KUMIS


.

(Tulisan ini terinspirasi dari postingan Mas Dewo yang INI)

Ini tulisan tentang Kumis …
And by all means … again … it’s going to be a bit selfish …

To begin with …
Saya mulai dengan pertanyaan … Sejak kapan kumis saya tumbuh ?

Kumis saya mulai tumbuh ketika saya kelas 3 SMA, sekitar tahun 1982-an.   Sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas bentuknya,  ketika saya Kuliah di tahun pertama.  Tetapi lucunya Kumis saya ini Kumis PULISI

Kumis PULISI adalah sebutan yang diberikan kepada saya oleh teman-teman saya kala itu.  PULISI adalah singkatan dari … “NgumPUL di sISI”.

Ya … Memang kumis saya ini kok ndilalah … lebatnya cuma di bagian sisi saja … sementara bagian tengah di dekat lubang hidung … rada jarang.  (kebalikan dari Charlie Chaplin dan Hitler sepertinya).

Dan ketika saya di OSPEK, waktu masuk penjurusan bidang study di tahun kedua saya kuliah … Kami, para mahasiswa yunior diharuskan oleh Kakak Senior Panitia Ospek, untuk mencukur kumis PULISI kebanggaan saya tersebut.  (Ini salah satu persyaratan Ospek).  (Entah alasannya apa ?).

Setelah dicukur habis itu … apakah bentuk kumis saya berubah ?
Jawabannya TIDAK sodara-sodara.  Tetep kumis yang tumbuh adalah kumis jenis … PULISI … ngumpul di sisi.
Dan diperlukan waktu yang lumayan agak lama untuk membentuk kumis yang lebih merata lebatnya (tidak hanya di sisi saja ).  Dengan susah payah jadi juga kumis itu.  Walaupun bentuknya agak “nyrongot” (apa ya istilah bahasa Indonesianya nyrongot ?)(njegrik – kaku – kayak landak ?).

Sekarang seperti apa ?
Sampai sekarang saya masih tetap memelihara kumis.
Anehnya kumis saya ini duluan ber UBAN nya dibanding rambut saya.  Sudah ada banyak helai-helai rambut putih dan abu-abu menghiasi kumis saya.  Sementara tak ada satupun helai Rambut kepala saya yang beruban … (No Uban … but semakin botak ? … iya …!!!)

Pertanyaan selanjutnya adalah
Adakah niat untuk mencukur habis kumis saya ini ?
Jawabannya adalah … ADA … !

Tapiiiii …
Rencana ini tidak pernah disetujui oleh Bunda.
Bunda melarang saya untuk mencukur kumis …
Entah apa alasannya … !!!???

(ihik)

(Kira-kira pembaca ada yang tau alasannya ???)

.

.

43 thoughts on “KUMIS

  1. ya kali aja Bunda seneng ngeliat mas berkumis unik gitu.. hehe.. tapi coba deh mas kasi alasan ke Bunda knp mau nyukur, alasannya musti yg penting lhooo..
    suamiku tiap kali nyukur kumis selalu keliatan lebih lebih lebih guanteng.. ;p

    1. Ahaaa …
      Ya Pak Sugeng …
      Saya baru ingat … kumis pulisi ini adalah seperti kumisnya Tukul …
      ya seperti itu lah bentuk kumis saya dulu …
      hahahaha

      Salam saya Pak Sugeng

  2. kadang orang yang sudah biasa pakai kumis lalu dicukur malah jadi lucu tampangnya. Ada beberapa orang teman yang pernah coba, akhirnya dia sendiri yang memutuskan kembali untuk berkumis. Ngga pede katanya. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan?
    Mungkin bunda melarang karena nanti “sensasi”nya beda kalau ciuman😀

    EM

  3. pastinya bunda melarang Mas Enha cukur kumis.
    karena dgn kumisnya itulah Mas Enha kelihatan gantengnya ……..sumprit , ini bener lho…… 🙂
    dan, juga kelihatan lebih dewasa ,tampangnya Mas Enha khan imyut dan kyut gitzu weiceh……. hehehe…………😛
    (buru2 kaboooorrr……… )
    salam

  4. ..
    Kalo ditempat saya nyebutnya bukan pulisi, tapi kumis lele..😀
    ..
    Mungkin kumisnya si om gak pernah di samphoo jdnya cepet ubanan..
    Hi..hi..
    ..
    Kalo cukur kumis mungkin wibawanya berkurang om..
    ..
    ^_^

  5. Ha ha ha ha ha ha
    Kumis tukul yak
    Diwarnain aja lagi biar kembali hitam

    He he he he
    Mungkin klo di cukur jatohnya malah culun
    Coba dech foto inyiak yang ada kumisnya,, di tipex aj,,
    Jdi seolah2 ga ada fotonya
    Habis itu di posting
    Dan biarkan kami berkomentar
    He he he he

  6. Saya dulu juga berkumis, Om. Awal tahun 2000 saya cukur abis. Ya.. sebagai pertanda memasuki millenium baru, hehehe… Awalnya berasa aneh dengan diri sendiri, tapi lama kelamaan terbiasa juga. Malah, saya sekarang jauh lebih pede tanpa kumis, berasa muda terus, hahaha..

