IMAN YANG TIPIS


.

Saya bukan Malaikat …
Saya manusia biasa … penuh keterbatasan …
Iman saya pun harus saya akui masih amat tipis …

Why did I say so ?
Begini salah satu contohnya …
Semua orang tau bahwa jika kita sholat, maka seluruh jiwa raga harus kita fokuskan pada YANG SATU … Yang Maha Kuasa …  Fikiran fokus tidak bercabang-cabang.

Nah …
Saya punya kebiasaan yang selalu saya lakukan terutama jika Sholat di Masjid yang baru pertama kali saya datangi.  Yang saya belum tau situasi keamanannya.  Entah sedang traveling atau sedang ada tugas supervisi ke Kantor-kantor cabang kami di area-area …

Bisa ketika melaksanakan sholat wajib (Zuhur atau Ashar), ataupun Sholat Jumat. 
Hal yang akan saya ceritakan ini terus terang lebih sering tejadi saat Sholat Jum’at.

Ada satu kebiasaan saya, yang selalu mengundang komentar dari teman-teman atau trainee saat bersama-sama berjalan menuju Masjid tersebut.

Kebiasaan tersebut adalah … saya selalu nyeker,  berjalan tanpa alas kaki … menuju masjid tersebut dari Parkiran Mobil.  Jika saya tidak membawa sandal jepit … maka saya akan melepas Sepatu Kerja saya … lalu saya letakkan di Bagasi Mobil … Click … mobil di kunci.  Dan saya berjalan melenggang dengan kaki telanjang …

Jika ada yang bertanya ? Mengapa saya melakukan hal itu …?
Jawaban saya adalah … Supaya pikiran saya tidak bercabang …
Saya tidak ingin fikiran jelek, perasaan was-was, cemas kehilangan dan yang sejenisnya menghantui kekhusyuan Sholat saya ….
Ini adalah upaya agar Sholat saya tetap Fokus … Saya bisa beribadah dengan tenang.

Saya tidak bisa jamin fikiran saya bisa fokus jika membiarkan Sepatu saya tetap keleleran diluar Masjid  …  So demi mencapai kekhusyuan tersebut … demi ketenangan beribadah …
Maka saya akan simpan Sepatu Saya di Mobil saja.

Bahkan kadang … jika kami tidak sedang membawa Mobil …. maka saya akan membungkus Sepatu saya tersebut dengan Tas Kresek … lalu saya masukkan, dijejalkan kedalam Tas Ransel saya … saya bawa masuk sekalian ke dalam Masjid.

Tentu ada yang bertanya …?
Kok tidak dititipkan saja di penitipan Sandal atau Sepatu di Masjid ?
Saya pernah coba hal itu … akan tetapi … jujur masih saja terbersit dibenak saya perasaan was-was itu … (Dasar Trainer Picik …!!!)

Sekali lagi saya katakan … Iman saya masih tipis … dan saya bukan Malaikat …
Saya tidak tau apakah tindakan saya ini merupakan hal yang dibenarkan atau tidak …
Namun tujuan saya hanya satu … saya tau keterbatasan iman saya … Saya tidak ingin fikiran fakir saya ini terganggu dengan hal-hal yang sebetulnya remeh temeh tersebut …

Semoga dengan demikian Ibadah saya akan bisa lebih baik … dan lebih baik lagi …

Dan saya berharap …
Suatu saat nanti … Saya bisa tetap fokus … untuk tetap khusyu’ beribadah … berserah diri secara TOTAL … tidak terpengaruh oleh apapun … Bagaimanapun situasi yang terjadi … apapun kondisinya …
(apalagi ini hanya sebatas pengaruh Sepasang sepatu …)

SEMOGA !!!

Salahkah saya ???
Semoga ALLAH mengampuni kesalahan saya …

.

 

 

.

73 thoughts on “IMAN YANG TIPIS

  1. Salahnya dmna? Bukankah ada riwayat hadis yg mncritakan ttg sahabat rasul yg tdk mngikat kudanya saat hndak solat, lalu saat diingatkan rasul dia mnjwab dia brserah diri pd ktntuan Allah, apakah akan hilang atau msh ditetapkan mnjdi haknya.

    Rasul meluruskan, bhwa tawakal bukanlah spt itu, melainkan berusaha smaksimal mungkin sesuai kapasitas sbg manusia, baru ketentuan akhir kputusan Allah. Dlm kasus diatas, tentu itu artinya ia harus berusaha ‘mengamankan’ kudanya lebih dulu.

