Diposkan pada MASA KULIAH

PIALA BERGILIR

Piala
(bukan piala bergilir sebenarnya) (ini untuk ilustrasi saja)

Ini cerita tentang “piala bergilir”.

Saya tidak tau apakah hal ini masih ada di zaman sekarang atau tidak.  Namun dulu ketika saya masih kuliah, teman-teman saya terutama yang wanita satu persatu mulai disunting oleh calon suaminya.  Menikah, memasuki jenjang selanjutnya dalam siklus kehidupan mereka.  Ini terjadi ketika kami sudah menginjak semester-semester akhir perkuliahan.  Melihat hal tersebut akhirnya kami sekelas mempunyai ide untuk membuat semacam piala bergilir.   Sebut saja piala bergilir pernikahan.

Piala bergilir tersebut diserahkan kepada teman kami yang sedang melangsungkan acara pernikahan. Kami akan beramai-ramai datang ke pesta – walimahan pernikahannya lalu secara resmi piala tersebut diserah-terimakan kepada mempelai disaksikan oleh para hadirin. Ramai. Meriah. Membahagiakan.  Silaturahmi yang hangat.

Sebelum diserahkan, di badan piala tersebut akan digrafir nama teman yang menikah.  Contoh :

  1. Aan Suana
  2. Bebi Bala-bala

Jadi ritualnya adalah kami semua akan berkumpul di panggung. Lalu Aan sebagai pemegang piala bergilir sebelumnya akan menyerahkannya kepada Bebi, sang pengantin baru.  Nanti jika ada undangan pernikahan teman kami yang lain lagi, misalkan namanya Caca, maka Bebilah yang bertanggung jawab untuk meng-grafir nama Caca dan menyerahkannya kepada mempelai, di acara penikahan Caca. Demikian seterusnya.

Tujuan upaya ini tak lain dan tidak bukan adalah untuk tetap menyambung tali silaturahmi pertemanan dan kekeluargaan diantara kita para alumni satu angkatan perkuliahan.

Namun demikian … ternyata prosesnya tidak se”mulus” yang kita duga.

Kami satu angkatan itu jumlahnya ada 150-an lebih mahasiswa-mahasiswi.  Pernikahan teman kami yang pertama, kedua, ketiga sampai ke lima, ke enam ritual ini relatif lancar jaya.  Karena kebetulan sebagian besar dari kami masih menyelesaikan studi di Bogor.  Masih relatif berkumpul di satu kota.  Jadi masih mudah menkoordinasikannya.  Namun ketika kami lulus, tentu saja kami mencari nafkah sendiri-sendiri.  Ada yang bekerja di dekat-dekat Jabodetabekasergon sini saja.  Namun banyak juga yang kembali ke kampung halamannya masing-masing.  Nun jauh di ujung Nusantara sana.  Dari propinsi Nangroe Aceh Darusalam sampai Papua.  Ini masalah tersendiri sodara-sodara.  Ya komunikasinya … ya logistiknya.

Yang pegang piala bergilir sekarang misalnya Foni tinggalnya di Ambon.  Lalu yang menikah berikutnya adalah Gamal, tinggalnya di Lhokseumawe.  Naaahhh ini … tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi Foni untuk membawa piala bergilir tersebut khusus dari Ambon terbang ke Lhokseumawe. Akhirnya kami ambil jalan tengah, Foni tidak perlu datang ke Lhokseumawe.  Dia cukup mengirimkan piala tersebut lewat paket saja (tentu setelah terlebih dahulu di grafir nama Gamal di piala tersebut)

Masalah pertama, mengenai lokasi geografis teratasi.  Namun ada masalah yang lain lagi.  Ada satu dua kejadian dimana teman kami menikah tetapi karena kesulitan informasi, lost contact, data tidak up date atau sulit berhubungan jadi terlewat begitu saja.  (Ingat jaman dulu internet belum ngetop seperti sekarang, belum ada HP apalagi social media FB, WA dsb).  Contohnya ketika teman kami Harun, lalu Ina, lalu disusul Joko menikah kami semua tidak tau.   Gamal sebagai pemegang piala bergilir yang terakhir pun tidak tau. Akhirnya nama Harun, Ina, dan Joko terlewat tidak tergrafir.  Baru kemudian ketika teman kami yang lain, Koni menikah, piala tersebut baru diserahkan Gamal langsung kepada Koni.  Kebetulan rumah Gamal di Bogor dan rumah Koni di Jakarta.  Dekat.  Mudah komunikasinya.  Mudah logistiknya.

