Posted in GUEST WRITER, RENUNGAN

karsini # 19 : BUKAN MERAYAKAN, TAPI MEMPERINGATI


.

Karsini masih berlanjut sodara-sodara … mudah-mudahan belum bosan …

Sekarang sudah sampai karsini #19

Simak tulisan berikut … dan tebak siapa penulisnya …  (saya rasa ini akan mudah … !!!)
(so … moderasi mode-on !!!)

 

————–

 

Bukan Merayakan, Tapi Memperingati

 

“Bunda…Bunda! Di depan mushola aku lihat ada tenda, memangnya ada yang mau hajatan, Bunda?” tanya Ade yang baru pulang dari sekolah.

“O…itu bukan tenda untuk hajatan, Sayang! Tapi untuk pengajian nanti malam.” jawab Bunda yang sedang menyiangi tanaman hias di halaman.

“O, iya. Ade lupa! Nanti malam kan kita akan merayakan hari kelahiran nabi Muhammad saw. Benar kan, Bunda?”

“Bukan merayakan, tapi memperingati.” Bunda mengoreksi.

“Apa bedanya, Bunda?”

“Ya jelas beda, Sayang. Dalam Islam hanya ada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Di luar itu tidak ada lagi perayaan. Yang ada peringatan, seperti maulid nabi dan isro mi’roj.” Bunda yang sudah selesai  menyiangi tanaman menghampiri bungsunya yang duduk di teras, melepas sepatu.

 “Pengajian nanti malam diadakan bukan untuk merayakan hari kelahiran nabi, karena hal ini tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh nabi. Yang kita lakukan adalah mengadakan pengajian umum dengan menjadikan kelahiran nabi sabagai tema dan topik pembicaraan. Meski secara khusus hal ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tapi tidak ada salahnya jika kita menjadikan momen bersejarah ini untuk mengadakan satu kegiatan yang bermanfaat, dan tentu saja bernilai ibadah. Memperingati bertujuan agar kita ingat. Ingat akan sesuatu yang penting, terlebih sejarah nabi Muhammad saw yang kita cintai. Aneh bila kita mengaku cinta nabi, tapi sejarah hidup beliau, mulai dari lahir hingga wafat, kita tak tahu. Profil selebritis saja banyak yang hafal, masa nabi sendiri malah tidak tahu atau justru tidak mau tahu. Astaghfirulloh!” panjang lebar Bunda menjelaskan.

“Nanti malam kita datang ke pengajian di mushola kan, Bunda?”

“Insya Allah. Ayah dan Kakak juga.”

“Aku nda bisa, Bunda. Ada banyak PR yang harus secepatnya dikumpulkan.” Merasa dirinya disebut-sebut, Kakak yang sedang asyik membaca buletin olah raga, spontan menyela.

“Kakak…sekarang baru jam tiga, masih banyak waktu untuk menyelesaikan PR mu. Kerjakan sekarang, biar nanti malam kita bisa sama-sama datang ke pangajian!”

“Nanti malam aku juga harus belajar, Bunda” Kakak kembali beralasan.

“Seingat Bunda kamu tidak pernah belajar kalau malam Minggu.  Khusus di malam Minggu, Ayah selalu membebaskan kalian untuk istirahat dari kegiatan belajar. Jangan cari-cari alasan lagi!”

Mendengar Kakak dimarahi Bunda, Ade cekikikan. Menjulurkan lidah ke arah Kakak lalu sembunyi di balik Bunda. Dalam situasi lain, Kakak pasti akan mengejar Ade dan mengitik-itik pinggangnya sampai teriak minta ampun, kegelian. Tapi kali ini Kakak hanya bisa geram, bahkan sekedar melototpun ia tak berani. Otaknya kembali bekerja, sibuk mencari-cari alasan.

“Kita hanya mau mendengarkan pengajian kan, Bunda? Kalau begitu aku ndengerin dari rumah saja. Rumah kita kan dekat, tak lebih dari seratus meter, pasti kedengeran. Malah enakan di rumah, bisa sambil tiduran dan nonton tv. Ups!” Kakak keceplosan. Buru-buru ia menutup mulutnya, berharap Bunda tidak mendengar alasan terakhirnya. Sayangnya Bunda sangat jelas mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.

Ade kembali cekikikan, menertawakan alasan Kakak yang justru membuat Bunda melotot. Kakak tersenyum kecut, menyesali kepolosan keceplosannya.

“Kakak ini bagaimana, masa ikut pengajian sambil tiduran, malah nonton tivi segala. Suara pengajian memang bakal sampai ke rumah ini, tapi jika kita hanya mendengarkan dari rumah, kita akan melewatkan banyak kesempatan, kehilangan banyak keuntungan.”

Ade berhenti cekikikan, menatap Bunda, menunggu penjelasan.

