Diposkan pada PERTUNJUKAN HARI INI

DOKTORANDUS


.

Jika pembaca teliti mengikuti tulisan-tulisanku …

Pasti pernah beberapa kali menemui kata ”doktorandus” di beberapa postinganku.

Dan pembaca pun sepertinya sudah maklum … bahwa … kata ini adalah salah satu ungkapanku untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat ”antagonis” …bermakna ”negatif” dsb.  Sesuatu yang tidak pada tempatnya ..

Ya … aku harus mohon MAAF sebelumnya … kepada para penyandang Doktorandus se Indonesia.  Karena Aku selalu menggunakan kata Doktorandus itu untuk mengekspresikan ungkapan yang tidak semestinya …
Sekali lagi Mohon Maaf ya Pak …

Why did I do that ???

Begini …

Entah mengapa … Jika aku mendengar kata ”Doktorandus …”
Stereotype yang tergambar di dalam kepala ku adalah …

Bapak-bapak … sisirannya kelimis … mengkilat berpomade lavender …
Badannya tambun, Perutnya buncit, Giginya kuning kehitaman  …

Senyum ”manisnya” … lebih mirip seringai nyinyir nan licik …
Mukanya kasar penuh bekas jerawat … dan berminyak …
Nafasnya berbau khas … khas bau rokok kretek tak berfilter …

Sering datang terlambat … entah ke kantor atau pertemuan …
Kacamata hitamnya tetap tidak dilepas walaupun sudah berada didalam ruangan …

Dan sering kali dimulutnya masih ”ngemut” tusuk gigi …
Bekas sarapan tadi pagi …

Diatas mejanya ada satu gelas besar kopi … dengan lepek tatakan lebar penuh puntung rokok dan kulit kacang berserakan … Dikombinasikan dengan Koran ”kuning” penuh berita kriminal dan perkosaan … juga buku teka teki silang …

Coba Buka laci mejanya … disana ada … kartu domino dan sisir dekil dari plastik berwarna merah kecoklatan … yang sudah patah beberapa geriginya.
Dialasi selembar sobekan kertas bekas kalender dinding … yang bergambar gadis berbikini.

Dan satu lagi aksesori kebanggaan di atas mejanya … ada papan nama ukiran dari kayu
Dengan Huruf warna emas … tertulis besar-besar … berbunyi … ”Drs. Nganu Sunganu”.

Dia akan nyolot setengah mati … kalau ada orang yang lupa mencantumkan gelarnya di undangan acara apapun.  (Undangan hajatan sekalipun …)

Dan kata-kata favorit yang selalu keluar dari mulutnya adalah …”koordinasi”, ”proyek”, ”ngobjek”, ”No problem”,  ”minta jatah”, ”wangsit”, ”gampang diatur”, ”disposisi”, ”sowan”, ”rileks”, ”komisi”, ”koneksi”, ”intruksi dari pusat”, ”salam tempel”, ”Uang Rokok”, ”Lemburan”, cem-ceman … dsb

(tentu dengan logat kental daerahnya masing-masing …).  (Macam di Warteg, Lapo, Pasar Inpres, Cafe Dangdut, Terminal atau Pelabuhan …)

Entah apa salah ”Doktorandus” … kok aku bisa-bisanya mempunyai persepsi stereotype yang sedemikian negatif terhadap kata ini …  Sampai-sampai aku jadikan ekspresi penekanan sesuatu yang bersifat antagonis di blog ku …

(Maaf … maaf… maaf …)(sekali lagi mohon maaf …)
(I just cannot help it …)

Jika ada yang keberatan … saya akan dengan senang hati menghapus postingan ini …

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

36 tanggapan untuk “DOKTORANDUS

  1. hua..ha..ha.. baca postingan ini saya malah ketawa, bukannya “tersinggung”
    untung saya jd doktorandus generasi terakhir pak..
    lulusan tahun 1990/1991, gelar kesarjanaan drs, dra, ir mulai diganti dng Sarjana XXX. saat itu ada dua pendapat, jauh lebih keren menyandang drs drp sarjana pendidikan atau sarjana sosiologi, lbh keren ir drpd sarjana teknik. klo nggak salah baru tahun 1993, bapak2 drs dan ibu2 dra nggak dicetak lagi 😛

  2. versiku; … Di jam-jam kantor, dateng ke warnet, ndeketin petugas yg jaga, nyerahin ponsel sambil mbisik, “ada ‘kepbo’ yg baru gak? tlg donlot ya!”.. sambil cengengesan.

