TARGET MARKET

Tabel
(ilustrasi belaka)

 

Setiap produk itu diciptakan untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan target marketnya.  Target market adalah khalayak sasaran yang akan kita tuju sebagai pengguna dari produk yang kita produksi.

Kita tidak akan pernah bisa memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan seluruh manusia di dunia ini.  Jangankan di dunia, di Indonesia saja pun kita tidak akan pernah bisa.  Sehingga kita perlu melakukan semacam “pemilah-milahan”, melakukan proses segmentasi.  Mengkategorisasikan seluruh penduduk Indonesia menjadi beberapa segment target market tertentu.

Simak percakapan berikut :

Q : “T Shirt ini target marketnya siapa ?”

A : “Oh target marketnya anak muda”

.

Target market yang disebut “anak muda” ini masih terlalu besar.  Harus lebih diperinci lagi.  Anak muda yang hidup di kota besar tentu berbeda tipenya dengan anak muda yang hidup di sub urban atau rural.

Ok dijawab dengan lebih detil …

A : “Targetnya anak muda, laki dan perempuan, usia 15 – 20 thn, hidup di urban metropolitan kota besar, orang tuanya berpengeluaran 10-20 juta per bulan”

Usia, gender, tingkat sosial ekonomi, domisili adalah beberapa contoh parameter untuk memilah-milah target market. Ini disebut sebagai paramater segmentasi demografis. Berdasarkan besaran kependudukan.

Namun ini juga belum cukup rinci.

Dengan berkembangnya pasar, ternyata pembagian target market berdasarkan segmentasi demografis ini tidak cukup.  Diperlukan lagi pembagian yang lebih detil.

Mengapa demikian ?

Mari kita simak contoh berikut.  Ada dua orang anak muda, sebut saja namanya Doni dan Rafi. Sama-sama berusia 17 tahun.  Duduk di kelas 11 sebuah SMA negeri di jalan Bulungan Jakarta Selatan.  Tingkat sosial ekonomi keduanya juga sama.  Sama-sama dari keluarga kelas menengah tinggal di Bintaro sektor 9.  Tapi apakah lantas kebutuhan dan keinginan keduanya sama ?   Ternyata tidak sodara-sodara.  Doni dan Rafi adalah dua anak muda yang sangat berbeda.

Mari kita simak lebih lanjut kegiatan mereka setiap akhir minggu.  Doni adalah seorang pecinta alam, senang bertualang ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.  Dia bersama kelompok pecinta alamnya selalu melewatkan liburan sekolah dengan berkemah dan melakukan perjalanan “backpacking”.   Berpetualang menjelajah negeri.

Berbeda dengan Rafi.  Rafi punya kelompok marawis dan nasyid.  Hampir setiap akhir minggu mereka habiskan untuk latihan di sanggar mereka.  Sekali-sekala mereka mengisi acara di beberapa pengajian dan juga tabligh akbar.  Kadang mereka juga ikut serta memeriahkan acara walimahan perkawinan. Mereka sering mendapatkan honor untuk itu.  Honor tersebut mereka gunakan untuk menambah kas organisasi dan tambahan dana untuk konsumsi latihan.

Sekalipun sama-sama berusia 17 tahun, anak kelas menengah, hidup di Jakarta, Doni dan Rafi pasti mempunyai sifat dan kesenangan yang berbeda-beda.  Profil Doni dan Rafi sangat berbeda.   Kebutuhan dan keinginan kedua anak muda ini pun pasti berbeda.  Ini mempengaruhi pilihan produk yang akan mereka beli dan konsumsi.   Baik macamnya maupun designnya.

Pemilah-milahan target market berdasarkan kesamaan kebutuhan dan keinginan serta kesamaan personality masing-masing orang ini disebut sebagai Segmentasi Psikografis.  Pemilah-milahan target konsumen berdasarkan sifat psikologisnya.   Dan ini tidak mudah.  Perlu penelitian yang panjang.

Seorang marketer yang baik adalah mereka yang bisa dengan sangat jeli melihat dan mempelajari profil psikografis target konsumennya.  Sehingga mereka bisa menyesuaikan design dan feature barang dagangannya dengan sifat dan kesukaan target marketnya dengan sangat pas.  Design komunikasi visual atau iklannya pun bisa dibuat dengan cara yang jitu.  Dengan bahasa yang satu “frekuensi” dengan bahasa segment target marketnya.   Produk yang mereka hasilkan akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk lebih dicintai dan disukai oleh target marketnya.