Pertama, setiap langkah menuju majelis ilmu dan pengajian akan dihitung sebagai ibadah, dibalas dengan satu pahala kebaikan, dihapus satu keburukan. Kedua, dengan mendatangi majelis ilmu dan pengajian, kita dapat bersilaturahim dengan saudara dan tetangga kita. Kesibukan sehari-hari sering menjadi kendala untuk saling mengunjungi. Di majelis inilah saat dan tempat yang tepat untuk bersilaturahim. Ketiga, selama kita duduk di majelis ilmu dan pengajian, malaikat akan mendoakan dan Allah akan merahmati kita. Keempat, dengan mengikuti majelis ilmu dan pengajian, rejeki kita akan bertambah. Kalian bisa lihat kan, banyak makanan yang dihidangkan untuk para jamaah yang datang? Tentu saja ini jangan dijadikan tujuan utama. Tapi yang jelas keberkahan rejeki akan lebih terasa jika dinikmati bersama-sama. Dan masih banyak keuntungan serta keutamaan lainnya. Masihkah Kakak akan melewatkan kesempatan berharga ini?”

“Iya deh, Bunda. Insya Allah nanti Kakak ikut.” akhirnya Kakak nyerah. Bukan nyerah, lebih Kakak sadar bahwa apa yang Bunda jelaskan adalah benar.

“Yes!” Ade berteriak girang.

“Nah, begitu dong! Ayah dan Bunda tidak mau anak-anak Bunda kelak terpisah dari kami di surga.” Bunda tersenyum, mengemasi gunting dan sapu untuk disimpan kembali di gudang.

Masih agak kesal, Kakak hanya mengangguk menanggapi Ade yang langsung rusuh, sibuk mengajak Kakak pakai sarung dan baju koko kembar, lupa bahwa badan Kakak tak lagi sekecil tahun lalu. Bila dilihat dari fisiknya, Kakak dan Ayah terlihat seperti saudara, adik kakak.

———————-

 

KARYA SIAPA INI ???

.

STOP PRESS
Saatnya membuka jati diri penulis tamu
Ini cerita berhikmah
Tidak salah lagi … Ini karya khas MUHAMMAD NURUDIN 
Alias
ABI SABILA
(a.k.a Ayahnya Sabila)
Blogger yang satu ini cukup aktif menulis
Beberapa karya pendeknya telah berhasil di bukukan

Tinggal dan bekerja di Jabodetabek
Abi Punya beberapa blog.
Salah satunya ada disini : MENULIS KISAH MEMBAWA HIKMAH

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

56 thoughts on “karsini # 19 : BUKAN MERAYAKAN, TAPI MEMPERINGATI

    1. Satu hal yang khas dari Abi Sabila adalah menuliskan kata “tidak” dengan “nda”.
      Di sini terlihat dengan kelas kata itu termaktub dalam salah satu paragrafnya..
      So, tidak syak lagi, ini adalah karya Abi Sabila…🙂

        1. tagline Abi Sabila itu adalah kisah berhikmah. dan beliau seringkali membuat sebuah cerita fiksi yang sesungguhnya terinspirasi dari kejadian nyata. dari cerita itulah kemudian kita bisa mendapatkan hikmahnya. kisah di atas sesungguhnya adalah fiksi, dan itu salah satu style abi sabila..

          demikian penjelasan singkat dari humas abisabila.com, hahaha…😀

          1. Terima kasih Mbak Yustha dan Uda Vizon yang sudah berkenan menjadi humas abisabila.com🙂.

            Untuk Teh Nchie, seperti yang mereka berdua sampaikan bahwa kisah ini memang fiktif belaka, termasuk tokoh dan dialognya, namun terinspirasi dari kejadian nyata.

  1. Sependek pengetahuan saya, ada dua orang blogger yang memiliki kekhasan bahasan tentang keislaman, yakni Didot Halim dan Atmakusumah. Kira-kira ini karya Didot apa Atma ya? Hmm… Ini harus diselidiki…🙂

    1. Tapi, melihat dari caranya bercerita dengan menggunakan kalimat-kalimat dialogis, sepertinya ini karya Mas Atma… Benarkah ini karya beliau? Wah, jadi kangen nih berkunjung ke sana, sudah lama tidak bersilaturrahmi..🙂

  2. Terlepas dari soal Karsini, tulisan kali ini memang momennya sangat pas…
    Terima kasih kepada sang penulis, sudah mengingatkan kita akan hari kelahiran salah seorang tokoh penting dalam peradaban dunia, Nabi Muhammad SAW.
    Semoga teladan hidup yang beliau tinggalkan, dapat menjadi inspirasi besar dalam hidup kita, Amin…
    Selamat ulangtahun, Nabiku…🙂

  3. Aku belum kenal dgn Bundanya dua jagoan kecil ini.. Tapi tulisannya bermanfaat banget buat aku pribadi… Momennya pas pula.. (Ngebayangin Mama Pascal? Tapi panggilnya kan Mama bukan Bunda ya)
    Well, salam kenal ya Bunda.. ^_^

  4. eh anaknya dua? klo mba Devi anaknya kan 3? Hmm ….

    mba Susi tuh anaknya 2, tapi gaya tulisannya beda.
    Rasanya yang saya kenal punya anak cowo 2 ya cuma Mama Calvin, mba Susi… siapa lagi ya? Hmm ….