    Apalagi ini, ada dobel niat: ikhtiar mnjaga sepatu, dan demi mnjga kekhusyukan. InsyaAllah ga mnyalahi aturan apapun🙂

  2. Suamiku selalu bawa sandal di mobil, Om… meski emang nggak pernah ke masjid. Memang sengaja sandal itu dibawa dalam mobil kemanapun.. kalau banjir atau jalan berlumpur aman deh, sepatu tetep bersih dan awet…
    Sediakan sandal jepit aja di mobil, Om…

    salam hangat, Om..

  3. ah kupikir itu wajar dan bagus kok
    selain membuat lebih fokus pada sembahyang
    tidak menggoda orang lain berbuat dosa juga kan?
    bukan perkara iman tipis atau tebal.
    Lagipula siapa yang bisa mengatakan imanmu tipis atau tebal selain Yang Maha? Kupikir tidak ada standarnya😉
    (eh, tapi ini menurut aku saja, mungkin salah)

    EM

  4. Saya kira itu bersih,manusiawi dan wibawa (BMW-motonya Jakarta pada jaman Bang Wik) kok oom. Walaupun sandal atau sepatu oom itu beli second ( misalnya lho oom), tetapi tetap was-was kalau hilang atau menjadi cecek karena di injak-injak orang lain. Sayapun juga begitu kok.
    Sholat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, sandal juga saya masukkan tas kresek. Bukan takut hilang tetapi takut lupa dimana tadi meletakkannya, maklum pintunya sak-arat2.

    Ketika di Jakarta, Saya bahkan pernah membeli sandal bercorak loreng serdadu agar mudah dikenali…dan gak ada yang menjaili..he he he he

    Jika waktu sholat masih panjang, dan perut kita lapar akan lebih baik jika kita makan terlebih dahulu baru sholat. Lebih baik makan sambil mikir sholat daripada sholat sambil mikir gurame balet si dia, bukan. Ini juga demi konsentrasi ketika sholat.

    Satu hal lagi, sangat tidak baik dan akan mengganggu konsentrasi sholat manakala kita menahan kencing atau menahan bom atom. Sebaiknya segala urusan dalam dituntaskan secara jantan, baru laksanakan sholat.
    Kan gak pantas wal gak sopan jika kita menghadap Allah swt sambil mulat-mulet menahan bom.

    OOm bisa nggak membayangkan, sholat Jum’at di kampus Akabri, sepatu Taruna kan samaaaaaaa semua……. Ada yang ngasih tanda berupa ikatan, ada yang meletakkan kerikil dalam sepatu, ada yang dikasih tanda pita kuning, ada yang meletakkan dekat pohon pisang. Bukan takut hilang tetapi demi kecepatan bergerak saja. Makanya gak ada yang memasang gembok di sepatunya.

    Last but not least, saya kira, apa yang oom lakukan itu wujud suatu ikhtiar.Pasrah secara total tanpa ikhtiar ya jangan donk oom.
    Bukankah Rasulullah saw juga menganjurkan ” Ikat dulu untamu, baru tawakal”, ketika melihat sahabatnya tidak mengikat untanya ketika akan sholat bersama Rasulullah Saw.

    Salam hangat dari Surabaya

    1. Saya membayangkan puluhan pasang sepatu … bermodel dan warna sama …
      wwaaahhh … pusing itu …

      Terima kasih penjelasannya pak De.
      Memang sebaiknya seluruh “urusan intern” itu … diselesaikan dengan cara jantan agar tidak mengganggu kekhusyuan ibadah …

      salam saya Pak De

  5. Saya kita itu manusiawai Om, sapa saja juga takut merasa kehilangan seperti itu. Namun saya sendiri dari pada nyeker mending pake sandal saya yang lima ribuan. Kalau itu hilang ya anggap saja sandal itu bukan rejeki kita. (dari pada nyeker, masa bawa mobil nyeker hihihi……………. padahal aku juga gak punya mobil).
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  6. Jauh dari makna melepas sandal saya menangkap satu hal, suatu petuah yang akan mengingatkan saya untuk ingat pada khusyuk saat sholat..
    thanks

    salam kenal pak…

  7. gak apa apa kok Mas, hal ini wajar2 saja , dan banyak juga dilakukan orang.
    Apalagi Mas Enha melakukan ini, agar bisa lebih khusyuk dlm melaksanakan sholat.
    Justru ini contoh yang baik sekali, seperti yg dicontohkan Rasulullah, ikhtiar dulu baru tawakal …….
    salam

    NB:
    itu di header foto narsis eylekhant nya keren, sumpah !🙂

  8. Ah…yang gak papa lagi Pak. Lha wong itu sepatu nya Pak NH sendiri. Lha daripada hilang trus gak sempat beli, lha kan malah blai, nyeker di depan audience😀 . Apalagi tujuannya baik, gak papa sedikit “picik”. Btw, tumben si obyek posting gak di foto Pak😀