Ada juga peristiwa lucu, dimana piala bergilir itu hanya berumur beberapa jam saja di satu tangan.  Hari ini diserah terimakan dari Koni ke Leli.  Besok Leli harus sudah menyerahkannya kepada Momon. Karena tanggal pernikahan Leli dan Momon cuma berbeda satu hari.  Nasib si Leli, piala belum terpajang di rumah, sudah harus terbang lagi.

Jadi demikianlah … cerita tentang piala bergilir pernikahan.

Memang tidak mudah menjaga silaturahmi, hubungan pertemanan diantara 150 orang teman satu angkatan.  Sebab kita semua sudah tersebar kemana-mana.  Bahkan banyak yang belajar ke luar negeri juga waktu itu …

Sekarang bagaimana nasib Piala Bergilir itu ? Apa masih ada ? atau jangan-jangan sudah berkarat ?

Saya tidak tau. Piala Bergilir itu kini berada dimana.   Siapa yang pegang piala tersebut terakhir pun juga saya tidak tau.  Sudah lama sekali.  Hampir semua dari kami satu angkatan, sudah menikah.  Usia perkawinan kami pun hampir sebagian besar sudah diatas 20 tahun …

Dan ironisnya adalah …
Saya sama sekali TIDAK sempat merasakan memegang Piala Bergilir tersebut.  Karena ketika saya dan bundanya anak-anak menikah, tidak ada teman kuliah saya yang datang.  Kami menikah di sebuah kota kecil di perbatasan Jambi dan Sumatera barat.  Di kaki Gunung Kerinci.  Saya pun tidak tau saat itu piala bergilir siapa yang pegang.  Hahaha … jadi kelewatan deh saya … nasiiibbb … nasiiibb …

Nah sekarang saya ingin bertanya …
Adakah tradisi seperti ini tempat anda ? di teman seangkatan anda ? teman satu gank ?
Bentuknya apa ? apakah piala ? atau prasasti ? atau piring perak ? atau apa ?

Boleh sharing yaaa … !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

Diposkan pada INSPIRING PERSON, MASA KULIAH, TRAINER ABG

ITU-ITU SAJA

Saya agak kesulitan untuk memilih judulnya.  Namun yang jelas ini adalah cerita nyata yang terjadi di pertengahan tahun 1982.  Bulan-bulan awal saya masuk kuliah di IPB.

Satu-dua bulan awal kami kuliah di IPB, disebut juga masa Matrikulasi Tingkat Persiapan Bersama.  Mata kuliah yang diajarkan hanya dua.  Yaitu Kimia 1 dan Matematika 1.  Mahasiswanya terdiri dari para lulusan SMU, yang berasal dari seluruh Indonesia.  Yang berhasil lulus masuk IPB tanpa test,  … alias masuk lewat jalur undangan.

Salah satu kegiatan Matakuliah Kimia 1 adalah praktikum.  Kita semua di bagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan sekitar 15 – 20 orang.

Nah yang akan saya ceritakan ini adalah … ada seorang Mahasiswi … satu kelompok praktikum kimia dengan saya.  Saya perhatikan dia … saat praktikum … atau saat kuliah … selalu mengenakan pakaian yang itu – itu saja.  Dia kalau ke kampus pun selalu berjalan kaki dengan membawa beberapa buku di tangannya, tanpa menggunakan tas.   

Mohon maaf … saya tidak bermaksud apa-apa.  Namun mahasiswi ini sungguh menarik perhatian saya.  Penampilannya sungguh amat sangat sederhana.  Wajahnya biasa saja.  Pendiam.  Kediamannya ini bukan karena sombong atau bagaimana.  Menurut pengamatan saya … Dia itu diam … menarik diri … karena dia merasa minder … rendah diri dengan mahasiswa-mahasiswi lainnya.  Dia selalu terlihat minder, dengan pakaiannya yang itu-itu saja.  Gaun Rok terusan berwarna coklat, yang sudah agak kusam warnanya.  Modelnya pun sudah ketinggalan jaman.  Kurang begitu tepat untuk dipakai untuk kuliah sebetulnya.   Tapi apa daya … rupanya itu adalah pakaian terbaik yang dia punya.

