PANITIA PERNIKAHAN


.
Pernahkah anda menjadi anggota panitia sebuah pernikahan ? 
Entah itu pernikahan keluarga dekat atau pernikahan teman ?

Saya sudah beberapa kali.

Tugas yang paling sering saya emban adalah menjadi Among Tamu.  Orang yang mewakili shohibul hajat untuk menyapa, mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan atau sekedar berbincang-bincang dengan mereka, supaya tamu tidak celingukan mati gaya.

Baru beberapa minggu yang lalu, saya mendapat amanah lagi untuk membantu kakak sepupu saya, menyelenggarakan acara perkawinan putri bungsunya.  Selain sebagai Among tamu, Saya juga sekaligus ditunjuk sebagai wakil ketua pelaksana khusus untuk acara resepsi – walimah – pesta perkawinan di gedung.

cropnh
foto diperankan oleh model

.

Menyelenggarakan acara perkawinan itu bukan perkara mudah.  Ada banyak hal yang harus diurus.  Untuk memudahkan biasanya rangkaian acara dibagi menjadi tiga bagian besar.  Yaitu acara adat, acara inti akad nikah secara keagamaan dan acara resepsiMasing-masing mempunyai kompleksitasnya sendiri-sendiri.

Untuk acara adat, biasanya sudah ditangani oleh mereka yang memang sudah handal di bidang tata cara adat istiadat daerah tertentu.  Ini satu paket dengan tata rias, busana adat dan sebagainya.  Ada yang bilang orang yang menangani hal ini disebut juga sebagai “dukun manten”. Letak krusialnya ada pada ketersediaan “ubo-rampen” yang musti lengkap dan tidak boleh terlewat.  Ada banyak perlengkapan yang mesti disediakan.  (Yang kadang kala agak langka).  (Contohnya koin “kreweng” yang terbuat dari genteng.  Mau cari dimana coba ? kalo bukan di tempat orang yang khusus untuk membuat peralatan ini)

Sementara untuk acara akad nikah tentu saja akan dipimpin oleh Penghulu.  Saya sering melihat sohibul hajat banyak juga yang melibatkan pemuka agama setempat.  Untuk mendoakan dan memberikan petuah-petuah atau pesan perkawinan kepada kedua mempelai.  Hal yang penting perlu diperhatikan disini adalah ketepatan waktu dan ketersediaan Penghulu.  Sekali saja meleset, bisa runyam urusan.  Karena ini acara inti !!!  (Nggak ada penghulu, ya nggak jadi kawin bukan … ???)

Dan yang terakhir adalah acara resepsi.  Kompleksitasnya ada di penyelenggaraan event secara keseluruhan.  Kita akan mengundang banyak tamu.  Perlu melibatkan banyak orang juga untuk mengurusnya.  Memang dengan berkembangnya waktu, kini telah banyak kita jumpai perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa mengatur acara perkawinan ini.  “Wedding Organizer”.  Namun tetap saja, menurut pendapat saya, pihak keluarga atau teman-teman dekat masih tetap perlu turun tangan juga untuk mengerjakan, atau paling tidak mengawasi beberapa hal yang penting. 

Contohnya mengawasi catering.  Panitia harus betul-betul mengawasi jumlah porsi yang dikeluarkan ke meja hidangan.  Jangan sampai kekurangan makanan. Kalau kekurangan makanan, tamu akan kecewa, dan pihak keluarga pasti akan malu.  Kesannya menjadi tidak baik.  Itu sebabnya keluarga dekat perlu turun tangan untuk memastikan jumlah makanannya cukup.

Keamanan di ruang ganti juga begitu.  Apalagi kalau acaranya dilakukan di gedung resepsi yang cukup besar.  Kita perlu campur tangan keluarga untuk mengamati siapa saja yang keluar masuk ruang ganti.  Jangan sampai ada orang asing masuk.  Sebab di banyak kejadian, sering ditemui pencurian di ruang ganti.  Maklum ketika semua orang sibuk, berganti pakaian adat, seliweran kesana-kemari, kadang suka lengah dan lupa menaruh barang-barang berharganya dengan baik.  Ini sasaran empuk mereka yang tidak bertanggung jawab, yang ngaku-ngaku sebagai keluarga.  Itu sebabnya peran keluarga dari kedua belah pihak sangat penting untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan.

