RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (2)

Kemarin saya sudah membahas mengenai salah satu faktor untuk membuat kita sukses menggelar lomba di blog, yaitu pemilihan topik-tema. Sebaiknya topik-tema yang dipilih itu bersifat umum, dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca kita yang lebih luas.

Kini kita akan membicarakan mengenai faktor yang kedua, yang tidak kalah pentingnya yaitu “Syarat dan Ketentuan”

syatun

Tentang “Syarat dan Ketentuan”.

Syatun.  Saya pinjam istilah Pak De Cholik, supaya tidak terlalu panjang mengetiknya kita singkat saja “syatun” (Syarat dan Ketentuan)

Bicara masalah syatun, maka ini adalah bagaikan sebuah dilema.  Di satu sisi kita ingin calon peserta mematuhi apa yang telah ditentukan, link back hidup, follow ini-itu, like ini-itu, mention ini-itu, hash tag ini-itu dan sebagainya.  Kita (dan/atau sponsor kita) sudah mengeluarkan dana untuk hadiah, meluangkan waktu untuk memeriksa postingan, serta menyediakan effort untuk membaca, tentu ada tujuannya kan ? Tentu ada kompensasi yang diharapkan kan ?

Muaranya adalah agar traffic yang menuju blog/laman/fanpage/social media kita menjadi meningkat. Awareness publik terhadap apa yang sedang kita promosikan menjadi meningkat.  Frekuensi dapet, hit dapet, reach dapet. Exposure dapet. (Modul basic Integrated Marketing Communication nih …) :) :) :)

Namun di sisi lain, kita juga harus (kembali) melihat perilaku, kebutuhan dan keinginan para khalayak pembaca kita.  Pada umumnya, para pembaca sebagai makhluk ekonomi, pasti menginginkan hasil yang besar dengan korbanan yang sekecil-kecilnya.  Hadiah yang besar dengan usaha yang se minim-minimnya.  Ikut lomba dengan syarat dan ketentuan yang semudah-mudahnya.  Tidak merepotkan.

Jika sudah demikian kita dituntut untuk mencari jalan tengah yang bijaksana.  Bagaimana caranya mendapatkan linkback, mention, follower, exposure yang besar.  Tanpa merepotkan pembaca.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Mudahkan pembaca untuk melakukan apa yang anda minta.
    Salah satu cara yang paling jitu adalah sediakan link-linknya.  Sehingga pembaca tinggal klik saja langsung menuju fan page, twitter, halaman, atau landing page manapun yang anda maksud. Buatlah sepraktis-praktisnya.   Kalo perlu pembaca tinggal copy paste saja.  Contohnya seperti kalimat “Postingan ini diikut sertakan pada lomba cerewet di Blog Nanang bla-bla-bla” … kalau bisa kalimat tersebut sudah diberi link hidup oleh kita … sehingga sekali lagi … pembaca cuma tinggal copy paste doang. 
  2. Berikan poin-poin syatun secara terstruktur.  Satu, dua, tiga dan seterusnya.  Kalimatnya pun pendek-pendek saja.
    • Syatun biasanya hanya berisi :
      • Siapa saja yang boleh ikut serta :
      • Bagaimana cara ikutnya :
        • Content :
          • Menulis tentang apa ?
          • Bentuknya apa ?
          • Berapa panjang ?
        • Cosmetic :
          • Banner
          • Syarat Link, Follow, Like, Metion, Hash Tag, dsb
          • Kalimat keikut-sertaan
          • Contoh cara mendaftar

Secara umum, ya hanya itu syatun yang biasa saya temui.

Ada beberapa blogger penyelenggara GA yang menambahkan satu poin syatun lagi, yaitu : “Peserta berkewajiban untuk aktif berpromosi atau rajin menginformasikan lomba ini kepada teman-temannya di social media”.

