Diposkan pada ETIKA, RENUNGAN, TRAVELLING

ONLINE SHOPPING

Berbelanja dalam jaringan.

Bertransaksi dalam jaringan

Untuk urusan yang satu ini saya adalah orang yang dulunya sangat konservatif.  Saya pernah begitu merasa ragu-ragu dan takut untuk melakukan transaksi di dalam jaringan.  Online transaction.

Anda boleh percaya boleh tidak, saya baru mengaktifkan fasilitas mobile banking saya, setelah (hampir) semua kawan-kawan/orang di sekitar saya menggunakannya.  Saya paling belakang menggunakannya.  Laggard.  Demikian juga halnya dengan fasilitas bertransaksi dalam jaringan lainnya.

Entah apa yang menyebabkan saya begitu terlambat mengadopsi perkembangan teknologi ini.  Mungkin rasa ketidak percayaan saya pada keamanan akun yang menyebabkan saya enggan bertransaksi lewat jaringan.

Namun zaman menuntut saya untuk berubah.  Saya “dipaksa” (setengah digoda juga) oleh keadaan untuk berani menggunakan kemajuan teknologi informasi ini.  Seingat saya, ini diawali dengan mulai beraninya saya membuka mobile banking.  Dulu awalnya hanya untuk sekedar memonitor saldo dan mutasi saja. 

Lalu berkembang ke pembelian tiket kereta api.  Saya adalah seorang yang sangat suka bepergian menggunakan kereta api.  Dan saya memberanikan diri untuk membeli tiket melalui sebuah aplikasi travelling.  Mulai saat itu persepsi saya terhadap transaksi online mulai sedikit berubah … eh kok gampang ya? eh kok Alhamdulillah aman ya? eh kok praktis banget ya? dan seribu satu ah eh ah eh lainnya …

Dan akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai sporadis (tepatnya norak) aktif bertransaksi dan berbelanja lewat online.  Kalap (hahaha).  Di gawai telpon genggam pintar saya terinstall beberapa aplikasi bertransaksi dalam jaringan.

Sebut saja portal toko belanja semacam Lazada, Matahari, Shopee, Bukalapak, dan Tokopedia ada semua.  Belum lagi mobile banking dari dua bank yang saya gunakan, BCA dan Mandiri.

Aplikasi untuk kemudahan perjalanan pun ada.  Traveloka, KAI Access, Tiketdotcom, Gojek dan Grab.

Ada juga aplikasi dompet-dompet elektronik (yang sumpah menguras dompet asli)(hahaha).  Ada Dana, OVO, MyValue.  Daannn … opkos … aplikasi tiket nonton dooonnnggg … m-Tix Cinema 21.

Ya … ini lagi masa-masanya norak banget … beli martabak pun pake online.  Kadang ada promo nya lho cyiiinnntt.

.

Tinggal sekarang masalahnya adalah bagaimana saya mengerem nafsu untuk bela beli ini itu, barang-barang yang, jika dipikirkan kembali, sesungguhnya kurang saya butuhkan.  Semoga ke norak-an ini segera berakhir.

Tolong kata-katai saya sehingga euphoria saya ini segera berhenti … dan tidak norak lagi … hahaha

Salam saya

 

Diposkan pada ETIKA, PERTUNJUKAN HARI INI

SATPAM DAN TUKANG GADO-GADO

Saya ini suka sekali makan gado-gado.  Saya punya langganan tukang gado-gado yang gerobaknya sering mangkal di dekat pos tiga satpam perumahan kami.  Si abang itu hanya bermodal gerobak, dia memang sengaja tidak membuat tenda di sana.

Suatu hari saya membeli gado-gado di sana.  Ketika melihat wajah saya, si abang tukang gado-gado pasti sudah tau apa yang harus diraciknya.  Seporsi gado-gado, pake lontong, cabe rawitnya satu, parenya sedikit, timunnya sedikit, tahunya banyak, dibungkus.  Si abang segera beraksi, saya pun menunggu dengan sabar dan khusyu.

