KIB 2 : BALON DAN POHON IMPIAN

Tulisan ini masih bercerita tentang kegiatan Kelas Inspirasi Bogor 2.  Seperti yang telah saya tuliskan di postingan-postingan sebelumnya, saya berkesempatan untuk ikut berpartisipasi sebagai relawan inspirator, yang bertugas mengajar di SD Negeri Situ Gede 1, Kecamatan Bogor Barat.

Pada postingan pertama, saya menceritakan mengenai kondisi fisik SD Negeri Situ Gede 1.  Sekolah dasar ini hanya mempunyai tiga lokal kelas dan berada di tengah pemukiman yang relatif padat.  Sementara pada tulisan kedua saya bercerita tentang persiapan dan kegiatan yang kami lakukan pada saat hari inspirasi 9 September 2014.

Nah kali ini saya akan khusus menyoroti mengenai dua hal yang saya pikir merupakan “the moment of truth” dari kegiatan ini, yaitu balon dan pohon impian.  Kegiatan ini sekaligus sebagai kegiatan penutup dari seluruh rangkaian Kelas Inspirasi hari itu.

Balon dan pohon impian pada hakikatnya adalah sebuah aktifitas dimana para siswa menuliskan cita-citanya.   Cita-cita tersebut ditulis pada secarik kertas.  Berwarna warni.   Dan kemudian ditempelkan pada pohon impian atau balon impian itu.

Sebetulnya kami bisa memilih salah satu saja. Entah itu Balon atau Pohon Impian. Tidak perlu keduanya.  Namun karena kami mengajar di dua rombongan, yaitu rombongan kelas yang masuk pagi dan rombongan kelas yang masuk siang,  maka ritual penutupan kami adakan dua kali.  Untuk alasan kepraktisan dan waktu.  Jadi anak-anak kelas pagi menuliskan cita-citanya di pohon impian. Sementara anak-anak rombongan siang menuliskan cita-citanya di balon impian.  Lalu balon tersebut di lepas ke udara … Ahhh menyenangkan sekali … Anda harus lihat bagaimana berbinarnya mata anak-anak tersebut ketika menempelkan cita-citanya di pohon impian.  Dan juga menerbangkan balon impiannya.

Ini adalah beberapa foto kegiatan para siswa menempel kertas warna warni yang bertuliskan cita-citanya, ke pohon impian

pohon impian1
(photo by Fanny, KIB 2)
pohon impian3
(photo by Fanny, KIB 2)

Dan ini adalah beberapa foto ketika kita menerbangkan Balon impian, yang ditempeli kertas cita-cita ke udara …

KI31
(photo by Fotografer Kel 19 KIB 2)

 

KI33
(photo by Ersie, KIB 2)

Sempat saya membaca di secarik kertas berwarna hijau muda, tulisan seorang siswa yang kurang lebih berbunyi :

Nama : Elis
Kelas : 4
Cita-cita : Dokter Anak
Ya Alloh kabulkanlah doa Elis. Elis pengen jadi dokter anak.

(Sebetulnya kalimat terakhir ini bukan instruksi dari pengajar, kalimat tersebut ditulisnya secara spontan oleh siswa)

Saya terharu membacanya …

Kejarlah cita-citamu.  Dan selalu ingat : Jujur, Kerja keras, Mandiri dan Pantang menyerah anak-anak !!!

Semoga cita-citamu tercapai ya Nak … !

Salam Inspirasi

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Ada sebuah pemandangan menarik.
Ketika seluruh kegiatan sudah selesai, dan kami ngobrol berbincang-bincang santai dengan para guru.  Sambil beristirahat dan menikmati jajanan tradisional (ubi rebus, pisang rebus, kacang dan sebagainya) yang disediakan oleh kepala sekolah.  Kami melihat ada sekelompok gadis-gadis kecil.  Murid-murid SDN Situ Gede yang tadi barusan kami ajar.  Mereka telah mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian bebas.

Saya bertanya kepada mereka “Sudah pada pulang ? Kok balik ke sekolah lagi ? Mau main di sekolah ya ?”
Dan mereka pun menjawab : “Mau memberesin kelas kita Pak”
Saya pun bertanya kembali : “Lho memangnya ada apa ?”
Salah satu dari mereka bilang : “Besok sekolah kita mau dibongkar, jadi kita ngungsi sementara Pak.  Kita mau mindahin barang-barang, buku-buku, prakarya kita ke tempat yang baru”.  (Aaahhh … kasihan sekali anak-anak ini).

