Diposkan pada TRAINING

INTERNAL TRAINER


.

Mungkin banyak pembaca yang belum mengetahuinya …

Mengira profesiku sebagai trainer ini … sama seperti Para Trainer, Motivator, Speaker ataupun pembicara-pembicara eksternal yang sering diundang kesana-kemari itu.  Dimana orang yang datang ke trainingnya mesti membayar sejumlah fee atau investasi tertentu … (baik dari kocek pribadi maupun dibayari perusahaan)

 

Bukan …!!!

Aku bukan trainer atau motivator ”flamboyan” yang seperti itu.

Aku ini hanya Trainer Internal biasa… di suatu perusahaan consumer goods.  Sehingga orang-orang yang aku training itu hanyalah karyawan-karyawati di perusahaan kami saja.  Khususnya di divisi Marketing.  Aku tidak diperkenankan untuk memberikan materi Training kepada orang diluar perusahaanku.  (a.k.a … aku nggak boleh ngobyek, ”ngamen” di luaran …)

 

Selain bertugas sebagai Trainer Internal … aku juga bertugas sebagai pengelola seluruh aktifitas Training and Development untuk para personil Marketing itu.

 

Ada perbedaan mendasar … Antara trainer eksternal versus trainer internal

Perbedaannya terletak pada … Follow up dan Evaluasi dari Training tersebut

 

Trainer Internal dituntut untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.  Tidak sekedar hanya didalam kelas saja … namun juga sampai kepada upaya Tracking … apakah para Trainee mengalami kemajuan dalam pekerjaannya … Apakah Trainee menerapkan ilmu yang telah diberikan didalam pekerjaan sehari-hari … Bagaimana kinerja mereka setelah ikut Training ? … dan sebagainya …

 

Trainer Internal berkewajiban untuk melakukan upaya perbaikan … continous improvement para karyawan, agar performa mereka bisa lebih baik lagi dari waktu ke waktu … Tentu saja dengan bantuan Atasan mereka masing-masing …

 

Lain dengan Trainer-trainer Eksternal … (yang Flamboyan ituh)

Ibarat nonton konser … Penonton (or ”Trainee”) datang … membayar … masuk … ”bergembira” didalam venue … menonton sang artis (”Trainer”) menyanyi …  haha-hihi sikit … hore-hore sikit … teriak ”semangat pageee” … atau teriak-teriak ”all for one … one for all” dsb.  (Tak lupa dibumbui dengan musik Kitaro ”jalan sutra” yang megah itu)

Pertunjukan selesai … Tepuk tangan … kasih sertipikat … Penonton (Trainee) pulang … dan Hubungan pun selesai sampai disini … !!!.  Dan mudah-mudahan … efek euphoria ”lagu” dari sang trainer flamboyan tadi masih bisa terngiang, dirasakan dampaknya sampai di rumah …

(Kalau pun lupa ??? … itu bukan urusan Trainer itu lagi …)

 

Sementara itu sang Artis (trainer) akan kipas-kipas dibelakang podium … sambil berhitung.

Berapa banyak ”penonton” yang datang … dikalikan dengan fee investasi … dikurangi ongkos ina inu … bayar ita itu … dst dst.  Lalu … Minggu depan … cari penonton lagi … siap ”Menyanyi” lagi … baik dengan lagu yang sama maupun dengan lagu yang berbeda …

 

Bagi Trainer Eksternal … semakin banyak dia mengajar … semakin tebal pula koceknya

Tapi Bagi Trainer Internal … mau mengajar berapa puluh kelas sekalipun … bayarannya tetap saja sama … hawong di gaji bulanan … (hahahha)

Ya …ini juga bisa berarti …  nggak ngajar pun Trainer ini tetap dibayar … (enak bukan ???)

(Enak dari Hongkong … tanggung jawabnya Brur … berat sangat ….)

 

(Kalau Para Trainee tetep ”tulalit” … kita yang suka dijadikan kambing hitam pren !!!)

(Sering mengadakan Training … diprotes … karena banyak mengambil waktu kerja …)

(Jarang ada Training … pun juga diprotes … NH ini kerjaan nya ngapain aja sih!!!??? …)

(Lho ya … serba salah toh ???)

