ?

Berapa meter kira-kira jarak pintu masuk dengan meja reception ?

Dsb-dsb …

 

Adddooohhh … kami garuk-garuk kepala … ada yang sanggup dijawab tetapi banyak pula yang blank … (belum terbiasa mengamati dengan teliti …)(dalam waktu sesingkat ini)

 

Sejak saat itu secara tidak sadar kami sedikit demi sedikit terdidik untuk selalu mengamati sekeliling kami dengan detil dan teliti …  Saking membekasnya training itu sampai-sampai kebiasaan mengamati perilaku secara cepat namun mendetail ini masih terbawa terus sampai sekarang.  Di setiap kondisi … entah ketika belanja di Supermarket, Menunggu di Ruang Tunggu Dokter, Antri Lapor SPT, Ketika Macet di Jalan, Di Bank, di Ruang Tunggu Bandara, juga di Toilet.  Secara tidak sadar aku pasti mengamati sekeliling dengan saksama … sedetil mungkin.  Mungkin sementara orang menyebut ini sebagai upaya “SCANNING”.

 

Bahkan sekarang ini aku sampai kepada suatu tingkat keadaan dimana aku sendiri tidak bisa membedakan … Mana perilaku yang “Meticoulously Observant” … Mana yang justru …. “Usilan … ngamatin yang gak penting-penting amat “ … !!! (hehehe)… (nerd)

 

(si trainer ternyata suka “usilan” juga … In the name of “meticulously observant”)





SISIR …

28 04 2008

 

(Sisir … means Comb … not Brush …).

Sebuah perangkat sederhana.  Namun bagi sementara orang sangat penting artinya.

Pada umumnya sisir tersimpan di meja toilet, di Toiletries Pouch, di mobil, di tas atau sekedar terselip di kaca rias.  Banyak lelaki yang membawanya dan selalu mengantonginya kemana-mana.  Biasanya diselipkan di saku belakang … !!!.  Mangkanya banyak yang bilang sisir itu “Golok Ganteng”. Ada pula yang bilang “Obat Ganteng”.

 

Menurut pengamatanku … kebiasaan seperti ini ternyata bukan hanya monopoli milik sopir taxi, karyawan kantor plat merah, pak Triman “mbam-mbaang” srimulat, kurir ekspedisi atau polisi lalu lintas saja …  Boss-boss eksekutif necis pun ternyata diam-diam banyak yang mengantongi obat ganteng keramat tersebut.  Tidak jarang aku melihat Boss-boss berjas, berdasi atau bersafari … dikantong belakang celananya ngejentul dengan indahnya sebilah sisir.  Ada yang warna hitam, banyak pula yang warna putih … tidak jarang ada pula yang terbuat dari logam plus sarung plastik transparannya … (trainer usil amat yak …)

 

Aku suka heran … mengapa orang-orang sekaliber mereka masih juga tergantung pada golok ganteng tersebut … apakah mereka tidak PD dengan penampilan mereka ?

 

Aku jadi ingat cerita guru kesenianku waktu SMP … Bapak Suwanto Suwandi …(seorang Bapak yang jago main segala macam alat musik).  Beliau paling benci kalau melihat ada laki-laki yang mengantongi sisir kemana-mana … terutama jika di selipkan di kantong belakang celananya …

 

Dalam bahasa musiknya dia katakan … itu tidak “selaras” … tidak “harmonis” … dia teruskan pula kata-katanya … “macam penampilan ‘koboi kampung’ saja …”

Kalau dalam menyanyi dia sebutkan ini sebagai …”Suara Sangat Sumbang” … “Bagai gitar yang tidak di “stem” … nadanya lari kemana-mana …. Sama sekali tidak enak didengar …  Dan untuk kasus sisir ini artinya : Penampilan “sumbang”, sama sekali tidak enak dilihat !

 

Sampai saat ini aku masih belum bisa mencerna sepenuhnya pemikiran beliau itu.  Mengapa beliau sedemikian benci melihat lelaki yang mengantongi sisir.  Tapi memang sih, jika aku ngeliat lelaki berdandan modern metrosexual, tetapi di saku celananya masih juga terselip sebilah sisir, kesannya menurutku … jadi kelihatan “agak bagemanaaaa getoh …”

 

Bagaimana menurut anda … ???