Saran saya, jika waktu anda terbatas, anda harus berfikir dua-tiga kali untuk menambahkan parameter ini.  Sebab adalah tidak adil bagi peserta yang sangat rajin mempromosikan lomba kita di social media, selalu mem-blast dan mem-broadcast lomba kita, tetapi hal ini tidak kita hitung secara seksama di dalam form penilaian.  Jika anda berkeras untuk memasukkan unsur seberapa rajin peserta berpromosi di social media, maka anda semua harus siap menghitung : berapa kali si A, B atau C mempromosikan lomba di blog kita.  Berapa banyak potensi pembacanya, berapa komen yang masuk disana, berapa komen positifnya, adakah komen yang negatif, berapa likenya dsb, dsb. Dan kemudian memfaktorkannya dalam penilaian total. Pusingkan ? (itulaaahhh …)

Jika anda tidak punya banyak waktu untuk itu, atau tidak punya parameter yang jelas untuk menghitungnya, maka sebaiknya bunyi persyaratan tersebut diubah menjadi : “Kami akan berterima kasih pada peserta, jika peserta berkenan untuk mempromosikan lomba ini di status social media masing-masing”. (sifatnya hanya himbauan, dan tidak masuk dalam parameter perhitungan)

Blogger itu pintar-pintar dan kritis … mereka akan mempertanyakan hal yang tidak sesuai dengan syatun yang telah ditetapkan.

Penetapan syarat dan ketentuan ini memang sangat penting.  Ini adalah aturan main yang harus di tepati oleh semua pihak. Baik oleh peserta, dan juga oleh penyelenggara.  Sekali anda “mis” disini … maka kepercayaan publik terhadap entitas blog/organisasi/komunitas/perusahaan anda sebagai penyelenggara lomba GA mungkin saja akan menurun.

Jika syaratnya harus memakai banner pada awal tulisan, ya setiap peserta harus memasang banner di awal tulisan.  Jika syaratnya harus ditulis di kertas ? Ya harus di kertas, bukan ditulis di daun atau di media lainnya.

Yang ideal memang syarat dan ketentuan dibuat sesimpel mungkin.  Namun (sekali lagi) saya mengerti bahwa anda (dan/atau sponsor anda) mempunyai beberapa misi, tujuan dan target yang harus anda raih.  Meningkatkan follower, trafic, exposure dan public awareness adalah beberapa diantaranya.  Khusus bagi mereka yang berniat monetizing their blog atau yang berjualan sesuatu, pasti menginginkan parameter-parameter penting tersebut untuk ditingkatkan. Dan ini sah-sah saja.

Namun seperti yang telah saya tekankan sebelumnya, satu hal krusial yang harus selalu diingat adalah : “Berikan selalu kemudahan dan bantuan bagi para calon peserta GA anda untuk melakukan apapun syarat dan ketentuan yang telah anda gariskan”

Berikanlah kemudahan walaupun syarat dan ketentuannya “lumayan” banyak.

-

Saya pribadi … selalu berusaha membuat syatun yang sangat simpel dalam setiap lomba yang saya adakan.  Saya (biasanya) hanya mewajibkan peserta untuk memuat banner, memposting sesuai topik, menaati jumlah kata, memasang kalimat keikut sertaan dan melakukan pendaftaran.

Saya menetapkan syatun simpel seperti itu … karena sampai saat ini saya memang tidak berniat untuk me-monetize-kan blog saya. (entah kalau nanti ?)

Kalo nanti mau di-monetize … ? oohhh itu lain cerita kawan !!! (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

NEXT :

Hal ketiga yang kita pikirkan adalah : “Timing dan Momentum”

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (1)

Tentunya pembaca semua sudah mengetahui bahwa ada banyak blog/organisasi/komunitas/perusahaan pernah menyelenggarakan lomba dalam jaringan (on line).  Baik itu Lomba tulisan, lomba foto, maupun lomba review produk/jasa.  Kami para blogger biasa menyebutnya perhelatan GA atau Give Away.

Blog the ordinarytrainer ini telah dua kali menyelenggarakan lomba sederhana.  Yang pertama adalah “Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer” dan yang kedua adalah “Self Reflection : Lomba Tengok-Tengok Blog Sendiri Berhadiah”.

Alhamdulillah sambutan teman-teman sangat luar biasa.  Lomba pertama diikuti oleh 145 kontestan, sementara lomba kedua 117 peserta.

LOGO

logo1

Saya bersyukur lomba-lomba kecil yang saya gelar tersebut mendapat atensi yang baik dari teman-teman sekalian. Atensi tersebut bukan saja dalam bentuk keikut-sertaan sebagai peserta, namun juga inisiatif sukareka beberapa rekan yang menyediakan hadiah-hadiah tambahan bagi para pemenang.

