Diposkan pada TRAINING

TRAINEE THAT CARE

a.k.a Sifat CARE … atau peduli. 

Peduli pada sesama anggota Tim adalah suatu sifat yang harus dibina secara terus menerus.  Ini selalu aku amati ketika aku memfasilitasi suatu in class session.

 

Ada beberapa kejadian sederhana … tidak direkayasa … spontan … yang secara tidak sadar dilakukan oleh para Traineeku.  Tindakan kecil tersebut cukup mengindikasikan bahwa beberapa traineeku telah mempunyai sifat dasar CARE.  Prerequsite for a Strong Team Work.  Prasyarat penting untuk terbentuknya suatu kerjasama team yang kuat.

 

Ada banyak kisah sebetulnya, namun Aku hanya ingin menceritakan dua contoh kecil saja.

 

Contoh 1 : Seorang Chiqa dari Tasikmalaya … (di kelas : Shuriken 2008 )

Trainee ini menunjukkan ”Care” nya dengan cara yang simple saja.

Siang hari itu ada satu group Trainee (4 orang) yang belum tiba di kantor.  Mereka masih melakukan Tugas Training, Survei lapangan di luar kantor.  Tim-tim yang lain sudah pada datang semua, sudah makan siang nasi kotak yang aku sediakan.  On Time … !!! (termasuk Chiqa)

 

Aku tidak tau kenapa kok ada satu Tim yang bisa terlambat begitu.  Mungkin ada salah satu anggota Tim, yang agak kerajinan menambah-nambah pekerjaan yang justru tidak perlu.  (Inisiatif yang kurang pada tempatnya …).   Dan ketika Tim itu datang tergopoh jam dua siang … keningku sudah agak berkerut … gusar tentu saja.  Ini sungguh mengganggu jadwal dan timing training hari itu … yang sudah aku rencanakan.

 

Namun Chiqa dengan baiknya, berinisiatif segera mengambil dan memberikan nasi kotak jatah untuk makan siang mereka, … 4 orang yang telat itu …

”Udah kalian makan dulu nih … belum pada makan kan ?” begitu kata Chiqa.

Aku yang mulanya siap marah … Menjadi tidak marah … Chiqa menunjukkan ”CARE” nya pada sesama Trainee … (Ya memang kasihan mereka, pasti belum pada makan)

 

 

 

 

Contoh 2 : Seorang Irwan Effendi dari Padang Sidimpuan (di kelas : Belati 2006)

Irwan menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang lain.  Tetapi tetap simple saja.  Bukan suatu pekerjaan yang heboh dan berat.  Dia hanya berinisiatif meng sms aku.

Bunyinya …”Malam pak … Leo dari Jayapura sudah datang nih Pak.  Kami ajak survei sekalian ya pak, biar dia ikut Tim saya.  Boleh pak ??” 


Situasinya adalah : Leo hari pertama itu datang terlambat training,  karena undangan yang kami kirim belum sampai ke Jayapura.  Sehingga akibatnya dia tidak bisa ikut training Hari pertama ini.  Leo baru datang sekitar jam 7 malam.  Sementara Acara Malam hari itu seluruh Trainee melaksanakan Tugas Survei Lapangan.  Tugas yang aku berikan untuk bahan materi esok hari …

Irwan … berinisiatif untuk mengajak Leo … yang baru datang malam itu … untuk ikut sekalian survei lapangan … agar Leo tidak terlalu banyak tertinggal pelajarannya.  Karena besok hasil temuan survei mereka ini akan aku bahas dikelas.

 

Yes indeed …

Tindakan mereka kelihatannya hanya sepele saja … Chiqa hanya memberikan nasi kotak … dan Irwan hanya meng sms aku.  Chika menyadari temannya belum Makan.  Sementara Irwan peduli dengan temannya supaya tidak tertinggal pelajarannya. 

 

Sungguh hanya sederhana saja …

Namun dimataku … ini nilainya sungguh berbeda …

Sifat ”Peduli” atau ”CARE” yang diperlihatkan oleh para Trainee-trainee muda ini, yang aku tau persis … mereka melakukan ini semua, BUKAN karena ingin dipuji.  BUKAN karena sedang jaim dinilai oleh Trainernya.  Mereka melakukannya dengan spontan …

 

Simple things that makes a big different … !!!

