Diposkan pada VOLUNTEERING

KELAS INSPIRASI

kismall

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa saya beberapa kali berkesempatan untuk ikut berpartisipasi di sebuah program sukarela yang bernama Program Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar.

Program Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada kemajuan pendidikan di Indonesia.  Para relawan pengajar tersebut akan cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar di sebuah Sekolah Dasar.

Apa yang diajarkan ?

Kita tidak mengajar mata pelajaran umum seperti matematika, IPS atau olah raga.  Para relawan hanya bercerita mengenai profesinya masing-masing kepada anak-anak SD tersebut.  Tentu dengan bahasa sederhana yang dimengerti oleh mereka.

Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita, serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar.  Cita-cita yang tinggi.  Cita-cita yang akan diraih dengan penuh doa dan usaha.  Usaha yang jujur, mandiri, pantang menyerah dan kerja keras.

Prinsip sikap dasar gerakan ini ada tujuh : sukarela, bebas kepentingan, tulus, siap belajar, ambil bagian langsung, siap bersilaturahmi dan tanpa biaya.  Kalaupun ada biaya, itu hanyalah iuran para relawan untuk perlengkapan acara dan keperluan alat mengajar di sekolah masing-masing.  Sikap-sikap dasar inilah yang membuat saya tertarik untuk ikut.

.

Gimana sih caranya Om, kalau mau ikutan ?

Gampang saja. Berikut adalah langkah-langkah yang biasanya saya tempuh. (note : Saya akan menyingkat Kelas Inspirasi dengan “KI” saja)

.

1. Waktu dan Tempat
Yang pertama adalah kita harus mempelajari jadwal KI yang ada.  Biasanya saya melihat di : www.kelasinspirasi.org.  Di sana ada daftar kapan dan di kota mana saja KI akan dilangsungkan. (BTW : selain dari website tersebut, informasi tentang jadwal KI juga sering kita temui di social media)

Setelah dapat jadwalnya, kita tentu harus mencocokkan dengan ketersediaan waktu dan mobilitas kita.  Misalnya saya.  Saya bertempat tinggal di Tangerang Selatan.  Saya harus memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dari rumah saya ke kota tujuan KI.  Untuk alasan kemudahan aksesibilitas, sejauh ini saya hanya memilih beberapa kota yang relatif dekat dengan Tangerang Selatan saja, yaitu Bogor, Depok, Bekasi, Jakarta, Serang dan Cilegon.

Sebetulnya bisa saja kita memilih kota yang jauh dari tempat tinggal kita. Bahkan di luar pulau sekalipun.  Itu terserah anda.  Ada banyak relawan yang menggunakan kesempatan KI ini untuk sekalian pulang kampung.  Misalnya Fulan yang berasal dari Magetan. Ketika ada program KI di Magetan, Fulan ikut mendaftar, dengan harapan dia bisa sekalian pulang kampung dan berbakti pada pendidikan di daerah asalnya itu. 

Ada pula yang menggunakan kesempatan ini untuk berwisata atau travelling ke kota-kota yang belum pernah dia kunjungi.  Itu sah-sah saja.  Sekali rengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.  (Silakan anda memilih kota mana saja, toh biaya ditanggung sendiri bukan ?!)

.

2. Mendaftar
Sudah ketemu waktu dan kota yang pas ? Kini saatnya kita mendaftar.  Pendaftaran dilakukan secara on line.  Bisa melalui www.kelasinspirasi.org , lalu klik “info lengkap”.  Anda akan diarahkan ke website KI di masing-masing kota.

Isi form data diri anda, seperti nama, pendidikan, pekerjaan, nomer kontak dan sebagainya.  Selain itu, calon relawan juga diminta untuk menuliskan apa motivasinya mengikuti KI ini. 

Para relawan bisa mendaftar sebagai pengajar atau fotografer atau videografer.  Syarat untuk bisa menjadi pengajar adalah sudah mempunyai pengalaman bekerja lebih dari dua tahun.  Sementara untuk menjadi fotografer atau videografer, harus menyertakan website/social media yang memuat karya-karya foto/video masing-masing untuk dievaluasi.

(BTW : Fungsinya memang sengaja dipisahkan antara pengajar, fotografer dan videografer.  Ini bertujuan agar pengajar tetap fokus pada aktifitas mengajarnya dan tidak “kecentilan” sibuk dengan urusan foto memfoto saat mengajar.   Ada relawan khusus, yaitu fotografer dan/atau videografer yang memang bertugas untuk mendokumentasikan seluruh aktifitas KI hari itu)

Jika form sudah diisi lengkap dan di“submit”, panitia biasanya akan mengirimkan notifikasi melalui e mail yang menyatakan bahwa data sudah diterima dengan baik. 