Dan kalau sudah disukai oleh target market … pundi-pundi pun akan senantisa tersenyum riang.

-

Sekarang saya mau tanya …

Kalau segmen Ibu-ibu rumah tangga … 25 – 40 tahun ?
Kira-kira profil psikografis target market yang bisa muncul seperti apa ya ?
Tipe Sosialita ? Tipe Pengajian ? Tipe Masak ? Tipe Aktifis Sosial ? Tipe Aktifis Lingkungan ? Tipe Di Rumah Saja ? Tipe On Line Shop Owner ? Gosiper … ? …?

Apa lagi ya ?

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

EXTENDED ID CARD

Jika kita mengikuti sebuah konferensi, pertemuan, seminar atau perhelatan lainnya yang melibatkan banyak sekali peserta, biasanya kita diberikan sebuah ID Card oleh panitia.

ID card tersebut berupa kalung pita (atau biasa disebut lanyard) yang di ujungnya ada secarik kertas karton yang berisi nama, dan organisasi tempat kita bekerja.  Kadang ada pula yang dilengkapi dengan pas foto.  Hal ini tentu untuk memudahkan panitia untuk mengidentifikasi siapa saja peserta yang ikut dalam konferensi tersebut.

Dulu saya sering sekali mengikuti konferensi.  Paling tidak setahun dua kali saya pasti diundang untuk hadir dalam pertemuan tahunan departemen marketing dan review tahunan perusahaan.  Tempatnya bisa dimana saja, entah di dalam maupun di luar negeri.   Konferensi ini juga sekaligus menjadi ajang untuk wisata, waktu untuk refreshing para karyawan.

Tentu saja untuk memudahkan panitia kita semua dibagikan ID Card.  Nah saya perhatikan, empat lima tahun terakhir, panitia melakukan terobosan-terobosan menarik yang berkaitan dengan pembuatan ID Card ini.  Panitia dengan kreatifnya menambah fungsi ID Card tersebut dengan fungsi-fungsi yang lain.  An Extended ID Card.  ID Card yang fungsinya bukan untuk identitas saja, tetapi bisa juga ditambahkan fungsi yang lain.

Kalung ID Card yang diberikan kepada kita, berbentuk tumpukan atau kumpulan kartu yang diikat menjadi satu.  Halaman pertama paling depan tentu saja adalah ID Card itu sendiri. Memuat nama kita plus departemen atau organisasi tempat kita bernaung kadang disertai pula dengan foto.  Mari kita lihat gambar sederhana berikut …

ID Card

Kartu kedua dan selanjutnya sangat menarik untuk disimak. Ada berbagai macam informasi yang mereka sertakan disana. Berikut adalah hal-hal / informasi yang biasa mereka cantumkan di kartu-kartu yang menyertai ID Card kita.

  1. Daftar acara konferensi
  2. Rooming List : daftar peserta berikut nomer kamar menginapnya
  3. Tata tertib dan ketentuan akomodasi hotel
  4. Daftar tempat wisata yang bisa dikunjungi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  5. Daftar tempat kuliner yang bisa kita cicipi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  6. Daftar tempat membeli oleh-oleh dan cindera mata khas setempat
  7. Peta kota
  8. Nomer telpon taxi lokal dan nomer telpon penting setempat
  9. Jadwal antar jemput ke/dari Airport atau terminal … dsb-dsb

Dulu biasanya panitia mengeluarkan buku panduan untuk memuat informasi tersebut. Kini mereka tidak lagi membuatnya.  Panitia mengganti buku panduan tersebut, dengan mencetak kartu-kartu dan menjalinnya menjadi satu di dalam lanyard kalung ID Card para peserta.  Semakin banyak info yang mereka sertakan … akan semakin tebal ID Card yang akan dibagikan kepada peserta.

.

Mengapa mereka melakukan hal seperti ini ?

Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, panitia selalu saja direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan para peserta konferensi.  Ada saja yang ditanyakan, pertanyaan remeh-temeh. Padahal semua informasinya sudah ada di buku panduan.  Mereka biasanya malas membaca atau membawa. Menyebalkan bukan ?

