Posted in MY FAMILY, Si Bungsu, Si Sulung, Si Tengah

TOLERANSI


.

Saya bukan malaikat … Demikian juga anak-anak saya.
Ada banyak kelemahan kami sebagai manusia. 
Namun kali ini perkenankan saya sedikit bercerita mengenai tingkah anak-anak saya … Si Sulung, Si Tengah dan Si Bungsu.  Yang kemarin sempat saya perhatikan.

3 Oktober 2010.
Ya… seperti yang saya kemukakan di postingan sebelumnya … Si Sulung hari itu berulang tahun.  Tidak ada perayaan istimewa.  Biasanya kami hanya makan-makan bersama di sebuah resto atau rumah makan.

Nah …
Kebetulan … hari Minggu Siang itu … Bunda ada acara.  Menghadiri pertemuan rutin bersama teman-teman akrab sekantor di Bogor.  Ini tidak bisa dia tinggalkan karena ini hanya berlangsung sebulan sekali.  So rencananya dia nanti nyusul … langsung ke Resto sepulangnya dari acara tersebut.

Hari minggu itu pula … si Bungsu (10 tahun) sedang berpuasa.  Mengganti puasa Ramadhannya yang sempat bolong bulan puasa kemarin.  Karena waktu itu dia sakit.  Sengaja dipilih Hari Minggu, tentu saja karena hari itu hari libur, kegiatan sekolah tidak ada.  (Terus terang saja kami masih belum tega membiarkan dia berpuasa, pada hari-hari biasa).

Akhirnya acara makan-makan kami … disesuaikan Jamnya … yaitu kami makan-makan sengaja di paskan dengan Azan Magrib, agar si Bungsu sekalian bisa berbuka puasa di Resto tersebut.

So … Sore itu … Empat orang lelaki … runtang – runtung ke sebuah Resto Pizza yang terletak tidak jauh dari Rumah kami.  Kami sampai disana sekitar jam 17.30 …  Pesan makanan dan Minuman …

Tidak lama kemudian … Minuman datang …
Tetapi …  Subhan-ALLAH … si Sulung dan Si Tengah tidak menyentuh sama sekali Minuman tersebut …  Mereka hanya mengaduk-aduk sesekali minuman tersebut tanpa meminumnya.  Rupanya mereka menunggu sampai si Bungsu berbuka …
Baru beberapa menit kemudian … setelah terdengar Azan Maghrib … Mereka baru menyedot minuman masing-masing … tentu saja bersama si Bungsu … yang Alhamdulillah menuntaskan puasanya hari itu…

Tengah dan Bungsu (3 Oktober 2010. Jam 17.40)

Dalam hati saya terharu sekali dengan tingkah Toleran anak-anak ini …
Mereka sengaja menunggu Adiknya berbuka …

Ahhhh Guys …
Ayah salut pada sikap kalian …

Sekali lagi …
Kami, … Saya dan juga Anak-anak saya bukanlah malaikat …
Ada banyak kelemahan kami … sebagai manusia biasa …
Namun saya pikir tidak ada salahnya saya bercerita kejadian kecil yang baik ini …
Karena … saya pribadi … belajar dari kejadian sepele diatas …

Belajar tentang arti Toleransi …

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

47 thoughts on “TOLERANSI

  1. saya juga salut dng jagoan2 pak NH ini…

    **si ayah juga telah berlaku adil, klo kemarin menampilkan foto si sulung, kini giliran si tengah dan si bungsu🙂

  2. cerita singkat yang bisa diambil nilai yang bisa dibuat pembelajaran..
    hah, sungguh ada yang rasa yang berbeda dihati saya ketika membaca kalimat “Tetapi … Subhan-ALLAH … si Sulung dan Si Tengah tidak menyentuh sama sekali Minuman tersebut … Mereka hanya mengaduk-aduk sesekali minuman tersebut tanpa meminumnya. Rupanya mereka menunggu sampai si Bungsu berbuka …”

    betapa sikap toleransi yang dapat diajarkan mereka menampar saya yang kadang lupa akan makna sikap toleransi…

    salam kenal dari saya,

    Yayan

  3. Saya malah jadi malu baca tulisan Om, soalnya kalau pas pergi bersama teman, dan tanpa saya ketahui sebelumnya teman tersebut ternyata sedang puasa, dan saya sudah menghadapi makanan, saya tetap saja makan (hanya minta maaf dulu …😦 )

  4. Setuju dengan Nechan Imelda, anak-anak belajar dari meniru orangtuanya…🙂
    Salam saya untuk ketiga jagoan yang toleran itu Om…
    Kayaknya saya pengen kopdar sama mereka ah.. hahaha..

