Diposkan pada ARTIKEL, NGEBLOG

JAJANAN KAKI LIMA FAVORIT NH18

Ada sebuah tantangan menarik yang dilontarkan oleh Maya Siswadi, seorang bloggerwati yang bermukim di Tangerang Selatan.  Tantangannya sederhana saja, yaitu menceritakan lima jenis jajanan favorit yang kita sukai.

Pada hakikatnya saya bukanlah orang yang menyukai petualangan kuliner.  Setiap kali travelling ke tempat-tempat tertentu baik itu di dalam maupun di luar negeri, teman-teman saya pasti putus asa mengajak saya wisata kuliner, berburu makanan khas setempat.  Dijamin saya tidak akan pernah mau diajak. (Ah percuma ngajak si Nanang, dia mah orangnya gitu … nggak seru !)

Pas berkunjung ke suatu kota tertentu, mau makan ? Yang dicari pasti warteg atau warung Padang.  Kalaupun diajak ke restoran, pesannya pasti standart … nasi goreng ! Minumnya teh panas manis.  Atau kalau di luar negeri, mentok-mentoknya gerai cepat saji pak Ron atau Pak Kolonel.  Selera saya memang sangat konvesional.  (tepatnya menyedihkan !)

Namun demikian jika saya ditanya, adakah jajanan-jajanan favorit yang Om NH senangi ?  Tentu saja ada lah.  Dan karena saya ini orang rumahan, dan baru berkeliaran cari makan ketika saya libur tidak mengajar.  Maka jajanan favorit ini relatif lokasinya yang dekat-dekat rumah saya saja  (di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan)

Mari saya ajak anda sekalian, mencicipi jajanan-jajanan kesukaan saya.

.

1.Nasi Uduk Nyai
Sebut saja demikian.  Ini adalah nasi uduk paling enak yang pernah saya makan.  Asli Betawi.  Letaknya di depan Masjid Al Ittihad, di Jl. Purnawarman, Ciputat Timur.  Gurihnya pas, pake sambel kacang.  Semurnya nyus,  telor balado dan telor dadarnya “Betawi” banget.  Nyai tidak hanya menjual nasi uduk saja, tetapi juga ketupat sayur dan beberapa penganan tradisional Betawi, seperti gemblong, ketan kelapa, bakwan dan sebagainya.  Tapi yang saya rekomendasikan tetap nasi uduknya.  Kedai Nyai hanya buka pagi hari, biasanya melayani mereka yang berangkat ke kantor atau ke sekolah.  Jam 11 makanan di sana biasanya sudah habis semua.  Apalagi hari Minggu.  Seporsi nasi uduk dengan telur dadar, mihun goreng dan semur tempe harganya Rp.10.000 saja

k51

.

2.Soto Bakso Kumis Pak Solihin (alm)
Atau sekarang namanya berganti menjadi Bakso “Rasa Nyata” (Pa Kumis).  Sesungguhnya ini bakso biasa.  Tapi almarhum Pak Solihin (sang founder) menambahkan asesori soto ke dalamnya.  Ada potongan lumpia, kubis, tomat segar, daging sapi dan kedelai goreng.  Jadilah menu ini dinamakan Soto Bakso.  Rasanya enak.  Baksonya pun lembut.  Cocok untuk selera om-om ompong seperti saya. 

k53
(nggak pake kedele)(udah nggak kuat ngunyahnya)

.

Lapak bakso ini letaknya berada di dalam kompleks perumahan UIN Jakarta, di Jl. Ciputat Raya.  Buka dari sekitar jam 9 pagi sampai sekitar jam 8 malam.

Kemasyhuran bakso ini sudah tidak diragukan lagi.  Coba saja tanyakan kepada mereka yang pernah kuliah di UIN Jakarta.  Alumni atau mahasiswa,  baik itu yang baru kuliah tahun kemarin maupun yang sudah lulus 20 tahun yang lalu.  Biasanya mereka akan berkata, bahwa mereka pernah nongkrong di kedai ini.  Ya bakso ini berdiri sudah lama sekali, dan sangat terkenal di kalangan mahasiswa UIN Jakarta. 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah ngobrol dengan Pak Solihin (beliau masih sehat waktu itu).  Beliau usaha jualan bakso ini diawali dengan jualan pikulan.  Dan kemudian karena kegigihannya dia berhasil menyewa kios.  Usahanya terus berkembang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya beliau beserta istrinya bisa menyekolahkan tinggi anak-anaknya dan bahkan menunaikan ibadah haji berkat usahanya ini.  Sekitar tahun 2014 yang lalu Pak Solihin meninggal dunia, menyusul sang istri yang sudah meninggal terlebih dulu.  

