KEREWENG

.
Ini masih tentang serba-serbi acara pernikahan.

Awalnya saya mengira kata kereweng itu hanya ada dalam kosakata bahasa daerah Jawa saja.  Tetapi setelah saya check lebih lanjut, ternyata kata kereweng itu tercantum juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).  Berarti kereweng memang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia.

Menurut KBBI kereweng adalah pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (seperti kuali, genting)”.

.

Lalu ada apa dengan kereweng ?
Kereweng ini dipakai pada salah satu prosesi adat perkawinan Jawa yang disebut “dodol dawet”.  Jualan Cendol.

Sehari sebelum akad nikah, mempelai wanita akan melakukan acara siraman.  Siraman dilakukan oleh 9 orang sesepuh atau keluarga, secara bergantian.  Setelah mempelai wanita selesai melakukan siraman, acara dilanjutkan dengan “dodol dawet” – jualan cendol.   Acara jualan cendol ini dilakukan oleh orang tua mempelai wanita, Ayah dan Ibu.  Ayah memayungi, Ibu yang meladeni pembeli. 

Cara membelinya bagaimana ?
Naaahh cara membelinya itu ya dengan menggunakan “kereweng” tadi.  Pecahan genting dari tanah liat.  Kereweng berfungsi sebagai alat pembayarannya.  Jaman dulu para tamu akan segera heboh mencari pecahan genting / kuali / gerabah yang ada di seputaran rumah atau halaman.  Pecahan genting tersebut diberikan kepada Ibu mempelai wanita untuk ditukar dengan segelas dawet.  Tetapi dengan berkembangnya waktu, kereweng sudah beralih rupa.  Masih tetap terbuat dari tanah liat, tetapi bentuknya sudah bukan pecahan lagi melainkan sudah berbentuk koin.  Lebih modern.  Dicetak khusus.  Dan dibagikan kepada para tamu yang datang, untuk alat pembeli dawet. 

Ini penampakan kereweng modern tersebut :

P2182158

tercetak kata-kata : “Mohon Doa Restu – Terima Kasih”

.

Lalu apa arti prosesi adat tersebut ?
Saya mencoba browsing ke beberapa tempat.  Dari sebuah situs, saya berhasil mendapatkan makna dari perlambang-perlambang itu.  Dawet atau cendol itu bentuknya bulat-bulat, ini melambangkan kebulatan orang tua mempelai untuk menjodohkan anaknya.  Sementara kereweng itu melambangkan tanah, bahwa kehidupan manusia itu berasal dari bumi.  Dan aktifitas dodol dawet – jual cendol yang dilakukan oleh orang tua mempelai ini juga mengajarkan tentang bagaimana saling membantu dalam mencari nafkah sebagai suami istri. (sumber : http://www.srirenggosadono.com)

(Jika ada teman-teman yang mau menambahkan makna atau arti prosesi tersebut ? silahkan ya !)

.

Jadi begitulah …
Kereweng pun sekarang sudah dimodifikasi.  Dari pecahan genting belaka, menjadi sebuah koin cantik yang terbuat dari tanah liat.  Saya pujikan mereka yang berhasil menangkap peluang bisnis ini.  Bisnis pembuatan kereweng khusus untuk prosesi adat siraman … dodol dawet.

Apa teman-teman pernah membeli dawet dengan kereweng ?
Atau mungkin prosesi perkawinan teman-teman ada acara dodol dawetnya ?
Boleh cerita ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

SUVENIR PERNIKAHAN

Sabtu, 15 Februari 2014

Saya menghadiri undangan acara akad dan resepsi pernikahan keponakan saya.  Yang menikah adalah putri bungsu dari Mbak Nuk, kakak sepupu saya.  Akad nikah diselenggarakan di sebuah mesjid, di dekat rumah mereka.  Resepsinya juga diadakan di jalan depan rumah dengan mendirikan tenda.

Sederhana tetapi meriah.  Banyak tamu yang datang.

Saya tertarik bercerita mengenai suvenir pernikahannya.  Suvenir pernikahan mereka ada dua jenis.  Yang pertama sarung handphone dan jenis yang lain adalah bros.  Semua berupa kerajinan “rajutan”.  Memakai benang warna warni.

Yang membuatnya istimewa adalah suvenir ini dibuat sendiri.  Tidak dibeli di event organizer, tidak memesan pada pengrajin-pengusaha souvenir.  Tidak pula membeli barang yang sudah jadi di pasar.  Ya … mereka membuat sendiri suvenir pernikahan ini.

