Diposkan pada TRAINER ABG

RANTANGAN

Mungkin lebih tepatnya jasa “katering”.

“Rantangan” pengertiannya adalah menggunakan jasa katering untuk mensuplai makanan kita sehari-hari.  Biasanya jasa ini digunakan oleh para karyawan yang masih bujangan, keluarga muda atau mahasiswa yang kos-kosan.

Ada suatu masa dimana saya pernah langganan rantangan. 

Tahun 1991
Waktu itu saya baru dipindah dari Jakarta ke Surabaya.  Masa awal-awal penempatan kerja saya.  Masih bujangan.  Masing ranum-ranumnya.  Di Surabaya ini saya indekos di jalan Tambang Boyo.  Dekat Universitas Airlangga.  Bisa ditebak, bahwa teman-teman kos saya pada umumnya adalah mahasiswa universitas tersebut.

Biaya indekosnya waktu itu hanya untuk sewa kamar dan cuci pakaian saja.  Tidak termasuk makan.  Sehingga untuk makan, kita gerilya.  Usaha sendiri.  Ada yang makan di luar.  Ada pula yang pesan rantangan dari perusahaan katering.  Kalau makan di luar, memang kita bisa menentukan mau makan apa kita hari ini, selera bisa kita atur terserah kita.  Tetapi kelemahannya adalah kadang kita malas keluar-keluar lagi, sudah capek pulang kerja.  Biayanya pun pasti mahal.  Belum transportnya.

Mengingat itu semua saya putuskan, untuk memesan rantangan saja.  Saya ikut cara yang digunakan oleh adik-adik mahasiswa yang indekos disana.  Perusahaan kateringnya pun saya menggunakan yang selama ini digunakan oleh para mahasiswa tersebut.  Biar praktis.

Perbedaannya hanyalah, jika adik-adik mahasiswa ini langganan rantangannya 2 x sehari, makan siang dan makan malam.  Kalau saya hanya diantar untuk makan malam saja.  Hanya rantangan 1 kali sehari.

Bentuk rantangannya kira-kira seperti ini :

rantang
(rantang tiga susun yang ada tutupnya)

Terbuat dari alumunium.  Ada tiga rantang dalam satu paketnya.

Paling bawah isinya adalah nasi.  Kemudian rantang kedua di atasnya itu biasanya berisi sayur atau gulai atau lauk yang berkuah dan bersantan lainnya.  Dan yang paling atas adalah untuk lauknya.  Bisa ikan, ayam, tempe, telor atau tahu dan yang sejenisnya.  Kadang-kadang ada kerupuknya juga.  Buah ? saya lupa.  Ada nggak ya dulu itu ? (sudah lama sekali soalnya …)

Bagaimana dengan menunya ?
Menunya sangat bervariasi.  Yang saya suka dari rantangan yang kami gunakan waktu itu adalah mereka relatif mempunyai kombinasi menu yang beragam sehingga tidak bosan.  Rasanya pun “endang bambang”.  Enak banget.  Masakan Indonesia – Cina – Padang – Barat dsb di selang seling.

Itu yang pertama …

Yang kedua adalah sekitar tahun 1998 – 1999 an …
Saya sudah dipindah ke Jakarta lagi.  Ke kantor pusat.   Kantor kami waktu itu menyediakan makanan katering untuk seluruh karyawan.  Itu sesuai dengan filosofi dari perusahaan kami, bahwa makan siang itu harus dilakukan di kantor, bersama-sama seluruh karyawan.  Biar kompak.  Untuk yang kedua ini bentuk rantangannya rada berbeda.

Bentuknya kira-kira seperti ini :

rantang 2
rantang yang agak modern

Rantangnya terbuat dari plastik.  Hanya terdiri dari satu tingkat, tetapi ada tempat-tempatnya.

Yang di tengah bulat itu adalah tempat nasi.  Kemudian empat tempat bersekat-sekat di sekelilingnya itu adalah untuk sayur, lauk, buah dan sebagainya.  (Mirip tempat kue lebaran ya ?)

Namun entah ini hanya perasaan saya saja atau bagaimana.  Rantangan plastik dari katering yang waktu itu disewa perusahaan kami, rasanya kok kurang “nyus” ya.  Kurang enak.  Variasi menunya juga tidak semenarik waktu saya indekost di Surabaya waktu itu.  Mungkin ini karena pengaruh “bau plastik”.  Saya kurang begitu menyukai makanan yang diwadahi plastik. Apa lagi kalau plastiknya masih bau sabun cuci … hahaha.

