Diposkan pada TRAINING

TRAINER TERTIPU

Today … It’s going to be Double Post …

#1. Tulisan pilihan pembaca yaitu TOP POST – TOP BLOG

#2. Tulisan Baru *pres prom di ofen* … (cerita tentang trainer vs. traineenya …)

 

dan ini adalah tulisan kedua tersebut … TRAINER TERTIPU

 

—- 

 

I am just an ordinary trainer.  Trainer pernah juga tertipu.  Begini ceritanya …

 

Tahun 2007.  Trainer dan tim nya sedang mempersiapkan suatu program training untuk para Field Marketing Officer yang baru direkrut dari seluruh Indonesia. Untuk batch tahun 2007 ini aku namakan angkatan “Razorblade”.

 

Langkah persiapan pertama adalah mendata seluruh calon Trainee, Field Marketing Officer yang baru itu.  Setelah itu aku segera membuat rooming list untuk akomodasi penginapan hotel mereka.  Pembagian kamar … Siapa akan sharing sekamar dengan siapa.

Lho Trainer kok turun tangan ngerjain yang beginian … ? … Ya … aku turun tangan sendiri … Sekalian aku menghafal nama, untuk lebih mengenal Calon Trainee-trainee ku.

 

Rooming list sengaja aku buat sedemikian rupa … agar mereka bisa lebih menyatu. Saling kenal satu sama lain.  Maklum saja mereka berasal dari seluruh Indonesia.  Aku tidak mau mereka hanya berkutat “nge-geng” dengan teman satu daerahnya saja … Aku mau mereka kompak.  Dan itu dimulai dari pengaturan kamar hotel tempat mereka menginap.

 

So mulailah aku memilih dan memasang-masangkan… Si A dari Bandaaceh aku satukan dengan si B dari Surabaya.  Si C dari Bogor sekamar dengan Si D dari Makassar dst, dst.

 

Beres mengatur … aku kirim e-mail memo undangan plus rooming list itu kepada para Area Manager, atasan mereka, untuk diteruskan ke trainee-trainee itu … agar mereka siap.

 

Sehari kemudian … aku ditelfon oleh Area Manager Sukabumi … salah satu atasan mereka.

“Pak NH … maaf … anak buah saya si Amanda kok disatukan dengan Julia dari Pekanbaru pak ??

“Iya betul … memang kenapa ? ada masalah ?” aku balik bertanya …

“Bukan begitu pak … tapi demi ketertiban nasional … Mohon Amanda jangan disatukan dengan Julia pak … Amanda itu Laki-laki pak … hahaha … !!!”  dia menjelaskan sambil tertawa geli.

 

Hah mampus lu … ternyata Trainer Ketipu nama … Amanda aku pikir nama Wanita … sehingga aku sekamarkan dengan Julia yang juga wanita …

 

Ini kesalahanku … nggak ngecek nama … Bayangkan … kalau saja … Area Manager Sukabumi itu tidak telfon … Si Amanda itu pasti “melet-melet yummy” kegirangan disekamarkan dengan si Julia … Huahahaha …. (eh atau malah mungkin Julia … yang melet-melet ?)

 

(So Trainer … next time … jangan soktau … please check and recheck jenis kelamin …)

 

Coba anda tebak … ini nama lelaki atau perempuan … “Subandari ?, Riza ? Nova ?, Anna Yuli ?, Okkie ?, Prista ?, Endang ? Rana ? … (*ini nama sebenarnya, ada dalam list trainee-trainee ku*)

Yes … Believe it or not … They are all Lekong weicehmereka semua laki-laki

 

Hah … apa ndak pusing aku … ???

.

.

.

Diposkan pada TRAINING

THE CLOWN …

(FYI : ini postingan pertama di lokasi kantor yang baru …) 

Lagi, ini masalah Disfunctional behaviour yang umum aku temui dari para Trainee-trainee ku tercinta.   The Clown …

Sesuai namanya … Trainee ini tidak pernah serius … selalu melucu … selalu bercanda. Jika dilakukan sekali-sekali sebetulnya bisa merupakan hiburan untuk tidak membuat kelas menjadi mengantuk.  Tugas Trainer akan sangat terbantu dengan adanya keberadaan pelawak-pelawak kelas ini … 

Namun jika dilakukan berkali-kali dan berlebihan akan menjadi sangat mengganggu … yang celaka seluruh kelas menjadi kacau ketawa-ketiwi ndak keruan yang berakibat aktifitas training menjadi ajang Srimulat yang tidak pada tempatnya … Kelas menjadi tidak serius.  Penerimaan pun menjadi terganggu dan tidak fokus. 