Setelah saya cari info lebih lanjut dari para guru, ternyata memang sekolah mereka ini besok mulai tanggal 10 September 2014 akan dibongkar.  Akan dibangun bangunan dua tingkat, agar lokal kelas mereka mencukupi dan memadai untuk rombongan belajar yang ada.  Selama pembangunan tersebut, mereka akan menumpang belajar di sekolah tetangga … SD Negeri Situ gede 2.  Masuk siang dan sore hari.  Semoga hal ini tidak mengganggu proses belajar mengajar mereka …
Dan semoga lokal sekolah mereka cepat selesai, agar mereka dapat segera menempati kelas yang baru yang lebih layak, dan memadai !

Tetap semangat dan bergembira ya anak-anak !!!

KI18
(Photo by Fotografer Kel 19-20 KIB 2)

KIB 2 : PERSIAPAN DAN HARI INSPIRASI

Seperti yang telah saya tuliskan di postingan sebelumnya, saya memberanikan diri mendaftar untuk menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar melalui program khusus yang bertajuk “Kelas Inspirasi Bogor 2” (KIB 2).  Kami mendapat tugas untuk mengajar satu hari di sebuah sekolah dasar, yaitu SDN Situ Gede 1.  Gambaran situasi lokasi SDN Situ Gede 1 pun telah saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Segera setelah briefing umum KIB 2, kelompok kami berdiskusi merencanakan apa saja yang akan kami lakukan, bagaimana jadwalnya, bagaimana mekanismenya, run down acaranya, alat apa yang kami butuhkan dan sebagainya.  Tantangan menjadi sedikit rumit karena kami masing-masing mempunyai kesibukan sendiri-sendiri.  Seluruh komunikasi hanya kami lakukan melalui Whatsapp.

.

9 September 2014 : Hari Inspirasi

Sebetulnya kelompok kami itu terdiri dari delapan orang, namun pada saat hari H ada dua orang yang tidak bisa mengikutinya.  Satu sakit dan satu lagi ada acara mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. 

tim20
kelompok 20, KIB 2 (photo by Fanny KIB 2)

Kami berasal dari profesi yang berbeda-beda.  Ada perawat, auditor, desainer grafis, ground engineer pesawat terbang, dan trainer.  Satu orang bertindak sebagai fotografer.  Kami berusaha mengatur jadwal sehingga kita semua bisa memasuki seluruh kelas tanpa kecuali.  Dari kelas satu … sampai dengan kelas enam.

Mengajar secara tandem berpasangan adalah cara yang kami tempuh.  Dengan cara tersebut kami bisa saling mendukung satu sama lain.  Jika yang satu sedang menerangkan maka yang lain bisa ikut menjaga ketertiban kelas. 

.

KI12
with my tandem Didik Subroto (photo by Fanny, KIB 2)

Bilamana perlu, kita pun bisa menjadi bagian dari presentasi pasangan kita.  Kebetulan pasangan saya adalah seorang perawat.  Pada saat dia menerangkan profesinya, saya berpura-pura menjadi pasien yang dirawatnya.

-

Siswa SD pada umumnya berada pada rentang usia 6-12 tahun.  Anak-anak pada usia tersebut berada pada tahap perkembangan kognitif yang disebut Concrete Operational (sumber : Modul Pelaksanaan Pengajaran, KIB 2, 2014).

Saya tidak mempunyai background pengetahuan ilmu “paedagogy” yang memadai.  Sehingga saya mencoba menginterpretasikan sendiri arti kata-kata “Concrete Operational”.  “Concrete Operational” saya terjemahkan secara bebas menjadi : apapun yang kita sampaikan haruslah nyata.  Kongkrit.  Berwujud.   Saya berfikir bahwa kata-kata akan menjadi prioritas nomer yang ke sekian.   Letak kunci keberhasilan penyampaian justru ada pada …

  • Apa yang saya peragakan ...
  • Apa yang saya lakukan …
  • Apa yang saya perlihatkan …
  • Apa yang saya kenakan …
  • Dan baru setelah itu … apa yang saya katakan !

(mohon dikoreksi, jika pengertian saya salah)

Sehingga dalam mempersiapkan struktur pengajaran / lesson plan saya harus sangat memperhatikan apa yang akan saya peragakan, lakukan, perlihatkan, kenakan dan (akhirnya) apa yang saya katakan … !!!  Sebab itulah yang akan diserap oleh anak-anak.  Saya harus berperilaku tertentu.  Saya harus membawa sesuatu.  Saya harus mengenakan sesuatu.  Saya harus berakting.  Saya harus melakukan sesuatu.

