MARIA A. SARDJONO
-
Sebetulnya ini adalah kelanjutan tulisan saya yang berjudul HC Andersen. Komik-komik HC Andersen adalah bacaan wajib saya ketika SD. Selain juga komik superhero lokal seperti Gundala Putera Petir, Godam, Pangeran Melar, Laba-laba Merah, Kawa Hijau dan sebagainya.
Lalu Mengapa ujug-ujug saya menulis tentang Maria A. Sardjono ?
Karena Novel karya-karya Maria A. Sardjono adalah bacaan wajib Trainer ketika beranjak remaja dan pra dewasa … masa SMA dan Kuliah.
Maria A Sardjono adalah nama seorang penulis novel kenamaan, zaman tahun 80 an.
Ia adalah Sarjana Filsafat Sosial Budaya dan Master dibidang Filsafat Humaniora (sumber : www.BukaBuku.com )
Ya … entah bagaimana mulanya … saya kok bisa kecanduan membaca buku novel karangan Maria A Sardjono. Pada jaman 80-an memang marak sekali novel-novel roman. Macam karangan Mira W, Marga T, Smara Gd, Titie Said, Zara Zetira dan juga Hilman. Tetapi boleh dikata yang selalu saya cari pertama kali jika nongkrong di toko buku adalah Buku Novel terbarunya Maria A Sardjono. Saya selalu berusaha menyisihkan uang jajan saya yang tidak seberapa itu untuk membeli novel terbaru karangannya. Saya hafal letak rak buku yang memajang buku karangan ibu itu. Sehingga saya tau betul apakah ada novel yang baru atau belum. Every single title …
Jikapun lama belum keluar novel yang baru, saya pasti akan membaca kembali buku novel yang lama. (heran … novel kok dibaca berkali-kali …)(macam diktat kuliah saja …)
Memang rasanya agak aneh … Seorang Lelaki muda … straight (sumpah !!!) … tapi bacaannya novel romantis … ditulis oleh seorang wanita pula.
Entah mengapa … Saya selalu begitu terbius dengan alur ceritanya.
Padahal sebagian besar alur ceritanya itu, berkisar pada perjuangan gadis sederhana, miskin, orang kebanyakan … yang kemudian ditaksir dan/atau menaksir seorang lelaki kaya … populer … aktifis … jago olah raga … jago musik … cuek … ganteng dan seterusnya… Yup … jalan ceritanya sebagian besar persis seperti jalan cerita HC Andersen. Atau cerita Cinderella … Happy Ending ever and after gitu deh … !!!
Sekali lagi saya harus jujur …
Bahwa buku-buku novel karangan Maria A Sardjono telah mengisi waktu-waktu senggang masa remaja saya. Believe it or not … Buku-buku itu masih tersimpan rapi di Rak Buku koleksi novel saya, di kamar saya yang dulu, di Rumah orang tua saya.
Secara kebetulan …
Salah satu Teman maya saya … Ibu Tuti Nonka, narablog dari Yogyakarta … seorang penulis cerpen kondang pada jamannya, rupanya mengenal Penulis pujaan saya ini. Di beberapa postingan Ibu Tuti …, saya sering melihat ibu Tuti kopi darat dengan Maria A. Sardjono.
Ah suatu saat kepingin juga saya bertemu dengan Ibu Maria. Dan jikalau saya berkesempatan bertemu beliau, Saya pasti berucap lantang :
”Bu Maria … saya adalah penggemar setia anda jaman dulu, Ibu telah berhasil membius alam fikiran remaja saya dengan cerita-cerita khas anda. Salam hormat saya untuk Ibu Maria … !!!
—
Ada sementara orang bilang … jika ada seorang lelaki gemar membaca novel roman yang dikarang oleh seorang wanita … maka biasanya si lelaki tersebut lebih mengerti hati seorang wanita …
(hahahhaa … betulkah begitu ???)
(Entahlah …)
(Ini pertanyaan retorik … untuk diri sendiri …)
(… dan tidak perlu dijawab … !!!)
.
