Diposkan pada TRAVELLING

PERJALANAN PANJANG (#2)


(ini adalah lanjutan dari POSTINGAN SEBELUMNYA)

So … supaya nyucuk … saya sarankan para pembaca untuk membacanya terlebih dahulu …

Singkatnya …
Tahun 1991 saya diminta atasan saya untuk melakukan perjalanan dinas dari Surabaya ke Padang
Lewat jalan Darat … mengendarai kendaraan … sendirian
Dipostingan sebelumnya saya sudah bercerita rute perjalanan dari Surabaya – Jakarta – Bandar Lampung – Palembang

Rute selanjutnya adalah …

4. Palembang – Jambi
Hari ke Empat.  Ini jalur agak pendek.  Sekitar 4 – 5 jam saja … Jalurnya pun aman … So saya sangat menikmati perjalanan ini …

Karena waktu masih banyak … saya memutuskan untuk mampir dulu ke Kantor cabang perusahaan kami di Jambi … Tapi celakanya peta yang saya bawa … tidak ada peta kota Jambinya … So … saya bertanya kesana kemari untuk mencari alamat Kantor cabang pemasaran kami disana.  

Dan taukah sodara-sodara … Saya malah justru dicegat di kota Jambi …

Lho dicegat siapa ??? …
Saya di cegat Tentara Sodara-sodara … !!! (Hah …)

Alasannya ?…
Karena saya melewati kompleks tentara dengan kecepatan yang melebihi aturan.  Dan kebetulan jalan itu jalan Buntu … sehingga ketika saya balik lagi … Sang Tentara Piket itu sudah berdiri ditengah jalan, mencegatku … lengkap dengan senjatanya …  meminta saya masuk ke markas mereka … menghadap sang Kumendan …

Sumpah saya takut pren …  Dengan gemetar Saya ceritakanlah keadaanku … bahwa saya orang baru … baru datang dari luarkota bahkan luar pulau … Saya tunjukkan Mobil kantorku yang ber plat nomer ”L” … sehingga saya mohon maaf kalau saya mengendarai mobil tidak berkenan di mata mereka …
(dianggap kurang ajar mungkin …)(padahal saya cuma mengendarai 30 km perjam lho, … kan sambil celingukan cari alamat ). 

Bagaimanapun saya memang salah … ketentuannya memang harus lebih lambat dari kecepatan itu … 
Rupanya inilah ”aturan” yang harus saya taati.  Saya harus lambat-lambat ketika melewat kompleks tentara.  
Jika mobil bisa dituntun … mungkin saya harus menuntun Mobilku ketika melewati markas mereka … (macam pak tani menuntun sapi saja layaknya  …).

Untung Pak Kumendan itu baik … dan kebetulan juga berasal dari Jawa Timur … maka yang terjadi adalah … dia menasehati ku.  Melepasku … Bahkan dia menunjukkan arah-arah menuju alamat kantorku … dengan menggambarnya di kertas … Ahhhh baik bener ini kumendan.  (untung saya ndak disuruh push up …). 

(ya kalau di suruh push up … kalau ”dicolek” gimana coba …???).

Makasih banget Boss … !!! (Anda memang pantas jadi kumendan … bijaksana sangat …)

Sesampainya di Kantor Jambi … para personil area Jambi malah memarahi ku … ”Pak NH ndak telpon saya dulu sih…, tau begitukan saya jemput di batas kota … jadi ndak perlu dicegat tentara segala …” (Sambil tertawa-tawa kami ngobrol lama di kantor)

Di Jambi saya menginap semalam … di Hotel Abadi … (dan sempat merasakan kopi AAA yang terkenal itu …).

(Next route terakhir … Jambi – Padang … !!!)

.

stey cun ya cun !!!

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

62 tanggapan untuk “PERJALANAN PANJANG (#2)

  1. idih untung yey gak dicolek beneran lho sama tentara2 itchu…. kalo gak bisa runyam urusannya babak belurr,wkwkwkwk…

    lanjut cyiinnn:D

    (ngikutin gaya om yg gaul,hahahah)

  2. Di kota tempat saya tinggal dulu (yg sama dengan Mb. Krismariana itu), peraturan yg sama jg berlaku, Om. Plus, sesama pengendara dilarang saling mendahului. Berani melakukan, tanggung sendiri akibatnya. Mungkin lebih drpd sekedar dicolek-colek, Om 😆

    Surabaya – Padang + pake mobil + sendirian = ingin mengulang gak, Om? :mrgreen:

  3. Om? “dicolek”?

    Wah, dari awal udah curiga Om bakal cerita dicegat bajing loncat…ternyata…malah ketemu sang kumendan hehehe…
    kira-kira bakal gemetaran mana nih Om, ngadepin tentara atau bajing loncat? 🙂

    1. Waduh …
      Saya tidak tau Bang
      Yang jelas …
      sekarang …
      saya selalu melambat kalau lewat kompleks sejenis !
      tidak ada salahnya kita melambatkan kendaraan bukan ?