Nah … dengan dikalungkannya ID Card berikut informasi-informasi yang dibutuhkan, para peserta jadi tidak bisa lagi semena-mena merepotkan panitia.  Kalung ID Card (berikut kartu-kartu info lain yang menyertainya) adalah hal wajib yang harus selalu dikenakan selama konferensi berlangsung.  Mereka sudah bisa melihat sendiri informasi yang mereka butuhkan di kalung ID Card masing-masing.  Panitia tinggal bilang : “… lihat di kalung !” (rasain luh …)

Jadi …

Jika anda jadi panitia konferensi. Ingin tugas anda ringan dan tidak direpotkan oleh telpon krang-kring dari para peserta ? Pertanyaan remeh-temeh yang bikin bete ? Bikin aja ID Card yang sudah ditambah fungsi-fungsinya ini … An Extended ID Card.

Dijamin anda akan tersenyum senang !

Dan andapun bisa ikut menikmati wisata di tempat konferensi tersebut tanpa diganggu telpon nggak penting dari para peserta yang cuma pengen nanya tempat beli sandal jogger dimana … (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

SULUNG INDEKOS

13 Januari 2015

Hari ini saya mengantar anak saya si Sulung ke tempat indekosnya.  Kebetulan saya tidak ada jadwal mengajar, sehingga saya bisa membantu dia sepenuhnya.  Ini adalah kali pertama si Sulung indekos.

Si Sulung akan menjalani program praktek kerja selama kurang lebih lima minggu di sebuah puskesmas di Tangerang Selatan, Propinsi Banten. 

Tentu pembaca yang sudah kenal saya pun akan bertanya “Lho om ? … om kan tinggal di Tangerang Selatan juga, kok ini si Sulung malah indekos sih ?”

Ya … kami memang tinggal di Tangerang Selatan, tetapi puskesmas tempat si Sulung praktek kerja lapangan ini, letaknya lumayan jauh dari rumah kami.  Rumah kami ada di bagian Tenggara sementara puskesmas tersebut letaknya ada di ujung Barat Daya Tangerang selatan.  Sehingga untuk memudahkan operasional dan agar tidak melelahkan, si Sulung memutuskan untuk indekos di dekat puskesmas tersebut.  Dia indekos bersama beberapa orang teman sekelasnya yang juga kebetulan mendapat penempatan di puskesmas yang sama.

Si Sulung adalah mahasiswa semester lima, di jurusan ilmu kesehatan masyarakat.  Sehingga tidak heran jika praktek kerjanya mengambil tempat di puskesmas.

Ketika mengantarnya tadi pagi, saya sempat meninjau rumah dan melongok kamar tempat dia akan menghabiskan malam-malamnya selama praktek kerja ini.  Kondisi kamarnya sangat sederhana.  Tidak ada perabot apa-apa, tak ada tempat tidur, tak ada meja.  Yang ada hanya sebuah lemari pakaian usang, yang sudah pecah cerminnya.   Lantainya dari keramik biasa, dan dindingnya pun sudah ada beberapa pulau bekas rembesan air hujan disana sini.

Saya sama sekali tidak ikut campur dalam mencari dan memilih tempat indekos ini.  Semua dilakukan sendiri oleh si Sulung dan teman-temannya.  (Saya hanya mengantar kesana saja)(hahaha)

Jujur jauh di lubuk hati yang dalam, saya kasihan melihat kondisi kamar yang dipilih mereka itu.  Namun saya menguatkan hati untuk tidak campur tangan.  Biarlah dia dan teman-temannya merasakan sendiri bagaimana indahnya hidup di kamar indekos.  Saya ingin mereka belajar mengelola hidupnya sendiri.  Lagi pula, ini kan hanya 5 minggu dan kamipun (jika mau) bisa setiap saat menengok ke tempat indekosan ini.  :)

So … have a nice stay Mas !

Take Care dan jangan bertingkah !

(Kamar kamu di rumah … biar Ayah yang ngurus …)(hehehe)

kamar1
kamar ini akan ditinggal penghuninya selama beberapa minggu

 Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Besok mau bawain dia Mie Goreng GM kesenangannya aaahhh …

(jiaaahhh si Om … baru juga sehari …)

 

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (4)

Ini bagian terakhir dari tulisan mengenai rahasia sukses menggelar lomba di blog.

Di bagian pertama saya telah bercerita bahwa sebaiknya topik-tema yang dipilih untuk lomba itu bersifat umum dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca yang luas.  Lalu di bagian ke dua saya menulis, penyelenggara lomba hendaknya membantu memudahkan para peserta untuk menaati syarat dan ketentuan yang berlaku.  Dan kemarin di bagian ke tiga saya membahas pentingnya perencanaan waktu dan pemanfaatan momentum dalam melaksanakan lomba.