I am not kidding. Tempat rantangan yang terbuat dari plastik ini memang punya kelemahan.  Kelemahannya adalah : aromanya bisa mengkontaminasi aroma masakan.  Mungkin karena nasi panas atau sayur panas yang di tuangkan ke wadah plastik tersebut, bisa menyebabkan keluarnya aroma tertentu.  Entah aroma plastik, maupun aroma sabun cuci piring.  Dan ini menurunkan “libido” makan saya.

Jadi begitulah …
Intinya adalah bahwa ada suatu masa dimana saya menikmati makanan dari jasa katering.  Rantangan. 
Dan ini punya seni dan romantikanya tersendiri.  Seni adaptasi rasa.  Romantika mengelola selera.  (ciya-ciya-ciya)

.

BTW
Apa teman-teman pernah makan “rantangan” ?
Menggunakan jasa katering untuk konsumsi makanan sehari-hari ?
Atau mungkin sekarang justru teman-teman berusaha di industri katering ?

Sharing ya ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

Diposkan pada TRAINER ABG

KIPAS ANGIN

.

Ini sedikit cerita waktu saya pertama kali datang ke Surabaya.  Ketika saya mulai bekerja tahun 1991 dulu.

Saya memang lahir di Surabaya.  Namun sejak tahun 1964, ketika saya berusia 1 tahun, Bapak-Ibu pindah ke Jakarta.  Sampai sekarang.  Lalu kemudian … suratan nasib, akhirnya membawa saya untuk kembali lagi ke kota kelahiran saya Surabaya pada tahun 1991.  Memulai hidup baru sebagai seorang karyawan swasta, management trainee (masih perjaka muda belia sudah tentu) di sebuah perusahaan di kawasan Rungkut Industri.

Tiga hari pertama di Surabaya saya masih tinggal di Hotel.  Waktu tiga hari tersebut saya pergunakan untuk mencari kos-kosan yang dekat dengan kantor saya.  Dari harian Jawa Pos saya mendapatkan informasi sebuah alamat kos-kosan.  Tepatnya ada di Jalan Jemur Handayani.

Sebuah kos-kosan yang menyatu dengan rumah pemiliknya.  Hanya ada tiga kamar.  Dan saya beruntung masih mendapatkan kamar yang kosong.  Saya bisa mengerti mengapa kamar ini masih tersisa. Mungkin tidak banyak yang mau menempati kamar tersebut.  Karena kamar tersebut sangat sempit … berada di tengah … tak ada jendela … dan ventilasi udara pun terbatas.  Dindingnya dari kayu hard board.  Panas – Sumuk … itu sudah tentu …

Sehingga … asset pertama kali yang harus saya beli waktu itu adalah … KIPAS ANGIN sodara-sodara … hahaha …

Ya … Kipas angin boleh dibilang adalah harta saya yang pertama, yang saya punya … ketika saya hijrah dari Jakarta ke Surabaya … pada tahun 1991.

Sebuah kipas angin portabel sederhana.  Murah meriah.  Mereknya Maspion.  Bentuknya Persegi … dan bisa berotasi pula.  Kurang lebih penampakannya seperti ini …

kipas

.

Saya bersyukur sekali punya kipas angin ini.  Karena waktu pertama pindah ke Kost-kostan ini malam pertama saya tidak bisa tidur.  Gerah banget … Akhirnya setelah membeli kipas tersebut … tidur saya menjadi (agak) nyenyak …

Sengaja saya pilih kipas angin yang bisa berotasi.  Karena sebetulnya, saya ini bukan tipe orang yang tahan dengan terpaan angin langsung dari kipas angin.  Setiap kali kena terpaan angin langsung … saya pasti masuk angin. 

Dan kipas angin berotasi ini adalah solusi yang brilyant sekali … saya berterima kasih pada yang menciptakannya.  Dengan menggunakan kipas angin berotasi seperti ini … Saya tidak masuk angin lagi karena anginnya tidak menerpa badan secara langsung … tapi juga tidak kegerahan di kamar kos yang mini itu …  Sirkulasi udara lumayan mengalir.  “Rodo Isis mas brow … !!!”