Saya ingin sekali bercerita mengenai apa saja yang saya lakukan dan pikirkan ketika menyelenggarakan lomba-lomba tersebut. Perkenankan saya untuk urun rembug berbagi pemikiran tentang bagaimana caranya agar lomba kita diminati banyak orang.  Hal ini murni saya tulis berdasarkan pengalaman saya yang terbatas.  Sebetulnya beberapa blogger lain juga sudah pernah menuliskan kiat-kiat agar lomba yang kita adakan berhasil, jika anda merasa tidak ada hal yang baru disini, saya mohon maaf.

-

Menurut pendapat saya, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan sebelum kita mengadakan Lomba GA.  Yang paling utama adalah tentang pemilihan topik atau tema lomba.

Tentang Topik-Tema Lomba :
Topik atau tema yang ideal itu sebaiknya bersifat umum / general.  Topik yang relevan dengan khalayak sasaran blog kita.  Topik tersebut (hampir) semua orang sudah mengetahuinya, pernah mengalaminya atau bisa melakukannya.

Saya ambil contoh kasus pada lomba saya yang pertama, lomba foto bertema serba serbi masjid, dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan.  Tentu anda akan berfikir bahwa “Wah yang akan ikut lomba ini hanya umat muslim saja dong ?”

Ya memang kelihatannya demikian.

Namun, saya sengaja memperluas cakupan lokasi pemotretan.  Pemotretan bisa dilakukan dari sisi luar masjid, memfoto kegiatan-kegiatan yang ada di seputaran masjid.  Bahkan dari luar pagar masjid sekalipun, bisa.  Dengan demikian bagi mereka yang non muslim, yang mungkin merasa sungkan untuk masuk ke dalam masjid, masih tetap bisa berpartisipasi dengan cara memotret dari luar.  Memotret suasana di seputaran masjid, yang notabene seringkali menjadi sentra kegiatan sosial-ekonomi kemasyarakatan yang lain, selain sebagai sentra kegiatan ibadah keagamaan.  Apalagi saat bulan Ramadhan.

Dan kiat ini berhasil.  Banyak teman-sahabat yang non muslim, berkenan untuk ikut serta berpartisipasi.  Memotret situasi masjid-langgar-musholla dari luar.  Dan hasilnya pun bagus-bagus.  Terbukti salah satu, dari tiga pemenang unggulan pertama adalah seorang non muslim.  Ini penampakannya.

A19
Karya : Bli Budi Arnaya (sumber : https://ceritabudi.wordpress.com/2014/07/10/aroma-cinta-bulan-ramadhan/)

.

Sekarang mari kita bandingkan dengan contoh topik (imajiner) lomba menulis sebagai berikut :

“Pengalaman berlibur ke Maladewa”

Pesertanya pasti akan terbatas hanya untuk mereka yang pernah berlibur ke Maladewa saja.  Pesertanya mungkin akan sangat sedikit.  Lomba dengan topik seperti ini hanya akan bisa menjaring sepersekian bagian saja dari seluruh khalayak pembaca potensial blog anda.  Potensi kepesertaan akan terbatas.  Secara otomatis dalam lomba ini,  mereka yang tidak pernah ke Maladewa tidak akan bisa ikutan.  Dan juga mereka yang sudah pernah ke Maladewa tapi bukan dalam rangka liburan pun sepertinya juga tidak bisa ikut.  (Kan topiknya pengalaman berlibur, bukan pengalaman bekerja).

Dan percayakah anda … jika anda memilih topik seperti tersebut diatas, hal tersebut akan berpotensi memicu kecemburuan bahkan rasa antipati dari mereka yang belum pernah mempunyai pengalaman tersebut.  Tidak tertutup kemungkinan yang bersangkutan akan curhat, menulis di status sosial medianya, dan hal ini akan dibaca banyak orang … di-share … di-share lagi … dan akhirnya menjadi konten viral … dan seterusnya, dan seterusnya.   Lomba yang digagas oleh PT. Nanang itu tidak adil, tidak fair, cuma untuk orang kaya dowang, diskriminatif dsb.  Lomba kita pun citranya jadi kurang baik.  Mimpi buruk kakaaaakkk … !

Saya sadar sepenuhnya bahwa para blogger/perusahaan pasti mempunyai misi atau pesan yang akan disampaikan melalui lomba yang diadakan.  Pasti para blogger/perusahaan mempunyai tujuan khusus mengapa menyelenggarakan lomba blog dengan tema tertentu.

