KELAS INSPIRASI (2)

Ini adalah tulisan sambungan dari postingan saya yang sebelumnya tentang Kelas Inspirasi

(Kelas Inspirasi adalah program yang digagas oleh Indonesia Mengajar.  Para profesional diundang untuk cuti satu hari dan mengajar di sebuah sekolah dasar secara sukarela.  Mereka akan menjelaskan apa profesinya kepada anak-anak.  Agar anak-anak SD tersebut terinspirasi)

Di tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan mengenai proses awal untuk mengikuti program Kelas Inspirasi (KI).  Yaitu : melihat jadwal, mendaftar dan mengikuti proses seleksi.  Saya terangkan juga di sana, proses seleksi relawan itu perlu dilakukan karena biasanya yang mendaftar banyak, sementara kapasitas terbatas.

Panitia akan mengumumkan hasil seleksi relawan melalui web site atau melalui pemberitahuan ke e mail masing-masing. 

Jika kita dinyatakan tidak lulus seleksi maka jangan kecil hati.  Coba lagi di kota-kota berikutnya !

Jika kita dinyatakan lulus seleksi maka berikut ini adalah proses-proses selanjutnya yang akan kita lalui.

Kita akan dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 10 – 18 orang.  (FYI : banyak atau sedikitnya anggota disesuaikan dengan besar-kecilnya sekolah dasar yang akan dituju).  Masing-masing tim akan didampingi oleh satu orang fasilitator.  Fasilitator tugasnya adalah menjadi penghubung antara panitia KI, pihak sekolah yang dituju dan juga para relawan.  Fasilitator biasanya sudah mempunyai pengalaman mengikuti KI sebelumnya, sehingga dia bisa bertindak sebagai konsultan timnya bilamana diperlukan.

Nah setelah tim terbentuk, proses selanjutnya yang akan kita jalani adalah sebagai berikut

1.Membuat kelompok diskusi

hp

Fasilitator akan membuat group diskusi secara online (biasanya memakai WhatApp).  Ini berguna untuk memudahkan komunikasi antar anggota group, selama masa persiapan.  Forum komunikasi ini sangat penting mengingat domisili para relawan bisa jadi lokasinya berjauhan.  Disiplin untuk selalu memantau forum diskusi ini menjadi hal yang harus diperhatikan oleh para relawan agar tidak ketinggalan berita.

.

2.Memilih ketua tim dan seksi-seksi

org
(hanya contoh)

Untuk memudahkan koordinasi, sebaiknya dipilih ketua tim, sekretaris dan bendahara.  Plus beberapa pic (person in charge) sesuai keperluan.  Biasanya yang diperlukan adalah pic survei, pic acara, pic perlengkapan dan pic konsumsi.  (FYI setiap kelompok akan berbeda-beda cara pengaturannya.  Tidak ada hal yang baku dalam hal ini)

.

3.Survei Sekolah

sd padek1
(SDN Padek 1, KI Serang)

Ini hal yang sangat penting untuk dilakukan.  Relawan diharapkan melakukan survei pendahuluan ke sekolah dasar yang akan dituju.  Melihat situasi dan juga meninjau lokasi.  Naik apa kesana, rute kendaraannya bagaimana dan seterusnya

Saat survey kita juga diharapkan bisa bertemu dengan pihak sekolah untuk menggali informasi yang kita butuhkan.  Informasi yang paling mendasar biasanya adalah data jumlah lokal kelas, jumlah rombongan belajar, dan jumlah murid per kelas.  Setelah itu kita menggali juga informasi mengenai latar belakang siswa, keluarganya, mata pencaharian orang tua dsb. 

Hal ini penting kita ketahui agar kita bisa merancang rencana mengajar dengan baik.  Jangan lupa untuk menanyakan juga jadwal sekolah masuk jam berapa, istirahat jam berapa dan pulang jam berapa.  (note : KI tidak boleh mengubah jadwal keseharian mereka).  Akan bagus juga jika kita sempatkan waktu untuk ngobrol dengan anak-anak di kantin atau di halaman sekolah ketika mereka istirahat.  Anggap saja ini pemanasan untuk lebih mengenal mereka, calon audience kita nanti.

