Diposkan pada VOLUNTEERING

KI CILEGON 1 : YANG BERBEDA KALI INI

28 Mei 2015

Ini adalah hari dilaksanakannya program Kelas Inspirasi Cilegon 1 (biasa disebut Hari Inspirasi).

Selalu saja akan ada hal-hal baru dan berkesan di setiap pertemuan kelas inspirasi.  Demikian juga di SDN Purwakarta, KI Cilegon kali ini.

nhcilegon1

SD Negeri Purwakarta ini terletak di kecamatan Purwakarta, kota Cilegon. Masih terhitung satu kawasan dengan kompleks perumahan Krakatau Steel.  Ada enam lokal kelas dengan enam rombongan belajar.  Kondisi bangunannya meskipun tidak mewah, tetapi cukup baik, bersih dan relatif rapi.  Hebatnya sekolah ini difasilitasi juga dengan Wi-Fi lho …

Situasi jalan di depan sekolah tidak begitu ramai sehingga relatif kebisingannya tidak mengganggu proses belajar mengajar disana.  Entah karena dilarang atau bagaimana, orang tua siswa dan-atau pengantar-penjemput anak-anak, tidak ada yang berkeliaran di halaman sekolah apalagi di kelas. Semua menunggu di luar gerbang.  Tertib.

Lalu apa lagi yang berkesan di SDN Purwakarta ini ?

Berikut adalah beberapa hal yang sempat saya catat selama saya bertugas mengajar disana.

1.Cita-cita
Setiap kali mengajar, saya selalu menyempatkan diri untuk bertanya satu persatu kepada para siswa.

“Cita-cita kalian kalau sudah besar nanti ingin jadi apa ?”

Di kota-kota sebelumnya, anak-anak selalu bersemangat menjawab pertanyaan saya tersebut dengan spontan.  Ya walaupun jawabannya biasanya standart : jadi dokter, jadi suster, jadi pilot, jadi ABRI atau jadi polisi.  Namun mereka segera menjawab pertanyaan saya ketika ditanya.

Ini agak berbeda dengan situasi anak-anak di SDN Purwakarta ini.  Ketika saya masuk di kelas 5, dan bertanya pertanyaan “apa cita-citamu” tersebut.  Sebagian besar dari mereka hanya senyum tersipu malu, menunduk, geleng-geleng atau menjawab “nggak tau” (sambil memperagakan gerakan “molet”, “menggeliat-geliat” khas anak-anak itu).

Namun Alhamdulillah ketika diminta untuk menulis cita-citanya di sehelai kertas berbentuk daun cita-cita, mereka menuliskannya dengan lancar, apa yang menjadi keinginannya.

IMG_6853
menulis cita-cita (photo by @nh18)
nhcilegon16
nama : opan s. cita-cita : pemain bola (photo by @nh18)

Rupanya mereka harus dibiasakan untuk mengungkapkan apa yang mereka mau, rasakan dan inginkan secara lisan dan langsung.  Mereka harus dibiasakan untuk berbicara, tanpa merasa malu.

2.Rebana
Belajar dari kelas inpirasi yang lalu, pihak guru sekolah dan anak-anak itu selalu antusias jika diminta untuk menampilkan ketrampilan mereka berkesenian.  Demikian juga di SDN Purwakarta ini.  Mereka menyambut antusias sekali ketika diminta untuk mempersiapkan atraksi keseniannya. 

Kebetulan SDN Purwakarta ini, tim kesenian rebananya baru saja terpilih menjadi juara 2 lomba rebana tingkat SD se kota Cilegon.  Rasa antusiasme tersebut bisa terlihat dari seragam lengkap yang mereka kenakan. Anggota tim rebana ini, khusus berganti seragam sekolahnya dengan seragam baju adat.  Sebetulnya kami sudah bilang tidak perlu memakai kostum lengkap, nanti merepotkan anak-anak.  Tetapi mereka, anak-anak dan guru-guru berkeras untuk memakainya.  Mereka bilang sederhana saja … “Biar bagus Pak, Bu … kan nggak setiap hari kami bisa tampil di depan Bapak-Ibu Kelas Inspirasi”. (speechless)

Ya … mereka melakukan ini demi mempersembahkan yang terbaik untuk kami.

nhcilegon8
tim rebana SDN Purwakarta (photo by @nh18)
nhcilegon7
vokalis tim rebana SDN Purwakarta (photo by @nh18)

Sebuah persembahan sederhana namun dilakukan dengan sungguh-sungguh dan gembira oleh anak-anak SDN Purwakarta.  Mengharukan.