.
iyaahhh percaya kok
nakjaDimande
22 April 2010 pada 10:17 am
ahahahahahahh itu bacaannya Mama saya Opaaaaa
Chic
22 April 2010 pada 10:18 am
Arrrgggghhh …
maksudnyah ???
nh18
22 April 2010 pada 12:30 pm
anu anu.. maksudnya si Opa kayak Mama sayah gituuu hihihihihi
*kabur sebelum dijitak Opa*
eh jadi inget, dulu suka nyolong-nyolong baca buku Mama yang kayak gini ini, kalo ketauan suka dimarahin katanya bukan bacaan anak-anak. Lah ya saya masih eSDe jeh…
Tapi cuma berapa kali gitu deh sok pengen nyolong-nyolong baca, seterusnya ga minat lagi sayah. ha wong ngga ngerti isinya apa, bacanya jadi mumet!
*baca Trio Detektif*
Chic
22 April 2010 pada 2:39 pm
Gile …
baru edat – edit postingan ini …
ternyata udah disamber komen duluan …
2 orang pula …
(ckckckckc)
hehehehe
nh18
22 April 2010 pada 10:22 am
salahnya masih diedit kok udah dipublish.. kan nongol di reader sayaaah
Chic
22 April 2010 pada 2:36 pm
Aku justru senang bila ada pemuda [pemuda bener loh ya] yang suka novel seperti aku. Bisa bertukar cerita dengan sudut pandang yang berbeda dari seorang perempuan.
Tapi aku ngga setekun om NH membaca kisah romantis, seringnya terbengkalai di tengah jalan. Aku lebih suka kisah roman yang diselingi pembunuhan. Lebih menggairahkan
nakjaDimande
22 April 2010 pada 10:33 am
Aku lebih suka kisah roman yang diselingi pembunuhan. Lebih menggairahkan …
(sadis !)
nh18
22 April 2010 pada 12:31 pm
aku suka novelnya ibu NH Dini, sering membayangkan aku jadi tokoh utamanya yang selalu aneh itu.
coba deh Om coba baca dan bayangkan om jadi tokoh utamanya.. ntar kita bahas, mau?
nakjaDimande
22 April 2010 pada 10:41 am
Ogah …
nh18
22 April 2010 pada 12:31 pm
jangan katakan tidak sebelum trainer mencobanya.
nakjaDimande
22 April 2010 pada 10:43 pm
sungguh aku tak bisa …
ohhh …
aku pernah mencobanya …
tapi apa daya … rasabahasaku tak sampai kesana …
nh18
22 April 2010 pada 10:55 pm
oh bu tuti tuh bekas penulis cerpen toh?? baru tau saia om
saya gak tau ibu maria dan novel2nya,denger namanya pun baru sekarang om,itu pasti karena kita beda angkatan ya om? saya yg tua om yg muda kan? eh kebalik deh
didot
22 April 2010 pada 11:02 am
Aaarrrggghhh …
Awas lu ya …
Biar Tua … asal “gurih”
hahahahahha
nh18
22 April 2010 pada 12:34 pm
gurih dan renyah…
Laki-laki Biasa
22 April 2010 pada 3:05 pm
waaaahhhhh aku baru tahu loh mas!
aku juga fans nya banget. selain Mira W, S Mara Gd, dan Marga T. Masih ada 25 bukunya di rak bukuku di sini. Kalimatnya sederhana meskipun banyak pakai unsur bahasa Jawa. Ada satu yang saya paling suka, “Menjolok Rembulan”.
