Diposkan pada ARTIKEL

BODY SHAMING

Beberapa kali saya baca di media sosial tentang body shaming. 

Saya browsing artinya kurang lebih adalah: “perundungan verbal maupun tertulis, mengomentari fisik/bentuk tubuh orang lain dengan cara yang negatif” (mohon saya dikoreksi jika saya salah).

Hal ini saya hubungkan dengan percakapan basa-basi pergaulan untuk membuka pembicaraan di sementara masyarakat kita … .

“Adduuhh pipi kamu chubby banget, gemes deh”

“Waaahhh kamu gendutan ya sekarang”

“Wow kamu kok kurusan sih?”

“Jij iteman deh jeng, kebanyakan berjemur yak …”

“Kamu kelihatan tinggi deh”

“Kok sekarang kamu kayak lebih pendek gitu deh badannya?”

 

dan sebagainya … .

(aduuuhhh kamu gendutan deehhh …)(diperagakan oleh model)

.

Saya pribadi sekarang lebih hati-hati berkata sesuatu tentang fisik orang lain.  Karena jika lawan bicara kita itu sensitif. Tidak berkenan. Kita bisa dituduh melakukan “body shaming” (dan saya dengar ini ada pasal-pasal hukumnya). Yang artinya dia bisa menuntut kita.

Sebagian dari kita pasti akan berkata:

“Ah lebay banget sih lu … gitu aja marah. Inikan hal yang biasa … dst dst” .

Ya mungkin saja begitu.

Tapi tak ada salahnya kan kita berhati-hati, karena zamannya sudah berubah.  Sedikit-sedikit nuntut, sedikit-sedikit nuntut.  Nuntut kok sedikit-sedikit.  🙂 🙂 🙂  

Menurut Anda bagaimana? Mari sharing santun.

.

.

.

.

 

Diposkan pada ARTIKEL, PERTUNJUKAN HARI INI, RENUNGAN

LUBER

Ini tentang Pemilu

Dulu sekali ada sebuah akronim LUBER yang merupakan singkatan dari Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia.  Keempat hal tersebut adalah asas yang (seharusnya) dipakai oleh para pemangku kepentingan.  Termasuk para pemilih (saat itu)

Kita harus memilih Langsung.  Artinya pemberian suara kita itu tidak dapat diwakilkan.  Tidak bisa nitip (seperti absen kuliah).  Kita sendirilah yang datang langsung ke TPS dan melakukan pencoblosan.  Kecuali pemilih penyandang disabilitas tertentu atau karena terbaring sakit.

Umum artinya siapapun juga Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat sesuai undang-undang dan tidak sedang dalam kondisi dicabut hak pilihnya, berhak untuk memilih.  Di mana pun yang bersangkutan berada, baik di dalam maupun di luar negeri.  Di desa maupun di kota.

Bebas artinya pemilih bebas menentukan pilihannya sesuai hati nurani, analisa pikirannya atau pun aspirasi kehendak masing-masing.  Tanpa ada intimidasi atau paksaan dari pihak-pihak lain.

Dan yang terakhir adalah Rahasia.  Artinya setiap pemilih merahasiakan pilihannya.  Itu sebabnya disediakan bilik pencoblosan, yang memungkinkan pemilih untuk mencoblos tanpa diketahui oleh orang lain …

Tapi itu duluuuuu …

Bagaimana dengan beberapa pemilu yang terakhir dan juga pemilihan kepala daerah?

Rasanya asas yang terakhir yaitu rahasia sudah ditinggalkan! Pilihan seseorang sudah menjadi bukan rahasia lagi.

.

Apa pasal?
Rasanya di banyak platform media sosial kita dengan mudah mengetahui si A aspirasinya ke siapa, Si B pro siapa.  Si C idolanya siapa.  Si D pendukung garis keras Bapak anu.  Bahkan si E mau milih calon yang mana nanti.  Kita semua sudah tau.  TERBUKA.  Terang benderang.  Tanpa tedeng aling-aling.  Bahkan ironisnya, ini bisa jadi ajang perseteruan satu sama lain yang tidak berujung.  Saling maki, saling sindir, saling nyinyir. 

