THE LOVE WAVE


.

Judul itu adalah terjemahan bebas … (yang sebebas-bebasnya) dari nama pop sebuah jenis Tanaman.

Aslinya saya pengen bertanya mengenai … GELOMBANG CINTA … !
Tiba-tiba saja saya jadi ingat TANAMAN tersebut …

Kemanakah cerita mengenai Gelombang Cinta itu …

Daunnya ? saya kira biasa saja …
Bunganya ? saya belum pernah melihat …
Langka ? saya kira kok juga tidak …
Sulit menanamnya ? sepertinya kok tidak …

(mohon maaf jika persepsi-persepsi saya di atas salah …)

Tetapi mengapa harganya dulu bisa sampai Empat Puluh Juta Rupiah ya ? (bahkan lebih …).  Ada yang bisa menjelaskan kenapa dulu itu bisa begitu ?

Dan Sekarang … ???
Bagaimana nasibnya ?
Masih adakah tanaman tersebut ?
Apakah masih mahal harganya ?
Pembaca ada yang tau kabarnya ?

.

.

.

39 thoughts on “THE LOVE WAVE

  1. Jujur, saya baru keinget lagi ttg Gelombang Cinta gara2 Om.
    Terakhir saya mendengar Gelombang Cinta itu sekitar 2 tahun lalu, waktu itu lagi booming2nya kyk bom nuklir

    Ibu saya saja sampai rela2 hunting sama tetangga penggemar tanaman.
    Hemh..sekarang, gak ada kabar. Soalnya tanaman gelombang cinta ibu juga udah mati dg sebab tak jelas.

  2. Mungkin hanya suatu ‘wacana’ untuk menggalakkan program pencegahan terhadap makin parahnya Global Warming.

    nah, menyesuaikan karakter orang indonesia yang suka dgn hal-hal bombastis dan lebay.., makanya harga tanaman itu plus beberapa jenis anthurium pun melambung tinggi dan terus dilambungkan hingga melebihi akal sehat..

    salam saya[ng] om

  3. Ibu saya dulu beli gGelombang Cinta sekitar berapa ya lupa om..
    Sekarang emg udah ndag ada kabarnya lagi ya…
    Dulu padahal bener2 bombastis sekali kehadirannya…

    Kalau ditanya sekarang msih ada apa nggak. ya masih ada om, di sekolah saya juga masih ada.

  4. Yang pinter yang mempromosikan oom
    yang keblinger yang membeli sampai jutaan.
    Saya punya oom, ngglethak di teras tuh makanya saya rajin membuat kuis/kontes karena gelombang cinta itu bisa mendatangkan dolar
    (dolar dari Hongkong)

    Salam hangat dari Surabaya

  5. xixixi… sampai2 di kota kelahiran sy dikasih sebutan “kota jemani”.
    waktu itu bnyk org kaya mendadak gara2 jemani… kini… mak-pet…. kembali ke asal… dr naik mobil kembali naik sepeda😦

  6. kabarnya baik2 saja Om..
    Masih ada tuh di depan pintu gedung induk kantor sy..
    Dua di kanan kiri..
    Gedhe..
    Hijau..
    Bagus…
    Dulu harganya berapa ya? Yg jelas kantor gk beli wong cuma dikasih…
    Hehehe…..

  7. Itu akal-akalan sindikasi penjual tanaman hias saja Om. Mereka pasang harga tinggi, mereka juga yang beli, dengan demikian tercipta harga tingi itu, dan masyarakat mau saja mengikutinya.

    Sekarang harganya sudah jatuh Om, karena harga itu memang cuma harga semu, bukan nilai riil barangnya. Banyak yang sempat kaya raya, tapi banyak juga yang jatuh miskin gara-gara kehilangan momentum menjual.

    Saya punya satu, dikasih kakak, dan sekarang sudah guede. Kalau ada yang mau beli 100 juta, saya lepas deh … wakakaka😀 *ngelindur*

  8. di tanaman kayaknya ada sindikat juga yg pinter ngerame2in. Liat aja majalah tanaman, apa yg dibahas disitu langsung trend dan harganya membumbung. Gelombang cinta udah murah banget, bahkan abang dorongan udah bw keliling. Aku punya jenis lain, dulu sempat ditawar seharga motor bebek baru tp nggak dilepas krn disayang, hadiah dr mama dan udah di rumah lebih dari 10 thn. Masih cakep tuh sp skrg.

  9. Itulah Om, trend itu bisa di bentuk oleh pelaku bisnis tanaman hias, tidak salah hanya saja masyarakat kita yang gampang di provokatori, sehingga empuk sebagai sasaran “pencari uang”. Gelombang cinta sebenarnya varietas anthurium yang sudah ada dari jaman dahulu, kemudian orang mulai menyangkut pautkan dengan kelangkaannya dan mitosnya. Bunganya tidak menarik, gelap. Anthurium termasuk ribet perawatannya kalo tempatnya gak pas naungannya, riskan terhadap fungus, pertumbuhannya termasuk slow, jadi harus sabar hahahaha…*jadi kuliah.
    sekarang kabarnya, ya harga sudah normal lagi, sekarang orang mikir, mau bikin trend apa lagi ya???😀

  10. aku punya pohonnya Mas, masih terawat dgn baik , karena suamiku memang seneng banget ngerawat pohon di rumah.

