KI BEKASI 2 : KELOMPOK 6 DAN SDN JATIWARINGIN 1

April 2015

Untuk ketiga kalinya saya mendaftar kembali menjadi relawan pengajar di Gerakan Indonesia Mengajar, program “Kelas Inspirasi”.  Program Kelas Inspirasi ini memang seperti “candu”.  Jika sudah merasakan sekali, pasti ingin berbuat lagi dan lagi.  Mengulang lagi … dan lagi …  :)

Program Kelas Inspirasi pada hakikatnya adalah suatu gerakan yang mengajak masyarakat umum, para profesional untuk turun langsung mengajar ke sekolah dasar (SD) selama satu hari.  Berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga memberi motivasi para murid SD.  Agar para murid tersebut dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para inspirator.

Kota yang mengadakan program Kelas Inspirasi kali ini adalah Bekasi.  Ini kali yang kedua Bekasi mengadakan program seperti ini, itu sebabnya disebut sebagai KI Bekasi 2

Saya tergabung dalam kelompok 6 dan mendapat tugas untuk mengajar di SDN Jatiwaringin 1 :

Kelompok 6 KI Bekasi 2 :

Ini adalah kelompok terbesar yang pernah saya ikuti.  Awalnya tercatat ada 21 orang relawan.  Namun dengan berjalannya waktu, banyak yang ternyata mengundurkan diri karena ada tugas mendadak dari kantornya.  Sehingga tinggal 15 orang saja.  (tetap merupakan kelompok terbesar yang pernah saya ikuti).

kel6KIBekasi1
Kelompok 6 (sebagian) (Photo by Kel 6)

Kelompok kami ini terdiri dari berbagai macam profesi : ada penulis, travel writter, event organiser, apoteker, dokter, insinyur, karyawan pabrik otomotif, accountant, humas, karyawati perbankan dan juga trainer.  Indahnya bekerja dengan para sukarelawan adalah bahwa kita semua selalu ingin membantu satu sama lain.  Selalu ingin mengisi satu sama lain, sehingga seluruh persiapan bisa kita lakukan dengan baik.  Walaupun kita semua tidak pernah berkenalan dan bertemu sebelumnya.  Semua kita lakukan melalui fasilitas komunikasi group WA saja.   Jumlah anggota tim yang banyak juga membuat pekerjaan kami menjadi lebih mudah dan ringan.

.

SDN Jatiwaringin 1

Kali ini, saya kebetulan ditunjuk sebagai ketua tim.  Itu sebabnya saya merasa perlu untuk melakukan kunjungan pendahuluan ke sekolah dasar tempat kami akan mengajar.  Hal ini kami rasa penting untuk lebih bisa mempersiapkan acara hari inspirasi nanti dengan lebih baik.

Ini situasi sekolahnya :

crowd0
(by @nh18)
sekolah1
(by @nh18)
sekolah2
(by @nh18)
sekolah3
(by @nh18)

Sekolah ini berlokasi dikawasan yang sangat strategis.  Tepat berada di dekat atrium pusat keramaian Pondok Gede.  Ada mall ada pula pasar tradisional disana.  Lalu lintas di depan sekolah tersebut pun sangat ramai.  Tempat “ngetem” angkot pula.  Menurut pendapat saya tempat ini kurang ideal untuk sebuah institusi pendidikan sekolah dasar.  Secara lokasi mungkin mudah dijangkau, namun secara lingkungan rasanya tempat ini kurang memenuhi syarat untuk menjadi lokasi tempat pendidikan. Terlalu ramai dan riuh rendah.  Dari segi keamananpun rasanya anak-anak dan orang tua murid perlu lebih berhati-hati, terutama saat mengantar dan menjemput mereka di sekolah.

Ini kurang lebih pandangan lensanya.

crowd1
(by @nh18)
crowd2
(by @nh18)
crowd3
(by Dwi Ishak)

Jadi begitulah … Sejauh ini saya sudah pernah mengikuti Kelas Inspirasi di Bogor, Depok dan kini Bekasi.  Saya memperhatikan di setiap program tersebut pasti ada saja satu dua tiga hal yang menarik yang saya temui.  Lalu apa yang menarik yang saya temui di Kelas Inspirasi Bekasi 2 kali ini ?