Waktu itu kebetulan saya diserahi tugas untuk mengkoordinir pembelian sampul buku praktikum kimia untuk satu kelompok kecil kami, agar buku praktikum kami seragam semua.  Dan melihat keadaannya … dengan hati-hati saya katakan padanya.   Bahwa dia tidak perlu ikut urunan beli sampul.  Saya bilang saja … uang iuran yang dikumpulkan dari teman-teman yang lain sudah lebih dari cukup untuk membeli sampul buku untuk kita semua.  Dan dia terlihat begitu lega dan berterima kasih, seraya tetap menggenggam uang iuran yang seharusnya dia serahkan pada saya.  (Uang yang sebetulnya tidak seberapa itu … tentu sungguh sangat berarti nilainya bagi dia …)

Karena dia satu kelompok praktikum kimia dengan saya … sekali dua … saya mencoba mengajak berbincang-bincang, ngobrol-ngobrol ringan dengan dia.  Dan dari situ saya mengetahui bahwa … Dia berasal dari sebuah daerah di Sumatera Barat … (saya lupa kota persisnya).   Ketika diajak ngobrol … sebetulnya dia bukan orang yang pendiam.  Dia asik juga kalau bercerita.  Dengan logat khasnya.  Kadang kita juga diskusi mengenai proses praktikum yang sedang kita lakukan.  Termasuk ”ngrasani” Asisten Dosen penjaga praktikum yang super duper judes menyebalkan itu … (hahaha)

Jauh di dalam hati kecil saya … saya merasa kasihan dengan Mahasiswi ini.  Terlihat betul betapa dia ingin sekali seperti mahasiswi-mahasiswi lainnya.  Mengenakan pakaian untuk kuliah sebagai mana mestinya.  Jeans, T Shirt dan Blouse warna warni.  Berganti dari hari yang satu ke hari yang lainnya.  Sementara dia hanya mengenakan pakaian yang itu-itu saja.  Gaun coklat terusan kusam yang modelnya sebetulnya bukan untuk kuliah.

Setelah matrikulasi selesai … dua-tiga bulan masa perkuliahan berjalan, Saya tidak pernah bertemu lagi dengan Mahasiswi tersebut.  Saya tidak tau kemana dia … sepertinya dia pulang kembali ke daerahnya.  Asumsi logika saya berkata bahwa kondisi perekonomian keluarganya … mungkin tidak memungkinkan dia untuk bertahan dan meneruskan kuliah di kota Bogor ini.  Sepertinya dia terpaksa harus mengubur cita-citanya.

.

Kemana dia sekarang ? … saya tidak tau … !
Semoga kehidupannya bisa jauh lebih baik sekarang.
Dan dia tidak lagi memakai pakaian yang itu-itu saja …
Gaun coklat terusan … yang sudah kusam warnanya …

(ini terdengar seperti cerita upik abu karangan pendongeng belaka … namun saya berani memastikan … bahwa ini kisah yang nyata ada … saya amati sendiri … terjadi di tahun 1982 … di Bogor)

.

Seharusnya … apapun yang terjadi … kita memang harus selalu bersyukur !!!

salam saya

.

.

.

Diposkan pada ARTIKEL, HEADLINE NEWS, MASA KULIAH

SURAT CINTA UNTUK SENIOR (again)

.

Ini untuk para anak-anakku … juga para keponakan-keponakanku … yang mungkin sedang menjalani masa orientasi di sekolah menengah atas yang baru … ataupun di kampus baru …

Pasti kalian menemukan tulisan ini … karena kalian searching … gugling … ingin mencari referensi tentang surat cinta untuk senior kalian …

Kalian pasti dapat tugas menyebalkan untuk membuat Surat Cinta untuk senior kalian kan …???  Dalam rangka MOS ???

Om mungkin tidak akan memberikan contekan surat … untuk kalian copy paste … plek ketiplek !.  Tapi om bisa bantu memberikan sedikit arahan untuk memudahkan kalian mengerjakan tugas tersebut …  jadi  kalian harus buat sendiri menurut versi kalian ya … gunakan kata-kata versi kalian sendiri …

So begini kurang lebih patternnya …
Untuk memudahkan kalian … Surat ini akan kita bagi menjadi TIGA BAGIAN

BAGIAN PERTAMA …
Ini adalah bagian salam pembuka … tanyakan kabar dan ucapkan harapan semoga kakak senior favoritmu itu selalu sehat
Contoh :

Kepada Yth Kakak ….
Di Tempat …

Selamat Pagi Kak…
Apa kabar kak ???
Semoga hari ini kakak selalu sehat dan tidak kurang sesuatu apapun … dst dst dst

.