Ada sementara orang bilang … jika ada seorang lelaki gemar membaca novel roman yang dikarang oleh seorang wanita … maka biasanya si lelaki tersebut lebih mengerti hati seorang wanita …
HMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM
tak tahulah aku isi hati pria yang menyukai novel wanita
EM
ikkyu_san
22 April 2010 pada 11:09 am
Hmmm …
Aku udah punya menjolok rembulan belum ya …
keknya ada deh …
nh18
22 April 2010 pada 12:30 pm
sama om!! ny juga suka sama novel2nya Maria Sardjono…ehm…sekarang aja masih suka baca2 ulang …hehehe…
lelaki baca novel roman, jelas romantis…(yyiiihaaa…hihihi) tapi, kalo soal mengerti hati wanita…ehm…ny pernah denger ada yang bilang gini : tidak ada seorang lelaki yang bisa mengerti hati wanita…aahhhaahhay!! hahahahaha…maaappppp!!!
rhainy
22 April 2010 pada 11:27 am
Hahahahah …
Iya kali ya …
Memang hati manusia (entah wanita atau lelaki) suka susah ditebak …
nh18
22 April 2010 pada 12:29 pm
ya..padahal aku mau jawab, kok gak boleh jawab Om..
hmm jadi penasaran sama novel Bu Maria..
wigati
22 April 2010 pada 11:27 am
seingat saya beberapa novel terakhir beliau
masih ada di Toko Buku Wig …
coba aja hunting …
nh18
22 April 2010 pada 12:28 pm
yang mana itu ya pah novel maria a sardjono belon pernah baca
*pinjem dunk*
kalo aku sukanya agatha christie kan citacitaku jadi detektif
elekhan dahhhhh
gerhanacoklat
22 April 2010 pada 11:29 am
Iya …
Iyaaa …
Ini novel jadul …
sejadul sayah …
aaarrrgghhhh
(tapi tetap elekhan kaaaannn)
nh18
22 April 2010 pada 12:28 pm
saya juga jadul koq pah
tapi tetep minjemin kaaan
*maksa*
gerhanacoklat
22 April 2010 pada 4:55 pm
Gak boleh !
Nanti Buku saya rusak …
(trainer pelit !)
nh18
22 April 2010 pada 5:20 pm
Amboi….sepertinya ini ungkapan jiwa Om….Hem kalo saya th 80an masih belum gemar membaca novel Om, paling baca Bobo, Deni manusia ikan, terus hobbynya masih maen sepatu roda dan melukis, hahahaha….
Tapi begitu sudah menginjak SMA (90 an) mulai suka baca majalah Anita, salah satu penulis cerpen kondang sa’at itu sekarang jadi sahabat sayabaik di dunia maya & dunia nyata, …ayo tebak siapakah penulis yang saya maksud ?, hahaha…sekalikali Om NH dikasih PR
Best regard,
Bintang
elindasari
22 April 2010 pada 12:01 pm
Tunjuk tangan … bersemangat …
Tentu jawabannya adalah … Ibu Tuti Nonkaaaa !!!
nh18
22 April 2010 pada 12:26 pm
What a Co-incidence …
Yang bersangkutan komen dibawah …
hehehe
nh18
22 April 2010 pada 12:27 pm
Waah … saya kalah deh Om
Saya hanya membaca beberapa saja novel Bu Maria. Yang saya baca semuanya adalah novel-novel Marga T, Mira W, Nh. Dini, S. Mara Gd., Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Hilman Lupus, Agatha Christie, Sidney Sheldon, John Grisham, siapa lagi ya … waduh, buanyaaak!
Jujur, saya banyak belajar dari Marga T. Kalimat-kalimatnya bernas dan hidup, karakter tokohnya kuat. Dari Nh. Dini, saya belajar pengungkapan alur pikiran tokohnya yang mendalam. Dari Hilman, saya belajar cengengesan dan pecicilan. Dari Sidney Sheldon, saya belajar kekayaan informasi dan keakuratan data.
Ibu Maria sendiri orangnya sangat halus, lembut, dan ramah. Meskipun sudah sepuh, tapi masih cantik dan selalu rapi. Beliau pasti senang sekali bertemu Om, apalagi kalau Om menunjukkan novel-novel beliau yang Om koleksi. Sekalian minta ditandatangani semuanya Om …
@ Didot : iya, saya bekas penulis cerpen (bekas = tidak lagi)
tutinonka
22 April 2010 pada 12:05 pm
Hehehe …
Ya begitulah bu …
Mungkin terkesan childish … tetapi saya pikir saya pasti akan senang sekali jika bisa bertemu dengan beliau …
@Didot ..