Namun tetap ada satu hal yang harus diingat … muara dari segalanya adalah : kepentingan, kebutuhan dan keinginan dari khalayak pembacaPara calon peserta lomba blog anda.  Mereka adalah subyek dari lomba anda.  Bukan obyek, alat atau sarana anda untuk memuaskan keinginan ego pribadi/perusahaan anda saja.

Untuk contoh tersebut di atas mungkin topik atau temanya bisa diganti sedikit menjadi : “Jika saya mempunyai kesempatan untuk berlibur ke Maladewa, apa yang akan saya lakukan ?”.

Dengan sedikit merubah kalimat topik, maka lomba ini akan menjadi terbuka bagi siapa saja.  (Hampir) setiap orang bisa berpendapat dan mengemukakan pemikirannya mengenai topik yang digagas.  Tentu saja mereka akan mencari info dan data dulu sebelumnya.  Mereka yang lebih lengkap informasinya dan lebih menarik pemikirannya, itulah yang akan lebih berpeluang untuk menjadi pemenangnya.

Sekali lagi, sebelum bergerak lebih lanjut, tanyakan dulu pada diri anda …

“Apakah topik yang akan anda pilih tersebut sudah sesuai dan relevan untuk kepentingan khalayak pembaca yang lebih luas atau tidak !”

Semakin luas khalayak sasaran pembaca yang relevan, maka potensi keikut-sertaannya akan semakin besar pula.  Siap-siap saja untuk menerima notifikasi registrasi kepesertaan yang bertubi-tubi dari para pembaca.

Bukan begitu bukan ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Next step is … “Syarat dan Ketentuan” …
(akan kami bahas di tulisan berikutnya)

.

.

PENGUMUMAN LOMBA “SELF REFLECTION”

logo1

29 Desember 2o14

Dalam rangka penutupan tahun, blog The Ordinary Trainer ini mengadakan perhelatan yang bertajuk “Self Reflection : Lomba Tengok-Tengok Blog Sendiri Berhadiah”.  Lomba ini bertujuan untuk mengajak para nara blog sekalian untuk melihat kembali postingan-postingan yang sudah dibuat pada sepanjang tahun 2014 ini.  Dengan melihat kembali postingan-postingan tersebut, diharapkan kita semua bisa banyak belajar.  Belajar dari peristiwa yang melatar belakangi tercetusnya postingan tersebut, maupun  belajar bagaimana membuat postingan menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Dengan kata lain, sebetulnya saya mengajak nara blog sekalian untuk melihat “content” dan juga sekaligus “delivery” dari masing-masing postingan berkesan tersebut.  Mengevaluasi kembali isi cerita maupun cara membawakannya, sebagai sarana untuk memperbaiki diri di masa-masa yang akan datang

Alhamdulillah animo para nara blog sungguh membesarkan hati.  Tercatat ada 117 peserta yang mendaftar.  Dan jujur saja … kali ini saya mengalami kesulitan untuk memilih mana yang berkesan di hati saya.  Ya … ini sifatnya akan sangat subyektif sekali.  Sebab yang menjadi juri pemerhati hanya saya sediri.  Sekali lagi, saya mengalami kesulitan untuk menentukan, karena sebagian besar tulisan mempunyai kekuatan sendiri-sendiri.

Seperti GA terdahulu, kali ini saya pun didukung oleh beberapa sahabat blogger.  Secara suka rela tanpa diminta, mereka berkenan menyediakan beragam macam hadiah-hadiah tambahan.  Saya mengucapkan terima kasih pada : Pak De GusLik Galaxi, Mak Winda Krisnadefa dengan program #Craftingforcharitynya, Aunty Mechta Deera, Eru VierdaHani S dan butik onlinenya Mak Isti’adzah Rohyati, – Mak Nurul Noe, dan Mbak Tri Wahyuni Zuhri.   Dengan adanya tambahan hadiah dari teman-teman, perhelatan ini menjadi semakin semarak.

Kembali ke para peserta …
Sekali lagi saya katakan, saya mengalami masa yang sulit untuk menentukan pilihan saya.  (Terbukti dari pengumuman yang baru keluar malam hari, tanggal 29 Desember 2014 ini).  Namun apapun itu, keputusan harus tetap dibuat …

Dan ini adalah …

Daftar Pemenang “A Self Reflection : Lomba Tengok-tengok blog sendiri berhadiah” … :

HADIAH KHUSUS untuk Peserta Pendaftar Pertama :

 

PILIHAN KE ENAM :

 

PILIHAN KE LIMA :

 

PILIHAN KE EMPAT :

 

PILIHAN KE TIGA :

 

PILIHAN KE DUA :

 

PILIHAN PERTAMA :

 

SELAMAT UNTUK PARA PEMENANG …

Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat.