Beberapa saat si tukang gado-gado mengulek bumbu dan meracik bahan, tiba-tiba datanglah seorang satpam.  Dia berkata. (dengan lagu yang “a bit bossy” khas satpam)

“Bang bikin satu ya, entar kirim ke pos satu yak !” sambil memberikan selembar uang lima ribu rupiah.  Lalu dia kembali bergegas mengendarai motornya ke pos satu, tempat dia berjaga, kira-kira 300 meter dari tempat jualan gado-gado ini. (FYI : di perumahan kami ini memang ada beberapa pos satpam, tersebar di beberapa penjuru pintu masuk ke kompleks)

Hmmm … dahi saya berkerut. Mengapa berkerut ? Sebab harga gado-gado itu satu porsi biasanya adalah Rp. 9000.  Lha ini kok dia cuma ngasih duit Rp. 5000 doang.  Waaahhh si abang “dipalakin” nih sama doktorandus satpam.  Urat kepo saya langsung tersentil.  Saya pun bertanya :

“Bang … emang satpam-satpam disini suka malakin pedagang ya. Kok mereka bayar cuma 5000 doang, harga gado-gadonya kan 9000. Abang rugi dong ?” (pertanyaan yang kelihatan sangat reformis bin kritis macam reporter TV sotoy anak kemarin sore itu …)

Lalu apa jawaban si Abang ?
“Yaaa nggak papa lah Pak … itung-itung ini sebagai ongkos sewa tempat saya mangkal disini.  Ini Alhamdulillah saya masih dapet 5000.  Coba kalau saya disuruh bayar sewa lapak, seperti di tempat-tempat atau perumahan lain, waahh bisa tekor saya ?”

Ya abang tersebut memang gerobak gado-gadonya hampir setiap hari mangkal di dekat pos tiga satpam itu, tempatnya seperti “plaza” sehingga relatif enak untuk orang nongkrong makan disana.  Teduh, relatif dekat dan strategis bagi penghuni kompleks perumahan yang ingin membawa pulang.  Tempat parkirnya pun relatif luas.

Di perumahan kami ini penjagaannya lumayan ketat.  Tidak sembarang pedagang boleh masuk.  Pedagang harus punya rompi dan izin khusus untuk bisa “ngider” di kompleks perumahan ini.  Tukang sayur, tukang sate, tukang roti dan beberapa tukang-tukang jualan lain harus menyerahkan fotocopy ktp dan tanda pengenal lain sebelum mereka beroperasi.  Rupanya si abang tukang gado-gado ini memilih untuk stay di satu tempat saja.  Mungkin ini lebih menguntungkan dibanding “ngider” di dalam perumahan.   Itu sebabnya dia memarkir gerobaknya di plaza kecil dekat pos tiga satpam.  Sedikit di luar area perumahan.  Dengan demikian dia tidak perlu pake rompi khusus dan fotocopy ktp, karena dia tidak masuk areal perumahan.

Tapi ya itu tadi … dia memasang harga 5000 khusus untuk para satpam di perumahan kami.  Hitung-hitung sebagai biaya … “Sewa Tempat”.

Lama saya berfikir …

Adilkah ini ? Apakah para Satpam tersebut telah berlaku semena-mena pada pedagang gado-gado ? Apakah abang rugi ? Dan apakah-apakah lainnya …

Namun yang jelas si abang tukang gado-gado menyatakan bahwa dirinya ikhlas-ikhlas saja (hestek akurapopo). Bahkan dia berkata, dia sendirilah yang menetapkan harga 5000 rupiah.  Harga spesial untuk para Satpam, sebagai ganti “semacam sewa tempat”

They are dealing with their own way !

Saya hanya berharap, ini adalah perjanjian yang ikhlas dan saling menguntungkan kedua belah pihak.  Dan sebagai warga disini saya juga berharap mereka bisa senantiasa menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban.  Mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik.

Bagaimana dengan di lingkungan tempat anda ?
Adakah hal “semacam” ini ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

Diposkan pada ETIKA

DI BILIK ATM

.
Bagi mereka yang sering mengambil uang atau bertransaksi lewat ATM, mungkin tidak asing lagi dengan beberapa “pemandangan” yang didemonstrasikan oleh para pengguna mesin ajaib ini.