Hayo lo Dot … Ibu Tuti ngambek lho …
Aku ndak tanggung jawab lho …
hihiihihii
nh18
22 April 2010 pada 12:45 pm
Dari Hilman, saya belajar cengengesan dan pecicilan.
Ouw… pantes!
henny
22 April 2010 pada 2:03 pm
Ibu Tuti saya pikir lebih pecicilan dan lebih cengengesan dibanding Hilman deh …
Hihiihhhihi
(ampunn buuu …)
nh18
22 April 2010 pada 2:51 pm
Eee …. ternyata pada ngomongin saya to *ge-er.com*
tutinonka
27 April 2010 pada 11:09 pm
saya ndak mau jawab, saya komeng aja, selamat atas keberhasilan ibu maria menembus alam pikiran pak NH, dan semoga mengikuti jejak beliau menjadi trainer yang menembus alam pikiran semua sahabat
jumialely
22 April 2010 pada 12:31 pm
Terbalik kali bu …
saya yang mengikuti beliau jadi penulis Novel
secara Beliau kan jauh lebih senior dari saya
nh18
22 April 2010 pada 12:44 pm
maksudnya selamat kepada ibu maria menembus pikiran pak NH
dan semoga pak NH mengikuti jejak ibu Maria menembus alam pikiran saya
wakakak
jumialely
22 April 2010 pada 2:23 pm
Kejutan! …
dan,
…apakah OM NH orangnya romantis? *ngubek postingan lama masa2 pdkt*
henny
22 April 2010 pada 2:06 pm
Saya orangnya tidak romantis …
Saya lelaki berhati dingin …
jreng jeeenggg …
eng ing eng …
(hahahaha)
nh18
22 April 2010 pada 2:52 pm
Wah, rupanya si Om senang happy ending. Kalo aku senangnya yang endingnya bikin penasaran hehehe…..
chocoVanilla
22 April 2010 pada 3:43 pm
Hahaha …
Yup saya suka yang hepi ending …
kan membaca novel itu buat hiburan
…
nh18
22 April 2010 pada 4:35 pm
saya blm pernah baca buku2nya, meskpun umur saya sebaya dng pak NH (yah… cuma selisih bbrp bulan ini), tetapi saya sangat akrab dng nama MAS ini melalui sandiwara radio di Solo/Yogya. Ya, banyak naskah2 sandiwara radio ditulis MAS
guskar
22 April 2010 pada 3:46 pm
Iya Mas Gus …
Selisih kurang lebih 48 Bulan … hahahahaha
nh18
22 April 2010 pada 4:38 pm
passsssssss
AFDHAL
22 April 2010 pada 3:55 pm
Hahahaa …
Ilmu ini ndak akan nyucuk dengan usia mu Dal …
nh18
22 April 2010 pada 4:40 pm
hayah ujung-ujungnya kok malah pertanyaan retoris nan narsis???
Andi
22 April 2010 pada 4:35 pm
Itulah saya …
hahahaha …
Majasnya selalu narcis …
tapi narcis yang eiylekhan …
nh18
22 April 2010 pada 4:39 pm
wah nda menyangka pak nh romantis juga bacaannya ^_^
sy sukanya Marga T (koleksi2 punya kakak), bacaan semasa SMP dan SMA
tapi klu maria blum pernah nih pak…wah rekomen bagus juga. Makasih pak nh sudah berbagi ^_^
sri
22 April 2010 pada 5:22 pm
Ya begitulah …
apapun itu … memang kenyataannya saya suka baca Novel Maria Sardjono itu …
perkara romantis atau tidak … ??
MMmm … saya sepertinya kok tidak …
hehehehe
nh18
22 April 2010 pada 5:41 pm
MAS?? ah, nda ga ngerti blaaaaaaaass….
nDa
22 April 2010 pada 5:39 pm
Beda generasi …
jauhhh sangat …
hehehehe
nh18
22 April 2010 pada 5:40 pm
..