Siapa yang membuat ?
Yang membuat adalah Ibunda dari mempelai putri,  mbak Nuk kakak Sepupu saya.  Mbak Nuk sendirilah yang merajut semua suvenir pernikahan untuk putri tercintanya ini.  Luar biasa bukan ?.  Memang tidak semuanya, dia yang mengerjakan.  Saya rasa bagian untuk menempel peniti pada bros, memasukkannya ke dalam plastik, lalu membubuhkan kartu ucapan dan sebagainya, sepertinya dibantu oleh kerabat-kerabat lainnya.

Saya dengar dari penuturan salah satu keluarga dekat, mbak Nuk mempersiapkan suvenir ini sudah sejak lama.  Sudah sejak berbulan-bulan yang lalu.  Saat pertama kali kedua calon mempelai tersebut memutuskan untuk melangsungkan pernikahan.  Seiring dengan persiapan-persiapan lainnya.  Mbak Nuk pun mulai membuat kerajinan tangan ini.  Satu per satu.

Kurang lebih ini penampakan suvenir tersebut (saya ambil contoh yang bros saja)

bros

Mungkin bagi teman-teman lain, ini merupakan hal yang sudah biasa.

Namun bagi saya pribadi, ini adalah hal yang luar biasa.  Saya belum pernah menemukan resepsi pernikahan, yang suvenirnya dibuat sendiri oleh ibunda mempelai.  Dirajut sendiri … satu persatu.

Wujud kecintaan seorang ibu … Untuk putri bungsunya.

Saya berdoa, semoga mereka selalu bahagia

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

BTW :
Apa teman-teman pernah melihat resepsi pernikahan yang dibuat sendiri ? oleh kerabat – teman – keluarga mempelai ?
Saya jadi ingat teman-teman blogger saya yang “crafter” : Ibu Dey di Parompong dan Mbak Susi di Jepara.

Akankah mereka nanti membuat sendiri suvenir pernikahan untuk Aa Ujan, dan Destin – Binbin, anak-anak mereka ? (masih lama kali ooommm …)

.

SMART FACE

Ini sebuah kuis yang ditayangkan di salah satu televisi swasta.  Saya baru sekali melihat.  Kuis ini sepertinya masih relatif baru.

Menurut saya konsep kuis ini menarik.

Acara ini dilakukan di luar studio.  Host akan berkeliling di tempat keramaian, bisa di mall, tempat rekreasi, dan sebagainya.  Lalu Host “menangkap” satu orang peserta kuis, dari pengunjung yang ada di tempat keramaian tersebut.  Host akan menanyakan lima pertanyaan secara bertahap.  Hadiahnya akan meningkat terus.  Misalnya pertanyaan pertama seharga 50 ribu.  Jika betul menjawab maka beralih ke pertanyaan kedua bernilai 150 ribu dan seterusnya dan seterusnya.  Sampai akhirnya pertanyaan ke lima akan dihargai satu juta rupiah.

Yang unik adalah … yang menjawab pertanyaan justru bukan si peserta yang ditangkap host tersebut.  Si peserta justru diminta untuk memilih orang lain, yang akan bertugas untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Sehingga tantangannya adalah bagaimana memilih orang lain yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut !

Si peserta harus memilih orang lain yang sesuai dan cocok dengan tipe pertanyaannya.  Sehingga kemungkinan untuk menjawab pertanyaan dengan benar, menjadi lebih besar

Contoh yang paling mudah adalah jika pertanyaannya mengenai “Siapa yang menyanyikan lagu “Teluk Bayur” ?  Maka sebaiknya si peserta memilih orang yang sudah cukup berumur, yang kira-kira ketika jaman lagu tersebut ngetop dia masih muda usia, dan masih bisa mengingat siapa penyanyinya. 

Jangan sampai si peserta memilih ABG bau kencur anak kemarin sore, kemungkinan besar mereka tidak tau jawabannya.

Sebaliknya ketika akan menjawab pertanyaan “Siapa saja anggota Coboy Junior” ?  Maka sebaiknya jangan memilih orang-orang seumuran saya.  Itu adalah suatu hal yang bodoh tentunya.  (Walaupun saya tau jawabannya.  Tapi jangan ambil resiko deh, emang berapa banyak sih orang yang gaul dan smart seperti saya ? Jarang kan ?) (Preeettt – cuih) (Om-om minta diludahin)

Bagaimana kalau pertanyaannya berbau ilmiah ? “Siapa penemu mesin uap ?” maka sebaiknya memilih orang yang terlihat pintar.  Rada cupu, berkacamata, gerakannya canggung, rambutnya awut-awutan.  Warna pakaiannya nggak matching.  Biasanya orang yang model begini pintarnya nggak ketulungan.  (Biasanyaaaaa …)

Atau menjawab pertanyaan “Sirkuit balap mana yang tikungannya paling banyak ?”  Maka peserta kuis akan memilih anak muda tipe-tipe tertentu, dengan potongan rambut ala “Pompadour”.  Model-model bayker ay lop yu gitu deeehhh …

dan seterusnya … dan seterusnya …

Sekali lagi … letak menariknya kuis ini adalah ..