Mari kita fokuskan pada jenis ATM yang mempunyai bilik, yang berdinding kaca itu.

Maafkan keusilan saya, namun jujur saja, saya suka kepo memperhatikan apa yang mereka lakukan di dalam sana.  Dan berikut ini adalah tiga perilaku “antik” yang sempat saya perhatikan

.

1. Telpon-an dan/atau SMS-an
Ini yang paling sering saya jumpai.  Saya bisa mengerti, mungkin mereka ingin mengkonfirmasi terlebih dahulu pada mitra bisnisnya,  ingin bertanya mengenai nomer rekening dari lawan bicaranya atau yang semacamnya.  Tapi mbok ya o hal ini dipersiapkan sejak awal.  Sehingga ketika masuk bilik ATM, tinggal langsung eksekusi.  Nggak usah pake na na nu nu … telepon sana telepon sini.  SMS sana … sms sini … menyebalkan.  Yang lebih menyesakkan lagi adalah … kalau ternyata telfon atau SMSnya ini tidak ada hubungannya dengan transaksi.  Haha-hihi dulu lama di bilik ATM, nggak sadar antrian sudah bererot sampai panjang ke belakang …  (udah makan sayang … ? kamu lagi dimana … ? mis yu hanih … )(preeettt )

.

2. Merokok
Ini yang paling menyebalkan.  Tadi waktu di luar mengantri, dia tenang-tenang saja.  Tetapi ketika masuk ke bilik ATM.  Rogoh saku, keluarkan sebatang rokok.  Dan menyalakannya dengan sempurna.  Sebel banget.  Rasanya pengen menampar saja.  Bolak-balik.  Side A – side B.  Ini ruang tertutup Bung.  Sempit dan pakai AC lagi.  Anda tidak mikir … gimana nanti nasib orang setelah anda.  Dan lagi … elu kate bilik ATM ini warteg apah ?  Bisa ngerokok seenaknya ???
Atau ente stres ya ketemu ATM ? kok pake ngerokok segala ?

.

3. Nyisir …
Ini yang paling konyol.  Ya … nyisir dan merapikan rambut.  Sama  seperti yang merokok tadi,  waktu mengantri di luar bilik dia tenang-tenang saja.  Tapi ketika giliran dia masuk ke bilik ATM.  Yang dilakukan pertama kali itu, justru bukan mengambil kartu ATMnya.  Bukan mempersiapkan data-data transferannya.  Tapi malah ambil sisir … lantas cengar-cengir kemayu … nyisir.  Aaarrgghhh … entahlah apa yang dipikirkannya.  Mungkin mereka berprinsip tak ada cermin … Layar ATM pun jadiii …
Dan herannya kenapa mesti nyisir dulu segala coba.  Emang ente mau kencan dengan mesin ATM.  (Kenapa nggak touch up aja sekalian  ???)

.

So jadi demikianlah …
Mudah-mudahan kita semua terhindar dari dampak perilaku ajaib di bilik ATM ini.
Dan mudah-mudahan juga kita semua selalu ingat bahwa menggunakan bilik ATM ini juga ada ungguh-ungguh etikanya.  Paling tidak … jangan sampai tindakan kita tersebut mengganggu kelancaran semuanya.

.

Apa teman-teman ada yang sempat memperhatikan perilaku “aneh” bin “menyebalkan” para pengguna bilik ATM ?  Ada lagi contoh yang lain tak ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Diposkan pada ARTIKEL, ETIKA, NGEBLOG

Sehari Tanpa Gadget : WAKTUNYA SILATURAHMI

image

Ada sebuah topik menggelitik yang digulirkan oleh Triana IyHa Nakho, a.k.a Bundosar.  Topik tersebut membahas “sehari tanpa gadget”.  Sehari tanpa pernak pernik perangkat komunikasi dan elektronik.