 

(”in serving each other … we become free”) (King Arthur’s and his knights)

.

.

.

Diposkan pada INSPIRING PERSON, TRAINING

TRAINEE SEDERHANA

Satu lagi … Kisah tentang trainee-traineeku.

 

Kali ini Aku tidak ingin menceritakan kelakuan mereka di kelas.

Perkenankan aku menceritakan sedikit latar belakang tentang seorang Trainee,  yang terus terang saja … membuat hati ku trenyuh dan terharu.  Terharu ketika mendengarkan kisah perjuangan hidupnya yang sedemikian bersahaja.

 

Sebut saja namanya Arif.  Asal Jawa Barat. Kelahiran Majalengka 1 Mei 1977

Dia dulu kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung.

Semasa kuliahnya … dia tinggal di masjid … Yang aku dengar dari teman-temannya … dia membantu membersihkan masjid dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya … Sekedar untuk bertahan hidup. 

 

Dia hidup penuh kesederhanaan … sangat prihatin … Tapi dia menjalaninya dengan riang dan gembira, di wajahnya sama sekali tidak nampak gurat-gurat melow… menye-menye … dengan muka di sengsara-sengsarakan … seperti layaknya sinetron melo drama …

 

Menurut cerita yang aku dengar … Dulu waktu kuliah dia menggunakan sepeda, untuk menghemat pengeluaran.  Saking iritnya, Dia pun kadang memotong rambutnya sendiri.  Jangan ditanya … lurus atau tidak hasil potongannya.  Ah betul-betul sederhana anak ini.  Sebuah Perjuangan yang layak untuk diteladani.

 

Dan ketika dia memutuskan untuk menikah … dia dan istrinya … kemana-mana juga masih tetap berboncengan sepeda … (macam galih dan ratna itu …)
 
 

 

Sampai akhirnya dia berhasil lulus Kuliah.  Dan pada tahun 2004 dia lolos tes masuk menjadi karyawan di Perusahaan kami, di Kantor area Bandung.  Dan karena dia mendapatkan fasilitas mobil operasional, maka pelajaran pertama bagi dia adalah … Belajar Nyetir Mobil … (sebuah ”kemewahan” yang mungkin tidak pernah dia rasakan sebelumnya).

 

Dia termasuk yang bright di angkatannya … (Dia angkatan ”Keris” … satu angkatan dengan Afdhal).  Pola pikirnya runtut dan terstruktur … Ini membawanya menjadi pemenang pertama dalam lomba penulisan program proposal antar Field Officer di perusahaan kami dari seluruh Indonesia, … yang diadakan pada tahun 2005

 

Pada tahun 2006 … ketika diadakan seleksi untuk masuk Program khusus bagi mereka yang akan dipromosikan … kembali Arif berhasil lulus dan menjadi siswa Program ini …

(FYI … Afdhal pun lulus … sehingga ini seolah menjadi ajang reuni bagi mereka berdua).

 

Arif masih tetap sederhana dan apa adanya … seperti dulu …

Logat Sundanya khas sekali … (Ya … dan dia sedih sekali ketika dia mesti berlatih percakapan dalam bahasa Inggris …)(Ndak bisa bilang ”V” dan ”F” soalnya …) J

(peri dipikul ..). (baca : Very Difficult …)

 

Dia sekarang ditempatkan di Regional Jawa Timur.

 

Itu sedikit cerita mengenai Arif.  Mantan Trainee ku yang sangat sederhana dan apa adanya … !!!

 

(Adal … Ijuliar … mungkin kalian punya cerita tambahan mengenai si Uwa’ ini … ???)

(Sorry Uwa … aku cerita hal ini ndak apa-apa kan ??)

Stop Press :

Please also read komentar Afdhal dibawah ya … !.

Dal … Thanks !

.

Diposkan pada TRAINING

TRAINER TERTIPU

Today … It’s going to be Double Post …

#1. Tulisan pilihan pembaca yaitu TOP POST – TOP BLOG

#2. Tulisan Baru *pres prom di ofen* … (cerita tentang trainer vs. traineenya …)

 

dan ini adalah tulisan kedua tersebut … TRAINER TERTIPU

 

—- 

 

I am just an ordinary trainer.  Trainer pernah juga tertipu.  Begini ceritanya …

 

Tahun 2007.  Trainer dan tim nya sedang mempersiapkan suatu program training untuk para Field Marketing Officer yang baru direkrut dari seluruh Indonesia. Untuk batch tahun 2007 ini aku namakan angkatan “Razorblade”.