Bagaimana memilih orang yang tepat, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tertentu !

Anda sudah pernah nonton kuisnya ?

(sumpah ini bukan postingan berbayar, bukan pula postingan kewajiban balas budi)
(sehingga kalau anda tanya, kuis ini tayang di televisi mana ? saya tidak akan menjawabnya )
(wani pirroooo …)

Salam saya

nh.

.

.

.

.

RANTANGAN

Mungkin lebih tepatnya jasa “katering”.

“Rantangan” pengertiannya adalah menggunakan jasa katering untuk mensuplai makanan kita sehari-hari.  Biasanya jasa ini digunakan oleh para karyawan yang masih bujangan, keluarga muda atau mahasiswa yang kos-kosan.

Ada suatu masa dimana saya pernah langganan rantangan. 

Tahun 1991
Waktu itu saya baru dipindah dari Jakarta ke Surabaya.  Masa awal-awal penempatan kerja saya.  Masih bujangan.  Masing ranum-ranumnya.  Di Surabaya ini saya indekos di jalan Tambang Boyo.  Dekat Universitas Airlangga.  Bisa ditebak, bahwa teman-teman kos saya pada umumnya adalah mahasiswa universitas tersebut.

Biaya indekosnya waktu itu hanya untuk sewa kamar dan cuci pakaian saja.  Tidak termasuk makan.  Sehingga untuk makan, kita gerilya.  Usaha sendiri.  Ada yang makan di luar.  Ada pula yang pesan rantangan dari perusahaan katering.  Kalau makan di luar, memang kita bisa menentukan mau makan apa kita hari ini, selera bisa kita atur terserah kita.  Tetapi kelemahannya adalah kadang kita malas keluar-keluar lagi, sudah capek pulang kerja.  Biayanya pun pasti mahal.  Belum transportnya.

Mengingat itu semua saya putuskan, untuk memesan rantangan saja.  Saya ikut cara yang digunakan oleh adik-adik mahasiswa yang indekos disana.  Perusahaan kateringnya pun saya menggunakan yang selama ini digunakan oleh para mahasiswa tersebut.  Biar praktis.

Perbedaannya hanyalah, jika adik-adik mahasiswa ini langganan rantangannya 2 x sehari, makan siang dan makan malam.  Kalau saya hanya diantar untuk makan malam saja.  Hanya rantangan 1 kali sehari.

Bentuk rantangannya kira-kira seperti ini :

rantang

(rantang tiga susun yang ada tutupnya)

Terbuat dari alumunium.  Ada tiga rantang dalam satu paketnya.

Paling bawah isinya adalah nasi.  Kemudian rantang kedua di atasnya itu biasanya berisi sayur atau gulai atau lauk yang berkuah dan bersantan lainnya.  Dan yang paling atas adalah untuk lauknya.  Bisa ikan, ayam, tempe, telor atau tahu dan yang sejenisnya.  Kadang-kadang ada kerupuknya juga.  Buah ? saya lupa.  Ada nggak ya dulu itu ? (sudah lama sekali soalnya …)

Bagaimana dengan menunya ?
Menunya sangat bervariasi.  Yang saya suka dari rantangan yang kami gunakan waktu itu adalah mereka relatif mempunyai kombinasi menu yang beragam sehingga tidak bosan.  Rasanya pun “endang bambang”.  Enak banget.  Masakan Indonesia – Cina – Padang – Barat dsb di selang seling.

Itu yang pertama …

Yang kedua adalah sekitar tahun 1998 – 1999 an …
Saya sudah dipindah ke Jakarta lagi.  Ke kantor pusat.   Kantor kami waktu itu menyediakan makanan katering untuk seluruh karyawan.  Itu sesuai dengan filosofi dari perusahaan kami, bahwa makan siang itu harus dilakukan di kantor, bersama-sama seluruh karyawan.  Biar kompak.  Untuk yang kedua ini bentuk rantangannya rada berbeda.

Bentuknya kira-kira seperti ini :

rantang 2

rantang yang agak modern

Rantangnya terbuat dari plastik.  Hanya terdiri dari satu tingkat, tetapi ada tempat-tempatnya.