(… Namun demikian … bilamana di kemudian hari ditemukan ada kesalahan, maka keputusan ini akan diperbaiki sebagaimana mestinya)

Untuk yang belum beruntung terpilih, saya ucapkan banyak terima kasih atas segala perhatian dan supportnya.  Saya senang para teman-sahabat sekalian berkenan untuk menyemarakkan lomba ini.

Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari lomba ini.

Sukses untuk kita semua … !!!

Mari kita semua senantiasa berusaha untuk menjadi Blogger yang lebih baik di masa yang akan datang

ALHAMDULILLAH …

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

NOTE :
Untuk ke delapan belas Pemenang Pilihan + satu Pemenang Hadiah Khusus
Dengan segala kerendahan hati, saya mohon untuk segera mengirimkan

  • Alamat pengiriman lengkap (berikut kode pos)
  • nomer kontak (untuk memudahkan kurir saat pengiriman )

ke e-mail saya : naher18sept@gmail.com
(atau melalui inbox saya di media sosial yang lain)

Terima kasih.

TUMBUHKAN MINAT BACA, LEWAT ENSIKLOPEDIA

Ada yang tau ensiklopedia ?

Ensiklopedia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah buku (atau serangkaian buku) yang menghimpun keterangan atau uraian tentang berbagai hal dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, yang disusun menurut abjad atau menurut lingkungan ilmu.

Menurut sepengetahuan saya, dan yang sering saya lihat, ensiklopedia ini biasanya mempunyai seri-seri tertentu.  Satu seri itu terdiri dari beberapa jilid buku.  Ada yang lima, sepuluh atau bahkan dua puluh jilid buku.  Dalam perkembangannya, ensiklopedia dibuat bukan hanya untuk konsumsi bacaan orang dewasa saja, namun juga sudah merambah ke bacaan untuk anak-anak.

Judul tulisan ini adalah “Tumbuhkan Minat Baca Lewat Ensiklopedia”.  Mengapa saya mengambil judul seperti itu ? Karena memang menurut pengalaman saya pribadi, ensiklopedia bisa digunakan untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak.  Saya mengambil contoh anak-anak saya sendiri.

Saya mempunyai tiga orang anak, dan semuanya berjenis kelamin laki-laki.  Anda tentu mengira, wah anak laki-laki itu tentu sulit diajak membaca buku.  Mereka pasti lebih suka main sepeda, main bola atau main game bersama teman-temannya.  Lebih dekat ke “bau matahari” dibanding “bau kertas” buku.

Saya bisa berkata lantang bahwa anggapan tersebut adalah salah.  Buktinya ? Alhamdulillah anak-anak saya itu suka sekali membaca.  Seimbang dengan hobby mereka yang lain.  Entah itu main game, olah raga basket, fotografi, menyanyi, musikalisasi puisi atau kegemaran-kegemaran mereka lainnya.  Saya juga tidak ingin anak-anak saya menjadi kutu buku yang “nerdy”, yang pagi-siang-sore-malam sampai pagi lagi, hanya mendekam di kamar untuk membaca saja.  Mereka juga harus bergerak … bersosialisasi … agar hidup mereka lebih sehat dan seimbang.  Jiwa maupun raga.

Kembali ke soal bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak-anak.  Perkenankan saya untuk bercerita mengenai pengalaman saya menumbuhkan minat baca kepada anak-anak lelaki saya.

Cerita ini dimulai ketika si Sulung saya masih berusia 7 – 8 tahun.  Kelas dua madrasah ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar).  Sekitar empat belas tahun yang lalu.  Suatu ketika saya menjemput anak saya itu di sekolah.  Mereka sedang ada kegiatan ekstra kurikuler pada hari Sabtu.  Selain saya, ada banyak orang tua lain, yang juga menjemput anak-anaknya.  Tiba-tiba datang seorang ibu mendekati saya.  Ibu itu salah satu orang tua murid juga.  Kami ngobrol ngalor-ngidul.  Ujung-ujungnya dia menawarkan buku ensiklopedia untuk saya beli.  Rupanya dia punya usaha sampingan, menjual buku-buku ensiklopedia.  Mulanya saya sempat mengerutkan dahi, sebab harganya lumayan mahal.  Namun ibu itu berkata bahwa pembayarannya bisa dicicil.  “Kreditan”.  Tidak lupa ibu tersebut juga mempromosikan bahwa ensiklopedia itu gunanya sangat besar sekali.  Dia mengambil contoh anaknya sendiri, yang menjadi pintar karena mulanya tertarik membaca buku ensiklopedia.  Akhirnya saya setuju untuk membeli ensiklopedia tersebut.  Termakan rayuan si ibu.