  3. wahwahwah….om trainer ini sarjana apa gelarnya???bukan doktorandus pasti…yang jelas, kalo saya om,gelarnya ya yg jadi pengganti gelar dra alias sami mawon…jadi piye dong, rambut saya nggak klimis kok…hehehe…
    kesannya emang drs itu produk orde baru….hahaha ada hubungannya enggak ya???
    Padahal kalo ditilik2 nih ya mau gelarnya drs,dra,dr,ir, apapun deh, karakter itu memang terbentuk karena pola pengasuhan lo om, jadi perlu dilihat juga tuh latar belakang pengasuhannya bagaimana (serius mode-on)
    Jadi, mari kita ikutan pelatihan bagaimana mengasuh anak yang baik biar kelak tidak tercipta segala embel2 yg nempel di ingatan om ttg drs…
    (st, padahal kok ya pas ya rata2 emang drs pada gitu???)

  4. Om NH pasti pernah punya pengalaman langsung yg negatif sangat dg para “doktorandus” itu nih..sampe2 yg terekam seperti yg Om NH tulis di atas.

    Anyway, saya suka koq postingan yg mencantumkan “doktorandus” itu. Seperti postingan yg lalu, doktorandus sekuritih.. Hehe..

    Have a lovely weekend ya Om 🙂

  5. Om, biarpun para doktorandus blingsatan dan kebakaran jenggot baca deskripsi Om, kayaknya nggak ada yang bakal berani komplen deh … lha wong Om punya penggemar sak jagat blog … 😀

    Btw, Om gelarnya apa sih? Tukang insinyur ya? Atau Raden Haji? 😀

  6. untung gelar saya sdh SSi, kakak kelas saya gelarnya doktorandus jeh… apa lagi perut buncit jg jadi ciri ku he.he..he…

    wah kalo gelar akademis saya tdk punya stereotype Om, tapi kalo jabatan punya stereotype.. kalo pak lurah tuh kayak ini, pak camat kayak itu, dsb he.he..he..

  7. Ayah saya doktorandus, tapi gak kayak gitu… Huh!
    Canda aja, Om. Saya sendiri gak punya imej kayak gitu di benak saya. Doktorandus yang ada di kepala saya…tua!!! Heheh..
    Tapi, baru tau kalau doktorandus di blog ini antagonis. Kirain satpam itu memang gelarnya doktorandus. Jadi pas baca post yang itu, saya agak melongo juga. Kalo satpam di tempatnya Om NH aja doktorandus, gimana penghuninya?

  8. Masa sih mas? Bapak saya doktorandus dan master, but ga ada kesan seperti itu sih. Jangankan beliau, ibu saya yg bukan doktoranda (but she is pns) jg jauh dari pandangan kayak begitu. Mereka contoh pegawai yang berdedikasi penuh dgn pekerjaannya, makanya banyak ilmu yg saya dapatkan dari kedua orang tua saya dalam menjalankan pekerjaan saya sekarang ini.

    Let say mas trainer ini punya pandangan begitu pasti krn ada pengalaman buruk masa lalu dgn oknum doktorandus itu. Mgkn wkt ngurus ktp ato surat tanah ya? :p

    Tapi sepertinya pandangan itu terlalu berlebihan deh mas, krn seumur-2 hidup saya bertemu dgn banyak bapak ibu doktorandus or doktoranda, ga ada yg kayak gitu, gelar kacang, baca koran kuning, ngemut tusuk gigi. Kalopun pernah saya lihat, mereka itu bukan the real doktorandus, tp oknum.

