Diposkan pada MY FAMILY, Si Sulung

SULUNG INDEKOS

13 Januari 2015

Hari ini saya mengantar anak saya si Sulung ke tempat indekosnya.  Kebetulan saya tidak ada jadwal mengajar, sehingga saya bisa membantu dia sepenuhnya.  Ini adalah kali pertama si Sulung indekos.

Si Sulung akan menjalani program praktek kerja selama kurang lebih lima minggu di sebuah puskesmas di Tangerang Selatan, Propinsi Banten. 

Tentu pembaca yang sudah kenal saya pun akan bertanya “Lho om ? … om kan tinggal di Tangerang Selatan juga, kok ini si Sulung malah indekos sih ?”

Ya … kami memang tinggal di Tangerang Selatan, tetapi puskesmas tempat si Sulung praktek kerja lapangan ini, letaknya lumayan jauh dari rumah kami.  Rumah kami ada di bagian Tenggara sementara puskesmas tersebut letaknya ada di ujung Barat Daya Tangerang selatan.  Sehingga untuk memudahkan operasional dan agar tidak melelahkan, si Sulung memutuskan untuk indekos di dekat puskesmas tersebut.  Dia indekos bersama beberapa orang teman sekelasnya yang juga kebetulan mendapat penempatan di puskesmas yang sama.

Si Sulung adalah mahasiswa semester lima, di jurusan ilmu kesehatan masyarakat.  Sehingga tidak heran jika praktek kerjanya mengambil tempat di puskesmas.

Ketika mengantarnya tadi pagi, saya sempat meninjau rumah dan melongok kamar tempat dia akan menghabiskan malam-malamnya selama praktek kerja ini.  Kondisi kamarnya sangat sederhana.  Tidak ada perabot apa-apa, tak ada tempat tidur, tak ada meja.  Yang ada hanya sebuah lemari pakaian usang, yang sudah pecah cerminnya.   Lantainya dari keramik biasa, dan dindingnya pun sudah ada beberapa pulau bekas rembesan air hujan di sana sini.

Saya sama sekali tidak ikut campur dalam mencari dan memilih tempat indekos ini.  Semua dilakukan sendiri oleh si Sulung dan teman-temannya.  (Saya hanya mengantar ke sana saja)(hahaha)

Jujur jauh di lubuk hati yang dalam, saya kasihan melihat kondisi kamar yang dipilih mereka itu.  Namun saya menguatkan hati untuk tidak campur tangan.  Biarlah dia dan teman-temannya merasakan sendiri bagaimana indahnya hidup di kamar indekos.  Saya ingin mereka belajar mengelola hidupnya sendiri.  Lagi pula, ini kan hanya 5 minggu dan kamipun (jika mau) bisa setiap saat menengok ke tempat indekosan ini.  🙂

So … have a nice stay Mas !

Take Care dan jangan bertingkah !

(Kamar kamu di rumah … biar Ayah yang ngurus …)(hehehe)

kamar1
kamar ini akan ditinggal penghuninya selama beberapa minggu

 Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Besok mau bawain dia Mie Goreng GM kesenangannya aaahhh …

(jiaaahhh si Om … baru juga sehari …)

 

Diposkan pada MY FAMILY, PERASAANKU HARI INI, Si Sulung

KASIHAN

.

Menjadi orang tua adalah sebuah seni sekaligus keterampilan.

Dan celakanya tidak ada sekolah manapun yang mengajarkan bagaimana menjadi orang tua yang baik.  Kita sendiri lah yang harus mempelajarinya … “learning by doing”.

Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari tulisan Ibu Noviana Dewi, berjudul “Belajar (lagi) dari anak-anak”.  Di dalam tulisan tersebut Bu Novi bercerita tentang pengalaman Daniel anaknya, yang mendapat tugas untuk berjualan – menjaga stand Bak Pau di sekolahnya.  Wajahnya begitu memelas.  Menjaga stand, dengan sabar.  Tidak ada yang beli pada awalnya.  Kasihan sekali. 

Melihat ekspresi Daniel ketika berjualan … mendadak saya teringat pengalaman anak saya. 

Dulu anak saya si Sulung juga pernah mengalami hal serupa.  Walaupun agak sedikit berbeda mekanismenya.  Si Sulung waktu itu sudah kelas 1 SMP.  Baru masuk.  Dia ikut ekskul “Student Company”.  Belajar usaha wiraswasta kecil-kecilan ala pelajar SMP. 