  9. Kadar keimanan seseorang tidak diukur dari sepatunya kok Om. Tapi, dari keikhlasannya melaksanakan ibadah dan penghambaan diri kepada Allah SWT. Nyeker ataupun mengkresekkan alas kaki adalah salah satu cara untuk tetap mempertahankan keikhlasan itu. So, lakukan saja terus…🙂

    Eh, aku jadi ingat nih. Di Gontor, seluruh santri dibekali sebuah tas kecil yang sudah diberi nama untuk meletakkan sandalnya. Jadi, setiap kali mereka akan salat ke masjid, masing-masing menjinjing tas tersebut untuk kemudian memasukkan alas kakinya ke situ dan meletakkannya di tempat yang nyaman bagi mereka. Bayangkan deh, betapa uniknya pemandangan setiap kali waktu salat, 4 ribuan santri bergerak serentak menuju masjid dengan menjinjing sebuah tas kecil berbentuk dan berwarna sama… hahaha…😀

    1. membayangkan 4 ribuan santri berbondong ke Masjid dengan menjinjing tas yang sama … (hhhmmm)

      yang jelas betul sekali Uda …
      Yang penting keikhlasan kita

      salam saya Uda

  10. Saya pun sering begitu Oom, terutama saat sholat id, jadi sendal saya taruh di bawah tikar alas duduk saya, supaya gak ketuker n bingung nyari2nya aja, n betul.. lebih tenang sholatnya.. hehehe…🙂

    1. tapi suka sebel tuch sama yang kaya gitu..
      kan jdinya aku sujud di depannya ada sendal.. (^_^)
      udah gitu belum kalau yang id..itu ibu-ibu semua…
      sendalnya di tumpuk disatu tempat dan ngalangin shaf..
      kalau di protes bilang gini..
      “ye mbak..kalau sandal saya ilang gimana..mbk mau tanggung jwab”

  11. tidak mengapa, om
    karena pernah seorang sahabat ditegur oleh Rasulullah ketika ia membiarkan untanya tanpa ikatan. Katanya, “Ya Rasul, aku titipkan unta ini kepada Allah dan Rasul-Nya” tapi Rasul malah bilang “Ikatlah untamu, dan bertawakallah kepada Allah”

    Maka, menjaga apa yang kita punya apalagi itu berkaitan dengan kebutuhan asasi kita maka tidaklah mengapa….

    Wa Allaahu A’lam

  12. amiin…

    hahahha… gak apa itu om.. yang penting sholat kita bisa khusyuk..
    tp bener juga loh om.. kadang pikiran kita bisa tuh melayang ke arah itu pas sholat.. jadi hilang khusyuknya..

    iman saya pun masih tipis..

  13. saya kira apa yang mas lakukan sudah sangat tepat, Rasulullah memang mengajarkan untuk berikhtiar sebelum bertawakkal. Maksudnya; menyimpan sepatu di dalam mobil itu adalah suatu ikhtiar, selanjutnya bertawakkallah seandainya sepatu itu hilang berikut mobilnya..hehehe…. salam kenal mas, wassalam

  14. Assalaamu’alaikum Om..🙂

    Sediain sendal jepit aja Om, kalo nyeker takutnya nginjek apa gitu.. Jadinya kan pikiran tenang, dan kaki pun insya ALLAH juga aman..🙂

  15. Niy ya Om, Yessy ceritain. Ada seorang teman Yessy yang sholat di mesjid bilangan jakarta selatan yang deket taman Puring. Sepatunya lumayan gituh, mereknya Rockport.
    Abis sholat jumat, tuh sepatu ilang aja dong!

    Karena dia penasaran, kakinya langsung mengajaknya melangkah ke taman puring. Jreng-jrengggg!

    Tuh sepatu ada di situh!

    Wihihihi. Walaupun tetep tuh sepatu gak bisa balik, harganya tinggi, dan temen Yessy ikhlas aja akhirnya.

  16. iya, solusi terbaiknya memang harus sedia skandal jepid, yang buluk-buluk wae, atau yang selen warnanya, gen ra ono sing nyolong. Gen sing nyolong melu prihatin.

  17. dari pada abis sholat berjamaah kiat ngutukin maling sendal/sepatu lebih baik masukin ke kolong karpet atau keresek… sekali waktu saya sholat tarawih di mesjid pakai sendal jepit lusuh, ngga ada yang ngembat tapi yang bagus suka ilang

  18. Ironis ya Om, di tempat ibadah, kok malah ada orang yang berbuat dosa dengan mengambil sepatu/sendal. Tetapi begitulah realitanya, mau bilang apa?