3. Jamuan
Kali ini kami kecolongan.
Ya … kami kecolongan sodara-sodara.  Ini cerita tentang makan siang.

Di program kelas inspirasi yang sudah-sudah, ada banyak cara yang kami (para relawan) lakukan untuk mengelola makan siang kami.  Kelompok saya waktu di Bogor dulu memutuskan,  selesai acara langsung bubar jalan.  Makan siang sendiri-sendiri. Kelompok KI saya waktu di Depok lain lagi, selesai acara kami makan-makan di sebuah restoran soto yang terletak tidak jauh dari SD tempat kami mengajar.  Di Bekasi, ada salah satu orang relawan yang berkenan untuk mentraktir dan menyediakan 40 nasi kotak untuk kami dan juga para guru-guru sekalian.  Kami makan-makan di ruang guru sekolah.

Lalu bagaimana dengan di Cilegon ?
Jujur ketika diskusi persiapan melalui sarana social media Whatsapp.  Persoalan makan siang tidak kami bahas sama sekali.  Kami melulu fokus pada persiapan mengajar, jadwal, run down acara dan logistik perlengkapan.

Apa yang terjadi ?
Selesai acara, bapak kepala sekolah ternyata secara mengejutkan sudah menyediakan Nasi Bungkus untuk kami para relawan.  Adduuuhhh … kami sungguh merasa tidak enak karena sudah merepotkan Pak Kepala sekolah.  Nasi Bungkus Padang dengan lauk yang kumplit.  Disantap hangat ketika perut sedang lapar dan energi yang terkuras karena mengajar … Nikmat banget !

IMG_6825
ditraktir kep-sek (photo by Gaby, KI Cilegon)

Kami sungguh terharu dengan perhatian Kepala Sekolah dan jajaran guru. Di ruangan tempat kami beristirahat pun sejak pagi sudah tersedia aneka ragam kue, makanan kecil, dan jeruk yang manis.  Satu doos besar air mineral botol. Dan satu doos air mineral gelas.  Sambutan yang membesarkan hati.

P5282167
kepala sekolah dan guru-guru (photo by @nh18)

Jadi demikianlah …
Setiap program kelas inpirasi pasti menyimpan cerita-cerita indah sendiri-sendiri. Sederhana tetapi tulus.  Tidak ada maksud terselubung apa-apa.  Tak ada kepentingan apa-apa. 

Yang ada hanyalah satu keinginan sederhana. Membuat anak-anak berani untuk bermimpi dan berikhtiar keras untuk meraih mimpinya.

Sampai jumpa di Kelas Inspirasi kota berikutnya …

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KI CILEGON 1 : HARI BRIEFING

Tentang kelas inspirasi (KI) lagi.

Ini kali yang ke empat, saya mengikuti program “Kelas Inspirasi”.  Setelah di Bogor, Depok dan Bekasi, kini saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan yang mengajar di kota Cilegon.  Kota Cilegon baru pertama kali mengadakan program ini.  Maka dari itu disebut juga KI Cilegon 1

Bagi saya KI kali ini terasa istimewa, karena jujur saja, saya belum pernah ke Kota Cilegon sebelumnya.  Ini akan menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi kota pusat industri baja ini (kemane aje om selama ini ?)

Seperti program-program sebelumnya, kegiatan ini diawali dengan hari briefing.  Hari dimana para relawan dikumpulkan dan diberikan sedikit pembekalan dan pelatihan untuk mengajar anak-anak di sekolah dasar.

.

Kamis, 14 Mei 2015

Hari briefing.

Saya meluncur menuju Cilegon.  Saya pergunakan perjalanan ini sebagai uji coba.  Uji coba untuk menghitung lama perjalanan dari rumah saya menuju Cilegon.   Ini penting saya lakukan agar nanti pada hari H saya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik.  Saya harus memperhitungkan segala sesuatunya, agar jangan sampai datang terlambat ke sekolah.

