Diposkan pada FIKSI

DINDING ITU BERTELINGA

Ini tulisan FIKSI belaka …

Berawal dari tulisan ADVERTIYHA disini … (dari sisi DASRUN)
Lalu disambung oleh PUT MOON USAGI  disini… (dari sisi NTING, istri DASRUN)
Ditambah angle yang lain oleh BIBI TITI TELITI disini …  (dari sisi RAMA anak DASRUN)
Juga tulisan oleh BUNDA SHISHIL disini … (dari sisi MADI, yang mencopet DASRUN)

sekarang saya menulis dari sisi IBU AZIZAH … Tetangga DASRUN … 🙂

====

“Maafkan kami Ya ALLAH … kami tidak sengaja mendengar pertengkaran tetangga kami”  demikian ibu Azizah bergumam siang itu.

Ibu Azizah adalah tetangga pasangan Dasrun dan Nting.  Rama anak pasangan Dasrun dan Nting itu pun juga sering bermain bersama-sama Hafiz anak ibu Azizah.

Sebagaimana umumnya di perkampungan yang padat.  Seringkali hal-hal yang terjadi di pintu sebelah … ikut juga terdengar di pintu sebelah yang lain.  Rumah-rumah petak di Gang Mancur itu begitu rekatnya sehingga apapun pembicaraan internal yang relatif keras … seolah menembus celah dinding tetangga kiri dan kanannya.  Dinding itu Bertelinga.  Tak ada rahasia di Gang Mancur.

Ibu Azizah sangat prihatin dengan musibah yang menimpa keluarga tetangganya.  Berkali-kali dia menggumamkan istiqfar jika secara tidak sengaja mendengar pertengkaran yang kerap terjadi dari “toko sebelah”.  Pertengkaran kemarin itu … tentang Uang gaji Dasrun yang hilang dicopet itu … memang heboh benar.  Nting marah besar kali ini.

Sebetulnya jauh di lubuk hatinya, …  Ibu Azizah kasihan pada si kecil Rama.
Ingin rasanya ibu Azizah mengajak Rama dan Hafiz anaknya … pergi ke Pasar Malam itu.  Untuk sekedar merasakan nikmatnya naik pesawat-pesawatan idaman Rama.  Namun sampai sekarang niat tersebut belum diutarakannya pada keluarga tetangganya.

Ada banyak pertimbangan yang difikirkan oleh Ibu Azizah.
Salah satunya adalah … dia tidak ingin Ibu Nting menaruh prasangka yang tidak-tidak padanya.

Maklum … sebagai seorang Wanita yang ditinggal merantau lama oleh Suaminya ke negeri Jiran … membuat Ibu Azizah senantiasa berfikir dua tiga kali sebelum ikut campur pada masalah yang dihadapi oleh tetangganya itu.

Jangankan ketika ada masalah, saat kondisi normal pun … Ibu Azizah kerap mendengar bagaimana Nting mengungkapkan kebencian dan kecemburuannya pada Ibu Azizah. 

Mendengar Dasrun bertegur sapa dengannya saja … Bun Nting langsung cemberut.  Melihat Dasrun mengucapkan salam sambil tersenyum pada Ibu Azizah pun … menjadi masalah besar di mata Nting. 

Dan kalau sudah begitu …
Ibu Azizah hanya bisa Istigfar, bersabar dan mengelus dada saja.

(dan asal tau saja … Kecantikan Ibu Azizah, yang Guru Play Group ini memang sudah terkenal di Gang Mancur …).  (Wajah Ayu alamiah ibu Azizah … justru tampak semakin mempesona … karena kehalusan budi dan keikhlasan hatinya)

Bisa dimengerti mengapa Nting begitu cemburu pada Ibu Azizah …

—-

Bagaimana akhirnya … ?
Apakah Ibu Azizah jadi mengajak RAMA ke Pasar Malam bersama si Hafiz anaknya ?

Saya kembalikan pada yang punya cerita …
atau mungkin para pembaca ada yang beminat untuk meneruskan cerita ini ?
hehehe …

STOP PRESS …
Dan ternyata si empunya cerita telah membisikkan sebuah nama kepada saya untuk meneruskan Cerita ini … (dan saya sangat menyetujuinya …)

SO … dengan segala kerendahan hati … kami meminta kesediaan IBU CHOCOVANILLA untuk meneruskan cerita ini …

Diposkan pada ARTIKEL, FIKSI, INSPIRING PERSON, NGEBLOG

ANJUNGAN TUNGGU

(sebuah fiksi) 

Ini cerita tentang ibu Azizah dan anaknya Hafiz. 
Ibu Azizah adalah seorang guru yang mengajar di suatu lembaga Pendidikan anak-anak Pra-Sekolah.  Biasa disebut Play Group atau Kelompok Bermain.

