Diposkan pada ARTIKEL, TRAVELLING

GERBANG TOL TERHARUM

Gerbang tol paling harum? Ah ada-ada saja nih.  Mana ada?

Ada! Ini tidak mengada-ada.  Ini benar.

Pernahkah anda memperhatikan, gerbang tol yang paling harum yang ada di Jakarta.  Saya rasa ini adalah yang paling harum juga di seluruh Indonesia.  Terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah adanya.

(Tol JORR dari Cijantung ke Pasar Minggu)

.

Bagi anda pengguna jalan tol, khususnya tol lingkar luar cobalah sekali-sekali anda masuk melalui pintu tol Gedong 2, dari arah Cijantung/Ciracas masuk tol ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.

img_20170919_090521.jpg

Ketika membayar tol, sempatkan untuk berhenti sebentar, lalu hiruplah udara di sana.

Aroma apa yang anda cium?

Anda boleh percaya boleh tidak, setiap saat terutama pagi sampai dengan sore hari, di pintu tol Gedong 2 tersebut selalu tercium aroma BAWANG GORENG.  Harum semerbak.

Ya … bau bawang goreng.  Bukan bau mawar, melati ataupun pinus.  Tapi sekali lagi bau yang teruar disana adalah bau bawang goreng.

Menurut penuturan salah seorang penjaga pintu tol yang bertugas di sana, sepertinya di perumahan dekat pintu tol tersebut ada industri kecil, pabrik pembuatan bawang goreng.  Mungkin bawang goreng ini dikemas lalu dijual kembali di supermarket atau untuk kebutuhan jualan pedagang-pedagang makanan.  Seperti penjual bakso, ketoprak, nasi goreng, gado-gado, nasi uduk dan sebagainya yang membutuhkan taburan bawang goreng sebagai pelengkap penyedap hidangannya.

Dan jika menilik kuatnya aroma yang tercium, rasanya sih industrinya ada lebih dari satu.  (Saya belum mengecek lagi pernyataan saya ini).

Jadi begitulah …

Anda ingin tau pintu tol beraroma paling harum di Jakarta (bahkan Indonesia, bahkan Dunia?)  berkendaralah ke arah Cijantung dan masuklah Jalan Tol Lingkkar Luar Jakarta (JORR) melalui pintu Gedong 2 ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.  Aroma bawang goreng yang menerbitkan air liur menanti di sana

(sumpah bawaannya pengen makan nasi goreng aja kalo abis lewat sana)(hahaha)

 

Salam saya

Iklan
Diposkan pada TRAVELLING

TERMINAL 3 ULTIMATE

22 Agustus 2016

Saya mendapat tugas untuk mengelola sebuah in class training di Makassar, Sulawesi Selatan.  Ketika mendapatkan konfirmasi kode booking pemesanan tiket pesawat, personil travel memberi informasi tambahan pada saya sebagai berikut :

“Pak ini berangkatnya dari Terminal 3 Ultimate ya, bukan dari Terminal 2 F lagi !”

Aahh iya, saya baru ingat, seluruh penerbangan domestik Garuda, kalau tidak salah memang dipindahkan dari terminal 2 F ke terminal 3 Ultimate mulai tanggal 9 Agustus 2016.

Terakhir saya travelling dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, adalah saat saya pergi ke Medan tanggal 2 Agustus yang lalu, waktu itu masih melalui terminal 2 F.  Sehingga perjalanan ke Makassar tanggal 22 Agustus ini akan menjadi kali pertama saya menggunakan Terminal 3 Ultimate. 

Sebetulnya dulu sekali saya pernah beberapa kali ke Terminal 3, yaitu waktu saya traveling dengan Air Asia ke Yogyakarta, dan satu dua kali menjemput istri saya yang pulang dari bepergian.  Tapi itu Terminal 3 biasa, tidak pakai “ultimate”.  Saya baru tau bahwa ternyata ini dua gedung yang berbeda.  Terminal 3 dan Terminal 3 Ultimate.

Sengaja saya berangkat lebih awal dari biasanya, agar saya punya waktu untuk mengenali situasi dan tata letak terminal yang baru tersebut.  Secara sepintas, ketika saya tiba di area keberangkatan, penampakan fisik bangunannya sangat mirip dengan beberapa airport di luar negeri yang pernah saya kunjungi, khususnya airport Hongkong.  Dan waktu masuk ke dalam area check in pun saya melihat lay out ruangan yang kurang lebih sama dengan airport di HK.

