Diposkan pada TRAINING

POSE

 .

Tepatnya … bermain dengan Pose.

 

Ini teknik untuk ”membangunkan” kelas … teknik Ice Breaking dalam suatu session Training, meeting atau pertemuan lainnya … untuk memberikan energi kegembiraan bagi khalayak kelas yang mungkin sudah mengantuk.

 

Ini biasa aku lakukan pada siang hari … setelah mereka beristirahat panjang untuk makan siang dan sholat… Untuk masa berat ini, aku kadang melakukan aktifitas yang sedikit ”heboh” … agak banyak bergerak … memerlukan aktifitas gerak fisik.

 

Caranya simpel saja …

Minta mereka semua berdiri … mengambil tempat yang agak bebas …

Instruksikan mereka untuk … mengikuti setiap gerakan anda …

Dan sebelum memperagakan suatu gerakan … Anda harus meneriakkan kata ”Putra !!!”

 

Contoh …

”Putra” … anda memegang hidung anda … maka peserta harus segera memegang hidung mereka (menirukan gerakan anda …)

”Putra” … anda segera pegang lutut … mereka pun harus segera memegang lutut

”Putra” … anda angkat satu kaki … mereka pun harus angkat satu kaki …

Demikian seterusnya … Lakukan itu semua dengan makin lama makin cepat …

 

Mudah bukan ? …

Wait … Tunggu dulu … akan kita buat tidak semudah dan sesimpel itu …

Sekali-sekali anda … iseng meneriakkan kata ”PUTRI” sambil memperagakan gerak yang lain …  Nah kalau kata ”Putri” terdengar … para trainee justru TIDAK BOLEH menirukan gerakan anda.   Mereka harus tetap ”freeze” di posisi semula …

 

Contoh …

”Putraaaa” … kemudian anda pegang telinga … para trainee menirukan gerakan anda

”Putraaaa” … cepat segera anda pegang perut anda … para trainee pun memegang perutnya …

”Putriii” … segera anda jongkok … hahahaha jebakan … lihat siapa Trainee yang spontan latah ikutan jongkok … itu yang dihukum … (yang selamat adalah justru mereka yang tetap memegang perutnya)

 

Kunci keberhasilannya adalah …

Anda harus buang urat malu … anda harus memperagakan gerakan yang lucu … dan heboh … entah meniru binatang, … entah pose patung, … pose centil … narcis … manyun … dan berbagai ragam gerakan konyol lainnya …

 

Anda lihat jika ”kewaspadaan” mereka sudah agak lengah … segera cepat teriakkan ”Putriiii” sambil melakukan gerakan tertentu … Dan lihat siapa yang latah menirukan anda … hahaha …

 

Ini simpel … namun percayalah … mereka akan terbahak-bahak … menertawakan kekonyolan mereka sendiri atau teman-temannya yang latah ikutan meniru gerakan anda … walaupun anda meneriakkan ”Putri” …

 Dan suasanan akan semakin ramai jika diantara mereka … justru ada yang memang dari sononya udah Latah beneran … (hehehe).

FYI : Ini permainan bukan ciptaan saya … Saya juga boleh dapat dari orang ini …

(NOTE : Anda boleh ganti kata Putra – Putri … dengan kata-kata yang lain … yang lucu … Bisa ”Monyet – Bebek” … ”Panu – Kudis” … ”Bejo – Joni” … ”Romi – Yuli”  … atau yang lainnya …)

 .

.

Diposkan pada TRAINING

TRAINEE THAT CARE

a.k.a Sifat CARE … atau peduli. 

Peduli pada sesama anggota Tim adalah suatu sifat yang harus dibina secara terus menerus.  Ini selalu aku amati ketika aku memfasilitasi suatu in class session.

 

Ada beberapa kejadian sederhana … tidak direkayasa … spontan … yang secara tidak sadar dilakukan oleh para Traineeku.  Tindakan kecil tersebut cukup mengindikasikan bahwa beberapa traineeku telah mempunyai sifat dasar CARE.  Prerequsite for a Strong Team Work.  Prasyarat penting untuk terbentuknya suatu kerjasama team yang kuat.