Ada banyak tim yang setelah melakukan survei, sekalian dilanjut dengan rapat atau diskusi untuk membahas langkah-langkah selanjutnya (mumpung ngumpul)(karena biasanya sangat sulit mencari waktu untuk bertemu karena setiap relawan mempunyai kesibukan sendiri-sendiri)

Saya pribadi menganggap survei ini sangat penting.  Hampir di setiap KI yang saya ikuti, saya pasti melakukan survei lokasi terlebih dahulu.

.

4.Rundown acara

Hal selanjutnya yang harus didiskusikan adalah merancang acara.  Untuk mempermudah kami biasa membaginya menjadi tiga bagian besar.  Opening – acara inspirasi – closing

Opening adalah semacam upacara pembukaan di lapangan.  Di acara ini kita akan menjelaskan kepada anak-anak tentang apa itu KI, perkenalan singkat dan juga melakukan sedikit kegiatan “energizing”, penyemangat agar anak-anak lebih antusias mengikuti “pelajaran” hari ini.  Bisa berupa menyanyi, gerak-gerak badan, yel-yel, permainan kecil dan sebagainya.  Tidak perlu lama-lama agar energi tidak terkuras habis disini.

darihp 1 (343)
(contoh jadwal mengajar)

Selanjutnya adalah acara inspirasi.  Acara pokok.  Siapa, mengajar kelas mana, jam ke berapa !  Ini memerlukan pemikiran tersendiri.  Bagaimana mengatur sejumlah inspirator yang ada, dengan waktu yang terbatas serta lokal kelas yang tersedia, sedemikian rupa agar didapat penyebaran yang optimal.  Satu “jam pelajaran” biasanya antara 30-40 menit.  Pembagiannya pun diusahakan seadil mungkin.

Dan terakhir adalah acara penutupan.  Biasanya anak-anak dikumpulkan lagi di lapangan dan kita melakukan ritual untuk penyemangat anak-anak agar termotivasi mengejar cita-citanya.  Bentuknya bisa macam-macam sesuai dengan kreatifitas masing-masing.  Acara penutup ini tidak kalah pentingnya.  Karena kesan pada acara penutupan inilah yang biasanya lebih diingat oleh anak-anak.

.

5. Support

samsung1 (45)
(salah satu materi komunikasi)(SDN Kedung Waringin, KI Bogor #3)

.

Ini adalah prentilan-prentilan yang harus juga kita pikirkan agar proses KI bisa berjalan dengan baik.  Perlengkapan, design materi komunikasi (spanduk ? poster ? vertical banner ? dll), stationery, konsumsi dan sebagainya.

Support tergantung dari rundown acara yang kita kreasikan.  Semakin kompleks bentuk acaranya maka keperluan logistik support juga akan semakin ribet.

Satu yang perlu diingat, jangan sampai kita mengkreasikan acara sedemikian kompleks.  Sedemikian heboh.  Persiapan sedemikian panjang, menguras energi dan waktu, sehingga kita melupakan fokus inti / substansi pokok kelas inspirasi.  Substansi pokok adalah tetap “lesson plan” ataupun rencana pengajaran masing-masing.  Bagaimana caranya menjelaskan profesi masing-masing ke depan anak-anak usia sekolah dasar.  Dari kelas 1 sampai dengan kelas 6

6. Lesson Plan

IMG-20151029-WA0005
(SDN Kedung Waringin, Bogor)(photo by Putri)

Lesson plan atau rencana mengajar adalah inti dari segalanya.  Ini semacam skenario pribadi.  Apa yang akan dilakukan, dikatakan, dipraktekkan, didemokan, diperlihatkan dimainkan di depan kelas, dari menit ke menit.  Perlengkapan apa yang dibutuhkan ? Alat peraga ? Gambar ? Demo ? Games ? dan sebagainya.