 

Langkah persiapan pertama adalah mendata seluruh calon Trainee, Field Marketing Officer yang baru itu.  Setelah itu aku segera membuat rooming list untuk akomodasi penginapan hotel mereka.  Pembagian kamar … Siapa akan sharing sekamar dengan siapa.

Lho Trainer kok turun tangan ngerjain yang beginian … ? … Ya … aku turun tangan sendiri … Sekalian aku menghafal nama, untuk lebih mengenal Calon Trainee-trainee ku.

 

Rooming list sengaja aku buat sedemikian rupa … agar mereka bisa lebih menyatu. Saling kenal satu sama lain.  Maklum saja mereka berasal dari seluruh Indonesia.  Aku tidak mau mereka hanya berkutat “nge-geng” dengan teman satu daerahnya saja … Aku mau mereka kompak.  Dan itu dimulai dari pengaturan kamar hotel tempat mereka menginap.

 

So mulailah aku memilih dan memasang-masangkan… Si A dari Bandaaceh aku satukan dengan si B dari Surabaya.  Si C dari Bogor sekamar dengan Si D dari Makassar dst, dst.

 

Beres mengatur … aku kirim e-mail memo undangan plus rooming list itu kepada para Area Manager, atasan mereka, untuk diteruskan ke trainee-trainee itu … agar mereka siap.

 

Sehari kemudian … aku ditelfon oleh Area Manager Sukabumi … salah satu atasan mereka.

“Pak NH … maaf … anak buah saya si Amanda kok disatukan dengan Julia dari Pekanbaru pak ??

“Iya betul … memang kenapa ? ada masalah ?” aku balik bertanya …

“Bukan begitu pak … tapi demi ketertiban nasional … Mohon Amanda jangan disatukan dengan Julia pak … Amanda itu Laki-laki pak … hahaha … !!!”  dia menjelaskan sambil tertawa geli.

 

Hah mampus lu … ternyata Trainer Ketipu nama … Amanda aku pikir nama Wanita … sehingga aku sekamarkan dengan Julia yang juga wanita …

 

Ini kesalahanku … nggak ngecek nama … Bayangkan … kalau saja … Area Manager Sukabumi itu tidak telfon … Si Amanda itu pasti “melet-melet yummy” kegirangan disekamarkan dengan si Julia … Huahahaha …. (eh atau malah mungkin Julia … yang melet-melet ?)

 

(So Trainer … next time … jangan soktau … please check and recheck jenis kelamin …)

 

Coba anda tebak … ini nama lelaki atau perempuan … “Subandari ?, Riza ? Nova ?, Anna Yuli ?, Okkie ?, Prista ?, Endang ? Rana ? … (*ini nama sebenarnya, ada dalam list trainee-trainee ku*)

Yes … Believe it or not … They are all Lekong weicehmereka semua laki-laki

 

Hah … apa ndak pusing aku … ???

.

.

.

Diposkan pada TRAINING

THE SKEPTICAL …

Ini seri tulisan mengenai disfunctional behaviour dari para trainee-traineeku tercinta.

The Skeptical atau kadang disebut juga The Cynical … Yaitu Orang yang selalu skeptis dan sinis … Dia memandang dunia selalu dari sisi yang negatif dan gelap … Kalau sekali dua kali sih wajar, mendengar Trainee tersebut mengemukakan komentarnya dengan nada sinis dan skeptis … (mungkin ini meniru tokoh-tokoh politik, atau mahasiswa superhero, pengamat politik/ekonomi atau anggota parlemen yang sering muncul di TV). Sepertinya Cool sekali kalau sudah melontarkan kata-kata sinis dan skeptis … !!!

Namun kalau porsinya sudah kebanyakan tentu sangat mengganggu sekali … bukan hanya mengganggu Trainer tetapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah membuat risih Trainee yang lain … Bahasa anak sekarangnya mungkin …pegang jidat lalu bilang … Cape Deeehhh !!!