Ternyata total perjalanan yang harus saya tempuh adalah (hanya) satu jam saja.  Ini berkat adanya akses jalan toll outer ring road lalu disambung dengan jalan tol Jakarta – Tangerang – Merak.   Perjalanan yang relatif jauh tersebut bisa ditempuh dalam waktu yang singkat.

Briefing mengambil tempat di Auditorium Fakultas Teknik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, sebuah universitas negeri terkenal yang ada di Propinsi Banten.  Ketika saya datang, saya disambut hangat oleh seorang blogger, teman lama saya Anazkia.

11272898_966084216769625_2101554877_n
saat baru datang (photo by Anazkia)

Kebetulan Anazkia adalah salah satu panitia yang menyelenggarakan program kelas inspirasi di Cilegon kali ini.  Saya sudah beberapa kali bertemu dengan Anaz sebelumnya.  Anazkia adalah seorang blogger santun yang kiprahnya tidak bisa dianggap kecil di negeri ini.  Sudah banyak sekali kegiatan sosial yang dilakukannya.  Tidak heran jika dia pernah terpilih sebagai Srikandi Blogger Inspiratif 2013, Perempuan Inspiratif tabloit Nova 2014 untuk kategori Perempuan dan Teknologi juga sebagai finalis Kartini Next Generation 2015.

11026160_10206662997558302_2777442656964648056_n
me with anazkia (photo by @nh18)

Pada kesempatan tersebut Anaz “menodong” saya untuk mengisi acara, sedikit sharing pengalaman mengikuti kelas inspirasi di kota-kota sebelumnya.  Saya pun dengan senang hati menyanggupinya (trainer nggak boleh dikasih mikrofon)(pasti nyerocos dia … hahaha)

Saya berkesempatan untuk berbagi beberapa kiat menghandel kelas,  juga mengajarkan beberapa yel-yel yang sering digunakan di program KI

11261218_10205314245553447_8208242744505016745_n
(photo by Rendy, KI Cilegon)

Pada akhir briefing kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.  Tim yang terdiri dari beberapa orang relawan yang nantinya akan bekerja sama untuk mengajar di satu sekolah dasar yang telah ditentukan. Saya tergabung di kelompok 6 yang akan mengajar di SD N Purwakarta. (ya ada satu kecamatan di Cilegon yang bernama Purwakarta, mirip dengan nama salah satu kota di Jawa Barat)

Yang seru adalah … di kelompok saya, yang datang di hari briefing hanya ada 4 orang saja.  Yaitu saya, dua orang fotografer plus satu orang fasilitator.  Sebetulnya di dalam daftar ada 7 orang relawan pengajar yang tergabung dalam kelompok kami.  Namun mungkin karena hari ini, hari libur yang (sangat) panjang atau karena undangan pemberitahuan yang mendadak, membuat banyak sekali relawan yang tidak bisa datang pada hari briefing tersebut. (Hal ini terjadi bukan hanya di dalam tim saya saja, tetapi juga di tim-tim yang lain)

11051796_10205314231633099_5747042528945372089_o
Saat berdiskusi (bagaikan kakek menasehati cucu-cucunya) (photo by Rendy, KI Cilegon)

Setelah selesai berdiskusi dan merencanakan beberapa hal dengan teman satu tim (yang usianya jauh lebih muda dari saya itu), saya pun mempergunakan kesempatan waktu kunjungan saya ke Cilegon untuk pertama kalinya ini, untuk mencari lokasi sekolah dasar tempat kami nanti akan mengajar.

Sekali lagi, hal ini sangat penting agar saya nanti tidak datang terlambat pada saat hari Inspirasi.  Saya harus tau lokasi terlebih dahulu dan bagaimana jalan paling efektif untuk mencapainya.  Saya harus berkenalan dengan “hawa” jalan-jalan menuju sekolah tersebut.

Alhamdulillah ketemu sekolahnya.

Namun saya tidak bisa masuk karena pintu gerbang digembok, sekolah tutup karena hari libur.  Inilah pandangan lensanya.