    Barangkali, bunda melarang Om mencukur kumis, karena takut Om kelihatan jauh lebih muda; bening-bening gemanaaaa gitu, hahaha…😀

  7. Sejak masih sekolah (SMA) kumis saya udah menyebar rata Om, tapi masih tipis.. kalo sekarang mah kalo gak dicukur.. bisa lebat banget..😀

    Mungkin Bunda ngelarang Om cukur kumis karena di mata Bunda Om itu seksi kali kalo pake kumis.. hehehehe..

  8. Mungkin Bunda terinspirasi sebuah lagu yang pernah populer dibawakan oleh Evie Tamala, ‘ kalau boleh jangan kau cukur kumismu, pintaku padamu. Aku mohon jangan kau cukur kumismu, ada gairahku…….’ hihihihii…..
    Kalau saya, nda ada yang melarang ataupun mendukung aku mencukur atau memelihara kumis ( kasihan sekali ya ) tapi saya sendiri tidak PeDe dengan kumis saya yang masih malu-malu dan hanya berani muncul di ujung saja. Takut numpang popularitas Tukul Arwana yang bertipe kumis sama, maka saya rajin membabat habis kumis, sebagai penggantinya saya membiarkan jenggot ( sebenarnya benar kata Tukul, lebih tepat disebut akar gigi, hihihi ). Kali ini, dengan mencukur kumis, terkadang saya merasa melihat wajah di cermin lebih muda dari yang sebenarnya. hahaha…dan dengan memelihara jenggot, saya merasa pede karena tanpa kumis, saya tetaplah terlihat sebagai laki-laki. hihihihi….

  9. Hahhahahah…. Kalo dicukur ntar om dikira om-om genit yang suka ngejar2 anak sma, hahahahahaha…lagian om, artinya istri om sayang sama om, kalo om cukur kumis, berapa banyak wanita yang akan terperanjat😀😀😀 bikin jealous kan!😛

  10. Kumis itu kalau di cukur langsung pemandangannya berubah, serasa lebih muda 25 tahun. Kalau kumis itu dicukur kemudian maen futsal dengan saya gak bakalan minder, gak bakalan ada yang nyangka om maen futsal, malah saya yang kalah imut dengan om trainer wakqkqkk
    Masalahnya : bunda gak mau om trainer jadi lebih muda 25 tahun.

  11. Emak saya juga melarang saya cukur kumis ” dadi elek” katanya.
    Kumis saya juga termasuk jenis ” Missonga “, kumis kosong ditengah.
    Saya pernah “dipaksa”cukur oleh pihak yang berwenang dua kali ketika mengikuti event besar di Parkir Timur Senayan.

    Laki-laki tak berkumis itu kelihatan sedep-mriyayeni. Makanya laki-laki yang baik tak pernah mau memelihara kumis. Namun hanya laki-laki terbaik dan macholah yang dengan gagahnya memelihara kumis.
    Demikian kultum kali ini.

    salam hangat dari Surabaya

  12. Hahahahaaa…
    Aduuuhhh ngakak tadi waktu tahu singkatan Pulisi itu…..
    Dulu teman2 cowok di kampus juga sering dapat julukan sesuai kelebatan kumisnya. Klo yang cuma ada di sudut saja, kami menyebutnya Kumis Lele. Trus kalau ada tapi sedikit sekali dan ga merata tumbuhnya kami menyebutnya, Kumis Genap Ganjil, alias pasti kiri sama kanan ga sama jumlahnya saking bisa dihitung. Hahaha..
    Dan untuk yang kumisnya tebal kayak pakde (maap ya pakde…) kita bilang itu Kumis Saringan Kopi ahahahaaa…… alias seperti sisa ampas kopi saking tebalknya hehehe…

  13. Kayaknya Ompakmas perlu eksperimen mencukur habis kumis. Lalu bagaimana pendapat Bunda saat melihat Ompakmas pertama kali tanpa kumis? Apakah pangling? Xixixi… pasti seru banget.

    Salam hangat dari Tangerang, Ompakmas.

any comments sodara-sodara ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s