Terus terang saja, Saya bukanlah termasuk orang yang “gadget freak”,  yang kemana-mana selalu menggenggam alat komunikasi seperti telepon genggam, tablet ataupun pemutar musik.  Saya bukan tipe pekerja, yang di atas mejanya bertebaran gadget aneka rupa.  Tidak hanya satu, tapi bisa dua, tiga sampai empat.  Mengendarai kendaraan pun demikian, di kupingnya selalu tersemat earphone yang tersambung ke gadget kesayangan.  Bahkan ke WC pun, gadgetnya ikut dibawa.  Tak bisa hidup tanpa gadget.  Dompet boleh ketinggalan, tapi gadget pantang tertinggal.   Sejauh apapun rumah kita, pasti akan ditekadkan untuk balik lagi, khusus mengambil doktorandus gadget tercinta.  Begitu takutnya mati gaya.

Bukan … sekali lagi saya bukan tipe orang yang seperti itu.  Bukan tipe yang suka “nggratil” … “umek” … “nyenuk” … asyik masyuk dengan gadgetnya seperti itu.

Saya pun bukan orang yang mencari uang dengan memanfaatkan piranti telekomunikasi.  Saya tidak melakukan blog monetizing.  Saya juga tidak mempunyai bisnis online, seperti yang dipunyai oleh beberapa sahabat maya saya.  Jadi saya rasa sehari tanpa gadget, bukan suatu persoalan yang besar bagi saya.

.

Kembali ke topik Bundosar … Apa yang akan saya lakukan seharian, tanpa gadget ?
Jawabannya adalah Saya akan melakukan silaturahmi.  Silaturahmi yang sebenar-benarnya silaturahmi.  Bukan silaturahmi dengan diri sendiri,  Bukan sibuk dengan gadget sendiri.

Saya akan mencoba untuk bertemu, berbicara dan berinteraksi secara riil … face to face … dengan orang-orang yang ada di dalam contact list saya.  Tentu tidak semua.  Kita pilih orang-orang yang secara operasional bisa kita capai dengan efektif dan efisien.  Tidak usah banyak-banyak … tiga atau empat orang saya rasa cukup.  Kalau memungkinkan, janjian kop-dar dengan teman-teman saya rasa juga ide yang bagus.  Pendek kata … mari kita lakukan silaturahmi yang sebenar-benarnya silaturahmi. Bukan silaturahmi dengan diri sendiri.  Bukan sibuk dengan gadget sendiri.

Biar enak, kopdarnya kita buat tiga termin saja.  Termin sarapan di pagi hari.  Termin makan siang di waktu istirahat siang.  Dan termin sore hari sepulang dari kantor atau kampus.  Masing-masing dengan orang yang berbeda-beda.  Sekali lagi, tidak usah banyak-banyak, per termin tiga atau empat orang saja saya rasa cukup.  Makannya pun yang sederhana saja, tak usah yang mahal-mahal.

.

Masih ada waktu ? Malam hari ?
Giliran orang rumah yang kita “service”.  Bagaimana kalau anda semua makan ke luar, nongkrong di tukang sate, atau di warung nasi goreng, atau di warung roti bakar.  Tak usah jauh-jauh, yang dekat-dekat rumah saja.  Kalau perlu jalan kaki santai.  Sudah berapa lama anda tidak menikmati jajan, makan malam bersama seluruh keluarga ?  Saya rasa anak – istri/suami anda pasti senang.  Dan ingat … seluruh keluarga (termasuk anda) tidak boleh membawa apa-apa kecuali KTP dan uang secukupnya.  Sebab … kita akan melakukan silaturahmi yang sebenar-benarnya silaturahmi.  Bukan silaturahmi dengan diri sendiri.  Bukan sibuk dengan gadget sendiri

.

Kalau belum berkeluarga gimana Om ?
Ya gampang … ajak saja temen-temen satu kosnya.  Kalau perlu tetangga kontrakan kiri kanan, ajak semua (Hahaha)

.

Sehari Tanpa Gadget saya rasa bukan merupakan sesuatu yang berat jika sudah dilaksanakan.

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan gadget bagi sementara orang merupakan “partner” usaha yang setia dan dapat diandalkan.  Gadget membantu pemiliknya untuk bisa berusaha secara efektif dan efisien.