Peran keluarga dan teman dekat juga penting untuk mengidentifikasi tamu-tamu khusus.  Tamu-tamu Istimewa – VIP dan yang sejenisnya.  Wedding organizer perlu dibantu keluarga dan teman dekat untuk melihat siapa saja tamu yang perlu di”istimewa”kan.  Misalnya saat “Boss Besar” di tempat kerja mempelai pria atau mempelai wanita datang, tentu teman-teman dekat yang tau.  Demikian juga “sesepuh” keluarga besar.  Keluargalah yang tau siapa saja sesepuh yang berkenan datang.  “Boss besar” dan juga “Sesepuh” kadang kala perlu treatment yang berbeda.  Misalnya kesempatan berfoto, perlu dituntun, atau welcoming greeting oleh MC dan sebagainya.

Pendek kata … “Wedding Organizer” tidak bisa bekerja sendiri.  Jangan pasrahkan semuanya ke mereka.

Mereka harus disupport oleh panitia dari pihak keluarga dan teman dekat.

.

Nah para pembaca sekalian …
Apakah diantara anda, ada yang pernah menjadi panitia perkawinan kerabat atau teman dekat ?
Boleh sharing pengalamannya ?
Apa tugas anda dulu ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

.

32 thoughts on “PANITIA PERNIKAHAN

  1. Oooom….
    Aku mah paling hanya diminta pake kebaya aja dan berdiri cantik di resepsi doang om…hihihi…
    Biasanya yang mengurus hal2 ribet seperti itu Om dan tante ku ajah.
    Mungkin beberapa tahun lagi tanggung jawabnya bakal beralih kepada ku juga siiiih…

  2. Saya juga sering menjadi panitia pernikahan, bahkan jadi Ketua Panitia ketika cucu Ipung menikah. Saya buat buku panduan sendiri.
    Sering juga memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai pria/wanita
    Jadi among tamu paling seriiiiiiiiing he he he he
    Waktu masih dinas, among tamu VIP, biasanya sudah ditentukan, misalnya saya menyambut Jenderal A dan mengantarkannya sampai tempat prasmanan.

    Sering dapat dasi, batik he he he

    Salam hangat dari Surabaya

  3. Waktu saya menikah, hampir semua saya urusin sendiri Om dan sejak saat itu banyak sodara dan teman yang selalu minta pertimbangan atau minta dibantu dalam pernikahan mereka. Ribet tapi seneng, apalagi kalo acara lancar dan semua senang…huaaah gak ada yg bisa membayar rasa bahagia itu🙂

  4. Kalo MC acara pengajian nikahan pernah Om, jaga buku tamu jg pernah, among tamu belum…
    Sementara ini kalo untuk sibuk yg ke hal2 penting belum pernah, mungkin belum masanya.. Sementara ini masih bantu2 aja, tp mgkn beberapa tahun ke depan bisa ikut sibuk, ketika ponakan udah mulai beranjak dewasa.

    Keterlibatan seseorang dlm acara pernikahan, sepertinya berkaitan dengan “peran” di keluarga.. Dituakan, dihormati. Semacam itu. Nah, kalo saya, sementara ini kalo ada sodara nikah masih sebatas pemggembira.. Yg sibuk ya om tante bude pakde 😊

    Kira2 begitu.

  5. om, di bukittinggi acara pernikahan kebanyakan masih memakai konsep sederhana, diadakan di rumah dan biasanya tanpa panitia.. kecuali pernikahan para petinggi yang di gedung.. selama ini aku belum pernah pegang tanggung jawab dalam acara pernikahan sodara, jadi pembantu umum saja, disuruh2 ini itu dan ke sana kemari..😀

  6. Dulu waktu kecil saya sering jadi yang ngipasin penganten.. Trus pas udah agak gedean jadi pager ayu.. Pernah juga jadi penerima tamu.. Terakhir jadi seksi sibuk di nikahan kakak dan nikahan saya sendiri🙂 -Ditha-

  7. sekarang sih tugasku jadi among tamu…, dulu sempat jadi pagar ayu ..

    pernah juga jadi pengawas konsumsi, yg perhatiin aliran makanan, jangan sampai makanan habis sebelum tamu terakhir datang…
    makanan dikeluarin dikit2.., karena ada aja tamu yang suka kalap ngambil banyak tapi akhirnya mubazir karena lapar mata doang..
    kalau itu abis juga akhirnya keluarin makanan persediaan tambahan dari rumah he..he.., di keluarga kami biasanya nyiapin rendang…
    pokoknya nggak boleh tamu nggak makan

  8. pengalaman menjadi panitia di pernikahan sejak dari SMP….hehehehehe. Kala itu menjadi seksi dokumentasi dan penerimaan kado…dan sejak itu….lengkaplah jabatan kepanitiaan dari tahun ke tahun. dari sepupu hingga keponakan…bahkan pernah jadi ketua panitia….hehehehe. Jadi mau cerita nih dengan buat artikel mengenai ini…. mantap deh om enha selalu membuat inspirasi tulisan nih….thank you om

  9. saya baru sekali jadi panitia pas pernikahan adik saya, waktu itu saya belum menikah. ada rasa malu+sedih karena diduluin adik. tapi ada rasa bahagia karena adik sudah mampu melanjutkan ke jenjang berikutnya. memang super ribet kalo ngomongin event pernikahan.