IMG_6390
(photo by @nh18)
IMG_6392
(photo by @nh18)

Sekolahnya cukup rapi, bersih dan bangunannya pun cukup baik.  Sebuah awal yang menggembirakan …

Bagaimana suasana Hari Inspirasinya ? Tunggu tulisan saya berikutnya.

nhcilegon1
anak-anak SD Negeri Purwakarta yang lucu (photo by @nh18)

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KI BEKASI 2 : YANG BERBEDA KALI INI

9 April 2015

Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, untuk ketiga kalinya saya mendaftar kembali menjadi relawan di program “Kelas Inspirasi”, Gerakan Indonesia Mengajar.  Setelah di Bogor dan Depok, kini saya mendapat kesempatan untuk mengajar di Bekasi.  Tepatnya di SD Negeri Jatiwaringin 1.

nh9
(photo by Romi, Deti, Glen)

Setiap kota pasti punya kenangan tersendiri.  Selalu saja ada hal yang menarik di setiap kota. Dan ceritanya selalu berbeda-beda. 

Untuk Kelas Inspirasi di Bekasi kali ini,  hal-hal menarik tersebut adalah …

1. Inspirator

Salah dua inspirator di group kami secara kebetulan ada yang mantan kontestan pemilihan Abang Jakarta.  Tentu saja mereka mempunyai keragaan fisik dan penampilan yang menarik.  Tinggi, tampan, “hensem”, rapi ditunjang dengan perilaku dan kepribadian yang santun dan menyenangkan.

Sehingga apa yang terjadi ?
Semua heboh !!!

Bukan saja murid-murid.  Bukan saja ibu-ibu guru.  Tetapi juga para emak-emak orang tua murid yang menunggui anaknya di sekolah.  Semua berebut untuk minta foto dan se-selfian dengan teman kami tersebut.  Dan mantan kontestan abang Jakarta itu dengan sabar melayani keinginan mereka.  Dan hal ini menambah kemeriahan acara Kelas Inspirasi ini.  Terasa lebih hangat dan akrab.  Murid, Guru, Relawan dan juga orang tua murid.

Kali ini Om trainer yang eiylekhan itu … benar-benar mati angin. Kalah hawa … Manyun merana … (nggak ada yang ngajak foto bersama)(apalah aku ini ?)

DSC_5756
(kesian banget deh …)(photo by Romi, Deti, Glen)

2. Ekstra Kurikuler

Pada awalnya ketika kami “sowan” ke sekolah, beberapa hari sebelum acara Kelas Inspirasi berlangsung, kami sempat agak kecut. 

Mengapa ?
Karena kami merasa (waktu itu) sambutan dari sekolah adem-adem dan dingin-dingin saja.  Tapi ternyata kami salah.  Rupanya mereka, kepala sekolah dan para guru telah mempersiapkan dan menginstruksikan murid-muridnya untuk tampil total pada saat acara penutupan program Kelas Inspirasi.  Beberapa hari sebelum tanggal 9 April mereka semangat dan giat berlatih untuk mempersiapkan persembahan mereka.  Guru-guru bilang bahwa ini sekalian untuk pelengkap mata pelajaran SBK (Seni, Budaya dan Ketrampilan)

Mereka sangat menyambut antusias acara ini. Dan murid-murid dengan kesungguhan hati menampilkan atraksi yang terbaik.  Ada drumband, qosidah dan beberapa tari-tarian.

(Hal ini tidak kami alami di dua kota sebelumnya)

nh4
(Drumband SDN Jatiwaringin 1)(photo by @nh18)
nh3
(qosidah SDN Jatiwaringin 1)(photo by @nh18)
DSC_6344
(tarian SDN Jatiwaringin 1)(photo by Romi, Deti, Glen)
nh5
(tari “Dodogeran”)(photo by @nh18)


3. Videografer

Di setiap kelompok Kelas Inspirasi, biasanya akan ada satu atau dua orang personil yang ditugaskan untuk menjadi relawan fotografer.  Tugas mereka adalah mengabadikan seluruh aktifitas yang dilakukan oleh para inspirator.  Dari awal acara sampai akhir.

