Diposkan pada FIKSI

KOTAK BERKERTAS MINYAK WARNA UNGU


Saya tidak tau mengapa hari ini kok terasa lama sekali …

Berkali-kali saya melihat jam didinding kamar … Jarum jam terasa berhenti ditempat.  Sampai akhirnya tiba-tiba saya dikejutkan oleh suatu peristiwa. Saya melihat sebuah … bingkisan … !!!

Bingkisan itu terbungkus dengan kertas minyak warna ungu. Ada sebuah pita cantik berwarna pink yang mengikatnya. Perlahan saya buka bingkisan tersebut. Ternyata …ada cokelat didalamnya…

Eeh tapi inikan bukan bulan februari… juga bukan hari ulang tahunku…

Ada amplop juga didalamnya, aku buka perlahan… dan isinya selembar kertas yang dilipat rapi.  Aku membukanya pelan dengan hati berdebar-debar pa gerangan isinya

Ternyata sepucuk surat, dan kertas yang sudah usang tersebut, masih jelas terlihat goresan tintanya…ehmm ya, ini tulisan tangan saya, pikiran saya kemudian menerawang, mencoba mengingat-ingat kembali, kapan saya menulis surat ini, penasaran saya baca kembali, saya baca satu persatu kalimat demi kalimatnya….disitu tertulis… “Jakarta, 10 April…

Melihat ke tanggalan ternyata masih ada waktu sekitar sebulan sebelum deadline pekerjaan namun kepala masih kosong dari ide2

Aku sudah terbiasa mengalami kekosongan dalam ide, yang ada di kepalaku hanya kamu. Maka ku kirimkan kembali bingkisan dengan kertas minyak warna ungu seperti yang kemarin lalu, hanya saja kali ini pitanya kuganti berwarna abu. Dan aku mulai membayangkan dirimu membuka bungkusan tersebut dengan malu-malu..

Saat membayangkan wajahmu yang tersipu malu.. Ada getar-getar hangat yang merayapi hatiku.. Dan senyumku pun akan merekah..

ya.. bagaimana aku tidak tersenyum coba sengaja aku tulisan YTC untuk mengganti kebiasaanku menggunakan YTH.  Paling nanti kamu akan kirim sms ke aku : “YTC ini bukan kejahilan barumu, kan?”

Ah kamu… mengapa selalu saja SMS yang kamu kirimkan kepadaku. Padahal alangkah indahnya mengenang debar dan getar ketika membuka surat darimu. Ya surat yang diantarkan oleh Pak Pos! Ya, yang dikirimkan ke diriku, ke alamat rumah ku. Bukan bunyi tit tit yang dikirimkan secara digital.  Ingin ku mengenang debar itu lagi.. Tapi.. debar yang kemarin saja masih aku rasakan deburnya hingga kini aku sungguh takut rindu ini makin menjadi-jadi saja

Kapan ya kita akan ketemuan lagi ?.  Nanti deh, yang penting kamu buka dulu bingkisan yg aku kirimkan itu bagaimana?

Mmm Tapi entahlah … itu tergantung sepenuhnya padamu.  Aku sendiri tidak tau … apa kau mau membuka bingkisan itu atau tidak.

Tetapi yang jelas … kini …nasi telah menjadi bubur…inginku ubah ia kembali menjadi nasi, tapi jelas itu tak mungkin. ada baiknya kutambahkan saja seledri, suwiran daging ayam, kaldu, kecap dan sambal… sehingga jadilah ia bubur ayam yang maknyus…

Hei… kenapa aku tiba-tiba teringat dengan peristiwa kita berdua? ketika itu, kita sedang….main petak umpet, dikala umur kita masih belia dulu … namun …

Sepertinya nggak mungkin memutar kembali waktu yang telah berlalu, mungkinkah ada rasa dalam hatimu seperti…yang aku rasakan saat aku menyetop mbak yu ginah si pedagang pepesan lamtoro di depan rumah, dengan nasi panas yang mengepul engkau melihat dan tersenyum padaku diatas pohon jambu bol…oh betapa klasiknya..