 

(Pasti Pembaca yang laki-laki spontan merogoh saku belakang celananya … adakah sisir disana) (Maap kalo ternyata ada sisir disana … berarti anda ….???? )(berpenampilan “sumbang”)

 

Lalu dimanakah si Trainer ini biasanya meletakkan sisirnya ??? … Trainer pantang membawa sisir kemana-mana … apa lagi mengantonginya di celana. (takut dimarahin guru SMP ku)

 

Sisir terbaik di dunia pada hakikatnya adalah jari-jari tangan kita sendiri.  (jiiieeee)(maap kali ini artinya bukan “sayur lodeh”).  Wave, Alur dan Effect yang dihasilkan oleh jari tangan kita ketika merapikan rambut  … akan terlihat sedemikian natural … sedemikian percaya diri … sedemikian Macho … penampilan seorang Lelaki Sejati …

 

Ini menurut eke lo bouw… iiihhh banyak Lekong weiceh … suka deh nneee’ … (lho kok “melambai”)





POSE …

28 04 2008

 

Iseng-iseng, lihatlah koleksi foto-foto lama anda.  Kalau sempat jalan-jalan … lihat pula foto-foto contoh yang terpajang di studio foto tradisional dikawasan–kawasan tertentu … Aku mengamati ada beberapa jenis standart POSE konvensional yang biasanya muncul …

 

Duluuuu sekali … yang sering aku temui adalah … Bediri dengan Tangan di saku celana … ini paling standart.  Pose favorit lain adalah … berdiri satu tangan berkacak pinggang … telunjuk tangan yang lain menunjuk ke arah tertentu … seolah sedang melihat pemandangan ke atas bukit … badan dimiringkan sikit … plus wajah agak di nengklengkan … agak miring …. dimanis-maniskan ….  Lalu ada juga yang … Pegang ujung Daun Tanaman di sebelahnya … !!! Atau pegang Bunga … !!! J

 

Setelah itu muncul lagi di era yang lain …

Pose dengan jari salah satu tangan membentuk pistol … Jempol didagu … telunjuk di pipi … terus nyengir … !!! (macam james bond saja …)

Atau ada juga yang nekat … menyilangkan tangan … telunjuk tangan kanan menyentuh pipi kiri … sementara telunjuk tangan kiri menyentuh pipi kanan … juga dengan nengkleng … ccciiiisss nyengir pamer gigi … dicantik-cantikin … (centil sangat …).  Yang lelaki biasanya jari tangan pake kode V … ato pose jempol telunjuk kelingking metal … (dari anak kecil sampe opa-opa posenya sama).  Ada juga yang emang dasarnya sudah cantik … pose favoritnya adalah … ekspresi terkejut telapak tangan didagu atau pipi … mulut menganga … mata berbinar–binar ceria … surprise. (macam foto sampul majalah Gadis atau Anita Cemerlang jaman dulu …). 

 

Dan yang terkini adalah … Gerai Photo Box tumbuh pesat dimana-mana …

POSE manis jaim justru tidak begitu penting lagi … yang sering aku lihat malah … ekspresi wajah justru di jelek-jelekin … entah melet-melet, melotot, mata juling,  bibir manyun, pipi gembung … belum lagi kalo berfoto biasanya berempat – berlima sekali masuk … tumplek blek … umpel-umpelan di satu photo box … sampe badannya keluar-keluar kelambu segala … usreg cekikikan gak keruan … Trainer heran … anak sekarang kalo foto kok malah wajahnya di jelek-jelekin …

 

Dan satu lagi yang pasti … foto sendiri self service narcis dengan kamera HP … diambil dari sudut angle agak sedikit keatas … muka mendongak … yang kadang memberikan efek pipi tembem mengkilat karena fokus foto terlalu dekat …

 

Jadi bagi para Blogger, kalo mau mengenali asal generasi (umur) dari rekan-rekan mayanya.  Mudah saja …

  • Kalo dia berdiri bertolak pinggang, nunjuk sesuatu atau “posisi pegang daun atau bunga” itu pasti dari generasi 70-an (… atau lebih tua dari itu …)
  • kalo ada wajah “nengkleng” agak miring dimanis-manisin itu pasti generasi 80-an
  • jika icon avatarnya ada foto tunjuk-tunjuk pipi itu pasti orang generasi 90-an
  • Naaaah kalo wajah dijelek-jelekin, plus pipi tembem … naaah itu pasti gaya ABG narcis bau kencur … anak kemarin sore …

Gampang kan ???