(Curhat ni yeee …)

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

34 tanggapan untuk “INTERNAL TRAINER

  1. Iya dech Om NH ngerti kok, terutama kalau targetnya dari amrketing gak tercapai……jangan sampai kalh dari **. Gitu ya OM……sok.tahu.mode.on

  2. saya pernah ikut beberapa trainingnya om NH, aseek lho
    salah satu kelebihan on NH menurut saya:
    bisa berbicara dengan bahasa para trainee
    keluasan pengetahuan dan pengalaman juga menjadi salah satu nilai plus on NH

    om NH, meskipun training yang saya ikuti tidak sebanyak teman-teman yg lain (the afdhal misalnya), tapi boleh kan saya menganggap om NH sebagai salah satu “guru” saya

  3. seandainya dibolehkan ngobyek, pertanyaan saya, apakah pak nh mau menjadi seperti para flamboyan itu?

    aih, sekecil apapun peran kita, pastilah berdampak besar bagi kesuksesan bersama… mobil gak bakal bisa jalan kalau baut-nya kurang… 🙂

  4. Hahaha..aku ni kalau kesini, pasti ngakak mulu baca tulisan om yang sedang curhat namun bisa menghibur ..apalagi tentang “yang flamboyan” itu.. 😆

  5. Hhmm,….Orang yang mentraining itu berarti sudah Expert dunk Pak..

    Nah gaji orang yang sudah Expert itu berapa yawh..(sambil membayangkan tumpukan Dollar he he he, lebay ah)..

    Hhmm…Ya ya, kira2 ada ga ya Pak, trainee Anda yang suka ngeBLOg juga, karena saya yakin jika dia Blogger dan merupakan peserta Trainee akan lebih mudah menyerap ilmunya..

    Hhm..Kek nya saya mau juga nich belajar dari pak Trainee… 🙂

  6. wehehehe… ini sih curhatan beneran dey… kaenya karena ada yg mengira si Om ini salah satu dari flamboyan2 itu… jadi kalimat2nya seakan2 pembelaan diri…

    padahal carra sendiri tadinya om train adalah salah satu dari flamboyan2 itu…

    😛

    :mrgreen:

  7. Nanti kalau udah pensiun dari sana, kita buat lembaga training yang flamboyan yuk Bos…aku jadi managernya deh yang cari order. Bos tinggal ongkang2 kaki ngitungin dolarnya dan bilang Salam Spektakuler Bombastis Dahsyat dan Fenomenal. Wakakkakakkkk…

  8. Tahu nggak om, awalnya saya juga sebagai internal-trainer, jadi diantara pekerjaan sehari-hari, ssetiap staf ke atas harus bisa memberikan training kepada yuniornya. Dan yang dianggap bisa, akhirnya ikut training for trainers dan mendapat sertifikat sebagai trainer. Dan kadang juga diminta lembaga lain untuk mengajar di instansinya, seizin atasan.

    Lumayan juga, jika mengajar dan telah mendapat sertifikat sebagai trainer, selain mendapat gaji bulanan, juga mendapat honor mengajar tergantung sesi nya.

    Menurutku, kompetensi dan pengalaman om trainer nantinya jika sudah pensiun, masih dapat berguna untuk bergabung dengan lembaga pelatihan….dan jadilah manggung seperti para pembicara itu. Hayoo om…semangat…

  9. tapi pengalamannya itu lho mas? luar biasa juga. saya mau-mau aja tuh kalau belajar dan siajarin jadi internal trainer. Tapi ngomong2 ada cita2 jadi trainer yang flamboyan itu?

  10. Saya ndaptar pertama kalau kelak Om Trainer sudah pensiun, dan bikin lembaga pentrainingan (halah, bahasa apa ini?) dengan Bang Hery. Kalo sekarang, untuk ikut training Om kan saya kan harus nglamar dulu jadi karyawan di perusahaan Om (yang pasti ditolak 😦 )

  11. Yah benernya kan bedanya tipis Om…
    yang flamboyan dibayar kalo ada order.. shg harus bombastis dan spektakular plus canggih dan integrated dan bermanfaat dunia akhirat dan lainnya .. dan lainnya..
    kalo internal mah.. gak perlu cari order.. ada gak ada order .. argo jalan terus hihihi..
    jadi kesimpulannya hanya beda masalh order aja.. hehehe..

  12. hehehe.. bedanya gitu yaaa.. asyik yaaa.. jadi traineeer marketing tapi banyk juga trainer nyang malah enggak bisa jualan.. beda profesi kali yaa.. hehehe..
    Salam Sayang 😆

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s