Sekarang kios bakso kumis Pak Solihin (i.e Bakso Rasa Nyata) ini diteruskan oleh salah seorang pegawainya.  Meskipun sudah ditinggal sang founder, rasa dari bakso legendaris ini tetap tidak berubah. Soal harga ? Murah pol ! (hawong harga mahasiswa).  Seporsi soto mie bakso hanya Rp. 13.000 saja.

k52

.

3. Bakmi SS

Taglinenya : “Bakmi SS rasa GM”.  Hahaha.  Ciye-ciye-ciye.  Rupanya rasa bisa juga dicopy paste.  Seperti yang sudah anda duga, beberapa menu di Bakmi SS ini merupakan tiruan dari menu bakmi yang terkenal itu.  Setelah saya rasakan, ya memang tidak jauh berbeda.  Yang berbeda hanyalah harganya.  Jauh lebih murah tentu.  Menu favorit saya di sini adalah Bakmi Spesial Pangsit Goreng dan … Nasi Goreng ! (again ?)

Harga Bakmi Spesial Pangsit Goreng hanya sekitar Rp. 18.000 an.  Sementara Nasi Goreng hanya Rp. 21.000 saja

20160313_200311_resized

Bakmi SS ini letaknya ada di sebuah pujasera.  Pusat jajan serba ada.  Buka dari jam 10.00 sampai 24.00 (kalau malam minggu).  Hari biasa hanya sampai jam 22.00  Sejarahnya, pujasera ini terbentuk karena adanya penertiban dan penggusuran lapak-lapak di sepanjang kali Enggram (anak kali Pesanggrahan).  Para pedagang lapak makanan tersebut akhirnya disatukan di sebuah tempat baru yang bernama TKC.  Taman Kuliner Cireundeu.  Letaknya ada di ujung Jl. Purnawarman, dekat kompleks perumahan Mandiri. Cireundeu Tangerang Selatan.  Lebih rapi.  Lebih tertib.  Jika malam minggu ada hiburan live music ala kadarnya.  Cukup membuat gembira pengunjung dan pegawai lapak.

Menurut pendapat saya kondisi mereka kini jauh lebih baik, dibanding ketika mereka masih membuka kedai di pinggir kali.  Pengunjung terlihat lebih ramai dan kebersihan lebih terorganisir dengan baik.  lahan parkirnya pun tidak mengganggu lalu lintas seperti dulu.

20160313_200301_resized

 

4. Sate Ayam Warung Khas Madura

Ini juga makanan standar.  Maksudnya makanan standar kalau Bunda sedang tidak masak di rumah.  Untuk makan malam, saya biasanya akan merapat ke lapak kaki lima yang satu ini.  Warung Khas Madura namanya.  Baik itu nongkrong di tempat, atau bungkus bawa pulang.  Warung K5 ini letaknya di Jl. Cireundeu Raya.  Tepat di seberang resto “warung pizza” berwana merah yang terkenal  itu.  Buka hanya malam hari saja, dari jam 18.30 sampe sate habis.

k54

Yang jualan asli Madura.  Mereka menjual sate ayam, sate kambing dan juga sop kambing.  Bisa pakai nasi, bisa pakai lontong.  Digadopun monggo.

k56

Namanya juga selera konvensional, sejauh ini saya baru merasakan sate ayamnya saja.  Saya belum pernah beli sate kambing dan sop kambingnya.  Harga satu porsi (10 tusuk) dibandrol Rp.17.000 saja.  Kalo tambah lontong jadi Rp.20.000.   Menurut saya ini adalah sate ayam yang paling enak yang ada di sekitar rumah saya.  Apa lagi jika bumbunya ditambah potongan bawang merah mentah.  Hhmmm ! (hah … harum !)

.

5. Sate Padang Ajo Suardi

Saya mulai jatuh cinta pada sate Padang yang satu ini gara-gara si Sulung dirawat di RS Syarif Hidayatullah karena sakit demam berdarah.  Gerai kaki lima sate Padang ini letaknya memang tepat berada di depan rumah sakit tersebut.  Berdekatan pula dengan mesjid Fatullah UIN Jakarta, di Jl. Ciputat Raya.  Ketika saya menjaga si Sulung, karena lapar malam-malam saya mencari makan.  Bertemulah saya dengan kaki lima yang satu ini.  Sate ini hanya buka malam hari (19.00 s/d 23.00)

20160314_192905_resized

Entah karena lapar, entah karena lelah, saya merasa sate Padang ini adalah sate Padang yang paling enak yang pernah saya rasakan di Pulau Jawa. (hahaha lebay yak ?)(Sate Padang Mak Syukur Padang Panjang nggak masuk hitungan … karena itu legend …)(tak tertandingi)(hahaha).  Saya koreksi pernyataan saya, ini adalah sate Padang yang paling enak yang ada di dekat rumah saya.  🙂