Suatu ketika ada Bazaar di sekolahnya.  Bertepatan dengan pembagian raport semesteran kalau tidak salah.  Pengunjung ramai, para Orang tua murid yang mengambil rapor anak-anaknya.  Pihak sekolah mengundang berbagai pihak untuk membuka stand promosinya disana.  Ada stand perbankan, butik, toko buku, toko stationery dan mainan dan juga tidak ketinggalan stand makanan aneka rupa.  Ada sate, ayam bakar, soto ayam, pizza, hamburger, kebab, minuman aneka rasa.  Sebagian dari merek-merek dan gerai franchise yang sudah terkenal.

Tim ekskul “Student company” juga tidak mau kalah, mereka juga membuka stand makanan dan minuman di Bazaar tersebut.  Tapi namanya juga anak-anak, tentu “hingar bingar” nya kalah dengan mereka-mereka, para orang dewasa yang memang sehari-harinya mencari makan di bisnis makanan-minuman.  Stand “Student Company” sepi pembeli.  Dagangannya juga kurang begitu ditata.  Pengunjung tersedot ke stand-stand lainnya, yang lebih “mengundang”.

Melihat kenyataan standnya yang sepi, rupanya mereka sedikit mengubah strategi.  Mereka mencoba lebih aktif “jemput bola”.  Anak-anak kelas satu (termasuk anak saya si Sulung), dikerahkan untuk menjadi … PENGASONG – Sodara-sodara.

“Om es buahnya Om … , lima ribu aja Om …”

“Tante beli es buah tante, untuk anaknya … “

“Boleh kak es buahnya … seger kak …  “

Saya lihat dari kejauhan, Si Sulung mengasong jualannya.  Berjalan di seputaran areal Bazaar.  Membawa baki berisi penuh gelas-gelas plastik es buah.  Setengah mengiba mereka mengasong kepada para orang tua murid yang berkunjung ke Bazaar tersebut.  Banyak yang menolak untuk membeli.  Mungkin mereka lebih tertarik pada makanan atau minuman yang sudah kondang … yang disajikan secara profesional di stand-stand terkenal itu.

Jujur saya kasihan sekali pada si Sulung.  Bagaimana dia terbungkuk-bungkuk sopan, menyapa, mengasong dan menawarkan setiap orang tua/wali murid yang berpapasan dengannya.   Tidak jarang ada juga yang bersikap acuh tak acuh, menoleh sebentar lalu melanjutkan aktifitasnya tanpa berkata apapun.  Bahkan membuang muka.  (Pengen rasanya gua gampar mukanya tu Orang … nggak sopan bener sikapnya sama anak-anak)(hahaha)

Saya menguatkan hati untuk tidak “ikut campur” menolongnya.  Walaupun dalam hati saya sudah tak tahan, ingin sekali berlari ke arahnya dan memborong seluruh dagangan anak saya itu.  Supaya dia tidak berpanas-panasan lagi.

Tapi saya sadar … itu bukan tindakan yang mendidik … !!!
Saya biarkan dia terus mencari pelanggan-pelanggannya.  Sesekali dia berdiri, beristirahat, meneduh dari panasnya hari.  Tapi lucunya, si Sulung meneduh di dekat stand makanan yang terkenal pula.  “Aaaahhh anakku inih … kenapa juga berdiri di situ naaakkk … kalah saingan kamu nak”.  Kamu harus berjalan ke tempat yang jauh dari stand makanan dan minuman itu.  Sehingga kesempatan untuk dibeli konsumen menjadi lebih besar.  Kalau perlu kamu berjalan, jemput bola ke kelas-kelas … kamu cegat orang tua yang baru saja keluar dari mengambil raport anaknya. Sebelum mereka mencapai stand makanan-minuman profesional itu.

Tentu saja semua kalimat tersebut saya telan dalam hati saja.  Sekali lagi, biar dia mengambil pelajaran dari aktifitas yang dilakukannya siang itu.

Perlu waktu yang lama untuk mendapatkan pembeli pertamanya.  Peluh pun bercucuran.  Akhirnya setelah berjalan kesana kemari (yang diselingi dengan istirahat berdiri di dekat stand makanan terkenal itu), Alhamdulillah diapun mendapatkan pembelinya yang pertama.  Yang berkenan membeli satu gelas es buah. Anda harus lihat bagaimana berbinarnya mata si Sulung menerima uang pembelian es buah itu.  (Tidak bermaksud lebay … tapi Saya harus jujur … Waktu itu Saya terharu sekali melihat ekspresi si Sulung dan memperhatikan tangannya yang khusyu menengadah menerima uang itu).