Pembaca novel, itu dulu kan om..
Kalo sekarang pasti gak ada waktu..
..
septarius
22 April 2010 pada 7:38 pm
Yup itu dulu …
kalo sekarang waktunya abis buat …
Blogging …
hehehehe
nh18
22 April 2010 pada 9:28 pm
saya percaya kok Mas dgn tulisan yang paling akhir dibawah itu

sewaktu remaja saya lebih suka baca Kho Ping Ho, Mas
salam
bundadontworry
22 April 2010 pada 10:36 pm
hahahah …
Artinya Bunda Ly memahami isi hati lelaki ya Bunda …
nh18
22 April 2010 pada 10:43 pm
Berkat Bapak saya jadi tahu ada penulis hebat di tahun itu
achoey
22 April 2010 pada 10:42 pm
Iya Kang …
Jaman tahun 80 an itu banyak penulis wanita yang hebat
nh18
22 April 2010 pada 10:43 pm
Mungkin saya kebanyakan makan kurang membaca… penulis yang satu ini belum pernah denger… buku tanpa gambar paling lama yang saya baca, empat sekawan dan trio detektif…
sauskecap
23 April 2010 pada 12:15 am
penjelasannya jelas sudah …
Kita berbeda generasi …
(hahahahaha)
(masih di Cinere kah ??)
nh18
23 April 2010 pada 12:22 am
Terus kenapa kalo nulis tentang cinta atau Romantisme selalu “preeett” om ?
atmakusumah
25 April 2010 pada 1:20 am
saya juga suka novel2 beliau. tapi emang yg paling banyak saya baca Marga T sih….
krismariana
27 April 2010 pada 1:33 pm
novel pertama yang saya baca :
“Kelopak2 Yang Berguguran”
kayaknya pengarangnya yah beliau itu lah..
Maria A Sardjono..
saya baca sampai tidak terhitung deh.. sampai kumel
halamannya..
hawe69
30 April 2010 pada 1:48 pm
wah, senengx ngebaca ada orang yg jg punya hobby sama kaya saya. ngebaca novel karangan Maria A Sardjono…sy sangat suka sekali sama novel beliau..saking sukax sy berburu buku beliau untuk di koleski..saat ini sy baru punya 18 buah, judulx : melati di musim kemarau, rumah mungil di lereng bukit, aku bukan milikx,cahaya di jendela rumahku, bukan istri pilihan, bintang dini hari, mariana, fajar di kaki langit, antara dua hati (1), antara dua hati (2), langit di atas merapi, tiga orang perempuan, mentari di ufuk timur, widuri 1, widuri 2, bumi masih berputar, dalam kabut dan badai, dan kemuning.
saya masih mencari judul yg lain. kalau ada info gmn sy mendapatkan buku karangan beliau…boleh donk dikasih tau……
sy suka novel beliau sejak duduk di bangku SMA, mulanya pinjam buku temen…lama-lama sama kayak pak NH, yg kepicut alur ceritax…romantis banget en slalu happy ending,,,yg paling sy suka “rumah mungil di lereng bukit” . sy berkali-kali bacax…
tolong ya pak infox, bgm carax mendapatkan novel beliau, please……
osi
24 Mei 2010 pada 10:18 am
salam hormat,
sekedar untuk berbagi pengalaman, ada satu novel beliau yang berjudul Rumah Mungil Di Lereng Bukit, yang sempat saya baca di usia 15 tahun saat itu, kini setelah 25 tahun berlalu, percaya atau tidak, setiap saat melalui perjalanan waktu cerita dari novel itu selalu menghiasi alam pikiran saya… Maria A Sardjono dgn novel-nya itu selalu mengingatkana saya bahwa saya masih punya satu cita-cita berkeinginan tetap utk memiliki sebuah rumah mungil dilereng bukit yang saat ini ingin kupersembahkan untuk istriku tercinta, dan entah kenapa saya selalu sibuk ingin membuat dan membangunnya dengan ornamen dan suasana alam sebagaimana yang dimaksud beliau… spt apa saya tidak tahu…, tapi yang pasti jika mengingat beliau, ada ruang memeri ingatan saya tentang masa silam yang begitu khas terbayang suasana hati dan aroma dan warna masa itu, begitu nyata dan jelas sekali dalam ingatan saya. Mungkin tetap jika saya inginan mengucapkan terima kasih Ibu Maria atas kesan menyenangkan yang selalu lekat dalam bayangan hingga menyeluruh dari kenangan masa silam itu bagi saya, hanya karena saat membaca karangan Ibu Maria.