Saya akan ceritakan di tulisan berikutnya … !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

BUKU PELENGKAP YANG LENGKAP

Untuk kesekian kalinya Pak De Abdul Cholik mengadakan sebuah perhelatan lomba.  Kali ini tema lombanya adalah membuat resensi buku : “Dahsyatnya Ibadah Haji” (selanjutnya disingkat DIH).

DIH adalah buku yang ditulis sendiri oleh Pak De Abdul Cholik.  Buku ini berisi catatan perjalanan ibadah haji Pak De di Makkah dan Madinah.  Beliau dan istri sudah menunaikan ibadah haji pada tahun 2006/2007.  Buku DIH diterbitkan pada tahun 2014 oleh Quanta.  Quanta adalah imprint dari Penerbit PT Elex Media Komputindo, Kelompok Kompas Gramedia. Tidak heran jika anda bisa menemukan buku ini dengan mudah di jaringan toko buku Gramedia di kota anda.  Saya beberapa kali melihat buku ini terpajang di rak buku Islami, di beberapa lokasi. Salah satunya adalah di Toko Buku Gramedia Mal Cinere.

IMG_4671

Pertanyaan selanjutnya : Om beli bukunya nggak ?

Jawabannya : Tidak.

Tunggu, jangan salah sangka.  Saya tidak membeli buku ini bukan karena saya tidak suka.  Ini buku yang bagus dan saya rasa sangat layak untuk dibeli.  Saya tidak membeli buku ini karena Alhamdulillah saya sudah mendapatkan buku ini dari Pak De Abdul Cholik langsung, ketika saya memenangkan salah satu lomba yang beliau adakan.

10882367_10205412951547933_8853129982964632470_n

Dan beberapa waktu kemudian, saya kembali mendapatkan hadiah buku DIH ini dari Myra “Chi” Anastasia.  Kebetulan saya menang juga di GA yang digagas Chi di blognya.

Kesimpulannya ? Saya punya dua buah buku “Dahsyatnya Ibadah Haji” … dan dua-duanya gratis … !!!  :) :) :)

DIH1 

Kembali ke pembahasan tentang buku DIH ini ya …

Tebal buku ini kurang lebih 230-an halaman, dibagi menjadi 61 pokok bahasan.  Ya enam puluh satu pokok bahasan.  Banyak memang, tetapi justru disinilah salah satu letak kekuatan buku ini yang saya pujikan.  Setiap bab ditulis oleh Pak De dengan singkat, jelas, padat, ringan dan langsung menuju ke pesan sasaran.  Tidak mendayu-dayu, berdalil panjang lebar yang justru akan membuat pembaca menjadi “lost fokus” (hilang fokus).

Pak De sengaja membagi bahasannya menjadi 61 bagian cerita pengalaman nyata, fragmen-fragmen kecil sehingga para pembaca bisa menangkap inti sari pembelajaran dengan segera.  Dan asiknya lagi, ke enam puluh satu bagian tersebut diatur dan diceritakan secara runtut, kronologis, tahap demi tahap dari awal sampai akhir.  Sehingga tidak terasa pembaca dibawa berkelana ke seluruh rangkaian proses menunaikan ibadah haji, dengan cara yang sangat ringan dan tidak menggurui.

Cerita buku ini dimulai dari pengalaman beliau yang tidak memerlukan surat rekomendasi dari siapapun untuk membantu mempercepat proses pendaftaran ibadah haji.  Padahal jika beliau mau, melihat jabatan kedinasan yang pernah beliau pegang di negeri ini, rasanya sangat mudah bagi Pak De untuk meminta rekomendasi pihak yang berwenang, agar dimudahkan proses keberangkatan ibadah hajinya.  Namun beliau menolak.  Beliau berkata dengan mantap : “Katanya naik haji itu panggilan. Saya tak merasa perlu minta aneka surat rekomendasi dari siapapun. Jika ALLAH berkehendak, tidak akan ada yang mampu menghalangi”

Lalu mengalirlah cerita ringan namun indah seputar serba serbi perjalanan ibadah haji Pak De pada bab-bab selanjutnya.  Sesekali di dalam cerita, diselipkan humor-humor, dan satu-dua celetukan khas Pak De.

