Diposkan pada TRAVELLING

MRT

Mass Rapid Transit.  Moda Raya Terpadu

Ya, ini postingan telat banget.  Hahaha.

Jujur saya itu senang sekali dengan keberadaan moda transportasi yang satu ini.  Cepat, on time, bersih, nyaman.

Frekuensi saya menggunakan mobil pribadi (apa lagi taksi) menjadi relatif lebih kecil.  Saya jadi lebih senang memakai kendaraan umum.

Jika saya bepergian memberikan training di daerah Sudirman, Kuningan dan sekitarnya, saya selalu menggunakan MRT.  Dari rumah pakai OJOL ke stasiun MRT Lebak Bulus.  Dari sana saya akan cari pemberhentian yang terdekat dengan lokasi training saya.  Lalu saya gunakan OJOL kembali untuk mencapai tempat tersebut.  Save time.  Save (a lot of) money.

Pun jika kami (saya dan istri saya) mau belanja ke Blok M, Thamrin City dan sebagainya, kami selalu menggunakan MRT.

Satu lagi hal yang saya suka adalah mengeksplorasi stasiun-stasiun pemberhentian MRT.  Ya norak nggak abis-abis.  Hahaha.  Saya bertekad untuk mencoba berhenti di semua stasiun MRT yang ada.

Mari saya urutkan Stasiun MRT yang pernah saya kunjungi :

LEBAK BULUS : Ini paling sering karena starting point saya selalu dari sini
FATMAWATI : Sudah
CIPETE : Belum
HAJI NAWI : Sudah (kalau ingin ke ITC Fatmawati)
BLOK A : Sudah, salah satu konsultan training rekanan saya ada di sekitar sini
BLOK M : Sering, Kami suka belanja ke Blok M.
ASEAN : Belum
SENAYAN : Belum
ISTORA : Sudah (lokasi kantor lama saya dulu dekat sini)
BENHILL : Sudah (Ini biasanya kalau akan menuju ke kawasan Mega Kuningan)
SETIABUDI : Sudah (Turun di sini kalau akan memberikan training di Rasuna Said Kuningan)
DUKUH ATAS : Sudah (Stasiun ini terhubung dengan moda transportasi yang lain)(KRL, Kereta Bandara dan Trans Jakarta)
BUNDARAN HI : Ini juga paling sering (ke Thamrin City atau ke Stasiun Gambir)

 

Ini salah dua fotonya

Jadi demikian …
Moda transportasi yang satu ini bagi saya pribadi sangat membantu aktifitas kami

Sudah pernah coba MRT?

Salam Saya

.

.

.

.

Diposkan pada ETIKA, RENUNGAN, TRAVELLING

ONLINE SHOPPING

Berbelanja dalam jaringan.

Bertransaksi dalam jaringan

Untuk urusan yang satu ini saya adalah orang yang dulunya sangat konservatif.  Saya pernah begitu merasa ragu-ragu dan takut untuk melakukan transaksi di dalam jaringan.  Online transaction.

Anda boleh percaya boleh tidak, saya baru mengaktifkan fasilitas mobile banking saya, setelah (hampir) semua kawan-kawan/orang di sekitar saya menggunakannya.  Saya paling belakang menggunakannya.  Laggard.  Demikian juga halnya dengan fasilitas bertransaksi dalam jaringan lainnya.

Entah apa yang menyebabkan saya begitu terlambat mengadopsi perkembangan teknologi ini.  Mungkin rasa ketidak percayaan saya pada keamanan akun yang menyebabkan saya enggan bertransaksi lewat jaringan.

Namun zaman menuntut saya untuk berubah.  Saya “dipaksa” (setengah digoda juga) oleh keadaan untuk berani menggunakan kemajuan teknologi informasi ini.  Seingat saya, ini diawali dengan mulai beraninya saya membuka mobile banking.  Dulu awalnya hanya untuk sekedar memonitor saldo dan mutasi saja. 