 

Ada banyak kisah sebetulnya, namun Aku hanya ingin menceritakan dua contoh kecil saja.

 

Contoh 1 : Seorang Chiqa dari Tasikmalaya … (di kelas : Shuriken 2008 )

Trainee ini menunjukkan ”Care” nya dengan cara yang simple saja.

Siang hari itu ada satu group Trainee (4 orang) yang belum tiba di kantor.  Mereka masih melakukan Tugas Training, Survei lapangan di luar kantor.  Tim-tim yang lain sudah pada datang semua, sudah makan siang nasi kotak yang aku sediakan.  On Time … !!! (termasuk Chiqa)

 

Aku tidak tau kenapa kok ada satu Tim yang bisa terlambat begitu.  Mungkin ada salah satu anggota Tim, yang agak kerajinan menambah-nambah pekerjaan yang justru tidak perlu.  (Inisiatif yang kurang pada tempatnya …).   Dan ketika Tim itu datang tergopoh jam dua siang … keningku sudah agak berkerut … gusar tentu saja.  Ini sungguh mengganggu jadwal dan timing training hari itu … yang sudah aku rencanakan.

 

Namun Chiqa dengan baiknya, berinisiatif segera mengambil dan memberikan nasi kotak jatah untuk makan siang mereka, … 4 orang yang telat itu …

”Udah kalian makan dulu nih … belum pada makan kan ?” begitu kata Chiqa.

Aku yang mulanya siap marah … Menjadi tidak marah … Chiqa menunjukkan ”CARE” nya pada sesama Trainee … (Ya memang kasihan mereka, pasti belum pada makan)

 

 

 

 

Contoh 2 : Seorang Irwan Effendi dari Padang Sidimpuan (di kelas : Belati 2006)

Irwan menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang lain.  Tetapi tetap simple saja.  Bukan suatu pekerjaan yang heboh dan berat.  Dia hanya berinisiatif meng sms aku.

Bunyinya …”Malam pak … Leo dari Jayapura sudah datang nih Pak.  Kami ajak survei sekalian ya pak, biar dia ikut Tim saya.  Boleh pak ??” 


Situasinya adalah : Leo hari pertama itu datang terlambat training,  karena undangan yang kami kirim belum sampai ke Jayapura.  Sehingga akibatnya dia tidak bisa ikut training Hari pertama ini.  Leo baru datang sekitar jam 7 malam.  Sementara Acara Malam hari itu seluruh Trainee melaksanakan Tugas Survei Lapangan.  Tugas yang aku berikan untuk bahan materi esok hari …

Irwan … berinisiatif untuk mengajak Leo … yang baru datang malam itu … untuk ikut sekalian survei lapangan … agar Leo tidak terlalu banyak tertinggal pelajarannya.  Karena besok hasil temuan survei mereka ini akan aku bahas dikelas.

 

Yes indeed …

Tindakan mereka kelihatannya hanya sepele saja … Chiqa hanya memberikan nasi kotak … dan Irwan hanya meng sms aku.  Chika menyadari temannya belum Makan.  Sementara Irwan peduli dengan temannya supaya tidak tertinggal pelajarannya. 

 

Sungguh hanya sederhana saja …

Namun dimataku … ini nilainya sungguh berbeda …

Sifat ”Peduli” atau ”CARE” yang diperlihatkan oleh para Trainee-trainee muda ini, yang aku tau persis … mereka melakukan ini semua, BUKAN karena ingin dipuji.  BUKAN karena sedang jaim dinilai oleh Trainernya.  Mereka melakukannya dengan spontan …

 

Simple things that makes a big different … !!!

 

(”in serving each other … we become free”) (King Arthur’s and his knights)

.

.

.