Mungkin sekarang keberadaan kipas angin sedikit demi sedikit telah tergerus oleh AC.   Namun sekalipun demikian saya tidak akan pernah lupa jasa Kipas Angin itu …

Terima kasih Kipas Angin ku …

Bagaimana dengan anda ?
Punya pengalaman serupa ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

Diposkan pada TRAINER ABG

BERKEMAH


Ini sebuah kegiatan yang sering sekali saya lakukan, ketika saya masih sekolah/kuliah dulu.  Boleh dikatakan hampir di setiap liburan sekolah saya pasti isi dengan kegiatan berkemah.  Entah kemah kegiatan pramuka, atau kegiatan palang merah remaja atau as simple as … kegiatan refreshing sehabis penat kuliah.

Seingat saya, saya pertama kali mulai mengikuti kegiatan berkemah ini sejak kelas 6 SD.  Sebelum itu sebetulnya saya sempat juga satu dua kali berkemah.  Namun waktu itu kegiatannya hanya di lakukan di halaman sekolah saja.  Ini nggak aci … !  Nggak diitung sebagai kemah yang sebenarnya.

Berkemah yang sebenarnya ya waktu kelas 6 itu.  Kegiatan Pramuka.  Persami, perkemahan sabtu minggu.  Tempatnya saya lupa-lupa ingat … entah di Margaguna atau Ragunan.  Yang jelas masih di Jakarta saja.  Setelah itu … baru merambah ke daerah Jawa Barat.  Cibubur, Bogor…Lido, Cipelang, Sukabumi dan sebagainya.

Berkemah itu sungguh mengasyikkan sodara-sodara.  Rangkaian kegiatan mengasyikkan ini dimulai dari persiapannya.  Bagi tugas … siapa bawa kompor, siapa bawa tiker, siapa bawa lampu ting/lampu badai, siapa bawa plastik dan sebagainya.  Dilanjutkan dengan mempersiapkan tenda yang akan kita pakai.  Biasanya kita memakai tenda inventaris sekolah / gugus depan.  Kita harus check apa talinya cukup, pasaknya cukup, apa ada yang sobek atau tidak dan sebagainya.  Setelah itu baru kita mempersiapkan barang pribadi … untuk kita bawa di dalam ransel kita.

Memasang tenda di lokasi perkemahan, membuat parit irigasi, memasang ijuk dan menyebar garam untuk penghalau binatang melata … aaahhh memang melelahkan tapi mengasikkan.  Belum lagi masak.  Nggak masak ? ya nggak makan !.

Jika hujan … naaaahhh ini … ini … Ini cobaan yang tiada duanya.  Apalagi kalau kita berkemah di daerah Sukabumi atau Bogor.  Itu curah hujannya lumayan tinggi.  Jika kita tidak pintar-pintar mengatur parit irigasi … ditanggung kita tidak akan bisa tidur … Karena air akan masuk dan membasahi tikar kita …  Dan bau lembabnya ??? … jangan ditanya … !!!

Jika acara berkemah sudah selesai.  Kita semua sudah kembali ke rumah masing-masing ?  Jangan senang dulu … pekerjaan belum sepenuhnya selesai.  Karena kita masih punya satu kewajiban lagi.  Guru-guru kami dulu menekankan pada kita … supaya tenda awet … dan bisa siap digunakan lagi di liburan yang akan datang.  Tenda harus dicuci.  So … Satu atau dua hari setelahnya.  Kita akan berkumpul lagi di sekolah … untuk melakukan acara … kerja bakti cuci tenda !!!.  Jemur di lapangan basket sekolah … lalu di lipat dan disimpan kembali di Gudang.  Dan ini hukumnya wajib harus dilakukan … !!!

Kami dulu … entah mengapa … melakukan rangkaian kegiatan ini semua dengan gembira dan senang hati …  Walaupun capek, lelah, sengsara selama berkemah … karena kehujanan … kebanjiran … bau apek dan sebagainya …(plus musti cuci tenda dua-tiga hari setelahnya) … tetapi tetap saja …  Kami tidak pernah kapok.  Kami tetap melakukannya lagi … dan lagi … di liburan berikutnya … seolah candu !

Saya tidak tau apa anak-anak sekarang masih merasakan … apa yang pernah kami rasakan dulu.  Rasanya kok sudah langka ya.  Sebab setau saya … seiring dengan perkembangan zaman … seluruh kegiatan tersebut rasanya sudah ada yang mengkoordinir … Kita tinggal bayar paket … tenda sudah dipasangkan … lahan sudah disiapkan … kita tinggal masuk dan tidur saja didalamnya.  Kalau lapar ? tinggal beli di warung dekat lokasi perkemahan.  Atau pesen paket katering di penyelenggara perkemahan.  … Dan yang terpenting tidak perlu repot-repot musti cuci tenda segala … !!!