KI11
membuat nama (photo by Fanny, KIB 2)

Masalahnya profesi yang akan saya terangkan adalah profesi “Trainer”. Sebuah profesi yang notabene belum dikenal oleh anak-anak. Mereka jarang (bahkan mungkin tidak pernah) berinteraksi dengan trainer. Lain halnya dengan dokter, polisi, artis atau tentara yang mungkin sehari-hari mereka bisa melihatnya di layar televisi atau bahkan berinteraksi secara langsung.

Akhirnya saya melakukan pendekatan melalui media boneka tangan.

KI17
bersama kak Indra (photo by Fanny, KIB 2)

Cerita sebuah keluarga, dengan dua orang anak.  Laki-laki dan perempuan.  Sebut saja nama-namanya Cha-cha dan Kak Indra.  Orang tuanya bernama Bu Entin dan Pak Jaja.  Cha-cha siswa Sekolah Dasar (kelasnya tergantung di kelas mana saya mengajar. Kalau mengajar di kelas tiga maka saya sebut Cha-cha kelas tiga SD).  Indra kakak Cha-cha sudah kuliah.  Bu Entin ibu rumah tangga yang buka usaha warung di depan rumah.  Dan Pak Jaja bekerja di sebuah pabrik. (saya sesuaikan tokoh-tokohnya dengan kurang lebih latar belakang keluarga sebagian besar anak-anak SDN Situ Gede 1)

Supaya cerita tidak membosankan, sekali-sekala kami menyisipkan nyanyian dan yel-yel  …

.

KI13
horee !!! duaarr … (photo by Fanny, KIB 2)

Untuk mengenalkan profesi Trainer, ceritanya sederhana saja. Intinya adalah Cha-cha diajari di sekolah oleh bapak dan ibu guru. Kak Indra di kampus diajari oleh dosen.  Kak Indra latihan sepak bola di lapangan bola di kecamatan, yang mengajari adalah pelatih.  Sementara itu Bu Entin setiap hari Jum’at menutup warungnya dan dia pergi ke acara pengajian di masjid dekat rumah. Yang mengajari Bu Entin mengaji adalah uztad – uztadzah.  Sementara itu Pak Jaja sehari-harinya bekerja di pabrik. Pertanyaannya adalah : Siapakah yang mengajari Pak Jaja untuk melakukan pekerjaannya di Pabrik ? Supaya pekerjaannya bisa bagus dan lancar ? … Naaahh yang mengajari pak Jaja inilah yang disebut TRAINER.

Trainer bertugas untuk mengajari dan melatih karyawan, pekerja, bapak-bapak, om-om, ibu-ibu, tante-tante, kakak-kakak yang sudah dewasa, baik itu yang bekerja di pabrik maupun yang bekerja di kantor.

Tentu saja ketika menerangkan itu semua, saya mengkombinasinya dengan pergantian suara, (saya terinspirasi dari Kak Adin sang pendongeng yang sangat piawai berganti-ganti suara dan membuat sound effect dengan mulutnya).  Saya juga mengajukan pertanyaan interaktif kepada anak-anak.  Agar lebih menarik … saya berganti-ganti asesori yang saya kenakan.  Sesuai dengan profesi yang sedang saya jelaskan.  Kalau sedang bicara mengenai uztad maka saya akan memakai songkok dan sorban.

KI16
“Uztad” with Bu Entin … (photo by Fanny, KIB 2)

(lho kok malah jadi kayak kakek-kakek ya ?)

Ketika bicara mengenai guru saya mengenakan kopiah. Menerangkan profesi pelatih saya pakai topi dan sempritan dan seterusnya. Sekali lagi yang akan mereka serap adalah peragaan, kelakuan saya, apa yang saya perlihatkan dan apa yang saya kenakan … (baru setelah itu apa yang saya katakan)

Alhamdulillah … (kelihatannya) … anak-anak mengerti.  Terbukti ketika wrap up, saat kesimpulan, ketika mengulang kembali pelajaran hari ini.  Apa nama profesi saya ? apa tugas saya ? … mereka dapat menyebutkan kembali dengan lancar …

KI14
Sayaaaa … (photo by Fanny, KIB 2)

Aaahhh senangnya …  Alhamdulillah …

(masih bersambung)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9. . . ..

