Posted in GUEST WRITER

karsini # 7 : BERWIRAUSAHA, KENAPA TIDAK ?


.
Karsini masih terus berlanjut …  Postingan khas, karya para penulis tamu sudah hampir seminggu ini ditayangkan.

Karsini #1 : Kak Monda
Karsini #2 : Titik Sutanti
Karsini #3 : Yuniarinukti
Karsini #4 : Ibu Evi Indrawanto
Karsini #5 : Uda Vizon
Karsini khusus : Pak de Cholik

Karsini #6 : Putri Rizkia

Sekarang saatnya Karsini # 7 saya tayangkan.  Simak tulisan berikut ini …

————

Berwirausaha, Kenapa Tidak?

“Aku mau berwirausaha”, kata suamiku suatu hari.

Sudah beberapa hari ini suamiku mengatakan ingin berhenti bekerja dan memulai wirausaha. Sebenarnya perkataan itu wajar saja, toh orangtuanya memang wirausahawan. Ayah Mertua sejak muda sudah berjualan baju ke Aceh. Hal tersebut diteruskannya hingga memiliki toko sendiri dan mendirikan sekolah.

Sebenarnya tidak heran dengan ucapan suamiku itu, wajar saja bukan? Anak seorang wirausahawan lalu mewariskan hal tersebut pada dirinya. Namun sebagai istri mengapa aku justru tidak meyakini hal tersebut. Sejak awal menikah dengannya aku mengetahuinya sebagai seorang pegawai dalam arti ia bekerja pada sebuah perusahaan. Saat ini pun ia masih bekerja di sebuah perusahaan dimana ia bertugas untuk melaksanakan proses perekrutan pengemudi di perusahaan tersebut. Aku sepertinya meyakini bahwa ia akan menjadi pegawai selamanya.

Dilema seorang istri kah?

Namun di waktu yang lebih lampau ia pernah mengatakan bahwa ayah mertua ingin sekali anak-anaknya menjadi pegawai di suatu perusahaan. Akhirnya suami pun melamar ke perusahaan. Ia mengatakan ingin sekali bisa bekerja di perusahaan yang mapan, dalam arti perusahaan tersebut memiliki aturan yang jelas dalam mengelola pegawai.

Suami pun melamar pada sebuah perusahaan dengan posisi trainer. Dan diterima. Ia senang sekali. Suami pun menjalani pekerjaan barunya dengan senang hati. Ia sangat bersemangat bekerja. Bahkan lembur pun dijalani. Sebulan, dua bulan, enam bulan, hingga saat ini memasuki masa 10 bulan. Dan selama menjadi pegawai di perusahaan tersebut semangatnya muncul kembali.

Namun suatu hari semangat itu luluh lantak. Bukan karena pekerjaannya membosankan, bukan karena ia harus lembur di saat weekend. Tapi karena suatu hari pimpinannya mengatakan padanya bahwa ia belum pantas disebut sebagai seorang trainer. Lalu suami pun mengatakan, “Aku mau mengajukan diri mengikuti training for trainer di luar pak”. Namun ternyata hal tersebut tidak di approve oleh pimpinan. Suami mulai merasakan adanya ketidakjelasan sikap pimpinan. Di satu sisi ia dianggap belum bagus menjadi trainer namun di sisi lain ia tak mempunyai kesempatan pengembangan diri.Ada juga terdengar intrik-intrik disini, dimana menurut kabar pimpinan perusahaan ingin mengajukan satu nama dan suami tetap pada posisi sebagai pegawai kontrak. Suami merasa sudah cukup setahun untuk belajar, jika hanya menjadi pegawai kontrak buat apa. Dan tersebutlah keinginan berwirausaha tersebut.

Aku sebagai istrinya yang panik. Aku memang belum terbiasa dengan wirausaha. Yang ada di pikiran, bagaimana jika tidak berhasil, bagaimana jika anak sakit bukankah dari perusahaan ada asuransi kesehatan sedangkan wirausaha tidak ada asuransi, bagaimana jika suami bosan menjalani wirausaha, banyak pertanyaan. Suami menanyakan, “Bagaimana, kamu siapkan?”.