Seri ensiklopedia tersebut berjudul : “D*****’s Dunia Pengetahuan Yang Mengagumkan”. Seluruhnya ada 20 buku. Relatif tebal-tebal. Setiap jilid buku berisi satu topik pengetahuan atau informasi.  Ada yang bercerita tentang hewan, tentang keajaiban alam, penemuan, benua, mitos dan legenda, hari raya di seluruh dunia, pemimpin besar, burung-ikan-serangga dan masih banyak lagi yang lainnya.

PC200923

Lalu bagaimana hasilnya ?

Ternyata, saya tidak menyesal sodara-sodara.  Saya tidak menyesal telah nekat membeli buku ensiklopedia 20 jilid yang mahal itu.

Ibu itu benar.  Rayuannya bukan rayuan gombal.  Anak sulung saya memang menjadi gemar sekali membaca.  Dan asyiknya adalah dia selalu memulai membaca, dari buku yang terakhir dulu.  Buku nomer 20.  Buku nomer 20 ini adalah semacam buku indeks.  Buku daftar topik bahasan.  Dia akan membuka buku indeks tesebut, lalu mencari informasi apa yang ingin dia ketahui.  Lihat katanya menurut daftar abjad.  Dan lihat pula panduannya, kata tersebut ada di buku nomer berapa ? Halaman berapa ?

Saya ambil contoh misalnya kita ingin mencari dan mengetahui arti kata “fotosintesis”. Buka buku nomer 20 : “Indeks”. Cari urut abjad kata “fotosintesis”. Lalu perhatikan di sebelah kata “fotosintesis” tersebut, ada tulisan : “2 : 11,12, 22, 107″

PC200940

Itu artinya kita diminta untuk membuka buku nomer 2 : “Keajaiban Alam”.  Lalu lihat halaman 11, 12 22 atau 107.  Dan … tadaa … ada kata “fotosintesis” di sana berikut penjelasan dan foto-fotonya.

PC200941

Si Sulung selalu berteriak dengan antusias : “Dapet yah … dapet …!” ketika dia menemukan informasi yang dia cari.   Sungguh mengasyikkan sekali.

Hal tersebut membuat anak-anak saya yang lain menjadi ikut tertarik untuk mempelajari berbagai macam hal.  Si Tengah dan si Bungsu pun akhirnya jadi ketularan si Sulung.  Ensiklopedia tersebut menjadi semakin berguna, ketika anak-anak mendapatkan beberapa tugas dari sekolahnya. Entah pelajaran ilmu pengetahuan alam atau pelajaran lainnya. Ketika mereka mesti mencari informasi tentang sesuatu hal ?  ensiklopedia lah solusi jitunya.  Contoh riil nya ya tentang “fotosintesis” itu tadi.

Melihat kegunaan ensiklopedia kami yang pertama tersebut, saya mulai tertarik untuk mencari seri-seri ensiklopedia untuk anak-anak yang lainnya.  Dan ya, sekali lagi, harga buku-buku tersebut memang tidak murah.  Tetapi saya beranggapan ini adalah suatu investasi yang hasilnya nanti akan tidak ternilai harganya.  Yang namanya ilmu pengetahuan dan informasi itu memang akan mahal harganya nanti.  Oleh sebab itu kita harus menguasainya sekarang.  Saya bertekad untuk terus mencari rezeki halal dan mengusahakan dana agar anak-anak saya mendapatkan buku-buku yang baik.  Walaupun itu didapat dengan cara mencicil.

Alhamdulillah, kami berhasil mencicil lagi beberapa seri ensiklopedia dan buku-buku lainnya.  Diantaranya adalah :

  • Widya Wiyata Pertama Anak-anak.

PC200920

  • Cakrawala Pengetahuan Dasar, T***-L***.