Ada kalanya celotehan dan celetukan yang bermaksud melawak ini … dilontarkan pada saat yang tidak tepat … dan sudah “out of date” lagi … sungguh akan menjadi becandaan Jayus yang justru membuat trainee lain akan “muak” dan “eneg”.   Menyebalkan ….  Dan lawakan tersebut menjadi tidak “sukses”. 

How Do I Handle Him/Her …

Jangan bunuh mereka … !!!.

Mereka adalah aset kita … Hanya memang perlu kepiawaian kita untuk mengatur … kapan memencet tombol bakat trainee lucu yang satu ini.Jika waktunya serius maka tekankanlah bahwa materi ini penting … mohon diperhatikan sebaik-baiknya.  Juga pada saat diskusi … tekankan bahwa kita semua akan menilai satu per satu pekerjaan / paper / presentasi yang mereka lakukan …

Jangan beri kesempatan untuk melucu / melawak / bertingkah / bercanda pada saat materi sedang serius-seriusnya dan butuh konsentrasi tinggi. 

Dilain pihak perlu juga ditekankan bahwa memang Training ini bersifat “Serius tapi Santai” … tapi bukan berarti bisa “cewawakan” gak keruan … relax yang dimaksud disini adalah bebas dari tekanan apapun … bukan bebas untuk melakukan apapun sekehendak hati… 

Baru ketika tiba masa-masa kritis … ngantuk / jenuh atau konsentrasi sudah mulai sulit di fokuskan … ini saatnya mempergunakan Trainee ini untuk mendemonstrasikan bakatnya … pancing dia dengan statement-statement yang bisa membangkitkan kelucuan dari si Trainee ini … lempar mereka dengan umpan-umpan lambung yang bisa di “samber” oleh si Trainee lucu ini … untuk membuat kelas menjadi bangun kembali … 

Once again … untuk mengendalikan THE CLOWN ini, hanya butuh kejelian kita untuk mengatur kapan saatnya yang tepat menekan tombol lucu dari Trainee ini …

Percayalah pada akhirnya nanti … si Trainee THE CLOWN ini justru akan berterima kasih kepada kita sebagai Trainer / Fasilitator … karena mereka justru diberi umpan di kesempatan yang tepat untuk menyalurkan bakat mereka … sehingga bisa ..”nge-jeleger” sukses … Lawakan yang Lucu dan Smart adalah lawakan yang dilontarkan pada saat yang tepat.Dan kita lah yang menentukan kapan sebaiknya saat itu tiba … 

It’s all about managing the training flow !!!

Diposkan pada TRAINING

THE SILENT MAN/WOMAN …

Another disfunctional behaviour of a trainee …(Setelah : The Busyman/Woman – The Lateman/Woman – The Whisperer)(pls refer kepostingan sebelumnya …).

Silentman/woman adalah trainee yang selalu diam … ketika in class training session berlangsung.  Bahkan ketika diskusipun tak jarang mereka bicara seperlunya atau bahkan diam saja … 

Untuk menanggulangi trainee seperti ini kita perlu tahu penyebabnya terlebih dahulu.  Menurut pengamatan pribadiku … Ada beberapa penyebab umum mengapa mereka berlaku diam seperti itu …

  1. Dia tidak mengerti … 
    • Dia sedang bengong, tidak tau, tidak mengerti, lost, telmi, lemot atau yang sejenisnya tetapi malu untuk bertanya … takut disangka bodoh jika bertanya.   Sehingga mereka memilih diam pasif saja …
    • ciri fisiknya melongo …
  2. Pikiran sedang tidak fokus ke Training … 
    • Yang ini … fikirannya sedang melanglang buana kemana-mana.  Melamun.  Berfikir yang lain selain dari materi training.  Bisa karena memikirkan pekerjaan yang ditinggal di kantor.  Karena ada masalah di Rumah.  Mikir hutang, ada masalah pribadi maupun ada masalah-masalah yang lain …
    • Ciri fisiknya … pandangan kosong, menerawang
  3. Minder … 
    • Yang ini adalah tipe pendiam yang pemalu.  Bisa disebabkan karena merasa rendah diri … karena berasal dari keluarga biasa/tidak mampu.  Atau berasal dari daerah/kota kecil (yang sulit dicari dipeta).  Bisa juga karena latar belakang pendidikan dari universitas yang tidak terkenal … dsb
    • Dia introvert karena merasa teman-teman sekelasnya lebih kaya, lebih kota, lebih gaul, lebih modern, lebih pintar lebih bergengsi dan lebih segalanya …
    • Ciri fisiknya … duduknya mengkeret.  Sedikit gelisah, kadang nunduk.  Body language menarik diri …
  4. Personality …
    •  Kalau yang ini … memang pada dasarnya dia adalah seorang yang pendiam dan tidak suka berkata-kata.  (Orang Jawa bilang “gawan bayi”)(Orang betawi bilang …”ude dari sononye” …)
    • Ciri fisiknya … duduk manis, tetapi matanya memperhatikan.