Lalu berkembang ke pembelian tiket kereta api.  Saya adalah seorang yang sangat suka bepergian menggunakan kereta api.  Dan saya memberanikan diri untuk membeli tiket melalui sebuah aplikasi travelling.  Mulai saat itu persepsi saya terhadap transaksi online mulai sedikit berubah … eh kok gampang ya? eh kok Alhamdulillah aman ya? eh kok praktis banget ya? dan seribu satu ah eh ah eh lainnya …

Dan akhirnya sedikit demi sedikit saya mulai sporadis (tepatnya norak) aktif bertransaksi dan berbelanja lewat online.  Kalap (hahaha).  Di gawai telpon genggam pintar saya terinstall beberapa aplikasi bertransaksi dalam jaringan.

Sebut saja portal toko belanja semacam Lazada, Matahari, Shopee, Bukalapak, dan Tokopedia ada semua.  Belum lagi mobile banking dari dua bank yang saya gunakan, BCA dan Mandiri.

Aplikasi untuk kemudahan perjalanan pun ada.  Traveloka, KAI Access, Tiketdotcom, Gojek dan Grab.

Ada juga aplikasi dompet-dompet elektronik (yang sumpah menguras dompet asli)(hahaha).  Ada Dana, OVO, MyValue.  Daannn … opkos … aplikasi tiket nonton dooonnnggg … m-Tix Cinema 21.

Ya … ini lagi masa-masanya norak banget … beli martabak pun pake online.  Kadang ada promo nya lho cyiiinnntt.

.

Tinggal sekarang masalahnya adalah bagaimana saya mengerem nafsu untuk bela beli ini itu, barang-barang yang, jika dipikirkan kembali, sesungguhnya kurang saya butuhkan.  Semoga ke norak-an ini segera berakhir.

Tolong kata-katai saya sehingga euphoria saya ini segera berhenti … dan tidak norak lagi … hahaha

Salam saya

 

Diposkan pada ARTIKEL, TRAVELLING

GERBANG TOL TERHARUM

Gerbang tol paling harum? Ah ada-ada saja nih.  Mana ada?

Ada! Ini tidak mengada-ada.  Ini benar.

Pernahkah anda memperhatikan, gerbang tol yang paling harum yang ada di Jakarta.  Saya rasa ini adalah yang paling harum juga di seluruh Indonesia.  Terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah adanya.

(Tol JORR dari Cijantung ke Pasar Minggu)

.

Bagi anda pengguna jalan tol, khususnya tol lingkar luar cobalah sekali-sekali anda masuk melalui pintu tol Gedong 2, dari arah Cijantung/Ciracas masuk tol ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.

img_20170919_090521.jpg

Ketika membayar tol, sempatkan untuk berhenti sebentar, lalu hiruplah udara di sana.

Aroma apa yang anda cium?

Anda boleh percaya boleh tidak, setiap saat terutama pagi sampai dengan sore hari, di pintu tol Gedong 2 tersebut selalu tercium aroma BAWANG GORENG.  Harum semerbak.

Ya … bau bawang goreng.  Bukan bau mawar, melati ataupun pinus.  Tapi sekali lagi bau yang teruar disana adalah bau bawang goreng.

Menurut penuturan salah seorang penjaga pintu tol yang bertugas di sana, sepertinya di perumahan dekat pintu tol tersebut ada industri kecil, pabrik pembuatan bawang goreng.  Mungkin bawang goreng ini dikemas lalu dijual kembali di supermarket atau untuk kebutuhan jualan pedagang-pedagang makanan.  Seperti penjual bakso, ketoprak, nasi goreng, gado-gado, nasi uduk dan sebagainya yang membutuhkan taburan bawang goreng sebagai pelengkap penyedap hidangannya.

Dan jika menilik kuatnya aroma yang tercium, rasanya sih industrinya ada lebih dari satu.  (Saya belum mengecek lagi pernyataan saya ini).