Yang di tengah bulat itu adalah tempat nasi.  Kemudian empat tempat bersekat-sekat di sekelilingnya itu adalah untuk sayur, lauk, buah dan sebagainya.  (Mirip tempat kue lebaran ya ?)

Namun entah ini hanya perasaan saya saja atau bagaimana.  Rantangan plastik dari katering yang waktu itu disewa perusahaan kami, rasanya kok kurang “nyus” ya.  Kurang enak.  Variasi menunya juga tidak semenarik waktu saya indekost di Surabaya waktu itu.  Mungkin ini karena pengaruh “bau plastik”.  Saya kurang begitu menyukai makanan yang diwadahi plastik. Apa lagi kalau plastiknya masih bau sabun cuci … hahaha.

I am not kidding. Tempat rantangan yang terbuat dari plastik ini memang punya kelemahan.  Kelemahannya adalah : aromanya bisa mengkontaminasi aroma masakan.  Mungkin karena nasi panas atau sayur panas yang di tuangkan ke wadah plastik tersebut, bisa menyebabkan keluarnya aroma tertentu.  Entah aroma plastik, maupun aroma sabun cuci piring.  Dan ini menurunkan “libido” makan saya.

Jadi begitulah …
Intinya adalah bahwa ada suatu masa dimana saya menikmati makanan dari jasa katering.  Rantangan. 
Dan ini punya seni dan romantikanya tersendiri.  Seni adaptasi rasa.  Romantika mengelola selera.  (ciya-ciya-ciya)

.

BTW
Apa teman-teman pernah makan “rantangan” ?
Menggunakan jasa katering untuk konsumsi makanan sehari-hari ?
Atau mungkin sekarang justru teman-teman berusaha di industri katering ?

Sharing ya ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

ONE DAY, TEN BLOGS

Tentu para blogger sekalian sering mendengar program yang namanya one day, one post.  Atau program 30 hari menulis non stop.  Sebuah program yang menantang para pesertanya untuk memposting tulisan baru setiap harinya.  Satu hari satu postingan baru.

Program ini sangat saya pujikan.  Ini memerlukan komitmen dan endurance yang kuat dari para blogger yang mengikutinya, untuk bisa menulis dan mengembangkan ide secara terus menerus.  Setiap hari.  Yang mengikuti program ini saya lihat, lumayan cukup banyak.

Di dalam hati kecil saya, saya berfikir.  Jika semua nanti menulis satu postingan setiap hari ?  Siapa yang akan membaca ya ?  Saya takut karena energi dan waktu teman-teman sudah habis untuk menulis, maka tak ada lagi waktu dan energi yang tersisa untuk membaca postingan temannya.  (mudah-mudahan sih masih akan selalu ada tersisa waktu untuk blog walking ya …?)

Harus ada pihak yang mengkhususkan diri untuk membaca.  Untuk itu, biarlah saya bagian yang membaca saja ya (hahaha). 

King Arthur, pernah berkata : “In serving each other … we become free” (the Knight’s of the Round Table).

Saya mencanangkan dalam hati, saya bertekad akan membaca paling tidak sepuluh blog milik sepuluh teman-teman maya saya.  One day ten blogs.  Setiap hari saya akan berusaha untuk “blog walking” berkunjung ke sepuluh blog teman-teman dan membaca postingan mereka dengan seksama.  Jika saya mengerti topiknya, maka saya akan berusaha memberikan komentar disana.

Asumsi saya jika koneksi internet bagus, maka paling tidak saya membutuhkan waktu untuk membaca satu postingan rata-rata antara 2 – 3 menit.  Jika ditambah dengan memberikan komentar ya kurang lebih 5 – 6 menit lah.  (mudah-mudahan tidak banyak cap cay)(kalo ada cap cay bisa lebih lama lagi nih).  Sehingga total waktu yang saya dedikasikan untuk blog walking menjadi 10 x 6 menit = 60 menit.  Satu jam, saya rasa waktu yang reasonable didedikasikan untuk membaca karya teman-teman.  Ini minimal nih.

Sekali lagi jika semuanya bertekad menulis ? saya takut tidak ada yang sempat membaca karya temannya ?  Maka perkenankan saya mengambil peran sebagai pihak yang membaca postingan teman-teman …

So Nang …

Satu hari membaca sepuluh blog … !  Ok ?
dimulai dari … Sekarang !!!

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

(saya mohon izin … jika ternyata saya sudah membaca blog teman-teman dan saya tidak memberikan komentar … maka saya akan memberikan tanda-tanda tertentu di kolom komentar teman)(entah tanda “read” atau “sudah dibaca” atau “NH18 sudah kesini”)