Posted in ARTIKEL, TRAINING

KALKULATOR


 

26 ApriI 2012

Sudah hampir seminggu ini saya mengurus sebuah perhelatan training antar bangsa yang diadakan oleh perusahaan kami di sebuah Hotel di selatanJakarta.  Saya bukan trainernya … sayapun bukan peserta trainingnya.  Saya hanya mengurus saja.  Mulai dari penanganan undangan dan akomodasi peserta, penanganan modul training dan juga penanganan kebutuhan para Trainernya.

Sebagian besar pesertanya memang berasal dariIndonesia, namun ada beberapa peserta yang berasal dari Luar Negeri.  Dari beberapa negara.

Sore tadi ketika training selesai.  Seperti biasa saya mengkomando beberapaorang yang membantu saya, untuk membereskan ruangan training.  Memang sudah menjadi Standar Operating Procedure  kami, bahwa setiap habis training … maka seluruh kertas, tulisan, poster, flip chart, tulisan di whiteboard … harus segera dibersihkan … dihapus dan kertas-kertas tersebut harus segera dimusnahkan.  Kami tidak akan membiarkan sampah tersebut dibereskan oleh Petugas Hotel.  Sampah training pun ada tata cara penanganannya.  Hehehe.  (ini menyangkut kerahasiaan materi).

Ketika asik membereskan ruang training tersebut, salah seorang tim saya tiba-tiba berkata : “Pak … ada yang ketinggalan kalkulator tuh di meja situ”  Dia menyerahkan kalkulator tersebut pada saya.

Langsung saya menduga … “aaaahhhh ini pasti kalkulator milik salah satu perserta yang berasal dari negara XXX nih”.  Ternyata benar … Setelah saya lihat di bagian bawah Kalkulator tersebut terdapat stiker putih bertuliskan nama si empunya.  Dan memang betul si empunya itu berasal dari negara XXX.  Tebakan saya betul.

Mengapa saya kok langsung bisa langsung tau ?
Bahwa kalkulator tersebut milik peserta dari negara XXX ?
Sebab … berbekal pengalaman beberapa kali mengurus training antar bangsa sejenis … saya selalu memperhatikan perilaku peserta.  Jika ada peserta dari negara XXX tersebut … maka mereka selalu mempunyai perilaku khas tertentu yang sama.  Yaitu pada umumnya mereka membawa alat hitung atau kalkulator kemana-mana.  Mereka selalu “berhitung”.  Terutama menghitung konversi nilai mata uang.  Setiap kali saya menyebutkan sebuah harga misalnya … mereka pasti langsung pencat pencet kalkulatornya.  (Kadang juga memakai HPnya) 

Saya menyebut harga rate kamar hotel … mereka pencat-pencet.
Menyebut prakiraan harga taxi … mereka pun pencat-pencet.
Menyampaikan estimasi biaya tiket pesawat … mereka uplek cetat cetet

Mereka mengkonversi Rupiah ke dalam US Dollar atau ke dalam mata uang negara mereka. 
Dan mereka tidak malu-malu melakukannya di depan saya.

Terus terang saja … saya pribadi pun … jika sedang bepergian keluar negeri … selalu berhitung.  Di HP saya pun selalu tersedia aplikasi pengkonversi rate.  Namun … jujur … saya biasanya tidak memperlihatkan hal tersebut di depan lawan bicara saya.   Saya mencongak … menghitung dalam hati … (baru kalau tidak yakin … saya menghitung dengan HP saya secara diam-diam).  Hahaha … jaga gengsi juga sedikit … sawangane rek(biar kere asal sok).

Sama sekali lain perilakunya dengan peserta yang berasal dari Negara XXX ini.  Mereka dengan terang-terangan melakukan perhitungan tersebut.  Kalau perlu selalu menenteng kalkulator kemana-mana.  Mereka terkenal orang yang cermat dalam membelanjakan setiap lembar uang mereka.  And they do it … always in CASH !

Tak usahlah saya sebutkan Negara XXX itu negara mana !

Salam saya

 

.

.

BTW …
Saya harus segera mengembalikan Kalkulator ini …
Jika tidak … bisa kaku berdiri dia …
Nggak bisa beli-beli !

Hahahaha !!!

.

Penulis:

I am just an ordinary person who work as a trainer. who wants to share anything he knows ... No Matter how small ... No Matter how simple.

