SULUNG INDEKOS

13 Januari 2015

Hari ini saya mengantar anak saya si Sulung ke tempat indekosnya.  Kebetulan saya tidak ada jadwal mengajar, sehingga saya bisa membantu dia sepenuhnya.  Ini adalah kali pertama si Sulung indekos.

Si Sulung akan menjalani program praktek kerja selama kurang lebih lima minggu di sebuah puskesmas di Tangerang Selatan, Propinsi Banten. 

Tentu pembaca yang sudah kenal saya pun akan bertanya “Lho om ? … om kan tinggal di Tangerang Selatan juga, kok ini si Sulung malah indekos sih ?”

Ya … kami memang tinggal di Tangerang Selatan, tetapi puskesmas tempat si Sulung praktek kerja lapangan ini, letaknya lumayan jauh dari rumah kami.  Rumah kami ada di bagian Tenggara sementara puskesmas tersebut letaknya ada di ujung Barat Daya Tangerang selatan.  Sehingga untuk memudahkan operasional dan agar tidak melelahkan, si Sulung memutuskan untuk indekos di dekat puskesmas tersebut.  Dia indekos bersama beberapa orang teman sekelasnya yang juga kebetulan mendapat penempatan di puskesmas yang sama.

Si Sulung adalah mahasiswa semester lima, di jurusan ilmu kesehatan masyarakat.  Sehingga tidak heran jika praktek kerjanya mengambil tempat di puskesmas.

Ketika mengantarnya tadi pagi, saya sempat meninjau rumah dan melongok kamar tempat dia akan menghabiskan malam-malamnya selama praktek kerja ini.  Kondisi kamarnya sangat sederhana.  Tidak ada perabot apa-apa, tak ada tempat tidur, tak ada meja.  Yang ada hanya sebuah lemari pakaian usang, yang sudah pecah cerminnya.   Lantainya dari keramik biasa, dan dindingnya pun sudah ada beberapa pulau bekas rembesan air hujan disana sini.

Saya sama sekali tidak ikut campur dalam mencari dan memilih tempat indekos ini.  Semua dilakukan sendiri oleh si Sulung dan teman-temannya.  (Saya hanya mengantar kesana saja)(hahaha)

Jujur jauh di lubuk hati yang dalam, saya kasihan melihat kondisi kamar yang dipilih mereka itu.  Namun saya menguatkan hati untuk tidak campur tangan.  Biarlah dia dan teman-temannya merasakan sendiri bagaimana indahnya hidup di kamar indekos.  Saya ingin mereka belajar mengelola hidupnya sendiri.  Lagi pula, ini kan hanya 5 minggu dan kamipun (jika mau) bisa setiap saat menengok ke tempat indekosan ini.  :)

So … have a nice stay Mas !

Take Care dan jangan bertingkah !

(Kamar kamu di rumah … biar Ayah yang ngurus …)(hehehe)

kamar1
kamar ini akan ditinggal penghuninya selama beberapa minggu

 Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Note :

Besok mau bawain dia Mie Goreng GM kesenangannya aaahhh …

(jiaaahhh si Om … baru juga sehari …)

 

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (4)

Ini bagian terakhir dari tulisan mengenai rahasia sukses menggelar lomba di blog.

Di bagian pertama saya telah bercerita bahwa sebaiknya topik-tema yang dipilih untuk lomba itu bersifat umum dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca yang luas.  Lalu di bagian ke dua saya menulis, penyelenggara lomba hendaknya membantu memudahkan para peserta untuk menaati syarat dan ketentuan yang berlaku.  Dan kemarin di bagian ke tiga saya membahas pentingnya perencanaan waktu dan pemanfaatan momentum dalam melaksanakan lomba.

Sekarang saya akan membahas mengenai “Hadiah”.

hadiah

Tentang Hadiah

Apa hadiah itu penting ? Ya, tentu hadiah itu penting.  Namun bukan yang paling penting.