gerenime cayeenne rehalat
15 Juni 2010 pada 2:22 am
salam hormat,
sekedar untuk berbagi pengalaman, ada satu novel beliau yang berjudul Rumah Mungil Di Lereng Bukit, yang sempat saya baca di usia 15 tahun saat itu, kini setelah 25 tahun berlalu, percaya atau tidak, setiap saat melalui perjalanan waktu cerita dari novel itu selalu menghiasi alam pikiran saya… Maria A Sardjono dgn novel-nya itu selalu mengingatkana saya bahwa saya masih punya satu cita-cita berkeinginan tetap utk memiliki sebuah rumah mungil dilereng bukit yang saat ini ingin kupersembahkan untuk istriku tercinta, dan entah kenapa saya selalu sibuk ingin membuat dan membangunnya dengan ornamen dan suasana alam sebagaimana yang dimaksud beliau… spt apa saya tidak tahu…, tapi yang pasti jika mengingat beliau, ada ruang memeri ingatan saya tentang masa silam yang begitu khas terbayang suasana hati dan aroma dan warna masa itu, begitu nyata dan jelas sekali dalam ingatan saya. Mungkin tetap jika saya inginan mengucapkan terima kasih Ibu Maria atas kesan menyenangkan yang selalu lekat dalam bayangan hingga menyeluruh dari kenangan masa silam itu bagi saya, hanya karena membaca karangan Ibu Maria.
gerenime cayeenne rehalat
15 Juni 2010 pada 2:24 am
sekedar untuk berbagi pengalaman, ada satu novel beliau yang berjudul Rumah Mungil Di Lereng Bukit, yang sempat saya baca di usia 15 tahun saat itu, kini setelah 25 tahun berlalu, percaya atau tidak, setiap saat dalam perjalanan hidup saya sampai dengan saat ini, cerita dari novel beliau warna dan suasana masa silam itu kembali terbayang begitu khas dalam ingatan saya, dan entah kenapa bersamaan dengan itu pula mengingatkan pada satu keinginan saya mungkin ini akan menjadi terindah dalam hidup saya, satu keinginan terakhir yaitu yaitu dapat memiliki sebuah ‘rumah mungil di lereng bukit’ yang akan saya persembahkan untuk seseorang yang saya sayangi , saat ini… istri tercinta dan entah kenapa dalam perjalanan waktu 25 tahun hingga saat ini, pikiran saya masih saja sibuk menerka-nerka tentang suasana alam dan bukit seperti apa yang dimaksud ibu Maria dalam novelnya itu, serta ornament dan bentuk bangunan yang bagaimana pula yg dimaksud oleh beliau…? spt apa saya tidak tahu…, tapi yang pasti jika mengingat beliau dan salah satu novelnya itu, saya jadi berkeinginan untuk menyampaikan rasa hormat karena dengan inget nama beliau kenangan masa lalu itu selalu menorehkan getar aneh dihati… seperti ada warna biru …ada getar-getar yang nyaman dan …. Susah didefenisikannya yang tepat seperti apa ya mas? ada ruang dalam ingatan saya yg tidak pernah bisa hilang hingga saat ini, ingatan terhadap bayangan masa silam yang begitu khas tentang aroma dan warnanya, begitu nyata dan jelas sekali ….. terima kasih Ibu Maria…!
