Diposkan pada MASA SD, TRAINER KECIL

DOMESTIC ANIMALS

.
Judulnya serem amat yak.  Padahal sebetulnya saya hanya ingin (kembali) bercerita mengenai Hewan Peliharaan.

Lho kan udah pernah om ?
Ya memang sudah pernah … tetapi perkenankan saya bercerita dari sudut yang lain.  Ini dipicu dari pembicaraan di jejaring sosial alam maya.  Disatu group yang isinya terdiri dari teman-teman masa SD saya thn 1970 – 1975

Dulu kami bersekolah jalan kaki.  Jarak sekolah dengan rumah dekat.  Nah … ada TIGA jenis domestic animals … alias hewan peliharaan yang harus kami waspadai setiap pagi dan siang … selama kami berjalan pergi dan pulang sekolah waktu itu.

Hewan tersebut adalah …

1. Anjing
Salah satu rumah di kompleks perumahan kami dulu … ada yang memelihara anjing.  Dan kalau kami lewat rumah pojokan tersebut … jika beruntung … kami pasti akan disambut dengan gonggongan Anjing.  Dan yang runyam adalah … kalau pintu pagar rumah itu terbuka … anjing itu kadang-kadang mengejar kami … anak-anak SD yang imut-imut itu.  Hal ini selalu menjadi topik pembicaraan kami di sekolah.  Dan anak-anak sotoy di kelas … kadang dengan bangganya menceritakan bahwa hari itu dia dikejar anjing rumah pojokan.  Dengan heroiknya dia berkata, memberi adpis bagaimana menghadapi kejaran anjing  … “Kamu kalo dikejer Anjing … caranya gampang … JONGKOK aja … !!!”  (Hahahaha … saya terus terang belum pernah mencoba kiat ini … bagaimana logikanya kok jongkok bisa menjadi solusi … )(ada yang bisa menerangkan?)

.

2. Soang
Alias angsa binti swan.  Warna bulunya sih putih menggemaskan … tapi kita juga harus hati-hati.  Ada satu rumah di kompleks kami yang memelihara angsa … suaranya memang ribut banget.  Namun yang harus diwaspadai bukan suaranya … melainkan sosorannya …. Angsa kalau merasa terganggu pasti nyosor.  Namanya juga anak-anak … kadang jika melihat angsa ada yang iseng mengganggu … pastilah angsa itu nyosor … Yang cilakak itu … anak yang nggak ikutan ngganggu … jadi kena batunya … hahahaha … kena sosor juga …

Bagaimana solusi penanggulangan sosoran angsa ini ?
Jawaban terbaik (mungkin) adalah … Sosor Balik … hahahahahah

.

3. Kerbau
Disekitar sekolah kami dulu ada tanah lapang yang lumayan luas.  Banyak alang-alang dan rumput disana … ini makanan empuk bagi kerbau.  Ada penduduk perkampungan di sekitar perumahan kompleks kami yang memelihara kerbau  (kadang anak kerbau juga).  Dan cilakaknya … si oknum yang punya kerbau ini rada males mengurusnya.  Jadi Kerbau itu dia tinggal begitu saja di tanah lapang tersebut … tanpa penggembala … membiarkan sang kerbau untuk mencari makanan rumputnya … Nanti setelah sore baru di gelandang masuk ke kandang.  Kami kadang sering liat-liatan … saling pandang-pandangan dengan kerbau itu.  Saya lupa … apa kerbau itu mengedipkan sebelah matanya kepada kami atau tidak … (sapa tau ada kerbau betina yang naksir Trainer imut).

Yang jelas … saya dengar cerita ada beberapa teman kami yang nyaris ditanduk oleh kerbau tersebut karena iseng mengganggunya.

Jadi begitulah …
Tiga domestic animal … hewan peliharaan yang harus kami waspadai waktu kami SD dulu, khususnya ketika kami berjalan kaki … berangkat dan pulang sekolah.

So back to my basic question :
Adakah pembaca yang tau … bagaimana menanggulangi … Kejaran Anjing … dan Sosoran Angsa …? … dan juga tandukan kerbau … ?

(postingan nggak elit yo bah-bah no tah …)

.

.

.

Diposkan pada MASA SD, TRAINER KECIL

BERAS

.

Perkenankan saya sedikit bercerita tentang masa kecil.  Masa ketika saya bersekolah di Sekolah Dasar … di pinggiran Jakarta … dalam kurun waktu antara 1970 – 1975-an.

Dulu saya bersekolah di SD Negeri.  Kondisinya belum seperti sekarang, dimana ada Bantuan Operasional Sekolah dan juga belum ada wajib belajar 6 atau 9 tahun.  Kita para siswa sekolah masih diwajibkan untuk membayar iuran setiap bulannya.

Ada suatu masa dimana kami membayar iuran sekolah dengan BERAS.