Ya memang melelahkan dan capek sekali melayani trainee yang selalu mengeluh, skeptis dan sinis di segala hal … Ciri khasnya adalah … selalu menampakkan mimik muka mencibir dari bibir yang tidak simetris itu. Menyeringai … !!! (asem sekali)

Dan kata-kata …
“alah … paling nanti seperti ini lah …”
“yaaaahhhh percaya deh nanti paling ujung-ujung nya begina beginu …”
“aaahhhh kalian sok serius amat sih … nanti kan paling jadi kuli lagi jadi kuli lagi …”
“aduh panas nih … AC nya kok gak dingin sih … pasti dana perawatannya di Korupsi ..” “Gulanya mana nih … kuenya kok begini-begini aja … masih mendingan kue dikos-kosan gua deh …!!!

BTW … Sinis / Skeptis sangat berbeda dengan Kritis lho ya … Kalau Kritis itu mengemukakan pendapat dengan tajam disertai argumen, fakta dan bukti yang cukup valid dan dengan cara yang sopan dan bijak.  Sementara kalo Sinis dan Skeptis itu … kerjaannya mengeluuuuuhhh terus tidak ada juntrungannya … semaunya sendiri.

How Do I ussually Handle Him/Her ?
Mencoba untuk tidak “emosional” (terus terang saya paling sedih dan juga sekaligus benci) melihat tingkah anak-anak muda tipe seperti ini … Mengeluuuuuuhhhh terus … sepertinya di dunia ini tidak ada yang benar dimata dia …

Jika sudah kebablasan … seperti biasa … bicara one on one saat break / istirahat … tekankan bahwa perilaku ybs itu tidak pada tempatnya … dan kalau ingin mengemukakan pendapat hendaknya disertai fakta dan dasar yang kuat … Jangan ngejeplak semaunya sendiri … kita sebagai karyawan dituntut untuk bekerja secara profesional … dan selalu Positif Thinking … meskipun sama sekali tidak dilarang untuk mengemukakan pendapat / komentar / sanggahan secara kritis … asal disertai fakta yang valid dan cara yang positif.

Biasanya memang tidak bisa hilang sama sekali … namun diharapkan agak berkurang dengan cara seperti ini …

Apa lagi menghadapi trainee-trainee muda yang masih sangat meledak-ledak … diperlukan kesabaran yang ekstra besar dalam menghadapinya. Dan dasar dari semua itu adalah kecintaan dan komitmen profesional untuk mengembangkan mereka … seperti apapun sikap mereka … !!!

Diposkan pada TRAINING

TOYS @ TRAINING …

Ada Mainan anak-anak dalam Training / In Class Session, di kelas pelatihan orang dewasa.  Beberapa tahun yang lalu aku sempat tersenyum ketika mengikuti sebuah training tentang cara berkomunikasi secara kreatif dan spontan, (Trainer juga sekali-sekali perlu ikut training kan ???) 😀

Kami (para trainee) terheran-heran karena ada banyak sekali mainan dimeja kami.  Ada Lilin mainan “Play Doh™, Balon, Gelembung Sabun, Spidol, Lego™, bola karet, crayon dan lain sebagainya …  Dalam hati aku berfikir ah ini mungkin akan digunakan pada saat ada role play atau games nanti.

Kita semua peserta ketika pertama kali masuk … hanya duduk manis melihat-lihat saja.  Tidak berani memainkannya …  Namun ketika trainer tersebut masuk, membuka training dan berkenalan … si Trainer (seorang Bhuwlei) … mengatakan kepada kita semua …: “Tuan-tuan dan nyonya-nyonya … mainan diatas meja ini silahkan dimainkan … kapan saja anda mau … Saya serius … silahkan bermain dengan mainan-mainan itu … jika anda merasa perlu memainkannya …” 

Terus terang para Trainee (yang inlander semua itu …) pada satu jam pertama masih takut-takut memainkannya … (biasalah … noleh kiri kanan ndak ada yang berani berinisiatif memulai).  (Wah Jangan-jangan ini Jebakan).  Session tetap berjalan …. Tanpa satu pun berani bermain dengan mainan-mainan itu.   Sang Trainer Bhuwlei itu mengatakan sekali lagi … mempersilahkan kita semua bermain-main dengan Toys tersebut … manakala kita bosan atau jenuh … 

Hmmm … akhirnya salah satu rekan trainee ada yang tidak tahan bertanya : “Mister … di meja ini kok ada mainan sih Mister ? Apa ini property untuk role play, diskusi atau untuk apa ? Apa sih maksudnya mister ?” 

