LAST MINUTE CANCELLATION

(Batal pada saat-saat terakhir)

Ini tentang Kelas Inspirasi

Sebagian teman-teman yang mengenal saya, pasti mengetahui bahwa saya beberapa kali mengikuti kegiatan relawan di program Kelas Inspirasi.  Mengajar sehari di SD negeri sederhana, agar anak-anak itu semangat untuk belajar dan mengejar cita-citanya dengan jujur, kerja keras, pantang menyerah dan mandiri.  Tentu disertai doa yang tak putus-putus.

(photo by Abdul Rohmat)

Mekanismenya, kita (para relawan) akan dibagi per kelompok sesuai dengan SD yang akan kita tuju.  Dan selama persiapan, kita berkomunikasi secara virtual melalui group WA.

Ketika mengikuti program ini, beberapa kali kami mengalami suatu hal yang sedikit mengganggu.  Yaitu adanya relawan yang mengundurkan diri, batal mengikuti kegiatan ini.

Memang ini adalah kegiatan kesuka-relawanan.  Tak ada paksaan.  Namun jika ada yang membatalkan keikut sertaannya, tentu akan sedikit mengganggu mekanisme persiapan yang sudah dilakukan.  Apalagi jika pembatalan tersebut baru diinformasikan … satu hari sebelum hari H.  (Bahkan ada yang mengundurkan diri pada saat hari H)(Dan percaya atau tidak … ada pula yang menghilang begitu saja tanpa berita).  (… cling …)

Alasannya?

Macam-macam.

1.Musibah
Ada yang mundur karena kena musibah atau ada keluarga yang sakit.  Nah kalau ini sangat bisa dimengerti.  Dan kita para relawan pun pasti sangat memaklumi.  Case closed.

2. Pekerjaan
Ada pula karena alasan pekerjaan.  Tidak dapat cuti, load pekerjaan sedang banyak, ada pekerjaan mendadak dan juga ada perintah untuk ke luar kota. 
Alasan yang ini sebetulnya bisa diminimalisir, jika relawan yang bersangkutan mempunyai rencana yang matang dan bersungguh-sungguh untuk mengikuti program ini.  Jauh hari sebelum hari H seharusnya dia sudah meminta izin cuti. Kalau perlu melakukan lembur untuk menuntaskan pekerjaan sebelum hari H. Berdiskusi dengan atasan dan kolega untuk berbagi tugas dan mengalokasi beban kerja antar anggota tim, termasuk di dalamnya jika ada potensi dinas keluar kota pada tanggal yang ditentukan.  (Ya saya tau ini tidak semudah membalikkan tangan, namun hal tersebut tidak mustahil, jika kita lakukan dengan semangat positif)

3. Lain-lain
Nah kalau yang ini menarik nih …

Sependek pengalaman saya, ada beberapa hal lain yang bisa membatalkan relawan untuk ikut kegiatan pada hari H.  Di antaranya: tidak dapat tiket (jika ybs dari luar kota), tidak dapat penginapan, tidak dapat izin dari pasangan dan sebagainya.  Sekali lagi, hal ini seharusnya bisa diminimalisir jika relawan mempunyai rencana dan persiapan yang baik.

4. Tak diketahui sebabnya
Percaya atau tidak, (seperti yang sudah saya sebutkan di atas) saya mengalami beberapa kali kejadian di mana ada relawan yang mengundurkan diri begitu saja, tak ada berita pada saat hari H.  Tak ada kata maaf pula setelahnya.  Dan kalau sudah begini, kami hanya bisa mengurut dada.

.

Pertanyaannya : Apakah Om Trainer pernah mengundurkan diri?
Pernah.  Saya pernah mengundurkan diri.  Tahun 2016. Saya lupa bulannya.  Waktu itu situasinya adalah saya mendaftar ke salah satu kegiatan Kelas Inspirasi di sebuah kota.  Namun satu hari setelah saya mendaftar, tiba-tiba ada proyek pekerjaan baru yang dilimpahkan kepada saya, yang saya prediksikan akan belum selesai pada saat hari H nanti.  Sehingga ketika ada pemberitahuan bahwa saya dinyatakan lulus untuk ikut Kelas Inspirasi di kota tersebut, saya langsung bicara dan mohon maaf pada Fasilitatornya bahwa saya mengundurkan diri.  Dan itu waktunya adalah :  sebulan sebelum hari H.