Jadi begitulah …

Anda ingin tau pintu tol beraroma paling harum di Jakarta (bahkan Indonesia, bahkan Dunia?)  berkendaralah ke arah Cijantung dan masuklah Jalan Tol Lingkkar Luar Jakarta (JORR) melalui pintu Gedong 2 ke arah Pasar Minggu/Pondok Indah.  Aroma bawang goreng yang menerbitkan air liur menanti di sana

(sumpah bawaannya pengen makan nasi goreng aja kalo abis lewat sana)(hahaha)

 

Salam saya

Diposkan pada TRAVELLING

TERMINAL 3 ULTIMATE

22 Agustus 2016

Saya mendapat tugas untuk mengelola sebuah in class training di Makassar, Sulawesi Selatan.  Ketika mendapatkan konfirmasi kode booking pemesanan tiket pesawat, personil travel memberi informasi tambahan pada saya sebagai berikut :

“Pak ini berangkatnya dari Terminal 3 Ultimate ya, bukan dari Terminal 2 F lagi !”

Aahh iya, saya baru ingat, seluruh penerbangan domestik Garuda, kalau tidak salah memang dipindahkan dari terminal 2 F ke terminal 3 Ultimate mulai tanggal 9 Agustus 2016.

Terakhir saya travelling dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia, adalah saat saya pergi ke Medan tanggal 2 Agustus yang lalu, waktu itu masih melalui terminal 2 F.  Sehingga perjalanan ke Makassar tanggal 22 Agustus ini akan menjadi kali pertama saya menggunakan Terminal 3 Ultimate. 

Sebetulnya dulu sekali saya pernah beberapa kali ke Terminal 3, yaitu waktu saya traveling dengan Air Asia ke Yogyakarta, dan satu dua kali menjemput istri saya yang pulang dari bepergian.  Tapi itu Terminal 3 biasa, tidak pakai “ultimate”.  Saya baru tau bahwa ternyata ini dua gedung yang berbeda.  Terminal 3 dan Terminal 3 Ultimate.

Sengaja saya berangkat lebih awal dari biasanya, agar saya punya waktu untuk mengenali situasi dan tata letak terminal yang baru tersebut.  Secara sepintas, ketika saya tiba di area keberangkatan, penampakan fisik bangunannya sangat mirip dengan beberapa airport di luar negeri yang pernah saya kunjungi, khususnya airport Hongkong.  Dan waktu masuk ke dalam area check in pun saya melihat lay out ruangan yang kurang lebih sama dengan airport di HK.

Terminal3

Di beberapa sudut masih terlihat pekerja-pekerja yang mengerjakan penyelesaian dan perbaikan gedung.  Kios-kios makanan masih belum lengkap.  ATM pun hanya ada beberapa Bank yang buka.  Lokasinya pun masih terbatas (hanya satu tempat)(?).

Jujur saya kerepotan ketika ternyata paket internet di gadget saya mati, karena saya terlambat membayar abonemen telpon bulanan.  Saya tidak punya phone banking.  Mau ke ATM jauh sekali.  Tanya petugas, mereka bilang ATM di sekitar sini hanya ada di satu tempat saja, yaitu di area check in.  Sementara saya sudah berada di area ruang tunggu boarding pesawat.  Mau balik ke area check in, waktu sudah mepet.  Lagi pula terus terang saya rada kecut membayangkan kembali kerepotan prosedur body scanning yang berlaku saat ini.  (sekarang modelnya semua mesti dilepas)(Jaket, ballpont, kunci, jam tangan bahkan sabuk celana dan safety shoes).  Akhirnya saya baru bisa ke ATM ketika sudah mendarat di tempat tujuan, Airport Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Saat pulang dari Makassar, tanggal 24 Agustus saya pun mendarat di Terminal 3 Ultimate.  Menurut saya area kedatangan ini masih lebih belum siap dibanding area keberangkatan.  Banyak dekorasi yang masih kosong dan satu dua sudut masih bersifat darurat.  Meskipun demikian secara fungsional area kedatangan ini sudah bisa melayani penumpang.  Area pengambilan bagasinya pun sudah baik dan lancar.  WC nya juga cukup bersih.

20160824_115621

Ya, jujur saja Terminal 3 Ultimate ini memang masih belum siap sempurna 100%.  Meskipun demikian saya sangat berharap terminal ini bisa melayani para (calon) penumpang dengan baik.  Fasilitas umum bisa berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya.  Dan kita semua sebagai penumpang, pengantar atau penjemput bisa menjaga terminal tersebut dengan sebaik-baiknya.  Caranya bagaimana ? Sederhana saja, yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan !

Setuju ?

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

Diposkan pada TRAVELLING

BANDARA KUALANAMU

Bandara Kualanamu adalah bandar udara internasional yang relatif baru di Sumatera Utara.  Bandara ini diresmikan pada tanggal 25 Juli 2013.  Jarak dari Kualanamu ke pusat kota Medan kurang lebih 40 km.  Bandara Kualanamu ini menggantikan bandara Polonia yang sudah relatif tua.

Menurut catatan Wikipedia, Bandara Kualanamu ini adalah bandara terbesar ke dua setelah Soekarno Hatta di Cengkareng.

Ada suatu masa, di mana saya sering bepergian ke Medan.  Tapi itu dulu, ketika bandar udaranya masih di Polonia.  Ketika bandaranya beralih ke Kualanamu saya belum pernah ke Medan lagi.

Sampai akhirnya …

1 Agustus 2016
Saya mendapat tugas untuk mengurus kegiatan training di Medan.  Alhamdulillah saya bisa juga merasakan suasana bandara yang banyak dibicarakan orang ini.  Terutama cerita tentang bagusnya Kereta Api – Railink yang menghubungkan Bandara Kualanamu dengan pusat kota Medan.

Dari awal keberangkatan saya sudah berniat untuk mencoba kehebatan kereta ini.  Akhirnya terlaksana juga.  Saya bisa naik kereta api kebanggaan masyarakat Sumatera Utara ini.

Menurut pengetahuan saya ini adalah kereta api pertama yang memadu moda transportasi udara dan darat.  Kereta api bandara pertama di Indonesia.  Ketika saya naik kereta ini, terasa bukan di Indonesia.  Suasananya mirip di Kuala Lumpur atau Hongkong (yang juga punya kereta api serupa).

Stasiun kereta api tersebut letaknya tepat bersebelahan dengan Bandara.  Kita hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dengan berjalan kaki untuk menuju stasiun kereta tersebut.

Dan ini adalah pemandangan di Bandara saat turun dari pesawat sampai ke stasiun kereta

20160801_104542

20160803_093722
gantungkan cita-cita setinggi langit … gantungkan koper setinggi langit-langit

BERSIH !  itu kata pertama yang tertancap di benak saya ketika naik kereta api ini.

2016-08-02 20.07.24
koridor platform kereta yang bersih
20160801_110137
tempat bagasi di dalam kereta

Nyaman, tidak berisik.  Jarak Bandara Kualanamu ke Stesen Medan ditempuh hanya dalam waktu 30 – 40 menit saja.

Sampai di stesen Medan (ya mereka menyebut Stasiun itu Stesen) kita juga disuguhi beberapa spot yang bagus dan lucu untuk berpoto-poto.

20160801_115746
stasiun kereta di Medan
ada Philadelphia, ada Gombong

Jujur saya kagum dengan kenyamanan dan kebersihan dari sarana dan prasarana tersebut, bandara, stasiun kereta dan kereta apinya itu sendiri.  Semoga bisa kita pelihara dengan baik aset yang bagus ini.

Maju terus Kualanamu
Maju terus Medan !

Salam saya

om-trainer1