Kali ini, di tim kami, selain mereka yang bertugas sebagai fotografer, ada juga yang bertugas sebagai videografer.  Videografer bertugas membuat video pendek berdurasi 10 – 15 menit untuk keperluan program kelas inspirasi.  Entah itu untuk dokumentasi atau untuk contoh dan referensi bila ada kegiatan kelas inspirasi di kota-kota lainnya.  Tidak setiap kelompok mendapatkan Videografer.  Itu sebabnya kami bersyukur kami dilengkapi dengan videografer.  Dokumentasi tim kami jadi terasa lebih komplit.

Ini adalah hasil karya videografer di tim kami

(karya : Glene Ananta)

Jadi demikianlah …

Tiga hal yang berbeda yang saya temui di Kelas Inspirasi Bekasi #2. Khususnya Kelompok 6 yang bertugas di SDN Jatiwaringin 1.

Semoga kegiatan ini bisa menginspirasi anak-anak itu. Seperti juga kami, para relawan yang selalu saja mendapatkan hal-hal baru di setiap kegiatan yang kami lakukan.

“Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka.”
(Kelas Inspirasi)

Kelas Inspirasi … Bangun Mimpi Anak Indonesia
Kelas Inspirasi … Gapai Mimpi Anak Indonesia

Salam Saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KI BEKASI 2 : KELOMPOK 6 DAN SDN JATIWARINGIN 1

April 2015

Untuk ketiga kalinya saya mendaftar kembali menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar, program “Kelas Inspirasi”.  Program Kelas Inspirasi ini memang seperti “candu”.  Jika sudah merasakan sekali, pasti ingin berbuat lagi dan lagi.  Mengulang lagi … dan lagi …  🙂

Program Kelas Inspirasi pada hakikatnya adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat umum, para profesional untuk turun langsung mengajar ke sekolah dasar (SD) selama satu hari.  Berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga memberi motivasi para murid SD.  Agar para murid tersebut dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para inspirator.

Kota yang mengadakan program Kelas Inspirasi kali ini adalah Bekasi.  Ini kali yang kedua Bekasi mengadakan program seperti ini, itu sebabnya disebut sebagai KI Bekasi 2

Saya tergabung dalam kelompok 6 dan mendapat tugas untuk mengajar di SDN Jatiwaringin 1 :

Kelompok 6 KI Bekasi 2 :

Ini adalah kelompok terbesar yang pernah saya ikuti.  Awalnya tercatat ada 21 orang relawan.  Namun dengan berjalannya waktu, banyak yang ternyata mengundurkan diri karena ada tugas mendadak dari kantornya.  Sehingga tinggal 15 orang saja.  (tetap merupakan kelompok terbesar yang pernah saya ikuti).

kel6KIBekasi1
Kelompok 6 (sebagian) (Photo by Kel 6)

Kelompok kami ini terdiri dari berbagai macam profesi : ada penulis, travel writter, event organiser, apoteker, dokter, insinyur, karyawan pabrik otomotif, accountant, humas, karyawati perbankan dan juga trainer.  Indahnya bekerja dengan para sukarelawan adalah bahwa kita semua selalu ingin membantu satu sama lain.  Selalu ingin mengisi satu sama lain, sehingga seluruh persiapan bisa kita lakukan dengan baik.  Walaupun kita semua tidak pernah berkenalan dan bertemu sebelumnya.  Semua kita lakukan melalui fasilitas komunikasi group WA saja.   Jumlah anggota tim yang banyak juga membuat pekerjaan kami menjadi lebih mudah dan ringan.

.

SDN Jatiwaringin 1

Kali ini, saya kebetulan ditunjuk sebagai ketua tim.  Itu sebabnya saya merasa perlu untuk melakukan kunjungan pendahuluan ke sekolah dasar tempat kami akan mengajar.  Hal ini kami rasa penting untuk lebih bisa mempersiapkan acara hari inspirasi nanti dengan lebih baik.