Terminal3

Di beberapa sudut masih terlihat pekerja-pekerja yang mengerjakan penyelesaian dan perbaikan gedung.  Kios-kios makanan masih belum lengkap.  ATM pun hanya ada beberapa Bank yang buka.  Lokasinya pun masih terbatas (hanya satu tempat)(?).

Jujur saya kerepotan ketika ternyata paket internet di gadget saya mati, karena saya terlambat membayar abonemen telpon bulanan.  Saya tidak punya phone banking.  Mau ke ATM jauh sekali.  Tanya petugas, mereka bilang ATM di sekitar sini hanya ada di satu tempat saja, yaitu di area check in.  Sementara saya sudah berada di area ruang tunggu boarding pesawat.  Mau balik ke area check in, waktu sudah mepet.  Lagi pula terus terang saya rada kecut membayangkan kembali kerepotan prosedur body scanning yang berlaku saat ini.  (sekarang modelnya semua mesti dilepas)(Jaket, ballpont, kunci, jam tangan bahkan sabuk celana dan safety shoes).  Akhirnya saya baru bisa ke ATM ketika sudah mendarat di tempat tujuan, Airport Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Saat pulang dari Makassar, tanggal 24 Agustus saya pun mendarat di Terminal 3 Ultimate.  Menurut saya area kedatangan ini masih lebih belum siap dibanding area keberangkatan.  Banyak dekorasi yang masih kosong dan satu dua sudut masih bersifat darurat.  Meskipun demikian secara fungsional area kedatangan ini sudah bisa melayani penumpang.  Area pengambilan bagasinya pun sudah baik dan lancar.  WC nya juga cukup bersih.

20160824_115621

Ya, jujur saja Terminal 3 Ultimate ini memang masih belum siap sempurna 100%.  Meskipun demikian saya sangat berharap terminal ini bisa melayani para (calon) penumpang dengan baik.  Fasilitas umum bisa berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya.  Dan kita semua sebagai penumpang, pengantar atau penjemput bisa menjaga terminal tersebut dengan sebaik-baiknya.  Caranya bagaimana ? Sederhana saja, yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan !

Setuju ?

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

Diposkan pada TRAVELLING

BANDARA KUALANAMU

Bandara Kualanamu adalah bandar udara internasional yang relatif baru di Sumatera Utara.  Bandara ini diresmikan pada tanggal 25 Juli 2013.  Jarak dari Kualanamu ke pusat kota Medan kurang lebih 40 km.  Bandara Kualanamu ini menggantikan bandara Polonia yang sudah relatif tua.

Menurut catatan Wikipedia, Bandara Kualanamu ini adalah bandara terbesar ke dua setelah Soekarno Hatta di Cengkareng.

Ada suatu masa, di mana saya sering bepergian ke Medan.  Tapi itu dulu, ketika bandar udaranya masih di Polonia.  Ketika bandaranya beralih ke Kualanamu saya belum pernah ke Medan lagi.

Sampai akhirnya …

1 Agustus 2016
Saya mendapat tugas untuk mengurus kegiatan training di Medan.  Alhamdulillah saya bisa juga merasakan suasana bandara yang banyak dibicarakan orang ini.  Terutama cerita tentang bagusnya Kereta Api – Railink yang menghubungkan Bandara Kualanamu dengan pusat kota Medan.

Dari awal keberangkatan saya sudah berniat untuk mencoba kehebatan kereta ini.  Akhirnya terlaksana juga.  Saya bisa naik kereta api kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini.

Menurut pengetahuan saya ini adalah kereta api pertama yang memadu moda transportasi udara dan darat.  Kereta api bandara pertama di Indonesia.  Ketika saya naik kereta ini, terasa bukan di Indonesia.  Suasananya mirip di Kuala Lumpur atau Hongkong (yang juga punya kereta api serupa).

Stasiun kereta api tersebut letaknya tepat bersebelahan dengan Bandara.  Kita hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dengan berjalan kaki untuk menuju stasiun kereta tersebut.

Dan ini adalah pemandangan di Bandara saat turun dari pesawat sampai ke stasiun kereta

20160801_104542

20160803_093722
gantungkan cita-cita setinggi langit … gantungkan koper setinggi langit-langit

BERSIH !  itu kata pertama yang tertancap di benak saya ketika naik kereta api ini.