Hafiz, adalah putra tunggal Ibu Azizah berusia 5 tahun.  Masih TK-B.  Dia bersekolah di suatu TK kecil dan sederhana.  TK tersebut lokasinya sangat dekat dengan Kelompok Bermain tempat ibunya bekerja.  Meskipun berdekatan, kondisi TK sederhana tempat Hafiz bersekolah sangat berbeda dengan tempat ibunya mengajar.

Kelompok bermain tempat Ibu Azizah mengajar … mempunyai fasilitas yang lengkap.  Ruang bermain yang full Air Conditioned.  Dilengkapi dengan sarana belajar sambil bermain yang sangat komplit.  Berkarpet tebal.  Dengan Mainan edukasi yang banyak.

Bukan itu saja, sarana bermain di halaman luarnya pun juga sangat bagus, rapi dan lengkap.  Berwarna-warni meriah, sangat mengundang hasrat anak-anak untuk bermain disana.  Semua dirancang khusus dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang sesuai untuk anak usia pra sekolah.  Ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, komidi putar kecil, sarana bermain bak pasir, balok keseimbangan, rumah-rumahan dari plastik tempat anak-anak biasa main tak umpet dan sebagainya.  Semua terbuat dari bahan bermutu tinggi, dan import pula. 

Nun di bagian pojok halaman depan disediakan pula Anjungan Tunggu terpisah.  Untuk tempat istirahat para Sopir, Suster atau Mbak Pengasuh yang mengantar murid-murid.  Tempat dimana mereka biasanya berbincang dan bersenda gurau, sambil menunggu para tuan-tuan dan nona-nona kecilnya … majikan mereka.  Satu dua kali ada juga beberapa Ibu muda yang menunggui anaknya disana.

Jadwal waktu pulang sekolah TK Hafiz biasanya lebih awal dibanding waktu mengajar Ibu Azizah.  Sehingga sepulang sekolah, biasanya Hafiz akan mampir dulu ke tempat kerja Ibunya dan menunggu Ibu Azizah selesai mengajar … untuk nantinya bersama-sama pulang ke rumah.  Ibu Azizah tidak punya mbak pengasuh untuk Hafiz.

Wah asik dong … Hafiz jadi bisa ikutan bermain gratis di Kelompok Bermain itu, sambil menunggu Ibunya bukan ???

Jawabannya SALAH … !

Hafiz TIDAK diperkenankan oleh Ibunya untuk masuk ke sekolah tersebut.  Bahkan untuk sekedar bermain di halaman luar dengan ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, rumah-rumahan plastik itupun juga tidak boleh.  Hafiz hanya diperbolehkan menunggu di Anjungan Tunggu itu, tempat dimana para Sopir, Mbak Pengasuh dan Suster berada. 

Tidak jarang, Hafiz hanya menatap nanar seluruh fasilitas warna-warni yang terpampang tepat di depan matanya itu.  Yang terpasang megah di halaman luar itu.  Dia hanya bisa duduk diam termangu.  Tangannya memegang terali pagar setinggi badannya, yang memisahkan Anjungan Tunggu dan Halaman Kelompok bermain tersebut.  Kepalanya pun kadang bersandar di sela-sela terali … Entah apa yang dipikirkannya.

Para Mbak dan Suster disana sudah hafal dengan pemandangan ini.  Awalnya mereka merasa “trenyuh” dan kasihan pada Hafiz.  Namun lama-kelamaan mereka mengerti juga mengapa Ibu Azizah berlaku seperti itu.  Dan mereka, para Mbak dan Suster Pengasuh itu biasanya berinisiatif mengajak si Hafiz bermain dan bercanda.  Sekedar untuk mengalihkan perhatian anak itu pada jejeran permainan keren nan menggiurkan itu.

Ya … Memang Ibu Azizah melarang Hafiz untuk menyentuh semua sarana mainan tersebut.  Ibu Azizah selalu menekankan pada Hafiz kecil, dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak-anak tentunya …

”Hafiz anakku sayang … kita tidak berhak menggunakan semua mainan-mainan itu.  Itu bukan milik kita nak … Itu bukan hak kita … Itu adalah hak teman-teman Hafiz, yang sudah membayar mahal untuk bersekolah di sini … nanti kalau mainan-mainan itu rusak … kan kasihan teman-teman Hafiz itu tidak bisa main lagi … ”

”Hafiz nanti main di rumah sama Bunda saja yaaaa … Nanti Bunda akan temani Hafiz … kita bermain apa saja yang Hafiz mau di rumah … dengan mainan yang Hafiz punya … sepuasnya … ”