Sekarang saya akan membahas mengenai “Hadiah”.

hadiah

Tentang Hadiah

Apa hadiah itu penting ? Ya, tentu hadiah itu penting.  Namun bukan yang paling penting.

Jika anda menginginkan traffic yang tinggi, follower yang banyak dan exposure yang besar saya rasa anda juga harus menyediakan hadiah yang “mempunyai nilai”.  No pain no gain.

Selain nilainya, yang patut diperhitungkan masak-masak adalah juga jenisnya.  Hal ini sering dilupakan para penyelenggara lomba. Banyak yang memilih hadiah sesuai dengan selera diri pribadinya sendiri.  Saya suka kerudung maka saya akan memberikan hadiah kerudung.  Saya suka sepak bola maka saya akan memberikan pemenang lomba di blog saya kaos bola.  Harap diingat, yang menjadi pemenang itu adalah pembaca anda. Bukan anda.  Sehingga dalam memilih hadiah, kita harus memikirkannya masak-masak, apa kira-kira yang disukai dan sesuai dengan selera khalayak pembaca anda, pada umumnya.

Saya banyak melihat beberapa sohibul GA, ada yang memberikan voucher belanja sebagai hadiah pemenang.  Saya rasa ini solusi yang sangat baik. Pemenang bisa membeli sendiri barang yang diinginkannya atau dibutuhkannya.  Namun harus diingat, bahwa gerai untuk membelanjakan voucher itu, sebaiknya dipilih yang penyebaran outletnya sudah merata di seluruh Indonesia.  Jika gerai untuk membelanjakan hanya tersedia di Jakarta, kasihan pemenang yang berasal dari Gorontalo.  Voucher itu menjadi tidak begitu berguna. Manfaatnya tidak bisa dipergunakan dengan segera.  Hadiah baru berguna baginya, jika dia bisa menjual voucher tersebut pada rekannya di Jakarta.

Hal lain yang patut dipikirkan adalah jumlah pemenang.

Anda pilih mana, memilih banyak pemenang tapi nilai hadiahnya sedikit.  Atau sedikit pemenang tapi besar nilai hadiahnya.  Untuk memudahkan saya ambil contoh misalkan budget kita adalah Rp. 300.000

Anda pilih mana ?

  • 1 orang pemenang utama hadiahnya Rp. 300.000 ?
  • 3 orang pemenang @ mendapat Rp. 100.000
  • 10 orang pemenang @ mendapat Rp. 30.000
  • 30 orang pemenang @ mendapat Rp. 10.000

Saya pribadi cenderung untuk lebih memilih agak banyak pemenang dengan nilai yang sedikit lebih kecil.   Saya beranggapan dengan ada banyaknya pemenang, peserta menjadi lebih bersemangat.  Karena mereka merasa kemungkinan / probabilitas menangnya lebih besar.

Berapakah probabilitas yang pas ? Saya tidak tau. Namun untuk lomba yang sederhana saya rasa 1 : 10 adalah rasio yang pas.  Artinya jika pesertanya hanya 10, maka pemenangnya dipilih hanya satu saja. Jika pesertanya ada 100 maka pemenangnya dipilih 10 orang.  Sekali lagi ini hanya preferensi pribadi saya saja.  Saya tidak tau idealnya berapa.  Semua tentu tergantung budget.

BTW saya mau buka rahasia sedikit …

Sering kali, ketika menginformasikan sebuah lomba, saya hanya menulis nilai barangnya saja kepada para peserta. Misalnya : “Tiga pemenang pilihan pertama akan mendapatkan paket barang senilai Rp.100.000”

Mengapa saya melakukan hal tersebut ?

Jujur saja.  Saya sengaja melakukan hal tersebut agar hadiah yang saya beli bisa disesuaikan dengan profil para pemenangnya.  Mungkin anda masih ingat 3 orang pemenang pilihan ke dua lomba self reflection kemarin ? Yang berhasil memenangkannya adalah Uniek Kaswarganti di Semarang, Nurul Rahmawati di Surabaya dan Pak Arian Sahidi di Batu, Malang.  Melihat profil-profil mereka maka saya putuskan untuk membeli “food container”,  dengan harapan semoga bisa lebih berguna untuk mereka.