(Dan ternyata … proyek pekerjaan saya tersebut bisa selesai lebih cepat dari yang direncanakan sehingga kalau saya mau, sebetulnya saya bisa saja ikut mengajar saat hari H.  Namun saya tetap mengundurkan diri, karena program Kelas Inspirasi ini bukan “terminal” di mana orang bisa seenaknya saja keluar masuk sesuka hatinya)

.

Melihat pengalaman-pengalaman tersebut, kami para relawan selalu mempunyai back up plan jika ada relawan yang tiba-tiba mengundurkan diri.  Jadwal acara yang kami buat, kami sesuaikan sedemikian rupa agar fleksibel dan bisa menyiasati kondisi jika ada relawan yang mundur pada saat hari H.

Namun di atas itu semua, pelajarannya adalah …

Apapun yang kita lakukan, baik itu kegiatan profesional maupun kegiatan kesukarelawanan hendaknya kita semua mempunyai rencana yang baik.  Dan selalu siap dengan cadangan alternatif rencana lain jika situasi berubah.

Daaannn … komunikasi adalah kunci.   Jika anda berhalangan ikut suatu kegiatan, apalagi kegiatan yang melibatkan sekelompok orang … mbok ya o … kasih berita … kasih informasi.  Kalau bisa jauh-jauh hari sebelumnya,

Setuju?

Salam saya

.

.

.

 

KELUARGA CEMARA

Awal tahun 2019, saya berkesempatan untuk menonton film keluarga yang banyak dibicarakan orang ini.

Keluarga Cemara diangkat dari serial sinetron televisi ternama yang sempat booming beberapa tahun yang lalu.  Cerita ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto.  Sinetron tersebut banyak mencuri perhatian khalayak penonton karena kisahnya yang sangat membumi dan penuh petuah-petuah yang baik.

Seingat saya, karena sinetron ini disukai, masa penayangannya pun sangat lama dan bahkan sempat mengalami vakum lalu dilanjut kembali (mohon dikoreksi kalau saya salah ingat).  (dari sumber Wikipedia, sinetron ini mulai diproduksi 1996, dan berakhir 2005)

Pemeran “Emak” pun sempat mengalami pergantian beberapa kali.

Berangkat dari keberhasilan tersebut, sinetron ini lantas diangkat ke layar lebar, dan ditayangkan tahun 2019 ini.  Pemerannya tentu saja sudah berbeda.  Disutradarai oleh Yandi Laurens.  Saya tidak sadar tenyata pada tahun 2012 saya pernah menulis tentang karya sutradara ini.  Sebuah film pendek berjudul WAN AN yang memenangkan banyak penghargaan internasional.  Rupanya sutradara ini punya potensi untuk menjadi sutradara film yang baik.

Dan memang film Keluarga Cemara ini sangat baik untuk ditonton semua umur.

Ceritanya masih tentang sebuah keluarga kecil yang dulunya hidup di kota dan cukup berada, namun karena terkena kasus penipuan, keluarga ini harus menerima akibatnya.  Mendadak miskin.  Mereka mendadak tidak punya apa-apa dan harus pindah ke rumah sederhana yang ada di desa.  Bukan saja rumahnya yang sederhana, gaya hidup mereka pun harus disesuaikan.  Dari sinilah konflik demi konflik terbangun.  Ada banyak pelajaran-pelajaran berharga bisa kita dapatkan dari bagaimana mereka melewati konflik-konfilk tersebut secara bersama-sama.

Saya bukan ahlinya untuk menilai akting para aktor dan aktris yang bermain di film ini.  Ringgo Agus Rahman sebagai Abah, Nirina Zubir sebagai emak sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.  Mereka total memainkan peran masing-masing.