Jika anda menginginkan traffic yang tinggi, follower yang banyak dan exposure yang besar saya rasa anda juga harus menyediakan hadiah yang “mempunyai nilai”.  No pain no gain.

Selain nilainya, yang patut diperhitungkan masak-masak adalah juga jenisnya.  Hal ini sering dilupakan para penyelenggara lomba. Banyak yang memilih hadiah sesuai dengan selera diri pribadinya sendiri.  Saya suka kerudung maka saya akan memberikan hadiah kerudung.  Saya suka sepak bola maka saya akan memberikan pemenang lomba di blog saya kaos bola.  Harap diingat, yang menjadi pemenang itu adalah pembaca anda. Bukan anda.  Sehingga dalam memilih hadiah, kita harus memikirkannya masak-masak, apa kira-kira yang disukai dan sesuai dengan selera khalayak pembaca anda, pada umumnya.

Saya banyak melihat beberapa sohibul GA, ada yang memberikan voucher belanja sebagai hadiah pemenang.  Saya rasa ini solusi yang sangat baik. Pemenang bisa membeli sendiri barang yang diinginkannya atau dibutuhkannya.  Namun harus diingat, bahwa gerai untuk membelanjakan voucher itu, sebaiknya dipilih yang penyebaran outletnya sudah merata di seluruh Indonesia.  Jika gerai untuk membelanjakan hanya tersedia di Jakarta, kasihan pemenang yang berasal dari Gorontalo.  Voucher itu menjadi tidak begitu berguna. Manfaatnya tidak bisa dipergunakan dengan segera.  Hadiah baru berguna baginya, jika dia bisa menjual voucher tersebut pada rekannya di Jakarta.

Hal lain yang patut dipikirkan adalah jumlah pemenang.

Anda pilih mana, memilih banyak pemenang tapi nilai hadiahnya sedikit.  Atau sedikit pemenang tapi besar nilai hadiahnya.  Untuk memudahkan saya ambil contoh misalkan budget kita adalah Rp. 300.000

Anda pilih mana ?

  • 1 orang pemenang utama hadiahnya Rp. 300.000 ?
  • 3 orang pemenang @ mendapat Rp. 100.000
  • 10 orang pemenang @ mendapat Rp. 30.000
  • 30 orang pemenang @ mendapat Rp. 10.000

Saya pribadi cenderung untuk lebih memilih agak banyak pemenang dengan nilai yang sedikit lebih kecil.   Saya beranggapan dengan ada banyaknya pemenang, peserta menjadi lebih bersemangat.  Karena mereka merasa kemungkinan / probabilitas menangnya lebih besar.

Berapakah probabilitas yang pas ? Saya tidak tau. Namun untuk lomba yang sederhana saya rasa 1 : 10 adalah rasio yang pas.  Artinya jika pesertanya hanya 10, maka pemenangnya dipilih hanya satu saja. Jika pesertanya ada 100 maka pemenangnya dipilih 10 orang.  Sekali lagi ini hanya preferensi pribadi saya saja.  Saya tidak tau idealnya berapa.  Semua tentu tergantung budget.

BTW saya mau buka rahasia sedikit …

Sering kali, ketika menginformasikan sebuah lomba, saya hanya menulis nilai barangnya saja kepada para peserta. Misalnya : “Tiga pemenang pilihan pertama akan mendapatkan paket barang senilai Rp.100.000”

Mengapa saya melakukan hal tersebut ?

Jujur saja.  Saya sengaja melakukan hal tersebut agar hadiah yang saya beli bisa disesuaikan dengan profil para pemenangnya.  Mungkin anda masih ingat 3 orang pemenang pilihan ke dua lomba self reflection kemarin ? Yang berhasil memenangkannya adalah Uniek Kaswarganti di Semarang, Nurul Rahmawati di Surabaya dan Pak Arian Sahidi di Batu, Malang.  Melihat profil-profil mereka maka saya putuskan untuk membeli “food container”,  dengan harapan semoga bisa lebih berguna untuk mereka.

Demikian juga untuk pemenang pilihan pertama.  Kebetulan profil pemenangnya berbeda-beda, ada Kang Titik Asa dari Sukabumi yang karyawan, ada Ardi dari Bogor yang mahasiswa dan ada Cik Lianny yang ibu rumah tangga di Jember.  Saya harus bisa memilih hadiah yang cocok untuk profil-profil mereka.  Akhirnya saya pilih jam meja.

Dan untuk lebih menumbuhkan kesan istimewa, maka saya sengaja membeli hadiah-hadiah tersebut, di sebuah gerai toko perabot asal Swedia yang baru ada satu-satunya di Indonesia.

Jadi begitulah …

Hal-hal yang harus difikirkan ketika kita menentukan hadiah.  Yaitu nilai, jenis, jumlah dan  … menyesuaikan dengan profil pemenang.

Hadiah memang bukan hal yang paling penting. Namun, memberikan hadiah dengan sentuhan personal saya rasa merupakan hal yang akan selalu diingat oleh peserta lomba anda.  Anda mebuat para peserta dan juga pemenang … merasa di-istimewa-kan !

Ini yang membuat lomba anda berbeda dengan lomba-lomba lainnya … Sentuhan Personal !

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

.

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (3)

Ini adalah tulisan yang ke tiga. Di tulisan yang pertama saya telah bercerita mengenai faktor utama yang bisa membuat kita sukses menggelar lomba di blog, yaitu pemilihan “Topik-Tema”. Sebaiknya topik-tema yang dipilih itu bersifat umum, dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca kita yang lebih luas.

Lalu pada tulisan ke dua, saya membahas syatun “Syarat dan Ketentuan”, yang intinya adalah sebaiknya penyelenggara lomba membantu memudahkan para peserta untuk melakukan apa yang diminta, sekalipun syaratnya banyak.

Sekarang pada bagian yang ketiga ini saya akan mengangkat hal penting yang lain lagi yaitu masalah “Timing dan Momentum”

Timimh

Tentang Timing :

Timing adalah waktu. Penjadwalan atau schedule.  Sebagai penyelenggara lomba kita harus mengatur waktu sebaik-baiknya.  Biasanya saya selalu membagi perencanaan waktu ini menjadi tiga bagian yaitu Pre Lomba – Masa Lomba – Pasca Lomba.

Pre-lomba adalah masa conditioning.  Ancang-ancang.  Persiapan.  Mengkondisikan peserta untuk bersiap-siap mengikuti lomba yang kita adakan.  Bentuknya ? Kita bisa membuat sebuah contoh postingan dengan topik tertentu sebagai bahan acuan, disertai pengumuman bahwa sebentar lagi akan ada lomba mengenai topik seperti yang anda tulis tersebut.  Pembaca bisa mempunyai gambaran tentang lomba yang akan diadakan.

Bentuk yang lain adalah dengan membuat semacam banner “teaser”, atau iklan penggoda.  “Sebentar lagi akan ada lomba di blog saya lho”. “Siap-siap disimak yaaa”, dan sebagainya.  Teaser ini bisa anda blast di social media atau di blog anda. Atau keduanya.  Masa ini penting untuk menumbuhkan momentum rasa penasaran dari para pembaca.  Masa conditioning – pre lomba ini biasanya berlangsung hanya pada H – 7 hari atau H – 3 hari saja, sebelum informasi acara lomba kita luncurkan secara resmi.

Masa lomba adalah saat dimana para peserta mempersiapkan, membuat postingan dan mendaftarkan kepesertaannya.  Lamanya tergantung dari kompleksitas topik yang anda pilih.  Semakin sulit topiknya maka sebaiknya semakin lama masa lombanya.  Supaya peserta bisa mencari bahan atau punya waktu yang lebih banyak untuk untuk berfikir.

Berapa lama masa lomba yang ideal ? Saya tidak bisa menjawab. Namun kita pakai “rule of thumb” saja, hal yang umum saja, yaitu berkisar antara 1 minggu sampai dengan 1 bulan.  Untuk topik yang simpel satu minggu saya rasa sudah cukup. Tetapi untuk topik yang lumayan berat sebaiknya diberi waktu 1 bulan. Dan jangan lebih.

Kalau lebih dari 1 bulan ? 40 hari ? 2 bulan ? memang kenapa ?

Menurut saya 1 bulan adalah batas maksimal.  Lebih dari itu pembaca sudah mulai bosan.  Para peserta yang sudah mengumpulkan tugas lombanya pasti sudah resah, tidak sabar menunggu pengumuman pemenangnya. (atau bahkan mungkin saking lamanya mereka sampai lupa kalau mereka pernah ikut lomba). 

Jika terlalu lama, mood dan spirit kompetisi lomba akan menurun. Kita harus memelihara mood dan spirit ini agar tetap selalu diatas.  Selalu hangat.  Selalu “panas”.

Yang terakhir adalah masa pasca lomba.  Ini  terdiri dari masa penilaian, waktu pengumuman lomba, konfirmasi alamat para pemenang sampai dengan pengiriman hadiah.

Anda pernah mendengar ada beberapa GA yang diundur penutupannya ?  Atau diundur pengumuman pemenangnya ?

Saya rasa itu sah-sah saja. Namun saya pribadi sangat menghindari adanya pengunduran jadwal lomba.  Ini kesannya tidak baik. Secara logika, penyelenggara mengundurkan jadwal pengumuman … biasanya karena target jumlah peserta belum terpenuhi.  Jika saya panitia lombanya, maka apapun yang terjadi bila tanggal 10 pendaftaran lomba ditutup. Ya pada tanggal 10 jam 23.59, pendaftaran harus ditutup.

Pengumuman pun dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kalau bisa jangan mundur.  Tidak semua pembaca bisa memaklumi pengunduran jadwal pengumuman ini.  Apalagi mereka yang sudah tidak sabar menunggu hasilnya.

Segera mintakan alamat pemenang lengkap dengan kode pos dan nomer kontak.  Sebaiknya hadiah sudah disiapkan terlebih dahulu jauh-jauh hari, sehingga bisa segera dikirim ketika alamat pemenang sudah kita terima.  Kita harus segera menyelesaikan seluruh rangkaian acara lomba. Project baru akan kita nyatakan selesai, jika para pemenang sudah confirm, bahwa mereka telah menerima hadiah yang kita kirimkan.

.

Tentang Momentum

Satu lagi hal yang berkaitan dengan pengaturan waktu adalah : kita harus pandai melihat, memanfaatkan dan memelihara momentum.

Momentum kurang lebih pengertiannya adalah “saat yang tepat”.

Kita harus tau kapan saat yang tepat untuk melakukan sesuatu.  Untuk memulai lomba contohnya. Kita harus lihat situasi kiri-kanan dulu.  Adakah teman lain sedang mengadakan GA ? Adakah Lomba sejenis yang sedang berlangsung ? Apakah masa-masa ini adalah masa sibuk ?

Jika waktunya orang “sibuk”, entah sibuk liburan sekolah, sibuk pendaftaran sekolah, tahun ajaran baru, libur panjang lebaran … saya sarankan anda tidak mengadakan lomba.  Nanti pesertanya sedikit.

Pun jika misalnya teman sebelah sudah ada yang mengadakan lomba blog tentang “Memelihara Kebersihan” ya anda jangan nekat mengadakan juga lomba dengan topik “Lingkungan Sehat”.  Topiknya hampir sama bukan ? Waktunya pun bersamaan.  Sebaiknya anda menghindari situasi seperti ini.

Namun jika anda memilih untuk nekat melaksanakannya juga ?  Saya sarankan anda mempersiapkan hadiah yang lebih besar.  Atau anda menetapkan syarat yang lebih mudah dan lebih ringan … (ini masalah perebutan share of voice di alam maya … anda harus berkompetisi dengan penyelenggara lomba untuk memenangkan perhatian khalayak)

Ketika lomba sedang berjalanpun, kita harus tetap memelihara momentum. Kita diharapkan tau betul saat yang tepat untuk nge-blast reminder di sosial media untuk para calon peserta yang belum mendaftar. Mengingatkan due date atau deadline dari lomba kita.  Tujuannya adalah agar iklim kompetisinya tetap terjaga hangat.  Bahkan “panas”

Saya tidak bisa banyak menceritakan mengenai menjaga momentum ini.  Karena ini semua berkaitan dengan “insting” atau “feeling”.  Namun sekali lagi intinya adalah … anda dituntut untuk pandai-pandai memilih saat yang tepat untuk menjaga mood, menjaga situasi dan kondisi agar tetap kondusif dan kompetitif.  Tau betul saat yang tepat kapan melakukan suatu tindakan tertentu.  Tau betul saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.

Dan itu butuh pengamatan yang seksama ! … dan kepekaan yang tajam !

Salam saya,

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

Next adalah tentaaaaanngg … “Hadiah”

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (2)

Kemarin saya sudah membahas mengenai salah satu faktor untuk membuat kita sukses menggelar lomba di blog, yaitu pemilihan topik-tema. Sebaiknya topik-tema yang dipilih itu bersifat umum, dan relevan dengan khalayak sasaran pembaca kita yang lebih luas.

Kini kita akan membicarakan mengenai faktor yang kedua, yang tidak kalah pentingnya yaitu “Syarat dan Ketentuan”

syatun

Tentang “Syarat dan Ketentuan”.

Syatun.  Saya pinjam istilah Pak De Cholik, supaya tidak terlalu panjang mengetiknya kita singkat saja “syatun” (Syarat dan Ketentuan)

Bicara masalah syatun, maka ini adalah bagaikan sebuah dilema.  Di satu sisi kita ingin calon peserta mematuhi apa yang telah ditentukan, link back hidup, follow ini-itu, like ini-itu, mention ini-itu, hash tag ini-itu dan sebagainya.  Kita (dan/atau sponsor kita) sudah mengeluarkan dana untuk hadiah, meluangkan waktu untuk memeriksa postingan, serta menyediakan effort untuk membaca, tentu ada tujuannya kan ? Tentu ada kompensasi yang diharapkan kan ?

Muaranya adalah agar traffic yang menuju blog/laman/fanpage/social media kita menjadi meningkat. Awareness publik terhadap apa yang sedang kita promosikan menjadi meningkat.  Frekuensi dapet, hit dapet, reach dapet. Exposure dapet. (Modul basic Integrated Marketing Communication nih …) :) :) :)

Namun di sisi lain, kita juga harus (kembali) melihat perilaku, kebutuhan dan keinginan para khalayak pembaca kita.  Pada umumnya, para pembaca sebagai makhluk ekonomi, pasti menginginkan hasil yang besar dengan korbanan yang sekecil-kecilnya.  Hadiah yang besar dengan usaha yang se minim-minimnya.  Ikut lomba dengan syarat dan ketentuan yang semudah-mudahnya.  Tidak merepotkan.

Jika sudah demikian kita dituntut untuk mencari jalan tengah yang bijaksana.  Bagaimana caranya mendapatkan linkback, mention, follower, exposure yang besar.  Tanpa merepotkan pembaca.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Mudahkan pembaca untuk melakukan apa yang anda minta.
    Salah satu cara yang paling jitu adalah sediakan link-linknya.  Sehingga pembaca tinggal klik saja langsung menuju fan page, twitter, halaman, atau landing page manapun yang anda maksud. Buatlah sepraktis-praktisnya.   Kalo perlu pembaca tinggal copy paste saja.  Contohnya seperti kalimat “Postingan ini diikut sertakan pada lomba cerewet di Blog Nanang bla-bla-bla” … kalau bisa kalimat tersebut sudah diberi link hidup oleh kita … sehingga sekali lagi … pembaca cuma tinggal copy paste doang. 
  2. Berikan poin-poin syatun secara terstruktur.  Satu, dua, tiga dan seterusnya.  Kalimatnya pun pendek-pendek saja.
    • Syatun biasanya hanya berisi :
      • Siapa saja yang boleh ikut serta :
      • Bagaimana cara ikutnya :
        • Content :
          • Menulis tentang apa ?
          • Bentuknya apa ?
          • Berapa panjang ?
        • Cosmetic :
          • Banner
          • Syarat Link, Follow, Like, Metion, Hash Tag, dsb
          • Kalimat keikut-sertaan
          • Contoh cara mendaftar

Secara umum, ya hanya itu syatun yang biasa saya temui.

Ada beberapa blogger penyelenggara GA yang menambahkan satu poin syatun lagi, yaitu : “Peserta berkewajiban untuk aktif berpromosi atau rajin menginformasikan lomba ini kepada teman-temannya di social media”.

Saran saya, jika waktu anda terbatas, anda harus berfikir dua-tiga kali untuk menambahkan parameter ini.  Sebab adalah tidak adil bagi peserta yang sangat rajin mempromosikan lomba kita di social media, selalu mem-blast dan mem-broadcast lomba kita, tetapi hal ini tidak kita hitung secara seksama di dalam form penilaian.  Jika anda berkeras untuk memasukkan unsur seberapa rajin peserta berpromosi di social media, maka anda semua harus siap menghitung : berapa kali si A, B atau C mempromosikan lomba di blog kita.  Berapa banyak potensi pembacanya, berapa komen yang masuk disana, berapa komen positifnya, adakah komen yang negatif, berapa likenya dsb, dsb. Dan kemudian memfaktorkannya dalam penilaian total. Pusingkan ? (itulaaahhh …)

Jika anda tidak punya banyak waktu untuk itu, atau tidak punya parameter yang jelas untuk menghitungnya, maka sebaiknya bunyi persyaratan tersebut diubah menjadi : “Kami akan berterima kasih pada peserta, jika peserta berkenan untuk mempromosikan lomba ini di status social media masing-masing”. (sifatnya hanya himbauan, dan tidak masuk dalam parameter perhitungan)

Blogger itu pintar-pintar dan kritis … mereka akan mempertanyakan hal yang tidak sesuai dengan syatun yang telah ditetapkan.

Penetapan syarat dan ketentuan ini memang sangat penting.  Ini adalah aturan main yang harus di tepati oleh semua pihak. Baik oleh peserta, dan juga oleh penyelenggara.  Sekali anda “mis” disini … maka kepercayaan publik terhadap entitas blog/organisasi/komunitas/perusahaan anda sebagai penyelenggara lomba GA mungkin saja akan menurun.

Jika syaratnya harus memakai banner pada awal tulisan, ya setiap peserta harus memasang banner di awal tulisan.  Jika syaratnya harus ditulis di kertas ? Ya harus di kertas, bukan ditulis di daun atau di media lainnya.

Yang ideal memang syarat dan ketentuan dibuat sesimpel mungkin.  Namun (sekali lagi) saya mengerti bahwa anda (dan/atau sponsor anda) mempunyai beberapa misi, tujuan dan target yang harus anda raih.  Meningkatkan follower, trafic, exposure dan public awareness adalah beberapa diantaranya.  Khusus bagi mereka yang berniat monetizing their blog atau yang berjualan sesuatu, pasti menginginkan parameter-parameter penting tersebut untuk ditingkatkan. Dan ini sah-sah saja.

Namun seperti yang telah saya tekankan sebelumnya, satu hal krusial yang harus selalu diingat adalah : “Berikan selalu kemudahan dan bantuan bagi para calon peserta GA anda untuk melakukan apapun syarat dan ketentuan yang telah anda gariskan”

Berikanlah kemudahan walaupun syarat dan ketentuannya “lumayan” banyak.

Saya pribadi … selalu berusaha membuat syatun yang sangat simpel dalam setiap lomba yang saya adakan.  Saya (biasanya) hanya mewajibkan peserta untuk memuat banner, memposting sesuai topik, menaati jumlah kata, memasang kalimat keikut sertaan dan melakukan pendaftaran.

