SELUBUNG

(#15)

 

Di bulan Suci Ini

Coba lihat di siang hari

Seluruh Rumah Makan

Seluruh Kedai

Seluruh Warung hidangan

Seluruh Resto

Seluruh Gerai Cepat Saji …

Berlomba untuk menutupi dirinya

Dengan …

SELUBUNG …

 

Hmmm …

Kira-kira apa gunanya Selubung itu ???

 

Menghormati kaum muslimin

yang sedang menjalankan ibadah puasa

Menghalangi pandangan orang yang di luar

Agar tidak tergoda oleh hidangan yang tersaji didalam

 

ATAU …

 

Menutupi orang yang sedang makan didalam

Agar tidak terlihat oleh orang yang diluar ???

 

Kenapa ya mesti pake SELUBUNG …

Karena sepertinya …

Semakin ditutup … semakin bebas untuk ”Buka”

(hehehe)

 

 

 

 

SO SWEET

(#14)

 

ALLAH mengajarkan kita untuk …

menyayangi Ibu Bapak

mencium tangan para Guru …

mengasihi sanak saudara …

menyayangi makhluk lain …

tidak berlaku dzalim pada lingkungan …

 

ALLAH juga mengajarkan kita untuk …

menghormati para tetangga …

menyantuni anak yatim …

berbagi dengan kaum fakir dan miskin …

selalu tersenyum …

berkata lembut …

bertingkah laku santun …

memakai wangi-wangian …

senantiasa bersih …

 

Hhmmm 

Isn’t that SWEET …

Isn’t that … SO SWEET …???

 

Apa lagi coba ???

 

ALLAH is sssooo SWEET …

Masih beranikah kita menolak cinta NYA … !!!!

TERATUR

(#13)

 

ALLAH mengajarkan kita

Untuk Hidup TERATUR

 

Semua telah ditentukan saat-saatnya

Seiring dengan bergeraknya sang Matahari …

 

Membuka hari …

Istirahat bekerja di tengah hari …

Berhenti sejenak di sore hari …

Membersihkan diri di senja hari …

Menutup hari …

 

Kita dijadwalkan untuk Bicara pada NYA

Kita dijadwalkan untuk Mengadu pada NYA

Kita dijadwalkan untuk Wajib Bercinta dengan NYA

 

Semua sudah terjadwal dengan rapi …

Semua TERATUR

 

ALLAH mengajarkan kita

Untuk Hidup TERATUR

 

Mari kita atur Waktu kita dengan baik …

Karena hanya itulah yang kita punya …

 

Janganlah kita termasuk orang yang merugi

Karena telah menyia-nyiakan Waktu …

BERSYUKUR

(#11)

 

Kini …

Bersyukur itu semakin langka

 

Bersyukur bukan lagi suatu kebiasaan

Bersyukur itu kini berubah menjadi …

Sebuah … Keahlian

Sebuah … Ritual Tradisi

 

Layaknya sebuah Keahlian

Perlu upaya belajar yang keras

Perlu usaha yang gigih

Perlu latihan yang lama

 

Layaknya sebuah Ritual Tradisi

Bersyukur kadang hanya di lakukan

Semusim sekali …

Bahkan kadang setahun sekali

 

Harus kah begitu ?

 

Bersyukur itu sejatinya mudah saja

Suatu kebiasaan,

Suatu kebutuhan,

Yang mengalir begitu saja

Di aliran darah kita

Seirama dengan hembusan nafas kita

Setiap saat … Setiap hari …

 

Karena Darah dan Nafas itu

Adalah juga … anugerah

Yang tak terhingga dari NYA

Yang patut di syukuri …

Setiap saat … Setiap hari …

 

Apa susahnya sih Bersyukur …

 

Mudah-mudahan kita termasuk

Orang yang bisa bersyukur …

Orang yang biasa bersyukur …

Orang yang butuh bersyukur …

 

Tidak perlu Keahlian …

Dan sama sekali Bukan Ritual Tradisi

Yang hanya dilakukan semusim sekali …!

KHOTIB DAN LISA

 

 

Sabtu kemarin Trainer jalan-jalan sore didekat rumah.  Ngabuburit.  Mencari makanan untuk berbuka puasa.  Sekalian mengajak si Tengah dan si Bungsu untuk cukur rambut.

 

Aku bertemu dua orang istimewa ini … Namanya Khotib dan Lisa …

 

Siapa si Khotib … ?

Khotib adalah seorang penjual gorengan.  Seorang anak kecil.  Kelas 6 SD.   Dia adalah teman sepermainan anakku si Tengah.  Walaupun mereka tidak satu sekolah.  Dulu sering sekali jika hari Sabtu … dia main ke rumah ku … diajak oleh si Tengah, entah main PS atau Main Bola di halaman rumah.

Sedang apa dia ?

Ya sedang menjual gorengannya lah … Laris manis … karena menjelang buka puasa.  Aku perhatikan dia.  Bagaimana tangan-tangan kecilnya dengan cekatan memainkan capit memasukkan pisang goreng, bakwan, lumpia, cireng dan sebagainya.  Ah aku terharu.  Dia membantu kakeknya berjualan gorengan di ujung gang. 

Lho kok kakeknya … lalu ayah ibunya kemana ?  Ayah ibunya pergi menjadi TKI dan TKW ke Luar Negeri, kalau tidak salah ke Hongkong dan Taiwan.  Khotib ditinggal sendirian di Indonesia membantu Kakeknya berdagang gorengan.

 

Lalu Siapakah si Lisa …?

Lisa juga seorang anak kecil.  Baru kelas 4 SD.  Nama lengkapnya Lisa Prihatin.  Dia berjualan Kolak dan Lontong.  Juga untuk keperluan berbuka.  Dengan suara kecilnya dia menawarkan dagangannya kepada para pejalan kaki yang lalu lalang didepannya.   Kolak Pak … ?? Kolak Buu … ?? … dengan riang polos … khas anak-anak.  Sambil mengibas-ibaskan lap agar lalat tidak mendekat.  Aku kembali terharu …

Lisa juga sering sekali main ke rumah kami …

Ya … karena Lisa tidak lain dan tidak bukan adalah putri tunggal Asisten Rumah Tangga kami.  Sementara Ibunya bekerja di rumah kami … dia pada bulan Ramadhan ini turut meringankan beban ibunya dengan berdagang penganan untuk berbuka puasa, … tidak jauh dari tempat Khotib berjualan …  Ya … Dia sudah diajar Prihatin oleh orang tuanya.  Sesuai namanya … Lisa Prihatin …

 

Terbersit di benakku … ah anak-anak sekecil ini … sudah belajar bekerja membantu orang tuanya masing-masing … mencari rejeki apa saja asal halal … tanpa sungkan tanpa malu.

 

Anda harus lihat bagaimana indahnya binar-binar bahagia di mata mereka … ketika menerima lembaran-lembaran uang hasil penjualan dagangan masing-masing … sambil mulutnya lirih mengucapkan Terima Kasih Pak … Terima Kasih Bu …

 

Dan senyum itupun semakin mengembang … ketika kami bilang … udah kembaliannya ambil saja … tapi ditabung ya …

 

Khotib … Lisa … jaga dirimu baik-baik ya Nak …

Aku berdoa dalam hati … Semoga ALLAH senantiasa melindungi mereka …