Di samping mereka, ada tiga pemeran lain yang mencuri perhatian saya (dan juga penonton)

1. Widuri Sasono
Berperan sebagai Ara … sentral dari film ini.  Widuri sebagai pemain cilik pendatang baru, banyak mendapat pujian dari para penonton.  Kebetulan saya mengikuti akun media sosial milik keluarga Widuri yaitu The Sasono’s Family.  Saya lihat ada banyak netizen yang memuji permainan Widuri di sana.  Widuri adalah anak ke dua pasangan artis Dwi Sasono dan Widi Mulia.  Mungkin darah seni dari kedua orang tuanya inilah yang mengalir deras ke Widuri.

2. Asri Welas
Asri Welas memang hanya pemeran pembantu.  Namun penampilannya selalu mencuri perhatian saya.  Dulu dia juga pernah tampil sukses kocak dalam film “Cek Toko Sebelah”.  Kini Asri mengulang kesuksesan tersebut, berperan sebagai Ceu Salmah sang “Loan Lady” (alias tukang kredit).  Asri bermain sangat menghibur dan menghayati perannya.  Ini yang membuat film ini tidak banjir air mata semata, namun sesekali dibumbui tawa pecah karena dialog dan aksi kocak dari Asri.

3. Adhisty Zara
Zara JKT48 sangat mencuri perhatian saya.  Zara berperan sebagai Euis, anak sulung Abah dan Emak.  Menurut saya akting Zara di film ini sangat luar biasa.  Dia berhasil memerankan seorang anak pra remaja usia SMP, yang sedang labil.  Tertimpa “Cultural Shock”.  Penuh konflik batin.  Galau antara ikut bergaya bersama teman-teman dancenya waktu di SMP kota yang gaul.  Lalu harus menyesuaikan diri dengan pergaulan teman baru anak-anak SMP Swasta sederhana di pinggiran Bogor.  Belum lagi dia harus manut apa kata orang tuanya.  Menekan rasa malunya untuk berjualan opak di sekolah, rela ulang tahunnya dilupakan, memotong rambut panjangnya dan sebagainya.  Seluruh konflik batin tersebut dilalap habis oleh Zara.  Zara bermain sangat natural.

Menurut saya … Zara lah bintang yang bersinar di film ini.

Semoga akan ada banyak film keluarga lain yang dibuat di negeri ini.

Aku cinta, Semua cinta … buatan Indonesiaaaa … (lho kok jadi nyanyi saya)

 

Salam saya

.

.

.

.

 

MILLY & MAMET

Ini bukan Cinta & Rangga.

Sudah lama (sekali) saya tidak menulis.  Saya awali tahun 2019 ini dengan mulai mencoba menulis kembali di blog.  Topik pertama yang saya pilih adalah tentang film Milly & Mamet.

Akhir Desember 2018 lalu, saya menonton film ini bersama si Bungsu saya yang sedang pulang ke rumah karena libur kuliah.  (FYI : Si Bungsu kini indekos di Depok, dekat kampusnya, UI)

Ini film yang sangat lucu.  Cocok untuk hiburan.  Jalan ceritanya sederhana, ringan namun sarat makna. 

(sumber https://www.klikstarvision.com/page/movie)

Ada banyak hal bisa dibahas dari film ini.  Namun saya memilih untuk berkomentar tentang beberapa pemeran (wanita) yang menurut saya unik dan menarik. 

Seperti biasa ada 3 (tiga) yang akan saya angkat

Yang pertama Isyana Saraswati.
Isyana berperan sebagai sekretaris bos penyandang dana, partner bisnisnya Mamet.  Isyana tampil mengagetkan saya.  Di balik wajah cantik, kalem, dan anggunnya, ternyata Isyana bisa juga berperan sebagai sekretaris yang naif, “ngeselin”, dan lucu.  Selain didukung oleh skenario yang menarik, akting Isyana di film ini pun cukup mencuri perhatian saya.

Yang kedua Dinda Kanyadewi
Dinda langganan memerankan peran tokoh antagonis.  Di film ini lain.  Dia berperan sebagai salah satu karyawan konveksi milik Ayah Milly.  Dinda di film ini juga berperan sangat kocak (cenderung “oon”).  Tak banyak dialog, tak banyak gerak tubuh.  Dinda hanya bermain mimik dan ekspresi wajah saja, yang entah mengapa terlihat lucu sekali bagi saya.