  5. Subhanallah..
    Semua bisa dimulai dari yg kecil dahulu, termasuk soal toleransi..
    Anak-anak Om hebat!
    Anak-anak yang hebat, Ayah dan Bundanya juga pasti orang2 yang hebat🙂
    Salam buat keluarga Om yah..

  6. salam buat si bungsu..
    lucu ya nyiak..gendut..dan kayanya cuma sibungsu aja yang gak mirip inyiak..
    mungkin mirip bunda ya.. (^_^)

    smoga toleransi ini terbawa sampai mereka besar…
    kta mama semua hal baik tentang keluarg dimulai dari orang tua dan si sulung..
    kalau orang tua dan sisulung selalu mencontohkan kebaikan..
    pasti adek2 nya bakal ngikut dari belakang..
    karena mereka bakal malu hati sendiri, kalau berkelakuan jelek sedangkan kakaknya baik.🙂

    tiga2nya suka berantem gak..
    kalo aku mah hobi berantem…🙂🙂
    tapi 5 menit kemudian baikan lagi.

  7. Konon, katanya…
    Anak yang baik itu karena Orang tua mendidiknya dengan baik…

    dan saya salut untuk mereka bertiga.. juga ayah dan bundanya…

    btw, si tengah benar2 duplikat Om Nang.. dan ganteng2 semua..

    salam saya untuk ketiga jagoan hebat dan juga Bundanya.. ya Om..

  8. Harusnya minta tolong pelayannya untuk memfoto empat orang laki-laki yang lontang-lantung ituh, Om! huh! Si om ini bagaimana!

    Selamat ulang tahun ya Sulung, ulang tahunmu cuma selisih dua hari sama Tangguh🙂

  9. Om,
    Anak-anak begitu karena mendapat didikan yang berarti dari orang tuanya.
    Syukurlah rasa toleransi itu ada, karena kalau sudah mampu bertoleransi dengan keluarganya, dia akan bisa belajar toleransi lebih besar lagi terhadap orang lain.

    Ya gak Om. Itu menurut pendapat saya sih…🙂

  10. Bagaimana dengap bapaknya? Rasanya tak perlu dipertanyakan lagi, bukankah toleransi anak-anak adalah bukti nyata dari didikan kedua orang tuanya. Alhamdulillah, semoga kita bisa mencontoh hal baik ini. Insya Allah.

  11. Kadang saya juga sering mengamati tingkah pola anak kecil di sekitar tempat tinggalku. Rasa toleran nya kadang mengalahkan orang dewasa.💡
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  12. Hal2 seperti itu jika menjadi sikap yang konsisten akan sangat bagus ya oom.

    Saya akan memberikan contoh kurangnya toleransi.
    Dalam perjalanan dari Mina, Ipung dan seorang wanita se regu, berdiri dalam bus karena memang bus penuh. Laki-laki gagah perkasa tampak tak terpengaruh ada dua orang wanita (sudah bercucu) tak mendapatkan tempat duduk dalam bus, mereka tetap menikmati kursi empuk bus. Sementara saya duduk lesehan dekat pintu bus karena juga gak kebagian kursi. Dibelakang saya, duduklah komendan regu, duduk di kursi empuk.

    Karena dalam manasik selalu ditekankan agar calhaj sabar, maka kami bertiga sabar tak dapat kursi. Mereka yang gagah perkasa tampaknya juga sabar karena tak tergoda untuk memberikan kursi empuknya kepada dua nenek yg berdiri disebelahnya. Saya sih serdadu, sudah biasa ngesot.

    Mungkin dalam manasik perlu juga diberitahukan tentang toleransi ya Oom.

    Salam hangat dari Surabaya

  13. Subhanalllah, pengertian sekali kakak2 nya sama adik bungsunya. Ini pasti tak terlepas dari didikan Ayah bundanya. Btw, anak Pak NH ganteng2 nih? Mau besanan sama saya gak Pak ahahahah😀

  14. Om, saya jadi pengen punya anak laki🙂

    Itu ganteng2 yah anaknya🙂

    Subhanallah, membaca cerita ini sungguh luar biasa. Tapi saya yakin itu semua berkat ajaran dari orang tuanya. Salut untuk Om & Bunda🙂

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s