Tentu saja aku bingung ditanya demikian, aku tak tahu harus menjawab apa. Tapi akhirnya aku menanyakan pada suami sebenarnya apa motivasinya untuk berwirausaha. Jika ternyata diangkat sebagai pegawai tetap apakah ia akan mengundurkan diri juga. Saat itu suami mengatakan, “aku tidak akan mengundurkan diri, jika diangkat”.

Namun ada kejadian luar biasa yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri saja dan beralih ke menjadi wirausahawan baik diangkat maupun tidak diangkat menjadi pegawai tetap. Pada suatu hari ia menemukan sebuah file penilaian individu dari seorang temannya yang sudah menjadi pegawai tetap. Temannya tersebut selama ini merupakan orang yang santai dan tidak terlihat bersemangat dalam bekerja bahkan cenderung memanfaatkan suami. Suami sebagai orang baru tentu saja mentolerir saja sikap temannya tersebut. Suami membuka file tersebut. Setiap penilaian ada angka-angka yang tercantum. Dan betapa kecewanya suami ternyata pekerjaan yang selama ini ia kerjakan adalah pekerjaan temannya itu. Temannya itu memperoleh bonus dari pekerjaan yang dikerjakan oleh suamiku. Tentu saja suamiku kesal sekali. Ia kecewa perusahaan sebesar ini ternyata tak memiliki manajemen yang baik. Intrik-intrik memang biasa, tapi jika penilaian terhadap pegawai hanya sebatas itu dalam arti menilai pekerjaan tanpa melihat ia mengerjakan atau tidak maka itu mengecewakan dan suami mengatakan padaku, “aku tak bisa bekerja pada lingkungan seperti itu”. Lebih baik aku berwirausaha saja.

Akhirnya suami pun menetapkan diri dan hatinya untuk memulai wirausaha saja. Ia mempunyai pendapat pribadi, ”sebaiknya aku bekerja meneruskan ilmu-ilmu berwirausaha yang sudah dimiliki oleh orangtua dan belum dipelajarinya selama ini. Bukankah ilmu wirausaha dari orangtua penting untuk dipahami dan semoga bisa digunakan kelak. Dan itu dimulai dari sekarang sewaktu orangtua masih hidup, sebelum menyesal. Buat apa berjibaku di perusahaan orang lain dengan hati kesal dan tak suka dengan intrik-intriknya namun melupakan usaha orangtua selama ini yang juga butuh diwarisi”. Aku pun menerima semua dengan semangat ingin bersama mewujudkan keinginan suami menjadi wirausahawan. Doakan kami teman.

 

————-

KARYA SIAPA INI ???

.

STOP PRESS :
Hampir 24 jam berlalu sejak postingan ini dimuat.
Sudah saatnya saya membuka jati diri sang penulis tamu
Karya ini adalah kiriman dari
PUTERI AMIRILIS
Khalayak Maya memanggilnya dengan panggilan sayang “PU”
Seorang Karyawati, Ibu dari Dua orang Putra Putri
Puteri selalu berusaha menyusui sendiri putrinya walaupun sedang Tugas Dinas ke Kota lain
Puteri mempunyai blog bertajuk : MAY I SPEAK

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

49 thoughts on “karsini # 7 : BERWIRAUSAHA, KENAPA TIDAK ?

  1. saya lagi-lagi gak tahu ini karya siapa…
    yang pasti dari tulisan ini saya dapat sebuah pelajaran…dalam hidup berkeluarga harus saling mendukung

    Salam PLUR

  2. Sebagai istri memang kita hanya bisa mendukung suami ya, Jeng.
    Namun berwirausaha juga asyik lho, bisa mengatur waktu sendiri, jadi boss bagi diri sendiri dan terutama bisa berkreasi maksimal. No intrik again😀

    Sukses ya, Jeng…..

  3. Yang jelas ini bukan Nique, karena dia gak pakai kata ganti “aku”, dia lebih sering pakai kata ganti “saya”, juga karena suaminya bukan orang Aceh, tapi orang Sumedang..