Dalam waktu 30 – 40 menit kita harus menerangkan profesi kita kepada anak-anak SD itu.  Siapakah aku ? Apa profesiku ?  Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja ? Apa peran-manfaat profesiku di masyarakat ? Bagaimana cara menjadi aku ?  Tentu dengan bahasa dan cara yang mudah dimengerti oleh anak-anak.

Dan menurut saya … disinilah seninya.  Disinilah letak menarik dan menantangnya !

Jadi demikianlah, seluruh rangkaian program Kelas Inspirasi mulai dari saat pendaftaran sampai dengan persiapan hari inspirasi.

Sesungguhnya tidak ada hal yang baku, di setiap Kelas Inpirasi yang saya ikuti selalu saja ada hal yang baru yang memperkaya wawasan dan pengalaman saya pribadi.

Semoga saja anak-anak itu bisa menikmati apa yang para relawan berikan pada saat hari Inspirasi.

Mari terus menginspirasi !

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

KELAS INSPIRASI

kismall

Mungkin sudah banyak yang mengetahui bahwa saya beberapa kali berkesempatan untuk ikut berpartisipasi di sebuah program sukarela yang bernama Program Kelas Inspirasi dari Indonesia Mengajar.

Program Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada kemajuan pendidikan di Indonesia.  Para relawan pengajar tersebut akan cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar di sebuah Sekolah Dasar.

Apa yang diajarkan ?

Kita tidak mengajar mata pelajaran umum seperti matematika, IPS atau olah raga.  Para relawan hanya bercerita mengenai profesinya masing-masing kepada anak-anak SD tersebut.  Tentu dengan bahasa sederhana yang dimengerti oleh mereka.

Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita, serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar.  Cita-cita yang tinggi.  Cita-cita yang akan diraih dengan penuh doa dan usaha.  Usaha yang jujur, mandiri, pantang menyerah dan kerja keras.

Prinsip sikap dasar gerakan ini ada tujuh : sukarela, bebas kepentingan, tulus, siap belajar, ambil bagian langsung, siap bersilaturahmi dan tanpa biaya.  Kalaupun ada biaya, itu hanyalah iuran para relawan untuk perlengkapan acara dan keperluan alat mengajar di sekolah masing-masing.  Sikap-sikap dasar inilah yang membuat saya tertarik untuk ikut.

.

Gimana sih caranya Om, kalau mau ikutan ?

Gampang saja. Berikut adalah langkah-langkah yang biasanya saya tempuh. (note : Saya akan menyingkat Kelas Inspirasi dengan “KI” saja)

.

1. Waktu dan Tempat
Yang pertama adalah kita harus mempelajari jadwal KI yang ada.  Biasanya saya melihat di : www.kelasinspirasi.org.  Di sana ada daftar kapan dan di kota mana saja KI akan dilangsungkan. (BTW : selain dari website tersebut, informasi tentang jadwal KI juga sering kita temui di social media)

Setelah dapat jadwalnya, kita tentu harus mencocokkan dengan ketersediaan waktu dan mobilitas kita.  Misalnya saya.  Saya bertempat tinggal di Tangerang Selatan.  Saya harus memperhitungkan jarak dan waktu tempuh dari rumah saya ke kota tujuan KI.  Untuk alasan kemudahan aksesibilitas, sejauh ini saya hanya memilih beberapa kota yang relatif dekat dengan Tangerang Selatan saja, yaitu Bogor, Depok, Bekasi, Jakarta, Serang dan Cilegon.

Sebetulnya bisa saja kita memilih kota yang jauh dari tempat tinggal kita. Bahkan di luar pulau sekalipun.  Itu terserah anda.  Ada banyak relawan yang menggunakan kesempatan KI ini untuk sekalian pulang kampung.  Misalnya Fulan yang berasal dari Magetan. Ketika ada program KI di Magetan, Fulan ikut mendaftar, dengan harapan dia bisa sekalian pulang kampung dan berbakti pada pendidikan di daerah asalnya itu. 

Ada pula yang menggunakan kesempatan ini untuk berwisata atau travelling ke kota-kota yang belum pernah dia kunjungi.  Itu sah-sah saja.  Sekali rengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui.  (Silakan anda memilih kota mana saja, toh biaya ditanggung sendiri bukan ?!)