20160314_193012_resized

Aroma bumbunya enak sekali.  Kekentalannya pas.  Dagingnya pun relatif empuk dan matang.  Sate Padang ini enaknya memang dimakan selagi panas.  Jika sudah dingin, bumbunya sudah tidak enak lagi.  Harga satu porsi 10 tusuk + 1 ketupat Rp. 17.000

20160314_193241_resized

Jadi demikianlah …

Saya baru saja menceritakan jajanan-jajanan favorit saya.  Kalau mau dipetakan kira-kira letaknya seperti ini …

map

Semuanya berada di seputaran tempat tinggal saya.  Sekali lagi ini karena saya orang rumahan, dan bukan tipe petualang kuliner yang suka berkeliaran ke sana-ke mari mencoba-coba (atau memfoto-foto) berbagai jenis makanan.  Selera saya sangat konvensional.  Tepatnya, benar kata teman saya : “Untuk urusan makan-makan si Nanang mah orangnya gitu … nggak seru !”

Hahaha

Salam saya

om-trainer1

.

.

(harga per 15 Maret 2016)

(seluruh foto adalah milik pribadi @nh18)

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Advencious First Giveaway dan JengSri”

Diposkan pada NGEBLOG

PERMAINAN “TANPA NAMA”

Ada dua orang teman saya yang berkolaborasi mengadakan perhelatan “give away”.  Saya tergerak untuk ikut.

Teman-teman tersebut, yang pertama adalah Mama Calvin, Lidya Fitrian, seorang ibu dari dua anak.  Tinggal di Bekasi.  Penyandang gelar Ratu Blog Walking yang belum terpatahkan.  Ya Lidya Fitrian adalah blogger yang sangat rajin blog walking, menyambangi, membaca dan memberikan komentar di blog rekan-rekannya.  Komentarnya pun bukan komentar asal lewat basa basi belaka.  Komentarnya selalu sesuai dengan isi postingan.  Beruntung saya sudah beberapa kali bertemu dengan Mbak Lidya

Yang kedua adalah Rahmah “chemist” Bunda Salfa.  Asal Maros, Sulawesi Selatan yang sekarang bermukim di Palangkaraya.  Saya pernah bertemu dengan Rahmah, secara tidak sengaja di acara Blogger Nusantara 2013.  Waktu itu kami satu homestay, di Homestay nomor 3 Desa Wisata Tembi, Yogyakarta.  Kita sempat ngobrol-ngobrol hangat saat sarapan pecel di teras rumah bersama Kang Didno dari Indramayu.

Sekarang mari kita membahas perhelatan give away mereka.  Tema Give away mereka sangat sederhana.  Menceritakan permainan masa kecil.

Bicara tentang permainan masa kecil, ada banyak sekali permainan yang bisa saya ceritakan.  Ada bentengan, tak umpet, galasin, tok kadal, kelereng, taplak gunung, ular naga, layangan, gambaran dan lain sebagainya.  Jika saya bercerita mengenai permainan-permainan tersebut mungkin tidak istimewa lagi karena sudah banyak yang membahas.

Kali ini saya akan menceritakan satu permainan yang menurut saya menarik, dan jarang diceritakan orang.  Namun celakanya saya lupa apa nama permainannya.   Maka dari itu sebut saja permainan ini Permainan “Tanpa Nama” (Rumah Makan Padang kali aaahhh …)

Ini permainan kelompok, lebih banyak anak lebih asik dan menarik.  Permainan ini sangat sederhana tidak memerlukan alat bantu atau perlengkapan khusus.  Hanya dua kerikil saja.   Ya … dua butir batu kerikil !!!

Cara bermainnya :
1. Bagi anak-anak menjadi dua tim dengan anggota yang sama banyak. Masing-masing menunjuk ketua timnya (sebut saja tim Mawar dan tim Melati)

2. Mereka berdiri berbanjar saling berhadapan.  Jarak antara barisan satu tim dengan tim lainnya bisa 10 sampai 20 meter, tergantung lahan lapangan yang ada.

satu

3. Undi/”suit”/”sut” untuk menentukan tim mana yang “main” duluan. (Katakanlah yang main duluan adalah tim Mawar)

4. Cara mainnya gampang.  Seluruh anggota tim Mawar berdiri dengan sikap istirahat, tangannya semua di belakang.

5. Ketua tim Mawar (TL) berjalan berkeliling di belakang anggota-anggotanya dan secara diam-diam menaruh kerikil di genggaman salah satu anggota timnya.  Kerikil digenggam baik-baik.  Pasang muka “poker face”.  Jangan norak.  Agar tidak ketauan lawan.

