Diposkan pada FIKSI

URUNAN #3


Setelah uji coba pertama di postingan : URUNAN …
Terciptalah Tulisan : KOTAK BERKERTAS MINYAK WARNA UNGU

Ditulis keroyokan oleh 19 orang narablog berbeda, … beda gender, beda suku, beda agama, beda pekerjaan, beda latar belakang dan juga beda tempat tinggal (yang terbentang dari Pare-pare sampai … Kamboja)

Kemudian saya mencoba untuk membuka : URUNAN #2
Cerita masih saya edit sana-sini …

Sekarang mari kita buat URUNAN #3 (bisa dikatakan kelanjutan dari URUNAN #2)

Yang belum tau Caranya … ?

  1. Para pembaca hanya meneruskan kalimat atau cerita yang telah dituliskan oleh komentator sebelumnya …
  2. Panjang komentar terserah …
  3. Supaya pembaca lebih jelas tentang apa yang saya maksud … maka 3 komentar pertama akan saya lakukan sendiri.  Komentator ke 4 tinggal meneruskan.  Lalu diteruskan oleh komentator ke 5 dan seterusnya …

Ready ???

Let’s Go …

(Note : kalau ada komen-komen yang dimoderasi / ketangkep si aki … sementara telah muncul komentar-komentar yang lebih baru … maka saya mohon izin … saya akan mengeditnya … supaya nyambung …)

(en sumpah … ini bukan pekerjaan mudah sodara-sodara …) (hah)

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

43 tanggapan untuk “URUNAN #3

  1. Pengamen itu bergegas merangsek turun dari bis …
    Sekelebatan dia tadi melihat sebentuk wajah penumpang bis yang sangat dia kenal …
    Wajah itu wajah ibunya …
    Wajah kaget penuh iba …
    Setitik air menetes dimatanya

  2. dan saya memang harus seperti ini…
    rindu saya padamu Ibu… dan satu saja yang kuharapkan darimu… doamu untukku…

    Ibu betapa ingin aku memelukmu… tapi…

  3. sumpah serapah dan kata-kata itu membuat saya tak mungkin menyentuh ibu
    BEtapa aku rindu rumah dan pelukan ibu, tapi ijinkanlah aku menatap ibu dari kejauhan dan setiap bis yang melewati jalanan itu. dengan….

  4. Tapi, aku hanya bisa menahan rasa. Bak membiarkan tenggorokan kering padahal air sudah menempel lidah.
    Ya, seperti itulah saat aku berdiam di depan pintu pagar rumah. Tatapanku jauh menusuk ruang. Namun aku hanya menemukan keantipatian, ayah.

  5. Ayah yang dulu lembut kini menjadi ganas seperti singa kelaparan, setiap saat siap melemparku kemana saja. Ternyata darah parisnya yang mengalir di tubuhku ini hanya dibawa diam oleh ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ini salahku atas perbuatanku yang……

  6. Tidak dibenarkan…. mencuri kambing tetangga.
    Hal itu membuat ayah malu dan sangat murka kepadaku.
    Ayah orang yang selalu memikirkan gengsi diatas segalanya.
    Sebenarnya aku ingin kembali ke rumah, melanjutkan sekolah.
    Tetapi aku tidak tahan.
    Lebih baik aku…

  7. menyingkir dari kehidupannya.
    Kesalahanku ini tak terampuni, katanya.
    Dan kemarahannya hari demi hari, hanya akan membanjiri rumah ini dengan air mata Ibu saja..

    Kadang aku berpikir..

    1. aku telah membantu perekonomian keluarga semampuku … Yang aku tau itu salah.

      Namun perkenankan aku untuk selalu memompa semangat mu Ibu …

  8. Semangat mengembalikan semangat ibu di depan ayah. Ayah parisku yang mulai kejam kepadaku, Padahal kelembutan Ibuku membawa angin Bukit TInggi Yang indah bagiku. Meski ku harus terdampar di jalanan KM. 54.400. dengan….

  9. sedikit harapan bahwa kebahagiaan dalam raut muka mereka yang dulu selalu berseri bisa kembali seperti dulu, aku tahu semua terasa mustahil dan sulit kuwujudkan tapi aku masih punya sesuatu untuk mereka yaitu ……

  10. Separuh sendal jepit berwarna warni yang hanya sebelah untuk dibawa pulang bertemu dengan pasangannya, yang akan membawa senyum pada ayahku itu, karena aku sebenarnya sangat mencintai dia dan

  11. aku tetap takberdaya saat hanya 10 langkah lagi aku tiba di rumahku dulu, rumah tempat aku dilahirkan oleh jeritan sakit seorang ibu. Aku malu…, aku gak mau bertemu dengan ayah sekarang ini, aku belum siap. Namun..

  12. Sekarang atau tidak sama sekali!! It’s now or never!!

    Ternyata lagu yang sering kulantunkan selama ini adalah jeritan hatiku yang terdalam!!

    Tersadar aku mengapa aku begitu bergetar setiap kali melantungkan lagu itu di sela sela himpitan penumpang bus kota.

    Ternyata..

  13. “Ayaaaahhhh…!” kupeluk tubuh ringkih itu erat-erat..tak kupedulikan kebingungan yang melanda beliau. Dan perlahan tubuh itu melunak, kurasakan sebelah tangannya memeluk dan mengusap punggungku.

    “Nak..

  14. aku tidak sekuat bayanganku, aku termenung, sampai kata-kata ayah yang dari tadi memanggilku tak terhiraukan. “Nak.., ayah..ayah..”, ayahku tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu..

  15. “Nak, berhentilah mencuri kambing tetangga,” kata ayahku.
    Ternyata selama ini, beban itulah yang selalu menghantuinya.

  16. Kalau kau pengen makan sate kambing, kau tinggal bilang ke ayah…
    Pasti ayah akan memohon agar bisa dikasih jatah preman sama tukang sate.

  17. Engkau dulu berucap, “Pergi! aku tak ingin lagi menganggapmu sebagai anakku!”. Hancur, hatiku hancur mendengarnya yah. Ayah sungguh….

  18. ku tak dapat melupakannya…

    Namun, berbagai siksa hidup yang mendera, setelah pergulatan hebat di jiwa dan raga, setelah segalanya nyaris terlupa… aku tiba-tiba sadar, bahwa ada cinta dalam kemarahanmu. Aku menyadari itu sepenuhnya.

    Ayah… sungguh aku rindu padamu. Terimalah senandung lirihku:
    “Ayah… dalam hening sepi kurindu…
    Untuk menuai padi milik kita…”

  19. dan ayah….. kucoba untuk melupakan semua itu.. pengalaman kejam yang telah kau luahkan padaku… aku hanya anak yang khilaf… tapi apakah ayah juga menyadari kekhilafan ayah…. 😦 ,,,,, mulai hari ini maka izinkan aku …..

Komentar ditutup.