Posted in RENUNGAN

PRASMANAN


.

Lunch Time …

Prasmanan di kantin kantor …
Makanan disediakan oleh perusahaan Catering berikut petugas penyajinya …
Para karyawan bebas memilih menu apa yang akan diambil siang itu …

Ada Nasi … ayam … gudeg … krecek … soto … empal … perkedel … salad … dan sebagainya
Semua masih mengepul hangat …
Sungguh merangsang selera …

Saya berbaris antri … di belakang seorang Bapak-bapak …

Saya perhatikan …
Nasi diambilnya …
Gudeg diambilnya …
Sayuran diambilnya …

Namun …
Setiap kali sampai wadah yang berisi makanan olahan berbahan dasar daging …
Setiap kali petugas katering ingin mengambilkan dan menyendokkan Ayam Goreng atau Daging empal misalnya …
Si Bapak serta merta menolak …
Seraya lirih berkata …

“Ayamnya buat anak saya saja dirumah … ”

“Daging Empalnya buat anak saya di rumah …”

(Tentu ini hanya perlambang saja … karena memang dia tidak benar-benar membungkus jatah makanan tersebut dengan plastik atau yang semacamnya … untuk dibawa pulang …  )(Si Bapak hanya … tidak mengambil jatah daging tersebut …)

Aaahhh si Bapak …
Saat makan siang seperti ini …
Dia tetap ingat anak-anaknya di Rumah …

Dia tetap menginginkan “daging-daging terbaik dan terenak” … untuk anak-anaknya dirumah …

.

Pelajarannya adalah …
Berikan makanan terbaik untuk anak-anak kita …

Bukan sebaliknya …
Bagian yang terenak untuk Bapaknya … sisanya baru untuk anaknya …
(Ini sungguh pepatah lama yang sudah kuno … !)

Have a nice lunch

Salam saya

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

47 thoughts on “PRASMANAN

  1. kalau gitu si bapak sama kayak saya….ga makan daging atau ayam ..pas lunch tadi. Menunya Sop sayur plus tahu dan tempe….ini aja udh yummy bangettttt…..

  2. oooh…. what a touching story….
    Insya Allah ortuku sudah memberikan makanan terbaik untukku
    dan insya Allah, aku akan melakukan hal yang sama…..

  3. hiks sungguh terharu
    ku kira beliau seorang yang lagi diet ternyata beliau tidak mau makan enak sementara keluarga di rumah anak dan istrinya makan seadanya.
    Salut deh

  4. Untuk anaknya…tapi tak diambil?
    (agakbingung.com)

    Tapi memang, sekarang makin banyak orangtua yang menyadari bahwa anaknya lebih memerlukan gizi, agar sehat dan pintar…..beda dengan dulu ya…

  5. sifat bapak saya sekali nih om, kalau ada acara makan-makan suka bungkus kalau ga boleh bungkus ga mau ikutan hehehe. mikirnya masa bapaknya makan enak anak istri dirumah gak ikutan
    begitu pula dalam hal memberi sesuatu untuk orang lain ya om, berikan yg terbaik.

  6. seharusnya si bapak benar 2 ngambil dulu ayam goreng sama empalnya,kemudian bungkus bawa ke rumah buat anaknya,akhirnya sayang anak2nya ngak jadi makan goreng ayam dan empalnya,karena si bapak hanya membawa ceritanya saja

  7. wah, pas baca diatas, udah seneng aku, sangkain ada temen nih, sama2 bukan pemakan daging dan ayam🙂
    ternyata, si Bapak , benar2 luar biasa, beliau hanya menginginkan yg terbaik utk anak2 nya🙂
    kalau ortu zaman baheula, biasanya yg enak2 dan potongannya lebih besar, pasti dah jadi jatahnya si Bapak ya Mas😦
    salam

  8. Berikan makanan terbaik untuk keluarga kita,itu pelajarannya. Makanan halal dan menyehatkan jasmani dan rohani, itu artinya. Om, kok nda ikutan kontes di tempat Pak Dhe?