BAGIAN KEDUA …
Naaaahhh ini adalah bagian isi …
Di paragraf-paragraf ini … sampaikanlah kekaguman kamu pada kakak senior ini … Sampaikan juga mengapa kamu memilih dia sebagai kakak favorit mu … mengapa kamu menulis surat untuknya … (ini bukan merayu … ini hanya sekedar menyampaikan kekaguman kamu pada mereka saja)

Contoh :

Eh kak … tau nggak kak … Saya sebetulnya malu menulis surat ini pada kakak.  Tetapi dengan memberanikan diri … saya mencoba untuk menuliskan apa yang saya fikirkan. 

Menurut pendapat Saya … kakak itu mempunyai kepribadian yang baik … Kakak selalu tersenyum dimanapun kakak berada … Senyum kakak membuat kami para yunior menjadi tentram …  Tutur kata kakak juga sangat santun dan enak didengar telinga … membuat yang mendengarkan menjadi betah berlama-lama berbincang dengan kakak … dst… dst … dst …

.

BAGIAN KETIGA
Ini pada hakikatnya adalah bagian penutup.
Pada bagian penutup ini … sampaikan terima kasih … bahwa Kakak senior favoritmu itu berkenan membaca surat kamu … sampaikan pula kata maaf jika ada kata-kata kamu yang tidak berkenan …  Dan tambahkan lagi harapan … Agar semuanya bisa sukses dan berhasil untuk masa yang akan datang … Plus sedikit permintaan untuk diberikan bimbingan, nasehat dan arahan … (sebagai yunior yang baik harus menghormati Kakak Seniornya bukan ?)

Contoh

Jadi begitulah kak …
Semoga kakak berkenan menerima surat ini … Saya lega sudah bisa menuliskan apa yang saya rasakan.  Dan saya mengucapkan terima kasih banyak atas perhatian kakak.  Saya mohon maaf jika sekiranya ada kata-kata lancang yang tidak berkenan dihati kakak.

Semoga kakak … dan juga kita semua sukses dimasa yang akan datang …
Saya akan tetap membutuhkan bimbingan dari Kakak … Saya boleh tanya-tanya kakak ya … jika nanti saya menemui kesulitan …
Mohon bimbingannya ya kak …

Hormat saya …
…..

.

—–

SO ….
Mudah bukan …
Nggak usah panjang-panjang …
Nggak usah merayu menye-menye segala … (nanti mereka malah ke GR an lagi …)

Hahahaha

Sekali lagi Om hanya memberikan pattern atau polanya saja … selebihnya …  kalian buat sendiri menurut versi kalian ya … gunakanlah kata-kata kalian sendiri …  (pake kata-kata yang lebih gaul getoh ).  Soalnya kalau kalian nyontek kata-kata Om … nanti kalian malah diketawaain sama kakak kelas kalian … soalnya bahasa Om bahasa jadul banget !!!  (vintage-vintage gitu deehhh …)

Ok ? Ok ? Ok ?
Om percaya … kalian pasti bisa …
Pasti bisa !!!

Salam dari Om …
Semoga kalian sukses menjalani masa orientasi ini …
Semoga kalian sukses juga dalam belajar di lingkungan yang baru ini …

Tetap Positif … Tetap Optimis … Tetap Belajar … Tetap Riang !!!

Masa muda adalah masa yang sangat menyenangkan … !!!

jangan sia-siakan hidup kalian !!!

 

.

.

.

.

Diposkan pada MASA KULIAH, TRAINER ABG, TRAVELLING

VICE VERSA

.

Tulisan ini terinspirasi dari postingan Titik Sutanti dari Yogyakarta.
Ditulisan tersebut Titik menceritakan pengalamannya naik kereta Pramex bolak balik Yogya – Kutoarjo – Yogya dalam satu hari … tidak pakai istirahat … tembak langsung.

.

Nah … kali ini, Saya juga mau bercerita sedikit tentang pengalaman saya “ngelajo” bolak balik.  Tetapi Rutenya adalah … Bogor – Jakarta – Bogor – Darmaga – Bogor – Jakarta – Bogor.  (dan ini dilakukan dalam waktu satu hari).

Lho kok diulang-ulang … ??
Ya memang begitu kondisinya … saya mesti nyetir bolak balik Bogor – Jakarta seperti itu.  Nyaris tanpa berhenti, dalam satu hari.