Si Trainer Bhuwley itu menjawab : “ Mainan ? Toys ? … itu fungsinya ya untuk dimainkan … saya kan sudah bilang berkali-kali … anda bisa bermain kapan saja anda mau … jika anda bosan atau jenuh …”.  Lalu diapun sedikit berteori : “Mainan anak-anak ini membantu kita untuk tetap membuat fikiran kita bangun … “to keep our mind always on allert mode” … tetap “awas” … “sadar” … dan terjaga …”

Ditambahkan lagi … “You know what … kadang kita berbicara kepada anak kita yang sedang asyik bermain … jangan salah sangka dan jangan marah dulu … mereka sesungguhnya sedang mendengarkan kita … semua kata-kata kita direkam … karena “mind” mereka tetap terjaga dan “bangun” … !!! 

Hmmm … kami terdiam mencerna statement sang Bhuwlei trainer itu … betul juga sepertinya … Dan fungsi kehadiran mainan ini akan sangat berguna nyata jika materi trainingnya berkaitan dengan “cara berfikir kreatif” dan yang sejenisnya … yang memerlukan “mind” yang selalu “bagun” dan “awas” /”allert” 

Dan setelah itu … dengan berjalannya waktu … perlahan-lahan mulailah satu persatu dari kami berani “uplek” dengan mainan-mainan itu … Ada yang membentuk-bentuk lilin Play Doy™ macam tanah liat itu, ada yang menggambar dengan spidol dan crayon, ada yang main Lego™ membuat bangunan, ada yang meremas=remas bola karet … ada pula yang iseng bikin plembungan dari air sabun … (Huahahahha masa kecil kurang bahagia).  Lagi pula mainan – mainan tersebut termasuk mainan mahal … dan khusus dibawa oleh trainer dari luar negeri … sayang untuk tidak dimainkan … (hehehe norak ya ).  Trainer Mister Bhuwlei itu juga tidak marah … bahkan dia juga ikut memantul-mantulkan bola karet sambil terus menjelaskan materi kepada kita … (ah Training macam apa ini …???) 

Mengasyikkan sekali … tidak jenuh … dan percaya atau tidak … ini tidak mempengaruhi penyerapan kami terhadap materi yang dia sampaikan … kami tetap bisa berfikir kreatif. 

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menerapkan hal yang serupa di training -trainingku … yaitu menyediakan mainan dan alat-alat gambar di meja para Trainee … khususnya jika aku sedang memfasilitasi modul “creative comunication” … dan juga ketika memimpin beberapa creative brainstorming session. Di bagian awal selalu aku jelaskan maksud disediakannya mainan ini … yaitu “Mind Allertness” … dan aku tambah pula dengan penjelasan yang aku karang sendiri … 

“Jika ingin bermain … bermain lah dengan benda yang benar yaitu mainan … jangan bermain-main dengan Trainer, mempermainkan Sesama Trainee ataupun diri sendiri” 

“Jika ingin mencoret-coret.  Mencoret-coretlah dengan alat dan sarana yang benar dan ditempat yang semestinya yaitu di kertas … jangan “mencoret” dan mencoreng muka sendiri, muka Trainer maupun muka teman sesama Trainee.”  Hehehe aku belagak filosofis nih … !!! 

BTW ada satu lagi tips … jika anda seorang Trainer, dan berniat untuk berbuat serupa … plis harap diingat …  Jangan menyediakan mainan yang bisa menimbulkan suara keras seperti … Trompet, confetti canon, mobil-mobilan polisi/ambulan bersirene nguing-nguing yang pake batere, pistol-pistol starwar yang pake baterei, krotokan, kluntungan …. apa lagi petasan  … ya pokoknya mainan bersuara ribut lah … Soalnya kelas bisa bubar nanti … suasananya malah jadi berisik, heboh, kacau balau kayak toko mainan di pasar malam …. !!!! (Sayang anak … sayang anak … ) 🙂 

BTW teman-teman dari psychology mungkin ada yang bisa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini ???