Posted in ARTIKEL

SEBULAN

1 Juli 2016

Hari ini genap sebulan saya kembali bekerja secara formal.

Seperti saya ceritakan di postingan sebelumnya, mulai 1 Juni kemarin saya menjalani rutinitas hidup bekerja secara formal kembali.  Setelah tiga tahun sempat bekerja bebas begundalan dari rumah.

Perlu sedikit penyesuaian untuk mengikuti ritme bekerja 8 – 17 ini.  Masuk jam 8 pulang jam 17.  Masih rada kagok (… sampai sekarang)🙂

meja

.

Selama sebulan apa saja kesan awal yang didapat nih Om ?

Ada beberapa.  Namun kali ini perkenankan saya cerita tiga hal saja.

.

1.Waktu Kerja

Karyawan-karyawan di sini relatif sangat disiplin.  Sebelum jam 8, sebagian besar karyawan sudah siap di kantor untuk bekerja.  Kedisiplinan yang sama juga berulang ketika sore hari.  Jam 17.00 teng sebagian besar karyawan pun sudah bersiap untuk pulang.  Sehingga jam 18.00 kantor sudah relatif kosong.  Hanya tinggal beberapa orang saja, yang mungkin lembur hari itu.

Ini berbeda 180 derajat dengan kantor saya yang lama.  Jam 8.00 kantor masih relatif sepi (cuma office boy dan janitor out sourching saja yang sudah bekerja)(yang lain mungkin masih ngopi atau ng-indomi di kantin parkiran basement).  Jam 9.00 masih banyak karyawan yang berada di jalan. Jam 9.30 baru lumayan rame.  Dan sore harinya, jam 17.00 itu justru biasanya kami baru mulai meeting (hahaha).(mungkin ide baru muncul di sore hari ya ?).

Ya kantor saya yang lama itu (seolah) ritmenya gila kerja semua.  (banyak yang pulang malam jam 20.00 bahkan lebih)  Macam tak punya kehidupan sosial saja. 🙂

.

2.Tenang

Lebih tepatnya sepi.  Kantor saya yang baru ini relatif lebih “sepi” dibanding kantor yang lama.  Jarum jatuh pun terdengar bergemuruh (lebay lu om).  Entah mungkin karena saya yang karyawan baru, atau karena memang meja kerja saya yang agak terpisah dari karyawan lainnya atau bagaimana ? Saya juga kurang tau.  Yang jelas di sini terasa sepi.

Lain dengan kantor saya yang lama.  Berisik.  Mungkin karena jumlah karyawan yang lebih banyak.  Atau mungkin karena tipe masyarakatnya yang doyan bergerak dan bicara.  Ekspresif.  Huweboh.  Ada kue oleh-oleh secuil aja hebohnya satu kecamatan “Woooiiiii, Pak Ajat bawa oleh-oleh bika Ambon niiihhhh …”  Gruduuuukkk semua nyerbu meja yang bersangkutan.  Sebentar-sebentar ada yang nyanyi “Happy Birthday to youuuu … happy birthday to yoooouuu …” Tiup lilin, potong kue, dan sebagainya.  Sekantor ngerubung cubicle yang ultah.   Dua hari kemudian ada lagi yang ultah.  Tepuk tangan lagiii.  Nyanyi hepi besdey lagiiii.  Makan-makan lagiiiii ! (Now you understand kan … kenapa meeting suka baru mulai jam 17.00 sore ?)

3. Busana

Sekarang eiykeh bingung bok.  Mau pake baju apa hari ini ?  Anak baru, pakaiannya nggak boleh sembarangan dong.  Mau pake pakaian resmi ? ini bukan guweh banget.  Mau pakai baju santai casual, entar diusir satpam.  Mau pake baju putih ? Kemaren kan udah putih !  Mau pake celana khaki ragu, nanti nggak mecing dengan bajunya.  Rempong sutralah !

Gimana dengan kantor yang dulu ?
Seragam bok.  Mau Senin, Selasa, Rabu ke Senen lagi, baju yang dipake tetep sama.  Seragam atasan beige (yang full branding itu) dan celana hitam.  Semua dapet pembagian dari divisi GA.  Kita mau pake baju yang nggak dicuci seminggu pun nggak ketauan.  Hawong sama.  (cuma takaran deodoran yang dipakai saja yang berbeda mungkin)(hahaha)

Di kantor lama itu nggak keliatan, mana Senior Manager mana clerk.  Seragamnya disamakan.  Dan itu wajib ! (nggak boleh sok kecentilan pake baju modis bebas semaunya)

Note :
Sebenernya di kantor yang baru ini ada baju seragamnya juga sih.  Warnanya biru muda. Hanya baju atasan saja, celana/rok menyesuaikan.  Tapi ini sifatnya tidak wajib, boleh pakai, boleh tidak.

Om kok belum pakai ? Belum.  Saya belum pakai.  Ya namanya juga anak baru.  Seragamnya belum dibagi.  Entah nunggu apa.  Nunggu pesenan konveksi atau nunggu masa percobaan tiga bulan dulu mungkin.

So …

Jadi begitulah.  Setiap kantor pasti ada suasana, tata cara dan budaya masing-masing.  Saya masih dalam tahap menyesuaikan diri. 

Memang agak sedikit unik, di usia saya yang tidak muda lagi saya masuk menjadi karyawan baru di sebuah perusahaan.  Umumnya kan karyawan baru itu adalah anak-anak fresh graduate kinclong yang baru lulus, atau kaum first jobbers labil yang masih mencari tempat bekerja yang cocok.

Kalaupun sudah berumur, biasanya mereka adalah Top Management.  Entah Direktur baru atau Komisaris baru

Nah ini ? Om-om 53 tahun jadi karyawan baru biasa ? Lucu juga yak.

Saya bisa mengerti jika mungkin satu, dua atau lebih karyawan di sini ada yang bergumam dalam hati “Udah tua begitu kok di-rekrut sih ?” 

Walaupun pertanyaan tersebut tidak terlontar secara langsung, namun saya sudah siap dengan pandangan-pandangan seperti itu.  Saya bisa mengerti mengapa mereka beranggapan seperti itu.  Tidak apa-apa.  Saya siap menghadapinya.

Modalnya cuma satu : Percaya Diri !

Nikmati saja !

(Saya kan cari rejeki halal.  Ya lumayan lah buat beli “garem”)(juga nambah-nambah beli “ini”)(sama beli “itu”)(trus beli “anu” sama “inu”)(beli “sesuatu” juga)(plus beli-beli “yang lain”)

🙂🙂🙂

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.

Posted in NGEBLOG

UP DATE PESERTA LOMBA MENULIS

Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan lomba menulis yang saya beri tajuk : “LOMBA MENULIS : 1001 KISAH MASJID”

Perkenankan saya saat ini untuk menyampaikan daftar peserta lomba yang telah tercatat di form pendaftaran