53 thoughts on “KALKULATOR

  1. xixi, ngebayangin trainer pencet-pencet kalkulator pas beli burger di Macau kemarin.😛 *apalg klo pakenya kalkulator gede yang buat di toko itu

    style warga tiap negara beda-beda ya om..
    tapi aku suka gaya peserta dari negara xxx itu.

  2. Hahahaha bayangin kalo mereka belanja sambil pencet2 kalkulator didepan idung penjual. Hahahaha.
    Tapi daripada rugi atau salah itung😀
    Hahahaha

  3. Wuiihh…negara mana yaa *ga yakin tebakan saya betul* he he.
    kalo saya mah mirip Om, hrs jaga gengsi dikit ya ngitungnya di kepala aja hahahahaha

  4. Enakan mencongak Om…
    Saya yg ngajar Matematika malah nggak pernah punya kalkulator.
    Ngetung pakai HP juga makin nggak pernah (malah belum terlalu lancar)…
    Mencongak saya masih cukup handal…😀
    Salam!!!

  5. Negara mana sih om? *mikir, penasaran (cetek banget sih wawasan eikeh hihihii)
    yaaahh kalo aq sih demen juga ngitung2 pake hape secara diem2 ituh, harap maklum deh emak2 gitu loh perhitungan kudu cerdas dan cermat😀
    Salaaaaaaammm😉

  6. Sama dengan kita kalau seminar di LN. Ada air mineral sak ciprit botolnya aja dulu 3$, Marlboro 4Euro weleh-weleh, biasanya mata langsung merem-melek meng-kurskan ke rupiah.

    salam hangat dari Surabaya

    1. Bener Yu …
      mereka tidak bisa bahasa Inggris …
      jadi kalo nawar … saling pencet-pencetan kalkulator
      kalkulator berpindah tangan antara penjual dan pembeli …
      hahahha

  7. hahaha… jadi inget sesuatu. ada loh om, orang yang slalu membawa kalkulator ke tempat wisata..😆
    nggak kebayang, berwisata ke negara orang dg membawa kalkulator untuk mengkonversi mata uang dan membandingkan harganya dg indonesia… haduuhh…
    salam

  8. kalau deket india……..bisa jadi pakistan tp orang sana pinter2 inggrisnya. Hm… pilih bangladesh aja ya….bolej khan om?

  9. Wuih…. Rajin ya om dia bawa kalkulator kemana mana… Pasti jago matematika tuhh., hahahahaha
    ya.. Setiap orang di suatu negara pasti memiliki style nya masing masing..
    salam hangat om nh…🙂

  10. Kayaknya dalam kondisi seperti ini fungsi kalkulator bisa digantikan oleh HP ya Om….. ? Biar tidak terlalu repot membawa banyak barang kecil-kecil …🙂

  11. Hahhahahha,,, dari negara mana, saya tau, karena leluhur saya pun dari sana, dan memang mereka cermat sekaleee… *atau tepatnya pelit? hihihi…
    kalo mereka belanja tak cocok harga, paling pada lari ke toko sebelah Oom, hihihi…

    jadi inget kakekku yang selalu ngitung dagangan permen dengan kalkulator kesayangannya, hahahha…

    salam sayang Oom

  12. pernah sih menemukan sosok turis yang tak bisa lepas dari kalkulator
    tapi untuk menebak kayaknya gak yakin juga hehehe

    yang jelas klo saya ya pasti memilih mencongak di dalam hati saja om
    masih gengsi juga
    ato ya liat2 aja dulu sambil inget2 harganya
    nah pas pindah toko baru deh itung2 hehehe
    segitunya yah yang melancong dengan dana terbatas hahaha

  13. Menyimak jauh prilaku mereka, siapun dia.. mencerminkan, btapa management keuangannya yg sangat ber-hati2 akan mampu menghidupinya, sxpun tlh pensiun nanti. Justru pribadi demikian patut menjadi contoh, agar tak besar pasak dari tiang. Kaya tak harus banyak uang, banyak harta. Mhn maaf bila gak nyambung. Salam

  14. Kalau saya Om, berusaha menghitung diam2 dalam hati. Tapi boleh juga lah idenya bawa kalkulator kecil2 kemana-mana biar saat belanja lebih enak :p.
    Negara mana ya Om? India ?

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s