.

2. Mendaftar
Sudah ketemu waktu dan kota yang pas ? Kini saatnya kita mendaftar.  Pendaftaran dilakukan secara on line.  Bisa melalui www.kelasinspirasi.org , lalu klik “info lengkap”.  Anda akan diarahkan ke website KI di masing-masing kota.

Isi form data diri anda, seperti nama, pendidikan, pekerjaan, nomer kontak dan sebagainya.  Selain itu, calon relawan juga diminta untuk menuliskan apa motivasinya mengikuti KI ini. 

Para relawan bisa mendaftar sebagai pengajar atau fotografer atau videografer.  Syarat untuk bisa menjadi pengajar adalah sudah mempunyai pengalaman bekerja lebih dari dua tahun.  Sementara untuk menjadi fotografer atau videografer, harus menyertakan website/social media yang memuat karya-karya foto/video masing-masing untuk dievaluasi.

(BTW : Fungsinya memang sengaja dipisahkan antara pengajar, fotografer dan videografer.  Ini bertujuan agar pengajar tetap fokus pada aktifitas mengajarnya dan tidak “kecentilan” sibuk dengan urusan foto memfoto saat mengajar.   Ada relawan khusus, yaitu fotografer dan/atau videografer yang memang bertugas untuk mendokumentasikan seluruh aktifitas KI hari itu)

Jika form sudah diisi lengkap dan di“submit”, panitia biasanya akan mengirimkan notifikasi melalui e mail yang menyatakan bahwa data sudah diterima dengan baik. 

.

3. Proses Seleksi

Selanjutnya tim panitia rekrutmen KI akan menyeleksi calon-calon relawan berdasarkan form pendaftaran yang masuk secara on line tersebut.  Jadi saran saya, ketika anda mengisi form pendaftaran, cantumkanlah data dengan lengkap dan tuliskan motivasi anda dengan bersungguh-sungguh. Sehingga panitia rekrutmen tertarik untuk memilih anda. Form pendaftaran adalah satu-satunya tiket untuk bisa masuk menjadi relawan KI.

Kok di seleksi Om ?
Ya ini memang harus diseleksi karena yang mendaftar biasanya membludak (apalagi kalau KI di kota besar).
  Setelah proses ini, kita tinggal tunggu pengumuman dari panitia. Go or No Go !

Sependek pengetahuan saya, ada pengecualian untuk beberapa profesi dan pekerjaan.  Mereka tidak perlu mengikuti seleksi.  Ini biasa disebut sebagai relawan yang mempunyai “Wild Card”.  Mereka biasanya adalah public figure, pejabat tinggi negara, artis, musisi, orang terkenal, profesor/guru besar/peneliti senior di suatu perguruan tinggi, aktifis Program Indonesia Mengajar/Kelas Inspirasi ataupun tokoh-tokoh lainnya.  Jujur saja keikut sertaan mereka, membuat kami para relawan “biasa” ini menjadi lebih bersemangat.  (Eh Addie MS ikutan lho.  Wah ada Ringgo Agus Rahman.  Wow Dinda Kanya Dewi di sebelah saya.  Itukan Chikita Fauzi anaknya Marissa Haque dst dst dst  )

.

What Next ?

Terus kalau seandainya terpilih … apa yang harus saya lakukan Om ?

Itu akan saya ceritakan di postingan berikutnya ya … agar tidak terlalu panjang.

Stey cun ya cun … !

kinh

Salam saya

om-trainer1.

.

.

PERMAINAN “TANPA NAMA”

Ada dua orang teman saya yang berkolaborasi mengadakan perhelatan “give away”.  Saya tergerak untuk ikut.