Jaman memang sudah berubah …

— 

BTW …
Apa teman-teman senang berkemah ?
Boleh sharing dong pengalamannya ?

.

.

.

Diposkan pada TRAINER ABG, TRAINER KECIL

PENGURUS

 .
Lebih tepatnya adalah pengurus kelas dan/atau pengurus organisasi.

Pengurus kelas terdiri dari beberapa jabatan.  Ketua Kelas, Wakil Ketua Kelas, Sekretaris, Bendahara plus seksi ini … seksi itu.  Keamanan, Kebersihan, Pendidikan, Olah Raga, Kesenian dan sebagainya.  Bervariasi dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain.  Dari tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain.

Pertanyaan selanjutnya adalah … apakah si Trainer ini pernah jadi pengurus kelas ?

Jawabannya … ? tentu saja pernah.  Seingat saya … saya pernah satu dua kali menjadi ketua kelas dan wakil ketua kelas.  Ini waktu di SD.  Waktu di SMP saya hanya sekali menjadi ketua kelas.  Yaitu saat kelas satu saja.  Setelah itu saya tidak pernah lagi menjadi ketua/wakil ketua kelas/komti/wakil komti.  Bahkan sampai saya lulus kuliah.

Sekretaris ? Bendahara ?
Saya tidak pernah menjabat.  Entah suatu kebetulan atau bagaimana, jabatan ini biasanya diemban oleh teman-teman saya yang wanita.  Sekretaris selalu dijabat oleh siswi/mahasiswi yang tulisannya bagus dan rajin.  Catatannya komplit.  Duduk di depan.  (dan saya jauh dari sifat-sifat tersebut … hehehe).   Khusus untuk bendahara … biasanya dipilih mereka yang strict … tegas, disiplin dan amanah.  Syukur-syukur dia anak orang berada … hehehe … sehingga kalau kelas akan mengadakan kegiatan … Ada “donatur tetap”nya …

.
Bagaimana halnya dengan seksi-seksi ?

Mmmm … di kelas kami dulu jarang ada seksi-seksi. 

.

Kalau di OSIS ? atau Senat Mahasiswa ?
Mmmmm saya tidak begitu aktif di organisasi-organisasi (maha)siswa tersebut.  Saya baru sedikit aktif jika ada kegiatan saja.  Yaaa … semacam kepanitiaan-kepanitiaan gitu deh.  Yang biasa saya emban hanya ada tiga macam … jadi Seksi Acara … Seksi Kesenian atau Seksi Dokumentasi.

Dan … (again) … saya tidak pernah menjadi ketua jika ada kepanitiaan-kepanitiaan. 

Mengapa ???

Jika saya boleh berkaca … Terus terang saya kurang begitu memiliki kompetensi ”Directing Others” yang tinggi.
Saya sepertinya kurang begitu mampu untuk memimpin orang.  Bukannya tidak bisa … tetapi ini masalah kenyamanan saja.  Saya nggak biasa ”nyuruh-nyuruh” orang.  Hahaha  … Jadi nggak bakat jadi ketua.

.
Bagaimana dengan anda ?
Pernah jadi pengurus kelas ?
Pernah aktif di OSIS ?
Pernah aktif di kepanitiaan-kepanitiaan ?

.

.

.

Diposkan pada INSPIRING PERSON, MASA KULIAH, TRAINER ABG

ITU-ITU SAJA

Saya agak kesulitan untuk memilih judulnya.  Namun yang jelas ini adalah cerita nyata yang terjadi di pertengahan tahun 1982.  Bulan-bulan awal saya masuk kuliah di IPB.

Satu-dua bulan awal kami kuliah di IPB, disebut juga masa Matrikulasi Tingkat Persiapan Bersama.  Mata kuliah yang diajarkan hanya dua.  Yaitu Kimia 1 dan Matematika 1.  Mahasiswanya terdiri dari para lulusan SMU, yang berasal dari seluruh Indonesia.  Yang berhasil lulus masuk IPB tanpa test,  … alias masuk lewat jalur undangan.

Salah satu kegiatan Matakuliah Kimia 1 adalah praktikum.  Kita semua di bagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan sekitar 15 – 20 orang.