Jujur saja.  Saya agak kurang nyaman dengan situasi ini.  Namun apa dikata.  Sekali lagi zaman sudah berubah.  Setiap orang berhak meneriakkan aspirasinya sercara terbuka.  Termasuk dalam hal mencoblos calon pilihannya saat Pemilu.

Azas LUBER sepertinya sudah berganti jadi LUBE hahaha.  R nya sudah kedaluarsa.  Ngginding entah kemana.

Salam saya

.

 

Diposkan pada ARTIKEL, RELIGI

SCORE

Lebaran hari ke 3, 17 Juni 2018

Lama saya tidak menulis di blog ini.  Kali ini saya hanya ingin menulis singkat saja. 

Apa yang akan saya tulis?

Ya seperti biasa hal-hal remeh temeh.  Tentang kegiatan berbuka puasa saya di bulan Ramadan kemarin.

Di mana saja saya berbuka puasa?

28 kali di rumah

1 kali di luar rumah

Kesimpulan?
Saya itu orang rumahan,  Tidak suka berkeliaran di luar rumah.  Tak suka nongkrong sembarangan.

(halah bilang aja Om tidak ada kegiatan di luar rumah.)(ada sih … beberapa.  Termasuk salah satunya mengajar, itupun hanya setengah hari)

 

Bersama siapa saya berbuka puasa?

2 kali sendiri

27 kali bersama keluarga (baik sebagian maupun komplit)

0 kali bukber

Ya kemarin saya sama sekali tidak melakukan buka bersama di luar rumah.  Entah bersama teman, maupun relasi.  Sebetulnya ada beberapa kali undangan buka puasa bersama, yang diadakan oleh kawan sesama SMA maupun kawan-kawan yang lain.  Sekalian reuni katanya.  Namun entah mengapa semua undangan tersebut tidak saya datangi.  Entah karena lokasi yang jauh atau karena sebab-sebab yang lain.

teh

 

So jadi demikianlah …

Saya lebih banyak menghabiskan waktu berbuka puasa Ramadan saya di rumah saja 🙂

Saya tidak tau apakah ini baik atau tidak. 

Namun saya merasa tempat yang paling nyaman di dunia ini adalah di rumah …

Kegiatan berbuka puasa Anda bagaimana?

 

Salam saya

om-trainer1

.

 

 

Diposkan pada ARTIKEL, TRAVELLING

GERBANG TOL TERHARUM

Gerbang tol paling harum? Ah ada-ada saja nih.  Mana ada?

Ada! Ini tidak mengada-ada.  Ini benar.

Pernahkah anda memperhatikan, gerbang tol yang paling harum yang ada di Jakarta.  Saya rasa ini adalah yang paling harum juga di seluruh Indonesia.  Terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah adanya.

(Tol JORR dari Cijantung ke Pasar Minggu)

.

Bagi anda pengguna jalan tol, khususnya tol lingkar luar cobalah sekali-sekali anda masuk melalui pintu tol Gedong 2, dari arah Cijantung/Ciracas masuk tol ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.

img_20170919_090521.jpg

Ketika membayar tol, sempatkan untuk berhenti sebentar, lalu hiruplah udara di sana.

Aroma apa yang anda cium?

Anda boleh percaya boleh tidak, setiap saat terutama pagi sampai dengan sore hari, di pintu tol Gedong 2 tersebut selalu tercium aroma BAWANG GORENG.  Harum semerbak.

Ya … bau bawang goreng.  Bukan bau mawar, melati ataupun pinus.  Tapi sekali lagi bau yang teruar disana adalah bau bawang goreng.

Menurut penuturan salah seorang penjaga pintu tol yang bertugas di sana, sepertinya di perumahan dekat pintu tol tersebut ada industri kecil, pabrik pembuatan bawang goreng.  Mungkin bawang goreng ini dikemas lalu dijual kembali di supermarket atau untuk kebutuhan jualan pedagang-pedagang makanan.  Seperti penjual bakso, ketoprak, nasi goreng, gado-gado, nasi uduk dan sebagainya yang membutuhkan taburan bawang goreng sebagai pelengkap penyedap hidangannya.

Dan jika menilik kuatnya aroma yang tercium, rasanya sih industrinya ada lebih dari satu.  (Saya belum mengecek lagi pernyataan saya ini).

