Diposkan pada PERASAANKU HARI INI, RENUNGAN

PERSAINGAN USAHA


.

 

Minggu Malam, 28 Desember 2008. Jam 19.30. Di Bandara Cengkareng …

Trainer sedang menunggu istrinya, yang dijadwalkan akan mendarat di Jakarta jam 20.00.  Istriku sudah 3 hari ini ke Padang Sumatera Barat, untuk menghadiri pernikahan salah satu keponakan dekat kami.  Tapi rupanya penerbangan terlambat … diperkirakan pesawat baru landing di Jakarta jam 20.30.  MMM… OK lah … Aku menunggu saja di pelataran terminal kedatangan …  Sambil menunggu, naluri ”Meticulously Observantku” muncul.  Mengamati dan memperhatikan kejadian atau situasi disekitarku …

 

Aku memperhatikan sederetan taksi-taksi yang menunggu di terminal.  Mereka berbanjar rapi … parkir berdasarkan perusahaan-perusahaan taksinya … di lot masing-masing.  Penumpang bebas memilih perusahaan taksi mana yang akan dipilih …

 

Para sopir … beberapa ada yang dibantu dengan ground staff / greeting staf … bersaing merayu para penumpang yang celingukan mencari kendaraan.  Mereka berdiri di samping taksi nya masing-masing …

 

Ada seorang bapak tua … membungkuk-bungkuk sopan mencoba menarik perhatian penumpang … namun lama sekali bapak itu tidak mendapatkan penumpang …  Bapak ini berasal dari perusahaan Taksi yang berwarna ”Putih” … Penumpang seolah tidak mengacuhkan keberadaan Bapak tua itu …

 

Apa pasal …??

Para penumpang rupanya lebih tertarik memilih perusahaan ”Taksi berwarna Biru” yang parkir di sebelahnya … Ya … ini dari suatu perusahaan Taksi yang sangat terkenal, terpercaya dan banyak direkomendasi orang itu … baik penumpang domestik maupun manca negara …  Aku lihat perusahaan taksi ini terus menerus mendapatkan penumpang … mengalir lancar … laris manis … bahkan banyak penumpang yang rela antri panjang untuk mendapatkan armada kendaraan Taksi Biru itu yang berikutnya …

 

Sementara Bapak Sopir taksi berwarna putih … sampai berbusa-busa menawarkan jasanya … mengacungkan kunci mobilnya … masih belum juga mendapatkan penumpang … 

 

45 menit kemudian … Istriku keluar dari terminal kedatangan … dan kami pun bergegas ke Lapangan Parkir … tempat mobilku di parkir.

 

Aku masih sempat melihat … Bapak Taksi putih itu masih juga berdiri disana … tak lelah membungkuk-bungkuk sopan menawarkan Taksinya pada para penumpang yang ramai berdatangan malam itu.

Dan untuk kesekian kalinya … dia hanya bisa tertegun … memandang antrian panjang penumpang di gerai Taksi Biru di sebelahnya … tanpa mempedulikan dirinya …

 

Hah … persaingan usaha memang kadang kejam …

Penumpang memang berhak memilih … perusahaan Taksi mana yang akan dia naiki …

Dan ternyata pilihan penumpang bukan kepada Taksi putih yang dikendarai Bapak itu.

 

Semoga saja Bapak Taksi Putih itu bisa mendapatkan penumpang malam ini … dan tujuannya pun mudah-mudahan juga jauh … ke Depok atau ke Bogor misalnya … !!!

(Supaya Bapak itu bisa sedikit tersenyum bahagia malam ini …)

.

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

14 tanggapan untuk “PERSAINGAN USAHA

  1. hmmm… saya sih ngga pernah perhatikan besar-kecilnya suatu usaha. Malah kalau bisa pake yang “minority” instead of “majority”…apalagi kalau si bapak tua itu masuk dalam pandangan mata saya. Sayang orang kayak saya juga “minority” mungkin yah…hehehe.

    BTW di Jepang, sebutan Taksi Putih (Shirotaku) adalah untuk taksi gelap tanpa argo.