How do I usually handle them ?

Tipe 1 : Tidak mengerti …

  •  Always check for understanding.
  • Selalu mengencourage semua yang ada dikelas agar tidak malu untuk bertanya … seberapa simplenya itu pertanyaan.
  • Tekankan bahwa tidak ada pertanyaan bodoh.  Pertanyaan bodoh adalah pertanyaan yang tidak diajukan.  Jika mereka malu … katakan kepada mereka bahwa anda menyediakan waktu untuk menjelaskan kembali saat break atau makan siang.
  • Ajak trainee yang lain yang sudah jelas untuk membantu yang bersangkutan …  

Tipe 2 : Pikiran tidak Fokus …

  • Hanya dengan cara berbicara 4 mata di saat break/lunch atau saat training belum dimulai atau pada saat sore hari manakala training sudah selesai.
  • Dengarkan keluhan mereka … jika mereka mau berbagi cerita.
  • Jika mereka tidak comfortable untuk bercerita kepada anda … tekankan pentingnya arti profesionalisme … bahwa mereka dituntut untuk focus mengikuti pelajaran.  Karena semua yang kita lakukan harus bisa dipertanggung jawabkan secara profesional.  Dan profesionalisme saat mengikuti Training adalah dengan cara berpartisipasi aktif dalam training.
  • Jika memungkinkan … coba gunakan trainee sesama peserta lain … yang mungkin lebih kenal dengan yang bersangkutan untuk menjadi listener bagi yang bersangkutan … untuk dimintai pendapat atau sekedar tempat untuk berbagi … 

Tipe 3 : Minder …

  • Hmmm … yang ini tidak lain dan tidak bukan dengan cara memberikan kesempatan yang bersangkutan untuk menunjukkan siapa dirinya.  Dengan cara mengajukan pertanyaan yang anda yakin dia bisa menjawab. 
  • Menunjuknya menjadi ketua kelompok. 
  • Meminta komentar dan pendapatnya pada kesempatan yang pertama … dsb. 
  • Dengan demikian diharapkan PD nya bisa terpompa sedikit-sedikit. 
  • Tekankan pada dia bahwa … sudah masuk menjadi karyawan perusahaan ini adalah merupakan sesuatu yang harus disyukuri dan sah-sah saja untuk dibanggakan (secara tidak berlebihan).  Ini adalah achievement yang bukan sepele.  Jadi tidak ada alasan untuk menjadi minder dan rendah diri.  Meskipun juga jangan sampai pongah dan arogan. 
  • Jangan lupa ajak seluruh peserta untuk bersama-sama membangun tim trainee / tim kelas yang dinamis dan aktif.  

Tipe 4 : Personality

  • Jika anda melihat bahwa diamnya yang bersangkutan bukan karena ke tiga hal diatas.  Maka there’s nothing wrong with this trainee. 
  • It’s just a matter of personality.  They just don’t want to talk … that’s all.Jadi solusinya adalah … minta mereka bicara.  Tepatnya paksa halus mereka untuk bicara.  Dengan jalan bertanya atau meminta komentar dan pendapat mereka akan sesuatu hal. 
  • Menunjuknya menjadi juru bicara ketika ada diskusi kelompok. 
  • Atau as simple as memimpin doa pagi atau doa sore untuk penutup …
  • Seperti biasa tekankan kembali kepada seluruh trainee untuk menjunjung tinggi team work dan saling membantu … termasuk dalam mengikuti training seperti ini … 

Seperti yang para pembaca lihat … dibagian akhir penanganan trainee seperti ini disarankan untuk selalu menggunakan / melibatkan trainee lain … sesama peserta untuk bersama-sama menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi semua …

Team work tetap terjaga …Esprit de corps tetap terpompa … 

Ini pendidikan orang dewasa … trainer bukan seseorang yang maha bisa … Percaya atau tidak kadang solusi jitu yang sederhana … justru bisa kita dapatkan dari sesama trainee peserta yang lain …

And that’s the soul of Facilitating skill !!!