    Anyway, mo bahas apapun di sini ya wajar saja toh, ini kan blog Anda, bebas2 saja, selama tdk tunjuk nama. Tidak perlu ada ketersinggungan…

    Salam Doktorandus…

  9. sebenernya Drs. n Dra. itu setingkat apa seh yah? koq sekarang udah gak dipakai lagi? Mungkin karena dulu ijazah bisa dengan mudah dibeli jadi para Drs. n Dra. itu yah banyak yang kualitasnya meragukan, malah sombong bin sotoy dengan gelar di muka nama. beda ama zaman sekarang deh …

  10. Hmm… mungkin Pak En-Ha pernah punya pengalaman yang sangat sangat buruk dengan seseorang yang bergelar doktorandus (drs.) ?

    Kalo saya malah bingung dengan orang bergelar seperti itu pak.. karena pasti bertanya-tanya dan bingung latar belakang pendidikannya apa..

  11. Hehehe…nggak tersinggung Om… 🙂 Kalo saja saya tamat kuliah lebih cepat sepuluh tahun dari yang sebenarnya, yang otomatis bergelar doktorandus, pasti saya protes…hehehe karna:
    1. sisiran rambut saya model spike dan pake gel, bukan pomade lavender
    2. muka saya ndak berjerawat, walopun memang sedikit berminyak 😛
    3. bacaan saya koran Bisnis Indonesia, dan warnanya ndak kuning
    4. saya ndak ngemut tusuk gigi, abis pake langsung buang
    Begitulah Om…

  12. ngakak guling2 baca deskripsinya pakdhe tentang doktorandus. kok bisa sampe segitunya tho pakdhe?
    kalo yang masuk di benakku ya perut buncit, kumis tebal kacamata gedhe, rada2 nggledhis alias muka me**m, hahahahaha……(maaf ya kalo ada yang tersinggung)

  13. wkwkwkkww…ternyata om trainer bisa nyinyir juga..hihihihi…btw, bapak aku doktorandus juga lho…tapi bapak ku nggak seneng pake pomade, nggak jerawatan, nggak klimis, nggak bau rokok karena emang nggak ngrokok, trus nggak ngopi juga, bacaannya juga bukan koran kuning tapi buku-buku filsafat buat bahan ajar anak didiknya. bapak aku ga suka kata-kata “semua bisa diatur” bahkan bapak aku pernah ngancem mahasiswanya sekelas nggak lulus kalo sampe ninggalin kelas dia buat demo. hehehehe…..most of all, aku bangga sama bapak ku yang doktorandus.

  14. serinci-rinci itu dari ujung rambut sampe ujung kaki gambarannya…. hahaha ngakak deh Om baca’a…
    eh kalo si satpam ngehe tipe’a masuk yang mana ya??? ntar mo baca lagi… hihihi

  15. salam
    Sepertinya pengalaman bertemu dengan karakter demikan ya Sir, tambah satu lagi deh membaca deskripsi Sir tentang sifat-sifat orang demikian jangan-jangan berpotensi seorang koruptor juga tuh *maaf nie ikutan suudzon* 🙂

  16. alo sir,.

    Kayaknya menacap benar dihati presepsi “doktorandus”nya 😀 . Pernah punya pengalama buruk dengan seorang dengan gelar itu ya ?… he he he he

    Mudah2an ngga kebawa saat ngasi training dan kebetulan yang di tarining punya gelar serupa. hehehe

    Usul ni,.. gimana klo besok bikin postingan persepsi stereotype gelar2 yang laen ?

  17. hihihi… smp segitunya… gambaran itu lebih mirip preman om.. 🙂 tetangga sebelahku di kereta kemaren sepertinya bukan doktorandus tuh, soalnya ga pake kacamata hitam, ga baca koran kuning… mungkin dia tukang insinyur.. ( loh… )

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s