Bayangkan saja, segala cobek dan ulekan diceritakan.  Belum lagi cerita karet gelang, honey moon, kopi susu, dan “hajat penting”.  Anda tentu sudah bisa membayangkan serunya bukan ?  (Selain tentu saja cerita mengenai ibadah-ibadah haji seperti tahalul, sa’i, thawaf dan melempar jumrah dan sebagainya).

.

Lalu mengapa saya membuat judul : Buku Pelengkap yang Lengkap ?

Menurut pendapat saya memang buku ini bisa dijadikan pelengkap bagi mereka yang ingin melaksanakan ibadah haji.  Disebut buku pelengkap, karena buku ini sama sekali tidak memuat lafaz bacaan doa ataupun bacaan niat untuk melaksanakan ritual ibadah haji.  Ibarat komputer, buku ini adalah bagaikan hardwarenya.  Urusan persiapan dan tips-tips duniawi untuk melaksanakan ibadah haji dengan lancar dan nyaman.

Buku ini memuat seluruh persiapan baik fisik maupun mental yang diperlukan untuk melaksanakan ibadah haji.  Buku ini juga memuat beberapa catatan-catatan ringan (namun penting) yang patut diketahui oleh para calon jamaah haji.  Antara lain check List barang bawaan, tips-tips penting di beberapa tempat tertentu, busana, tips supaya tidak tersesat dan sebagainya. Lengkap.

Itu sebabnya saya katakan buku DIH ini adalah Buku Pelengkap yang Lengkap.

Buku utama tetaplah buku kumpulan doa dan dzikir ibadah haji yang biasanya dikeluarkan oleh penyelenggara perjalanan ibadah haji.

IMG_4915
buku-buku yang saling melengkapi

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.Lomba-Resensi-Buku-Dahsyatnya-Ibadah-Haji2-175x151

Artikel  ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Resensi Buku Dahsyatnya Ibadah Haji

PRODUCT FEATURE

Produk adalah barang atau jasa yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan manusia.

Untuk tujuan tersebut, setiap produk akan diperlengkapi dengan seribu satu macam atribut.  Artibut adalah segala sesuatu yang dipunyai oleh dan melekat di dalam produk tersebut.  Atribut antara lain bisa berupa kandungan, bahan, komposisi, komponen, teknologi, sistem operasi, pengalaman, design, kemasan, warna dan sebagainya.  Ada banyak sekali atribut dalam satu produk.

Dari sekian banyak atribut tersebut, para produsen dituntut untuk memilih beberapa atribut saja yang akan dijadikan “jagoan” atau “gacoan”.  Yang membuat produk mereka tersebut lebih mudah diingat karena keunggulan-keunggulan atau keunikannya.  Yang membuat produk mereka lebih disukai oleh target konsumennya.  Atribut unggulan inilah yang biasa disebut PRODUCT FEATURE.

(Untuk selanjutnya mari kita sebut saja fitur produk)

Untuk memenangkan pertempuran di pasar, setiap produk dituntut untuk mempunyai fitur-fitur yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumennya.  Syukur-syukur fitur produk tersebut hanya dipunyai oleh dirinya sendiri, dan tidak dipunyai oleh produk kompetitornya. Istilah bahasa marketingnya disebut Unique Competitive Advantage.

Pemasar-pemasar yang cerdas dan pendesign produk yang jeli akan selalu bisa menemukan dan menciptakan fitur produk yang akan dijadikan bahan komunikasi dan promosi kepada para target konsumennya.  Tantangannya adalah bagaimana menyesuaikan fitur produk yang kita angkat dengan kebutuhan dan keinginan target konsumen kita.