Diposkan pada TRAINING

TRAINEE TEKAD BAJA

 

Kisah ini terjadi sekitar 3 tahun yang lalu …,  Waktu itu aku mengadakan training Induction untuk para Field Officer Baru dari seluruh Indonesia.  Undangan sudah aku sebarkan 2 minggu sebelumnya melalui e mail kepada para area manager terkait di seluruh Indonesia.

 

 

Hari Senin, sehari sebelum Training, peserta diharapkan tiba di Jakarta untuk langsung check in ke hotel yang telah ditentukan.  Aku minta sekretarisku untuk mengecek via telfon kepada atasan masing-masing,  jadwal kedatangan para trainee itu di Jakarta. 

 

Kota-kota di Indonesia bagian Timur baru tertelfon setelah makan siang.  Dan betapa kagetnya aku bahwa ada satu peserta dari Ambon ternyata sama sekali belum tahu bahwa besok dia harus mengikuti training … HAH !!! … Mungkin ada masalah di E Mail, atau apa … yang jelas mereka tidak menerimanya.  (aku menyesali keteledoranku mengapa aku tidak mengkonfirmasi jauh hari sebelumnya …). 

 

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 siang.  Peserta masih berada di Ambon.  Belum pesan tiket, belum siap-siap dan belum segalanya. (Jam 15.00 di Jakarta berarti jam 17.00 di Ambon … ah semakin hopeless aku).  Aku langsung telfon Area Manager Ambon (Si Dul yang juga bekas Traineeku) “Dul, anak buahmu yang baru si Jafar itu tolong jangan dipaksa untuk ikut training..  Sepertinya tidak mungkin dia bisa ikut training besok”.  Dan si Dul pun bilang …”Siap, baik Pak … tapi tetap akan kami usahakan sebisanya ya Pak …”.

 

Ternyata Jam 10.30 keesokan harinya (Hari pertama training) si Jafar sudah muncul dan masuk tergopoh ke ruang training di Jakarta … !!!”.  Hah bagaimana bisa … kemarin jam 17.00 WIT, dia belum tau akan berangkat ke Jakarta, tapi hari ini dia sudah nongol disini …

Dia bukan peserta asal Surabaya, Yogya atau Denpasar yang frekuensi flightnya banyak dan pilihan maskapai penerbangannyapun juga banyak. 

 

Dia dari Ambon … yang jauh, penerbangan pun terbatas, kadang harus transit pula … ah … aku masih tak percaya Jafar bisa datang ke Ruang Training secepat ini …  Aku segera cari tau gimana ceritanya Jaffar bisa datang ke Jakarta secepat ini.

 

Rupanya Si Dul, atasan si Jafar itu kemarin langsung bertindak.  Dia minta Jafar pulang, mengambil baju, mempersiapkan diri dan secepatnya kembali ke kantor lagi.  Sementara Si Dul mengusahakan ticket.  Mengetuk pintu Travel Agent langganan mereka yang sudah tutup malam itu untuk mengusahakan tiket.   Kemudian menghubungi kenalannya di maskapai penerbangan untuk juga membantu mengusahakan ticket. 

 

Dan believe it or not … mereka bisa dapat confirmed ticket untuk penerbangan paling pagi dari Ambon … ini hebatnya si Dul … (dia sebagai manager area Ambon sangat menguasai area, mempunyai hubungan yang baik dan akrab dengan siapa saja di wilayahnya, termasuk travel biro dan maskapai penerbangan).  Tanpa “uang pelicin” … tanpa apapun dia berhasil mendapatkan ticket untuk anak buahnya … Si Dul sendiri yang akan mengantar Jafar ke airport besok subuh.  Atasan yang bertanggung jawab.  Jafar juga cerita bahwa upaya mengusahakan Ticket ini memakan waktu yang lama … mondar-mandir sana sini. 