PC200922

  • Serial Pandu Menjelajah … dari T*** Pus****

PC200924

Sekali lagi saya katakan, buku-buku tersebut memang berhasil memicu minat baca anak-anak saya.  Mereka jadi senang sekali membaca buku. Tentu bukan hanya terbatas buku ensiklopedia saja.  Mereka juga gemar membaca novel, fiksi, komik dan buku-buku lainnya.  Sesuai dengan perkembangan usia mereka.

Mari saya ajak anda mengintip kamar anak-anak saya.  Mohon maaf ini “kamar cowok”, jadi agak berantakan (bukan agak lagi … tapi memang sangat berantakan)(hahaha)

“Guys … Ayah izin memfoto kamar kalian yaaa …”

Ini sebagian buku si Sulung : (buku UUD RI 1945 ada, kumpulan kutbah Jum’at pun ada)

PC200944

Yang ini milik si Tengah :  (saya potret apa adanya … tanpa rekayasa)(hahaha)

PC200942

Dan yang ini koleksi si Bungsu : (Doraemon !)

PC200946

Jadi demikianlah …

Kini saya bisa berkata bahwa, minat baca anak-anak saya itu, semua berawal dari ensiklopedia. Memang awalnya kita akan merasa berat, untuk mengajarkan anak-anak kita cinta membaca.  Namun setelah saya kaji ulang, kuncinya ada pada pendampingan.  Kita, sebagai orang tua harus mendampingi anak-anak kita untuk menemukan keasyikannya sendiri dalam aktifitas membaca.  Kita dampingi mereka dalam proses mencari tau dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan mereka.  Jika mereka sudah menemukan keasyikannya, niscaya dengan berjalannya waktu mereka akan terbiasa sendiri.  Mereka akan membaca, tanpa harus disuruh-suruh atau dipaksa-paksa.

Tumbuhkan pengalaman batin dan kesadaran pada mereka bahwa dengan membaca kita akan bisa tau banyak hal.  Dengan mengetahui banyak hal, hidup kita akan lebih bahagia dan bermakna.  Semua itu berawal dari kegiatan membaca.

Dan salah satu cara untuk menumbuhkan minat membaca itu … dalam kasus di keluarga kami adalah … lewat ensiklopedia !

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

“Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca”

banner baru giveaway untuk blog

PIALA BERGILIR

Piala
(bukan piala bergilir sebenarnya) (ini untuk ilustrasi saja)

Ini cerita tentang “piala bergilir”.

Saya tidak tau apakah hal ini masih ada di zaman sekarang atau tidak.  Namun dulu ketika saya masih kuliah, teman-teman saya terutama yang wanita satu persatu mulai disunting oleh calon suaminya.  Menikah, memasuki jenjang selanjutnya dalam siklus kehidupan mereka.  Ini terjadi ketika kami sudah menginjak semester-semester akhir perkuliahan.  Melihat hal tersebut akhirnya kami sekelas mempunyai ide untuk membuat semacam piala bergilir.   Sebut saja piala bergilir pernikahan.

Piala bergilir tersebut diserahkan kepada teman kami yang sedang melangsungkan acara pernikahan. Kami akan beramai-ramai datang ke pesta – walimahan pernikahannya lalu secara resmi piala tersebut diserah-terimakan kepada mempelai disaksikan oleh para hadirin. Ramai. Meriah. Membahagiakan.  Silaturahmi yang hangat.

Sebelum diserahkan, di badan piala tersebut akan digrafir nama teman yang menikah.  Contoh :

  1. Aan Suana
  2. Bebi Bala-bala

Jadi ritualnya adalah kami semua akan berkumpul di panggung. Lalu Aan sebagai pemegang piala bergilir sebelumnya akan menyerahkannya kepada Bebi, sang pengantin baru.  Nanti jika ada undangan pernikahan teman kami yang lain lagi, misalkan namanya Caca, maka Bebilah yang bertanggung jawab untuk meng-grafir nama Caca dan menyerahkannya kepada mempelai, di acara penikahan Caca. Demikian seterusnya.

Tujuan upaya ini tak lain dan tidak bukan adalah untuk tetap menyambung tali silaturahmi pertemanan dan kekeluargaan diantara kita para alumni satu angkatan perkuliahan.

Namun demikian … ternyata prosesnya tidak se”mulus” yang kita duga.