Demikian juga untuk pemenang pilihan pertama.  Kebetulan profil pemenangnya berbeda-beda, ada Kang Titik Asa dari Sukabumi yang karyawan, ada Ardi dari Bogor yang mahasiswa dan ada Cik Lianny yang ibu rumah tangga di Jember.  Saya harus bisa memilih hadiah yang cocok untuk profil-profil mereka.  Akhirnya saya pilih jam meja.

Dan untuk lebih menumbuhkan kesan istimewa, maka saya sengaja membeli hadiah-hadiah tersebut, di sebuah gerai toko perabot asal Swedia yang baru ada satu-satunya di Indonesia.

-

Jadi begitulah …

Hal-hal yang harus difikirkan ketika kita menentukan hadiah.  Yaitu nilai, jenis, jumlah dan  … menyesuaikan dengan profil pemenang.

Hadiah memang bukan hal yang paling penting. Namun, memberikan hadiah dengan sentuhan personal saya rasa merupakan hal yang akan selalu diingat oleh peserta lomba anda.  Anda mebuat para peserta dan juga pemenang … merasa di-istimewa-kan !

Ini yang membuat lomba anda berbeda dengan lomba-lomba lainnya … Sentuhan Personal !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (3)

Ini adalah tulisan yang ke tiga. Di tulisan yang pertama saya telah bercerita mengenai faktor utama yang bisa membuat kita sukses menggelar lomba di blog, yaitu pemilihan “Topik-Tema”. Sebaiknya topik-tema yang dipilih itu bersifat umum, dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca kita yang lebih luas.

Lalu pada tulisan ke dua, saya membahas syatun “Syarat dan Ketentuan”, yang intinya adalah sebaiknya penyelenggara lomba membantu memudahkan para peserta untuk melakukan apa yang diminta, sekalipun syaratnya banyak.

Sekarang pada bagian yang ketiga ini saya akan mengangkat hal penting yang lain lagi yaitu masalah “Timing dan Momentum”

Timimh

Tentang Timing :

Timing adalah waktu. Penjadwalan atau schedule.  Sebagai penyelenggara lomba kita harus mengatur waktu sebaik-baiknya.  Biasanya saya selalu membagi perencanaan waktu ini menjadi tiga bagian yaitu Pre Lomba – Masa Lomba – Pasca Lomba.

Pre-lomba adalah masa conditioning.  Ancang-ancang.  Persiapan.  Mengkondisikan peserta untuk bersiap-siap mengikuti lomba yang kita adakan.  Bentuknya ? Kita bisa membuat sebuah contoh postingan dengan topik tertentu sebagai bahan acuan, disertai pengumuman bahwa sebentar lagi akan ada lomba mengenai topik seperti yang anda tulis tersebut.  Pembaca bisa mempunyai gambaran tentang lomba yang akan diadakan.

Bentuk yang lain adalah dengan membuat semacam banner “teaser”, atau iklan penggoda.  “Sebentar lagi akan ada lomba di blog saya lho”. “Siap-siap disimak yaaa”, dan sebagainya.  Teaser ini bisa anda blast di social media atau di blog anda. Atau keduanya.  Masa ini penting untuk menumbuhkan momentum rasa penasaran dari para pembaca.  Masa conditioning – pre lomba ini biasanya berlangsung hanya pada H – 7 hari atau H – 3 hari saja, sebelum informasi acara lomba kita luncurkan secara resmi.

Masa lomba adalah saat dimana para peserta mempersiapkan, membuat postingan dan mendaftarkan kepesertaannya.  Lamanya tergantung dari kompleksitas topik yang anda pilih.  Semakin sulit topiknya maka sebaiknya semakin lama masa lombanya.  Supaya peserta bisa mencari bahan atau punya waktu yang lebih banyak untuk untuk berfikir.

Berapa lama masa lomba yang ideal ? Saya tidak bisa menjawab. Namun kita pakai “rule of thumb” saja, hal yang umum saja, yaitu berkisar antara 1 minggu sampai dengan 1 bulan.  Untuk topik yang simpel satu minggu saya rasa sudah cukup. Tetapi untuk topik yang lumayan berat sebaiknya diberi waktu 1 bulan. Dan jangan lebih.

Kalau lebih dari 1 bulan ? 40 hari ? 2 bulan ? memang kenapa ?

Menurut saya 1 bulan adalah batas maksimal.  Lebih dari itu pembaca sudah mulai bosan.  Para peserta yang sudah mengumpulkan tugas lombanya pasti sudah resah, tidak sabar menunggu pengumuman pemenangnya. (atau bahkan mungkin saking lamanya mereka sampai lupa kalau mereka pernah ikut lomba). 