Mari kita ambil contoh sederhana, Fulan adalah seorang produsen pakaian anak-anak.

Fulan akan dihadapkan pada pemilihan fitur produk yang akan diangkat menjadi nilai lebih dari produknya.  Apakah pakaian anak-anak yang dihasilkannya itu …

  • Design gambar lucunya ?
  • Model pakaian yang up to date dan beraneka ragam ?
  • Kualitas bahan yang menyerap keringat ?
  • Harga yang murah ?
  • Kain yang cepat kering ?
  • Tidak mudah kotor ?
  • Dsb

Ada ibu-ibu yang concern dengan kesehatan anaknya, tentu akan lebih tertarik jika kita bilang bahwa produk yang kita hasilkan bahannya lebih adem dan menyerap keringat.  Sementara kalangan ibu yang lain ada yang lebih tertarik jika kita mengedepankan keunggulan design baju yang up to date dan beraneka ragam.  Ada juga tentu beberapa segmen ibu-ibu yang berpendapat … apa ajalah pokoknya murah meriah !

(Inginnya sih tentu saja semua fitur produk ada yaitu bahannya adem menyerap keringat, designnya up to date dan harganya murah …)(tapi kadang kala hal ini sulit kita temui)

ilus
(ilustrasi tidak sesuai contoh)(hehehe)

.

Contoh lain misalnya sepeda motor.

Ada yang mengetengahkan fitur produk lampu depan yang lebih terang. Ada pula yang menjual design stripping yang lebih sportif. Ada yang bilang lebih irit. Ada yang menjual mesin bisa mati sendiri jika dalam keadaan idle … dan sebagainya … dan sebagainya.

Jika sasaran target market kita adalah mereka para pekerja yang sering pulang malam, maka motor dengan fitur lampu depan yang lebih terang akan sangat disukai. Sementara itu bagi mereka anak-anak muda yang suka nongkrong bergaya tentu mereka akan lebih memilih sepeda motor dengan design stripping yang maskulin dan stylish dan seterusnya … dan seterusnya …

Intinya adalah sebelum memilih fitur produk yang akan kita jadikan nilai tambah bagi promosi produk kita, ada baiknya kita memahami dulu apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh target market sasaran kita.

Memahami target konsumen adalah kunci keberhasilan dari setiap upaya pemasaran !

.

So … sekarang saya mau tanya …

Ketika memilih Hotel … biasanya apa saja sih fitur yang anda butuhkan/inginkan ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

TARGET MARKET

Tabel
(ilustrasi belaka)

 

Setiap produk itu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan target marketnya.  Target market adalah khalayak sasaran yang akan kita tuju sebagai pengguna dari produk yang kita produksi.

Kita tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan seluruh manusia di dunia ini.  Jangankan di dunia, di Indonesia saja pun kita tidak akan pernah bisa.  Sehingga kita perlu melakukan semacam “pemilah-milahan”, melakukan proses segmentasi.  Mengkategorisasikan seluruh penduduk Indonesia menjadi beberapa segment target market tertentu.

Simak percakapan berikut :

Q : “T Shirt ini target marketnya siapa ?”

A : “Oh target marketnya anak muda”

.

Target market yang disebut “anak muda” ini masih terlalu besar.  Harus lebih diperinci lagi.  Anak muda yang hidup di kota besar tentu berbeda tipenya dengan anak muda yang hidup di sub urban atau rural.

Ok dijawab dengan lebih detil …

A : “Targetnya anak muda, laki dan perempuan, usia 15 – 20 thn, hidup di urban metropolitan kota besar, orang tuanya berpengeluaran 10-20 juta per bulan”

Usia, gender, tingkat sosial ekonomi, domisili adalah beberapa contoh parameter untuk memilah-milah target market. Ini disebut sebagai paramater segmentasi demografis. Berdasarkan besaran kependudukan.

Namun ini juga belum cukup rinci.

Dengan berkembangnya pasar, ternyata pembagian target market berdasarkan segmentasi demografis ini tidak cukup.  Diperlukan lagi pembagian yang lebih detil.