(kontan pada check ikon avatar rekan-rekan mayanya … !!!).

(En aku yakin para pembaca sekarang sedang mempraktekkan pose telunjuk pegang pipi sambil nyengir …)(ngaku aja …)

 

Kalo gambar icon-avatarnya Piano bagaimana ? …(naaaah kalo itu sih tandanya “orangnya ganteng tak terkira … tetapi pemalu sangat”)

(Trainer pasrah di gebukin orang sekampung …)

(kebenaran … memang kadang terasa pahit …)





PACKAGING

25 04 2008

 

Minggu ini (21-24 April) aku rock and roll lagi, menjadi fasilitator di sebuah program training untuk para manager lapis pertama di Perusahaanku.  Dilaksanakan di Hotel “S” pinggir kali, kawasan Jakarta Pusat.  Hari Senin 21 April kemarin Ruang-ruang meeting Hotel berbintang lima tersebut ramai terisi penuh … ada seminar, pameran, ada acara launching produk dan ada pula acara torch relay api obor olimpiade … (Ramai sangat …)

 

Ketika break.  Aku kebelet pipis.  Aku pergi ke Toilet Laki-laki.  Didalam sepi.  Hanya ada seorang Eksekutif Muda.  Bukan peserta trainingku, mungkin dia Peserta/Panitia Seminar lain yang juga sedang berlangsung disana.   Sekilas aku perhatikan, usia 30 tahunan, kaum Metrosexual, necis, klimis, sepatu coklat mengkilat mahal,  Celana Khaki. Baju coklat muda, berdasi dengan corak senada.  Memakai Jas Hitam, ada lambang pin emas di krah jasnya.  Serasi sekali.  Keren sekali dan sudah pasti Wangi.  Dia sedang mematut-matut dirinya didepan cermin, merapikan jas, dasi dan krah bajunya.  Memastikan agar penampilannya tetap meyakinkan.  Sangat berbeda jauh dengan penampilan sang trainer ini … yang hanya memakai Jeans, Sepatu Safety Krisbow dan kemeja casual lengan pendek yang dikeluarkan sekenanya …

 

Aku nggak ambil pusing.  Langsung aku merapat ke closet pipis yang ada … dan menyelesaikan hajat kecilku.  Disana ada sekitar 7 kloset pipis yang masing-masing dibatasi oleh dinding setinggi dada.  Rupanya Sang Eksekutif metroseksual tersebut ketularan saya … dia juga akhirnya ikutan kebelet pipis  … dia mengambil tempat di kloset pipis yang berjarak sekitar 3-4 m dari tempat aku berdiri …

 

Tiba-tiba terdengar suara … “Ddhhuuuutttt …” cukup keras dan panjang … sekitar 3 detik-an … mengalun dengan indah … bunyi biologis ini berasal dari sang Eksekutif Muda Necis Metrosexual tersebut.   HAH … rupanya didepan keluar air seni … dibelakangnya juga ikut keluar angin … what a perfect combination …

 

Seketika itu pula … aku yang masih menyelesaikan tetes-tetes hajat pipis penghabisan, menahan tawa yang nyaris saja meledak … (sumpah asli, perut saya sakit menahan tawa).  And you know what … ketika saya menoleh ke dia …. Anda harus lihat ekspresi mukanya … kombinasi antara ekspresi Malu-malu dan rona Puas nikmat keenakan  (aku susah menggambarkannya). 

 

Hah … kesan Eksekutif Muda … dengan Jas Mentereng, celana pantalon mahal, Sepatu mengkilat … tatanan rambut klimis spike khas metro sexual … kontan HILANG sodara-sodara … (dan satu lagi … Baunya juga ternyata tidak lebih wangi dari “miliknya” orang–orang di terminal Bus antar kota).  (Aku masih mencoba sopan untuk tidak merengut atau menutup hidungku, takut dia tersiguk).  (Dan lagi tanganku kan sibuk memegang “perangkat” dan celanaku ..). (Masak abis pegang “itu” trus pegang hidung … kan ndak pantes toh)

 

Cepat aku tuntaskan hajat kecil ku … membersihkan “perangkat” … cuci tangan … lalu kabur keluar.  Sampai Di luar, aku tidak tahan lagi.  Aku lepas tertawa cekikikan … (sampai-sampai para petugas banquet hotel terheran-heran …)(mungkin mereka berfikir ini si trainer kesambet setan Toilet kali yak …)

 

So … Bagaimanapun PACKAGING anda … jika sudah sampai ke urusan pengeluaran yang satu itu … tetap saja sama … tetap terlihat “CEMEN ABISSSS … “

 

(BTW enak juga kali ya … keluar “dual action” depan-belakang seperti sang Eksekutif itu ???).  (kapan-kapan coba ah …) … (Pasti nikmat nian …)





JIIEEE

23 04 2008

(Biar tau ujung pangkalnya sebaiknya baca POSTINGANKU yang ini dulu … )

 

 

(Jiieee … ucapkan “e” seperti pada iyem … )(bukan seperti “e” pada Peyek).