Yang ketiga Melly Goeslaw
Ini juga menarik dan kocak banget.  Melly Goeslaw berperan sebagai Mamah Itje.  Seorang Selebgram, followernya banyak.  Mamah Itje terkenal sebagai “endorser” makanan.  Selebgram ini diceritakan akan meng-endorse masakan katering sehat rumahan ala Chef Mamet dan Milly.  Yang bikin lucu itu adalah aksi orisinil cara mempromosikan masakan ala Mamah Itje.  Logat kental Sunda dan cara makan yang pakai tangan itu.  Sumpah … begitu lahap … lucu banget si Melly Goeslaw ini.

Bagi saya kehadiran ke tiga wanita ini menjadi sangat istimewa.  Mereka sangat kocak walaupun profesi mereka sehari-seharinya bukan komedian (seperti Arafah atau Aci Resti) 

Kekuatan skenario dan arahan peran dari sutradara Ernest Prakarsa berhasil menyulap wanita-wanita cantik dan anggun tersebut menjadi lucu pol-polan .  Ernest patut diacungi jempol

Saya senang bisa menonton film ini bersama si Bungsu.

Sangat menghibur

Salam saya

.

.

Note:
Dan jangan lupa … walaupun sebentar (nyaris cameo) di sini ada Dian Sastro dan Geng Cintanya (Adinia Wirasti – Titi Kamal)
Ada Tike Priatnakusumah, mbok emban banget perannya.
Ada juga Eva Celia dan Julie Estelle … seger.
Last but not least … Sissy Pricillia, pas banget memerankan emak-emak muda masa kini.

SCORE

Lebaran hari ke 3, 17 Juni 2018

Lama saya tidak menulis di blog ini.  Kali ini saya hanya ingin menulis singkat saja. 

Apa yang akan saya tulis?

Ya seperti biasa hal-hal remeh temeh.  Tentang kegiatan berbuka puasa saya di bulan Ramadan kemarin.

Di mana saja saya berbuka puasa?

28 kali di rumah

1 kali di luar rumah

Kesimpulan?
Saya itu orang rumahan,  Tidak suka berkeliaran di luar rumah.  Tak suka nongkrong sembarangan.

(halah bilang aja Om tidak ada kegiatan di luar rumah.)(ada sih … beberapa.  Termasuk salah satunya mengajar, itupun hanya setengah hari)

 

Bersama siapa saya berbuka puasa?

2 kali sendiri

27 kali bersama keluarga (baik sebagian maupun komplit)

0 kali bukber

Ya kemarin saya sama sekali tidak melakukan buka bersama di luar rumah.  Entah bersama teman, maupun relasi.  Sebetulnya ada beberapa kali undangan buka puasa bersama, yang diadakan oleh kawan sesama SMA maupun kawan-kawan yang lain.  Sekalian reuni katanya.  Namun entah mengapa semua undangan tersebut tidak saya datangi.  Entah karena lokasi yang jauh atau karena sebab-sebab yang lain.

teh

 

So jadi demikianlah …

Saya lebih banyak menghabiskan waktu berbuka puasa Ramadan saya di rumah saja 🙂

Saya tidak tau apakah ini baik atau tidak. 

Namun saya merasa tempat yang paling nyaman di dunia ini adalah di rumah …

Kegiatan berbuka puasa Anda bagaimana?

 

Salam saya

om-trainer1

.

 

 

SALAH DUGA

14 Januari 2018

Di hari Minggu pagi ini, kami menghadiri undangan pesta perkawinan salah seorang kerabat Bunda, di sebuah gedung besar di Timur Jakarta.

Karena ini kerabat dekat maka kami memutuskan untuk datang lebih awal dari waktu yang ditentukan, agar kami dapat mengikuti acara dari pertama, sekaligus Bunda bisa kangen-kangenan dengan keluarga besar yang jarang bertemu.  Acara perkawinan selalu menjadi ajang reuni keluarga yang membahagiakan bukan?

Untuk informasi pembaca, biasanya kami datang ke pesta perkawinan itu pas acara sudah mau selesai (hahaha).  Petugas katering sudah berbenah, sibuk bersih-bersih, makanan tinggal sisa-sisa, undangan sudah banyak yang pulang, sesi foto booth juga biasanya sudah habis kertasnya.