Teman-teman tersebut, yang pertama adalah Mama Calvin, Lidya Fitrian, seorang ibu dari dua anak.  Tinggal di Bekasi.  Penyandang gelar Ratu Blog Walking yang belum terpatahkan.  Ya Lidya Fitrian adalah blogger yang sangat rajin blog walking, menyambangi, membaca dan memberikan komentar di blog rekan-rekannya.  Komentarnya pun bukan komentar asal lewat basa basi belaka.  Komentarnya selalu sesuai dengan isi postingan.  Beruntung saya sudah beberapa kali bertemu dengan Mbak Lidya

Yang kedua adalah Rahmah “chemist” Bunda Salfa.  Asal Maros, Sulawesi Selatan yang sekarang bermukim di Palangkaraya.  Saya pernah bertemu dengan Rahmah, secara tidak sengaja di acara Blogger Nusantara 2013.  Waktu itu kami satu homestay, di Homestay nomor 3 Desa Wisata Tembi, Yogyakarta.  Kita sempat ngobrol-ngobrol hangat saat sarapan pecel di teras rumah bersama Kang Didno dari Indramayu.

Sekarang mari kita membahas perhelatan give away mereka.  Tema Give away mereka sangat sederhana.  Menceritakan permainan masa kecil.

Bicara tentang permainan masa kecil, ada banyak sekali permainan yang bisa saya ceritakan.  Ada bentengan, tak umpet, galasin, tok kadal, kelereng, taplak gunung, ular naga, layangan, gambaran dan lain sebagainya.  Jika saya bercerita mengenai permainan-permainan tersebut mungkin tidak istimewa lagi karena sudah banyak yang membahas.

Kali ini saya akan menceritakan satu permainan yang menurut saya menarik, dan jarang diceritakan orang.  Namun celakanya saya lupa apa nama permainannya.   Maka dari itu sebut saja permainan ini Permainan “Tanpa Nama” (Rumah Makan Padang kali aaahhh …)

Ini permainan kelompok, lebih banyak anak lebih asik dan menarik.  Permainan ini sangat sederhana tidak memerlukan alat bantu atau perlengkapan khusus.  Hanya dua kerikil saja.   Ya … dua butir batu kerikil !!!

Cara bermainnya :
1. Bagi anak-anak menjadi dua tim dengan anggota yang sama banyak. Masing-masing menunjuk ketua timnya (sebut saja tim Mawar dan tim Melati)

2. Mereka berdiri berbanjar saling berhadapan.  Jarak antara barisan satu tim dengan tim lainnya bisa 10 sampai 20 meter, tergantung lahan lapangan yang ada.

satu

3. Undi/”suit”/”sut” untuk menentukan tim mana yang “main” duluan. (Katakanlah yang main duluan adalah tim Mawar)

4. Cara mainnya gampang.  Seluruh anggota tim Mawar berdiri dengan sikap istirahat, tangannya semua di belakang.

5. Ketua tim Mawar (TL) berjalan berkeliling di belakang anggota-anggotanya dan secara diam-diam menaruh kerikil di genggaman salah satu anggota timnya.  Kerikil digenggam baik-baik.  Pasang muka “poker face”.  Jangan norak.  Agar tidak ketauan lawan.

6. Jika sudah selesai, tim Melati akan menebak.  Kerikil berada di genggaman siapa ?

7. Jika tebakannya tim Melati betul.  Formasi barisan Mawar tetap seperti semula tidak berubah.  Giliran tim Melati yang gantian bermain.  Ketua Tim Melati (TL) akan melakukan prosedur yang sama seperti nomor 5.

8. Namun jika tebakan tim Melati salah.  Maka anggota tim Mawar yang tadi menggenggam kerikil maju satu langkah.  (dalam contoh ini adalah pemain nomor 2).  Giliran tetap di tim Mawar. Ketua tim Mawar kembali melakukan prosedur nomor 5.

dua
9. Demikian seterusnya, masing-masing  berusaha menempatkan kerikil di genggaman anggotanya,  berupaya untuk tidak tertebak lawan, agar bisa terus maju selangkah demi selangkah sampai salah satu anggota tim ada yang menginjak atau melampaui garis finish.  Garis finis adalah garis di mana lawannya berdiri pada saat awal pertandingan.  Tim yang berhasil melampaui garis finish tersebut merekalah yang menang.  (contoh dalam hal ini adalah Tim Melati yang menang, karena si d berhasil mencapai garis lawan)

tiga

.