Saya menetapkan syatun simpel seperti itu … karena sampai saat ini saya memang tidak berniat untuk me-monetize-kan blog saya. (entah kalau nanti ?)

Kalo nanti mau di-monetize … ? oohhh itu lain cerita kawan !!! (hahaha)

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

.

NEXT :

Hal ketiga yang kita pikirkan adalah : “Timing dan Momentum”

RAHASIA SUKSES MENGGELAR LOMBA DI BLOG (1)

Tentunya pembaca semua sudah mengetahui bahwa ada banyak blog/organisasi/komunitas/perusahaan pernah menyelenggarakan lomba dalam jaringan (on line).  Baik itu Lomba tulisan, lomba foto, maupun lomba review produk/jasa.  Kami para blogger biasa menyebutnya perhelatan GA atau Give Away.

Blog the ordinarytrainer ini telah dua kali menyelenggarakan lomba sederhana.  Yang pertama adalah “Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer” dan yang kedua adalah “Self Reflection : Lomba Tengok-Tengok Blog Sendiri Berhadiah”.

Alhamdulillah sambutan teman-teman sangat luar biasa.  Lomba pertama diikuti oleh 145 kontestan, sementara lomba kedua 117 peserta.

LOGO

logo1

Saya bersyukur lomba-lomba kecil yang saya gelar tersebut mendapat atensi yang baik dari teman-teman sekalian. Atensi tersebut bukan saja dalam bentuk keikut-sertaan sebagai peserta, namun juga inisiatif sukareka beberapa rekan yang menyediakan hadiah-hadiah tambahan bagi para pemenang.

Saya ingin sekali bercerita mengenai apa saja yang saya lakukan dan pikirkan ketika menyelenggarakan lomba-lomba tersebut. Perkenankan saya untuk urun rembug berbagi pemikiran tentang bagaimana caranya agar lomba kita diminati banyak orang.  Hal ini murni saya tulis berdasarkan pengalaman saya yang terbatas.  Sebetulnya beberapa blogger lain juga sudah pernah menuliskan kiat-kiat agar lomba yang kita adakan berhasil, jika anda merasa tidak ada hal yang baru disini, saya mohon maaf.

Menurut pendapat saya, ada beberapa hal yang harus kita pikirkan sebelum kita mengadakan Lomba GA.  Yang paling utama adalah tentang pemilihan topik atau tema lomba.

Tentang Topik-Tema Lomba :
Topik atau tema yang ideal itu sebaiknya bersifat umum / general.  Topik yang relevan dengan khalayak sasaran blog kita.  Topik tersebut (hampir) semua orang sudah mengetahuinya, pernah mengalaminya atau bisa melakukannya.

Saya ambil contoh kasus pada lomba saya yang pertama, lomba foto bertema serba serbi masjid, dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan.  Tentu anda akan berfikir bahwa “Wah yang akan ikut lomba ini hanya umat muslim saja dong ?”

Ya memang kelihatannya demikian.

Namun, saya sengaja memperluas cakupan lokasi pemotretan.  Pemotretan bisa dilakukan dari sisi luar masjid, memfoto kegiatan-kegiatan yang ada di seputaran masjid.  Bahkan dari luar pagar masjid sekalipun, bisa.  Dengan demikian bagi mereka yang non muslim, yang mungkin merasa sungkan untuk masuk ke dalam masjid, masih tetap bisa berpartisipasi dengan cara memotret dari luar.  Memotret suasana di seputaran masjid, yang notabene seringkali menjadi sentra kegiatan sosial-ekonomi kemasyarakatan yang lain, selain sebagai sentra kegiatan ibadah keagamaan.  Apalagi saat bulan Ramadhan.

Dan kiat ini berhasil.  Banyak teman-sahabat yang non muslim, berkenan untuk ikut serta berpartisipasi.  Memotret situasi masjid-langgar-musholla dari luar.  Dan hasilnya pun bagus-bagus.  Terbukti salah satu, dari tiga pemenang unggulan pertama adalah seorang non muslim.  Ini penampakannya.