Jika terlalu lama, mood dan spirit kompetisi lomba akan menurun. Kita harus memelihara mood dan spirit ini agar tetap selalu diatas.  Selalu hangat.  Selalu “panas”.

Yang terakhir adalah masa pasca lomba.  Ini  terdiri dari masa penilaian, waktu pengumuman lomba, konfirmasi alamat para pemenang sampai dengan pengiriman hadiah.

Anda pernah mendengar ada beberapa GA yang diundur penutupannya ?  Atau diundur pengumuman pemenangnya ?

Saya rasa itu sah-sah saja. Namun saya pribadi sangat menghindari adanya pengunduran jadwal lomba.  Ini kesannya tidak baik. Secara logika, penyelenggara mengundurkan jadwal pengumuman … biasanya karena target jumlah peserta belum terpenuhi.  Jika saya panitia lombanya, maka apapun yang terjadi bila tanggal 10 pendaftaran lomba ditutup. Ya pada tanggal 10 jam 23.59, pendaftaran harus ditutup.

Pengumuman pun dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kalau bisa jangan mundur.  Tidak semua pembaca bisa memaklumi pengunduran jadwal pengumuman ini.  Apalagi mereka yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya.

Segera mintakan alamat pemenang lengkap dengan kode pos dan nomer kontak.  Sebaiknya hadiah sudah disiapkan terlebih dahulu jauh-jauh hari, sehingga bisa segera dikirim ketika alamat pemenang sudah kita terima.  Kita harus segera menyelesaikan seluruh rangkaian acara lomba. Project baru akan kita nyatakan selesai, jika para pemenang sudah confirm, bahwa mereka telah menerima hadiah yang kita kirimkan.

.

Tentang Momentum

Satu lagi hal yang berkaitan dengan pengaturan waktu adalah : kita harus pandai melihat, memanfaatkan dan memelihara momentum.

Momentum kurang lebih pengertiannya adalah “saat yang tepat”.

Kita harus tau kapan saat yang tepat untuk melakukan sesuatu.  Untuk memulai lomba contohnya. Kita harus lihat situasi kiri-kanan dulu.  Adakah teman lain sedang mengadakan GA ? Adakah Lomba sejenis yang sedang berlangsung ? Apakah masa-masa ini adalah masa sibuk ?

Jika waktunya orang “sibuk”, entah sibuk liburan sekolah, sibuk pendaftaran sekolah, tahun ajaran baru, libur panjang lebaran … saya sarankan anda tidak mengadakan lomba.  Nanti pesertanya sedikit.

Pun jika misalnya teman sebelah sudah ada yang mengadakan lomba blog tentang “Memelihara Kebersihan” ya anda jangan nekat mengadakan juga lomba dengan topik “Lingkungan Sehat”.  Topiknya hampir sama bukan ? Waktunya pun bersamaan.  Sebaiknya anda menghindari situasi seperti ini.

Namun jika anda memilih untuk nekat melaksanakannya juga ?  Saya sarankan anda mempersiapkan hadiah yang lebih besar.  Atau anda menetapkan syarat yang lebih mudah dan lebih ringan … (ini masalah perebutan share of voice di alam maya … anda harus berkompetisi dengan penyelenggara lomba untuk memenangkan perhatian khalayak)

Ketika lomba sedang berjalanpun, kita harus tetap memelihara momentum. Kita diharapkan tau betul saat yang tepat untuk nge-blast reminder di sosial media untuk para calon peserta yang belum mendaftar. Mengingatkan due date atau deadline dari lomba kita.  Tujuannya adalah agar iklim kompetisinya tetap terjaga hangat.  Bahkan “panas”

Saya tidak bisa banyak menceritakan mengenai menjaga momentum ini.  Karena ini semua berkaitan dengan “insting” atau “feeling”.  Namun sekali lagi intinya adalah … anda dituntut untuk pandai-pandai memilih saat yang tepat untuk menjaga mood, menjaga situasi dan kondisi agar tetap kondusif dan kompetitif.  Tau betul saat yang tepat kapan melakukan suatu tindakan tertentu.  Tau betul saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.

Dan itu butuh pengamatan yang seksama ! … dan kepekaan yang tajam !

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Next adalah tentaaaaanngg … “Hadiah”