.

3. Proses Seleksi

Selanjutnya tim panitia rekrutmen KI akan menyeleksi calon-calon relawan berdasarkan form pendaftaran yang masuk secara on line tersebut.  Jadi saran saya, ketika anda mengisi form pendaftaran, cantumkanlah data dengan lengkap dan tuliskan motivasi anda dengan bersungguh-sungguh. Sehingga panitia rekrutmen tertarik untuk memilih anda. Form pendaftaran adalah satu-satunya tiket untuk bisa masuk menjadi relawan KI.

Kok di seleksi Om ?
Ya ini memang harus diseleksi karena yang mendaftar biasanya membludak (apalagi kalau KI di kota besar).
  Setelah proses ini, kita tinggal tunggu pengumuman dari panitia. Go or No Go !

Sependek pengetahuan saya, ada pengecualian untuk beberapa profesi dan pekerjaan.  Mereka tidak perlu mengikuti seleksi.  Ini biasa disebut sebagai relawan yang mempunyai “Wild Card”.  Mereka biasanya adalah public figure, pejabat tinggi negara, artis, musisi, orang terkenal, profesor/guru besar/peneliti senior di suatu perguruan tinggi, aktifis Program Indonesia Mengajar/Kelas Inspirasi ataupun tokoh-tokoh lainnya.  Jujur saja keikut sertaan mereka, membuat kami para relawan “biasa” ini menjadi lebih bersemangat.  (Eh Addie MS ikutan lho.  Wah ada Ringgo Agus Rahman.  Wow Dinda Kanya Dewi di sebelah saya.  Itukan Chikita Fauzi anaknya Marissa Haque dst dst dst  )

.

What Next ?

Terus kalau seandainya terpilih … apa yang harus saya lakukan Om ?

Itu akan saya ceritakan di postingan berikutnya ya … agar tidak terlalu panjang.

Stey cun ya cun … !

kinh

Salam saya

om-trainer1.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KID 2 : TENTANG SEORANG GADIS KECIL

Ini adalah tulisan ke tiga dari rangkaian tulisan tentang Kelas Inspirasi Depok 2.

Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, saya mendapat kesempatan untuk menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi.  Saya mengajar selama satu hari di SDN Depok 5.  Pada tulisan pertama, saya bercerita mengenai seluk beluk kondisi fisik SDN Depok 5.  Lalu di tulisan kedua saya bercerita mengenai upacara hari Senin yang diadakan di Sekolah.  Dan kini, di tulisan ketiga ini saya akan bercerita mengenai seorang gadis kecil yang saya temui di SDN Depok 5 tersebut.

.

20 Oktober 2014.
Saya berangkat dari rumah saya di Tangerang Selatan, pagi sekali.  Sehabis subuh saya langsung meluncur, supaya tidak terlambat sampai di tujuan.  Ini hari Senin.  Ini hari pelantikan Presiden yang baru.  Dan hari ini akan ada pesta rakyat di jalan protokol Jakarta.  Saya tidak mau ambil resiko, takut kena macet.  Lebih baik saya datang lebih awal daripada terlambat sampai sekolah.

Alhamdulillah.  Langkah kanan.  Jalanan lancar jaya, saya sampai sekolah sekitar jam 05.45 pagi.  Terlalu pagi.  Masih sepi.  Hanya ada seorang bapak tua penjaga sekolah yang menyiram tanaman pagi itu.  Saya pun melihat-lihat, berjalan-jalan di seputaran sekolah.  Sambil sesekali memfoto jika ada obyek yang menarik.  Tak lama kemudian satu dua tiga orang mulai datang.  Mereka adalah para pedagang makanan di kantin.  Anak-anak pun mulai ramai berdatangan.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya di kantin belakang sekolah.  Ada sebuah keluarga kecil.  Bapak-ibu dan dua orang anaknya.  Mereka masih kecil-kecil, perempuan semua.  Bapak dan ibu tersebut sibuk mempersiapkan makanan untuk dijajakan di lapak mereka pagi itu.  Kantin sekolah memang terdiri dari beberapa lapak penjual makanan aneka rupa.  Mulai dari snack sampai roti.  Mulai dari nasi goreng sampai cimol.

Upacara8

Saya perhatikan anaknya yang besar mengenakan seragam putih-putih.  Dia sedang sibuk mempersiapkan diri.  Memakai kaos kaki dan mengenakan sepatu.  Sesekali bermain dengan adiknya, di sisi lapak.