 

Menjelang tengah malam kepastian seat baru didapat.  Semalaman Jafar tidak tidur … dia diberi “perbekalan” panjang lebar oleh Dul.  Baik “financial” maupun briefing-briefing seperlunya untuk menghadapi training besok. (*Dul tau sekali apa yang harus dipersiapkan untuk mengikuti trainingku, hawong dulu dia juga ditraining olehku*)

 

Untuk diketahui saja … Jafar adalah fresh graduate …. Belum pernah bekerja sebelumnya dan …. Belum pernah ke Jakarta sebelumnya … HAH … tambah takjub saya !!!

 

Tekad keras, Berani … disertai Ikhtiar yang smart … membuahkan hasil.

Pantang menyerah sebelum berusaha … Dan Tetap Berdoa …  !!!

Selanjutnya … biar ALLAH yang menentukan  … !

(Begitu Dul memberi wejangan kepada Jafar)

 

(Ah … Trainer belajar banyak hal … dari seorang Abdullah Tuahena dan seorang Jaffar Ode)

(Area Marketing Manager dan Supervisor Field Marketing Ambon …)

(Mantan trainee-trainee nya)

.

.

Diposkan pada TRAINING

FUN

 

“Have Fun” versus “Make Fun Of …“

 

Peter Kline pernah berkata bahwa “Proses Belajar-mengajar akan lebih efektif jika kita semua dalam keadaan Fun”

 

Jargon itulah yang selalu aku pegang ketika melakukan in class training.  Aku selalu berusaha untuk menciptakan suasana kelas yang Fun … live … dan relax.  Tanpa mengurangi keseriusan.  Have Fun – relax itu harus. Bercanda pun juga tidak di haramkan.

 

But … be careful …

Lanjutkan membaca “FUN”

Diposkan pada TRAINING

THE SOK TAU

 

(Baca juga posting lain  : The Busyman/Woman – The Lateman/Woman – The Whisperer – The Silentman/Woman dan The Skeptical )

 

Ini adalah “disfunctional behaviour” (perilaku menyimpang) dari para Traineeku tercinta.   Mohon maaf saya tidak tahu bahasa Inggrisnya apa.  (Ya baca saja … Jhe Syock Tchau).  Ini adalah perilaku trainee yang merasa lebih tau, merasa sudah pintar dan merasa lebih berpengalaman dari yang lainnya … (bahkan dari trainernya).

 

Kadang dia memberikan komentar-komentar (ulangan) yang sebetulnya sudah diterangkan oleh trainer.  Tidak lupa dibumbui dengan tingkah yang menggurui – menghakimi, mengajari bahkan meremehkan trainee yang lain.

 

Ini bukan saja menyebalkan bagi Trainer tetapi terlebih lagi akan sangat mengganggu trainee lainnya.  Trainee lainnya pasti dalam hati menyumpah-nyupah.

 

Cirinya adalah … dia sering sekali mengatakan …

”Beuuh … kalo yang seperti ini mah saya sudah pernah baca di buku bla-bla-bla ..” or …  “Pengalaman saya waktu mengalami hal seperti ini sih sudah banyak, sebaiknya kita melakukan teori ini bla-bla-bla ….”

Dan sekali lagi … komentar-komentar celetukan itu ngejeplak sedemikian saja … memotong uraian yang sedang dilakukan oleh trainer atau trainee lainnya dengan tidak sopannya.  Sok tau sangat …

 

Terus terang ini perilaku yang sulit untuk di handel.  Efek merusaknya pun relatif lebih besar dibanding disfunctional behaviour yang lain.  Ini membutuhkan kesabaran dan kematangan kita sebagai trainer dalam menghadapi hal seperti ini.