Berikut adalah nama-namanya

Nama : URL Postingan :
1 rifki https://jampang.wordpress.com/2016/06/03/kain-sarung-dan-masjid-di-masa-kecil/
2 Dedy Herdian http://dedyherdian.wordpress.com/2016/06/03/masjid-at-taubah-rawajati/
3 Tri Wahyu Handayani http://www.haniwidiatmoko.com/2016/06/04/akad-nikah-unik-di-bajrakli-dzamija/
4 Fitri Nofianti http://roootan.blogspot.co.id/2016/06/suara-masjid.html
5 Mandor http://lemandore.blogspot.co.id/2016/06/ceramah-tarawih.html
6 Susanti Dewi http://www.santidewi.com/2016/06/masjid-dunia-anak-anak.html
7 Oyen maroyen https://myoyen.wordpress.com/2016/06/08/fira-dan-maskam/#more-2770
8 Enny http://ennyridaalin.blogspot.co.id/2016/06/keterbatasan-mental-tak-mengurangi.html
9 Wahyu Widyaningrum http://wahyuwidyaning.blogspot.co.id/2016/06/tips-sederhana-agar-barang-di-musholla.html
10 Tri Sulistiyowati http://raka-adhi.blogspot.co.id/2016/06/masjid-dan-bengkung-ibuku.html?m=1
11 Titie Surya http://tiarajingga.blogspot.co.id/2016/06/masjid-madrasah-kepemimpinan.html
12 Sultan http://www.phinisi.net/2016/06/ayah-izinkan-aku-ikut-ke-masjid.html
13 Sri rahayu http://www.istanabundavian.com/2016/06/senangnya-ngabuburit-di-masjid-al-qomar.html
14 Agus Wibowo (Bang Aswi) https://sosokitu.com/2016/06/15/kisah-baju-batik-berwarna-cokelat/
15 Dian Onasis http://www.dianonasis.com/2016/06/angpau-bagi-imam-masjid.html
16 Anjar Sundari https://waktuberhargabersama.blogspot.co.id/2016/06/masjid-sebagai-pusat-kegiatan-remaja.html
17 yusep hendarsyah http://yusephendarsyah.blogspot.co.id/2016/06/1001-kisah-masjid-asmaul-husna.html
18 ERLINA http://pawonelintang.blogspot.sg/2016/06/masjid-dengan-dua-kali-witir.html
19 Eko Nurhuda http://www.bungeko.com/2016/06/masjid-yang-dibangun-dengan-getah-karet.html
20 Topik Nugroho http://topiknugroho.com/Masuk-Pesantren.html
21 Dwi Aprilytanti Handayani http://braveandbehave.blogspot.co.id/2016/06/kisah-di-balik-al-ukhuwwah.html
22 Putri Rizkia (Usagi) https://mylitleusagi.wordpress.com/2016/06/22/anak-anak-dan-masjid/
23 Yudha Hari Wardhana http://www.yudhaprima.com/2016/06/22/memori-masjid-sier/
24 Hidayah Sulistyowati http://www.hidayah-art.com/2016/06/menyambut-malam-lailatul-qodar-di.html#more
25 rina susanti http://www.rinasusanti.com/2016/06/masjid-kubah-emas.html
26 Fahrizi Noer Fajar Azman https://firthblog.wordpress.com/2016/06/24/kesunyian/
27 Kautsar Ab http://kktsr.blogspot.co.id/2016/06/1001-kisah-masjid-ternyata-megahku-tak.html
28 Arina Mabruroh http://www.arinamabruroh.com/2016/06/cinta-kami-berawal-dari-masjid.html
29 Arina Mabruroh http://istanarina.blogspot.co.id/2016/06/anak-anak-senja-di-masjid-al-huda.html
30 Ayunda Slamet https://tajdiidunnisaa.wordpress.com/2016/06/26/bersembunyi-di-balik-masjid/
31 Myra Anastasia http://www.jalanjalankenai.com/2016/06/hikmah-dari-sebuah-masjid-di-kalibening.html
32 Abdul Cholik http://www.abdulcholik.com/lomba-blog/pidato-di-masjid-al-akbar-surabaya
33 Ida Tahmidah http://www.idatahmidah.com/2016/06/anak-anak-dan-masjid.html
34 Sri Wahyuni http://www.yunihandono.com/2016/06/1001-kisah-masjid-masjid-agung-sudirman.html

Lomba masih kami buka sampai dengan tanggal 30 juni 2016

Mohon teman-teman memeriksa, siapa tau ada yang sudah merasa mendaftar tetapi belum tercatat.  Atau ada yang sudah meraasa menulis tetapi belum mendaftar.  Mohon kami diberi tau yaaaa

Demikian …

Sekali lagi lomba ini masih terbuka sampai 30 Juni 2016 (pukul 23.59)

Demikian …

Lombamenulis

 

 

 

Posted in PERTUNJUKAN HARI INI, RECRUITMENT & SELECTION

KURSI BERMEJA

25 Juni 2016

Ini cerita tentang kursi bermeja.  Atau ada juga yang menyebut kursi kuliah.  Disebut kursi kuliah karena memang model kursi ini sering kita jumpai di ruang-ruang kuliah.

Inovasi produk ini sangat jitu untuk menyiasati ruangan yang sempit.  Ruang bisa dihemat untuk bisa ditempati lebih banyak orang.  Daripada mesti menyediakan meja yang makan tempat. Ditambah lagi, kursi ini tentu jauh lebih mudah digeser-geser dan diatur-atur sesuai kebutuhan.

kursi lipat
(source : http://www.freeimages.com/photo/doodled-desks-2-1207070)

.

Ada apa dengan kursi bermeja ?

Hari-hari ini adalah musimnya ujian masuk perguruan tinggi.  Ada sebuah perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan ujian masuk secara mandiri.  Peminatnya sangat banyak.  Sehingga mereka butuh banyak ruang, banyak meja, banyak kursi bermeja untuk melakukan ujian tes masuk mandiri ini.  Konon tercatat ada 17.000 calon mahasiswa yang mengadu nasib ikut tes masuk di perguruan tinggi ini.

Orang ujian itu perlu meja untuk menulis.  Namun di sisi lain jumlah meja sangat terbatas.  Jumlah kursi yang bermeja pun terbatas.  Sementara itu yang melamar untuk jadi mahasiswa jumlahnya berlipat-lipat kali lebih banyak.

.

Akhirnya bagaimana ?

Akhirnya mereka menyediakan kursi “penganten”.  Atau kursi untuk pesta atau kursi lipat.  Yang tidak mempunyai meja

kursi penganten
(sekedar contoh saja,  Sumber : clipart, MSPowerPoint2010)

Akibatnya apa ?

Banyak calon mahasiswa yang kesulitan untuk menulis.  Tepatnya kesulitan untuk menulis dalam jangka waktu lama.  Secara ergonomis kursi-kursi tersebut memang tidak dirancang untuk diduduki dalam waktu sekian lama, apalagi sambil menulis.

Para calon mahasiswa tersebut memang telah diminta untuk membawa tatakan untuk menulis, namun tetap saja menulis dari jam 07.00 sampai dengan jam 13.00 cukup melelahkan.  Mereka harus menunduk dalam waktu yang cukup lama.

Untuk menyiasati kelelahan tersebut, mereka ada yang minta izin untuk “mecingkrang”.  Kedua kaki naik ke kursi seperti orang nongkrong di buk buk tegongan.  Paha dan dengkul mereka menjadi landasan untuk menulis.  Dengan demikian posisi menulis mereka masih tetap tegak. 

Menurut kawan saya yang ikut menjaga ujian di universitas tersebut, ada juga beberapa peserta testing yang “ndeprok” di lantai.  Duduk di lantai.  Mereka justru menggunakan dudukan kursi sebagai meja.  Ini juga sangat menolong untuk membuat mereka tetap bisa tegak menulis, mengurangi kelelahan.

Melihat pengalaman-pengalaman tersebut, saya punya ide solusi.

Jika memungkinkan, para calon mahasiswa tersebut diminta saja untuk membawa meja lipat.  Itu lho, meja yang suka digunakan anak-anak TK untuk lomba menggambar.  Rasa-rasanya ini lebih enak untuk mengerjakan ujian masuk perguruan tinggi tersebut.  Punggung tidak begitu capek.  Dan menulis pun jadi lebih nyaman.  Lagi pula gambarnya pun juga macam-macam, bisa untuk mengurangi kebosanan.  Ada motif Prinses, Barbih,  Ultramen, Engri Bet, Nemo, Dori atau Sepong Bob (jika mau lebih semangat lagi ganti aja gambarnya dengan gambar Syahrini,  Dewi Persik,  Julia Perez atau Trio Macan)

🙂🙂🙂

meja gambar
(meja gambar diperankan oleh model)

.

Bagaimana ?  Brilyan kan usul ku ?

.

But seriously :

Untuk adik-adik yang sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri.  Ayo semangat.  Semoga kalian bisa mendapatkan tempat kuliah terbaik yang kalian idam-idamkan !

.

BTW
Teman-teman sekalian ada yang pernah mengikuti ujian tes masuk.  Entah masuk perguruan tinggi maupun tes masuk calon pegawai ?  Apakah kursi yang disediakan cukup memadai untuk anda menulis dalam jangka waktu yang lama ?
Curhat yuuuukkkk ! (walaupun itu cerita masa lalu)

Salam saya

om-trainer1

.

.

.

.

Posted in PERASAANKU HARI INI

PINJAM

Anda pernah pinjam uang ?

Anda pernah meminjamkan uang ?