Padahal Jambu Bol itu milik tetangga, dan kamu sudah beberapa kali ketahuan nyolong, sampai sampai dilaporkan ke pak polisi. Ngapain juga naik Pohon coba, padahal tinggal nangkring di atap rumahmu sudah bisa mengintip langsung ke kamar tidurku.

Coba saja kamu bersihkan dan rapikan kamar tidurmu yang acak-acakan seperti kandang ayam. Kamu sudah besar seharusnya bisa mengatasi persoalan sendiri nggak pake nunggu om NH ini turun tangan memberikan training.  Sedangkan waktu training masih lama sekali harus menunggu dua kali musim durian lagi.  Apalagi musim durian di kota medan, dua musim yang menyenangkan dan di lidah ini masih begitu melekat…..

Ah nikmatnya durian yang kemarin kusantap. Sayang Kyaine sudah kena cekal tidak boleh makan durian.. seandainya saja setiap orang boleh makan durian. akan kuborong segerobak durian untuk dibagikan kepada semua orang termasuk Kyaine.

Sayangnya…Yang tersedia kini hanyalah sepotong roti, dan dua buah kotak ….Satu kotak maya … Satu kotak nyata …

Satu kotak maya itu beisi mimpi dalam bias cahaya pelangi petang itu diladang ilalang, menunggu sang pemilik ladang untuk sekedar menyapa dengan hatinya yang memerah, semerah semburat wajahnya tatkala mendapati dirinya terlalu sembrono

Dan satu kotak nyata itu adalah …sekotak bingkisan yang terbungkus kertas minyak warna ungu.. seperti pesanan ibuku untuk kuberikan kepadamu. Begitulah selalu, walau kau telah jauh berlalu..

Tapi cukup, lupakanlah bingkisan itu.. ingin kudengar kisahmu tentang pendakian terakhir ke gunung semeru.. Pendakian penuh perjuangan dan ngos-ngosan, tapi kuharap ada setangkai edelweis kau genggam dan bawa pulang untukku, meski itu juga akan kau bungkus dengan kertas minyak warna ungu, tapi dia tak akan layu meski kau beri label harga semurah atau semahal apapun,

Aku yakin…

Nilai cintamu tidak akan pernah bisa dihitung.
Tak akan ada wadah yang cukup untuk menampungnya …

Biarlah … biarlah rasa itu kusimpan dalam hati …

Hingga datang keberanian untuk membuka bingkisan ini.
Sungguh, segala kisah yg pernah terajut membuatku takut berharap banyak

Biarlah harapan itu tetap tersimpan disini
Dalam wujud bingkisan ini
Bingkisan Kotak berkertas minyak … berwarna Ungu !!!

(aaahhh Hari ini memang terasa lama sekali … )

.

NOTE :

Ini adalah postingan karya bersama.  Lihat postingan URUNAN.

Ini adalah Karya bersama dari Inge, Pak Narno, Mas Atma, Didot, Bundo Dentist, Septa, Guskar, Bro Neo, Alpukat Manis, Uda Vizon, Ramudheng, Abu Ghalib, Boy Indra, Ibu Lely, VyanRH, Itik Kecil, Rein, Catatan Pelangi, dan tentu saja saya NH18

Waktu pembuatan 14 Jam !!! (not bad)

Asik Juga nih !!!

(hahahaha)

Mau urunan lagi sodara-sodari ???

.

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

30 tanggapan untuk “KOTAK BERKERTAS MINYAK WARNA UNGU

  1. ternyata hati kita bisa bersatu membuat sebuah nada dan suara yang indah. dan ternyata titik awal dan akhir memiliki pemikiran yang satu

    artinya bhineka tunggal ika

    ternyata pancasila masih menggaung di hati blogger. meski berbeda tetapi tetap satu

    tanpa dibentengai oleh agama, suku dan ras

    bahkan tidak dibatasi oleh laut dan pulau

    Luar biasa

    masih mau akhh 😀

    1. Yup Betul sekali …
      Memang kenyataan tulisan diciptakan bersama oleh narablog yang
      Berbeda-beda agama
      Berbeda-beda Gender
      Berbeda-beda Latar Belakang
      Berbeda pekerjaan

      Tempat tinggalnya pun berbeda … Jakarta, Kuningan, Karawang, Yogya, Malang, Bukit Tinggi, Medan, Palembang, Makassar, Pare-pare … dan sebagainya … Bahkan sampai Kamboja sana lho …

      Asik kan ???