    Selamat Tahun Baru Hijriah…
    juga selamat menghadapi tahun 2009 dengan penuh semangat.

    tabik
    EM

  2. amien Om bwt doa na..

    mungkin penumpang na cari aman kali ya..
    jadi karena reputasi taksi biru lbh baek jd ya lbh laku..
    *sok tau.com

    gmn kalo Om usulin.. bkn penumpang yg pindah ke taksi putih..
    usulin.. bpk tua ntu pindah nyopir di taksi biru 😀
    *oon mode : ON

  3. Hay om..

    Kalau taksi warna putih yang om bicarakan ini ber inisial depan E dan belakang S….Yessy suka tuhh…high recommended…masuk tarif bawah, supirnya ramah, dan gak neko neko seperti supir lain selain taksi biru itu hehehehe

    Apa kabar om 🙂

  4. amien..doa yg indah nan tulus om…

    dl wkt di jkt…gmn ya om tau ndirikan gmn ganasnya kriminalitas di jkt…dan akupun termasuk orang yg ga mau jg kena imbasnya

    berhubung taksi biru ini emang bagus bgt reputasinya…2th aku jd pelanggan taksi ini..alhamdulillah lancar ga kena mslh…jadi yaa gmn yaa

    emang sulit ya om yg namanya membangun kembali reputasi…kali dulu2nya ada oknum dr taksi putih yg bikin reputasi jd jelek…mknya orangpun enggan pake

  5. kan semua itu awalnya dari nama baik Om.. dari situ tumbuh kepercayaan.

    lah biarpun *mungkin* bapak tua itu supir yang baik, tapi perusahaannya sudah punya nama jelek.. agak susah juga jadi.

    kalo kita ga percaya, mana mungkin kita akan merasa aman.

    intinya bukan salahnya bapak tua itu, tapi manajemen perusahaannya ya yang mestinya berbenah memberikan pelayanan yang baik…

    *mendambakan moda transportasi yang nyaman, aman dan tepat waku*
    😀

  6. Mudah-mudahan, tapi, kenapa Bapak taksi putih tak pindah ke taksi biru? Hmm jika, benar taksi putih yang dimaksud ExxxS, bisa jadi Bapak tersebut pemilik mobil taksi yang belum selesai kreditnya, jadi tak bisa pindah perusahaan seenaknya.

    Memang biasanya di CKG, taksi ExxxS letaknya di sebelah taksi Biru, tapi taksi ExxxS juga sama-sama laku, malah armadanya dikit. Mungkin yang dimaksud bukan taksi ExxxS, ya Pak, tentunya taksi yang kredibilitasnya diragukan.

    Selamat tahun baru 1430H dan 2009, semoga sukses selalu untuk Pak NH18 sekeluarga.

  7. kasihan Bapak taksi putih itu
    bener, persaingan usaha memang kejam
    tapi….persaingan usaha
    seharusnya tetap tak
    mengabaikan nilai-nilai
    sosial dan kemanusiaan
    inspiring bro….

  8. Kasihan sekali…kehidupan kota besar.memang serba sulit,perjuangan dan juga keras.
    Itulah susahnya Indonesia….pemain usaha pada bidang yang sama sangat banyak, sedangkan konsumen terbatas..terbatas uangnya,terbatas jumlahnya…

  9. Halo pak Trainer, salam kenal.

    Saya trenyuh baca postingan ini. Hidup memang penuh perjuangan ya. Kesian pak supir taksi, tapi situasinya berhubungan dengan kepercayaan dan pilihan pelanggan sih ya. Susah juga…

    Amin untuk doanya.

  10. Tahu kelemahan si minority yang musti dibenahi?
    1. harus tahu target market
    2. segera cari ladang lain, sesuai dengan segmentasinya
    3. cari tempat yang benar
    4. rubah taksinya jadi warna biru (ini mustinya urutan nomor wahid)

  11. Saya sering berbicara dengan taksi biru setiap pulang dari bandara itu.

    Kebanyakan mereka mengeluh karena diperlakukan tidak adil. Meskipun antrian penumpang sudah panjang dan taksi biru sudah standby banyak, managememt AP hanya mengijinkan X taksi yang boleh masuk setiap Y menit.

    Tujuannya agar yang penumpang yang antri capek terus pindah ke taksi lain dan semua kebagian. Umumnya beberapa pembicaraan saya dengan supir taksi biru itu, mereka kecewa karena penumpang mereka yang dirugikan dan kesannya taksi biru ga becus ngatur armadanya. Sering mereka dimarahin karena penumpang terlalu lama menunggu.

    Kadang maksud hati ingin menolong seseorang, tapi justru secara ga langsung malah merugikan pihak yang lain 😀

  12. Sambil menunggu, naluri ”Meticulously Observantku” muncul. Mengamati dan memperhatikan kejadian atau situasi disekitarku …

    Sejak punya blog, naluri ini seperti tersalurkan ya Pak… saya pun demikian..
    Dan saya juga suka trenyuh jika ada pemandangan seperti bapak tua tadi

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s