Jujur saja untuk ke dua hal itu, saya paling menghindarinya.  Bukan apa-apa, saya takut buntutnya nggak enak.  Masalah uang bisa meng”create” masalah lainnya.  Yang tadinya hubungan adem ayem jadi terganggu hanya karena masalah pinjam meminjam uang.  Lebih baik, kalau saya ada uang, ya kasih saja lah.  Statusnya menjadi “dihadiahkan” bukan “dipinjamkan” .

Ok.  Saya tanya yang lain lagi …

Pernahkah Anda meminjam uang ke kantor ?

Rasanya ini bukan merupakan hal yang aneh.  Banyak kantor yang menyediakan fasilitas “kasbon” bagi karyawannya.  Kantor memberikan pinjaman lunak untuk karyawannya.  Baik itu melalui koperasi karyawan, ataupun memang kebijakan kantor tersebut memungkinkan untuk itu.  Tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang ketat.  Pengembalian yang diawasi dan sebagainya.

Sekarang pertanyaannya saya balik, pernahkah kantor Anda meminjam uang kepada Anda ?

Hahaha pertanyaan apa ini Om ? Ya jelas nggak ada lah !  Mana ada kantor meminjam uang pada karyawannya. 

I tell you … ternyata jawabannya ADA !!!  Gini ceritanya.

22 Juni 2016

Menjelang istirahat siang jam 11.00 – 12.00  Lokasinya di Kantor saya yang baru.

Seorang karyawati tiba-tiba datang pada saya dan berkata : “Pak … bisa pinjam uang 300 ribu tidak ?”

Jujur saya kaget.  Saya pun bertanya :“Untuk apa Bu ?”

Lalu karyawati tersebut pun berkata lagi : “Ini untuk bayar delivery order dari restoran “XXX” untuk makan siang bapak-bapak yang meeting.  Kurirnya udah dateng tapi kasir masih istirahat”

20160623_153933_resized
(uang diperankan oleh model)

Setengah terheran-heran saya mengeluarkan uang yang diminta.  Kebetulan saya masih ada persediaan uang tunai.  Saya tidak bisa menolak.  Saya karyawan baru disini.  Lagi pula saya kan puasa, masak saya mau berbohong.   Punya uang tapi bilang nggak punya.  Dosa saya nanti. (hehehe)

Ini pertama kalinya dalam hidup saya.  Saya meminjamkan uang kepada kantor.  Meminjamkan uang dalam arti yang sebenarnya.  Istilah kerennya, saya mensubsidi kantor ini.  Hhuahahaha

Saya tak habis pikir.  Yang meeting itu bos-bos bersama tamunya.  Yang mau makan siang itu mereka.  Masak minta uangnya ke saya.  Saya sedang berpuasa lagi.  Sudah gitu, ini baru hari ke 22 saya bekerja di sini.  Saya belum gajian ini.   Tega bener sih.

Bukannya nggak rela sih.  Tiga ratus ribu rupiah itu bukan jumlah yang besar.  Tetapi justru karena jumlah yang tidak besar inilah yang membuat saya gumun surumun (baca : heran luar biasa)  Kok bisa ya, kantor pinjam uang pada saya.

Kok ndak bos-bos itu yang bayar makan siangnya sendiri ! Mereka talangi dulu kek gitu, sebelum kasirnya datang ?

Atau mungkin jangan-jangan si karyawati ini takut minta uang pada mereka ?  Apakah tidak ada kas kecil / petty cash untuk menanggulangi hal-hal seperti ini ?

Lalu kenapa sasarannya kok ke saya ?

Saya positif thinking saja … mungkin karena wajah saya ini wajah dermawan nan baik hati dan tidak sombong !!! (hahaha)(nais trai beiybeh)

Yang jelas dan pasti …

Seumur-umur, saya belum pernah di”beginiin” (hahaha)(“Dibeginiin ?” istilahnya serem amat Om … biasa aja ngapah …)

Saya masih tak habis pikir.  Kok bisa ya ?

BTW : “Apakah kantor anda pernah meminjam uang pada anda ?”