  2. Mauuuu… aseek OM NH… karya bersama!!!

    kalimat pembuka dari Om, keliatannya cukup “nendang” shg bisa dilanjutkan dengan gaya yg harmonis…

    barang kali bisa dicoba dengan kalimat pembuka yg ber”nada” lain… kita lihat apakah bisa mengikuti nada-nada kalimat pertama itu.. 😉

    salut Om!!

  3. Aku suka sekali… sukaaaaa banget.
    walaupun ngga tahan pengen komeng berkali-kali tapi khawatir merusak keindahan tulisan yg sudah dirangkai para sahabat.

    hahaha, Rein ikut berpartisapasi.. senanglah dia namanya disebut!

    kapan-kapan bikin lagi ya om

    bingkisan yang dibungkus kertas minyak warna ungu.. I Love it.

  4. Om, saya gak baca postingan urunan tersebut makanya rada bengog pas baca postingan ini pertama kali.
    Weleh, maksudnya apa? Ini Om NH mendadak romantis, atau, gimana sih? Tumben… Panjang tulisanya dan tumben… Bukan Om NH banget!!
    Saya baca terus sambil makin mengkerut. sampai pada kalimat-kalimat ini:

    Aku sudah terbiasa mengalami kekosongan dalam ide, yang ada di kepalaku hanya kamu. Maka ku kirimkan kembali bingkisan dengan kertas minyak warna ungu seperti yang kemarin lalu, hanya saja kali ini pitanya kuganti berwarna abu. Dan aku mulai membayangkan dirimu membuka bungkusan tersebut dengan malu-malu..

    Taugak, di kepala saya langsung terbayang Bundo! Dan saya mulai ngeh, ini bukan tulisannya Om NH, ini tulisannya Bundo nakjadimande. Tapi saya baca terus, sampai penjelasan di bawah itu.

    Daaan, ternyata saya benar, yaaa…. Kalimat yang membuat saya kebayang Bundo memang tulisannya Bundo, hihi…

    1. **tersipu-sipu..

      Bahagianya diriku hari ini
      AL mengenali tulisan bundonyah

      ahh, betapa ingin kukirim bingkisan berwarna ungu itu untukmu AL
      [emangnya isi bingkisan itu apa siyh Om?]

  5. Ternyata hasilnya boleh juga tuh om?
    Salut deh si om bisa aja punya ide kreatif seperti ini. Lain kali boleh dicoba lagi..

  6. yaa… ketinggalan berita deh…. huk..huk… ga ikut acara urunan ini…!! ( saya memang suka telat berkunjung ke blog sahabat… apdet & bw blogs yg lain cuy.. 🙂 )

    kapan-kapan bikin lagi ya Om.. asik lo kayaknya…

  7. hahahahah.. ada yg nyolong jambu bol segala dilaporkan ke polisi,terus ada bagian nasi menjadi bubur pake seledri dll,hihihi

    bisa aja nih kawan2 blogger bikinnya 😀

  8. huaaa… ini top markotop and orikhinal sekaleee… 😀

    ketika baca paragraf yang ada bubur ayamnya, aku rada heran, kok editan dari Om banyak banget. sempat bertanya, apakah “urunanku” gak nyambung? soalnya, aku meneruskan yang dari broneo. eeeeh… ternyata, setelah melihat ke postingan aslinya, barulah aku sadar, kalau urunanku dan alpukat manis datang berbarengan. sehingga, Om harus “menjembataninya”. mantap nian Om… ayo, bikin lagi, ketagihan neh.. hehehe… 😀

  9. wah.. urunan yg ini ketinggalan neh…
    pas gak maen ke sini.. tapi urunan 2 aku dah ikutan om..
    jadi pengen cepet tau kayak apa ntar jadinya yaaa

    *sekian lama.. aku menunggu…*

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s