Kami satu angkatan itu jumlahnya ada 150-an lebih mahasiswa-mahasiswi.  Pernikahan teman kami yang pertama, kedua, ketiga sampai ke lima, ke enam ritual ini relatif lancar jaya.  Karena kebetulan sebagian besar dari kami masih menyelesaikan studi di Bogor.  Masih relatif berkumpul di satu kota.  Jadi masih mudah menkoordinasikannya.  Namun ketika kami lulus, tentu saja kami mencari nafkah sendiri-sendiri.  Ada yang bekerja di dekat-dekat Jabodetabekasergon sini saja.  Namun banyak juga yang kembali ke kampung halamannya masing-masing.  Nun jauh di ujung Nusantara sana.  Dari propinsi Nangroe Aceh Darusalam sampai Papua.  Ini masalah tersendiri sodara-sodara.  Ya komunikasinya … ya logistiknya.

Yang pegang piala bergilir sekarang misalnya Foni tinggalnya di Ambon.  Lalu yang menikah berikutnya adalah Gamal, tinggalnya di Lhokseumawe.  Naaahhh ini … tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit bagi Foni untuk membawa piala bergilir tersebut khusus dari Ambon terbang ke Lhokseumawe. Akhirnya kami ambil jalan tengah, Foni tidak perlu datang ke Lhokseumawe.  Dia cukup mengirimkan piala tersebut lewat paket saja (tentu setelah terlebih dahulu di grafir nama Gamal di piala tersebut)

Masalah pertama, mengenai lokasi geografis teratasi.  Namun ada masalah yang lain lagi.  Ada satu dua kejadian dimana teman kami menikah tetapi karena kesulitan informasi, lost contact, data tidak up date atau sulit berhubungan jadi terlewat begitu saja.  (Ingat jaman dulu internet belum ngetop seperti sekarang, belum ada HP apalagi social media FB, WA dsb).  Contohnya ketika teman kami Harun, lalu Ina, lalu disusul Joko menikah kami semua tidak tau.   Gamal sebagai pemegang piala bergilir yang terakhir pun tidak tau. Akhirnya nama Harun, Ina, dan Joko terlewat tidak tergrafir.  Baru kemudian ketika teman kami yang lain, Koni menikah, piala tersebut baru diserahkan Gamal langsung kepada Koni.  Kebetulan rumah Gamal di Bogor dan rumah Koni di Jakarta.  Dekat.  Mudah komunikasinya.  Mudah logistiknya.

Ada juga peristiwa lucu, dimana piala bergilir itu hanya berumur beberapa jam saja di satu tangan.  Hari ini diserah terimakan dari Koni ke Leli.  Besok Leli harus sudah menyerahkannya kepada Momon. Karena tanggal pernikahan Leli dan Momon cuma berbeda satu hari.  Nasib si Leli, piala belum terpajang di rumah, sudah harus terbang lagi.

Jadi demikianlah … cerita tentang piala bergilir pernikahan.

Memang tidak mudah menjaga silaturahmi, hubungan pertemanan diantara 150 orang teman satu angkatan.  Sebab kita semua sudah tersebar kemana-mana.  Bahkan banyak yang belajar ke luar negeri juga waktu itu …

Sekarang bagaimana nasib Piala Bergilir itu ? Apa masih ada ? atau jangan-jangan sudah berkarat ?

Saya tidak tau. Piala Bergilir itu kini berada dimana.   Siapa yang pegang piala tersebut terakhir pun juga saya tidak tau.  Sudah lama sekali.  Hampir semua dari kami satu angkatan, sudah menikah.  Usia perkawinan kami pun hampir sebagian besar sudah diatas 20 tahun …

Dan ironisnya adalah …
Saya sama sekali TIDAK sempat merasakan memegang Piala Bergilir tersebut.  Karena ketika saya dan bundanya anak-anak menikah, tidak ada teman kuliah saya yang datang.  Kami menikah di sebuah kota kecil di perbatasan Jambi dan Sumatera barat.  Di kaki Gunung Kerinci.  Saya pun tidak tau saat itu piala bergilir siapa yang pegang.  Hahaha … jadi kelewatan deh saya … nasiiibbb … nasiiibb …

Nah sekarang saya ingin bertanya …
Adakah tradisi seperti ini tempat anda ? di teman seangkatan anda ? teman satu gank ?
Bentuknya apa ? apakah piala ? atau prasasti ? atau piring perak ? atau apa ?

Boleh sharing yaaa … !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.