6. Jika sudah selesai, tim Melati akan menebak.  Kerikil berada di genggaman siapa ?

7. Jika tebakannya tim Melati betul.  Formasi barisan Mawar tetap seperti semula tidak berubah.  Giliran tim Melati yang gantian bermain.  Ketua Tim Melati (TL) akan melakukan prosedur yang sama seperti nomor 5.

8. Namun jika tebakan tim Melati salah.  Maka anggota tim Mawar yang tadi menggenggam kerikil maju satu langkah.  (dalam contoh ini adalah pemain nomor 2).  Giliran tetap di tim Mawar. Ketua tim Mawar kembali melakukan prosedur nomor 5.

dua
9. Demikian seterusnya, masing-masing  berusaha menempatkan kerikil di genggaman anggotanya,  berupaya untuk tidak tertebak lawan, agar bisa terus maju selangkah demi selangkah sampai salah satu anggota tim ada yang menginjak atau melampaui garis finish.  Garis finis adalah garis di mana lawannya berdiri pada saat awal pertandingan.  Tim yang berhasil melampaui garis finish tersebut merekalah yang menang.  (contoh dalam hal ini adalah Tim Melati yang menang, karena si d berhasil mencapai garis lawan)

tiga

.

Letak menariknya permainan ini ada pada bagaimana cara mengelabui tim lawan.  Ketua tim harus jeli untuk menempatkan batu kerikilnya secara diam-diam di genggaman salah satu anggota timnya.  Ketua tim pun harus punya strategi untuk dapat segera menempatkan anggota-anggotanya melangkah se maju mungkin. 

Bagaimana dengan peran anggota tim ? 
Anggota tim juga harus punya 1001 cara untuk mengelabui lawan.  Agar lawan salah menebak.  Entah itu pura-pura grogi, pura-pura salah tingkah, cengar-cengir, pura-pura panik, agar lawan curiga dan memilih dia sebagai orang yang menggenggam kerikil.  Padahal batu kerikil tidak ada padanya. “Wuek” lawan tertipu. Demikian juga sebaliknya bagaimana anggota tim yang menggenggam kerikil bisa memasang muka datar, “poker face”, se”cool” mungkin, tenang, agar lawan tidak mengira bahwa kerikil itu ada padanya.

Lalu apa manfaat dari permainan ini ?
Selain untuk membuat anak-anak senang bergembira bersama, permainan ini menurut saya juga mempunyai beberapa manfaat.  Yang pertama tentu saja membina kekompakan tim.  Bagaimana mengelola satu tim agar bisa mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya.  Yang tidak kalah pentingnya permainan ini juga mengajarkan kejujuran.  Anak-anak harus jujur.  Siapa yang memegang kerikil harus jujur mengakuinya.  Mereka hanya menggunakan satu kerikil saja setiap tim.  Tidak dua tiga atau lebih untuk mengelabui lawan.

Dan yang terakhir permainan ini juga mengajarkan bagaimana mengatur strategi penempatan kerikil yang didasari oleh sikap yang sabar.  Sabar dalam mencapai tujuan, tidak tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaannya.

Saya tidak tau apa teman-teman pernah memainkan permainan seperti ini saat kecil dulu.  Jangan-jangan permainan ini sudah punah ?  Saya tidak pernah lagi mendapati anak-anak di lingkungan rumah saya memainkan permainan ini.

Eh, kita main permainan “tanpa nama” ini yuuukkk … !?

Salam saya.

om-trainer1.

.

.“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa” 

.

.mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

Diposkan pada INSPIRING PERSON, NGEBLOG

BUKU PELENGKAP YANG LENGKAP

Untuk kesekian kalinya Pak De Abdul Cholik mengadakan sebuah perhelatan lomba.  Kali ini tema lombanya adalah membuat resensi buku : “Dahsyatnya Ibadah Haji” (selanjutnya disingkat DIH).

DIH adalah buku yang ditulis sendiri oleh Pak De Abdul Cholik.  Buku ini berisi catatan perjalanan ibadah haji Pak De di Makkah dan Madinah.  Beliau dan istri sudah menunaikan ibadah haji pada tahun 2006/2007.  Buku DIH diterbitkan pada tahun 2014 oleh Quanta.  Quanta adalah imprint dari Penerbit PT Elex Media Komputindo, Kelompok Kompas Gramedia. Tidak heran jika anda bisa menemukan buku ini dengan mudah di jaringan toko buku Gramedia di kota anda.  Saya beberapa kali melihat buku ini terpajang di rak buku Islami, di beberapa lokasi. Salah satunya adalah di Toko Buku Gramedia Mal Cinere.

IMG_4671

Pertanyaan selanjutnya : Om beli bukunya nggak ?

Jawabannya : Tidak.

Tunggu, jangan salah sangka.  Saya tidak membeli buku ini bukan karena saya tidak suka.  Ini buku yang bagus dan saya rasa sangat layak untuk dibeli.  Saya tidak membeli buku ini karena Alhamdulillah saya sudah mendapatkan buku ini dari Pak De Abdul Cholik langsung, ketika saya memenangkan salah satu lomba yang beliau adakan.

10882367_10205412951547933_8853129982964632470_n

Dan beberapa waktu kemudian, saya kembali mendapatkan hadiah buku DIH ini dari Myra “Chi” Anastasia.  Kebetulan saya menang juga di GA yang digagas Chi di blognya.

Kesimpulannya ? Saya punya dua buah buku “Dahsyatnya Ibadah Haji” … dan dua-duanya gratis … !!!  🙂 🙂 🙂

DIH1 

Kembali ke pembahasan tentang buku DIH ini ya …

Tebal buku ini kurang lebih 230-an halaman, dibagi menjadi 61 pokok bahasan.  Ya enam puluh satu pokok bahasan.  Banyak memang, tetapi justru disinilah salah satu letak kekuatan buku ini yang saya pujikan.  Setiap bab ditulis oleh Pak De dengan singkat, jelas, padat, ringan dan langsung menuju ke pesan sasaran.  Tidak mendayu-dayu, berdalil panjang lebar yang justru akan membuat pembaca menjadi “lost fokus” (hilang fokus).

Pak De sengaja membagi bahasannya menjadi 61 bagian cerita pengalaman nyata, fragmen-fragmen kecil sehingga para pembaca bisa menangkap inti sari pembelajaran dengan segera.  Dan asiknya lagi, ke enam puluh satu bagian tersebut diatur dan diceritakan secara runtut, kronologis, tahap demi tahap dari awal sampai akhir.  Sehingga tidak terasa pembaca dibawa berkelana ke seluruh rangkaian proses menunaikan ibadah haji, dengan cara yang sangat ringan dan tidak menggurui.

Cerita buku ini dimulai dari pengalaman beliau yang tidak memerlukan surat rekomendasi dari siapapun untuk membantu mempercepat proses pendaftaran ibadah haji.  Padahal jika beliau mau, melihat jabatan kedinasan yang pernah beliau pegang di negeri ini, rasanya sangat mudah bagi Pak De untuk meminta rekomendasi pihak yang berwenang, agar dimudahkan proses keberangkatan ibadah hajinya.  Namun beliau menolak.  Beliau berkata dengan mantap : “Katanya naik haji itu panggilan. Saya tak merasa perlu minta aneka surat rekomendasi dari siapapun. Jika ALLAH berkehendak, tidak akan ada yang mampu menghalangi”

Lalu mengalirlah cerita ringan namun indah seputar serba serbi perjalanan ibadah haji Pak De pada bab-bab selanjutnya.  Sesekali di dalam cerita, diselipkan humor-humor, dan satu-dua celetukan khas Pak De.

Bayangkan saja, segala cobek dan ulekan diceritakan.  Belum lagi cerita karet gelang, honey moon, kopi susu, dan “hajat penting”.  Anda tentu sudah bisa membayangkan serunya bukan ?  (Selain tentu saja cerita mengenai ibadah-ibadah haji seperti tahalul, sa’i, thawaf dan melempar jumrah dan sebagainya).

.

Lalu mengapa saya membuat judul : Buku Pelengkap yang Lengkap ?

Menurut pendapat saya memang buku ini bisa dijadikan pelengkap bagi mereka yang ingin melaksanakan ibadah haji.  Disebut buku pelengkap, karena buku ini sama sekali tidak memuat lafaz bacaan doa ataupun bacaan niat untuk melaksanakan ritual ibadah haji.  Ibarat komputer, buku ini adalah bagaikan hardwarenya.  Urusan persiapan dan tips-tips duniawi untuk melaksanakan ibadah haji dengan lancar dan nyaman.

Buku ini memuat seluruh persiapan baik fisik maupun mental yang diperlukan untuk melaksanakan ibadah haji.  Buku ini juga memuat beberapa catatan-catatan ringan (namun penting) yang patut diketahui oleh para calon jamaah haji.  Antara lain check List barang bawaan, tips-tips penting di beberapa tempat tertentu, busana, tips supaya tidak tersesat dan sebagainya. Lengkap.

Itu sebabnya saya katakan buku DIH ini adalah Buku Pelengkap yang Lengkap.

Buku utama tetaplah buku kumpulan doa dan dzikir ibadah haji yang biasanya dikeluarkan oleh penyelenggara perjalanan ibadah haji.