Ya dengan beras Sodara-sodara.  Terus terang saya lupa berapa banyak takaran beras yang harus kita setorkan kepada sekolah setiap bulannya.  Satu liter, satu setengah ? atau dua liter kah ?.  Atau satu kilo ? satu setengah kilo ? atau Dua kilo.  Rasanya sih tidak lebih dari itu.  (seingat saya sih satu kilo !)

Saya masih ingat tiap awal bulan saya dan adik saya membawa sekantung plastik berisi beras, di dalam plastik tersebut ibu akan menyelipkan kartu iurannya, bertulis nama kita diatasnya.  Sesampainya di sekolah … beras tersebut akan kita berikan kepada bapak – ibu guru … kartunya ditanda tangani dan dikembalikan kepada kita lagi.   Kemudian beras itu dionggokkan demikian saja di sudut kelas.  Berplastik-plastik.  And yes indeed … dari berbagai jenis beras.  Ada yang putih … ada yang kekuning-kuningan.  Tak ada standart jenis beras tertentu.  Terserah … Mau Rojolele, Pandanwangi atau Beras Curah … Pokoknya yang penting beras. 

Sekali- sekala, kami para murid-murid … ketika hari krida/hari sabtu … akan membantu guru-guru untuk membuka satu persatu plastik tersebut dan menumpahkan berasnya di lantai.  Makin lama makin menggunung tinggi …

Saya tidak tau apa yang akan diperbuat sekolah dengan tumpukan-tumpukan beras tersebut. 
Apakah langsung dibagikan kepada Bapak-Ibu Guru dan juga petugas sekolah ? 
Atau … sekolah menjualnya kembali ke pasar … dan uangnya dipakai untuk menggaji guru-guru kami. 
Atau … kedua-duanya … sebagian dibagi dan sebagian ada yang dijual … ?

Saya pernah mendengar bahwa beberapa SD di desa-desa terpencil … para orang tua siswa membayar uang sekolah anak-anaknya dengan natura berupa palawija, beras, hasil tani, buah hasil kebun dan juga ternak.  Secara logika hal ini sangat bisa dimengerti, karena memang matapencaharian orang tua wali murid di daerah tersebut pada umumnya adalah bertani. 

Namun lokasi SD kami ini tidak seperti itu.  Lokasinya bukan terletak di desa terpencil, lokasi SD kami ini letaknya di seputaran Ibukota lho (baca : di pinggiran Jakarta … Jakarta agak “sonoan” dikit).  Dan pertanian bukanlah merupakan mata pencaharian utama para orang tua di daerah kami.

Apapun itu … ? Ini adalah bagian dari sejarah kehidupan kami.  Jujur saja … sungguh pengalaman ini merupakan hal yang terus membekas di benak saya … sampai sekarang. 

Bahwa kami pernah membayar sekolah dengan sekantung BERAS !

Bagaimana dengan pengalaman teman-teman sekalian ???

.

.

.

Diposkan pada MASA SD, TRAINER KECIL

WET HANDS

i.e  Tangan basah.

Tulisan ini dipicu dari baku komentar di salah satu group jejaring sosial yang saya ikuti.  Group ini anggotanya berisi … temen-temen SD saya.  Ya … Temen-temen saya jaman SD tahun 1970 – 1975 an.  Group ini relatif baru terbentuk.  Dan seperti biasa … jika baru terbentuk pasti euphorianya masih kenceng.  Lagi norak-noraknya.

Singkat cerita … karena banyak diantara kami yang lama sekali tidak bertemu … topik pembicaraan kami adalah tentu saja mengingat kenangan-kenangan jaman dulu.  Kebiasaan-kebiasaan kami dulu … yang masih kami ingat.  Si Anu dulu itu begini … Si Itu begitu … Si Ini begono … Si Ina bageno … dan seterusnya, dan seterusnya.

Bagaimana dengan si Trainer kecil ?
Mau tau hal apa yang diingat oleh salah satu teman sebangku saya ?

Teman sebangku saya itu ingat sekali … si Nanang itu dulu … kalo ke sekolah selalu bawa sapu tangan

Hahaha … langsung saya tertawa lebar …

Mengapa tertawa ? Membawa saputangan kan hal yang umum Om ?
Ya … memang umum.  Namun yang tidak umum adalah … penggunaannya.  Saya selalu membawa saputangan karena tangan saya selalu basah.  Entah mengapa … keringat yang keluar dari telapak tangan saya … relatif over dosis.  (padahal tidak sedang olah raga lho).  Sehingga kalau mau menulis di buku catatan pelajaran … saya diajari ibu untuk mengalasi buku terlebih dahulu dengan sapu tangan … sehingga tangan saya yang basah tersebut tidak membasahi halaman-halaman buku.  Hal (aneh) inilah yang ternyata sangat diingat oleh teman saya itu.  Karena satu sekolahan yang berlaku demikian … mungkin ya hanya saya sendiri.