Anaknya sekolah disini Pak ? saya bertanya kepada bapak penjaga kantin tersebut.
“Iya pak sekolah disini. Baru kelas satu” bapak itu menjawab, sambil tersenyum.
Saya pun menyalami anak perempuannya itu, dan anak itu pun balas menyalami saya tanpa malu-malu.

(Dalam hati saya berkata … aaahhh dia akan jadi salah satu murid pertama yang saya ajar hari ini) (Menurut jadwal yang telah diatur, saya dan seorang rekan relawan, Vini Tangkuman, akan masuk di Kelas 1 pada jam pelajaran pertama dan kedua).

Untuk selanjutnya, mari kita sebut saja nama gadis kecil itu “Putri”.

Ketika pelajaran dimulai, saya pun bertemu kembali dengan “Putri” di kelas.  Saya perhatikan “Putri” tidak minder bergaul dengan teman-temannya.  Meskipun dia hanya anak seorang pedagang makanan yang jualan di kantin sekolah.  Anaknya memang tidak banyak tingkah.  Tenang di kelas.  Duduknya di belakang. 

putri3
sebut saja namanya “Putri” (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sekali dua, dia mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dari kami.  Saat menyanyi, dia ikut menyanyi dengan riang.  Saat bermain, dia juga mengikuti permainan dengan semangat.  Saat penjelasan dan demo pekerjaan Ibu Vini pun, “Putri” berusaha mengikuti dengan seksama.

putri7
Ibu Vini dan “Putri” yang nyempil (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Sampai suatu saat Vini Tangkuman, rekan saya itu bertanya kepada anak-anak mengenai pekerjaannya ? (BTW : Vini adalah seorang teknisi peneliti lingkungan di sebuah PLTU).  “Putri” mengangkat tangan bersemangat, maju ke depan dan berhasil menjawab pertanyaan Vini dengan baik.  Sebagai rewardnya, Vini menyematkan sebuah bintang berwarna pink di dada kanan “Putri”.  Terlihat bangga sekali dia.

putri1
bintang pink di dada kanan (photo by @nh18)

Bintang itu terus tersemat di dadanya, di sepanjang pelajaran hari itu.  Jika terkelupas sedikit saja maka dia akan segera merapikan dan menempelkannya kembali di dada kanannya baik-baik.  Khidmad sekali.  Dia memperlakukan bintang dari kertas tersebut sebagaimana layaknya harta yang tidak ternilai.

Frick-51
bintang tetap tersemat di dada (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

Saya bersyukur, Ibu Vini menunjuk “Putri” untuk maju ke depan.  Karena dengan demikian diharapkan hal ini dapat menumbuhkan semangat “Putri” untuk terus maju di masa yang akan datang.

Bukan itu saja, …
Ketika sesi foto berlangsung pun, “Putri” dengan riang dan bangganya mengenakan helm proyek (safety helmet) milik Ibu Vini.  Sekali lagi saya bersyukur Vini membawa topi ini, dan berbaik hati meminjamkannya untuk “Putri”.

Frick-269fff
Senyum dengan helm proyek dan bintang kebanggaan (photo by Frick, Kel 12. KID2)

Bentuknya memang hanya helm proyek sederhana. Hanya kertas tempelan berbentuk bintang berwarna pink murah meriah.  Namun saya percaya hal-hal kecil ini akan terus diingat oleh “Putri”.  Akan menjadi inspirasi bagi “Putri” untuk meraih cita-citanya di masa yang akan datang, dengan berbekal kerja keras, jujur, mandiri dan pantang menyerah.

Pada hakikatnya inilah esensi dari program Kelas Inspirasi.  Memberikan pengalaman kecil yang bisa menjadi inspirasi anak-anak, untuk tetap berlari mengejari impiannya.

Mudah-mudahan “Putri” dan juga teman-temannya yang lainnya di SD Negeri Depok 5 bisa meraih apa yang dicita-citakannya … Amiiinnn …

putri5
Ibu Vini, Saya dan anak-anak kelas 1 SDN Depok 5 (photo by Frick. Kel 12. KID 2)

(“Putri” berjongkok, di dekat murid yang berjilbab merah)
(Dan lihatlah … saat foto bersama pun bintang pink masih tersemat di dada kanannya)

.

.

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Pelajarannya adalah … jangan pernah menganggap remeh hal-hal kecil.
Karena bisa jadi … justru hal-hal kecil itulah yang akan menjadi inspirasi anak-anak di kemudian hari.

.

.

.