IMG_4915
buku-buku yang saling melengkapi

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.Lomba-Resensi-Buku-Dahsyatnya-Ibadah-Haji2-175x151

Artikel  ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Resensi Buku Dahsyatnya Ibadah Haji

Diposkan pada NGEBLOG

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (4)

Ini bagian terakhir dari tulisan mengenai rahasia sukses menggelar lomba di blog.

Di bagian pertama saya telah bercerita bahwa sebaiknya topik-tema yang dipilih untuk lomba itu bersifat umum dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca yang luas.  Lalu di bagian ke dua saya menulis, penyelenggara lomba hendaknya membantu memudahkan para peserta untuk menaati syarat dan ketentuan yang berlaku.  Dan kemarin di bagian ke tiga saya membahas pentingnya perencanaan waktu dan pemanfaatan momentum dalam melaksanakan lomba.

Sekarang saya akan membahas mengenai “Hadiah”.

hadiah

Tentang Hadiah

Apa hadiah itu penting ? Ya, tentu hadiah itu penting.  Namun bukan yang paling penting.

Jika anda menginginkan traffic yang tinggi, follower yang banyak dan exposure yang besar saya rasa anda juga harus menyediakan hadiah yang “mempunyai nilai”.  No pain no gain.

Selain nilainya, yang patut diperhitungkan masak-masak adalah juga jenisnya.  Hal ini sering dilupakan para penyelenggara lomba. Banyak yang memilih hadiah sesuai dengan selera diri pribadinya sendiri.  Saya suka kerudung maka saya akan memberikan hadiah kerudung.  Saya suka sepak bola maka saya akan memberikan pemenang lomba di blog saya kaos bola.  Harap diingat, yang menjadi pemenang itu adalah pembaca anda. Bukan anda.  Sehingga dalam memilih hadiah, kita harus memikirkannya masak-masak, apa kira-kira yang disukai dan sesuai dengan selera khalayak pembaca anda, pada umumnya.

Saya banyak melihat beberapa sohibul GA, ada yang memberikan voucher belanja sebagai hadiah pemenang.  Saya rasa ini solusi yang sangat baik. Pemenang bisa membeli sendiri barang yang diinginkannya atau dibutuhkannya.  Namun harus diingat, bahwa gerai untuk membelanjakan voucher itu, sebaiknya dipilih yang penyebaran outletnya sudah merata di seluruh Indonesia.  Jika gerai untuk membelanjakan hanya tersedia di Jakarta, kasihan pemenang yang berasal dari Gorontalo.  Voucher itu menjadi tidak begitu berguna. Manfaatnya tidak bisa dipergunakan dengan segera.  Hadiah baru berguna baginya, jika dia bisa menjual voucher tersebut pada rekannya di Jakarta.

Hal lain yang patut dipikirkan adalah jumlah pemenang.

Anda pilih mana, memilih banyak pemenang tapi nilai hadiahnya sedikit.  Atau sedikit pemenang tapi besar nilai hadiahnya.  Untuk memudahkan saya ambil contoh misalkan budget kita adalah Rp. 300.000

Anda pilih mana ?

  • 1 orang pemenang utama hadiahnya Rp. 300.000 ?
  • 3 orang pemenang @ mendapat Rp. 100.000
  • 10 orang pemenang @ mendapat Rp. 30.000
  • 30 orang pemenang @ mendapat Rp. 10.000

Saya pribadi cenderung untuk lebih memilih agak banyak pemenang dengan nilai yang sedikit lebih kecil.   Saya beranggapan dengan ada banyaknya pemenang, peserta menjadi lebih bersemangat.  Karena mereka merasa kemungkinan / probabilitas menangnya lebih besar.

Berapakah probabilitas yang pas ? Saya tidak tau. Namun untuk lomba yang sederhana saya rasa 1 : 10 adalah rasio yang pas.  Artinya jika pesertanya hanya 10, maka pemenangnya dipilih hanya satu saja. Jika pesertanya ada 100 maka pemenangnya dipilih 10 orang.  Sekali lagi ini hanya preferensi pribadi saya saja.  Saya tidak tau idealnya berapa.  Semua tentu tergantung budget.

BTW saya mau buka rahasia sedikit …

Sering kali, ketika menginformasikan sebuah lomba, saya hanya menulis nilai barangnya saja kepada para peserta. Misalnya : “Tiga pemenang pilihan pertama akan mendapatkan paket barang senilai Rp.100.000”

Mengapa saya melakukan hal tersebut ?