Repot banget sodara … Repot banget …
Terutama kalau ada pelajaran menulis halus.  Dulu kalau pelajaran menulis halus itu kita diwajibkan untuk menggunakan tangkai pena … dicelupkan ke tinta ink … warna biru tua atau hitam … baru dituliskan ke buku garis tiga …  buku tipis tebal istilahnya.  Jika tangan saya tidak dialasi saputangan … niscaya halaman buku menjadi lembab … basah karena keringat yang keluar deras dari telapak tangan saya.  Akibatnya … Tulisan menjadi mblobor … tintanya merembes kemana-mana … tulisan jadi amburadul ndak keruan …  Nilai menulis halus sudah pasti jeblok sudah … ndak rapi babar blas … Sedih …

Namun Alhamdulillah …
Kelainan tangan basah saya itu … my wet hands … berangsur-angsur … semakin lama semakin berkurang.  Sekarang … ketika saya sudah dewasa … memang sekali sekali … pada kondisi-kondisi tertentu … tangan saya masih tetap basah … tetapi volume keringatnya tidak se over dosis dulu lagi.  Dan frekuensinya pun Alhamdulillah sudah sangat jauh berkurang.

.

Seperti biasa …
Apa teman-teman mengalami “kelainan” tangan basah ini ?
Atau mungkin pernah menjumpai kenalan, teman, handai taulan, keluarga yang punya masalah sama seperti ketika saya kecil itu ?
Boleh sharing tak ?

.

.

Diposkan pada MASA SD, TRAINER KECIL

PRAKARYA

.

Masih ingat mata pelajaran kita waktu di SD … ?

Jaman saya SD dulu, ada satu pelajaran yang bernama PRAKARYA.

Pelajaran PRAKARYA adalah semacam pelajaran untuk membuat kerajinan tangan sederhana.  Saya tidak tau apakah anak-anak SD sekarang diajarkan mata pelajaran seperti ini atau tidak.  Setau saya … Anak saya yang SD … satu dua kali pernah mengerjakan Prakarya, tugas dari sekolahnya.

Menurut pendapat saya … pelajaran ini sangat mengasikkan.  Apalagi jika gurunya kreatif.  Guru yang kreatif selalu bisa mengajak anak-anak muridnya untuk berkreasi membuat kerajinan tangan dari bahan dan alat-alat yang sederhana.  Bahan-bahan murah meriah bahkan bahan-bahan bekas pakai.

Waktu saya di SD itu … tidak jarang untuk membuat satu jenis benda PRAKARYA dibutuhkan waktu yang lumayan lama.  Tidak cukup dengan satu – dua jam mata pelajaran saja.  Perlu satu dua minggu untuk menyelesaikannya.  Sehingga pada minggu pertama … kita membawa bahan dan alat untuk mengerjakannya.  Hari itu biasanya pekerjaan belum selesai.  Jika jam pelajaran PRAKARYA sudah habis maka para siswa diminta untuk mengumpulkan barang yang setengah jadi itu, kepada Bapak/Ibu Guru.  Untuk disimpan sementara di Gudang Sekolah.  Minggu depan … pekerjaan tersebut akan dilanjutkan kembali … demikian seterusnya.

Dengan sistim seperti itu … maka para siswa tidak akan bisa berbuat curang … misalnya dengan minta dibuatkan oleh Orang Tuanya,  Pak Bon, Pembantu atau Sopirnya di rumah.  Karena pekerjaan tidak dibawa pulang.  Semua pekerjaan harus dibuat di sekolah.  Ini sekaligus mendidik kita untuk selalu mengedepankan kejujuran.  Bangga dengan hasil karya sendiri … tanpa bantuan dari siapapun.  Apapun hasilnya … tidak menjadi masalah … yang penting karya sendiri.

Saya masih ingat sekali … salah satu PRAKARYA yang diajarkan oleh guru SD saya adalah membuat hiasan dinding vas bunga dari Bambu dan Kaleng Susu bekas.  (seingat saya … ini dibuat selama dua minggu).  (Dua jam pelajaran pada minggu pertama … dan dua jam pelajaran pada minggu berikutnya).  Alatnya pun sederhana … hanya gergaji, palu, paku, amplas, kuas, vernis dan cat saja.  Vernis, Cat dan paku bisa patungan belinya … sehingga bisa dipakai bersama – sama.  (Ya disini terkandung pula pelajaran bagaimana cara bekerja sama yang baik antar sesama teman)

Kurang lebih beginilah bentuk Hiasan Dinding Vas Bunga tersebut …

Mengerjakannya pun tidak melulu di dalam kelas … waktu itu kita dibebaskan oleh guru untuk mengerjakannya di teras luar kelas … atau di halaman sekolah … di bawah pohon rindang.  Bisa sambil nyanyi-nyanyi … bisa sambil bercanda … menyenangkan sekali …

Aaahhh indahnya pelajaran PRAKARYA …

Masih adakah pelajaran ini di Sekolah ???