Letak menariknya permainan ini ada pada bagaimana cara mengelabui tim lawan.  Ketua tim harus jeli untuk menempatkan batu kerikilnya secara diam-diam di genggaman salah satu anggota timnya.  Ketua tim pun harus punya strategi untuk dapat segera menempatkan anggota-anggotanya melangkah se maju mungkin. 

Bagaimana dengan peran anggota tim ? 
Anggota tim juga harus punya 1001 cara untuk mengelabui lawan.  Agar lawan salah menebak.  Entah itu pura-pura grogi, pura-pura salah tingkah, cengar-cengir, pura-pura panik, agar lawan curiga dan memilih dia sebagai orang yang menggenggam kerikil.  Padahal batu kerikil tidak ada padanya. “Wuek” lawan tertipu. Demikian juga sebaliknya bagaimana anggota tim yang menggenggam kerikil bisa memasang muka datar, “poker face”, se”cool” mungkin, tenang, agar lawan tidak mengira bahwa kerikil itu ada padanya.

Lalu apa manfaat dari permainan ini ?
Selain untuk membuat anak-anak senang bergembira bersama, permainan ini menurut saya juga mempunyai beberapa manfaat.  Yang pertama tentu saja membina kekompakan tim.  Bagaimana mengelola satu tim agar bisa mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya.  Yang tidak kalah pentingnya permainan ini juga mengajarkan kejujuran.  Anak-anak harus jujur.  Siapa yang memegang kerikil harus jujur mengakuinya.  Mereka hanya menggunakan satu kerikil saja setiap tim.  Tidak dua tiga atau lebih untuk mengelabui lawan.

Dan yang terakhir permainan ini juga mengajarkan bagaimana mengatur strategi penempatan kerikil yang didasari oleh sikap yang sabar.  Sabar dalam mencapai tujuan, tidak tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaannya.

Saya tidak tau apa teman-teman pernah memainkan permainan seperti ini saat kecil dulu.  Jangan-jangan permainan ini sudah punah ?  Saya tidak pernah lagi mendapati anak-anak di lingkungan rumah saya memainkan permainan ini.

Eh, kita main permainan “tanpa nama” ini yuuukkk … !?

Salam saya.

om-trainer1.

.

.“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa” 

.

.mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

LAPANGAN TERBANG PONDOK CABE

Pondok Cabe adalah nama satu daerah di Tangerang Selatan, Propinsi Banten.

Daerah ini menjadi sering disebut-sebut orang karena mempunyai sebuah lapangan terbang.  Sebut saja Lapangan Terbang Pondok Cabe.  Saya tinggal tidak jauh dari lapangan terbang tersebut.

Beberapa puluh tahun yang lalu, saya ingat sekali Lapangan Terbang Pondok Cabe ini menjadi sentral kegiatan olah raga dirgantara. Ketika PON (Pekan Olah Raga Nasional) berlangsung, lapangan terbang ini pasti ramai dikunjungi penggemar, penggiat dan pelaku olah raga dirgantara.  Ada pertandingan terbang layang, aero modelling, terjun payung dan sebagainya.  Seru.  Semarak.

Namun sayang dengan berlalunya waktu, entah mengapa lapangan terbang ini tidak lagi semarak seperti dulu.  Saya lihat pertandingan olah raga dirgantara pun tidak seramai dulu.  Mungkin karena biayanya sudah semakin mahal ? atau penggemarnya yang sudah mulai menipis ?  Saya juga kurang tau.

Saat ini lapangan terbang tersebut menjadi markas Skadron Udara 21/Serba Guna (atau Skadron 21/Sena). Di bawah kendali Pusat Penerbangan Angkatan Darat. (Sumber : Wikipedia).

.