Jadi begitulah …

Anda ingin tau pintu tol beraroma paling harum di Jakarta (bahkan Indonesia, bahkan Dunia?)  berkendaralah ke arah Cijantung dan masuklah Jalan Tol Lingkkar Luar Jakarta (JORR) melalui pintu Gedong 2 ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.  Aroma bawang goreng yang menerbitkan air liur menanti di sana

(sumpah bawaannya pengen makan nasi goreng aja kalo abis lewat sana)(hahaha)

 

Salam saya

Diposkan pada ARTIKEL, MARKETING, NGEBLOG

WTS

i.e Wartawan Tanpa Surat kabar

Sekarang sedang marak (kembali) dibahas tentang “profesi” yang satu ini, wartawan tanpa surat kabar (WTS).  Beberapa pihak ada juga yang menyebut wartawan bodrex.  Kerjanya? Berburu event press conference (pres-con) dari satu venue ke venue yang lain.  Apa yang mereka cari?  Tentu saja “salam tempel”, selipan amplop uang, goody bag, sampel produk, makan siang atau paling apes kudapan snack dan segelas air mineral gratis.

Ada suatu masa di mana saya pernah punya pengalaman berinteraksi langsung dengan mereka.  Pada tahun 1992 sampai dengan 2002 saya pernah bekerja sebagai brand manager (pengelola merek) di sebuah perusahaan fast moving consumer goods multinasional.  Pekerjaan saya salah satunya adalah melakukan kegiatan “brand activation” (bahasa awamnya : promosi).  Mulai dari event sponsorship kejuaraan motocross se kotamadya sampai ke level Kejuaraan Dunia Bulutangkis Thomas dan Uber Cup.  Mulai dari pertunjukan musik tingkat kabupaten sampai dengan pameran lukisan seorang maestro, pelukis Jeihan.

Semua rangkaian kegiatan tersebut pada umumnya dimulai dengan aktifitas press conference.  Kita mengundang wartawan dan menginformasikan event yang akan berlangsung, dengan harapan wartawan mendapatkan berita, dan kita pun mendapatkan gaung publikasi melalui media mereka.

koran
sumber : clipart, mspowerpoint

Ketika mengadakan pres-con, saya sering sekali bertemu dengan beberapa oknum yang biasa disebut orang wartawan tanpa surat kabar ini.  Entah mereka tau dari mana, ujuk-ujuk mereka muncul begitu saja di event kita.  Biasanya mereka datang rombongan, berdua atau bertiga. Sebetulnya kami sudah mempunyai daftar nama wartawan resmi yang diundang beserta medianya masing-masing.  Kami tentu memilih wartawan yang berkompeten, mempunyai kredibilitas, “track record” tulisannya bagus dan berasal dari media massa yang resmi.

Namun apa yang terjadi?  Ada banyak kejadian di mana terdapat banyak oknum yang datang dan mengaku wartawan/reporter dari media A, koran B, jurnal C, bulettin D, harian E dan sebagainya.  Mereka tidak terdaftar di daftar hadir tetapi nekat memaksa masuk.  Biasanya mereka hanya datang, bergerombol di belakang, merokok, dan menunggu pembagian goody bag saja.  Jarang ada yang mau duduk tertib mendengarkan pemaparan pembicara.

Dalam melakukan pres-con, kami biasanya dibantu oleh media relation agency.  Media relation agency yang bonafide pasti punya petugas semacam “body guard” atau security yang mengamankan orang-orang tak diundang seperti ini.  Mereka juga sudah menyiapkan goody bag versi KW 2, dengan isi “ala kadarnya* untuk diberikan ke mereka.  Sekedar agar mereka bisa segera pergi dari event kami  (yang disebut *ala kadarnya itu adalah : isinya hanya beberapa lembar dokumen press-release, satu ball point dan/atau selembar stiker event)

Selain wartawan tanpa surat kabar, ada lagi wartawan atau reporter yang berasal dari media-media kecil.  Wartawan/reporter seperti ini, saya perhatikan semakin banyak bermunculan pada saat masa reformasi dulu.  Saya masih ingat ketika itu, banyak sekali media-media baru diluncurkan.  Euphoria “bicara” sedang tinggi-tingginya.  Ada banyak sekali media, entah apa-apalah namanya.  Untuk tipe yang ini, agak sulit untuk menolaknya, karena mereka mempunyai kartu tanda wartawan dari media masing-masing.  Harian ini, harian itu, Jurnal ini, jurnal itu. Media internal ini, media internal itu.  Dan yang asiknya ada beberapa media yang ternyata “kagetan”.  Hanya terbit sekali, dua kali, lalu mati.  Sementara kartu tanda pengenal/wartawan/ reporternya masih ada terus, dan tidak ditarik.  Mereka tetap beredar, berburu pres-con. 