Dan lama-kelamaan Hafizpun (sepertinya) mengerti
Hafiz patuh pada Ibundanya … dia tak menyentuh satu pun sarana bermain tersebut … walaupun sarana tersebut sudah kosong … tidak ada lagi yang memainkannya …

Hafiz tetap menunggu ibunya dengan setia … di Anjungan Tunggu itu …

Begitu terus … Setiap pulang sekolah … Setiap hari …

Ya … namanya juga anak-anak … Sekali-sekala … masih diliriknya juga fasilitas menggiurkan yang terhampar di halaman sekolah ibunya itu …
Dengan pandangan sedemikian rupa …
Yang entah apa artinya …

Hikmah :

  1. Mengajarkan dan menegakkan mana yang Hak dan Mana yang bukan hak … kadang memang terasa pahit.  Tetapi harus dilakukan … sejak dini. 
  2. Demi kebaikan si Anak untuk masa yang akan datang … kadangkala orang tua harus bersikap … Tega.
  3. Dilema antara tugas dan keluarga … akan selalu terjadi.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Diposkan pada FIKSI, NGEBLOG

AJIAN PARDI

.

Menjadi Tukang listrik di proyek itu memang sudah merupakan impiannya.  Tetapi entah mengapa Pardi tidak pernah berhasil lolos dalam proses seleksinya.  Kasihan Pardi. Andai saja Pendidikannya di STM bisa dia tamatkan, mungkin hari ini dia sudah bekerja sebagai tukang listrik, tapi apa daya, saat itu keluarganya tak mampu lagi membiayai.

Saat terik menghadapi kegagalan tes itu, Pardi pun jadi teringat kisahnya dulu di kampung halaman dolo Pardi sering kesetrum dan keslimpet kabel tiap kali nyuba mbenerin listrik tetangga.  Adalah bohong jika ada yang mengatakan bahwa Pardi gak sering kesetrum.  Tapi Pardi tak pernah menyerah, pengalamannya sering kesetrum justru melecut semangatnya untuk jadi ahli listrik… ia tetap berusaha dan berusaha dengan pantang menyerah. itu ia lakukan dengan berguru kepada ahli listrik di desanya. Pardi pun dengan tekun menimba ilmu dari sang guru.

Siang dan malam memeras otak dan tenaga untuk belajar tentang listrik kepada sang guru.  Pardi tak pernah putus asa mengasah kemampuan mengotak atik listrik, walaupun tidak jarang jari tangannya tergores oleh tajamnya pisau cutter pemotong kabel.

Salah satu kelemahan Pardi adalah nggak paham singkatan, apalagi seperti NDMPILNGdIA.  Pardi masih juga bingung untuk membedakan antara seri dan paralel, juga istilah Volt dan amphere.

Pardi sampai membolak balik kamus bahasa Indonesia untuk mencari tahu arti singkatan itu…tapi tak pernah ketemu. Ia begitu putus asa tapi juga begitu penasaran. Sampai suatu saat ia menemukan sebuah kitab hijau tebal yang tersorok di bawah pohon asam.  Dengan hati berdebar , Pardi mengambil kitab tsb, dengan harapan mungkin Pardi bisa mendapatkan jawaban dari masalah yang sedang dihadapinya … namun sebelum dia membuka seluruh kitab hijau itu, tiba-tiba dia melihat secarik kertas lusuh … terlipat rapi diantara halaman-halaman kitab tebal tersebut.

Perlahan dia buka kertas lusuh yang sudah berwarna kekuningan itu. Ternyata didalamnya terdapat banyak kalimat-kalimat.

Kalimat pertama berbunyi :
“mangap kek tak mbaca dolooo iach *ben pertamax cekz ” (Oyen)

Kalimat kedua berbunyi :
“assalamualaikum papah. saya telat. *unjuk jari*” (gerhanacoklat)

Kalimat ketiga berbunyi :
“Wah udah keduluan Mbak Iyah, hapus saja Kek …” (Oyen)

Kemudian ada juga tulisan :
“dah ya… tetik kabur dulu …” (inVinciBle TeTik)

Dan yang terakhir berbunyi …
“Pardi…masih berusaha memahami alur ceritanya pak.. musti baca ke belakang skali lagi… salam kenal buat pardi, pakde” (elmoudy)

Pardi semakin bingung.  Dia melipat kembali kertas lusuh itu. Dan diselipkan kembali diantara halaman-halaman kitab tebal.  Tidak sengaja Pardi melirik tulisan kecil di sisi kitab tebal itu: Buku Pintar Tukang Listrik 2050!  Mendongak dia kelangit, mencari jawab atas pertanyaan hari harinya yang dirasa sangat membuat mumet kepalanya, namun diatas langit hanya terlihat.  Sebuah singkatan … lagi2 NDMPILNGIA

Pardi berfikir keras untuk mempelajari singkatan NDMPILNGdIA.  Sungguh “Anti Biasa” singkatan tersebut.  Setelah dipikir-pikir… ternyata singkatan anti biasa ituh nyang bikin Pardi sering kesetrum dan gagal casting jadi tukang listrik.  Hawong pertanyaan apa itu PLN ? … kok dijawab Peloocakhaaan Leestelekk Negheelaa, jelas ajah langsung gak lolos seleksi.  Pardi njawab begetu setelah baca tulisan seorang guru.