.

.

.

.Tulisan selanjutnya : KIB 2 : Balon dan Pohon Impian

.

.

.

KIB 2 : SDN SITU GEDE 1

Judul lengkapnya adalah : KELAS INSPIRASI BOGOR 2 : SDN SITU GEDE 1

Beberapa waktu yang lalu saya memberanikan diri mendaftar untuk menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar, melalui program khusus yang bertajuk “Kelas Inspirasi”.  Kebetulan lokasi yang tersedia saat itu adalah untuk wilayah Kotamadya dan Kabupaten Bogor angkatan ke 2.  Sehingga disebut Kelas Inspirasi Bogor 2. (untuk selanjutnya disingkat KIB 2).

Program Kelas Inspirasi ini pada hakikatnya adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat umum, terutama para profesional, untuk turun ke sekolah dasar (SD) selama satu hari untuk berbagi cerita dan pengalaman kerja, sekaligus memberi motivasi kepada para murid SD.  Harapannya adalah agar anak-anak dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para inspirator, dan mereka dapat bermimpi dan merangsang tumbuhnya cita-cita tanpa batas pada diri mereka.

Sifat dan sikap dasar dari gerakan ini adalah sukarela, bebas kepentingan, siap belajar, terjun langsung, siap bersilaturahmi dan tulus.  Yang terpenting adalah ini semua dilakukan tanpa dana.  Kalaupun ada biaya, itu hanyalah iuran kecil saja dari para relawan untuk sekedar membeli snack atau perlengkapan mengajar.

Alhamdulillah permohonan saya dikabulkan dan saya pun bergabung bersama 300-an orang relawan untuk mengajar di 25 SD yang tersebar di seluruh Kotamadya dan Kabupaten Bogor.  Kami dibagi menjadi beberapa kelompok.  Saya tergabung dalam kelompok 20, yang beranggotakan delapan orang.  Kami mendapat tugas untuk mengajar di SDN Situ Gede 1.

SDN Situ Gede 1 terletak di Kecamatan Bogor Barat, Kotamadya Bogor.  Sekitar satu kilometer dari terminal bis Bubulak.  Ada 7 rombongan belajar di sekolah ini.  Kelas 1 sampai dengan kelas 6.  Kelas lima ada paralel 2 kelas, 5A dan 5B.  Rata-rata murid dalam satu kelas antara 20 – 35 orang murid.  Menurut kepala sekolah, sebagian murid berasal dari keluarga dengan mata pencaharian buruh serabutan dan berpenghasilan tidak tetap.

Berikut adalah gambaran kurang lebih kondisi fisik bangunan SDN Situ Gede tempat kami mengajar :

KI1
(photo by @nh18)

.

SD ini terletak di tengah perumahan penduduk yang relatif padat.  Jarak sekolah dengan rumah penduduk hanya selebar gang saja.

KI2
(photo by @nh18)
KI2b
(photo by @nh18)

.

Dapat dilihat dalam foto berikut pintu gerbang masuk sekolah :

KI2c
(photo by Fanny, KIB 2 Kel 20)

.

Foto-foto berikut adalah situasi kelas dan ruang guru …
(FYI : ruang kelas hanya ada 3 lokal saja, dibagi penggunaannya untuk 7 rombongan belajar.  Sehingga mau tidak mau ada kelas yang masuk siang hari).

KI3
(photo by @nh18)
KI4
(photo by @nh18)
KI4b
(photo by Fanny, Kel 20 KIB 2)
KI5
(photo by @nh18)

(Lihat meja di bagian ujung koridor ? … itu adalah kantinnya !)

.

Ini adalah kondisi toiletnya …

KI6
(photo by @nh18)

Jadi begitulah sodara-sodara sekalian …
Beberapa foto yang menggambarkan kurang lebih kondisi sekolah dasar, tempat dimana kami akan mengajar.
(Catatan : Ini lokasinya di Kotamadya Bogor, hanya 30 menit saja dari Ibukota Negara )

Bagaimana persiapan dan juga situasi kelas pada saat hari Inspirasi 9 September 2014.

Akan saya tuliskan di bagian berikutnya !

Tet teret tereeeetttt … Wuuuuzzzzz !!!

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.Bagian 2 : KIB 2 : Hari Inspirasi (coming soon)

.