    karena trend ini, sempat jg kecipratan rezekinya, beli pohonnya cuma 60ribu, tapi dibeli hingga 1,5 juta ………..😀😀
    salam

  11. hiihihhi.. baru aja kemaren ke rumah teman ..dan melihat tanaman itu di pojok rumahnya… beberapa daun tanaman itu telah sobek.. bagian pinggirnya berwarna kecoklatan dan kering…. sayapun berkomentar.. duh..dulu daunnya di lap satu2 sekarang dicuekin ya..🙂

  12. Masih ada om, penjual tanaman yg lewat suka bawa tapi harganya tidak semahal itu. oh ya saya pikir itu sih harganya dibuat2 aja ya, supaya meledak😀 sok tau aja ya

  13. Kalo menurut saya sebenarnya bagus karena namanya, langka karena namanya, sulit menanam karena namanya dan mahal karena namanya. Semua karena namanya THE LOVE WAVE. Yang hebat sebenarnya yang memberi nama bunga itu dulu. Contohnya saja bunga bangkai yang baunya “bosok” bisa terkenal gara-gara namanya Raflesia yang konon nama Gubernur Hindia Belanda yang menemukan bunga tersebut. Jadi kesimpulan banyaklah arti sebuah nama.

  14. Gelombang harga tersebut karena lihainya pemasaran mas, sekarang harga anjlok seperti meteor, bahkan dirumah tamanan ini dibiarkan merangas seperti kerakap.

  15. Ayahnya teman saya bingung mau mbagi2in tanaman gelombang cintanya ke orang lain, saking udah kebanyakan. Saya pernah ditawarin, tapi tak saya terima karena saya pengennya menanam tanaman yang cukup ditanam saja, ia akan tumbuh dengan sendirinya tanpa diapa2in😀
    Misalnya menanam lidah buaya yang nggak perlu perawatan sama sekali😀

  16. kakak teman saya punya om, kondisinya mengenaskan…. dulu sempet ngabisin uang berjuta-juta karena hobi ngoleksi tanaman. sekarang beralih hobby, si gelombang cinta tak ubahnya rumput liar di pekarangan rumah. tak terurus.

  17. nasib gelombang cinta dan teman-teman seangkatannya tak jauh berbeda dengan nasib si jenong Lohan yang tiba-tiba populer tapi hanya sesaat, selanjutnya ya tak ubahnya tanaman ataupun ikan-ikan lainnya,

  18. Di kampung temen saya di Purworejo, tanaman ini suka dimakan kambing, hehehe…
    Makanya waktu ke Jogja dia kebingungan, koq tanaman kayak gitu harganya dipatok sampe jutaan rupiah😀

  19. Penyebab harganya jadi selangit itu, jawaban saya sama dengan Bu Tuti dan yang lainnya, Om…

    Ada kawan saya yang rajin menanam tanaman ini. Dulu, ketika booming, dia seperti kaya mendadak, tapi sekarang…di halaman rumahnya ada beberapa pot berisi tanaman ini, ukurannya cukup besar, tapi tak satupun yang tergoda untuk membelinya. Kasian sekali tanaman itu, tercampak begitu saja, setelah popularitasnya memudar…

    Aih… andai para pesohor kita bisa berkaca kepada tanaman ini, tentu mereka tidak akan menyia-nyiakan hidup mereka dengan tindakan-tindakan yang akan menghancurkan kualitas pribadi mereka…

  20. Yah itulah, tanaman mahal-mahal harus dirawat jg dengan benar kalo gak nanti pening juga mikirin uang puluhan juta yang sudah dikeluarkan utk beli dulu.
    Tapi kalau saya Om, tak sudi keluar uang sebanyak itu heheee….. mending beli mas batangan😀

  21. tuh depan rumah saya ada satu…
    tapi gak beli OM.. bapak mertua saya yang kasih. beliau yang rajin sekali budi daya gelombang cinta. dari jaman gak populer, populer, sampe terlupakan bapak mertua saya masih setia dengan tanaman itu.

    tapi buat saya, suka juga kok ngeliatin gelombang cinta.
    terutama yang besar2 itu.. kesannya adem gitu..

  22. Mamy ku berapa tahun yang lalu pernah beli gelombang cinta yang masih kecil sampe 10 biji. Yang berhasil ‘hidup’ sampe besar, cuma 2 biji… Kelihatannya perwatannya agak susah ya… tapi gimana-gimananya, saya kurang ngerti. Aneh juga sih kenapa bisa semahal itu harganya.

    Anyway, salam kenal yah… boleh saya pasang link blog ini di blog saya?

    trims.

  23. Sebagai pengamat tanaman, saya sedikit tahu tentang sejarah naiknya harga “Gelombang Cinta”. Tadinya sih itu permintaan pasar biasa, cuma karna permintaannya dari negri Jiran besar (dalam hitungan kontainer) maka terjadi fluktuasi harga yang tajam. Trus ini dibaca oleh para spekulan komoditi (sperti kopi) sebagai lahan invest. Eh, masyarakat ikut2an, ya udah ini kemudian dinamakan terjadi booming. Trus ada importir yg tahu kalo ada tanaman Gelombang Cinta di hutan Amazon sana, didatangkanlah dalam jumlah besar. Pasarpun kaget, tak siap, hargapun turun drastissss……..kira2 begitu setahu saya, moga2 bukan sok tahu.

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s