Sungguh memerlukan seni persuasif tersendiri untuk menolak orang-orang semacam ini.  Tegas tapi tetap sopan.  Karena biasanya jika mereka ditolak mereka punya ancaman klasik yang selalu mereka katakan.  “Waahhh bagaimana ini panitianya tidak profesional, akan kami tulis di media kami nanti!”  Menakut-nakuti.  Tapi biasanya ini hanya gertak sambal saja.  Mau ditulis di mana hawong medianya saja sudah tidak ada.

koran
(sumber : clipart. ms powerpoint)

Apa masalah hanya sampai saat pres-con saya?

Oh tentu tidak! 

Ada beberapa kali saya “ditodong” secara halus.  Dua tiga hari setelah pres-con, mereka datang ke kantor, membawa bukti tayang artikelnya.  Bukti bahwa event kita sudah ditulis di medianya (yang jujur saja, saya juga baru lihat wujud medianya saat itu)  “Artikel eventnya udah terbit nih Pak, mana nih partisipasinya” begitu katanya.  “Partisipasi?”.  Ya mereka minta uang secara halus.

Yang lebih asik lagi, suatu kali ada seseorang yang mengaku wartawan foto yang sengaja datang ke kantor lalu menjual beberapa foto dokumentasi kita saat pres-con kemarin.  Persis seperti tukang foto yang menjajakan foto di suatu acara seminar atau wisuda.  Saya yakin dia cuma mengaku-ngaku sebagai wartawan foto saja.  Kalau sudah begini, saya hanya bisa memberikan uang ganti cetak ala kadarnya saja (tentu setelah berkeringat tawar menawar, karena ini memakai uang dari kocek pribadi)(plus tak lupa saya minta beking satpam kantor)(hahaha)

.

Apa mereka masih ada sekarang?

Saya tidak tau.  Tetapi rasanya kok sudah semakin sedikit.  Atau bahkan sudah tidak ada lagi.  Wartawan zaman sekarang saya perhatikan sudah semakin profesional dan proporsional.  Karena persaingan industri media semakin sulit dan ketat.  Ditambah lagi, peran media massa cetak konvensional saat ini telah sedikit demi sedikit diambil alih oleh media online dan juga … Blog!  Ini adalah era di mana untuk mempublikasikan suatu produk atau kegiatan, pilihan media yang paling intim, personal dan efektif, (plus efisien) adalah melalui blog.

.

Lalu apa pelajarannya bagi kita para Blogger?

Yang utama tentu saja kita harus menjaga kredibilitas diri dan blog kita.  Kita harus menulis dengan baik, profesional dan berintegritas.  Tidak bohong-tidak nyontek dan tidak jorok.

blog

Jika ada undangan meliput suatu acara, maka daftarkan diri anda melalui koordinator/media relation agency yang ditunjuk.  Dan kalau sudah terdaftar maka tepatilah undangan tersebut.  Jangan asal mendaftar tetapi karena ada urusan lain lalu membatalkan janji begitu saja tanpa berita.  Jika anda berhalangan datang, segera beri tau koordinator blogger/agency.  Jadilah undangan yang mempunyai harga diri, manner dan tau tata krama.

Dan kalau sudah hadir, jangan lupa untuk segera menulis kesan dan pengalaman pribadi kita selama mengikuti acara tersebut di blog masing-masing.  Dengan versi kita masing-masing tentunya.  Sekali lagi kredibilitas kita sebagai blogger harus terus kita jaga.  Agar kita tidak menjelma menjadi … “Blogger tanpa Blog”.  Hahaha … maksa yah?

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.