Dari gerakan mulutnya saya melihat si Sulung berkata : “Ma kasih Oommm … “ (sambil membungkuk takzim)

Rupanya pembeli pertama tadi, membuka rejeki si Sulung.  Karena tak lama kemudian … saya lihat dia mendapatkan beberapa konsumen lainnya.   Tidak berduyun-duyun sih … tapi ada saja yang membeli.

Saya pikir kinilah saatnya saya beraksi.  Saya dekati dia.  Lalu saya tanya … “Mas jualan apa kamu ?”

“Es Buah Yah ?”  (kalimatnya terhenti sampai situ saja.  Rupanya dia sungkan menawarkan dagangannya ke Ayahnya sendiri)(Hahaha)

“Ayah beli es buah nya ya … dua !!!” (Sambil saya berikan uang Sepuluh Ribu Rupiah, harga pas untuk 2 gelas es buah).  Sengaja saya tidak melebihkan uangnya.  (Walaupun saya ingin sekali melakukannya)  (Harus Tega Nang !!!)

.

Jadi demikianlah  …
Saya rasa hampir semua orang tua mengerti dan sadar bahwa untuk mendidik anak agar bisa menjadi pribadi yang mandiri itu sering kali kita harus bersikap “TEGA” dan “TEGAS”.

Namun sumpah … dalam pengejawantahannya … tidak semudah berbicara
Tidak semudah itu kawan !!!

Ini perlu Hati yang Besar untuk melaksanakannya.

Bukan begitu Bapak-Ibu ? Abi-Umi ? Papa-Mama ? Ayah-Bunda ?
Mari kita bersama belajar menjadi orang tua yang bijak bagi anak-anak kita !!!

.

Anda pernah punya pengalaman serupa ?
Yang saya ingat beberapa sahabat-sahabat blogger pernah bercerita mengenai hal ini …
Someway – Somehow cerita yang kurang lebih sama tapi dari sudut pandang yang lain … 
pernah juga diceritakan oleh Erry Andriyati di Romantika Anak Komplek”
Dan di tulisan Myra “Chi” Anastasia di Pasar Mini”

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

teh
sekedar ilustrasi saja, tak ada hubungannya dengan isi postingan
Diposkan pada MY FAMILY, PERASAANKU HARI INI, Si Sulung

KISTA ATEROMA

.

Ini tentang anak Sulung saya …

Ketika dia duduk di bangku Madrasah Aliyah kelas 12 (atau kelas 3 SMU), tukang cukur langganannya pernah berkata pada Sulung, saat dia potong rambut :

Mas … ini apaan nih … Kok ada benjolan di leher nih ?

Penemuan tukang cukur tersebut langsung dilaporkan pada kami.  Ya ternyata memang di bagian belakang leher si Sulung, tepatnya di tengkuknya … memang ada benjolan kecil.  Kami pikir ini mungkin bisul atau jerawat nih.  Si sulung berkata … benjolan ini tidak begitu mengganggu.  Tidak pusing, tidak perih, tidak sakit.  Hanya kadang kalau tidur saja suka sedikit mengganjal.

Kami diamkan saja waktu itu …

Namun, lama kelamaan … kami melihat kok benjolan ini semakin hari semakin membesar.  Ketika kami raba besarnya hampir sebesar kelereng.  Kami kuatir …  (mulai parno sodara-sodara).  Akhirnya minggu lalu si Sulung memeriksakan benjolan tersebut ke dokter.  Mulanya ke dokter umum, lalu dirujuk ke dokter spesialis bedah.

Dan dari dokter spesialis bedah inilah kami mendapat dua patah kata … hasil diagnosis penyakit yang diderita si Sulung.  Yaitu KISTA ATEROMA

.. dan ini Tidak Berbahaya … (Alhamdulillah … kami lega mendengarnya).  Jujur … terus terang saja … di fikiran kami sempat berseliweran nama-nama penyakit yang menciutkan hati awam kami.  Anda tau maksud saya kan ?