  10. Sy blm pernah jd among tamu tp diminta jd wedding organizer pernah bbrp kali. Betul kata Om Her,utk jgn menyerahkan semua ke WO krn biar gmn yg py hajat itu bukan WO. Tp keluarga jg jgn terlalu bikin ribet. Apalagi di Indonesia itu dimana peran keluarga besar jg dipehitungkan.

    Kyk pengalaman sy, wkt di rapat keluarga udh diputuskan apa2 aja yg akan dipilih. Mendadak beberapa hari kemudian kakak tertua calon mempelai bekerja sendiri milih ini itunya tanpa bicara sm saya (pas rapat setuju2 aja). Pdhl sy udah bekerja yg sesuai permintaan. Nah, kl kyk gitu bikin mangkel WO krn bbrp rencana yg udh digelar bs berantakan hihihi

  11. Dua kali jadi among tamu waktu nikahan adik sepupu dan keponakan. Sekali jadi bagian terima angpaw waktu nikahan ponakan yang lain.
    Jadi among tamu paling nggak enak karena makannya harus belakangan, dan biasanya udah banyak kehabisan…… *doooh ini emak tetep ya makan melulu yang diurusin

  12. betul om, memng tidak bisa bekerja sendiri dan jumlahnya harus banyak personelnya..
    saya sih belum pernah, cuma melihat kesibukan mereka memang seharusnya mereka bekerja sama-sama, dan jumlahnya banyak..

  13. Pernah Om. Saya jadi pagar ayu dadakan. Ceritanya kan cuma hadir ke Jakarta (waktu itu masih di Medan, masih SMA) karena abang sepupu mau nikah. Eh, mendadak di hari H malah disuruh jadi pagar ayu. Dipakaikan konde, dada sampai sesak napas, terus dibebat kain sampai susah jalan. Begitu nikahan selesai, saat mau balik ke kamar hotel, di lorong hotel saya langsung angkat kain sampai lutut, dan melangkah lebar-lebar. Hahah…

  14. Penyambutan dalam acara ngantenan semacam ini tuh sangat penting. Bukankan para tamu undangan itu harus dihargai. KArena sohibul hajat sudah mengundangnya.

    Pernah dua kali, Om. Saya diberi amanah untuk memberikan souvenir. Ngadeg jejeg kaki sampai linuuu. .. :mrgreen:

  15. Saya nih, Om..
    Awal tahun kmaren 2 sepupu saya menikah. Yang pertama pake adat sunda, yang kedua pake adat jawa. Yang saya ikutan banget, yang pake adat jawa itu, karena acaranya di Samarinda. Saya jadi wakil tante ngurusin ini itu. Senang banget rasanya ngelihat rumah tante saya berhias pernak-pernik tradisional semacam bleketepe, dll. Tante nyewa salon yang sekalian jadi EO, karena acaranya tradisional banget. Mulai dari siraman, sampai musik pengiring resepsi. Jawa total, karena om saya orang Jawa. Yang bikin saya geli, acara resepsi pake bahasa Jawa. Kami yang dari pihak keluarga tante pada gak paham.
    Trus, untuk pakaian tradisional, semua panitia pakenya di rumah tante saya, Om. Kami semua naik bis atau kendaraan lain ke gedung tempat resepsi.🙂
    Ribet2 ngurusin nikahan sepupu, rasanya pengen buka jasa EO juga deh… Haha…

  16. Aku waktu kecil (eh remaja maksudnya) biasanya dapet tugas jadi penjaga buku tamu. Udah agak tuaan, naik pangkat jadi pagar ayu..

    Tapi promosi paling membanggakan sih emang waktu jadi mantennya sendiri sih Om.. akhirnyaaaa hahahahaha

  17. Aku dulu sering jadi dayang dayang om.. istilahnya itu yang ngasih souvenir atau yang jaga makanan..

    etapi yang paling hot di artikel ini foto modelnya ya om😛

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s