2016-08-02 20.07.24
koridor platform kereta yang bersih
20160801_110137
tempat bagasi di dalam kereta

Nyaman, tidak berisik.  Jarak Bandara Kualanamu ke Stesen Medan ditempuh hanya dalam waktu 30 – 40 menit saja.

Sampai di stesen Medan (ya mereka menyebut Stasiun itu Stesen) kita juga disuguhi beberapa spot yang bagus dan lucu untuk berpoto-poto.

20160801_115746
stasiun kereta di Medan
ada Philadelphia, ada Gombong

Jujur saya kagum dengan kenyamanan dan kebersihan dari sarana dan prasarana tersebut, bandara, stasiun kereta dan kereta apinya itu sendiri.  Semoga bisa kita pelihara dengan baik aset yang bagus ini.

Maju terus Kualanamu
Maju terus Medan !

Salam saya

om-trainer1

Diposkan pada ARTIKEL, TRAVELLING

PALEMBANG

9 Juni 2016

Saya melakukan perjalanan dinas ke Palembang

(Lho ini kan biasa banget Om ?)

Ya … ini hal yang sangat biasa, bagi orang lain.  Namun kali ini jadi luar biasa bagi saya.

Ini adalah perjalanan dinas saya yang pertama di kantor yang baru.

Sebetulnya dulu dari tahun 1990 sampai dengan 2013, perjalanan dinas adalah suatu hal yang sangat biasa saya lakukan.  (Termasuk beberapa kali perjalanan dinas ke Palembang).  Sebagai karyawan di bagian marketing, di perusahaan fast moving consumer goods, perjalanan dinas tentu adalah suatu keharusan.  Turun ke pasar.  Ini penting kita lakukan agar kita mengenal pasar dan konsumen di seluruh Indonesia.  Apalagi ketika saya menjabat sebagai trainer, saya dituntut untuk selalu melakukan safari, keliling regional-regional untuk melakukan training.

Namun semenjak Februari 2013 sampai dengan Mei 2016, saat saya berhenti bekerja formal, saya tidak pernah lagi melakukan perjalanan dinas.  Saya jadi tidak pernah “terbang” lagi.  Jujur saya merindukan saat-saat bangun pagi mengejar pesawat pertama.  Saya merindukan saat nonton film Korea atau main game sudoku di cabin pesawat.  Saya rindu mendengarkan siaran radio dengan bahasa “slank” lokal di kota-kota tujuan saya.

Saya rindu memperhatikan pengunjung hotel yang sering kalap mengambil sarapan sesuka hati, sebanyak mungkin tapi tidak dihabiskan dan bersisa banyak di piring. 

Saya pun juga kangen suasana menunggu pesawat di ruang tunggu airport.  Kangen situasi “first night syndrome” tak bisa tidur di saat malam pertama di Hotel. 

Saya kehilangan momen-momen asik itu.

Sampai akhirnya, setelah tiga tahun tidak terbang, saya pada tanggal 9 Juni 2016 kemarin melakukan perjalanan dinas ke Palembang.  Ya Palembang adalah kota pertama yang saya kunjungi saat saya mulai aktif bekerja kantoran kembali.

Dan anda tentu sudah bisa menduga.  Saya kembali menikmati rempongnya mengejar pesawat pertama.  Saya kembali menikmati main sudoku di cabin pesawat.  (Sengaja saya tidak nonton film Korea, karena ini penerbangan pendek, cuma satu jam.  Takut nanti “nanggung” film belum selesai, pesawat sudah mendarat)(Bisa nggak tidur saya, karena penasaran )(hahaha)

And yes saya pun menemukan pemandangan khas di restoran hotel, saat sahur.  Rupanya sindroma kalap orang rakus mengambil makanan sebanyak mungkin saat buffet di resto hotel, masih berlangsung juga sampai sekarang  hehehe …

warning

Dan … last but not least …

Meskipun ini bukan kunjungan saya yang pertama kali ke Palembang namun rasanya kurang afdol kalau belum ke sini …

ampera
(jembatan kebanggaan “Wong Plembang”)

Jadi demikianlah …

Perjalanan dinas saya yang pertama, di kantor saya yang baru.  Dijadwalkan akan ada perjalanan-perjalanan dinas yang berikutnya ke beberapa kota di Indonesia yang lain.

Alhamdulillah …

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

Diposkan pada TRAVELLING

EXTENDED ID CARD

Jika kita mengikuti sebuah konferensi, pertemuan, seminar atau perhelatan lainnya yang melibatkan banyak sekali peserta, biasanya kita diberikan sebuah ID Card oleh panitia.