(correction : sebetulnya ada juga sih bentuk lain dari “kantor meminjam uang kepada kita”, Istilah umumnya mungkin adalah “nalangin” dulu.  Biasanya kalau sedang perjalanan dinas.  Uang taxi dan pengeluaran selama perjalanan kita bayari dulu, nanti kalau sudah balik ke kantor baru kita reimburst, minta penggantian)

Salam saya

om-trainer1.

.

note :

Sebagian pembaca mungkin akan ada yang nyeletuk :
“Om lagi dibully tuuuhh, maklum om kan karyawan baru”

Aahhh iya … mungkin juga ya … hehehe

And by the way … Jam 14.00 uang saya udah diganti …

(halah om-om … peristiwa cemen seperti ini aja kok ditulis … lebay banget sih …)

.

.

Posted in ARTIKEL, TRAVELLING

PALEMBANG

9 Juni 2016

Saya melakukan perjalanan dinas ke Palembang

(Lho ini kan biasa banget Om ?)

Ya … ini hal yang sangat biasa, bagi orang lain.  Namun kali ini jadi luar biasa bagi saya.

Ini adalah perjalanan dinas saya yang pertama di kantor yang baru.

Sebetulnya dulu dari tahun 1990 sampai dengan 2013, perjalanan dinas adalah suatu hal yang sangat biasa saya lakukan.  (Termasuk beberapa kali perjalanan dinas ke Palembang).  Sebagai karyawan di bagian marketing, di perusahaan fast moving consumer goods, perjalanan dinas tentu adalah suatu keharusan.  Turun ke pasar.  Ini penting kita lakukan agar kita mengenal pasar dan konsumen di seluruh Indonesia.  Apalagi ketika saya menjabat sebagai trainer, saya dituntut untuk selalu melakukan safari, keliling regional-regional untuk melakukan training.

Namun semenjak Februari 2013 sampai dengan Mei 2016, saat saya berhenti bekerja formal, saya tidak pernah lagi melakukan perjalanan dinas.  Saya jadi tidak pernah “terbang” lagi.  Jujur saya merindukan saat-saat bangun pagi mengejar pesawat pertama.  Saya merindukan saat nonton film Korea atau main game sudoku di cabin pesawat.  Saya rindu mendengarkan siaran radio dengan bahasa “slank” lokal di kota-kota tujuan saya.

Saya rindu memperhatikan pengunjung hotel yang sering kalap mengambil sarapan sesuka hati, sebanyak mungkin tapi tidak dihabiskan dan bersisa banyak di piring. 

Saya pun juga kangen suasana menunggu pesawat di ruang tunggu airport.  Kangen situasi “first night syndrome” tak bisa tidur di saat malam pertama di Hotel. 

Saya kehilangan momen-momen asik itu.

Sampai akhirnya, setelah tiga tahun tidak terbang, saya pada tanggal 9 Juni 2016 kemarin melakukan perjalanan dinas ke Palembang.  Ya Palembang adalah kota pertama yang saya kunjungi saat saya mulai aktif bekerja kantoran kembali.

Dan anda tentu sudah bisa menduga.  Saya kembali menikmati rempongnya mengejar pesawat pertama.  Saya kembali menikmati main sudoku di cabin pesawat.  (Sengaja saya tidak nonton film Korea, karena ini penerbangan pendek, cuma satu jam.  Takut nanti “nanggung” film belum selesai, pesawat sudah mendarat)(Bisa nggak tidur saya, karena penasaran )(hahaha)

And yes saya pun menemukan pemandangan khas di restoran hotel, saat sahur.  Rupanya sindroma kalap orang rakus mengambil makanan sebanyak mungkin saat buffet di resto hotel, masih berlangsung juga sampai sekarang  hehehe …

warning

Dan … last but not least …

Meskipun ini bukan kunjungan saya yang pertama kali ke Palembang namun rasanya kurang afdol kalau belum ke sini …

ampera
(jembatan kebanggaan “Wong Plembang”)

Jadi demikianlah …

Perjalanan dinas saya yang pertama, di kantor saya yang baru.  Dijadwalkan akan ada perjalanan-perjalanan dinas yang berikutnya ke beberapa kota di Indonesia yang lain.

Alhamdulillah …

Salam saya

om-trainer1.

.

.

.