Ini situasi sekolahnya :

crowd0
(by @nh18)
sekolah1
(by @nh18)
sekolah2
(by @nh18)
sekolah3
(by @nh18)

Sekolah ini berlokasi dikawasan yang sangat strategis.  Tepat berada di dekat atrium pusat keramaian Pondok Gede.  Ada mall ada pula pasar tradisional disana.  Lalu lintas di depan sekolah tersebut pun sangat ramai.  Tempat “ngetem” angkot pula.  Menurut pendapat saya tempat ini kurang ideal untuk sebuah institusi pendidikan sekolah dasar.  Secara lokasi mungkin mudah dijangkau, namun secara lingkungan rasanya tempat ini kurang memenuhi syarat untuk menjadi lokasi tempat pendidikan. Terlalu ramai dan riuh rendah.  Dari segi keamananpun rasanya anak-anak dan orang tua murid perlu lebih berhati-hati, terutama saat mengantar dan menjemput mereka di sekolah.

Ini kurang lebih pandangan lensanya.

crowd1
(by @nh18)
crowd2
(by @nh18)
crowd3
(by Dwi Ishak)

Jadi begitulah … Sejauh ini saya sudah pernah mengikuti Kelas Inspirasi di Bogor, Depok dan kini Bekasi.  Saya memperhatikan di setiap program tersebut pasti ada saja satu dua tiga hal yang menarik yang saya temui.  Lalu apa yang menarik yang saya temui di Kelas Inspirasi Bekasi 2 kali ini ?

Saya akan ceritakan di tulisan berikutnya … !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KID 2 : TENTANG SEORANG GADIS KECIL

Ini adalah tulisan ke tiga dari rangkaian tulisan tentang Kelas Inspirasi Depok 2.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.  Saya mengajar selama satu hari di SDN Depok 5.  Pada tulisan pertama, saya bercerita mengenai seluk beluk kondisi fisik SDN Depok 5.  Lalu di tulisan kedua saya bercerita mengenai upacara hari Senin yang diadakan di Sekolah.  Dan kini, di tulisan ketiga ini saya akan bercerita mengenai seorang gadis kecil yang saya temui di SDN Depok 5 tersebut.

.

20 Oktober 2014.
Saya berangkat dari rumah saya di Tangerang Selatan, pagi sekali.  Sehabis subuh saya langsung meluncur, supaya tidak terlambat sampai di tujuan.  Ini hari Senin.  Ini hari pelantikan Presiden yang baru.  Dan hari ini akan ada pesta rakyat di jalan protokol Jakarta.  Saya tidak mau ambil resiko, takut kena macet.  Lebih baik saya datang lebih awal daripada terlambat sampai sekolah.

Alhamdulillah.  Langkah kanan.  Jalanan lancar jaya, saya sampai sekolah sekitar jam 05.45 pagi.  Terlalu pagi.  Masih sepi.  Hanya ada seorang bapak tua penjaga sekolah yang menyiram tanaman pagi itu.  Saya pun melihat-lihat, berjalan-jalan di seputaran sekolah.  Sambil sesekali memfoto jika ada obyek yang menarik.  Tak lama kemudian satu dua tiga orang mulai datang.  Mereka adalah para pedagang makanan di kantin.  Anak-anak pun mulai ramai berdatangan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya di kantin belakang sekolah.  Ada sebuah keluarga kecil.  Bapak-ibu dan dua orang anaknya.  Mereka masih kecil-kecil, perempuan semua.  Bapak dan ibu tersebut sibuk mempersiapkan makanan untuk dijajakan di lapak mereka pagi itu.  Kantin sekolah memang terdiri dari beberapa lapak penjual makanan aneka rupa.  Mulai dari snack sampai roti.  Mulai dari nasi goreng sampai cimol.

Upacara8

Saya perhatikan anaknya yang besar mengenakan seragam putih-putih.  Dia sedang sibuk mempersiapkan diri.  Memakai kaos kaki dan mengenakan sepatu.  Sesekali bermain dengan adiknya, di sisi lapak.

Anaknya sekolah disini Pak ? saya bertanya kepada bapak penjaga kantin tersebut.
“Iya pak sekolah disini. Baru kelas satu” bapak itu menjawab, sambil tersenyum.
Saya pun menyalami anak perempuannya itu, dan anak itu pun balas menyalami saya tanpa malu-malu.