Mengapa demikian ?

Mari kita simak contoh berikut.  Ada dua orang anak muda, sebut saja namanya Doni dan Rafi. Sama-sama berusia 17 tahun.  Duduk di kelas 11 sebuah SMA negeri di jalan Bulungan Jakarta Selatan.  Tingkat sosial ekonomi keduanya juga sama.  Sama-sama dari keluarga kelas menengah tinggal di Bintaro sektor 9.  Tapi apakah lantas kebutuhan dan keinginan keduanya sama ?   Ternyata tidak sodara-sodara.  Doni dan Rafi adalah dua anak muda yang sangat berbeda.

Mari kita simak lebih lanjut kegiatan mereka setiap akhir minggu.  Doni adalah seorang pecinta alam, senang bertualang ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.  Dia bersama kelompok pecinta alamnya selalu melewatkan liburan sekolah dengan berkemah dan melakukan perjalanan “backpacking”.   Berpetualang menjelajah negeri.

Berbeda dengan Rafi.  Rafi punya kelompok marawis dan nasyid.  Hampir setiap akhir minggu mereka habiskan untuk latihan di sanggar mereka.  Sekali-sekala mereka mengisi acara di beberapa pengajian dan juga tabligh akbar.  Kadang mereka juga ikut serta memeriahkan acara walimahan perkawinan. Mereka sering mendapatkan honor untuk itu.  Honor tersebut mereka gunakan untuk menambah kas organisasi dan tambahan dana untuk konsumsi latihan.

Sekalipun sama-sama berusia 17 tahun, anak kelas menengah, hidup di Jakarta, Doni dan Rafi pasti mempunyai sifat dan kesenangan yang berbeda-beda.  Profil Doni dan Rafi sangat berbeda.   Kebutuhan dan keinginan kedua anak muda ini pun pasti berbeda.  Ini mempengaruhi pilihan produk yang akan mereka beli dan konsumsi.   Baik macamnya maupun designnya.

Pemilah-milahan target market berdasarkan kesamaan kebutuhan dan keinginan serta kesamaan personality masing-masing orang ini disebut sebagai Segmentasi Psikografis.  Pemilah-milahan target konsumen berdasarkan sifat psikologisnya.   Dan ini tidak mudah.  Perlu penelitian yang panjang.

Seorang marketer yang baik adalah mereka yang bisa dengan sangat jeli melihat dan mempelajari profil psikografis target konsumennya.  Sehingga mereka bisa menyesuaikan design dan feature barang dagangannya dengan sifat dan kesukaan target marketnya dengan sangat pas.  Design komunikasi visual atau iklannya pun bisa dibuat dengan cara yang jitu.  Dengan bahasa yang satu “frekuensi” dengan bahasa segment target marketnya.   Produk yang mereka hasilkan akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk lebih dicintai dan disukai oleh target marketnya.

Dan kalau sudah disukai oleh target market … pundi-pundi pun akan senantisa tersenyum riang.

Sekarang saya mau tanya …

Kalau segmen Ibu-ibu rumah tangga … 25 – 40 tahun ?
Kira-kira profil psikografis target market yang bisa muncul seperti apa ya ?
Tipe Sosialita ? Tipe Pengajian ? Tipe Masak ? Tipe Aktifis Sosial ? Tipe Aktifis Lingkungan ? Tipe Di Rumah Saja ? Tipe On Line Shop Owner ? Gosiper … ? …?

Apa lagi ya ?

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

EXTENDED ID CARD

Jika kita mengikuti sebuah konferensi, pertemuan, seminar atau perhelatan lainnya yang melibatkan banyak sekali peserta, biasanya kita diberikan sebuah ID Card oleh panitia.

ID card tersebut berupa kalung pita (atau biasa disebut lanyard) yang di ujungnya ada secarik kertas karton yang berisi nama, dan organisasi tempat kita bekerja.  Kadang ada pula yang dilengkapi dengan pas foto.  Hal ini tentu untuk memudahkan panitia untuk mengidentifikasi siapa saja peserta yang ikut dalam konferensi tersebut.