Mengapa saya kok tiba-tiba cerita mengenai Lapangan Terbang Pondok Cabe ini ?
Di kalangan penghuni kompleks perumahan kami, ini menjadi topik pembicaraan yang hangat. Apa pasal ? Karena menurut kabar yang beredar, lapangan terbang Pondok Cabe direncanakan akan dibuka menjadi lapangan terbang komersial.  Bandara komersial. Seperti yang ada di Cengkareng dan Halim.  Setelah saya gugling sana sini, dari berbagai portal berita saya dapatkan informasi bahwa salah satu maskapai penerbangan terbesar negeri ini berencana akan membuka penerbangan rute-rute tertentu melalui Lapangan Terbang Pondok Cabe ini.

sayap

Bandara ini akan melayani destinasi pesawat Garuda Indonesia menuju Lubuk Linggau, Samarinda, Pangkalan Bun, Palembang, Tanjung Karang, Semarang, Ketapang, dan Yogyakarta.  Slot maksimal Bandara Pondok Cabe mencapai 30 penerbangan sehari (Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/12/05/122106726/Mengintip.Kesiapan.Bandara.Pondok.Cabe)

Memang akhir-akhir ini jika saya berkendara melalui sisi lapangan terbang tersebut, saya bisa melihat beberapa kesibukan pembenahan yang dilakukan oleh pengelola.  Pagar-pagar pembatas terlihat mulai dibangun dan dirapikan.  Di landas pacu pun saya sempat melihat banyak truk dan mobil-mobil proyek seliweran di sana.  Sepertinya landas pacunya mulai dibenahi agar layak didarati pesawat komersial.  Saya tidak tau jenis pesawat komersial apa yang bisa mendarat di (atau mengudara dari ) lapangan terbang ini.  Panjang landas pacu lapangan terbang Pondok Cabe ini relatif terbatas (tidak seperti Bandara Soekarno Hatta atau beberapa bandara komersial lainnya yang pernah saya lihat).

Warga kompleks perumahan saya mulai rasan-rasan mengenai dampak yang akan timbul dari dibukanya lapangan terbang Pondok Cabe untuk komersial.  Salah satu yang menjadi konsern utama kami adalah arus lalu lintas.  Tidak ada kegiatan di lapangan terbang saja arus lalu lintas di sekitar perumahan kami sudah macet, apa lagi nanti jika penerbangan komersial sudah dibuka.  Penumpang pasti ramai datang dan pergi. Belum kendaraan yang mengantar dan/atau yang menjemput. 

Konsern selanjutnya adalah mengenai suara. Hah … tidak terbayangkan nanti ramainya seperti apa udara di atas rumah kami.  Gegap gempita semesta membahana !

Saya tidak tau apakah rencana ini akan terealisasi atau tidak.  Pihak yang berwenang pasti masih akan banyak melakukan uji kelayakan dan penelitian di segala aspek untuk memastikan terpenuhinya syarat-syarat Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP).

Sebagai warga negara yang baik, saya pribadi menyambut positif pembukaan lapangan terbang ini. Semoga dengan dibukanya Pondok Cabe menjadi lapangan terbang komersial, bisa menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Semoga bisa memberikan dampak yang baik terhadap perekonomian setempat.

(dan hhhmmm … saya pun mulai berfikir … bikin kos-kosan untuk pramugari boleh juga nih …)

Hahaha

Salam saya …

om-trainer1

.

.

KI JAKARTA 4 : TENTANG MENANGIS

Saya masih melanjutkan cerita yang (sangat) tertinggal, yang terjadi beberapa bulan yang lalu.  Tentang kegiatan Program Kelas Inspirasi, Jakarta #4.

Program kelas inspirasi adalah semacam program “cuti sehari, menginspirasi seumur hidup”.  Suatu gerakan yang mengajak para profesional untuk turun langsung secara suka rela mengajar ke sekolah dasar (SD) selama satu hari.  Berbagi cerita dan pengalaman kerja, juga memberi motivasi para murid SD, agar mereka dapat terinspirasi dari profesi-profesi yang diceritakan oleh para relawan.

Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumya saya mendapat tugas untuk mengajar di SD Manggarai 17, bersama beberapa relawan yang tergabung dalam kelompok 16.

9 September 2015

Ini adalah hari inspirasi,  The D day.