ID card tersebut berupa kalung pita (atau biasa disebut lanyard) yang di ujungnya ada secarik kertas karton yang berisi nama, dan organisasi tempat kita bekerja.  Kadang ada pula yang dilengkapi dengan pas foto.  Hal ini tentu untuk memudahkan panitia untuk mengidentifikasi siapa saja peserta yang ikut dalam konferensi tersebut.

Dulu saya sering sekali mengikuti konferensi.  Paling tidak setahun dua kali saya pasti diundang untuk hadir dalam pertemuan tahunan departemen marketing dan review tahunan perusahaan.  Tempatnya bisa dimana saja, entah di dalam maupun di luar negeri.   Konferensi ini juga sekaligus menjadi ajang untuk wisata, waktu untuk refreshing para karyawan.

Tentu saja untuk memudahkan panitia kita semua dibagikan ID Card.  Nah saya perhatikan, empat lima tahun terakhir, panitia melakukan terobosan-terobosan menarik yang berkaitan dengan pembuatan ID Card ini.  Panitia dengan kreatifnya menambah fungsi ID Card tersebut dengan fungsi-fungsi yang lain.  An Extended ID Card.  ID Card yang fungsinya bukan untuk identitas saja, tetapi bisa juga ditambahkan fungsi yang lain.

Kalung ID Card yang diberikan kepada kita, berbentuk tumpukan atau kumpulan kartu yang diikat menjadi satu.  Halaman pertama paling depan tentu saja adalah ID Card itu sendiri. Memuat nama kita plus departemen atau organisasi tempat kita bernaung kadang disertai pula dengan foto.  Mari kita lihat gambar sederhana berikut …

ID Card

Kartu kedua dan selanjutnya sangat menarik untuk disimak. Ada berbagai macam informasi yang mereka sertakan disana. Berikut adalah hal-hal / informasi yang biasa mereka cantumkan di kartu-kartu yang menyertai ID Card kita.

  1. Daftar acara konferensi
  2. Rooming List : daftar peserta berikut nomer kamar menginapnya
  3. Tata tertib dan ketentuan akomodasi hotel
  4. Daftar tempat wisata yang bisa dikunjungi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  5. Daftar tempat kuliner yang bisa kita cicipi di kota tempat kita mengadakan konferensi
  6. Daftar tempat membeli oleh-oleh dan cindera mata khas setempat
  7. Peta kota
  8. Nomer telpon taxi lokal dan nomer telpon penting setempat
  9. Jadwal antar jemput ke/dari Airport atau terminal … dsb-dsb

Dulu biasanya panitia mengeluarkan buku panduan untuk memuat informasi tersebut. Kini mereka tidak lagi membuatnya.  Panitia mengganti buku panduan tersebut, dengan mencetak kartu-kartu dan menjalinnya menjadi satu di dalam lanyard kalung ID Card para peserta.  Semakin banyak info yang mereka sertakan … akan semakin tebal ID Card yang akan dibagikan kepada peserta.

.

Mengapa mereka melakukan hal seperti ini ?

Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, panitia selalu saja direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan para peserta konferensi.  Ada saja yang ditanyakan, pertanyaan remeh-temeh. Padahal semua informasinya sudah ada di buku panduan.  Mereka biasanya malas membaca atau membawa. Menyebalkan bukan ?

Nah … dengan dikalungkannya ID Card berikut informasi-informasi yang dibutuhkan, para peserta jadi tidak bisa lagi semena-mena merepotkan panitia.  Kalung ID Card (berikut kartu-kartu info lain yang menyertainya) adalah hal wajib yang harus selalu dikenakan selama konferensi berlangsung.  Mereka sudah bisa melihat sendiri informasi yang mereka butuhkan di kalung ID Card masing-masing.  Panitia tinggal bilang : “… lihat di kalung !” (rasain luh …)

Jadi …

Jika anda jadi panitia konferensi. Ingin tugas anda ringan dan tidak direpotkan oleh telpon krang-kring dari para peserta ? Pertanyaan remeh-temeh yang bikin bete ? Bikin aja ID Card yang sudah ditambah fungsi-fungsinya ini … An Extended ID Card.

Dijamin anda akan tersenyum senang !

Dan andapun bisa ikut menikmati wisata di tempat konferensi tersebut tanpa diganggu telpon nggak penting dari para peserta yang cuma pengen nanya tempat beli sandal jogger dimana … (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.