Ini lah yang saya sebut sebagai VICE VERSA … a.k.a Bolak balik.  (Double Bolak Balik bahkan)(Macam bis antar kota saja layaknya …)(hehehe)

September 1987
Jadi ceritanya waktu itu saya masih indekost di Bogor.  Hari itu rencananya saya akan diwisuda.  Tetapi saya mesti menjemput teman saya dulu yang tinggal di Jakarta.  Sehingga Pagi-pagi sekali, saya memacu kendaraan saya (Mitsubishi Minicab yang mirip angkot itu), nyetir sendiri, menjemput teman saya di Jakarta.  Lalu langsung bertolak bersama, balik lagi ke Bogor, menuju Gedung tempat wisuda di Darmaga (ini masih 10 km di luar kota Bogor.   (So rute pagi adalah Bogor – Jakarta – Bogor – Darmaga)

Singkat kata Wisuda selesai, kita sempat makan siang di Kota Bogor.  Tak bisa berlama-lama … langsung saya nggeblas mobil saya ke Jakarta lagi.  Mengantar Pulang teman saya. 

Apa perjalanan stop sampai Jakarta saja ?
No … setelah mengantar teman saya itu … saya mesti balik ke Bogor lagi … sebab malam harinya akan ada acara upacara Pelepasan Sarjana di Fakultasku.  Sayang untuk dilewatkan.  Mau tidak mau sore itu juga saya meluncur lagi ke Bogor. 

Jadi sesiangan dan sore itu … saya menjalani rute … Darmaga – Kota Bogor – Jakarta – ke Bogor lagi.

So … jadi begitulah sodara-sodara …
Mungkin ini bagi sementara orang biasa saja …
Namun bagi saya pribadi … pengalaman ini tidak terlupakan … sebab saya harus mengejar waktu … di hari yang istimewa ini.  Hari saat saya di wisuda menjadi sarjana.

And yes indeed … sepertinya waktu itu … saya tidak bisa bersantai istirahat barang sejenak.  karena harus mengejar waktu … Bersyukur jalan Jagorawi relatif masih tidak begitu macet.  Juga jalur Bogor – Darmaga tidak sepadat sekarang.

Jika itu terjadi di masa sekarang … mungkin saya tidak akan bisa seperti itu lagi.
Sekarang jalur itu macet sekali …  Terutama Bogor – Darmaga … Penuh lautan Angkot sodara.

So key wordnya adalah …
Di Hari Wisudanya …
Trainer Muda jadi Sopir Angkot antar kota …
menjalani rute antara Bogor dan Jakarta
Double vise versa …

(hehehe)

.

.

Note :
Jarak Jakarta – Bogor itu sekitar 80 km
Jarak Bogor – Darmaga itu sekitar 10 km

Diposkan pada INSPIRING PERSON, MASA KULIAH, TRAINER ABG

KAKAK SENIOR FAVORIT

.
2 September 2010

Hari ini Blog saya kedatangan pengunjung istimewa …
Dia memberikan komentar perdananya di Blog ini …

Komentar tersebut datang dari seorang yang dulu pernah saya kenal.

Ya … dulu sekali sodara-sodara …
Dia adalah Kakak Senior saya … ketika saya Kuliah di Bogor …

Mengapa saya sebut Istimewa ??
Begini ceritanya …
Saya masuk kuliah di IPB Bogor pada tahun 1982 … Dan ketika tingkat satu itu, seluruh mahasiswa belum dijuruskan ke Fakultas-fakultas … Namanya masih Tingkat Persiapan Bersama, disingkat TPB

Nah baru pada tahun kedua … 1983 … Kami dijuruskan, sesuai dengan minat dan kemampuan kami masing-masing.  Dan Alhamdulillah saya berhasil masuk di satu jurusan yang memang sudah saya “incar”.  Yaitu jurusan Sosial Ekonomi Pertanian …

Alasannya … Saya mau “menjauhkan diri” dari pelajaran KIMIA … (sejarahnya ada disini …)

Sebagaimana layaknya Mahasiswa yang baru masuk ke Jurusan tersebut … Maka kami harus melalui proses yang disebut sebagai MPPMB … atau bahasa awamnya … Kami di Ospek … di Mapram atau di Plonco … (tapi terus terang saja kadarnya sudah tidak seseram angkatan-angkatan sebelum kami).
(Cerita tentang MPPMB ada disini )

Kami sebagai Yunior wajib mengikuti kegiatan masa perkenalan tersebut.  Tentu saja kami harus berhadapan dengan Kakak-kakak Senior … Plus seribu satu macam “perangainya” … (entah karena disesuaikan dengan role, peran dan tugas mereka di kepanitiaan … atau memang aslinya begitu … entahlah).