(Dalam hati saya berkata … aaahhh dia akan jadi salah satu murid pertama yang saya ajar hari ini) (Menurut jadwal yang telah diatur, saya dan seorang rekan relawan, Vini Tangkuman, akan masuk di Kelas 1 pada jam pelajaran pertama dan kedua).

Untuk selanjutnya, mari kita sebut saja nama gadis kecil itu “Putri”.

Ketika pelajaran dimulai, saya pun bertemu kembali dengan “Putri” di kelas.  Saya perhatikan “Putri” tidak minder bergaul dengan teman-temannya.  Meskipun dia hanya anak seorang pedagang makanan yang jualan di kantin sekolah.  Anaknya memang tidak banyak tingkah.  Tenang di kelas.  Duduknya di belakang. 

putri3
sebut saja namanya “Putri” (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sekali dua, dia mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari kami.  Saat menyanyi, dia ikut menyanyi dengan riang.  Saat bermain, dia juga mengikuti permainan dengan semangat.  Saat penjelasan dan demo pekerjaan Ibu Vini pun, “Putri” berusaha mengikuti dengan seksama.

putri7
Ibu Vini dan “Putri” yang nyempil (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sampai suatu saat Vini Tangkuman, rekan saya itu bertanya kepada anak-anak mengenai pekerjaannya ? (BTW : Vini adalah seorang teknisi peneliti lingkungan di sebuah PLTU).  “Putri” mengangkat tangan bersemangat, maju ke depan dan berhasil menjawab pertanyaan Vini dengan baik.  Sebagai rewardnya, Vini menyematkan sebuah bintang berwarna pink di dada kanan “Putri”.  Terlihat bangga sekali dia.

putri1
bintang pink di dada kanan (photo by @nh18)

Bintang itu terus tersemat di dadanya, di sepanjang pelajaran hari itu.  Jika terkelupas sedikit saja maka dia akan segera merapikan dan menempelkannya kembali di dada kanannya baik-baik.  Khidmad sekali.  Dia memperlakukan bintang dari kertas tersebut sebagaimana layaknya harta yang tidak ternilai.

Frick-51
bintang tetap tersemat di dada (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Saya bersyukur, Ibu Vini menunjuk “Putri” untuk maju ke depan.  Karena dengan demikian diharapkan hal ini dapat menumbuhkan semangat “Putri” untuk terus maju di masa yang akan datang.

Bukan itu saja, …
Ketika sesi foto berlangsung pun, “Putri” dengan riang dan bangganya mengenakan helm proyek (safety helmet) milik Ibu Vini.  Sekali lagi saya bersyukur Vini membawa topi ini, dan berbaik hati meminjamkannya untuk “Putri”.

Frick-269fff
Senyum dengan helm proyek dan bintang kebanggaan (photo by Frick, Kel 12. KID2)

Bentuknya memang hanya helm proyek sederhana. Hanya kertas tempelan berbentuk bintang berwarna pink murah meriah.  Namun saya percaya hal-hal kecil ini akan terus diingat oleh “Putri”.  Akan menjadi inspirasi bagi “Putri” untuk meraih cita-citanya di masa yang akan datang, dengan berbekal kerja keras, jujur, mandiri dan pantang menyerah.

Pada hakikatnya inilah esensi dari program Kelas Inspirasi.  Memberikan pengalaman kecil yang bisa menjadi inspirasi anak-anak, untuk tetap berlari mengejari impiannya.

Mudah-mudahan “Putri” dan juga teman-temannya yang lainnya di SD Negeri Depok 5 bisa meraih apa yang dicita-citakannya … Amiiinnn …

putri5
Ibu Vini, Saya dan anak-anak kelas 1 SDN Depok 5 (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

(“Putri” berjongkok, di dekat murid yang berjilbab merah)
(Dan lihatlah … saat foto bersama pun bintang pink masih tersemat di dada kanannya)

.

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Pelajarannya adalah … jangan pernah menganggap remeh hal-hal kecil.
Karena bisa jadi … justru hal-hal kecil itulah yang akan menjadi inspirasi anak-anak di kemudian hari.

.

.

.