    Saya pernah juga merasa was-was seperti itu, waktu sholat di mushola bandara Soekarno Hatta. Bawa tas kresek besar yang nggak mungkin saya bawa ke tempat wudlu, jadi saya tinggal di dalam mushola. Memang cuma tas kresek, tapi isinya belanjaan yang cukup berharga (bagi saya). Ya sudah, saya pasrah aja. Alhamdulillah, tas kresek itu selamat nggak disentuh orang (eh, mungkin kesenggol juga, tapi nggak dibawa … hehehe … ).

    Paling aman memang memasukkan sepatu ke dalam tas kresek dan dibawa masuk ke masjid. Mungkin perlu menyiapkan tas khusus sepatu di dalam mobil, Om …🙂

  19. Pak, saya juga kaau sholat gak bisa khusyu.
    Kalau ada kemunkaran baru sebatas bisa gak setuju dan gak suka pada hati
    Belum bisa bertindah. Level iman paling rendah🙂

  20. sangat bijak pak trainer, dari pada bercabang malah membuat ibadah tidak lagi bermakna ya pak…..

    saya rasa bukan tindakan yang aneh… itu hanyalah masalah kebiasaan dan tidak ada yang salah disana.

    selain tidak membuat orang menjadi berdosa memikirkan sepatu yang necisss itu.. cieeee,,,, juga membuat hati lebih nyaman

    salam saya pak trainer

  21. hehehehe…si OM jujur sekali😀
    tapi memang trik jitu untuk tidak mengalihkan pikiran ketika shalat.

    kalau saya si OM berfikirnya begini, jika saya sudah menitipkan sendal/sepatu di penitipan. atau kalau memang tidak ada penitipan ya diiklash kan saja. Jika memang hilang, berarti yg mengambil beneran butuh dan bukan rejeki om😉

  22. Loh, kok bisa gak khawatir mobilnya yang dimasling om?🙂

    Tips sedrhana yang mengena om, apalagi buat model2 kek saya ini. Wong, pas solat kok masih mikirin kerjaan.. halah..

  23. It’s okay om nh.
    Kan daripada kita piktor dan was-was lebih baik kita ambil langkah antisipasi itu. Justru dgn begitu, kita jg mengurangi dosa misalnya nanti selop hilang lalu kita ngedumel. Gitu kan om? Jangankan di Indonesia, bahkan di Masjidil Harram saja sendal bisa hilang kok. Papi saya tuh, selama kami umroh 9hari, beliau hilang selop 4x. Awalnya selop bata kesayangannya lenyap, trs beli lagi sendal di toko, nah lenyap lagi. Begitu terus, sampai papi saya berkali2 pulang dr mesjid berkaki ayam. Sampai di mesjid Nabawi jg hilang sekali lg hahaha…
    Untunglah klo kami para wanita memang selalu bawa tas jd sendal2 dimasukkan ke tas klo memang rasa ga nyaman. Tapi mas, sepatu2 kami yg dititip tak pernah hilang lho, cuma sendal papi saya aja yg always lenyuap. Apa mgkn krn sizenya gede?😀

    Jadi tak usah khawatir om. Tuhan tahu niat baik kita kok Om.

  24. Memang rasa kehilangan itu nggak ngenakin Om. Bukan masalah harganya sih, tapi bisa juga besar efeknya kalo kehilangan sepatu. Kalau habis sholat masih ada acara lagi, kan nggak mungkin nyeker, dan seterusnya.

    Kekhawatiran begitu saya pikir wajar, karena memang sudah biasa banget kalo sepatu -yang agak bagus dikit aja- ditinggal di luar Masjid biasanya akan hilang. Hebat juga yang bisa sangat rela membiarkannya di luar tanpa rasa was-was.

  25. tak apa lah Om..
    Tuhan maha tahu dengan niat dalam hati kita..

    lagian menurut saya, tindakan Om NH adalah wajar dan waspada.. daripada kehilangan konsentrasi dalam ibadah.

  26. Oom, saya usul. Kalo pas lagi sholat ke masjid, sandal atau sepatunya tetap aja dipake. Tapi diceraikan jauh-jauh, satu di timur satu di barat. Ntar yang mau nyuri bingung. Lho kok cuma sebelah. Pasti deh nggak jadi dicuri. He…he…

  27. Kalau saya imannya lebih tipis lagi Om, tidak pernah mencoba Allah. Misalnya sdh tahu ada daerah rawan, hanya karena ada Allah sebagai pelundung terus lenggang kangkung menuju penjahatd. Dan tindakan preventif om ini saya pikir, tidak sedang mencoba Allah. Cuma sdg memakai alat yg Allah kasih yakni otak utk kebaikan kita. Lebih baik nyeker sebelum masuk masjid, ketimbang setelahnya. Apa lagi sdg di luar kota. Bisa repot urusannya

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s