Salam saya

.

.

Satu lagi PRAKARYA yang saya masih ingat,  dulu pernah diajarkan oleh Guru SD saya …
Yaitu membuat PETA … dari Bubur Kertas Koran dicampur Lem Kanji …
Wuaahh itu baunya lumayan tuh …
Tapi … tetap saja … menyenangkan sekali mengerjakannya … !!!

Ada yang pernah mengerjakan Prakarya membuat Peta ini ?

.

.

Diposkan pada MASA SD, TRAINER KECIL

KARENA GENGSI

.

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Nchie YANG SATU INI …  (Thanks Nchie)

Di tulisan tersebut saya berkomentar yang lumayan panjang … Dan komentar panjang itu kurang lebih saya akan ceritakan kembali disini …

Di postingan tersebut Nchie bercerita pengalaman puasa Olive anaknya … yang masih duduk di kelas 3 SD.  Olive berhasil puasa sehari penuh karena ada beberapa iming-iming dari Kerabatnya…  Dan saya rasa … ada banyak orang tua yang memotivasi anaknya yang masih kecil itu dengan cara seperti itu. 

Lalu sesuai dengan perkembangannya … dengan semakin besarnya anak kita … semakin mengertinya anak kita … sedikit-sedikit kita akan mengajarkan kepada mereka … menanamkan di benak mereka … bahwa yang namanya puasa itu adalah Ibadah wajib yang harus dikerjakan dengan gembira … Dan ini semata-mata mengharap ridha ALLAH belaka … tidak ada pamrih yang lainnya.

.

Lalu bagaimana halnya dengan pengalaman Trainer kecil dulu ?
Terus terang kami … saya dan adik saya … berhasil berpuasa satu hari penuh itu bukan karena adanya hadiah dari Orang Tua kami.  Bukan pula karena kesadaran penuh bahwa ini adalah ibadah wajib perintah ALLAH yang harus dikerjakan.

Jujur saja … dulu ketika kami kecil … sekitar kelas 2 – 3 SD … kami itu bisa puasa POLL … sehari penuh … karena GENGSI … Merasa malu dengan temen-temen se komplek.  (dulu kami tinggal di kompleks)(dan teman-teman yang seumuran saya dan adik saya jumlahnya sangat banyak).

Karena kita satu komplek … namanya juga anak-anak … jika ada yang melihat temannya tidak berpuasa … pasti di kata-katain … “Yeeee malu … nggak puasa Luuuhhh …” … “”Dosa luuuuu …” bahkan yang lebih kejam“Fulan nggak puasaaa … Fulan nggak puasaaaaa …”  (diteriakkan sepanjang gang … dengan lagu dan intonasi penuh ejekan itu …) … dan seterusnya dan seterusnya … menyakitkan bukan ??? (hahaha)

Sehingga kami dulu itu … berlomba-lomba untuk berpuasa penuh.  Supaya tidak jadi bulan-bulanan kata-kataan dari temen sepermainan.   Dalam bathin saya .. aaahhh mosok gua kalah sama Imam, Uwan, Ai, Fathoni, Abit, Edison, Edi Heraldi, Yanto, Iir, Muhtar dll …  Gua nggak boleh kalah sama anak-anak perempuan … Nurhayati, Hanik, Eha, Ida, Nunung, Wati, Linda, Ati, Mimil, Rusdiati, Mahmudah dsb …

(Ini adalah nama-nama sebenarnya … teman-teman masa kecil saya …)(aaahhh kemana ya mereka ?)

.

Jadi begitulah sodara-sodara sekalian …
Motivasi saya berpuasa poll waktu kecil dulu itu sebetulnya bukan karena hadiah … atau untuk melaksanakan ibadah wajib karena ALLAH semata …  Trainer kecil berpuasa … karena GENGSI … alias malu sama temen-temennya …  (Padahal siapa tau temen-temen saya itu kalau sedang ada di dalam rumah … mereka pada makan minum juga yak … ngumpet-ngumpet … hehehe)

.

(Astaghfirullah … Semoga ALLAH mengampuni dosa-dosa kami …)

Karena pada hakikatnya … Puasa itu hanyalah mencari keridhoan NYA semata … tak ada yang lain !

Semoga kita semua terhindar dari perilaku RIYA’ … Amiiinnn …

.

SO …
Apa Motivasi para pembaca sekalian waktu kecil …
yang membuat anda sekalian bisa Poll puasanya ?
Boleh sharing tak ?

.

.

.