MISTERI GALON AIR MINERAL

Sudah sejak dua minggu sebelum lebaran, kami tidak lagi mempunyai asisten rumah tangga.  Si mbak pulang kampung dan tidak kembali lagi.  Saat ini kami masih mencoba berusaha untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga secara bersama-sama.  Tanpa bantuan asisten.  Kami membagi tugas.  Setrika dan cuci-cuci baju adalah salah satu tugas saya kini.  (Hot and Wet … sodara-sodara …yummy …)

Namun saya tidak akan bercerita mengenai setrika dan cuci-cuci.  Kali ini saya akan bercerita mengenai perubahan kecil yang terjadi ketika si Mbak tidak lagi bekerja di rumah kami.  Salah satunya adalah mengenai konsumsi galon air mineral.

Ada apa dengan galon air mineral ?

Saya merasa, setelah si mbak tidak ada konsumsi air mineral malah justru semakin banyak.  Kami jadi semakin sering menelpon kios bang Udin, penjual air mineral dan gas langganan kami, untuk mengirim air mineral galon ke rumah.

Hal ini cukup mengherankan saya.  Soalnya kan … anggota rumah berkurang satu namun mengapa penggunaan air mineral galon justru jadi semakin banyak … ada apa ini ?

Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, akhirnya saya tau penyebabnya.  Saya menemukan potensi penyebab mengapa air galon cepat habis, walaupun penghuni rumah berkurang satu.

Apa potensi penyebabnya Om ?

Penyebabnya adalah terdapat penggunaan air mineral galon yang di luar kebiasaan.  Bunda ternyata juga menggunakan air mineral galon dari dispenser tersebut, untuk memasak nasi.  Memang ketika mencuci beras, air yang digunakan masih air keran biasa. Namun pada saat bilasan terakhir Bunda sengaja menggunakan air mineral galon untuk mencuci beras.  Lalu dilanjut dengan menanak,  merendam beras dengan menggunakan air mineral yang dilebihkan satu ruas jari seperti pada umumnya ibu-ibu memasak.  Pantas saja.  Bisa dimengerti mengapa air galon relatif menjadi lebih cepat habis.

Mengapa Bunda melakukan hal seperti itu ?

Bunda ingin yang higienis.  Memastikan segala sesuatu yang akan dikonsumsi oleh keluarganya itu sehat dan baik.  Walaupun bagi orang lain mungkin terlihat agak sedikit terlihat berlebihan ya ?  Sebab air yang dimasak di rice cooker/magic jar kan nantinya juga akan mendidih, otomatis bebas dari kuman juga.  Tapi tetap saja … namanya juga Bunda … rasanya nggak afdhol kalau ngerendem beras tidak dengan air mineral dari galon. 

So … misteri galon air mineral yang cepat habis … terkuak sudah … (halah lebay lu Om …)

Hahaha …

Saya tidak tau apa ibu-ibu atau emak-emak yang lain juga melakukan hal yang sama ?
Memasak beras (atau masakan yang lain) dengan menggunakan air mineral ?
Cerita ya Mak … !

P4022513rev
sekedar ilustrasi saja

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

ALAM TAKAMBANG JADI GURU

Kawan saya, sang Belalang Cerewet saat ini sedang mengadakan sebuah perhelatan yang bertajuk “Sadar Hati”.   Sadar Hati adalah akronim dari bahaSA DAeRah HArus diminaTI.  Ini ide yang sangat unik dan menarik, sekaligus mempunyai tujuan yang menurut saya sangat baik.  Kelihatannya sederhana, namun sesungguhnya upaya ini merupakan upaya penting yang patut didukung.  Sebuah upaya untuk mengenal kembali bahasa daerah, yang dalam hal ini dimulai dari mengenal pepatah, ungkapan, peribahasa, bidal atau adagium.

(Dalam kontes ini Om Belalang meminta kita untuk menulis pepatah dalam bahasa daerah, lalu kemudian kita diminta untuk menjelaskan arti pepatah tersebut, berikut ilustrasi contohnya)

Berbicara mengenai pepatah, maka perhatian kita tentu akan tertuju kepada salah satu suku bangsa di negara kita, yaitu suku Minang.  Suku Minang memang sangat terkenal dengan banyaknya pepatah, adagium atau bidal yang berima indah dan bermakna dalam.  Penggunaan pepatah memang merupakan bagian tak terpisahkan dalam budaya suku Minang, terutama saat melaksanakan pertemuan-pertemuan adat, acara-acara resmi juga perhelelatan-perhelatan acara keluarga.  Tak bisa dipungkiri, seorang tokoh panutan dalam adat masyarakat Minang, wibawanya akan lebih dihormati oleh masyarakat sekitarnya jika dia pandai dan piawai dalam merangkai pepatah dalam pidato sambutan atau tutur kata bijaknya.

