Diposkan pada ARTIKEL

MANNERS


.

Manners adalah tata cara berperilaku … sopan santun … unggah-ungguh … saling menghargai.

Saya ingin bercerita mengenai beberapa kejadian yang saya temui akhir-akhir ini. 

Ya … ini gara-gara fenomena gadget “Talipong Bimbit Pipih Lebar” itu …

Manners – kelakuan sementara orang menjadi … agak sedikit ”aneh” bin ”ajaib”

 

Situasi Pertama.

Trainer naik lift … Dari lantai 19 … ingin turun menuju ke lantai dasar. 

Sampai di lantai 11 … “Ting” … Pintu terbuka … Rupanya ada yang ingin naik lift juga di lantai ini …  Tentu Trainer segera beringsut agak geser ke samping … memberikan kesempatan kepada calon penumpang itu untuk masuk secara leluasa ke dalam lift.

 

Namun apa mau dikata … sang calon penumpang yang terhormat itu …

Tetap Sibuk menunduk … uplek petitat petitut pencat-pencet tombol ”Talipong Bimbit pipih lebar” kebanggaannya itu … tidak menghiraukan kita para penumpang di Lift yang jamuran menunggu dia sambil menekan tombol agar pintu tetap terbuka (… supaya dia tidak terjepit pintu lift yang bisa menutup otomatis jika kelamaan berhenti seperti itu …)

 

Dia berjalan lambat sekali, tanpa rasa bersalah masuk ke lift … (macam penganten sunat saja layaknya …).  (Padahal kita semua sedang menunggu dia … ).  Matanya tetap norak terpusat pada alat komunikasi masa kininya itu.

Sesampainya di dalam lift pun … wajahnya tak bergeming sama sekali dari gadgetnya … tidak menoleh … tidak pula berkata terima kasih atau sekedar tersenyum pada kita yang telah sabar dengan penuh kerelaan menunggu masuknya dia …  Dia tetap uplek sampai Lift menyentuh lantai dasar … (HAH)

 

Situasi Kedua …

Dipintu masuk lobby Lantai 19 kantor ku …

Trainer sedang berjalan keluar ingin ke departemen lain di lantai 17 …

Pas sampai dipintu kaca itu … Trainer berpapasan dengan seorang Tamu yang ingin masuk ke lobby kantor kami … dandanannya perlente sangat … and yes … kedua belah tangannya sedang sibuk pencat pencet ”Talipong Bimbit Pipih Lebar” (yang kali ini berkondom warna kuning).

Saya sebagai tuan rumah yang baik … tentu membukakan pintu … mempersilahkan sang Tamu untuk memasuki areal lobby kantorku telebih dahulu … (sebagaimana layaknya manners yang berlaku, sebagai wujud penghormatan pada tamu yang datang …)

 

Namun Opo Tumon … dia tanpa rasa bersalah … tetap menunduk uplek mecucu … sibuk pencat pencet … berjalan sangat perlahan (yup … tetap penganten sunat mode.on) … melewati pintu yang sudah saya bukakan itu … tanpa menoleh … untuk sekedar mengucapkan Terima kasih … atau paling tidak mengangguk … senyum persahabatan … sebagaimana layaknya manners jika bertamu ditempat orang … Pikirannya entah sedang terbang kemana … mulutnya nganga satu senti sambil melototi mainan gadgetnya …
 

Trainer tetap memegang handel pintu … menunggu sampai dia sepenuhnya masuk ke dalam areal lobby kantor kami … (Trainer dianggap Door Man rupanya …)(Aaarrgghhh sekuat tenaga trainer menahan rasa)

 

Jadi begitulah …

Fenomena Talipong Bimbit Pipih Lebar (dan berkondom warna-warni) itu … 

Telah membuat MANNERS sebagian penggunanya … Menjadi Jongkok …

Tak peduli dengan situasi sekitarnya

Tak peduli dengan perasaan orang disekitarnya …

 

Apa para pembaca punya pengalaman serupa ?

Atau mungkin malah tak sadar pernah berperilaku seperti itu ?