Tapi sekali lagi Puji Syukur, penyakit ini … menurut dokter … umum terjadi.  Bahkan beliau pun menganalogikan  … bahwa Ini hukumnya “Sunat”.  Artinya dioperasi bagus.  Nggak dioperasi juga tidak apa-apa.

Tentu saja kami memutuskan untuk dioperasi saja … biar tuntas.

.

Selasa, 13 Agustus 2013
Si Tyo dioperasi.  Jam 15.00 masuk kamar operasi.  Sekitar jam 20.00 dia sudah boleh pulang.  Walaupun dia dibius total, namun kata Dokternya ini hanya operasi kecil saja.  Sehingga boleh pulang, tak perlu rawat inap.  Istilahnya … One Day Care.

Saya sempat ditunjukkan oleh dokter, bentuk Kista Ateroma yang telah diangkat dari tengkuk Mas Tyo …

Ini penampakannya … (mohon maaf bila ada sementara pembaca yang menjadi tidak nyaman karenanya)

Kista Ateroma

Setelah saya brosang-brosing kiri kanan … maka saya dapat info yang kurang lebih menerangkan bahwa, Kista Ateroma adalah benjolan yang berbentuk bulat, berdinding/berkapsul tipis.  Benjolan ini disebabkan karena penyumbatan pada muara kelenjar di bawah permukaan kulit kita.  (saya kurang begitu jelas … apakah ini kelenjar sebasea, keringat atau kelenjar yang lainnya)
(mungkin ada pembaca yang mengetahuinya … ?)

Tak putus-putusnya kami bersyukur bahwa benjolan yang ada di tengkuk Si Sulung bukan merupakan penyakit yang berbahaya.  Dan operasi pengangkatannya pun bisa dilakukan dengan lancar.  Saat ini Mas Tyo sudah beraktifitas kembali seperti biasa, sibuk menjadi panitia pendaftaran dan penerimaan mahasiswa baru di kampusnya.  Walaupun tengkuknya masih diperban tebal … karena ada empat jahitan disana, yang menunggu pemulihan.

.

So pelajarannya adalah …

Jika ada benjolan di permukaan kulit.  Segeralah berkonsultasi ke dokter yang ahli.
Agar segera diketahui apa penyakitnya dan tindakan apa yang harus dilakukan …

Semoga kita semua selalu diberi nikmat sehat …

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

Diposkan pada MY FAMILY, Si Sulung

LIVE LIFE …


Lengkapnya adalah “Live Life, Be Free !.  Don’t Worry, Be Happy !”

Ini kalimat motto.  Mottonya siapa ? Mottonya anak saya : si Sulung.

How do I know ?
Begini ceritanya.

Sabtu, 3 November 2012
Saya datang ke sekolah anak saya, mengambil raport bayangan si Bungsu Yoga.  Singkat cerita bincang-bincang dengan walikelas 7H, selesai.  Dan Pak Sandy, walikelas si Bungsu memberikan saya satu berkas rapor bayangan dan sebuah majalah.  Majalah internal sekolah terbitan MI-Mts-MA Pembangunan, UIN Jakarta.  Majalah ini dibagikan secara gratis kepada seluruh siswa.

Saya buka-buka majalah tersebut, membaca-baca sekilas artikel yang ada di dalamnya.  Seketika mata saya terbelalak.  Di salah satu halaman ada foto-foto anak saya si Sulung.  Waaaaa senangnya … rupanya ada reportase mengenai si Sulung di rubrik “remaja berprestasi”.  FYI : Si Sulung kini tidak lagi bersekolah disana, dia sudah lulus dari Madrasah Aliyah.  Tapi rupanya, reportasenya baru keluar di terbitan sekarang.

Saya baca kalimat demi kalimat di artikel sepanjang dua halaman tersebut.  Ya … saya harus jujur, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya.  Ada aliran bangga di dada saya.  Dan saya pun tersenyum ketika membaca motto si Sulung … (entah dia dapat darimana) : “Live Life, be free.  Don’t Worry Be Happy”

.

Tertulis juga disana … kalimat yang kurang lebih berbunyi seperti ini …

“Siapakah tokoh idola Kak Tyo ?”
Kak Tyo diam sesaat … lalu dengan mantap dia berkata … “AYAH”
Ayah itu tidak banyak bicara, tetapi selalu mendukung saya.

Dan saya pun … “speechless” …
(lalu … berlinanglah sebutir air mata, di pipi saya)

.

Salam saya

.

.

.

.