 

How Do I handle him/her …

Beri kesempatan yang bersangkutan untuk memberikan pendapatnya … (karena memang ini lah yang diharapkannya …, terlihat lebih pintar dibanding yang lain).  Setelah itu “secara halus” arahkan yang bersangkutan untuk juga mendengar apa pendapat atau jawaban dari peserta lainnya …

Ketenangan adalah modal utama kita …  kita tidak boleh menafikan kepintaran yang bersangkutan … ini juga harus kita gunakan sebaik-baiknya … Jika kita memberikan porsi yang wajar kepada ybs … mudah-mudahan dia bisa mengerti.  Karena Training ini bukan milik dia seorang … ada trainee lain yang perlu kita perhatikan dan kita dengar komentar, jawaban, pendapat maupun pertanyaannya.  Jangan sampai kendali training beralih ke tangan si Sok Tau ini …

 

Trainee sok tau ini juga punya kecenderungan untuk bertanya dengan nada “ngetest”

Biasanya dia sudah mempunyai jawaban sendiri akan pertanyaannya … ! (Dan harapannya Trainer akan menjawab … persis seperti apa yang dia mau).  Jadi balikkan saja pertanyaan tersebut ke dia lagi …”Menurut anda bagaimana ?”

Tidak tertutup kemungkinan bahwa trainee yang lain juga mempunyai jawaban yang lebih Jitu … pergunakan itu untuk mengcounter pertanyaan dan pernyataan dari si Sok Tau itu ..

 

Pengalaman saya yang sudah-sudah … jika kita bersabar … Trainee Sok Tau ini sering sekali “ketemu batunya” … entah itu statementnya di counter oleh Trainee lainnya maupun kejadian lain yang justru menjadi bumerang bagi dia sendiri … dan dia mati kutu – malu dengan sendirinya … 

Dan sebagai Trainer yang berbesar hati sebaiknya kita bukan malah menyoraki tetapi … membantu dia untuk recovery on track lagi … dengan lebih baik, tau diri dan profesional tentunya.  Dengan begitu percayalah mereka justru akan “segan” kepada kita …

 

Once again … jangan terpancing untuk debat kusir … adu pintar dengan si Sok Tau … Dia akan “orgasme” jika anda melayaninya …  Biasanya yang dia inginkan adalah pengakuan dari anda dan peserta yang lain bahwa dia pintar dan menguasai pengetahuan tersebut …  Berikan pengakuan dan “entertain” perasaan dia itu … secukupnya saja …

“Wah ternyata mas X atau mbak Y ini sudah mengetahuinya ya …, di kesempatan lain kita akan dengarkan pendapat anda lagi ya … , setuju yang lain ?” Sekarang mari kita lanjutkan ke materi selanjutnya …

 

Lalu konsentrasi untuk membagi perhatian kepada trainee yang lain …

 

Percayalah “THE REAL STAR” biasanya bukan yang berperilaku Sok Tau seperti ini …

 

Menurut pengalaman saya … yang justru akan lebih mempunyai kesempatan di promosikan …. a.k.a “THE REAL STAR” … bukan mereka yang SOK TAU ini …

 

Untuk promosi, menduduki jabatan yang lebih tinggi … yang dibutuhkan oleh seorang karyawan bukan hanya Intelectual Inteligent yang tinggi tetapi juga Emotional dan Spiritual Inteligent yang baik …  Dan orang yang mempunyai Emotional dan Spiritual Inteligent yang baik itu biasanya BUKAN mereka yang SOK TAU dan AROGAN …

 

Sumpah … Ane zuzur … !!!

.

Serial Yang Lain mengenai Disfunctional Behaviour … (Cacat perilaku ) (hah serem amat yak) … please klik saja …

THE SKEPTICAL

Trainee yang selalu berkata negatif dan mengeluh terus …

.

THE CLOWN

Trainee yang selalu bercanda dan melempar humor berlebihan dan tidak pada tempatnya …

.

THE SILENT

Trainee yang diem … diem sangat …

.

THE WHISPERER

Trainee yang selalu kasak – kusuk … berbisik-bisik … ngegosip selama training

.

THE LATEMAN

Trainee yang hobbynya telat … atau sengaja menelat-nelatkan diri … supaya dianggap “jagoan”

.

THE BUSYMAN

Trainee yang sok-sok sibuk gitu deh … eker sepanjang waktu .. koyo yak-yak o …

.

.

.