A19
Karya : Bli Budi Arnaya (sumber : https://ceritabudi.wordpress.com/2014/07/10/aroma-cinta-bulan-ramadhan/)

.

Sekarang mari kita bandingkan dengan contoh topik (imajiner) lomba menulis sebagai berikut :

“Pengalaman berlibur ke Maladewa”

Pesertanya pasti akan terbatas hanya untuk mereka yang pernah berlibur ke Maladewa saja.  Pesertanya mungkin akan sangat sedikit.  Lomba dengan topik seperti ini hanya akan bisa menjaring sepersekian bagian saja dari seluruh khalayak pembaca potensial blog anda.  Potensi kepesertaan akan terbatas.  Secara otomatis dalam lomba ini,  mereka yang tidak pernah ke Maladewa tidak akan bisa ikutan.  Dan juga mereka yang sudah pernah ke Maladewa tapi bukan dalam rangka liburan pun sepertinya juga tidak bisa ikut.  (Kan topiknya pengalaman berlibur, bukan pengalaman bekerja).

Dan percayakah anda … jika anda memilih topik seperti tersebut diatas, hal tersebut akan berpotensi memicu kecemburuan bahkan rasa antipati dari mereka yang belum pernah mempunyai pengalaman tersebut.  Tidak tertutup kemungkinan yang bersangkutan akan curhat, menulis di status sosial medianya, dan hal ini akan dibaca banyak orang … di-share … di-share lagi … dan akhirnya menjadi konten viral … dan seterusnya, dan seterusnya.   Lomba yang digagas oleh PT. Nanang itu tidak adil, tidak fair, cuma untuk orang kaya dowang, diskriminatif dsb.  Lomba kita pun citranya jadi kurang baik.  Mimpi buruk kakaaaakkk … !

Saya sadar sepenuhnya bahwa para blogger/perusahaan pasti mempunyai misi atau pesan yang akan disampaikan melalui lomba yang diadakan.  Pasti para blogger/perusahaan mempunyai tujuan khusus mengapa menyelenggarakan lomba blog dengan tema tertentu.

Namun tetap ada satu hal yang harus diingat … muara dari segalanya adalah : kepentingan, kebutuhan dan keinginan dari khalayak pembacaPara calon peserta lomba blog anda.  Mereka adalah subyek dari lomba anda.  Bukan obyek, alat atau sarana anda untuk memuaskan keinginan ego pribadi/perusahaan anda saja.

Untuk contoh tersebut di atas mungkin topik atau temanya bisa diganti sedikit menjadi : “Jika saya mempunyai kesempatan untuk berlibur ke Maladewa, apa yang akan saya lakukan ?”.

Dengan sedikit merubah kalimat topik, maka lomba ini akan menjadi terbuka bagi siapa saja.  (Hampir) setiap orang bisa berpendapat dan mengemukakan pemikirannya mengenai topik yang digagas.  Tentu saja mereka akan mencari info dan data dulu sebelumnya.  Mereka yang lebih lengkap informasinya dan lebih menarik pemikirannya, itulah yang akan lebih berpeluang untuk menjadi pemenangnya.

Sekali lagi, sebelum bergerak lebih lanjut, tanyakan dulu pada diri anda …

“Apakah topik yang akan anda pilih tersebut sudah sesuai dan relevan untuk kepentingan khalayak pembaca yang lebih luas atau tidak !”

Semakin luas khalayak sasaran pembaca yang relevan, maka potensi keikut-sertaannya akan semakin besar pula.  Siap-siap saja untuk menerima notifikasi registrasi kepesertaan yang bertubi-tubi dari para pembaca.

Bukan begitu bukan ?

Salam saya

71071D338183D7765E8404E3E942AEC9.

.

Next step is … “Syarat dan Ketentuan” …
(akan kami bahas di tulisan berikutnya)

.

.