Namun demikian kita juga harus selalu ingat bahwa kita ini makhluk sosial.  Kita perlu melakukan interaksi antar sesama kita.  Interaksi yang riil.  Silaturahmi !

Silaturahmi yang sebenar-benarnya silaturahmi.
Bukan silaturahmi dengan diri sendiri.
Bukan sibuk dengan gadget sendiri.

 

Salam saya

nh.

.

“Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”

Diposkan pada ETIKA

MENUNJUK

.

Kata dasarnya “tunjuk”.

Kata “menunjuk” pada dasarnya mempunyai beberapa arti.  Salah satunya adalah : “memberi tahu dengan sesuatu yang diarahkan ke …” (KBBI, arti menunjuk yang ke 2)

Dan untuk memberi tahu, dan mengarahkan sesuatu itu, biasanya anggota badan yang yang paling umum dan paling banyak dipergunakan orang adalah tentu saja telunjuk.  Telunjuk adalah anggota badan yang umumnya dipakai untuk menunjuk …

Telunjuk
Menunjuk yang orikhinal …

.

Namun demikian …
Rupanya bangsa ini cukup kreatif.  Untuk memberi tahu, dan mengarahkan sesuatu itu ternyata tidak hanya dengan telunjuk.  Di beberapa daerah di Indonesia saya sering melihat orang menunjuk arah dengan menggunakan jari tangan secara keseluruhan.  Ketika saya tanya mengapa mereka menggunakan keseluruhan tangan ?  kok tidak dengan telunjuk saja ?

Mereka mengatakan bahwa kalau hanya dengan telunjuk kesannya tidak sopan.  Lebih baik menggunakan seluruh jari tangan.  Seperti ilustrasi dibawah ini …

Memakai seluruh jari dianggap lebih sopan

.

Tak cukup berlaku sopan dengan menggunakan seluruh jari …

Ternyata ada “body language” yang lebih sopan lagi … untuk mengekspresikan upaya menunjukkan arah.  Body Language, atau tepatnya Hand Language ini umumnya di pakai oleh sementara kalangan masyarakat di daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta.  Menunjukkan arah tidak dengan telunjuk … tidak dengan seluruh jari tangan … tapi dengan JEMPOL sodara-sodara …  Ini sopaaaannn banget deh …

“teng mriki kemawon den” … “palih ditu jang …”

.

Hhhh … betapa kaya budaya kita bukan ?
Urusan menunjukkan arah saja … versinya bisa macam-macam.  Disesuaikan dengan bobot derajat kesopanan dan juga lokasi.

.

Cukup hanya itu ?  Oh tentu tidak …

Rupanya … dewasa ini … anak-anak gaul jaman sekarang punya cara tersendiri untuk menunjukkan arah. Mereka tidak menggunakan telunjuk … tidak dengan jari seluruh tangah … tidak pula dengan jempol … tapi dengan DAGU doang !!!
(kenapa hanya dengan dagu saja … sebab kedua tangannya sedang “sibuk” mencet gadgetnya …)

nunjuk dengan dagu doang … males bener

.

“Dik …maaf WC nya dimana ya ?”

“Tuh disana tuh … “
(si generasi “gan” itu hanya menoleh sebentar … menunjuk dengan dagunya … lalu sibuk lagi dengan gadgetnya … !!!)
(ngetik-ngetik hashtag … ngalay … dan “cemungudh eyah”)

*Pengen nggampar Side A … Side B saja rasanya …*  (songon bener romannya)

So jadi demikianlah …

Urusan simpel … sesimpel menunjukkan arah …
manusia mempunyai beragam cara untuk mengekspresikannya …

dari yang paling sopan … dengan JEMPOL …
sampai yang paling ngeselin … dengan DAGU !!!

.

Bagaimana dengan di daerah anda ?
Cara apa yang paling sering digunakan orang untuk menunjukkan sesuatu ?

Salam Saya

.71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

NOTE :

Ilustrasi foto diperankan oleh model …
demikian juga dengan tangan dan dagunya … !!!

.

.

.