Jujur saja.  Saya sengaja melakukan hal tersebut agar hadiah yang saya beli bisa disesuaikan dengan profil para pemenangnya.  Mungkin anda masih ingat 3 orang pemenang pilihan ke dua lomba self reflection kemarin ? Yang berhasil memenangkannya adalah Uniek Kaswarganti di Semarang, Nurul Rahmawati di Surabaya dan Pak Arian Sahidi di Batu, Malang.  Melihat profil-profil mereka maka saya putuskan untuk membeli “food container”,  dengan harapan semoga bisa lebih berguna untuk mereka.

Demikian juga untuk pemenang pilihan pertama.  Kebetulan profil pemenangnya berbeda-beda, ada Kang Titik Asa dari Sukabumi yang karyawan, ada Ardi dari Bogor yang mahasiswa dan ada Cik Lianny yang ibu rumah tangga di Jember.  Saya harus bisa memilih hadiah yang cocok untuk profil-profil mereka.  Akhirnya saya pilih jam meja.

Dan untuk lebih menumbuhkan kesan istimewa, maka saya sengaja membeli hadiah-hadiah tersebut, di sebuah gerai toko perabot asal Swedia yang baru ada satu-satunya di Indonesia.

Jadi begitulah …

Hal-hal yang harus difikirkan ketika kita menentukan hadiah.  Yaitu nilai, jenis, jumlah dan  … menyesuaikan dengan profil pemenang.

Hadiah memang bukan hal yang paling penting. Namun, memberikan hadiah dengan sentuhan personal saya rasa merupakan hal yang akan selalu diingat oleh peserta lomba anda.  Anda mebuat para peserta dan juga pemenang … merasa di-istimewa-kan !

Ini yang membuat lomba anda berbeda dengan lomba-lomba lainnya … Sentuhan Personal !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

Diposkan pada NGEBLOG

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (3)

Ini adalah tulisan yang ke tiga. Di tulisan yang pertama saya telah bercerita mengenai faktor utama yang bisa membuat kita sukses menggelar lomba di blog, yaitu pemilihan “Topik-Tema”. Sebaiknya topik-tema yang dipilih itu bersifat umum, dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca kita yang lebih luas.

Lalu pada tulisan ke dua, saya membahas syatun “Syarat dan Ketentuan”, yang intinya adalah sebaiknya penyelenggara lomba membantu memudahkan para peserta untuk melakukan apa yang diminta, sekalipun syaratnya banyak.

Sekarang pada bagian yang ketiga ini saya akan mengangkat hal penting yang lain lagi yaitu masalah “Timing dan Momentum”

Timimh

Tentang Timing :

Timing adalah waktu. Penjadwalan atau schedule.  Sebagai penyelenggara lomba kita harus mengatur waktu sebaik-baiknya.  Biasanya saya selalu membagi perencanaan waktu ini menjadi tiga bagian yaitu Pre Lomba – Masa Lomba – Pasca Lomba.

Pre-lomba adalah masa conditioning.  Ancang-ancang.  Persiapan.  Mengkondisikan peserta untuk bersiap-siap mengikuti lomba yang kita adakan.  Bentuknya ? Kita bisa membuat sebuah contoh postingan dengan topik tertentu sebagai bahan acuan, disertai pengumuman bahwa sebentar lagi akan ada lomba mengenai topik seperti yang anda tulis tersebut.  Pembaca bisa mempunyai gambaran tentang lomba yang akan diadakan.

Bentuk yang lain adalah dengan membuat semacam banner “teaser”, atau iklan penggoda.  “Sebentar lagi akan ada lomba di blog saya lho”. “Siap-siap disimak yaaa”, dan sebagainya.  Teaser ini bisa anda blast di social media atau di blog anda. Atau keduanya.  Masa ini penting untuk menumbuhkan momentum rasa penasaran dari para pembaca.  Masa conditioning – pre lomba ini biasanya berlangsung hanya pada H – 7 hari atau H – 3 hari saja, sebelum informasi acara lomba kita luncurkan secara resmi.

Masa lomba adalah saat dimana para peserta mempersiapkan, membuat postingan dan mendaftarkan kepesertaannya.  Lamanya tergantung dari kompleksitas topik yang anda pilih.  Semakin sulit topiknya maka sebaiknya semakin lama masa lombanya.  Supaya peserta bisa mencari bahan atau punya waktu yang lebih banyak untuk untuk berfikir.

Berapa lama masa lomba yang ideal ? Saya tidak bisa menjawab. Namun kita pakai “rule of thumb” saja, hal yang umum saja, yaitu berkisar antara 1 minggu sampai dengan 1 bulan.  Untuk topik yang simpel satu minggu saya rasa sudah cukup. Tetapi untuk topik yang lumayan berat sebaiknya diberi waktu 1 bulan. Dan jangan lebih.