  9. klo saya jadi bapak itu mungkin saya akan melakukan hal yang sama, karena saya memang vegetarian😀 . Tapi walaupun begitu seorang vegetarian pun bisa jadi tidak akan melakukan hal yang sama, klo dia jg tidak ingat sama anak-anaknya, gengsi atau karena dia rasa orang rumah sudah “cukup”. Anything, cerita ini mengingatkan saya sama bunda, yg selalu membawakan makanan non daging pada saya setiap makan siang. “Dari kantor” ibu bilang.

    bunda……

  10. Setuju……….!!! apalagi orang dulu yang suka bilang anak2 gak boleh makan tunggir ayam, itu buat bapak aja.. (setelah dicoba, ternyata tunggir uenaknya pwooooooooll… hehe)

  11. Hlaaa…bukannya itu sikap yang keliru oom.
    Kalau saya ada hidangan enak diluar rumah tak sikat saja.
    Mengapa ? Agar saya dirumah tak lagi makan jatah sehingga bisa dinikmati isteri dan anak-anak.

    Jika bapak tadi cerita di rumah pasti isteri dan anak-anaknya nyoraki sambil bilang ” yeeee…rugi donk beh, udah nggak makan disana, gak dibawa pulang lageeee”

    Hayo siapa yang mendukung sikap saya , tak kasih T-shirt kekecilan.

    Salam hangat dari Surabaya

    1. hahahaha (ups), dhe setuju sama pakde.. bener banget, daripada mubazir jatah makan siang bapak itu sia-sia kan enak dibungkus untuk oleh-oleh anaknya.. hehe maap om En, dhe suka sama cerita om En tapi komen pakde juga bener kok..

      Pakde, t-shirt nya dikasihkan untuk anak si bapak itu aja..😀

  12. he…ketawa baca komen pakdhe diatas…tapi ada bener juga sih ya..nggak bawa pulang juga ga dimakan juga, bukankah daging itu sebagai protein sehingga si bapak tadi bisa kuat dan menambah tenaga u dapat bekerja lebih giat lalu hasilnya akan lebih banyak (mungkin dg giat bekerja menjadikan bos nya suka dan tanggungjawab bertambah, gaji naik, so yang dibawa u orang rumah lebih besar.

    Tapi disisi lain sikap bapak itu mencirikan sekali ya om sikap tak mau bersenang2 sendiri ketika keluarga tak ikut mencicipi hidangan enak tersebut…terharu saya…

    Apapun makanannya minumnya….(iklan ntar saya..)

    salam saya om..

  13. Awalnya kalau daku makan enak selalu teringat keluarga di rumah. Namun kenyataannya: anak2 diet jugak. Dan ternyata mereka sering juga makan enak. Hahaha…

    Jadi lama kelamaan saya santai saja ngembat makan-makan maknyos bin wisata kuliner. Toh kalau saya mudik selalu makan-makan enak bareng keluarga. Hehehe…

    Salam hangat dari Makassar

  14. jadi ingat pelajaran saat kuliah dulu : kebiasaan memilihkan makanan yg terbaik utk bapak / kepala keluarga ( sebagai penghormatan, mungkin), ditengarai sebagai salah satu penyebab kejadian gizi kurang pada anak-anak…

  15. iya bener banget tuh om…setelah menikah kok kita otomatis bersikap gitu yah…sampai2 untuk membeli jam saja..saya masih menggunakan jam sewaktu masih bujang dulu ebih dari 15 tahun yang lalu.

  16. salam kenal….
    uiiiih terharu banget….
    rasanya senang juga,kalau suami kita bisa sangat sayang sama anaknya.
    seperti si bapak yang tadi tidak mementingkan untuk dirinya sendiri,tetapi untuk bisa membahagiakan sang anak.

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s