Nah yang akan saya ceritakan ini adalah … ada seorang Mahasiswi … satu kelompok praktikum kimia dengan saya.  Saya perhatikan dia … saat praktikum … atau saat kuliah … selalu mengenakan pakaian yang itu – itu saja.  Dia kalau ke kampus pun selalu berjalan kaki dengan membawa beberapa buku di tangannya, tanpa menggunakan tas.   

Mohon maaf … saya tidak bermaksud apa-apa.  Namun mahasiswi ini sungguh menarik perhatian saya.  Penampilannya sungguh amat sangat sederhana.  Wajahnya biasa saja.  Pendiam.  Kediamannya ini bukan karena sombong atau bagaimana.  Menurut pengamatan saya … Dia itu diam … menarik diri … karena dia merasa minder … rendah diri dengan mahasiswa-mahasiswi lainnya.  Dia selalu terlihat minder, dengan pakaiannya yang itu-itu saja.  Gaun Rok terusan berwarna coklat, yang sudah agak kusam warnanya.  Modelnya pun sudah ketinggalan jaman.  Kurang begitu tepat untuk dipakai untuk kuliah sebetulnya.   Tapi apa daya … rupanya itu adalah pakaian terbaik yang dia punya.

Waktu itu kebetulan saya diserahi tugas untuk mengkoordinir pembelian sampul buku praktikum kimia untuk satu kelompok kecil kami, agar buku praktikum kami seragam semua.  Dan melihat keadaannya … dengan hati-hati saya katakan padanya.   Bahwa dia tidak perlu ikut urunan beli sampul.  Saya bilang saja … uang iuran yang dikumpulkan dari teman-teman yang lain sudah lebih dari cukup untuk membeli sampul buku untuk kita semua.  Dan dia terlihat begitu lega dan berterima kasih, seraya tetap menggenggam uang iuran yang seharusnya dia serahkan pada saya.  (Uang yang sebetulnya tidak seberapa itu … tentu sungguh sangat berarti nilainya bagi dia …)

Karena dia satu kelompok praktikum kimia dengan saya … sekali dua … saya mencoba mengajak berbincang-bincang, ngobrol-ngobrol ringan dengan dia.  Dan dari situ saya mengetahui bahwa … Dia berasal dari sebuah daerah di Sumatera Barat … (saya lupa kota persisnya).   Ketika diajak ngobrol … sebetulnya dia bukan orang yang pendiam.  Dia asik juga kalau bercerita.  Dengan logat khasnya.  Kadang kita juga diskusi mengenai proses praktikum yang sedang kita lakukan.  Termasuk ”ngrasani” Asisten Dosen penjaga praktikum yang super duper judes menyebalkan itu … (hahaha)

Jauh di dalam hati kecil saya … saya merasa kasihan dengan Mahasiswi ini.  Terlihat betul betapa dia ingin sekali seperti mahasiswi-mahasiswi lainnya.  Mengenakan pakaian untuk kuliah sebagai mana mestinya.  Jeans, T Shirt dan Blouse warna warni.  Berganti dari hari yang satu ke hari yang lainnya.  Sementara dia hanya mengenakan pakaian yang itu-itu saja.  Gaun coklat terusan kusam yang modelnya sebetulnya bukan untuk kuliah.

Setelah matrikulasi selesai … dua-tiga bulan masa perkuliahan berjalan, Saya tidak pernah bertemu lagi dengan Mahasiswi tersebut.  Saya tidak tau kemana dia … sepertinya dia pulang kembali ke daerahnya.  Asumsi logika saya berkata bahwa kondisi perekonomian keluarganya … mungkin tidak memungkinkan dia untuk bertahan dan meneruskan kuliah di kota Bogor ini.  Sepertinya dia terpaksa harus mengubur cita-citanya.

.

Kemana dia sekarang ? … saya tidak tau … !
Semoga kehidupannya bisa jauh lebih baik sekarang.
Dan dia tidak lagi memakai pakaian yang itu-itu saja …
Gaun coklat terusan … yang sudah kusam warnanya …

(ini terdengar seperti cerita upik abu karangan pendongeng belaka … namun saya berani memastikan … bahwa ini kisah yang nyata ada … saya amati sendiri … terjadi di tahun 1982 … di Bogor)

.

Seharusnya … apapun yang terjadi … kita memang harus selalu bersyukur !!!

salam saya

.

.

.