gerenime cayeenne rehalat
15 Juni 2010 pada 2:48 am
ternyata kt sm mengagumi karangan Ibu Maria As, saat ini sy dah punya koleksi novelnya 90 buku, n sdah berkenalan dengan beliau..ternyata beliau begitu ramah dan sngt baik, kt sm …..satu novel bs smpi berkali kali dibaca.sy senang ternyata banyak teman yg sama seperti saya mengagumi karya2 ibu Maria A.S,
nenden
11 Juli 2010 pada 7:54 pm
Komentar saya untuk nh18, siapapun kamu yang pasti seumuran anakku. Terimakasih sekali kamu ngefans karya saya. Saya menulis bukan untuk golongan tertentu entah umur, entah jenis kelamin tetapi untuk semua. Penggemar saya juga banyak laki-laki kok. Jadi jangan menjeniskelaminkan suatu karya seperto komentar teman-temanmu. Saya sejak kecil di SD juga menggemari buku-buku novel orang besar. Dari buku-buku yang dibaca, ternyata kita bisa menambah banyak pengetahuan, Minimal tentang perwatakan manusia, budaya tertentu yang tersaji lewat untaian ceritanya, mempelajari pola pikir manusia, bagaimana orang menyelesaikan konflik batinnya dan buanyak lagi. Nah, ini kebetulan saja saya baca tentang kamu, sayang. Anak saya yang memperlihatkannya lalu saya disuruh ngetik di sini. Hehe, saya tuh cuma bisa nulis karangan tetapi gaptek tentang gini-ginian (internet dsbnya), tetapi suatu saat mau belajar ah. Ok, nanti kalau ada tanggapan boleh kok gabung ke FB saya kalau nanti saya rada gak gaptek ya. Hehehe.
Maria A. Sardjono
31 Agustus 2010 pada 3:11 pm
Wah Keren…Tulisan Om dikomentarin Sama Ibu Maria…
. satu langkah lagi untuk Kopdar…What a Beauty of blogging
atmakusumah
1 September 2010 pada 5:22 am
saya juga fans berat ibu maria, sejak smp kelas 2 saya mulai membaca novel ibu sampai sekarang. sekarang umur saya sudah 4o tahun tapi sampai saat ini saya selalu memburu novel-novel bekas yang belum saya baca dan novel terbaru ibu.
saya sangat suka alur cerita yang ibu paparkan sehingga mengantar pembaca untuk terus…terus membaca hingga tuntas, teruslah menulis ibu, saya akan menunggu selalu. salam hangat.
st. muhabba
16 November 2010 pada 4:35 pm
Saya dari SMP mengagumi karya beliau, tapi bacanya hasil pinjam sama temen.hehe
dari dulu juga saia penasaran dgn satu judul novelnya ‘malam. bulan bintang’
tp sampe skrg jg gk ktmu2 dgn novel itu.
mas ada info buat cari buku itu dmna?
melly
26 Oktober 2010 pada 10:18 am
[...] tahun 80-an. Jaman saya masih SMA dan Kuliah, Novel karangan beliau selalu saya tunggu-tunggu. Saya menulis tentang pengalaman saya itu. Dan tak disangka-sangka, Ibu Maria ternyata membaca postingan saya tentang Beliau dan [...]
SPECIAL COMMENTS | The Ordinary Trainer writes …
18 November 2010 pada 11:09 am
bisa dibaca gak karya nya memalui internet??
putra_ihsan
22 Maret 2011 pada 5:11 pm
Toloooong kali gan sama TSnya ane minta tolooong banget ada yg tau gk biografi mara a sardjono tolooong banget kirim ke email saya ya gan, kalau tidak ke facebook saya fauzi lyanda sitompul tolooong banget gan mohon bantuannya
terima kasih
Peace Up
Fauzilyanda
3 April 2011 pada 7:12 am
saya juga ngefans abis nich sama novel maria a sardjono, sampai udah beberapa kali baca novelnya, nggak bosen2. sayang sy koleksi nya cuma sedikit, soalnya waktu jaman kuliah dulu cuma suka minjem sama temen (maklum blm punya duit..he..he…) , dan sekrang sy ingin mengoleksinya, tapi nyarinya susah banget, kl ada info kasih tau donk….dan buat ibu maria a sardjono salam kenal ya …dr saya dan kl bisa semua novel karya ibu dicetak ulang, pasti laris manis dech….