Kalau lebih dari 1 bulan ? 40 hari ? 2 bulan ? memang kenapa ?

Menurut saya 1 bulan adalah batas maksimal.  Lebih dari itu pembaca sudah mulai bosan.  Para peserta yang sudah mengumpulkan tugas lombanya pasti sudah resah, tidak sabar menunggu pengumuman pemenangnya. (atau bahkan mungkin saking lamanya mereka sampai lupa kalau mereka pernah ikut lomba). 

Jika terlalu lama, mood dan spirit kompetisi lomba akan menurun. Kita harus memelihara mood dan spirit ini agar tetap selalu diatas.  Selalu hangat.  Selalu “panas”.

Yang terakhir adalah masa pasca lomba.  Ini  terdiri dari masa penilaian, waktu pengumuman lomba, konfirmasi alamat para pemenang sampai dengan pengiriman hadiah.

Anda pernah mendengar ada beberapa GA yang diundur penutupannya ?  Atau diundur pengumuman pemenangnya ?

Saya rasa itu sah-sah saja. Namun saya pribadi sangat menghindari adanya pengunduran jadwal lomba.  Ini kesannya tidak baik. Secara logika, penyelenggara mengundurkan jadwal pengumuman … biasanya karena target jumlah peserta belum terpenuhi.  Jika saya panitia lombanya, maka apapun yang terjadi bila tanggal 10 pendaftaran lomba ditutup. Ya pada tanggal 10 jam 23.59, pendaftaran harus ditutup.

Pengumuman pun dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kalau bisa jangan mundur.  Tidak semua pembaca bisa memaklumi pengunduran jadwal pengumuman ini.  Apalagi mereka yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya.

Segera mintakan alamat pemenang lengkap dengan kode pos dan nomer kontak.  Sebaiknya hadiah sudah disiapkan terlebih dahulu jauh-jauh hari, sehingga bisa segera dikirim ketika alamat pemenang sudah kita terima.  Kita harus segera menyelesaikan seluruh rangkaian acara lomba. Project baru akan kita nyatakan selesai, jika para pemenang sudah confirm, bahwa mereka telah menerima hadiah yang kita kirimkan.

.

Tentang Momentum

Satu lagi hal yang berkaitan dengan pengaturan waktu adalah : kita harus pandai melihat, memanfaatkan dan memelihara momentum.

Momentum kurang lebih pengertiannya adalah “saat yang tepat”.

Kita harus tau kapan saat yang tepat untuk melakukan sesuatu.  Untuk memulai lomba contohnya. Kita harus lihat situasi kiri-kanan dulu.  Adakah teman lain sedang mengadakan GA ? Adakah Lomba sejenis yang sedang berlangsung ? Apakah masa-masa ini adalah masa sibuk ?

Jika waktunya orang “sibuk”, entah sibuk liburan sekolah, sibuk pendaftaran sekolah, tahun ajaran baru, libur panjang lebaran … saya sarankan anda tidak mengadakan lomba.  Nanti pesertanya sedikit.

Pun jika misalnya teman sebelah sudah ada yang mengadakan lomba blog tentang “Memelihara Kebersihan” ya anda jangan nekat mengadakan juga lomba dengan topik “Lingkungan Sehat”.  Topiknya hampir sama bukan ? Waktunya pun bersamaan.  Sebaiknya anda menghindari situasi seperti ini.

Namun jika anda memilih untuk nekat melaksanakannya juga ?  Saya sarankan anda mempersiapkan hadiah yang lebih besar.  Atau anda menetapkan syarat yang lebih mudah dan lebih ringan … (ini masalah perebutan share of voice di alam maya … anda harus berkompetisi dengan penyelenggara lomba untuk memenangkan perhatian khalayak)

Ketika lomba sedang berjalanpun, kita harus tetap memelihara momentum. Kita diharapkan tau betul saat yang tepat untuk nge-blast reminder di sosial media untuk para calon peserta yang belum mendaftar. Mengingatkan due date atau deadline dari lomba kita.  Tujuannya adalah agar iklim kompetisinya tetap terjaga hangat.  Bahkan “panas”

Saya tidak bisa banyak menceritakan mengenai menjaga momentum ini.  Karena ini semua berkaitan dengan “insting” atau “feeling”.  Namun sekali lagi intinya adalah … anda dituntut untuk pandai-pandai memilih saat yang tepat untuk menjaga mood, menjaga situasi dan kondisi agar tetap kondusif dan kompetitif.  Tau betul saat yang tepat kapan melakukan suatu tindakan tertentu.  Tau betul saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.

Dan itu butuh pengamatan yang seksama ! … dan kepekaan yang tajam !

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Next adalah tentaaaaanngg … “Hadiah”