(Orang ndak sadar mana mungkin inget ..??.)(Trainer ini gimana sih ..???.)  🙂

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

27 tanggapan untuk “MANNERS

  1. Panjaitan???
    Aku nggak ngerti maksudnya…
    Ketemu penghobi bimbit seperti ini banyak sekali bos…
    Tapi belum ada yang spesial seperti dalam cerita Bos…
    Nanti kalau ada kuceritain deh…

    To Abang …
    Ini mengenai si Adal om …
    Eka itu memberi marga si Adal dengan panjaitan …
    ini gara-gara tangannya nempel mulu ke gadget pipih itu …
    seakan terjahit disana …
    hahaha

    1. Benar juga sih, tapi kalau pada kenyataan seperti di Tokyo ini, dunia nyatanya ramai tapi individualis sekali, maka “keramaian” hanya bisa dicari di dunia maya atau dunia rohani. Kalau di Indonesia, seharusnya jangan. Orang Indonesia yang bunuh diri di Tokyo aja udah berapa tuh hiks….

      EM

    1. dear Zico …
      Iya nih …
      tapi aku udah janji nggak mau pake kata itu
      lagi …
      aku lebih suka pake kata …”uplek”
      (untuk menggambarkan perilaku aneh itu …)(hehehehe)

      1. iya mas, aq juga setuju untuk ga pake kata “autis”, orang-orang autis adalah orang2 yg diberi keistimewaan dan keterbatasan khusus sehingga mereka pun punya cara khusus untuk menjalani hidupnya.termasuk bagaimana cara mereka berinteraksi dgn orang lain.

        sedangkan orang-orang yg uplek itu berbeda.mereka diberi kemampuan normal dalam berinteraksi, nah klo kira2 yg uplek ini ingin “menyamakan diri” dgn orang autis itu namanya ga bersyukur. pdahal mreka -mungkin jg kita- diberi kemampuan sempurna untuk berinteraksi jauh lbh baik.

  2. situasi satu
    JITAKKKK!!!!!
    situasi dua
    GAMPAR!!!!
    Dalam khayalan..

    to Bu Guru Alifia
    Setujuh …
    Setujuh …
    Uuuuyyeeeaaahhh !!!
    (dzig…plak…jeder …)

  3. Banyak yang terhipnotis sama barang itu. semakin hingar bingar, semakin heboh orang pakai, semakin aku nggak mau beli sendiri. dikasih sih mau..*huuuu…..

    Waktu temen2ku ber-talipong bimbit begitu, aku nggak pernah ngiler pengen punya juga tuh…

    to Nana …
    Betul sangat Na …
    Sama saya juga begitu …
    Mau tau benda yang saya idamkan saat ini ?
    Kamera SLR sodara-sodara
    (lha malah curcol …)

  4. wakakakaka untung gak punya yang begituan om…

    btw btw…waktu om Trainer bukain pintu, dirimu gak berseragam kan? huehehehehehehe 😀
    *ampun om…maaf lahir batin ya ;)*

    to Ria …
    Iyaaaa …
    Saya berseragam !
    Lha wong tiap hari aku berseragam jeh …
    Poasss ???

    ggrrrhhhh …

  5. pasti sebel banget ya, om?
    bukan salah sang gadget sih. tapi the man behind the gun, ternyata mereka belum siap punya piranti. jadi biarpun cuman dipersenjatai hape jadul, teteup kalau manner cetek, ya begitu itulah. hehe…

    to Uni Melo
    Tentu Sebel sangat Uni …
    Betul kata Uni …
    Ini bukan masalah gadget …
    ini masalah the man/woman behind the gadget …
    Salam saya

  6. ahaha.. jadi inget sama iklan di tipi..

    tapi untung ga bawa beban berat buat nunggu orang yang ga tau adat! 😛

    to Kang Billy …
    YESS !!!
    Bener banget Kang …
    Persis seperti yang di gambarkan di iklan itu …
    persis banget …
    dan memang itu kejadian nyata …

  7. mau coba carih telepong bimbit pipih lebar dengan kondom kuning dan eh super tipis … ada gak yah .. kan lebih terasa .. hihihi
    (wah wah Om.. penamaan obyeknya itu lho.. bener bener heboh)

  8. talipong bimbit… sekarang udah berganti gelarnya jadi talipong sejuta umat… saya gak pernah kpingin punya tuh. saya mah lagi kepingin saxophone… *ikutan curcol*

  9. talipong bimbit pipih lebar. turun pangkat banget judul si blackberry yang satu ini. neng juga suka kesel nih om, kalo pas lagi jalan di jalanan ato jembatan sempit gitu, orang yang pencat pencet si bimbit itu nunduk aja. mau kita tabrak, kok ya tega banget. tapi dianya juga gak peduli sama jalanan sekitar. menurut neng, mereka bukannya canggih, malah tambah norak.
    *curhat jeee*

    neng juga lagi punya pengen nih, pengen punya biola…..

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s