Ah.. untung saja seekor tokek menyadarkan otaknya dari upaya mencari tau arti singkatan yang antibiasa itu. Ia kembali membuka kertas lusuh dan beberapa buku pemberian ahli listrik di desanya. Kembali memfokuskan kepalanya untuk mencari arti beberapa istilah kelistrikan.. ia terus belajar…   Tak terasa.. sudah jam dua malam. Ia bersiap tidur dan meletakan dengan hati2 sumber ilmu yang baru ia miliki itu tepat di sebelah bantal. Semangat di dadanya tetap berkobar… ia tak sabar bertemu pagi. 

Ketika bangun, bukan buku yang dia baca, tapi Yahoo!.  Gara-gara inget singkatan sok anti biasa ituh, Pardi sempet kesetrum lagi sebelon mbuka Yahoo.  Dan pardi pun langsung online..online..online..online..,dia pikir dari pada pusing sejenak rehat sambil nyanyi lagunya say koji, saatnya bersantai, dia berharap menemukan info yg lebh banyak tentang dunia kelistrikan. 

Ternyata oh ternyata kuota internet bulanan yang dimiiliki pardi habis,,, ah,,gagal dah online malam ini … Pardi lari pontang-panting ke warnet terdekat, karena tergesa-gesa tangan Pardi memegang kabel yang terkelupas dan Pardi menjerit karena kesetrum.  Padahal hanya dengan online setiap hari pardi bisa mencari arti dari singkatan NDMPILNGdIA

Dan ternyata NDMPILINGdIA itu artinya dia harus berada di kntor PLN pusat jam 1 siang ini karena dia harus menandatangani surat pengangkatan kerja.  Karena diam-diam PLN telah menancapkan CCTV di telinga kanan dan kiri Pardi. Dari situlah PLN tahu bahwa Pardi ini bermental baja dan pantang menyerah. Bukan hanya itu, Pardi juga layak masuk MURI sebagai manusia dengan jumlah kesetrum paing banyak.

Pardi pun segera bergegas ke kantor PLN. Tapi, di tengah jalan dia bertemu dengan gurunya Pardi lantas berhenti untuk sejenak beruluk salam.

“Mau ke mana kamu, cu?” tanya gurunya.
“Mau ke kantor PLN Guru … !!!”

“Lho kok ke kantor PLN Di ?, bukannya impian kamu itu bekerja sebagai Tukang Listrik di Proyek Desa ?”

Pardi tertegun … “Lho apa iya Toh ?, cita-cita saya itu sebetulnya menjadi tukang listrik di proyek toh ?”.  Tampaknya karena efek tidur terlalu lama, Pardi menjadi agak pelupa.

Dan sang Guru pun berujar …
“Itu lah Di … ini akibat kamu suka kesetrum …”
“Ini juga akibat pesona sandi NDMPILNGdIA itu ”
“Kamu tau apa itu arti nya ?”

 “Tidak Guru … , saya tidak tau …”

“Tampaknya kamu sudah saatnya menerima ilmu rahasia dari saya, Di.”

Lantas gurunya pun duduk bersila dan merapal mantra-mantra aneh di hadapan Pardi. Tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi mendung. Angin pun berembus dengan sangat kencang dan petir menyambar-nyambar. Pada saat itu sang guru berucap, “AJIAN … Arti NDMPILNGdIA

Adalah …

“Dengan semangat hari AIDS sedunia, mari kita galakkan kembali olah raga nasional, demi terwujudnya jati diri bangsa menuju era globalisasi dan informasi. Serta dalam rangka menyambut datangnya Musim Penghujan mari kita sukseskan penanaman Sejuta Pohon. Cintai Produk sendiri … Go Green … dan orang bijak taat pajak”

Dan PARDI pun tertidur kembali … !

.

Postingan URUNAN ini dikerjakan secara bersama-sama oleh :

advertiyha ; Oyen ; Asepsaiba ; inge ; InVinciBle TeTik ; marsudiyanto ; Pakde Cholik ; Putri ; bundadontworry ; gerhanacoklat; elmoudy; Prima ; Mood ; ceuceu ; nchie ; harikuhariini ; mylitleusagi ; Fitri Bunda Nay ; achoey ; Andi ; dan nh18 !

.