Dulu saya sering sekali mengikuti konferensi.  Paling tidak setahun dua kali saya pasti diundang untuk hadir dalam pertemuan tahunan departemen marketing dan review tahunan perusahaan.  Tempatnya bisa dimana saja, entah di dalam maupun di luar negeri.   Konferensi ini juga sekaligus menjadi ajang untuk wisata, waktu untuk refreshing para karyawan.

Tentu saja untuk memudahkan panitia kita semua dibagikan ID Card.  Nah saya perhatikan, empat lima tahun terakhir, panitia melakukan terobosan-terobosan menarik yang berkaitan dengan pembuatan ID Card ini.  Panitia dengan kreatifnya menambah fungsi ID Card tersebut dengan fungsi-fungsi yang lain.  An Extended ID Card.  ID Card yang fungsinya bukan untuk identitas saja, tetapi bisa juga ditambahkan fungsi yang lain.

Kalung ID Card yang diberikan kepada kita, berbentuk tumpukan atau kumpulan kartu yang diikat menjadi satu.  Halaman pertama paling depan tentu saja adalah ID Card itu sendiri. Memuat nama kita plus departemen atau organisasi tempat kita bernaung kadang disertai pula dengan foto.  Mari kita lihat gambar sederhana berikut …

ID Card

Kartu kedua dan selanjutnya sangat menarik untuk disimak. Ada berbagai macam informasi yang mereka sertakan disana. Berikut adalah hal-hal / informasi yang biasa mereka cantumkan di kartu-kartu yang menyertai ID Card kita.

  1. Daftar acara konferensi
  2. Rooming List : daftar peserta berikut nomer kamar menginapnya
  3. Tata tertib dan ketentuan akomodasi hotel
  4. Daftar tempat wisata yang bisa dikunjungi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  5. Daftar tempat kuliner yang bisa kita cicipi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  6. Daftar tempat membeli oleh-oleh dan cindera mata khas setempat
  7. Peta kota
  8. Nomer telpon taxi lokal dan nomer telpon penting setempat
  9. Jadwal antar jemput ke/dari Airport atau terminal … dsb-dsb

Dulu biasanya panitia mengeluarkan buku panduan untuk memuat informasi tersebut. Kini mereka tidak lagi membuatnya.  Panitia mengganti buku panduan tersebut, dengan mencetak kartu-kartu dan menjalinnya menjadi satu di dalam lanyard kalung ID Card para peserta.  Semakin banyak info yang mereka sertakan … akan semakin tebal ID Card yang akan dibagikan kepada peserta.

.

Mengapa mereka melakukan hal seperti ini ?

Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, panitia selalu saja direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan para peserta konferensi.  Ada saja yang ditanyakan, pertanyaan remeh-temeh. Padahal semua informasinya sudah ada di buku panduan.  Mereka biasanya malas membaca atau membawa. Menyebalkan bukan ?

Nah … dengan dikalungkannya ID Card berikut informasi-informasi yang dibutuhkan, para peserta jadi tidak bisa lagi semena-mena merepotkan panitia.  Kalung ID Card (berikut kartu-kartu info lain yang menyertainya) adalah hal wajib yang harus selalu dikenakan selama konferensi berlangsung.  Mereka sudah bisa melihat sendiri informasi yang mereka butuhkan di kalung ID Card masing-masing.  Panitia tinggal bilang : “… lihat di kalung !” (rasain luh …)

Jadi …

Jika anda jadi panitia konferensi. Ingin tugas anda ringan dan tidak direpotkan oleh telpon krang-kring dari para peserta ? Pertanyaan remeh-temeh yang bikin bete ? Bikin aja ID Card yang sudah ditambah fungsi-fungsinya ini … An Extended ID Card.

Dijamin anda akan tersenyum senang !

Dan andapun bisa ikut menikmati wisata di tempat konferensi tersebut tanpa diganggu telpon nggak penting dari para peserta yang cuma pengen nanya tempat beli sandal jogger dimana … (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.