sri marlina
21 Juli 2011 pada 1:21 pm
greetings
saya termasuk geneerasi baru karena lahir 90-an tapi novel bu maria salah satu yang saya sukai, walaupun ada kalimat yang sudah tidak update tapi emosinya kerasa banget trus alurnya ada beberapa yang konfliks n cara berceritanya bagus banget. walaupun latarnya di dalam negri tapi tetep bagus malah membuat saya lebih mengenal beberapa kebudayaan indonesia (biasanya saya suka baca novel yang karakter prianya bule tw settingnya sebagian di LN). hmm jadi penasaran nih si ibu maria ini dapat idenya darimana c (walaupun ada beberapa akhirnya bisa ditebak tapi proses k endingnya g kepikiran) klo ngebaca jadi pengen jadi penulis juga (sayang g trlalu pandai mengurai kata2). bu sri buku ibu maria ada cetak ulangnya oleh gramedia (itu yg lagi sy baca trus liat penerbitnya). pak NH smangat deh sy salut sama hobi anda baca novel roman…siapa bilang laki2 g boleh bc novel itu malah menunjukkan sisi romantisnya dunkss ^^
Indah
26 Juli 2011 pada 11:27 pm
waktu sekolah dulu saya suka sekali baca buku. tp karena g bisa beli ( g punya duit ) jadi saya pinjam diperpustakaan. S Mara GD, Marga T, Trio Detektif, Mussasshi, Mira W, Hilman, dan banyak lagi deh. Tapi yang saya suka sekali novelnya Maria A Sardjono dan MArga T…dari novel beliau berdua saya banyak belajar tentang kehidupan. Bahwa seorang wanita harus mampu menjaga kehormatan, harga diri dan keluarganya. pak NH boleh tau gak otobiografinya ibu maria, pingin banget nih mengenal beliau lebih jauh.
marita
31 Oktober 2011 pada 7:31 am
lagi iseng nyari novel maria a sardjono g sengaja nemu ini..umur saya 26 tahun tapi saya ketagihan ma novel karangan beliau gara2 mamah saya yang emang suka banget ma novel2nya..koleksinya cukup banyak tapi banyak yg ilang gara2 dipinjemin..sekarang justru saya yg semangat ngumplitin koleksi novelnya..ampe sekarang masi nyari rumah mungil di lereng bukit soalnya itu novel favoritnya mamah dan itu justru salah satu yang ilang..maria a sardjono tuh emang pinter banget ngegambarin suasana..paling top pokonya..sampe2 kita sekeluarga sengaja dari bandung ke tawangmangu saking terbuainya ma penggambaran di novel..heheheheh..dan ampe sekarang masih g bosen juga baca novel2nya walopun udah berkali2..salah satu favorit saya adalah mega dan bayu di LANGIT DI ATAS MERAPI ..^.^
cikitita
13 Desember 2011 pada 12:30 pm
pak e… saya mau baca nih ceritanya bu sardjono yg tentang malam bulan dan bintang… bisa saya pinjam nggak? saya butuh banget nih. atau saya kopi deh.
saya juga suka cerita novel2 ibu sardjono karena cowoknya macho2 (ganteng, tinggi, bodi fitness, sukses2 dan kayaknya juga perkasa di atas ranjang, hehehehehe-motivasi bagi saya yg belum nikah) dan ceweknya bohai2…
judul favorit saya ada 3, pengantin masa kecilku, bintang dini hari, dan di atas langit merapi…
saya suka si wawan, totok, dan bayu. khususnya si Totok, yg sangat sabar dan kalem, juga bertubuh atletis karena kegemarannya bertenis, binaraga, dan renang (untuk 2 olahraga terakhir hanya karangan saya saja, hehehehehe. di novelnya sih doi suka tenis saja).
adrianto
24 Desember 2011 pada 3:48 pm