Namun kali ini lain, kami datang lima belas menit sebelum acara dimulai.  Pengantin belum datang.  Tamu yang datang pun relatif baru keluarga dekat saja.  Kami jadi lebih leluasa menikmati seluruh prosesi acara, Bunda pun senang sekali bisa silaturahim dengan keluarga besar.  Beberapa dari mereka ada yang datang dari luar kota.

Ketika mengikuti acara-acara tersebut sengaja saya merapat ke booth makanan yang menyediakan Sate Padang dan Dim Sum.  Tepat di sebelah kiri saya tersedia meja dessert kue coklat aneka rupa.  Beberapa langkah dari tempat saya berdiri, juga ada gubuk Bakso Malang.   Hhhhaaaa cerdas … Tempat berdiri yang strategis?  Anda tau maksud saya bukan?

Ya betul sekali … Supaya cepat dapat makanan.  Maklum belum sarapan tadi pagi.  Jadi nanti jika para tamu antri salaman ke pelaminan, saya akan makan duluan!  Semua mau saya cobain, sambil nunggu sepi orang yang salaman.

.

Acara dimulai dari iring-iringan pengantin datang, pengantin duduk di pelaminan,  tari-tarian penyambutan, ditutup dengan sambutan ucapan terima kasih wakil dari keluarga besar serta pembacaan doa.

Para tamu yang datang semua tertib mengikuti seluruh prosesi acara tersebut.  Satu per satu.  Tak ada satupun yang berani mengambil makanan yang tersedia.  Baik itu makanan prasmanan nasi. lauk dan kawan-kawan, maupun makanan jajanan dan minuman yang di sajikan di saung-gubuk-booth terpisah.  Tak ada yang menyentuh.  Semua khidmad menyimak acara.  Mungkin ada juga satu dua tamu yang mau makan, tetapi saya yakin petugas katering yang berjaga menolak mereka dengan halus.  Memohon pengertian tamu agar mengikuti acara formal terlebih dahulu sampai selesai berdoa, baru menyantap makanan.

Sepertinya ini instruksi dari wedding organizer/keluarga agar acara berlangsung dengan tertib.

Namun ada kejadian lucu … (sekaligus memalukan)

Ketika itu acara masih sambutan dari salah seorang perwakilan keluarga kedua mempelai, Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran tamu dan memohon maaf jika ada kekurangan di sana-sini dst dst dst …

Tiba-tiba ada seorang Bapak, sekitar 60 tahunan, berdandan rapi, baju celana hitam, plus Jas necis yang juga berwarna hitam, sepatu mengkilat.  Nyelonong … mendekat ke booth makanan yang ada di sana, seraya membuka tutup kukusan dim sum lalu berkata …

Ini apa ini?

Sudah siap?

Melihat pemandangan tersebut, spontan saya pun berkata (tepatnya menegur) …

“Maaf Pak, mari kita menghormati tuan rumah, Mohon tunggu sebentar biarkan mereka menyelesaikan acara resminya sampai pembacaan doa, baru kita santap hidangannya”

(Saya mengira Bapak ini kelaparan, tidak sabaran mau mengambil makanan)

Si Bapak berjas hitam necis itu pun serta-merta menoleh ke saya.  Dengan raut wajah yang tidak senang.  Lalu apa reaksi dia? Apa yang dia katakan selanjutnya?

Si Bapak necis berkata … (sedikit menghardik tak senang)

Saya tau!!!

Saya ini dari Katering!  Saya sedang memeriksa kesiapan tim saya!

 

Ups … ya maap … aku kan ndak tau … abis dandanan situ keren kayak tamu undangan siiiihhh …

Saya malu!  Salah menegur.  Salah duga. 

Lalu saya pun pura-pura sibuk menyimak pidato … Dan pelan-pelan mlipir ke booth makanan yang lain … (Supaya nanti tetap dapet antrian makanan yang pertama, ketika saat ramah-tamah tiba)

Anda pernah malu di pesta perkawinan?

Saya pernah!!! (hahaha)

Salam saya

om-trainer1