Ini sebetulnya adalah sebuah ungkapan ekspresif.  Aku susah mendeskripsikan bagaimana cara melagukan ungkapan tersebut.  Sulit pula menjelaskan apa artinya.  Ada yang bilang … Jiieee … ada yang Ciaa … ada pula yang Ciee … Taelaah, Cieileehh, Cialiah … dsb. 

Tapi yang jelas Jiiieee adalah ungkapan khas dari anak Bungsu ku …

 

Begini ceritanya …

Tiap Sabtu – Minggu, Long weekend atau hari libur lainnya, ke tiga anak ku selalu minta diantar ke rumah Orang tua ku … Rumah Eyang Uti-Eyang Kakungnya.  Mereka senang sekali menginap disana.  Rumah orang tuaku ini jaraknya hanya sekitar 2 kiloan dari rumah ku … relatif dekat … hanya 10 menit berkendara.

Jadi biasanya Sabtu pagi kami mengantar mereka.  Kami sekalian sowan, ngobrol santai dengan Bapak-Ibu ku seharian sampai Magrib.  Anakku biasanya langsung memanggil anak-anak tetangga yang sebaya untuk main bola atau badminton di rumah ortuku … karena halamannya luas.  Dan ramailah rumah itu dengan celoteh riang anak-anak singkong bermain bola.  Baru malamnya aku dan istriku pulang kerumah kami, anak-anak tetap tinggal menginap dirumah eyangnya.  Sebelum kami pulang biasanya Istriku memberikan wejangan super panjang lebar ke Sulung, Tengah dan Bungsu … Untuk Ingat Sholat, Minum Vitamin, Minum susu, jangan nakal, jangan telat makan, jangan lupa mandi, dan seribu satu pesan lain untuk dilaksanakan selama menginap di tempat Eyangnya. (biasalah ibu-ibu). (Padahal ini cuma semalem dua malem lho, dan jarak rumah kita hanya 2 km). (Tapi Wejangannya panjang lebar bak akan menginap diluar negeri selama 1 semester saja).  (Dan jangan tanya pula … barang-barang bawaan keperluan anak kami yang kami bawa di bagasi mobil kami … wuaahh seabreg bouw, kayak pindahan …).

 

Ketika aku dan istriku pamit pulang biasanya anak-anak ikut mengantarkan kami sampai ke Mobil …  Dan si Bungsu pun pasti akan mulai nyeletuk …”Jiieee Ayah Bunda romantis niiihhh” … “Jiieee Ayah Bunda asik berduaan niiihhh” … “… “Jiieee, jiieee … sekali lagi … jiieeee”.  Dilontarkan dengan cengangas-cengenges bergaya sok ABG … ah si Bungsu 8 tahun ku itu … ada-ada saja tingkahnya.  Kami pun hanya bisa senyum tersipu mendengarkan godaan si Bungsu …

 

And You know what sodara-sodara …

Kesempatan langka … hanya berduaan … tanpa anak-anak di rumah … memang kami pergunakan sebaik-baiknya untuk … ber “Jiieee” ria … (yang se “jiiee-jiiee” nya …).

 

(Dari beberapa referensi yang aku baca, bagi pasangan suami istri, apalagi yang sudah lebih dari satu dasa warsa berumah tangga … melewatkan waktu privacy hanya berdua-an saja tanpa anak-anak … sangatlah penting artinya, agar “kehangatan” tetap terus terjaga  …)(Ibarat sayur lodeh … semakin sering dihangatkan semakin “mak nyus lezatnya” … )

 

So kode … Jieee artinya adalah   … ??? …. “SAYUR LODEH”  … hehehehe …

 

(ini judulnya … Khusus Saat Weekend … Trainer keramas setiap hari …)

(*lihat tanggalan … kapan yaaa … ada long weekend lagi …*)