    So, siapakah ini? Mari melakukan investigasi, haha..:D

    1. Yang mencurigakan, si penulis mengaku kalau suaminya bekerja sebagai “trainer”.
      Apakah ini yang nulis bunda, alias istrinya Om Nh…?
      Who knows… siapa tahu, ini cara eileykhan Om Nh mengenalkan istri beliau ke khalayak ramai, haha…😀

      (investigasi masih berlanjut)

        1. sebagai jemaah surau, seharusnya aku harus patuh dengan pendapat inyiak.

          tapi… Nique? tentu saja bukan.. klo Pu..? aku rasa juga bukan.
          trus siapa..? ini pasti Bunda, istrinya om trainer.. bukankah dulu om trainer pernah nyupir dari jawa ke sumatera bolak balik.

          *nyamfah ini.

            1. xixi, klo ditilik-tilik usaha mertua yang sejak muda sudah berjualan baju ke Aceh itu cirikhas orang minang.. jadi kemungkinannya memang ada bahwa itu adalah Pu.

              tapi sbg jemaah surau yg kreatif aku gak boleh nyontek terus.. sekalikali membantah itu bagus.😛

              1. pu terus terang terharu sejak awal membaca obrolan uda dan bundo…hiks hiiks…:D investigasi dan obrolan di surau dan ladang yang membuat pu terharu krn investigasi dan diskusi ini ttg pu…makasiiiiih, takana awak uda, bundo….:)

  4. pengen sih nebak Mas Necky, karena mas Necky emang pengen berwirausaha, tapiiii kok trainer? sedang mengingat2 siapa yaaa blogger yang trainer selain Om Trainer? *memeras otak*

  5. emang hebat om enha sebagai trainer ….bisa memotivasi blogger lain untuk berinvestigasi.
    Menurut saya penulisnya cewe karena di kalimat pertama udah jelas “kata suamiku” Orangnya pasti masih muda.
    sekarang tinggal mengeliminasi yang belum menikah: putri rizkia di coret…..
    Erry …koq bukan gaya bahasanya banget…..
    Bu enny…juga pasti bukan….apalagi bunda lily…..
    nchie hanie? ga kenal latar belakang suaminya???
    mbak EM…..suaminya bukan orang aceh…..hehehehe

    kita lanjutkan saja investigasinya ah…..

  6. Tak bisa menebak.
    Tapi aku mendoakan agar Mbak Penulis dan suami sukses dalam bisnisnya. Pengalaman kita hampir sama karena awalnya suami saya juga karyawan orang yg memutuskan buka usaha sendiri. Awal2nya agak berat, tapi lama2 biasa saja kok. Ibarat kalau sudah kecebur ke kolam, kita akan mengerahkan semua usaha, kaki, tangan dan kepala agar tak tenggelam. Sukses Mbak🙂

  7. SODARA-SODARA SEKALIAN
    Hampir 24 jam berlalu sejak postingan ini dimuat.
    Sudah saatnya saya membuka jati diri sang penulis tamu
    Karya ini adalah kiriman dari PUTERI AMIRILIS
    Khalayak Maya memanggilnya dengan panggilan sayang “PU”
    Seorang Karyawati, Ibu dari Dua orang Putra Putri
    Puteri selalu berusaha menyusui sendiri putrinya walaupun sedang Tugas Dinas ke Kota lain
    Puteri mempunyai blog bertajuk : MAY I SPEAK

  8. terimakasih om nh telah berkenan menampilkan tulisan pu di sini…tadinya deg-deg an kira2 diterima ga ya ama om nh…
    dari komen2 di atas terus terang aku terharu, obrolan surau dan ladang antara uda vizon dan bundo, investigasi uda, keyakinan2 bundo, trims banget deh, pu sukaaa bgt. bukan masalah ketebak atau nggak tapi ini menunjukkan perhatian sekali. untuk orin yg walo ga yakin tapi bener🙂, titik (dg rasanya-rasanya…hihi), dan bli budi yang walo jarang bw tapi tetep mengenali.trimssss bangettt! daaan pu disangka bundo istrinya om trainer dan dipersandingkan dengan kak nick dan chocovanilla (siapalah awak,hehhe…). tapi semua bikinn seneng. ini sensasinya. sekali lagi trims ya om nh.:)

  9. Tulisan bagus … saya sendiri kepikiran untuk hengkang dari Birokrasi dan menjadi wirausahawan karena lebih bisa mencurahkan segala kemampuan tanpa terbentur aturan-aturan yang kadang bertentangan dengan hati ….

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s