Diposkan pada VOLUNTEERING

KID 2 : TENTANG UPACARA

(Judul lengkapnya adalah Kelas Inspirasi Depok 2 : Tentang Upacara hari Senin)

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, beberapa waktu yang lalu saya mendaftar kembali menjadi relawan pengajar di program Kelas Inspirasi.  Kali ini saya mengajar di SDN Depok 5.  Kondisi SDN Depok 5 bisa anda lihat di postingan ini.

Kini saatnya saya bercerita mengenai Hari Inspirasi.  The D Day.

20 Oktober 2014
Hari ini, hari Senin.  Sekaligus bertepatan dengan hari pelantikan Presiden Republik Indonesia dan dilanjutkan dengan perayaan syukuran Pesta Rakyat di sepanjang jalan protokol Jakarta.  Kami menyambut Presiden baru tersebut dengan cara kami sendiri, yaitu menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 ini.  🙂

Agenda pertama hari ini adalah … mengikuti apel upacara hari Senin.

Kisahnya kita mulai dari koridor ini.  Koridor tempat kami berdiri mengikuti upacara !  🙂

KID9
koridor itu … (photo by @nh18)

Bagi mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri atau guru SD pasti upacara hari Senin adalah merupakan hal yang (sangat) biasa. Namun tidak bagi saya pribadi.  Hal ini adalah hal yang luar biasa.  Sebuah nostalgia yang manis.  Ada suatu masa dimana setiap hari Senin saya selalu menjadi petugas upacara di sekolah.  Sejak kelas 5 SD saya sudah menjadi petugas upacara.  Terus berlanjut sampai saya kelas 3 SMA.  Jabatan saya berganti-ganti.  Kadang sebagai komandan regu, komandan upacara, kadang pengerek bendera, pembaca Pancasila, pembaca Pembukaan UUD 45 sampai menjadi dirigen memimpin lagu Indonesia Raya.

Mengikuti upacara kemarin, bagaikan membuka kembali lembaran album kenangan ketika saya sekolah dulu.  Kami para relawan berdiri di depan, berjajar bersama para guru.  (Ya … di koridor itu tadi … )

Upacara6
para guru (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara4
Para Guru dan Relawan KI (photo by Frick, Kel 12 KID2)

Menurut pendapat saya, anak-anak SDN Depok 5 ini relatif tinggi disiplinnya. Ketika barisan disiapkan, satu dua kali para guru ada yang memberikan pengarahan kepada anak didiknya untuk menjaga ketertiban dan agar selalu khidmad mengikuti upacara. Dan anak-anak patuh (atau takut mungkin)  🙂

Ini foto persiapan mengikuti upacara

Upacara1
persiapan upacara (photo by @nh18)

Dan ini kurang lebih situasi ketika upacara …

Upacara2
berbaris rapi, yang terlambat menunggu di luar gerbang (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara3
pengibaran bendera (photo by Frick, Kel 12, KID2)

 

Upacara7
petugas pembaca pembukaan UUD 45 (photo by @nh18)

Sempat terjadi insiden. Ketika upacara tengah berlangsung. Komandan upacara, seorang siswi, tiba-tiba saja limbung.  Hal ini segera diketahui oleh salah seorang pemimpin kelas yang tepat berdiri di belakangnya.  Siswi tersebut pingsan hampir terjatuh, untung saja salah satu guru ada yang sigap, berlari, menangkap dan memapahnya ke ruang UKS.  Dan hebatnya, salah satu dari siswa petugas upacara ada yang segera bergegas menggantikan kedudukan siswi tersebut sebagai komandan upacara.  Upacara tetap diteruskan.  Dan dia memimpin upacara tersebut sampai selesai.  Saya salut.  Ternyata anak-anak memang sudah disiapkan untuk menghadapi segala sesuatu hal yang mungkin saja terjadi.  Mereka siaga dengan petugas pengganti.

Khusus pada upacara kali ini ada agenda tambahan, yaitu sambutan dari perwakilan relawan pengajar Kelas Inspirasi yang bertugas di SDN Depok 5 … (ihik … uhuk … )(nasib menjadi yang paling tua ya gini ini … )(hahaha)

Upacara5
(photo by Frick, Kel 12, KID 2)

Assalamu’alaikum warochmatullahi wabarokatuh …
Selamat pagi anak-anaaaakkkkk … !!!
Sudah sarapan semuaaaaaaa … ???

(and the fun time begin … !!!)

.

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9

.

.

.

Cerita masih akan terus berlanjut …
Postingan yang akan datang … kisahnya akan saya mulai dari gambar yang satu ini …
Perhatikan gadis kecil berbaju putih-putih …

Upacara8

.

eng ing eng … (halah)

.

.