Setiap program kelas inspirasi yang saya ikuti pasti mempunyai cerita unik sendiri-sendiri.  Cerita yang sedikit berbeda untuk KI kali ini adalah :

1.Pembukaan massal :
Rasanya baru kali ini saya mengalami pembukaan kelas inspirasi yang diikuti oleh sekian banyak anak-anak.  Bayangkan saja 5 sekolah digabung menjadi satu.  Di kumpulkan di suatu lapangan.  Tidak mudah mengatur anak sedemikian banyak. Untung relawannya juga banyak plus dibantu juga oleh para guru.  Sehingga upacara pembukaan berlangsung dengan tertib

manggarai2
(photo by @nh18)
JKT41
(photo by Prita)

2. Jendela Cakrawala Cita
Kebetulan salah satu anggota tim kami ada seorang yang bergerak di bidang design. Sehingga jujur saja, saya sebagai ketua tim merasa sangat terbantu dengan kebisaan beliau. Kita bisa jadi merancang satu tema untuk setiap alat-alat peraga yang kami produksi. Back Drop, Spanduk, Poster, Baliho, bahkan sampai Kenang-kenangan untuk Sekolah pun berhasil kami rancang dengan satu tema. Tema yang kami pilih adalah Jendela Cakrawala Cita.

Manggarai2
(design by SonSon)

 

(design by SonSon)
(design by SonSon)

 

Manggarai3
(design by SonSon)

 

Manggarai22
(photo by SonSon)

 

3.Menangis
Ini cerita yang paling membekas bagi saya.  Ada salah satu murid.  Anak kelas satu. Usianya 7 tahun.  Perempuan.  Saya perhatikan dari menit pertama dia menginjakkan kaki ke halaman sekolah, sampai jam pulang sekolah,  anak ini terus menangis.

Ya … menangis tidak pernah berhenti.  Ok satu dua tiga kali memang sempat berhenti, tapi itu hanya terisak-isak saja.  Mungkin dia menarik nafas sebentar untuk ritual menangis yang lebih heboh lagi (hehehe).

Kami sempat bertanya pada guru kelas dan juga satpam sekolah.  Apakah anak ini selalu begini ?

Ternyata jawabannya adalah : ini terjadi setiap hari.  SETIAP HARI.  Every single day.  Sejak hari pertama masuk sekolah sampai saat kami datang kesana tanggal 9 September 2015.  Dari saat masuk sekolah jam 7.00 sampai pulang jam 10.00.  Saya tidak tau penyebabnya.  Menurut penuturan guru kelas, keluarga anak ini keluarga sederhana.  Dia sudah punya adik lagi.  Apakah ini berkaitan dengan kesiapan mental untuk belajar ? … atau kurangnya perhatian ? … atau bagaimana ? … saya juga kurang jelas.

Yang jelas, saya berani memastikan bahwa ada seorang anak yang dari pagi sampai pulang menangis terus tanpa berhenti.  Sesekali berhenti untuk isakan-isakan kecil saja.   Menarik napas sebentar.  Namun ketika didekati dia akan menangis lagi dengan lebih keras.

Anak ini tidak mau masuk kelas.  Dia hanya menangis di luar, di dekat pintu masuk kelasnya. (calon drama queen nih …)(hehehe).  Sudah banyak cara dilakukan untuk membujuknya untuk tidak menangis, masuk kelas dan belajar.  Tapi belum ada yang berhasil.  Beberapa dari relawan mencoba untuk membujuknya.  Tapi juga tidak berhasil membawanya masuk.  Hanya berhasil “ngerih-rih”, meredakan tangis kerasnya menjadi isakan kecil.  (Yang mana kalau ditinggal segera beralih ke nangis keras lagi …)

Diperlukan kesabaran ekstra bagi guru yang menanganinya.

Semoga saja … sekarang … anak ini sudah tidak menangis lagi. Dan mau masuk kelas dan mengikuti pelajaran seperti teman-teman yang lain.

Pengalaman mengajari di SD Manggarai ini sungguh merupakan pengalaman yang tak bisa dilupakan.  Bukan begitu teman-teman ?

Manggarai10
(photo by tim dokumentasi kel 16)(Prita &Irwansyah)

 

Salam saya

om-trainer1