  4. Kalau sekarang tinggal tulis status di FB, dan Pakde Dekry akan menjemput (di udara) hihihi…

    Sayang ya ngga jadi dicolek, padahal berharap kan tuh… hihihi (dicolek istri kumendan deh)

    EM

  5. terlepas soal pak kumendan yang baik hati itu, saya nggak habis pikir kenapa dulu begitu ya, om? saya sebut dulu, karena sekarang emang gak ada lagi peraturan lebay yang begini, asal nggak ngebut aja.

    wah, kalau om nh dicolek, apa lagi yang nyisa sekarang dong, ya?

  6. dalam perjalanan panjang tsb, akan lancar jika membawa peta topografi (eh nggak ding, ntar oleh pak kumendan dikira mata2 musuh), lagian di tahun itu belum musim hape ya pak.. 🙂

  7. terkadang memang melihat tentara kesannya serem sangat, apalagi kalau pake loreng. padahal tentara yang bijak biasanya lebih baik dibanding aparat pemerintah di instansi lainnya. o,ya…kalau tentara biasanya yg galak2 itu yg pangkatnya di bawah (rendah), kalau komandannya kebanyakan bijaksana, hehehe…

    just sharing karena punya pengalaman yg serupa.

    salam

  8. hehe baca postingan ini, aku juga pernah dicegat tentara di kompleks SESKOAD bdg, kalo gak salah. Ceritanya dari jalan gatot subroto menuju martahegara mau potong jalan, habis macet ey kalau jalan normal. Saat itu saya udh style yakin, cuma angguk2 ke penjaganya.. EEhhh..tiba2 sy diberhentikan juga. Terus dituduh(padahal bener), motong jalan ya dik? wuaduhhhh.. meski gugup (karena ketauan maksud)..tetep sy bersikukuh bhw maksud kompleks itu mau ketemu temen yang memang ada di kompleks itu. (padahal sy tau teme sya itu lagi gak ada di rumah..xixix…. setelah menyebut alamat tepatnya, akhirnya dilepaskan juga…. duhh pak tentara aku tak akan melupakanmu deh.. hitam manis,tapi mahal senyum ihh.. 🙂 Siap grakkk.. (eh kok jadi curhat yaakk..:-) salam pak trainee!

  9. saya sampai sekarang tidak mengerti, mengapa ada aturan harus berjalan sangat pelan di depan komplek tentara itu. apakah anaknya para prajurit itu senang berkeliaran di jalanan, sehingga takut mereka bakal tertabrak? argh… mereka memang berlebihan… sorry Om, saya suka emosi dengan hal yang seperti ini 😉

  10. Dicegat tentara? Lengkap dengan senapan laras panjang?
    Waduhh bisa gemetaran om…untung nggak disuruh push up.

    Saya ingat cerita ayahnya jendral B….suatu ketika, ayah jendral B, yang juga purnawirawan jendral, datang menengok putranya…seperti om NH, beliau dengan tenang memasuki kompleks tentara. Tentu saja dicegat, dimarahi dan disuruh lari beberapa kali muteri lapangan (kok ya tega, kan udah tua..untung tak terjadi apa-apa, lha mantan jendral paling tidak bekas latihannya masih membekas. Setelah selesai sang mantan jendral ke rumah anaknya, anaknya kaget kok ayahnya basah kuyup keringatan dan terlihat lelah..dan makin kaget saat si ayah cerita habis lari-lari. Jendral B mau marah, tapi diingatkan oleh ayahnya, anak buahmu yang benar, saya yang salah…bagaimanapun peraturan harus ditaati.
    Hayoo tebak om, siapa jendral B tsb?…dulu pernah jadi wakil gub DKI Jaya, dan penyanyi.

  11. zaman itu kalau di daerah, lewat kompleks atau depan kantor polisi harus ”merayap”mobilnya ya Mas.
    padahal kalau di jakarta, mah gak ada aturan kayak gitu.
    Untung saja pak komendan baik hati.
    salam.

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s