Nah diantara kakak senior tersebut … Saya punya satu kakak favorit … yang saya kagumi … Namanya Mbak Nunny Hersiana …

Beliau menjabat sebagai panitia Seksi Acara dan Kesenian.
Beliau adalah seorang pemusik yang baik dan sempat menciptakan lagu juga kalau tidak salah.  Pendek kata … Untuk urusan Kegiatan Musik dan berkesenian Dia lah kampiunnya di Jurusan kami.

SO … anda pasti bisa meraba kenapa saya memfavoritkan dia … Karena saya juga suka Musik …
Itu sebabnya … jika Mbak Nunny masuk ke kelas “perploncoan” … saya (juga para yunior yang lainnya) girang bukan kepalang …
Karena acaranya pasti Nyanyi-nyanyi nih … Seger … (hehehhe).  Sebuah selingan yang sangat kami tunggu-tunggu ditengah bentakan, arogansi dan ceramah para Senior yang lain.  Beliau mengajarkan kami beberapa lagu “wajib” perpeloncoan.  Menyenangkan sekali …

Dan yang membuat saya tercengang adalah …
Ketika tiba acara spontanitas dari para Yunior …
Entah saya mimpi apa … Mbak Nunny menunjuk Saya … !!!

“Itu … mas yang satu itu … Maju Kedepan … Saya tau kamu pintar musik !!!” (Dia menunjuk tepat kearah saya yang sedang duduk tepekur dilantai waktu itu …)(para Yunior memang duduk dilantai semua hanya beralaskan koran …)

Dalam hati saya berucap …”What …??!!!  mbak favorit saya ini ternyata telah mengenal saya … ”
Walaupun belum mengenal nama saya … tetapi rupanya dia tau kebisaan bermusik saya …
(ini mungkin gara-gara Festival Vokal Group antar Mahasiswa, beberapa bulan yang lalu … ketika saya masih Tingkat satu …).  Memang Group Kelompok saya berhasil menembus 5 besar waktu itu … dan Kelompok kami adalah satu-satunya wakil dari Tingkat Satu yang tetap bertahan sampai Final … sementara lawan-lawan kami adalah Mereka … kakak-kakak kelas dari Fakultas-fakultas yang ada di Institut Kami …).  Saya pemain Piano di kelompok VG saya waktu itu …

Mungkin dari situ lah Mbak Nunny mengenal siapa saya …  (walaupun belum mengenal nama saya).
Mungkin dalam benak beliau … yang teringat adalah …. “Hmmm … Ini anak adalah Pianis Anak Tingkat Satu yang berhasil lolos ke Babak Final di Festival VG waktu itu …”

Jangan tanya betapa “meledaknya dada saya” … GR itu sudah pasti … mengetahui kenyataan bahwa Kakak Favorit Saya (juga favorit para Yunior Lelaki di angkatan saya ini menunjuk Saya secara langsung … (Dan perasaan saya … sepertinya banyak teman-teman Lelaki sesama Yunior yang cemburu mungkin …). (hehehe … sorry guys … ekeh menang selangkah dari ente …)

And last but not least … Mbak Nunny ini memang termasuk … “The Beningers of the Senioritas” 🙂 Hahahaha …

(FYI … Saya tidak pernah lagi bertemu dengan Mbak Nunny sejak kami lulus kuliah)

Sampai akhirnya hari ini … 2 September 2010
Beberapa puluh tahun kemudian … Mbak Nunny berkenan berkunjung dan berkomentar disini … di blog Yuniornya
And By The Way … Mbak Nunny ternyata mempunyai Blog juga lho …
Sila datang ke BLOGNYA DISINI

So …
Mbak Nunny …
Thank You ya ….
Waktu itu sudah menunjuk saya secara langsung untuk maju kedepan dalam acara spontanitas para Yunior itu …
You never know … bahwa tindakan yang mungkin terlihat sangat sederhana dari Mbak tersebut … telah berhasil memotivasi saya untuk berbuat lebih baik lagi di Jurusan Tercinta … 
Membuat saya bersemangat kuliah di Jurusan yang saya idam-idamkan ini … (yang jauh dari KIMIA ituh …)

So Sodara-sodara sekalian …
Apakah Anda punya Kakak Senior Favorit ???
Waktu Kuliah dulu ??? Atau waktu SMA mungkin ???
Boleh Sharing ???

.