Saya memang bukan orang Minang asli.  Saya berasal dari suku Jawa.  Istri sayalah yang asli Minang.  Itu sebabnya saya mengetahui bagaimana tetua-tetua adat, ninik mamak di bumi Minang itu sangat pandai merangkai kata, dalam acara resmi, acara adat dan sebagainya.

Salah satu pepatah petuah yang paling saya suka adalah … “ALAM TAKAMBANG JADI GURU”

Saya rasa sangat mudah menerka arti kalimat pepatah tersebut.  Banyak kemiripan antara bahasa Minang dan bahasa Indonesia. “Alam takambang jadi guru” arti harfiahnya kurang lebih adalah : (fenomena) alam yang terbentang luas (bisa) menjadi guru.

Saya memaknai “alam” ini bukan saja berarti lingkungan sekitar kita.  Bukan berarti flora, fauna, pantai, gunung, hutan saja.  Alam disini juga mencakup manusia yang ada di dalamnya beserta budi daya / teknologi yang diciptakannya.

Budaya Minang mengajarkan, bahwa pada hakikatnya kita harus bisa dan mau belajar dari siapa saja, belajar dari apa saja.  Masyarakat Minang sudah terkenal sebagai suku perantau yang sangat tangguh.  Salah satu kompetensi penting yang harus dipunyai oleh para perantau tangguh adalah kemampuan untuk beradaptasi.  Dan kemampuan adaptasi itu salah satu sendi utamanya adalah semangat dan keinginan yang terus menerus untuk belajar dari lingkungan dan alam sekitarnya.   Inilah kunci sukses perantau-perantau Minang.

And I tell you a secret !

Salah satu kiat sukses perantau Minang.  Coba anda perhatikan, di setiap kota dimana mereka tinggal.  Mereka pasti mempunyai perkumpulan atau semacam ikatan keluarga Minang di perantauan.  Mereka sekali sekala pasti mengadakan acara pertemuan. Entah untuk halal bi halal. Sehari “malapeh taragak” (melepas rindu), ataupun untuk sekedar arisan keluarga.  Dan jika saya perhatikan, acara wajib yang biasanya selalu ada di dalam pertemuan tersebut adalah “sharing session”.  Saling berbagi.  Baik bersifat formal dalam bentuk presentasi.  Maupun non formal dalam bentuk diskusi-diskusi kecil.  Mereka yang sudah berhasil pasti berbagi kiat-kiat pada yang masih belum berhasil.  Mereka yang mempunyai wawasan luas pasti akan membagi ilmunya pada mereka yang baru mulai berniaga.  Mereka senantiasa tidak malu untuk bertanya pada mereka yang lebih tau.  Dan yang lebih tau pun dengan senang hati membagi apa yang mereka tau kepada rekan-rekannya.  Semakin banyak yang mereka sharingkan, … semakin banyak petuah yang mereka bagikan … akan semakin dihormatilah orang tersebut.

Saya sering mengantar istri datang ke acara pertemuan halal bi halal atau pertemuan berkala ikatan keluarga Minang yang ada di Jabodetabek.  Dan saya selalu kagum dengan cara mereka mengejawantahkan petuah “Alam Takambang Jadi Guru” ini. Bagaimana segenap alam semesta dan seisinya ini dijadikan sarana untuk belajar. Mereka selalu mengamati dan belajar dari fenomena alam sekitar … termasuk pada manusia di sekelilingnya.  Di tempat mereka tinggal.

Alam takambang jadi guru, … sebuah sikap hidup perantau sejati.

Sikap hidup yang menuntut kemampuan kompetensi adaptasi yang selalu mau belajar, tangguh dan luwes.
Sikap-sikap masyarakat Minang yang sangat saya kagumi.

(tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk saudara-saudara saya yang berasal dari suku Minang) (juga tentunya untuk Istri saya tercinta … yang asli Minang)

 

Salam saya

(Saya biasa dipanggil Urang Sumando oleh sanak sahabat Minang)

adat

Note :
Jika ada pengertian saya yang salah … atau kurang pas … saya mohon maaf.
Mohon dibetulkan yaaa …

 

“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati”

banner