  5. setuju banget sama nique…baru baca paragraf pertama saya jadi teringat mbak devi. Meskipun akhir2 ini jarang mampir…tapi gaya bahasanya sama dengan aslinya…..

  6. Saya juga belum kenal dengan si bunda, maklum pertama kali mampir ke blog ini :”) tapi suka banget dengan jawaban-jawaban beliau. sungguh mendidik. semoga saya bisa mengajarkan hal yang sama kepada anak-anak kelak.. aamiin..

  7. i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa…
    Ingin barang bekas Anda lebih bermanfaat?
    Mari beramal bersama kami, dalam program HA Peduli
    Kirimkan barang bekas Anda yang masih layak pakai/ layak guna ke kantor Hajarabis.com di
    Jalan Letjen. Sutoyo 109-111 Malang.
    Keterangan lebih lanjut, hubungi kami di link website http://hapeduli.hajarabis.com/ atau di line telepon (0341) – 8441777

  8. hihi…klo saya mah kuper..jadi blom kenal banget ciri2 tulisan rekan lain…terlepas dari itu, posting ini menjadi pengingat dan banyak hikmah yg bisa diambil dari tulisan singkat ini..

  9. Saatnya membuka jati diri penulis tamu
    Ini cerita berhikmah
    Tidak salah lagi … Ini karya khas MUHAMMAD NURUDIN
    Alias ABI SABILA
    (a.k.a Ayahnya Sabila)
    Blogger yang satu ini cukup aktif menulis
    Beberapa karya pendeknya telah berhasil di bukukan
    Tinggal dan bekerja di Jabodetabek
    Abi Punya beberapa blog …
    bertajuk … MENULIS KISAH MEMBAWA HIKMAH

  10. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Om Nh atas kesempatan yang telah diberikan. Semoga hasil belajar menulis saya ini bisa memberikan manfaat, sekecil apapun dan sesederhana apapun. Amin, insya Allah.

    Kepada para sahabat, mohon maaf apabila ada kekhilafan baik dalam pemilihan kata, penggunaan bahasa atau apapun terkait tulisan di atas. Mohon maaf juga jika komentar yang saya tinggalkan ‘mengecoh’ sahabat🙂 . Untuk mbak Yustha, Uda VIzon dan juga mbak Lidya, selamat! tebakan kalian tepat!

    Seperti yang sudah disampaikan oleh humas abisabila.com ( Uda Vizon, hehehehe ) bahwa seringkali saya membuat sebuah cerita fiksi yang sesungguhnya terinspirasi dari kejadian nyata dengan harapan bisa sama-sama kita ambil hikmah dan pelajaran darinya. Termasuk postingan ini, baik tokoh maupun dialog di dalamnya adalah fiktif belaka namun demikian saya berharap ada hikmah dan manfaat yang bisa dirasakan dan diterapkan di dunia nyata.

    Sekali lagi, terima kasih untuk Om Nh dan sahabat semua. Terakhir, jika Om tidak keberatan, ijinkan tulisan ini saya share juga di beberapa situs yang berkenan menampung hasil belajar menulis saya.

    1. Silahkan Abi …
      Itu karya orisinil Abi …
      Abi adalah satu-satunya orang yang berhak untuk mengirim, mensharing atau menerbitkan tulisan tersebut, sebagaimana diinginkan.

      Dan saya rasa … tulisan tersebut insyaALLAH akan bisa dipetik hikmahnya oleh khalayak pembaca

      Salam saya Abi …

  11. Assalamu’alaikum…

    Salam sungkem dan salam kenal, pak Dhe. Ini saya manggilnya apa, yah? pak Dhe apa, Om? hehehe…

    Pendatang baru di sini… Membaca kalimat pembuka di atas juga kalimat2 selanjutnya, terasa sekali itu tulisan Abi Sabila. Setelah melihat ke bawah, memang benar adanya🙂

  12. Habis baca langsung nebak Abi Sabila, liat kunci jawaban eh bener🙂

    Saya juga sering mampir ke tempat Abi karena tulisannya selalu memberi pencerahan. Penuh tausyiah tapi tidak bergaya menggurui🙂

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s